Episode 87 - Wangsit Siliwangi



Malam itu Jaya Laksana nampak sedang duduk bertafakur di dalam sebuah ruangan khusus tertutup yang berada di rumahnya. Dengan hanya ditemani oleh sebuah pelita remang dari sebatang lilin, ia bersemedi mengheningkan cipat dan memusatkan pikirannya pada satu nama, dari dalam hatinya ia memanggil-manggil sebuah nama. “Eyang Prabu Siliwangi, Eyang Prabu Sri Baduga Maharaja, Eyang Prabu Sri Jayadewata, Sang buyut dari seluruh trah Manah Rasa, saya Jaya Laksana, cucumu, putra dari Prabu Kertapati mengharap kehadiranmu.”

Tiba-tiba semilir angin angin yang sangat dingin bertiup kencang seiring dengan semerbaknya bau kemenyan serta wangi dari kembang tujuh rupa dan kayu cendana. Ruangan di sana diselimuti oleh kabut yang tak tembus pandang, selarik sinar putih dari atas turun kehadapan Sang Tumenggung yang sedang bersemedi itu, perlahan sinar putih itu berubah menjadi sesosok harimau berbulu putih dan bermata biru berwujud bayang-bayang. Harimau itu lalu mengaum dengan sangat kerasnya hingga menggetarkan bumi disekitarnya, kemudian harimau itu berubah menjadi sesosok pria paruh baya yang sangat tampan dan bertampang gagah, ia menggunakan mahkota emas bertahta berlian serta berjubah panjang berwarna biru.

“Jaya Laksana, cucuku bangunlah!” ucap si pria gagah berwujud bayang-bayang itu.

Jaya Laksana membuka kedua matanya dan langsung menjura hormat pada pria dihadapannya tersebut. “Hamba Eyang Prabu.”

Pria berwujud bayang-bayang yang ternyata adalah penjelamaan dari ruh mendiang Prabu Siliwangi Sri Jayadewata tersebut menepuk bahu Jaya. “Jaya Laksana cucuku, kekuatan tapamu telah sampai ke belahan bumi hargadumilah, tapamu kuterima, sekarang katakanlah apa yang sedang merisaukanmu hingga memanggilku kemari?”

“Terimakasih Eyang, Eyang Prabu tentu telah mengetahui keadaan di bumi Pasundan sekarang ini. Negeri Banten akan segera menyerang negeri leluhurnya yakni Pajajaran yang juga merupakan negeri leluhur saya juga. Adapun tujuan saya memanggil eyang adalah karena saya bingung harus berpihak kemana dan bagaimana menentukan sikap.” ujar Jaya dengan suara tersendat yang jelas menyiratkan keraguan.

Prabu Siliwangi tersenyum mendengar pertanyaan dari Jaya tersebut, ditatapnya sosok cucu bungsunya itu dengan penuh kasih. “Aku mengerti bagaimana kebingungan hatimu itu cucuku, tetapi sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin tahu pendapatmu tentang apa itu perang. Katakanlah Jaya Laksana, apakah perang itu sesungguhnya?”

“Sejujurnya saya kurang memahami apa itu perang, dan untuk apa perang itu Eyang.” jawab Jaya yang berterus terang menyatakan ketidak tahuannya, karena memang ia belum pernah terlibat dalam peperangan sebelumnya.

Prabu Siliwangi terkekeh mendengar jawaban tersebut. “Kau tidak tahu apa itu perang tapi akan terlibat didalamnya? Hahaha… Baiklah cucuku akan aku jelaskan apa itu perang… Perang itu sesungguhnya hanyalah suatu alat penghancur untuk menghilangkan kerusakan yang disebabkan oleh kebhatilan, diganti dengan yang baru. Timbulnya suatu peradaban itu adalah karena perombakan dari yang silam yang manusia rusak sendiri.

