Episode 44 - Sidya - Penghuni Kerak Neraka



Dikarenakan Kami menjadi saksi atas guna dari Simpai Ajaib pada pertobatan dari Kera Kahyangan, yang dikenal sebagai Kera Sakti, atau Kera Yang Mengawal Perjalanan Barat, maka Kami menganugerahkan pula Rantai Pertarakan pada tiga puluh tiga Iblis Kahyangan. Berbahagialah! Sebab Kami murah hati dan berwelas asih ….

—Salah satu bagian dari Kitab Kahyangan, bab Sembah Pada Naraca


Waktu Sidya bangun, dia panik bukan main.

 Sejenak, ia mengira bahwa entah bagaimana matanya jadi buta total. Tak kelihatan sesuatu pun dalam pandangannya, sementara tangannya menggapai sia-sia, tak menemukan apa-apa. Akan tetapi, setelah mencoba menenangkan diri, Sidya sadar bukan dia yang buta, melainkan memang ia sedang berada dalam kegelapan yang menekan. Tetap saja Sidya was-was, sebab ia pernah mendengar cerita tentang dua orang yang buta tanpa sebab. Cerita itu mengatakan satunya buta setelah menjalani ngerinya peperangan, satunya lagi karena salah melatih hawa murni.

Dan Sidya baru saja menjalani keduanya, baik peperangan maupun latihan hawa murni. Ia jadi takut sendiri, walau dalam hati kecilnya ia tetap berharap semoga dia tidak kejatuhan nasib buruk seperti itu.

Lagipula, saat ia sadar, ia sudah dalam keadaan berdiri. Bagaimana bisa, coba? Kalau orang pingsan, pasti ia jatuh rebah atau malah tertelungkup. Sepertinya ia sedang dalam perjalanan semadi lagi, semacam perjalanan untuk ‘masuk ke dalam diri sendiri’ seperti yang dirasakannya saat mendapat nama keduanya dulu. Jadi, dia bersyukur karena hal itu. Bisa saja dia di sini buta, tapi di dunia fana tidak.

Samar-samar, ia ingat kalau hal terakhir yang dilihatnya adalah Hikram menangkupkan telapak tangannya ke telapak tangan Sidya sendiri sebelum tak sadarkan diri. Bukannya guru bilang kalau dia mau membantu? Di mana dia?

“Guru?” panggilnya, berharap bahwa si orang tua akan menjawab. Sunyi, malah suaranya menggema kembali ke telinga seperti di dalam sebuah gua. Tak ada jawaban, yang ada hanya kegelapan. Ia jelas tak siap untuk ini, Hikram bahkan tak memberinya waktu untuk bertanya tentang apa yang harus dihadapinya, atau kapan kiranya ia akan hadir juga untuk membantu Sidya.

Sembari mengasihani diri sendiri karena mendapat guru yang jelas tak sehebat Janda Merah ataupun Diogenesus dalam ajar-mengajar, Ia melangkahkan kaki pelan, takut jikalau tersandung sesuatu, sementara tangan meraba-raba agar jangan sampai ia menabrak dinding atau semacamnya. Terus bergerak, karena diam di tempat tak menghasilkan apapun.

Cukup lama tak ada perubahan di sekitarnya. Masih sama, kegelapan dan segalanya itu. Lantainya mulus, sepertinya terbuat dari bahan selain tanah, dingin dan keras layaknya marmer. Ia telah berusaha menghirup udara dalam-dalam, tapi tak ada bau apapun yang tertangkap. Udaranya sangat bersih, dalam waktu bersamaan mengingatkannya akan sebuah tong yang hampa isinya.

Baru ketika berhenti sejenak, Sidya mampu mendengar langkah kaki dari belakang. Langkah-langkah yang cepat. Kaki-kaki itu menapak dengan halus memang, tapi tempat ini terlalu sepi sehingga Sidya bisa mendengarnya sesegera mungkin. Berpaling, dan ia mendapati sesuatu yang membuat jantungnya serasa mau copot.

