Episode 327 - Lentera Asura (2)



Mirip dengan pembukaan episode sebelumnya, pada episode kali ini pun dua ahli yang sama melesat dengan sangat cepat. Akan tetapi, kali ini keduanya tiada memacu langkah, namun menumpang di punggung binatang siluman serangga kecapung raksasa. Kecapung Terbang Layang adalah sebutan bagi binatang siluman serangga yang terbang tidak dalam lintasan lurus, melainkan melecut-lecut tiada beraturan. Di antara dedahan dan dedaunan raksasa, kecapung itu meliuk gesit dari sergapan berbagai jenis binatang siluman serangga yang datang hendak mengincar. 

Sejak ketibaan mereka sehari yang lalu, sementara rekannya sedang berpikir entah seputar apa, yang satunya memperoleh kesempatan untuk beristirahat. Pulas sekali ia tertidur. Kini, dalam keadaan bugar, kembali ia mengulang pertanyaan yang sama, “Kemanakah tujuan kita…?” 

“Wahai Si Kancil nan cerdik, betapa pun diriku mengkehendaki, namun kita tiada dapat meninggalkan dunia Goa Awu-BaLang ini dalam waktu dekat. Sangara Santang pastinya menanti kita di sisi lain lorong dimensi.” Kata-kata Kum Kecho terdengar sangat lembut, bahkan demikian santun. 

Si Kancil mengangguk jumawa, kemudian mendongakkan moncongnya. Sapaan ‘cerdik’ merupakan sebutan yang paling ia gandrungi. Betapa senang hatinya di pagi hari ini. 

“Oleh sebab itu, kita akan mengunjungi sebuah tempat misterius… Ada sesuatu yang lendak diriku selidiki. Selain itu, kemungkinan besar Si Kancil dapat mencurahkan kebijaksanaan tentang tempat tersebut…” Lagi-lagi Kum Kecho menjilat, sebuah tindakan yang hampir tak pernah terbayangkan dapat dilakukan, bahkan oleh dirinya sendiri.

Tentu tindakan merendahkan harga diri sampai ke ambang batas yang demikian rendah memiliki alasan tersendiri. Setelah menyaksikan langsung Si Kancil unjuk kebolehan dengan menyelesaikan formasi segel untuk membuka lorong dimensi dunia Goa Awu-BaLang, Kum Kecho mau tak mau mengakui bahwa binatang siluman Kasta Perak itu bukanlah binatang siluman sembarang. Bila ditelisik lebih jauh lagi, pasti ada alasan yang kuat bagi ahli sekelas Balaputera berpetualangan dengan binatang siluman tersebut. 

Suara melengking tetiba terdengar penuh semangat. “Petualangan kita kali ini mengingatkanku pada sebuah dongeng…” Si Kancil bersiap memulai. “Pada suatu hari…”

“Wahai Si Kancil nan budiman,” sela Kum Kecho cepat. Satu hal yang sulit bagi dirinya maklumi, adalah kebiasaan mendongeng dan lengking suara binatang siluman tersebut. Pening kepala dibuatnya. “Sudi kiranya memberi makna atas perubahan warna tubuh yang dikau tunjukkan tempo hari…”

“Oh, diriku tak akan menyalahkan dikau karena menjadi demikian takjub. Sesungguhnya perubahan tersebut tak lain adalah bagian dari unsur kesaktianku. Unsur kesaktian putih nan banyak dikagumi oleh segenap ahli di seantero negeri dua samudera.”

“Unsur kesaktian putih…?”

“Tak hanya dapat menetralisir unsur kesaktian yang ada, diriku pun dapat membantu pengerahan keterampilan khusus sampai kepada batasan tertentu…”

Kum Kecho menatap takjub. Terlepas dari penampilan bak seekor kambing dan kebiasaan mendongeng, binatang siluman di sampingnya itu benar-benar memiliki kemampuan di luar perkiraan. Benar nasehat orang tua-tua terdahulu: Jangan pernah menilai isi buku dari sampulnya. 

Siapa pun yang dapat menjalin hubungan baik dengan Si Kancil ini, dipastikan memperoleh berkah melimpah, demikian Kum kecho berpikir dalam hati.