Tanpa persengketaan manusia tidak akan bergairah untuk hidup lebih maju. Tanpa perangpun semua mahluk akan menemui ajal yang telah digariskan. Setelah itu diganti dengan manusia yang baru untuk meneruskan sisa pekerjaan yang telah mati. Demikianlah seterusnya seperti alam raya yang terus bergerak gberputar tak pernah diam, demikian pula pikiran manusia setiap detik bergerak terus tak pernah berhenti. Walaupun tidak perang, alam akan merusak dan menghancurkan kehidupan agar manusia menjadi sadar, bahwa dia tak berkuasa apa-apa di dunia ini!”

Jaya terdiam merenungi apa yang baru saja disampaikan oleh kakeknya tersebut, sang kakek pun membuka suaranya kembali. “Atas dasar itulah aku tidak akan menyuruhmu untuk membela Pajajaran, aku hanya merestuimu untuk berpihak sesuai dengan kata hatimu, di pihak yang kamu anggap benar… Dan ingatlah satu lagi cucuku, kamu sekarang adalah seorang prajurit, bukan seorang pendekar! Seorang prajurit hanya akan memihak pada negaranya, karena itulah aturan hukum yang sudah digariskan oleh seorang penguasa kepada seluruh abdi negaranya!”

“Jadi eyang tidak keberatan kalau saya memimpin pasukan saya untuk menyerbu Pajajaran?”

“Tentu saja tidak cucuku, karena zaman memang akan berganti, masa kejayaan Pajajaran sudah lewat dan akan diganti dengan masa yang baru” urai ruh Prabu Siliwangi. “Lakukanlah apa yang menurutmu benar cucuku!” tambahnya.

“Akan tetapi…” Jaya tidak sanggup meneruskan kata-katanya, air matanya lolos dari kedua matanya.

“Kau tidak mau menjadi pengkhianat cucuku? Hehehe… Tentu saja kau tidak akan menjadi seorang pengkhianat cucuku, karena ini sudah merupakan jantra cakra takdir yang tertulis bahkan sebelum Pajajaran berdiri dengan nama Tarumanagera ratusan tahun yang lalu… Apalagi bukankah kau juga memanggul tanggung jawab seluruh rakyat Mega Mendung cucuku? Bertanggung jawablah pada nasib rakyatmu sebagai seorang pemimpin! Dan bertanggung jawablah pada takdir Sang Maha Kuasa cucuku!” tegas Prabu Siliwangi namun dengan tatapan mata yang memancarkan kelembutan cinta kasih pada cucunya tersebut.

“Baiklah Eyang Prabu…” jawab Jaya dengan suara tercekat dan berta hati seraya menangguk takzim.

“Jalanilah takdirmu cucuku, saksikanlah perubahan zaman yang akan terjadi nanti… Dan ingat pesanku, gembelnglah anak cucumu agar siap menghadapi para Kebo Bule yang teramat serakah dari sebrang lautan yang jauh disana!” pungkas Prabu Siliwangi seiring bayangannya memudar. Perlahan kabut tipis serta wangi kemenyan, kembang tujuh rupa, serta cendana memudar. Ketika terdengar suara auman harimau yang maha dahsyat, sosok raja pertama Kerjaan Pajajaran itupun menghilang. (Kebo Bule = sebutan untuk Bangsa Belanda menurut Uga Siliwangi)

***

Beruntung bagi Ki Silah, ia menemukan seekor sapi betina di desa Gondangsari yang telah kosong, yang ditinggal oleh pemiliknya untuk mengungsi, maka ia pun segera membawa sapi betina tersebut ke Gubug Mega Sari, ia segera memerah susunya kemudian Emak Inah memasaknya.

“Sudah matang Mak?” Tanya Mega Sari sambil terus berusaha menenangkan tangis bayinya yang kelaparan.

“Sebentar Gusti, saya dinginkan dulu!” jawab Emak Inah sambil mengipasi air susu sapi yang baru dituangkan ke piring tanah liat menggunakan hihid (kipas bamboo).