Ada sesuatu di belakangnya, dan sekali pandang ia langsung tahu kalau itu bukan manusia. Memang jelas sosok itu berlengan dua berkaki dua serta punya kepala. Tapi selain itu, aspek lain dari keseluruhan ciri-ciri tubuhnya membuat Sidya dicekam kengerian. Sosok itu mengeluarkan semacam pendar cahaya yang menyingkirkan gelap, tapi kulitnya yang merah, taring-taringnya, kuku-kuku yang dari jauh kelihatan berkilat tajam, rantai-rantai di tangan serta kakinya … dan ia mendekat cepat, sangat cepat untuk menyongsong Sidya.

“Aaaaah!” Sidya menjerit, berlari ke arah berlawanan, benar-benar mengayuh kaki seperti orang kesetanan karena memang ada sosok serupa setan mengejarnya, bergerak kemana saja yang penting menjauh dari sosok itu, dan untuk kali ini ia tak peduli apakah akan tersandung atau jatuh atau terguling menuruni tebing sekalipun.

“Hei—!”

Ia mengucapkan sesuatu, tapi buat apa pula mendengarkan setan? Naluri manusia yang masih waras jelas memompa diri, membisikinya dengan satu kata motivasi: lari. Sidya mengingat-ingat doa, yang mana saja tapi ia bahkan lupa doa paling sederhana yang biasa dibaca saat berlutut pada altar. Ia terus memacu langkah, memberanikan diri untuk berpaling ke belakang dan lumayan lega waktu menyadari si setan telah berhenti sembari memegangi punggung.

Buak! Karena tak awas dengan keadaan didepannya, Sidya menabrak sesuatu sampai ia terdorong ke belakang, lantas terjatuh dengan bunyi debam, kepalanya pusing tujuh keliling. Dari posisinya itu ia mengaduh, lalu membuka mata.

Dan ia dipertemukan dengan setan lain.

“Aaaaah!”

“Sssst!”

“Aaaah!”

“Duh,” si setan mengeluh. “Ngapain pula Eke datangnya begitu, kan bikin takut.”

“Aaah!”

“Bisa diam?”

Sidya menutupi wajahnya dengan kedua lengannya, badan gemetar dari ujung kepala sampai kaki. Ia mau-mau saja pingsan sekarang, tapi di saat-saat seperti ini dia malah sadar sepenuh-penuhnya sadar. Ke mana ketidaksadaran diri saat kamu benar-benar membutuhkannya?

Mendadak sebuah tangan menggenggam lengannya, licin dan teramat kuat. Jadi setan-setan ini bisa pula menyentuhnya. Sidya menjerit untuk yang kelima kalinya, menolak untuk membuka mata, tapi tangan itu menarik dengan tenaga penuh sampai kedua lengan yang menutupi wajah lepas dan tersingkirkan.

Mengintip dengan mata segaris, Sidya bisa melihat setan itu mengamati wajahnya dengan seksama.

“Tolong, Guru, tolong! Siapapun …!”

“Sudah diam! Teriak-teriak tak akan menyelesaikan masalah!”

Sebagai jawaban, Sidya menjerit untuk yang keenam kalinya. Merepet, Sidya merapal doa mau buang air sembari meronta-ronta, berharap ada keajaiban hingga si setan menghilang digerus bacaan doanya.

Si setan menepuk dahi, lantas menurunkan tangan yang masih menempel di dahinya sendiri untuk turun, terus turun sampai dagu, dan Sidya yang ketakutan setengah mati makin kaget saat si setan berubah wujud. Pelan tapi pasti seiring dengan telapak tangannya yang mengelus wajah, sosok yang sebelumnya berkulit tak normal kemerah-merahan itu berubah jadi persis seperti kulit manusia. Wajah yang sebelumnya memberikan kesan galak dengan ujung-ujung hidung dan dagu yang terlalu runcing berubah drastis, menjadi wanita yang amat sangat dikenal Sidya.

Sidya yang sebelumnya berontak membeku dalam posisinya dengan mulut menganga lebar.

Si setan merubah sosok menjadi amat persis seperti ibunya. Ibu suri Sarma sendiri. Garis wajah di samping mata, hidung mancung, bibir merah merona. Bahkan pakaiannya pun sama persis, yaitu pakaian kesayangan bundanya, yang berwarna jingga dengan bahan sutra terbaik yang dihasilkan oleh Ulat Agung.

