Episode 96 - Sand Storm


Di sebuah Arena Gladiator, pusat kota Sinesta, ibukota Fel.

“Joran! Joran! Joran!” sahut sorak sorai penonton.

“Maju Joran! Habisi dia! Haha!”  

“10.000 Rez untuk kemenangan Joran! Kemenang yang sudah mutlak!”

Sahut kerumunan orang-orang saling menyoraki dan mendukung Joran. 

“HWRAAAA!!” teriak Joran seperti auman binatang buas berdiri diatas pasir arena dan orang-orang yang berdarah akibat melawannya. “Siapa lawan selanjutnya!”

Joran kini lebih memiliki banyak luka, rambut putih panjang yang terurai kini diikat seperti kuncir kuda. Tubuh besarnya masih dalam keadaan yang sama hanya saja kini Joran telah mampu mengusai pengerasan badan dari elemen metal dengan sempurna.

Saat bertarung tubuhnya terlihat mengkilap, selain dua buah dadanya yang besar. Ciri-ciri fisik Joran lebih menyerupai pria kekar.

Di samping Joran, berdiri Bartel sampil menepuk-nepuk kedua tangannya dengan senyum sombong. “Hahaha! Kita berdua tak terkalahkan. Iya kan Joran.”

Meskipun Bartel masih botak, pakaiannya kini lebih menyerupai seorang gladiator yang menunjukkan badan kekarnya daripada seorang biksu seperti ia biasanya.

Ia mengenakan gelang besi yang menutupi separuh lengannya pada kedua tangan, dari pinggang ke bawah ia di balut armor dari besi dan kulit. Tanpa mengenakan alas kaki, Bartel bertarung dengan kedua tangan dan kakinya sekarang dan bertumpu pada kecepatan, sedang Joran rekannya bertumpu pada kekuatan.

“Grr... selain Alzen, tak akan ada lagi yang bisa mengalahkanku.”

“Jangan sebut si biru itu lagi, dia bukan apa-apa sekarang.”

“Lu-luar biasa! Luar biasa! Pendatang baru Joran Bartel, rekor bertanding 96 pertandingan, 96 kali menang dan sama sekali, BELUM PERNAH KALAH!!” sahut Host Arena itu. “Wow! Rekor yang luar biasa sekali! Sangat-sangat luar biasa.”

Selama satu minggu liburan, musuh-musuh yang ditumbangkan Joran adalah prajurit berarmor, pria kekar berotot tanpa mengenakan seperti Gladiator. Tumbang hingga berdarah-darah di arena.

“Si-siapa wanita besar itu... ughh...” kata salah satu musuh yang tergeletak di tanah dengan cedera yang parah.

“D-dia seharusnya tak ada disini, dia terlalu kuat.” kata musuh yang lainnya.

***

“Memangnya boleh kita ambil Quest Rank B?” kata Iris dengan takut-takut selagi memegang selebaran Quest berjudul 

Title – Help Our Village from Bandit Assault (RANK B)

Location – Alya Village, Easthern Greenhill.

Description –

Tolong, tolong! Tolong... desa kami diserang kelompok bandit beranggotakan 10 sampai 20 perampok bernama Red Scar Bandit. Meskipun desa kami jauh dari kota besar aku harap ada pahlawan yang bisa menyelamatkan desa kami dengan segera. Pertanian dan perdagangan desa kami terblokir oleh kehadiran bandit-bandit ini. 

Party - >3 People

Reward - 12.000 Rez

Client - Nugroho

Lalu sambung Iris, “Kita akan kena sanksi kalau ketahuan loh.”

Iris, wanita berambut hitam yang jadi sahabat dekat Fhonia masih mengenakan googles di atas dahinya, rambut di kuncir belakang dan tak terlalu banyak yang berubah darinya.

“Kalau begitu jangan sampai ketahuan.” balas Luiz dengan Electro Punisher yang di pegang kuat-kuat oleh kedua tangannya. “Syukurlah Quest yang kita pilih masih dalam kendali kita untuk ditangani.”