Mega Sari terus berusaha menenangkan tangis bayinya sambil menimang-nimangnya, kemudian setelah agak dingin Emak Inah memberikan susu tersebut ke Mega Sari. Sang Ibu pun langsung meminumkan air susu itu perlahan-lahan pada bayinya, bayi itupun langsung berhenti menangis dan menengak susunya dengan lahap. “Lapar ya sayang?” Tanya Mega Sari sambil tersenyum iba melihat Bayinya yang menyantap susunya dengan lahap.

Emak Inah dan Ki Silah pun tersenyum iba menatap Mega Sari yang sedang memberi susu pada bayinya itu, air mata mereka menetes karena sangat prihatin dengan nasib yang menimpa Mega Sari dan bayinya itu. Setelah selesai memberi makan bayinya, Mega Sari menatap Emak Inah dan Ki Silah yang masih berlinang air mata.

“Emak, Abah, kenapa kalian malah menangis?”

“Eh tidak apa-apa… Maafkan kami Gusti…” jawab Emak Inah dengan sungkan.

“Aku tahu apa yang kalian pikirkan, tapi sudahlah, jangan kita ungkit-ungkit lagi masa lalu, lihat tali pusarnya sudah puput… Daripada terus menatap masa lalu, lebih baik Emak dan Abah membuat bubur merah bubur putih untuk selamatan!”

“Baik Gusti, mau dikasih nama apa si Asep kita ini Gusti?” sahut Ki Silah yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Siapa ya? Emh… Windu… Windusakti Martapura, ah jangan, terlalu berat! Emh… Bagaimana kalau Dharma Laksana, ya Dharma Laksana! Artinya orang yang akan melaksanakan ajaran Dharma dan menyebarkan ajaran Dharma atau kebajikan serta menegakank keadilan, bagus bukan?”

Ki Silah dan Emak Inah saling tatap, kemudian mereka mengangguk. “Nama yang bagus sekali Gusti, Dharma Laksana… Hehehe…” jawab Emak Inah, tentu saja mereka menyetujuinya, karena alasan sebenarnya Mega Sari memberi nama anaknya demikian bukan hanya karena makna nama tersebut, tetapi juga karena nama itu merupakan gabungan dari dua orang pria yang sangat dicintai oleh Mega Sari, yaitu Dharmadipa suaminya sendiri, juga Jaya Laksana kekasih masa mudanya yang ternyata adalah Kakak kandungnya.

Emak Inah dan Ki Silah kemudian menghampiri dan mengajak main bayi itu “Mari sini, ikut Enin! Hehehe”, Mega Sari pun memberikan bayinya untuk digendong oleh Emak Inah. (Enin = Nenek, ibunya Ibu).

Ki Silah tersenyum menatap bayi yang cakap dan suara tangisnya amat keras tersebut, tapi kemudian wajahnya berubah murung, lalu menatap majikannya. “Gusti benar-benar gembira?”

“Kenapa Abah bertanya begitu?”

“Saya melihat Gusti menutup-nutupi sesuatu…” ujar Ki Silah perlahan.

Mega Sari terdiam sejenak seraya menatap wajah putra keduanya tersebut dengan iba, setelah beberapa kali menghela nafas berat barulah ia mengutarakan apa yang ada didalam benaknya. “Terus terang saya takut Abah, saya takut Dharma akan mengalami penderitaan seperti yang selama ini saya tanggung! Saya takut Dharma harus memanggul karma dari semua yang pernah saya lakukan Abah! Dan juga semua perbuatan kakang Dharmadipa!”

Ki Silah menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum lembut. “Tidak Gusti! Alangkah tidak adilnya kalau bayi yang belum pernah melakukan apa-apa, harus menanggung dosa orang tuanya! Tidak Gusti! Percayalah Gusti, bahwa Gusti Allah tidak buta! Ia Maha Mengetahui segalanya!”