Si setan, begitu melihat bahwa Sidya tak lagi meronta-ronta melepaskan pegangannya. Kedua tangan terangkat menenangkan sembari tersenyum manis seperti yang Sidya ingat dari ibunya, lesung pipitnya tergambar jelas. “Anak baik. Diam yang tenang, ya?”

Sidya bangkit pelan-pelan, kepalanya menggeleng tak percaya sementara mata tak lepas dari wajah ibunya.

Si setan tersenyum makin lebar dan mengangguk-angguk.

“Aku ini ibumu, jadi tak perlu takut, Anakku—”

Anggukannya putus di tengah jalan, sebab Sidya menampar pipi si setan keras-keras, kepala si setan sampai terpaling dibuatnya. Tak sampai di situ saja, Sidya menerjangnya untuk kemudian memukul, bahkan mencakar. Dia sampai lupa segala ilmu beladiri, yang diingatnya hanya upaya penuh untuk menghajar sosok yang mengambil wajah salah satu orangtuanya ini.

Gantian si setan yang menjerit. Bukan karena rasa sakit, ini lebih dikarenakan rasa kaget karena tahu-tahu Sidya berubah garang bahkan mencakar-cakar seperti kucing rumahan yang jadi liar sebab terlalu lama dibiarkan hidup di jalan. Dan gerakannya amat cepat dan sistematis, Sidya menempatkan cakaran dari wajah sampai leher untuk kemudian berusaha mencekik.

“Sebentar—”

“Berani-beraninya kau ambil sosok ibuku, kau kira aku ini bodoh hingga mudah tertipu?!” dan Sidya terus mengguncang leher yang terlalu besar untuk dilingkari kedua tangannya. Putus asa, Sidya menggunakan salah satu tangannya yang bebas untuk berusaha mencabik pipi si setan, agar jangan sampai wajah itu persis sama lagi dengan ibunya.

“Eke, tarik bocah setan ini dari—”

“Kau yang setan!” teriak Sidya sebelum lagi-lagi mencoba merobek wajah, menancapkan kukunya dalam-dalam seolah dengan begitu ia bisa menyingkap sisi lain dari roman mukanya, seolah si setan sendiri sedang mengenakan sebuah topeng bukannya ilmu magis berupa penyamaran yang amat mirip dengan manusia.

Sebuah tangan memegang belakang pakaian Sidya tepat pada lehernya, lantas dengan paksa menariknya, melemparnya. Sidya yang masih tak terima bergerak lagi langsung setelah dijatuhkan, bahkan tak mempedulikan tangan setan satunya yang melintang ingin menahannya.

Lintangan tangan itu berhasil menyekapnya, sementara Sidya masih menggerung seperti macan kecil. Ia masih berontak, menggeliat untuk berusaha melepaskan diri.

“Duh, bocah aneh,” si setan yang mengambil wujud ibunya berdiri, lalu bertolak pinggang. Gerakan itu amat asing, itu gerakan yang Sidya yakin tak pernah dilakukan ibunya satu kalipun semasa beliau hidup sehingga membuat Sidya amat kesal, sementara kedua alis si setan yang anggun tertaut. “Aku mengambil wujud akrab malah kau serang? Otakmu dimana sih?”

“Ambil wajah lain kecuali wajah ibuku, Setan!”

“Kami bukan setan,” kata satunya dengan desah lembut, mengingatkan Sidya pada Hung si pendongeng istana yang kebencong-bencongan padahal jelas yang satu ini jenis kelaminnya lelaki. Satunya lagi, yang menculik wajah ibunya berkata galak, “Kalau dalam mata kalian manusia bodoh mungkin kami beda sedikit, tapi aku lebih suka dipanggil dengan nama jenis asliku, dasar kamu bocah rasis. Kami bukan setan: kami iblis.”

“Tak ada bedanya!”

“Sebenarnya banyak, tapi berhubung kami berada di sini bukan untuk menjelaskan jenis-jenis penghuni Kerak Neraka, maka sudahlah, silakan sebut kami apa saja untuk saat ini. Dan yang akan kami lakukan adalah mengawasi, seperti yang diperintahkan oleh Tuan Awatara Hikram.”

Sidya mungkin akan tertawa terbahak-bahak kalau saja tidak marah besar, marah yang bahkan membuat rasa takutnya luntur ini. Mau bagaimana lagi, ada juga orang yang mau memanggil sosok kumal dan jarang mandi gurunya dengan sebutan ‘tuan’.

