Episode 88 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (1)



Di Keraton Pakuan Pajajaran, Prabu Ragamulya Suryakencana yang hanya mengenakan pakaian selempang kain putih tampak sedang duduk bertafakur seorang diri didalam kamar khusus persemediannya, ia hanya ditemani satu pelita kecil yang berasal dari sebatang lilin kecil. Dalam hatinya, tak henti-hentinya ia berdoa memohon petunjuk kepada Hyang Murbeng Alam.

"Yang Murbeng Alam... Kalau memang memang takdirmu negri ini harus kalah oleh Banten, hamba pasrah... Hamba hanya mohon sisakanlah sedikit kehormatan untuk anak cucu hamba, jangan hinakan mereka dalam lembah kekalahan yang menistakan..." lirihnya dalam hati.

Ia lalu teringat pada masa ia masih kecil, pasukan Islam gabungan Demak, Banten, dan Cirebon menyerbu negeri ini, saat itu Pajajaran dibawah pimpinan Kakeknya yakni Prabu Surawisesa dengan dibantu oleh Portugis dan Mega Mendung berhasil memukul mundur pasukan Islam tersebut meskipun jumlah mereka lebih sedikit. Faktor penentu kemenangan mereka adalah karena hanya ada satu jalan untuk memasuki Kutaraja Pakuan yakni lewat gerbang utama disebelah selatan, selebihnya kota ini dikelilingi tembok tinggi nan kokoh serta lubang parit air lebar yang berisi banyak buaya. 

Waktu itu juga ketangguhan taktik perang “Bajra Panjara” yang diciptakan oleh Prabu Surawisesa serta kecerdikan pasukan Portugis berperan besar dalam kemenangan Pajajaran mempertahankan wilayahnya. Sekarang apakah ia sanggup untuk mengulangi kemenangan seperti yang kakeknya raih?

Saat itu tiba-tiba langit malam menjadi sangat mendung, tak lama kemudian turunlah hujan gerimis membasahi bumi Pajajaran, langit malam itu seolah ikut menangis, meratapi nasib yang akan menimpa kerajaan terbesar di tanah Sunda yang sudah merupakan kelanjutan dari negeri Salakanagara, Tarumanagara sampai Sundapura tersebut. 

Anehnya, tanah yang tersiram oleh rintik hujan gerimis tersebut menebarkan bau yang teramat harum, harum kembang setaman yang mewangi ke seantero Kota Pakuan, seolah menegaskan bahwa Sang Prabu adalah salah satu Prabu yang pantas untuk dijuluki sebagai Prabu Siliwangi, selain menandakan bahwa Pajajaran akn mengakhiri kisahnya di jagat raya ini dengan tetap meninggalkan nama yang harum, yang akan mewangi bagi seluruh keturunannya, sampai kelak wilayah Sunda ini akan bersatu dengan seluruh wilayah Nusantara seperginya Bangsa Kebo Bule dan Kera Putih dari seantero Nusantara ini. 

Sementara itu di pintu gerbang kota Pakuan, seorang pria berpakaian layaknya seorang pemburu memacu kudanya bak kesetanan menuju ke keraton Pakuan. Setelah sampai, belasan prajurit penjaga Keraton segera menghentikan orang itu, namun ia segera mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya yang ternyata merupakan tanda pengenal prajurit Pajajaran. “Biarkan aku masuk! Cepat aku harus menghadap Gusti Patih!” serunya. 

Para prajurit jaga pun segera membiarkannya lewat, orang itu langsung menuju ke Kepatihan. Setelah sampai, Ki Patih langsung menyambut kedatangannya. “Ada kabar apa?” tanyanya langsung tanpa basa-basi lagi. 

“Prajurit Banten! Mereka mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menggempur Pajajaran! Jumlah mereka sangat luar biasa hingga nampak menyemut!” lapor pria itu dengan tergesa-gesa. 

“Darimana kekuatan utama mereka?” tanya Ki Patih. 