“Wahai Kancil nan bijak, apakah ingatanmu tentang Lentera Asura ini telah kembali…?” Kum Kecho mengangkat sebuah lentera usang.

“Diriku tiada pernah lupa.” 

“Tentunya.”

“Berbeda dengan sebuah benda pusaka berjuluk Kitab Kosong Melompong yang dapat menampung benda-benda dan hasil dari jurus-jurus tertentu, Lentera Asura memiliki kemampuan sebagai wadah bagi unsur kesaktian murni.”

Kum Kecho menyipitkan mata. Benaknya melayang kepada sebentuk kitab besar dan tebal yang merupakan senjata pusaka milik salah satu Jenderal Bhayangkara. Adalah akurat penjabaran Si Kancil tentang Kitab Kosong Melompong tersebut, karena dirinya pernah menyaksikan secara langsung keunggulannya sebagai senjata pusaka. 

“Jadi, Lentera Asura ini bukan merupakan pusaka untuk menyelami masa lalu seseorang…?” pancing Kum Kecho. 

“Omong kosong itu!” tanggap Si Kancil seolah berang. “Entah dari mana Sangara Santang memperoleh keterangan yang demikian keliru!? Bah! Bahkan seorang Maha Guru dari perguruan terkemuka tak akan mampu mengalahkan pengetahuanku. Hal ini mengingatkan aku akan sebuah dongeng…” 

Kum Kecho memejamkan mata. Sebulir keringat mencuat di pelipisnya. Kali ini tak bisa dielak lagi, karena terpaksa ia merelakan telinga mendengar dongeng yang dikisahkan binatang siluman itu.

Singkat kata dan singkat ceritera, dongeng yang disampaikan Si Kancil kali ini tentang kecerdikannya tatkala mencuri timun. Mengetahui bahwa Si Kancil kerap mencuri, pak petani pemilik kebun timun membuat lubang nan dalam dan gelap sebagai perangkap. Si Kancil yang berniat kembali datang mencuri timun, kemudian terjatuh dan terjebak di dalam lubang tersebut. 

Kendatipun demikian, Si kancil mengaku tiada kehabisan akal. Kepada setiap binatang lain yang melintas di dekat lubang perangkap, Si Kancil akan mengundang mereka untuk ikut masuk ke dalam lubang. Iming-iming yang disampaikan adalah lubang tersebut merupakan tempat penyimpanan rahasia hasil panen pak tani. Kepada kura-kura, kijang, serta babi hutan yang tertipu, Si Kancil mengatakan bahwa mereka boleh ikut menunggu kedatangan beraneka sayur dan buah bersama-sama di dalam lubang. Syaratnya pun sangatlah sederhana, yaitu dilarang kentut, karena bau kentut akan membuat pak tani curiga. 

Sedang asyik menanti di dalam lubang perangkap, tetiba Si Kancil kentut! Baunya bukan kepalang pula, entah apa yang ia makan sebelumnya. Tindakan yang bertolak belakang dengan ketentuan yang Si Kancil sampaikan itu, kontan membuat berang binatang-binatang lain. Dipenuhi amarah, mereka lantas melempar Si Kancil keluar dari dalam lubang. Walhasil, berkat kecerdikan dan kentutnya, Si Kancil pun terbebas dari lubang perangkap pak tani.

Kum Kecho mengerucutkan alis. Di dalam benak ia mempertanyakan apakah bijak bila dongeng yang disampaikan binatang siluman itu layak diberikan kepada anak-anak…? Sungguh bukan pelajaran yang baik. Perilaku Si Kancil mencuri timun diperbolehkan, dan tindakan Si Kancil mengelabui binatang-binatang lain yang tak bersalah dibenarkan atas dalih kecerdikan. Dengan kata lain, dongeng Si Kancil menjadi landasan bahwa mencuri dan menipu, bahkan mencelakai sesama, adalah lazim! 

Pantas saja banyak ahli di Negeri Dua Samudera yang bermental busuk. Mereka terang-terangan menghalalkan segala cara demi meraih keuntungan pribadi dan kelompok mereka. Mereka mencuri dan menyusun tipu muslihat tanpa seberkas pun keraguan dan perasaan bersalah. Sedari kanak-kanak, kebanyakan ahli telah dibekali dengan cerita yang mana kandungan pesan dan nilai moralnya adalah keliru!