Luiz masih menggunakan pedang The Punisher yang sama sekali belum rusak. Dia mengenakan Light Armor dan telah memilih gaya bertarung Battlemage secara penuh. 

6 bulan belakangan Luiz lebih fokus melatih kemampuan Aura tipe Weaponnya alih-alih berfokus pada kemampuan sihir. Jika lawannya dirasa tangguh, Luiz akan menggunakan Aura tipe Weapon untuk mengeluarkan Pedang listrik besar, Electro Punisher dan bertarung secara serius.

Electro Punisher kini memilki wujud yang lebih utuh seperti senjata sungguhan, tapi karena penggunannya yang menguras aura per detik membuat Luiz harus bijak menggunakan kemampuan ini di saat genting saja.

“Tenang saja Iris,” balas Fhonia yang duduk di punggung bandit yang ia kalahkan hingga hangus kesetrum. “Setelah kita lulus kita akan banyak melakukan ini kan?”

Fhonia masih memiliki kepribadian yang sama, periang dan penuh semangat. Ia masih mengenakan topi Sherlock Holmes dan kalung dadu. Tingginya bertambah 2 cm dari sebelumnya, kini tinggi badannya mencapai 152 cm yang jika di jajarkan dengan Luiz akan terasa kontras sekali secara tinggi badan.

Rambutnya kini sedikit lebih panjang dan banyak hiasan-hiasan bintang di rambut pinknya. Ia masih mengenakan jaket dan stoking hitam, tapi corak keselurah pakaiannya adalah pola kotak-kotak antar warna putih dan ungu muda. 

Secara kemampuan Fhonia selain mengandalkan Thunder Trap andalannya kini mampu mensummon Yupi ukuran kecil dari satu sampai tiga Yupi, untuk membantunya bertarung tanpa membuatnya lumpuh selama 72 jam seperti dirinya 6 bulan lalu. Meski Yupi besarnya masih memiliki efek samping yang sama, tapi ukurannya ini jauh lebih besar dari Fhonia yang dulu.

“Brengsek! Kalian semua masih anak-anak!” sahut ketua bandit yang terikat itu. “Tapi kenapa bisa...”

“Tunggu disana tuan bandit,” tunjuk Luiz sambil berjalan mendekat. “Bountymu lumayan juga, sekitar 21000 Rez.”

“Selain dari hadiah Quest kita bisa klaim bountynya juga.” Fhonia langsung berdiri bersemangat sambil melompat mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. “Yay!”

Iris melihat Quest Rewardnya. “Tambah 12000 Rez... uhm 23000 Rez. Lumayan juga.”

“Yay! Habis ini kita makan-makan.” balas Fhonia.

“Bodoh,” tegur Luiz. “Kalau setiap dapat uang langsung dihabiskan, kamu tidak akan punya banyak uang nantinya.” 

“Uhh...” Fhonia menggembungkan pipinya. “Terus buat apa dong.”

“Benar juga sih, kita seminggu loh kerja begini. Capek juga.” balas Iris. “Malah lokasinya jauh dari Vheins lagi. Liburan kita dipakai untuk ini.”

“Hehehe... anak-anak kecil. Desa ini paling dekat dengan Arcales, meski aku tertangkap, desa ini pun akan dikuasai lagi. Kalian tidak ada gunanya disini.”

“Hmm... aku sedikit penasaran,” kata Luiz yang jongkok di depan wajah ketua bandit Red Scar. “Darimana kalian bisa menembus perbatasan sebagai bandit amatir.” 

“Kami bukanlah amatir, aku hanya ketua dari salah satu cabang guild besar ini. Dan kalian sudah cari gara-gara dengan kami. Jalan kalian ke depan tidak akan lagi aman. Camkan itu! Hahaha...”

“Dia ngomong apa sih?” tanya Fhonia santai telapak tangan terlipat di belakang kepalanya. “Dia mengancam kita?”

“Hee... kalau dijalan pulang kita diserbu anggota yang lain gimana nih?” Iris khawatir sambil menggigit jarinya. 

“Tenang saja,” balas Luiz. “Kita lewat jalur dagang, tidak akan ada bandit yang cukup nekat melakukan hal macam-macam di jalur itu.”