“Tapi semua orang akan menuduhnya, bahkan mungkin sampai mengucilkan dia kalau sampai tahu bahwa Dharma adalah putera saya dan Kakang Dharmadipa!” ucap Mega sari dengan suara bergetar. “Pernah terlintas dalam pikiran saya untuk membuangnya, biar ada orang lain yang mengambilnya, dan membesarkannya, sehingga dia bisa terhindar dari nasib buruk yang selalu senantiasa membayangi masa depan kita, Karena tidak ada yang tahu siapa orang tuanya!” ujarnya dengan diriingi isak tangisnya yang mulai pecah.

“Tidak Gusti! Saya dan Emak tidak mau anak ini dibesarkan oleh orang yang tidak kita kenal! Bagaimana mungkin mereka akan menyayangi Dharma kalau mereka tidak menganggap dia sebagai anak kandungnya?!” tandas Ki Silah dengan tegas.

“Benar, kalau Gusti tidak keberatan, biar Dharma Laksana kami yang besarkan berdua!” sambung Emak Inah yang ikut berbicara.

“Abah, Emak! Sebagai seorang ibu sayapun tidak akan rela melepaskan dia! Dia anak saya! Dia permata bagi saya! Tapi apakah hanya untuk kesenangan kita dia dilahirkan? Dan bagaimana dengan masa depannya? Bagaimana kalau pada akhirnya dia tahu siapa saya dan ayahnya?”

“Maaf kalau saya harus mengatakan ini Gusti, tapi itu semua adalah tanggung jawab Gusti sebagai ibunya, sebagai orang tuanya! Alangkah tidak bertanggung jawabnya Gusti kalau dengan semua alasan tersebut, Gusti menyerah untuk mengurus dan mendidik anak ini!” tegas Emak Inah. Air mata Mega Sari pun mulai mengucur, ia menyadari kebenaran ucapan kedua abdinya yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya tersebut, ia pun mengangguk perlahan.

***

Siang itu di rumah Tumenggung Jaya Laksana, Galuh sedang memasak dibantu oleh Sekar dan seorang pembantu tua, sejak kedatangannya ke Surosowan Banten, Galuh dan Sekar menjadi sangat akrab, hingga akhirnya Sekar memutuskan untuk bekerja di rumah Sang Tumenggung yang juga Kakak seperguruannya, Galuh pun setuju karena Sekar menjadi teman mengobrolnya yang baik.

“Bagaimana kehidupan Teteh dan Kakang Tumenggung disini? Saya mendengar banyak kabar miring selama di Mega Mendung karena bagaimanapun Kakang Tumenggung adalah putra sulung mendiang Prabu Kertapati.”

“Meskipun memang saya tidak bisa menampik hal tersebut, tapi kesetiaan Kakang Tumenggung pada Gusti Sultan dan Negeri Banten sangat luar biasa, dan perhatian Gusti Sultan pada Kakang sangat luar biasa. Karena Gusti Sultan itu orangnya adil dan penuh perhatian kepada rakyatnya, terutama kepada abdinya yang setia dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik seperti Kakang Tumenggung itu, Gusti Sultan juga sangat perhatian kepada rakyat kecil, siapapun dia.”

“Almarhum guru juga sangat menghormati Gusti Sultan.” sahut Sekar yang teringat bagaimana Almarhum Gurunya, Kyai Pamenang amat menghormati Sultan Banten.

Saat itu seorang pembantu lainnya menghampiri Sekar setelah sebelumnya mengahturkan sembahnya pada Galuh. “Teteh, Raden Indrapaksi sudah pulang.” bisiknya pada Sekar.

Sontak pipi Sekar merona merah, ya sejak kedatangannya ke Banten, Indrapaksi yang membantu Jaya untuk mengurusi para pengungsi menjadi sangat akrab dengannya, apalagi Sekar melihat bahwa Indrapaksi senang mengobrol dengannya dan terus melakukan pendekatan pada dirinya, maka ia pun mulai jatuh hati pada lurah tantama kepercayaan Jaya Laksana tersebut.