“Hapus wajah ibuku!” bentak Sidya pada si iblis, yang ternyata berjenis perempuan yang kini pasang tampang masam. Sepertinya ia kesal karena dibentak-bentak terus, karena ia mengangkat tangan siap menampar si bocah bermulut badung dengan amarah yang tak kalah membaranya dengan amarah Sidya, “Lancang. Bahkan pengajaran dari Tuan Awatara Hikram yang terhormat sekalipun tak bisa menaklukkan lidahmu yang terlalu tajam. Pernah ditampar iblis, bocah setan?”

“Mak, tolonglah.” Iblis satunya berkata rendah, ia masih harus menahan Sidya, sepertinya keberatan jika harus ketambahan tugas untuk menahan temannya sekalian.

“Satu kali saja, Eke. Kurasa satu tamparan akan cukup. Bisa jadi hal yang baik untuk—seperti yang Tuan Awatara Hikram katakan—‘pendidikannya’.”

“’Tuan Hikram gurunya, tuan Hikram yang menentukan pendidikannya’,” jawab si iblis, menyitir cepat dengan penuh kekaguman seperti mengutip ucapan dari sabda seorang filsuf ternama, bukannya pesilat tua yang senang mabuk-mabukan.

Iblis perempuan itu menurunkan tangan, kemudian melampiaskan emosi dengan cara menjotos udara. Ia memandangi Sidya yang masih bersikeras berontak, lantas memutuskan untuk mengalah karena kemudian dia mengusap wajahnya sendiri, melunturkan sosok ibu Sidya yang ditirunya.

Wujudnya yang kembali pada kulit merah dan tanduk yang terpotong itu membentak, “puas sekarang?”

“Lepaskan tubuhku juga!” Sidya meronta, sampai si setan lelaki membebaskan Sidya sembari mengeluarkan semacam jerit yang amat sangat kemayu saat Sidya berusaha mendorongnya menjauh.

“Nah, begini lebih baik!” Sidya mengibas-ngibaskan tangannya pada baju seolah badan si iblis yang baru memegangnya amat kotor, kemudian bertanya galak, “Sebenarnya kalian ini siapa?”

“Aku Eke, Kami yang menjadi penjaga gurumu untuk hari ini,” jawab iblis lelaki. Ia berpaling, menyuruh kawannya yang masih menyedekapkan tangan untuk mengenalkan diri pula.

Iblis perempuan itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. “Aku Mak.”

“Pantas guru orangnya aneh begitu, aku baru tahu kalau guruku mempekerjakan dua iblis sebagai penjaga dan mengijinkan mereka berdiam di tubuhnya.” Sidya memikirkan nama yang mereka berdua berikan. “iblis dengan nama-nama yang aneh pula.”

“Sebenarnya bukan cuma dua. Jumlah asli kami adalah tiga puluh tiga.”

Sidya membelalak. Tiga puluh tiga iblis, benar-benar tak masuk akal. Tiga puluh tiga kehadiran asing hinggap dan bergerak di badanmu, dan dengan begitu pula bebas mengawasimu dari fajar bertemu fajar lagi. Mereka tahu keseharianmu, jadwal tidur, jadwal mandi, kapan biasanya kamu bangun setiap harinya, bahkan mengintipmu waktu mandi … kalau ini lelucon yang entah bagaimana gurunya rancang, lelucon ini sudah keterlaluan.

Si iblis lelaki sepertinya tak memperhatikan reaksi Sidya, karena ia gegas meneruskan. “Dan kami bukan iblis biasa, ‘Bangsawan Cilik’—”

“Kenapa kalian harus meniru panggilan itu juga, sih?”

“Karena Tuan Awatara Hikram juga melakukan hal yang sama.”

“Jadi guruku itu semacam tokoh idola bagi kalian, yang perlu ditiru-tiru kelakuannya?”

Eke terbatuk ditangannya, bahkan hal itu pun dilakukan dengan kelembutan teramat sangat. “Beberapa betina dari tiga puluh tiga lebih dari sekedar mau menjadi pendampingnya kalau saja Sang Awatara berkenan.” Ia melirik Mak yang jadi lebih merah daripada biasanya.