“Woh... sebagai anak Mercenary Band kau sangat banyak tahu ya.”

“...” Luiz tak membalas dan mengangkat bandit itu ke kereta kudanya.

Selagi berjalan keluar desa para penduduk menyoraki mereka bak pahlawan.

“Terima kasih! Terima kasih sudah menyelamatkan desa ini!”

“Terima kasih! Terima kasih tuan petir!”

“Terima kasih kalian semua! Bawa Bandit itu jauh-jauh.”

Luiz mengangkat tangan kanan sambil mengemudikan kudanya dengan tersenyum kecil.

Fhonia duduk berlutut sambil melihat ke belakang dan melambaikan tangan dengan ceria. “Bye-bye!”

Iris melihat sekitarnya dengan khawatir. “Duh, duh, hadiahnya lumayan sih, tapi kita bakal dicegat gak ya.”

Luiz menepuk pundak kanan Iris. “Tenang saja, kita akan baik-baik saja.”

Iris yang melihat Luiz melakukan itu menjadi lebih tenang.

***

Di sebuah restoran Twillight District. Chandra, Fia dan Cefhi ditraktir makan oleh Rosita yang sudah tidak lagi memiliki mata panda.

“Kalian sudah mengalami apa saja hampir sepanjang tahun ini?” tanya Rosita, tersenyum di hapadan Chandra dengan bersandar pada tangan kanannya yang memegang garpu.

“Banyak, banyak yang terjadi. Tapi tak semuanya baik sih.” Chandra bicara sambil menyantap kentang goreng.

Rosita menyantap mie, “Slurp! Andai ada Alzen dan Leena, lengkap sudah.”

“Mereka sedang berkencan sekarang di Quistra. Kapan-kapan Alzen dan Leena harus melihat perkembangan drastismu.”

“Ohh mereka pacaran sekarang?” balas Rosita penasaran.

Chandra mengangguk. “Iya... sudah 6 bulan, sepertinya dari awal ketemu Alzen sudah jatuh cinta sama Leena.”

“Kau sendiri bagaimana?” Rosita bertanya lagi. “Sudah punya pacar.”

Cefhi menundukan kepalanya dan memegang kuat-kuat roknya.

“Ahh tidak, aku tidak mau pacaran dulu. Setelah lulus aku harus pulang ke kampung halamanku yang berarti tinggal 2 bulan lagi.” kata Chandra sambil tersenyum kecil dan mengusap-usap rambutnya. “Doakan aku lulus supaya aku bisa membantu keluarga dan teman-temanku disana.”

Cefhi terlihat sedih, tapi ia menutupi kesedihannya dengan kepala tertunduk.

Fia melihat itu dan mengerti gestur tubuh Cefhi.

“Mulia sekali ya... kau pasti lulus lah,” balas Rosita dengan yakin. “Kamu sudah bekerja keras. Libur pun kalian masih kerja paruh waktu di Guild kami.”

“Itu semua demi...” Chandra memikirkan kampung halamannya yang dikabarkan masih terus berperang. “Ahh, kalau kamu bagaimana Rosita? Ki-kita cuma pernah bertemu sekali itu saja sih tapi...”

“Setelah ayahku meninggal terbunuh monster tanaman itu, aku putus asa sekali, berhari-hari aku tinggal sendiri, tak punya siapa-siapa. Kemudian demi biaya hidup, aku menjual rumah ayah dan mencari kerja di berbagai tempat. Susah sih, aku sampai pindah-pindah kerja beberapa kali dan akhirnya nyaman bekerja disini.”

“Lalu kau tinggal dimana sekarang?”

“Inn, aku menyewa bulanan sebuah Inn murah, sambil menghemat uang untuk bepergian ke negara lain.”

“Ke negara lain?”

“Ya... aku tak punya siapa-siapa lagi disini, paman, bibi, tidak ada, kalau aku tidak bertemu jodohku yah terpaksa aku merantau. Sekalipun aku suka pekerjaanku sekarang ini sih.” kata Rosita dengan tersenyum puas. “Para petualang yang datang menerima Quest itu bagai pahlawan yang menolong banyak orang dan orang-orang yang membuat Quest itu selalu datang dengan masalah mereka masing-masing dan masalah mereka tuntas hanya dalam beberapa hari saja. Aku bahagia sebagai orang yang bekerja di tengah-tengah mereka.”