Sehari semalam berlalu cepat. 

“Apakah gerangan itu…?” Tetiba Si Kancil berbisik. Sejurus setelah ia usai menyampaikan dongeng lain yang juga tiada mendidik, telah terbentang pemandangan tak lazim di hadapan mata.  

Di sana, menanti sebatang pohon raksasa berwarna cokelat nan gelap. Tiada selembar daun pun yang bergelayutan pada ranting-rantingnya yang menyeruak tajam ke berbagai penjuru. Sang pohon jelas sekali sudah lama mati. Dari kejauhan, pohon itu terlihat mirip dengan pohon-pohon angker di dalam dongeng-dongeng horor. Di sekelilingnya, adalah wilayah nan gersang dalam radius satu kilometer. Masuk ke dalam wilayah pohon mati ini seolah dapat membuat mimpi-mimpi buruk pada malam hari menjadi nyata. 

Kecapung Terbang Layang sebagai tunggangan tetiba berhenti sejengkal sebelum memasuki wilayah nan gersang. Ia menolak perintah yang disampaikan melalui jalinan mata hati. Ketakutan tiada terperi terasa kental dari binatang siluman tersebut. 

Si Kancil, yang juga merupakan binatang siluman menyipitkan mata. Masih dengan moncong sedikit menganga, rasa tak nyaman merambat ke sekujur tubuhnya. 

“Pohon itu adalah tempat misterius yang kumaksud,” bisik Kum Kecho. Nada suaranya pun dibuat angker. 

Si Kancil mengedipkan mata beberapa kali. Moncong masih sedikit menganga. 

“Tentu Si Kancil nan gagah berani hendak segera menjelajahi tempat tersebut. Sungguh akan menjadi bahan dongeng yang banyak dinanti oleh segenap ahli di Negeri Dua Samudera…,” sambung Kum Kecho memanas-manasi. 

Kedua ahli kemudian melangkah masuk ke dalam wilayah nan gersang. Sebuah tekanan tak kasat mata serta merta membebani tubuh mereka, serta hawa panas membuat tubuh seolah sulit bergerak. Kum Kecho sudah sempat membiasakan diri, sehingga ia terlihat lebih santai. 

Menyaksikan keadaan Kum Kecho, Si Kancil tentu tak hendak kalah. Sebagai ahli dengan Kasta Perak Tingkat 9, binatang siluman itu membusungkan dada sambil melangkah seolah tiada hambatan. 

“Kita beristirahat sejenak,” ujar Kum Kecho. Mereka telah menempuh jarak sekira tiga perempat perjalanan. Dada terasa sesak dan otot mengeras sampai tubuh menjadi kaku. Si Kancil menuruti tanpa melontar kata barang sepatah.

Sejenak waktu berlalu, perlahan Kum Kecho mengangkat lengan, yang mana menghasilkan pendar cahaya terang dari permukaan telapak tangan nan membuka. Unsur kesaktian cahaya berperan bak payung bagi kedua ahli, dan seolah mampu menepis tekanan terhadap tubuh dan panas nan membara. Akan tetapi, untuk mempertahan unsur kesaktiannya melindungi diri, berarti menyedot tenaga dalam dari mustika di ulu hati. 

Sang pohon sudah tersaji tepat di depan mata. Luas dan tinggi menjulang pohon raksasa itu, ibarat sebuah bukit batu karang nan berdiri perkasa. Berbeda dengan saat pertama mendatangi pohon, kini Kum Kecho telah mengetahui pasti sisi di mana pintu masuk ke dalam liang pohon. Keduanya pun melangkah masuk ke dalam sebuah celah sangat besar dan gelap ibarat sebuah goa nan tak berujung. Udara yang terasa pengap berbaur dengan panas membara. Waspada, Kum Kecho menebar jalinan mata hati, guna memastikan bahwa tak ada ancaman. 

Berkas cahaya dari telapak tangan mulai menyapu bagian dalam pohon. Kum Kecho melangkah masu dengan Si Kancil mengekori. Selama perjalanan tersebut, tiada binatang siluman itu bertanya, mengeluh atau sekadar memberi komentar. Ia diam seribu bahasa…

“Tempuling…” Akhirnya Si Kancil bergumam pelan. Ia menyaksikan sejumlah tiang-tiang nan panjang berserakan. Ada yang tertancap di permukaan tanah, ada pula yang hanya tergeletak seperti ditinggal pergi begitu saja. Meskipun demikian, tiang-tiang tersebut masih menampilkan keperkasaan para pemiliknya di masa lampau. 