Mak langsung menyela percakapan ini dengan wajah merah padam seperti kepiting rebus, “Tak perlu bicarakan tentang hal itu! Nah, seperti yang Eke bilang, kami bukan iblis biasa. Kami Iblis Bertobat, berjalan di bawah perlindungan Dewa Perayaan, Dewa Arak Atas Langit, Dewaraya yaitu Sang Naraca sendiri, dan dengan begitu mengiringinya, bertempat di kahyangan sesuai gugusnya.” Ia menarik-narik rantai yang bergemerincing di lengannya untuk menegaskan maksud. “Bertobat untuk mencapai pencerahan, kau tahu? kami memang iblis, tapi kami berusaha untuk jadi baik.”

Sidya manggut-manggut, walau tak sepenuhnya mengerti. Ia mendadak ingat pesan dari gurunya.

“Dan guru bertanya siapa yang berjaga kemarin hari waktu beliau berada di Sin Gong.”

Mak menyeringai, sepertinya kali ini tidak dimaksudkannya pada Sidya, melainkan pada orang lain, “Ah, pasti beliau mengeluhkan tangannya yang sakit. Beritahukan kalau Orma yang berjaga, dan si tua bangka memukulkan tangan beliau ke sebuah perisai. Perisai mustika, kalau kamu mau memberikan cerita detilnya. Tuan Awatara Hikram mungkin mengira kalau itu aku, tapi sumpah demi Rantai Pertarakan yang melingkari tangan dan kakiku ini, waktu itu waktu jaga Orma.”

Sidya mengangguk. “Baik, akan kusampaikan pesannya. Meski begitu, aku tetap tak menyangka akan kehadiran kalian berdua. Kukira guruku sendiri akan hadir.”

“Beliau tak akan mau menjelajah badan orang, apalagi keturunan orang besar seperti anda tanpa tahu apa konsekuensinya. Beliau takut kalau ada sesuatu yang berbahaya ditanamkan untuk mengatasi penyusup, maka kami berdua mewakilinya untuk sementara. Dan aku bisa menuntunmu menuju tujuanmu!” Iblis yang dipanggil Eke menyapukan tangan, seperti seorang penyihir mempersembahkan hasil dari kemampuan magisnya.

Mendadak, kegelapan yang semula melingkupi agak susut, terkalahkan oleh cahaya dari kejauhan. Pertamanya kecil, tapi terus membesar, melebar menjadi selubung berwarna putih yang berpendar, mirip-mirip kaca yang buram sehingga apa yang berada dibaliknya tak kelihatan. Selubung ini hadir di hadapan mereka bertiga, muncul begitu saja dan terus meluas, sangat luas hingga ujung dari kedua sisinya kiri-kanannya tak kelihatan, ujung atasnya pun melengkung ke arah cakrawala seperti sebuah kubah.

Tanpa sadar, Sidya mengambil dua-tiga langkah untuk mendekati selubung yang masih terus berkembang itu.

“Selubung yang melingkupi Lautan Energi!” kata Eke ceria.

“Aku pernah lihat ini,” kata Sidya sembari mengamati selubung yang datang mendadak itu. “Tapi aku … tak ingat kapan. Ini mungkin kedengaran janggal, tapi aku merasa kenal dengan selubung ini. Kenal … seperti mengenal seseorang.”

“Tentu saja kamu mengenalnya, Bangsawan Cilik,” angguk Eke, “mengingat Selubung Energi merupakan ciptaan leluhurmu yang pertama. Keadaannya mirip dengan mengingat buaian tempatmu tidur waktu masih orok. Kamu mungkin tidak mengingat bentuknya, warnanya, atau bahannya. Tapi rasa hangatnya? Itu akan selalu terkenang jauh di dalam dirimu sendiri. Dan selubung juga mengenalmu. Kau kira aku yang mendatangkannya? Bukan. Selubunglah yang menghampirimu.” 

Ketiganya diam. Mengamati lingkupan yang masih meluas dan terus berpendar menawarkan cahaya pada sekitar. Sekarang, selubung itu bergerak lembut seperti tirai yang terkena angin padahal sang bayu tak hadir sama sekali diantara kegelapan ini.