“Hehe... dari gaya bicaramu, kau benar-benar menyukai pekerjaanmu ya.” Chandra tersenyum melihat Rosita bahagia.

Rosita mengangguk.” Hmph! Aku suka pekerjaanku.”

***

Sajora Desert, koordinat 79, 181.

“Bongkahan batu besar biasa di tengah padang pasir seluas ini?” kata Nathan yang jengkel. “Tidak adakah yang curiga dengan batu ini?”

“Orang yang bisa masuk secara tak sengajapun akan dihabisi oleh penjaga di depan dan tak akan bisa keluar lagi.” kata salah satu anggota amatir Sandstorm yang berkhianat.

“Dihabisi?” balas Nathan yang kemudian mengarahkan tangan ke depan. Lalu...

DRUAASSSHHHHH !!

Bongkahan batu itu meleleh oleh ledakan api hitam Nathan.

“Yang seperti itu, tidak berlaku buat Obsidus.” kata Nathan sambil melangkah turun ke lubang di bawah batu itu. “Biar aku turun duluan.” 

Nathan dengan wajah bengis melompat turun hingga kedalaman 5 meter tingginya, orang normal akan lumpuh kakinya jika tak sengaja terjerembab ke dalam.

Selagi terjatuh, Nathan menyelimuti dirinya dengan api hitam, dan api-api itu meledak-ledak untuk mengurangi tekanannya saat terjatuh, meski keadaannya sangat gelap. Nathan sudah terlatih untuk tetap bisa melihat dalam kegelapan sama baiknya seperti keadaan normal.

Saat mendarat turun Nathan sudah diserbu 360 derajat oleh bandit-bandit bersenjata.

“Penyunsup! Penyunsup! Bunyikan Alarm!”

“Enyahlah kalian...” Nathan menggunakan sihirnya dan membentuk sabit dari api hitam lalu memutar tubuhnya 360 derajat kemudian... “Orang-orang lemah!”

Dalam 2 detik, puluhan penjaga dikalahkan dengan telak tanpa satupun sempat membunyikan lonceng. 

Nathan menepuk-nepuk bajunya, “Cih, mereka tinggal di bawah tanah begini.” Lalu ia menengok ke atas. “Hei kalian! Turunlah, diisini sudah aman. Sekarang bantu aku cari ketuanya.”

“Kakakmu benar-benar gila.” Velizar bicara seperti ia tahu apa yang terjadi di bawah tanpa melihatnya.

“...” Nicholas terhenti dengan wajah berkeringat dan sedikit pucat. 

“Apa yang terjadi di bawah?” tanya Sinus penasaran. “Aku tidak melihat apa-apa. Velizar, apa kamu melihatnya.”

“Sudah,” potong Nicholas. “Ayo turun...”

***

Tap! Tap! Tap!

Nathan melangkah dengan tergesa-gesa dan ia dalam waktu singkat sudah mencapi area tambangnya. “Woah! Inikah...”

“Tembak!” Raul memerintahkan dari atas, mengkomando para pasukan bersenjata api fokus menyerang Nathan bersama-sama.

Drurururururururu !!

DUAR !! DUAR !! DUAR !!

Suara tembakan tak henti-henti terdengar untuk 10 detik lamanya sampai tempat Nathan berdiri tertutupi asap. 

Syushhh...

Setelah asap itu memudar, Nathan terlihat terlindungi total oleh Ultimate Black Barrier, yang dilapisi banyak pola segi enam yang terikat erat menjadi sebuah Barrier, yang daya tahannya diatas rata-rata barrier biasa.

“Heh... orang-orang disini tidak ramah ya.” kata Nathan dengan entengnya. Berdiri di tengah bebatuan yang hancur akibat tembakan Bazooka.