Dengan tubuh yang sudah mulai terbiasa akan panas membara, Kum Kecho melangkah semakin jauh. Darah keturunan Wangsa Syailendra dari trah Sanjaya yang mengalir di dalam nadinya menggelegak. Sebagaimana pernah diketahui, kelebihan keturunan Wangsa Syailendra dari trah Sanjaya adalah terletak pada raga nan paling perkasa. Adaptasi tubuh yang cepat terhadap panas nan membara merupakan salah satu bukti nyata.

Di lain sisi, sekujur tubuh Si Kancil telah berubah serba putih. Ia sedang mengerahkan unsur kesaktian miliknya, dan oleh karena itu pula panas nan membara tiada lagi berpengaruh terhadap dirinya. Menapak santai, binatang siluman itu melangkah berdampingan dengan Kum Kecho.  

Bilamana sebelumnya pemandangan yang tersaji merupakan tempuling-tempuling berserakan, kini sejumlah tempuling tertancap rapi di permukaan tanah. Sepuluh bilah tempuling tersusun melingkar layak pagar penahan. Di dalam lingkaran tempuling tersebut, bercokol sesuatu yang membara dan menyala terang!

“Warna api itu….” Si Kancil membelalakkan mata. Ia lantas melontar pandang kepada Kum Kecho. 

Sorot mata Kum Kecho demikian jernih. Tak ada keraguan tatkala ia menahan perih nan mendera tubuh karena berada di dekat sumber api. Anak remaja itu kemudian mengangkat Lentera Asura setinggi perut. Selangkah demi selangkah, lalu ia memaksakan diri untuk menghadapi panas nan membara. 

“Jangan berbuat gegabah!” teriak Si Kancil. “Lingkaran tempuling itu berperan sebagai penahan gelora api! Bila masuk ke dalam sana, kau akan mati konyol!” 

Kata-kata peringatan Si Kancil tiada digubris. Bilamana benar bahwa sepuluh bilah tempuling yang tertancap berperan sebagai penahan api, maka seperti apakah panasnya api nan berwarna putih itu? Skema urutan panas api sesuai warna adalah kuning, jingga, merah, biru, putih dan hitam, maka tak sulit membayangkan bahwa peringatan Si Kancil sangatlah beralasan.  

Kulit di permukaan lengan Kum Kecho memerah, lalu mulai melepuh. Rasa sakit tiada dapat dihilangkan, namun jelas dapat ditahan. Hanya saja, sampai berapa lama kemampuan menahan rasa sakit dapat berlangsung. Kum Kecho terus memaksakan diri. Bilamana ia dapat bertindak kejam terhadap ahli lain, maka ia juga dapat berlaku lebih kejam lagi terhadap diri sendiri. Kini, bahkan kulit di wajahnya mulai melepuh, namun demikian ia tetap menantang panas.

Menjulurkan lengan kanan lurus ke depan, perlahan Kum Kecho menyodorkan Lentera Asura. Di saat itu terjadi, seluruh wilayah lubang pohon bergegar dan panas api meningkat tinggi secara mendadak. Sebuah ledakan mengemuka!

Si Kancil yang berwarna putih sontak melecut maju. Ia melompat-lompat di udara lalu mendarat tepat di hadapan Kum Kecho. Panas api serta-merta melahap tubuh binatang siluman itu. Meski kesaktian unsur putih memiliki kemampuan menetralisir, sesungguhnya terdapat batasan. Kemampuan tersebut berfungsi efektif terhadap unsur kesaktian yang dikerahkan oleh ahli yang setara atau lebih lemah dari Si Kancil. Sampai pada batasan tertentu, kemampuan tersebut masih dapat berlaku terhadap ahli yang beberapa tingkat lebih kuat. Akan tetapi, api putih yang membakar ini memiliki dasar yang berkali-kali lipat lebih tangguh dari binatang siluman tersebut. 

Oleh sebab itu, sekujur tubuh Si Kancil kini terpanggang api!