Suara Sidya memecah kesunyian, “kurasa aku bisa menembusnya.”

“Kalau begitu masuklah.”

Sidya berpaling pada Mak, heran. “Lalu untuk apa kalian berada di sini?”

“Mengawasi apa yang terjadi dan melaporkan pada Tuan Awatara Hikram.”

“Hanya itu?”

“Kami tak bisa masuk selubung. Kalau pun bisa, kehadiran kami tak akan begitu membantu. Kami sama tak pahamnya dengan Tuan Awatara Hikram soal Lautan itu.”

Sidya mulai curiga sekarang. Kalau begitu ceritanya, maka seharusnya cepat atau lambat ia akan menemukan selubung, walau Eke atau Mak tak membantu sekalipun. Eke sendiri berkata kalau selubung akan menghampirinya seperti seekor kucing menyambut tuannya yang baru masuk pintu rumah. Kalau pun gurunya memerintahkan keduanya mengawasi, bukankah mereka juga bisa lakukan itu dari tempat yang cukup jauh, sehingga tak perlu menjumpainya? “Tunggu. Selain membocorkan sesuatu tentang kedekatanku dengan selubung, kalian tak membantu sama sekali. Sebenarnya tujuan kalian apa?”

Kedua iblis itu bertukar pandang. Hanya sebentar, tapi kilat pada mata keduanya membuat Sidya terpaku seolah Eke sedang menahannya di tempat sekali lagi.

Sidya mengingatkan diri kalau mereka itu iblis, penghuni Kerak Neraka, kaumnya terkenal akan kegemaran menghasut umat manusia. Mereka melakukan praktik tipu-menipu yang menjanjikan materi, atau kejayaan, atau kesenangan dunia yang beragam untuk kemudian menjebak manusia dalam lubang gelap sampai mereka tak bisa keluar lagi. Walau iblis-iblis ini menambahkan kata ‘Bertobat’ di belakang, mereka tetap sosok yang haus untuk menggoda siapapun yang penjagaannya lengah. Pada dasarnya mereka makhluk jahil, dan Sidya jadi ragu apakah berada di samping Naraca ribuan tahun lamanya pun akan bisa menghapus tabiat mereka yang telah mendarah-daging.

Sidya mulai melangkah tiga kali lebih dekat pada selubung, matanya tetap awas pada keduanya, siap lari jikalau ada gerakan mendadak.

“Tuan Awatara Hikram memerintahkan kami mengawasi,” kata Mak. “Tapi aku sendiri merasa ….” Dan iblis perempuan itu mengendus udara seperti orang yang mencium aroma masakan yang teramat nikmat. Hidungnya mendekat ke arah Sidya.

“Mak, apa kau memikirkan….”

“… Ya, Eke. Aku memikirkan rasa lapar, kamu pasti juga begitu. Oh, sangat lapar. Bentangan masa lamanya kita tidak makan. Dan bau anak ini ….”

“… hentikan, Mak. Kita tak boleh …”

“… daging Wangsa Nagart! Daging muda pula! Empuk, tulangnya lunak. Darahnya lebih wangi dari arak Kahyangan. Jeroannya lembut dilumat gigi-gigi kita, kapan terakhir kau makan jiwa yang berlapis hawa murni, Eke? Hawa murni Lautan yang tak berbatas …?”

“Mak, sudah!”

 Tapi Mak sepertinya tak mendengarkannya. Sisi bibir Mak melenceng ke atas, lidahnya menjilat taring-taringnya yang putih tak ternoda. Kentara sekali kalau dia berusaha meredam keinginan untuk menyeringai, tapi sepertinya dia tak tahan, karena kini bibirnya melebar dan terus melebar. Kalau seringai itu ada di wajah manusia, pasti bibir sudah robek sebab ini sudah melewati batas wajar. Matanya pun berubah, dari yang sebelumnya hitam legam sekarang dihiasi urat-urat merah. Ia mendekat ke arah Sidya dengan langkah-langkah tergesa, membuat si putri cilik lebih takut daripada saat sebelumnya dia bertemu pertama kali dengan iblis perempuan ini.