Galuh tersenyum melihat pipi Sekar yang merona merah, ia pun langsung menyenggol bahu Sekar. “Sudah! Tunggu apalagi? Ayo cepat sana, bawakan dia makanan!”

“Tapi saya belum selesai membantu Teteh.” tolak Sekar malu-malu.

“Biar aku dan Bibi yang meneruskan, kamu boleh pergi, asal jangan melakukan hal yang asal-asalan!” canda Galuh sambil tertawa cekikikan menggoda Sekar, akhirnya Sekar pun pergi untuk menemui Indrapaksi dengan wajah yang semakin merona merah..

                                               ***

Di Balai penghadapan agung keraton Pakuan Pajajaran, seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian rakyat biasa tampak duduk bersimpuh, keringat diskujur tubuhnya masih mengalir deras membasahi pakaiannya, nafasnya masih tersenggal-senggal.

Beberapa menit kemudian, datanglah Prabu Suryakencana bersama Patih Waja Kersa, setelah duduk diatas singgasananya, Sang Prabu yang sudah memasuki usia paruh baya ini membuka suara. “Gerangan laporan apa yang hendak engkau sampaikan Ki Martaprana?”

Ki Martaprana yang merupakan mata-mata Pajajaran di Banten menjura hormat terlebih dahulu sebelum menjawab. “Ampun Gusti Prabu, dalam waktu dekat Banten akan menyerbu kemari dengan kekuatan penuh. Mereka dipimpin langsung oleh Sultan Maulana Yusuf, mereka juga akan membawa meriam-meriam raksasanya yang mereka beli dari orang-orang Inggris, menurut yang hamba dengar mereka akan berangkat lusa!”

Ki Patih Waja Kersa terkejut mendengarnya. “Apa?! Celaka! Gusti Prabu, kalau begitu sebaiknya kita segera pindah ke Keraton di Kabuyutan Pandeglang, sebab kekuatan kita saat ini tidak akan sanggup untuk mengahadapi Banten, apalagi pihak Portugis sudah tidak bisa untuk kita mintai bantaunnya lagi, karena terdesak oleh kekuatan Inggris di Malaka!”

Prabu Ragamulya Suryakencana memejamkan matanya sebentar sambil berpikir keras, terdengarlah desahan nafasnya yang berat. “Tidak bisa Kakang Patih, karena waktu yang ditentukan untuk bedol negeri pindah ke Kabuyutan Pandeglang menurut perhitungan dan bisikan Eyang adalah awal bulan depan atau tepatnya pada hari kelima, lagipula keraton di Pandeglang belum selesai dibangun… Jika kita memaksakan untuk pindah sebelum waktunya dan menempati keraton yang belum selesai dibangun, maka bencanalah yang akan kita tuai nantinya!”

Ki Patih Waja Kersa menundukan kepalanya, ia sangat kecewa karena rajanya lebih mempercayai perhitungan dan bisikan ghaib daripada perhitungan taktis dirinya yang didasarkan pada pengalamannya di dunia pemerintahan dan militer. Sang Prabu pun mengeluarkan titahnya. “Perkuat penjagaan di perbatasan, lakukan penjagaan berlipat di Kutaraja, lewat tengah hari tutup gerbang utama kutaraja, jangan biarkan orang-orang yang berlogat bicara Banten memasuki wilayah Pajajaran terutama Kotaraja Pakuan! Apapun yang terjadi, pertahankan negerimu sampai titik darah terakhir!”

Ki Patih dan Ki Martaprana pun pergi, kini tinggalah Sang Prabu merenung sendiri diatas Singgasananya. Ia termanggu-manggu merenungi apa yang sedang dan telah ia lakukan guna menghadapi pihak Banten. “Ragamulya Suryakencana… Jujurkah hatimu bahwa pembangunan keraton di Kabuyutan Pandeglang adalah buah ketakutanmu terhadap Sultan Banten yang sebenarnya masih saudaramu sendiri sebagai sesama keturunan Eyang Sri Baduga Maharaja?