“Hamba melihat Sultan memimpin pasukan melalui wilayah Mega Mendung dengan kekuatan amat besar! Sementara dari utara, kekuatan Banten akan dibantu oleh kekuatan Jayakarta yang membawa meriam dan bedil!” jelas Sang mata-mata. 

“Mereka akan menyerbu dari Selatan, Barat, dan Utara! Segera beritahu mata-mata yang lainnya, pantau terus pergerakan pasukan Banten! Tapi sebelumnya perintahkan kepada semua pasukan di perbatasan untuk bersiaga penuh! Apabila mereka tidak sanggup membendung pasukan Banten, segera perintahkan untuk bergabung dengan pasukan induk di Pakuan!” perintah Sang Patih. 

“Daulat Gusti!” sembah si Mata-mata. Ia pun segera beringsut mundur kemudian mengganti kudanya dengan yang baru dan kembali memacu kudanya bak kesetanan meninggalkan kota Pakuan.

***

Saat matahari belum sepenuhnya terbit, di padang rumput perbatasan sebelah selatan Pajajaran, Sultan mengumpulkan seluruh pasukan, lurah tantama, serta senopati perang yang akan menyerbu tapal batas sebelah selatan Pajajaran. Sang Sultan tampak gagah dengan menunggangi kuda perangnya yang berwarna putih bersih, ia duduk diatas kudanya di tempat yang lebih tinggi dari para pembantu dan prajuritnya. Ia menyapukan pandangannya pada semua abdinya tersebut dengan pandangan mata yang amat tajam serta berapi-api memancarkan gelora semangat didalam jiwanya.

“Orang-orang Banten, dihadapan kita, masa depan ditentukan! Dihadapan kita nasib anak cucu kita dipertaruhkan! Dihadapan kita, kejayaan Banten menanti! Kita akan meraih hak kita sebagai Negara penerus Pajajaran! Sebagai penerus Sunda! Sebagai penerus Prabu Siliwangi! Yang mana kita yakini bahwa kita jauh lebih berhak meraihnya dibandingkan dengan Cirebon, Sumedanglarang, atau bahkan Pajajaran sendiri!” Seluruh prajuritnya pun bersorak sorai menyuarakan kesetujuan mereka atas orasi Sang Sultan.

 “Sekarang… Hancurkan Pajajaran dan raihlah semua hak kita!” tandasnya yang suaranya menggema ke seantero tempat itu yang membakar semangat seluruh kekuatan Banten.

“Hidup Banten! Allahuakbar!” teriak para prajurit Banten sambil mengangkat senjata mereka masing-masing, takbir dan pekikan-pekikan pemberi semangat pun terus bergema.

“Serbuuuu!!!” Komando Sultan. Dua ribu pasukan yang terdiri dari pasukan berkuda bersenjatakan tombak dan pedang, pasukan berkuda pemanah, pasukan panah pejalan kaki yang juga pasukan pedang, serta pasukan panumbak pejalan kaki yang bersenjatakan tombak serta perisai, langsung berlarian menuju ke tapal batas Pajajaran, dengan dipimpin oleh Sultan Maulana Yusuf yang berkuda di paling depan dengan didampingi para senopati perangnya termasuk Jaya Laksana.

Puluhan tumbak di pos penjagaan tapal batas Pajajaran, sekitar seribu lima ratus prajurit Pajajaran yang sedang kelelahan akibat harus terus bersiaga siang dan malam sesampainya mereka dari Kutaraja Pakuan tampak banyak yang tertidur. Tiba-tiba seorang lurah tantama mendengar suara ribut-ribut pekikan dan teriakan pemberi semangat, ia pun langsung membuka matanya, saat itu terdengar suara yang sangat menggemparkan, suara ratusan derap kaki kuda yang diiringi dengan suara ribuan derap kaki manusia berlari menuju ke arah mereka!

Dengan secepat kilat ia pun langsung menabuh titiran sekeras-kerasnya, kemudian ia berteriak dengan disertai tenaga dalamnya sehingga suaranya amat keras menggema kemana-mana. “Bagun! Bangun! Orang-orang Banten menyerbu kita kemari! Cepat Bangun!”