Raul berkeringat dan pucat, tapi ia terus mencoba tidak terintimidasi. “Penyihir elemen kegelapan, sangat-sangat kuat. Dia pasti Obsidus. Tak kusangka ternyata sekuat ini.”

Di tengah kekacauan yang begitu mendadak ini, para pekerja tambang langsung berlarian mencari tempat yang aman dengan panik. Beberapa pekerja yang terkena ledakan bazooka tidak dipandang penting baik oleh Nathan maupun Guild Sandstorm.

“Kau yang diatas sana, Raul the Blue Sharpshooter, harga buron, 1.650.000 Rez. Untuk orang sepengecut dirimu, hargamu lumayan juga.”

“Tenang, aku tak boleh terpancing.” pikir Raul yang sedikit tersinggung. “Voz, aku harus menemui ketua Voz.” kemudian ia meninggalkan tempatnya dan segera mencari ketua.

“Yah dia kabur...”

“Aku tak tahu siapa yang mengirimmu!” sahut Volkan. “Tapi akulah lawanmu.”

“Volkan the Red Fist, harga buronan 1.150.000 Rez. Harga buronmu terpaut cukup dekat ya. Kalau kalian berdua bukan ketuanya, kau pasti orang nomor 3 di Guildmu kan.”

“Dia pasti bounty hunter top!” pikir Volkan selagi menyerang. “Dia hapal wajah, nama, julukan hingga harga kepala kami dengan sempurna.”

“Siapa sebenarnya dirimu! Kau cuma sendiri, berani-beraninya menyerang ratusan dari kami!”

“Obsidus memang sangat kuat,” balas Nathan. “Tapi kami tak pernah bergerak sendiri di dalam Quest besar manapun.”

***

“Ketua Voz, apa yang terjadi, kenapa diluar terjadi ribut-ribut?” tanya Volric yang menemuinya di tengah-tengah perhitungan harta jarahan. 

“Kita diserang, ini pasti sudah direncanakan.” balas Voz dengan kesal. “Pedagang yang kau penjarakan di kamarmu itu!” katanya dengan urat terlihat di kepalanya. “Pasti sudah bersekongkol dengan Bounty Hunter Elit untuk menyerang hari ini juga.”

“Ahmad!?” Volric terkejut.

“Si pedagang itu akan kuhabisi sekarang juga!” Voz berdiri dari mejanya dengan geram sambil menarik pedangnya, bersiap untuk menikam Ahmad.

“Tunggu-tunggu ketua! Tahan dulu amarahmu!” Volric berusaha menghentikannya.

“Minggir!” Voz mendorong Volric kuat-kuat. “Kupastikan dia tak akan hidup lagi hari ini.” ucapnya dengan geram.

***

Di sel penjaranya yang bahkan tak muat untuk dia tidur, dengan pakaian yang minim dan kain robek serta kotor, Ahmad tersenyum mengetahui keributan ini akan segera di dengarnya, hari ini juga. “Maaf Volric. Meski kau selalu berupaya melindungiku, kau juga harus tertangkap.”

***

Sementara Raul masih terus bergegas menemui Voz, di depan pintu masuk ruangan Voz sudah dikerumuni banyak orang, Nicholas, Velizar, Sinus, terlihat berada dalam kerumunan orang itu.

***

“Tunggu ketua! Biar kutemui dia langsung dan biar aku saja yang membunuhnya...” kata Volric yang memohon-mohon,

BRAAAKK !!

Pintu terbuka dengan paksa dan Nicholas beserta teman dan anak buah kakaknya masuuk menyerbu mereka. “kalian sudah tamat.” Kata Nicholas mengancam mereka.

Kemudian Volric berbalik badan, melihat ke arah pintu masuk dan mendapati mantan anak didiknya dulu berada di depan.

“Pak Volric!?” tanya Nicholas dengan terkejut.

“...!?” Velizar yang selalu terlihat datar sampai terkejut.

“Pak Volric!?” kata Sinus yang terheran-heran. “Kenapa kau bisa ada disini!”

“Ka... kalian...” Volric langsung pucat, juga malu, juga sedih tapi juga senang. Perasaannya tidak menentu melihat mereka bertiga. 

***