Atau sebenarnya karena kecemasanmu sendiri karena tidak yakin dapat mempertahankan negeri leluhurmu ini? Apakah karena rasa rendah dirimu melihat keberhasilan orang-orang Banten yang begitu pesat dalam membangun negaranya? Atau sebenarnya kamu ketakutan akan ramalan Eyang Sri Baduga Maharaja tentang akan munculnya satu negeri baru yang akan berhasil mengalahkan Pajajaran yang bahkan tidak sanggup dilakukan oleh negara sebesar Majapahit sekalipun? Lalu mengapa engkau terus menunda-nunda keberangkatanmu ke Pandeglang? Apakah karena engkau takut akan bilahi sebab tidak sanggup mempertahankan istana warisan leluhurmu?”

Pada saat didalam hati Sang Prabu terjadi perang bathin demikian, tiba-tiba bumi bergoncang dahsyat! Gempa Bumi melanda seluruh tanah Pasundan! Prabu Suryakencana sempoyongan berusaha untuk meraih pilar keraton untuk berpegangan, keraton Pakuan seakan berderik akan runtuh, kendi-kendi juga berbagai hiasan di Balai Penghadapan Agung jatuh hingga pecah! 

Sang Prabu berusaha untuk menenangkan dirinya, ia berusaha untuk dapat berdiri tegak kemudian kembali duduk dengan tegak diatas singgasananya hingga beberapa saat kemudian gempa bumi itupun berhenti, ia lalu termenung sambil menatap lurus-lurus kedepan seolah hendak meneropong masa depan. “Pertanda apa ini?”

Di Selat Sunda dan lepas pantai Jayakarta, laut bergejolak dengan dahsyatnya, puluhan anak gunung Krakatau tampak bergemuruh serta mengepulkan asapnya, sementara diatas puncak gunung Krakatau tampak asap hitam disertai petir, dan dari dalam lobang kawahnya tampak percikan-percikan bola api. Di lain tempat, di Desa-desa sekitar gunung Galunggung, semua penduduknya tampak berlarian kesana-kemari ketakutan, abu-abu tipis tampak memenuhi udara, sama dengan di Krakatau, diatas puncak gunung tampak asap hitam disertai petir, dan dari dalam lobang kawahnya tampak percikan-percikan bola api. Fenomena alam tersebut merupakan pertanda akan ada satu peristiwa besar yang akan terjadi di Bhumi Pasundan ini.

                                                     ***

Di Kutaraja Surosowan Banten tampak keramaian yang sangat meriah, seluruh rakyat berkumpul di jalan, dari mulai alun-alun sampai ke tapal batas kota, mereka menyemangati para prajurit Banten yang akan berangkat untuk menyerbu Pajajaran, teriakan-teriakan. “Hidup Banten!” serta takbir terus menggema mengiringi kepergian ribuan pasukan Banten.

Di Rumah Tumenggung Jaya Laksana, Indra Paksi yang sudah selesai mengatur barisan persiapan prajurit Katumenggungan Jaya Laksana memberikan laporannya pada Jaya Laksana. “Raden, para prajurit sudah siap untuk berangkat!”

“Bagus!” jawab Jaya, ia lalu melihat kedalam rumahnya kemudian menoleh lagi pada Indrapaksi, ia seolah mengerti dengan maksud hati Indrapaksi. “Kita akan berangkat sebentar lagi, Indra apakah kau ingin berpamitan pada Sekar?”

Indrapaksi menundukan wajahnya karena malu, Jaya tersenyum karena ia tahu perasaan Lurah Tantamanya tersebut, Sang Tumenggung pun menepuk bahu Indra. “Kamu boleh berbicara padanya, aku juga akan berpamitan dulu pada Istriku!” setelah itu Jaya masuk kedalam rumahnya, Indrapaksi pun berjalan ke belakang rumah Jaya.