Para prajurit Pajajaran pun langsung terbangun, dengan keadaan masih setengah teler mereka langsung mngambil senjata dan perisai mereka masing-masing dan bersiap-siap, namun tetap saja kekuatan Pajajaran yang dipimpin oleh Senopati Sungging Prabawa itu tidak sempat untuk bersiap-siap, mereka tidak keburu mengatur posisi apalagi gelaran taktik perang, karena paskan Banten sudah keburu menyerbu mereka!

Dengan keadaan masih setengah sadar, para prajurit Pajajaran itu langsung menghadang serangan pasukan Banten yang datangnya bagaikan air bah tersebut! Korban langsung berjatuhan di pihak Pajajaran karena mereka selain dalam keadaan yang lelah, mereka tidak sempat untuk bersiap-siap dan mengatur barisannnya, sehingga mereka menjadi santapan empuk serbuan ujung senjata pasukan Banten!

Jaya yang hanya bertangan kosong mengamuk dengan hebatnya, setelah puluhan pasukan Pajajaran roboh ditangannya, tiga orang lurah tantama Pajajaran langsung mengeroyoknya, tanpa basa-basi lagi Jaya langsung melompat turun dari kudanya dan balas menyerang ketiga pengeroyoknya yang bersenjatakan golok dan pedang tersebut! Meskipun hanya bertangan kosong, Jaya sudah berhasil membuat ketiga pengeroyoknya kelabakan hanya dalam tempo dua jurus saja!

Tak ayal lagi, Jaya langsung membuka jurus “Menggocang Langit, Menjungkir Awan”, satu jurus kemudian terdengar jerita kematian dua orang pengeroyoknya yang tewas dengan dada ambrol, dua jurus kemudian terdengar langi jerit kematian dari Perwira Pajajaran yang mengeroyoknya dengan kepala remuk!

Saat itu berkelebatlah sesosok tubuh yang mendarat dihadapan Jaya, dia langsung mengacungkan pedangnya. “Tindakan pengecutmu cukup sampai disini Jaya Laksana! Sudah terlalu banyak kau habisi prajurit-prajurit kecil Pajajaran! Sekarang hadapi aku, Senopati Sungging Prabawa!” tantang pemimpin Prajurit Pajajaran di tapal batas selatan tersebut.

“Bagus, kalau begitu majulah kau prajurit besar!” cibir Jaya.

“Pendosa keturunan Eyang Prabu Siliwangi yang berani menyerbu Negara leluhurnya memang patut mampus! Hiaaaa!”

Senopati Sungging Prabawa langsung menyerang Jaya dengan segala kesaktiannya, pedang pusakanya berkelebat bagaikan kilat, saking cepatnya hingga Nampak hanya sinar putih yang bergulung-gulung mencecar Jaya! Angin sabetan pedangnya pun tak kalah berbahaya, anginnya sangat tajam dan sanggup memotong ranting-ranting pohon, bila terkena kulit lawannya niscaya kulit lawannya itu akan robek seolah terkena sabetan pedang, itulah kehebatan jurus “Pedang Angin” Sang Senopati Pajajaran tersebut!

Namun yang ia hadapi kali ini adalah Jaya Laksana yang terkenal dengan julukan Pendekar Dari Lembah Akhirnya yang namanya begitu menggetarkan rimba persilatan Tanah Pasundan, bahkan namanya pun terkenal sampai ke tanah Jawa dan tanah Andalas! Pedang Sang Senopati hanya berputar-putar saja tanpa menemui sasarannya, dan angin pedangnya tak mampu melukai tubuh Jaya, jangankan angin pedangnya, pedang pusakanya pun tak mampu untuk melukai tubuh Jaya Laksana!