Mendadak, rantai-rantai di sekujur tangan Mak bergemerincing dengan sendirinya, walau Mak nampak tak peduli karena pandangannya terpusat pada Sidya. Mak masih maju, berniat untuk merobek leher Sidya dengan taring, setengah menyeret rantai di kaki dan tangannya yang mendadak jadi terasa amat berat. Geraknya makin lambat, tapi ia tak menyerah, masih terus berusaha untuk mendekatkan diri pada mangsanya hingga urat-urat ditangannya menonjol.

Rantai itu berderit kencang, lalu menegak seperti ular hidup.

Kini, baja tempaan yang sambung-sinambung itu bergerak untuk membetot leher si iblis yang sepertinya sudah kalah dengan nafsu dan tak dapat mengendalikan nalurinya yang terbangkitkan ini. Bahkan dibelit dan dicekik seperti itu, tangannya masih terjulur, menggapai-gapai Sidya seolah tak ada yang lebih diinginkannya selain mengukir badan bocah itu dengan kuku yang teramat tajam, tapi rantai itu melebihi kuatnya baja, rantai itu tak mengijinkannya untuk bergerak selangkah pun dari tempatnya berdiri.

Sementara itu, kawannya si iblis lelaki terengah-engah. Ia menatap Sidya dengan mata melebar, dengan rasa lapar yang jelas terpatri, seolah dia ini orang yang sedang puasa ribuan tahun lamanya dan sedang menyaksikan daging berminyak yang begitu menggiurkan tersaji dihadapannya.

Ia menghentakkan napas, menggelengkan kepala, berusaha memusatkan pikiran pada upaya untuk menahan seringai yang mau muncul di bibir. Ia lantas bersila dan mengatur napas dengan mata terpejam, rantai sudah setengah jalan menuju lehernya sekarang, bergerak seperti seekor ular sanca gelap yang merayap pelan. Ia menangkupkan kedua tangan, merapal sesuatu dalam bisikan, sehingga membuat rantai berhenti bergerak untuk sementara. Rantai itu hanya sedang waspada, berbeda dengan rantai Mak yang kini sepenuhnya hidup untuk membelit, bergemerincing keras dan berputar untuk menahan kedua kakinya sekalian, membuatnya roboh dengan suara gemerincing yang cukup keras, karena rantai telah mengitari tubuhnya sampai hanya menyisakan kepala.

Sidya melempar pandang pada Mak yang berusaha melepaskan diri dari rantai dengan sia-sia. Bahkan, Mak sampai menggigit-gigit rantai itu, taring-taringnya berbunyi gemeletuk, salah satu ada yang patah semata digunakan untuk melumat rantai yang lebih alot daripada sekedar besi di dunia fana. Sidya mengamati wajahnya yang penuh penderitaan, baru mengerti bahwa ada sesuatu di dunia ini yang bisa nampak menakutkan namun membuatnya iba dalam waktu bersamaan.

Sidya menggelengkan kepala. Ia sudah cukup melihat bahwa iblis-iblis ini tak mampu, atau sedang kesulitan, untuk mengendalikan kemauan mereka yang paling dasar, yaitu rasa lapar. Kalau saja ini mimpi, Sidya bisa memaknai ini seperti amanat, seperti sebuah sebuah pesan yang ditujukan pada diri sendiri. Amanat yang mengatakan: kendalikan hawa nafsumu. Kalau tidak, awas, kamu bisa saja berada di posisi mereka sekarang, dan menderita karena nafsumu yang tak terkendali itu.

 Sidya sudah cukup melihat usaha mereka berdua. Bagaimanapun juga, orang yang gagal tetaplah orang yang telah melewati perjuangan. Ia membungkuk bergantian pada keduanya, berterima kasih untuk pelajaran yang telah mereka beri meskipun mereka tak sadar akan hal itu, untuk kemudian mencoba menyibakkan tangannya pada selubung, seperti seseorang yang sedang menyingkap sebuah tirai sementara Mak masih menggigit-gigit rantainya dan Eke masih memejamkan mata untuk menuntaskan rapalan doanya. Tangan Sidya masuk dengan mulus tanpa ada halangan, rasa hangat membasuh sampai ke lengan, seolah selubung itu menyambutnya seperti menyambut kawan yang sudah kenal lama.

Rasa hangat itu seperti sebuah ajakan, maka Sidya memantapkan diri untuk mengambil langkah, lalu masuk menembus selubung.

--