Jaya masuk kedalam rumahnya menghampiri Galuh yang sedang duduk sambil minum teh, Jaya duduk disebelah istrinya sambil mengelus-elus perut istrinya yang sudah besar itu. “Nyai, aku pergi dulu, kamu berhati-hatilah, dan jangan sampai lupa makan juga kurang tidur, jaga si kecil dalam perutmu ini!”

“Huh aku tidak kamu perhatikan!” rajuk Galuh.

“Hahaha… tentu saja kamu aku perhatikan Nyai. Setiap kali aku pergi, aku selalu teringat padamu, dan aku kangen sekali padamu, rasanya ingin cepat-cepat pulang untuk melihat dan memelukmu… Tapi kali ini akan sangat berbahaya bila aku terus membiarkan perasaan tersebut menguasai diriku, sebab ini adalah pertama kalinya aku ikut berperang.”

Galuh tersenyum manis sambil memeluk suaminya. “Saya mengerti Kakang, saya hanya khawatir pada keselamatanmu, saya hanya ingin mendengar kamu berjanji untuk pulang dalam keadaan selamat!”

“Insyaallah, doakan aku istriku… Oya satu lagi, terus terang aku agak khawatir dengan terror mahluk ghaib yang menjadi sumber malapetaka di Mega Mendung itu, kalau ada apa-apa segera beritahu Nyai Mantili dan gurumu si Dewa Pengemis!”

“Baik Kakang, saya akan mengundang Guru untuk menginap disini… Oya satu hal lagi Kakang, apakah kau merestui hubungan Sekar dengan Indrapaksi? Kelihatannya mereka saling tertarik.”

“Tentu saja aku merestui mereka kalau memang mereka cocok Nyai… Sudah aku berangkat dulu, jaga dirimu baik-baik Nyai!” pungkas Jaya sambil mengecup kening istrinya yang berkulit hitam manis tersebut.

Di halaman belakang rumah Jaya, Indrapaksi nampak sedang berbicara berdua dengan Sekar. “Maaf kalau pernyataan saya menyinggung hatimu Sekar, tapi jujur itulah perasaanku padamu.”

"Tidak apa-apa, saya justru senang dengan kejujuran Raden." jawab si gadis yang bertubuh tinggi semampai tersebut dengan malu-malu. 

“Jawabanmu sungguh melegakan hati saya, meberikan semangat untuk memenangkan perang, untuk bisa kembali menemuimu!”

“Saya akan berdoa untuk keselamatanmu Raden, dan saya akan berdoa untuk kemenangan Banten!”

“Terimakasih…” Indrapaksi lalu mengeluarkan satu kantong kecil berwarna biru dari saku bajunya. “Sekar… Jujur saya masih khawatir akan mahluk halus yang menjadi biang bencana di Mega Mendung karena banyak sekali orang Mega Mendung yang mengungsi kemari, maka ambilah ini, didalamnya berisi jimat yang dapat menangkal mahluk halus, ini warisan dari buyut saya, terimalah!”

Gadis berambut panjang lurus sepunggung, berkulit kuning langsat, dan berparas cantik khas wanita Sunda itu pun menerima kantong kecil berwarna biru tersebut. “Raden pasti akan lebih memerlukan ini, sebab Raden akan melewati wilayah utara Mega Mendung untuk menuju ke perbatasan sebelah selatan wilayah Pajajaran.”

“Saya memiliki ilmu dan mantera-mantera untuk mengusir mahluk halus dari Guru saya di Banten Girang, jadi jimat ini untukmu saja Sekar… Nah saya pergi dulu, aku minta doamu untuk keselamatanku dan untuk kemenangan Banten.” pungkas perwira muda itu sambil melangkah meninggalkan Sekar.