Jaya tak mau berlama-lama meladeni amukan Sang Senopati yang ilmunya masih jauh berada dibawahnya, maka ia pun mengeluarkan jurus andalannya yang ia peroleh dari Almarhum Kyai Pamenang yaitu jurus “Tendangan Kuda Sembrani”, sejurus kemudian Jaya berhasil kirimkan satu tendangan hingga tubuh Senopati Sungging mencelat keatas!

Jaya segera melompat lagi dan kirimkan empat tendangan beruntun, tubuh lawannya terlempar semakin keatas dan berputar-putar akibat hebatnya tendangan Jaya yang mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi dan telah mencapai tingkat sempurna! Tubuh Senopati Sungging Prabawa terlempar sampai belasan tombak! Ketika mendarat ia tidak berkutik lagi dengan seluruh tulang dada dan tulang punggung hancur!

Perang dahsyat di perbatasan Selatan Pajajaran tersebut tidak berlangsung lama, hanya berlangsung kurang dari setengah hari, sebelum menjelang tengah hari perang itupun berakhir dengan kemenangan telak di pihak Banten yang mereka raih dengan mudah. Hampir seluruh pasukan Pajajaran tewas terbunuh, hanya beberapa ratus saja yang tersisa yang terluka berat dan ringan, mereka langsung pun langsung menyerah kalah.

Para prajurit Banten pun langsung mengikat tangan mereka, tapi Sultan Banten memerintahkan para prajurit Banten untuk melepaskan mereka dan menawarkan agar mereka mau bergabung menjadi kekuatan Banten, yang bersedia bergabung langsung dibebaskan dan dirawat luka-lukanya, yang menolak tetap diikat namun luka-luka mereka tetap diobati oleh prajurit Banten.

“Sudah cukup untuk hari ini, kita beristirahat dan besok setelah shalat subuh kita lanjutkan perjalanan kita, berhati-hatilah karena ada kemungkinan prajurit Pajajaran yang diberangkatkan ke perbatasan sebelah barat akan menyerbu kita! Bentuklah penjagaan secara bergantian!” perintah Sultan.

“Daulat Gusti!” jawab Jaya Laksana beserta para senopati lainnya, mereka pun berkemah di tempat itu. 

Esok subuhnya mereka pun melanjutkan perjalanannnya ke Kotaraja Pakuan. Diluar perkiraan Sultan, pasukan Pajajaran yang menjaga disebelah barat tidak terpancing oleh taktik Sultan, setelah mengetahui bahwa kekuatan Banten tidak menyerang dari arah Barat yang justru paling dekat dan berbatasan langsung dengan Banten, Pasukan Pajajaran langsung ditarik mundur ke Pakuan guna untuk memperkokoh pertahanan Kotaraja. 

Sultan yang mengetahui hal ini dari pasukan telik sandinya langsung kembali memperhitungkan langkahnya, kemudian Sultan yang sangat cerdas inipun langsung memperhitungkan bahwa kekuatan Pajajaran yang ditarik ke Kotaraja Pakuan tidak akan mengganggu taktiknya untuk dapat menguasai kota Pakuan hanya dalam tempo satu malam saja.

Di Perbatasan sebelah timur, para prajurit Pajajaran yang tidak mengira bahwa kekuatan utama Banten akan menyerbu dari timur langsung pontang-panting, mereka hanya menyiagakan dua ratus prajurit saja disana karena tidak mengira kekuatan utama Banten akan menyerbu lewat sana, kekuatan utama Banten yang dipimpin oleh Ki Patih Tubagus Kasatama yang memutar melewati wilayah Jayakarta hingga akhirnya ke timur Pajajaran dapat dengan mudah menghancurkan kekuatan Pajajaran hanya dalam hitungan jam saja! 

Begitupun di perbatasan sebelah utara, wilayah yang berbatasan dengan Kadipaten Jayakarata tersebut dapat dengan mudah dijebol oleh kekuatan Banten yang dipimpin oleh Panglima Perang Tubagus Gempong dan Pangeran Adipati Wijayakrama, kekuatan mereka dengan mudah memporak-porandakan kekuatan penjagaan Pajajaran di perbatasan tersebut! 

Setelah beristirahat satu malam, baik pasukan Ki Patih Tubagus Kasatama maupun pasukan Panglima Tubagus Gempong dan Pangeran Wijayakrama langsung bergerak menuju ke Kota Pakuan untuk langsung bergabung dengan pasukan Sultan disana.

***

Pada suatu siang, terjadilah kegegeran besar di Pakuan, para prajurit Pajajaran melihat seluruh kekuatan Banten yang sangat besar mengepung Pakuan dari segala penjuru! Seluruh warga maupun pasukan Pajajaran langsung panik melihat kekuatan Banten yang dilengkapi pasukan bersejata api tersebut banyaknya bagaikan menyemut hendak mengerubungi kota Pakuan.

Seorang lurah tantama atau perwira pun langsung melaporkannya pada Ki Patih Waja Kersa, Sang patih langsung melaporkannya pada Sang Prabu, maka diadakanlah pertemuan darurat di Balai Penghadapan Agung Pakuan yang dihadiri oleh semua pejabat penting Pajajaran.

“Mereka mengepung kotaraja dari segala penjuru Gusti, dan ternyata jumlah pasukan Banten jauh lebih banyak daripada laporan yang kita terima, belum lagi persenjataan mereka sangat lengkap, pasukan kita banyak yang gentar setelah melihat kekuatan meriam dan keterampilan pasukan bedil mereka!” Lapor Ki Patih.

“Apa semua pasukan cadangan sudah kamu kerahkan Patih?” Tanya Sang Prabu.

“Sudah Gusti, bahkan semua pasukan dari Kadipaten pun sudah kami tarik ke kotaraja, namun jumlah kekuatan kita masih kalah jauh dari mereka, dan… yang patut kita waspadai adalah taktik strategi mereka. Mereka berhasil mengecoh kita, menurut perkiraan kekuatan utama mereka akan menyerbu dari perbatasan barat, namun kekuatan utama mereka malah menyerbu dari sebelah timur, bahkan mereka tidak menyerbu lewat perbatasan barat kita sama sekali! Maka daripada terpancing untuk yang kedua kalinya, hamba memerintahkan agar pasukan penjaga perbatasan sebelah barat agar pulang ke kotaraja demi memperkuat kekuatan kita di Pakuan.”

Prabu Ragamulya Suryakencana menggeram marah mendengar penjelesan dari Patihnya tersebut. “Maulana Yusuf! Cih! Kamu memang licik!”

Sang Prabu terdiam sejenak untuk menenangkan dirinya, kemudian dia menatap semua hadirin yang hadir. “Pertahankan negerimu habis-habisan! Rupanya Maulana Yusuf ingin secepatnya merebut kekuasaan dari trah Sri Baduga Maharaja!” titahnya yang diamini oleh seluruh abdinya.

“Yang saya tidak mengerti adalah keterlibatan Jaya Laksana dan orang-orang Mega Mendung. Bukankah dulu pada jaman Paman Prabu Kertapati, mereka saling bersengketa dan hampir saling berperang? Sekarang dengan liciknya, mereka bergabung dengan Banten untuk menghancurkan Pajajaran!” tanya Sang Prabu dengan suara bergetar menahan amarah.

Namun bukannya menjawab, Ki Patih Waja Kersa malah mengutarakan hal lain yang ada didalam benaknya. “Maaf apabila saya mengatakan ini pada saat seperti ini, akan tetapi masih ada waktu apabila Gusti Prabu hendak memindahkan kekuasaan kita ke tanah Kabuyutan di Pandeglang.”

Mata Prabu Ragamulya mendelik mendengar ucapan Patihnya tersebut, jari telunjuknya langsung menjuk patihnya tersebut. “Patih! Meskipun nantinya kita akan pindah, namun kita tetap berkewajiban untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah Pajajaran terutama keraton ini! Sekarang bubar! Siagakan seluruh pasukan untuk menjaga Kota Pakuan ini! Lakukan penjagaan siang dan malam! Jangan sampai kita kecolongan! Apabila Banten berani menyerbu kemari, langsung habisi mereka, hirup darah mereka sampai penghabisan dan gunakan tulang-belulang mereka untuk membangun istana kita yang baru!”

Mau tidak mau Ki Patih setuju saja pada titah Sang Prabu meskipun hatinya menggalau hebat karena sudah mendapatkan firasat bahwa Pajajaran akan mengalami kekalahan apalagi setelah Mahkota Binokasih, Keris Macan Putih, dan hampir seluruh pusaka Pajajaran diboyong ke Sumedanglarang oleh para Kandaga Lante pimpinan Senopati Jaya Prakosa. Sedangkan di lain pihak, hati Sang Prabu pun semakin diliputi oleh keragu-raguan antara tetap bertahan di Pakuan yang artinya menanti kehancuran atau segera mengungsi dan mendirikan pemerintahan baru di Kabuyutan Pandeglang yang artinya mengakhiri riwayat negeri Pajajaran oleh dirinya sendiri.

***

Di luar Kotaraja Pakuan, seluruh kekuatan Banten mendirikan kemah mereka, mereka tidak langsung menyerang Pakuan melainkan mengepung Pakuan dari segala penjuru terlebih dahulu. Sultan selaku panglima tertinggi seluruh kekuatan Banten mengumpulkan para Senopati dan pejabat lainnya di sebuah tenda khusus, ia memberikan pengarahan untuk terakhir kalinya.

“Saya sudah mengirimkan kabar pada Senopati Ki Jungju bahwa akan Ada sedikit perubahan rencana, kita akan menunda penyerbuan kita sehingga kita akan mengepung Pakuan selama tujuh hari, enam malam! Hal ini dikarenakan gagalnya pancingan kita pasukan Pajajaran di Perbatasan Barat. Kini mereka berkumpul di Pakuan, maka kita akan biarkan mereka berkumpul dengan induk pasukannya agar bisa kita hancurkan sekaligus. 

Selain itu, hal ini kita lakukan agar pasukan mereka kelelahan karena terus-terusan berjaga dan diserang oleh rasa tegang selama berhari-hari, mental dan moral pasukan mereka pasti akan jatuh ke titik nadir karena terus-terusan merasa gelisah setiap hari!

Pada malam ketujuh kita akan memberikan aba-aba pada pasukan penyusup kita dibawah pimpinan Senopati Ki Jungju untuk mendobrak pintu gerbang pakuan dari dalam, kemudian kita akan bagi kekuatan kita menjadi tiga, pasukan utama yang akan kupimpin langsung menyerbu melalui gerbang utama, dan lima ratus pasukan dibawah pimpinan Tumenggung Jaya Laksana serta lima ratus pasukan dibawah pimpinan Tumenggung Braja Paksi akan menyerbu lewat tembok yang bobol dengan meriam-meriam kita, masing-masing lewat barat daya dan tenggara.

Setelah seluruh kekuatan kita masuk, mereka pasti akan menggunakan taktik “Wakul Buaya Mangap”, mereka akan memancing kekuatan kita ke alun-alun kota dan menyergap dari segala penjuru. Maka kita akan gunakan gelaran perang Garuda Ngelayang, pasukan utama kita di bagian paruh akan pura-pura terjebak, saat itulah bagian sayap kiri yang dipimpin oleh Tumenggung Jaya Laksana dan bagian sayap kanan yang dipimpin oleh Tumenggung Bara Paksi bertugas untuk menyerbu mereka dari kedua sisi sayap! Paham?”

“Daulat Gusti!” jawab semua yang hadir.

“Setelah itu mereka pasti akan mundur kedalam keraton, kita hujani keraton dengan tembakan-tembakan meriam kita, setelah itu kita gempur keraton dari berbagai penjuru… Ingat! Kita harus dapat menghancurkan mereka hanya dalam satu malam!” tandas Sultan Maulana Yusuf.