Episode 43 - Awal Baru


Mungkin karena terlalu jauh mencari, kamu tidak sadar kalau sebenarnya apa yang kamu inginkan ada di dalam dirimu sendiri?

—Pandir Barat pada Apit


Sidya membuka dan menutup kepalan tangannya. Begitu terus, membuka, menutup, dan merasai bahwa luka di kedua tangannya telah berangsur-angsur sembuh, tidak lagi kaku dan nyeri setiap digerakkan, berbeda dengan hari-hari kemarin. Lecet-lecet di lengan, sobek parah di tinju kanan. Luka-luka ini didapatnya dalam waktu dekat memang, tapi rasa-rasanya itu terjadi ratusan tahun lalu kala semuanya masih baik-baik saja. Saat ia masih putri kaisar yang baik, yang patuh, yang tak mengenal apa itu kembara beserta seluruh kerepotannya.

Semua telah berubah, semenjak Sin Gong menjadi semacam tempat ia melantik diri sendiri menjadi seorang yang –tak diragukan lagi sekarang— bernama Apashu sampai ke tulang. Apashu yang sejati, Apashu yang sebenar-benarnya. Nama itu telah meresap, menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya, seperti meresapnya nama Arpashu pada paman Sidra yang kini tak ia ketahui keberadaannya di mana. Walaupun paman Sidra namanya Arpashu, bedanya tak begitu jauh dengan Apashu, sebab memang pembeda diantara keduanya hanya dari jenis kelamin penyandang nama itu. Apashu bagi perempuan, Arpashu bagi laki-laki.

Dan keseluruhan tangannya tak akan pernah sama lagi, seperti hidup baru yang ia mulai. Sidya telah menanggalkan buku dan pena, hidup keras mengolah fisik kini menjadi kesehariannya. Buku-buku jari yang semula halus namun lembek kini keras, membentuk kapal hitam-hitam yang walau agak sakit jika ditekan, ia tahu akan mati rasa suatu saat nanti, seperti kulit jari para pemusik yang menebal karena sering memetik sitar.

Sidya memang menantikan saat-saat dirinya sendiri akan menjadi lebih kuat sehingga bisa jaga diri sendiri. Apit dan Pisun terbayang olehnya, punggung mereka berdua berada didepannya karena memang mereka—untuk sekarang—jauh lebih pandai daripada Sidya. Kalau tempuhan masa muda mereka bertiga dalam melatih diri diibaratkan lomba lari, dua remaja itu sudah mengambil langkah cepat, bersaing-saingan untuk jadi yang pertama sementara Sidya masih melamun di tempat.

Mau bagaimana lagi, Apit adalah putra seorang pendekar ternama, yang berarti dia sudah belajar sejak belia. Si Janda Merah, yang walaupun telah wafat, namanya masih mashyur di telinga rakyat sebagai seorang pendekar yang keras namun berbudi baik. Sebelum beliau berpulang, jelas beliau membocorkan ilmu-ilmunya sampai ke akar untuk membekali putranya menghadapi dunia, yang mungkin Hikram sendiri sebagai muridnya pun tak mendapatkan hal yang sama. Saking masih harum namanya, para pencoleng rampok dan sejenisnya yang berkelas rendah pasti langsung menyingkir kalau tahu Apit itu putra siapa. Kalau orang-orang jahat itu masih bersikeras, Apit tinggal menyebutkan nama kakek dan neneknya yang melegenda biar mereka lari terkencing-kencing.

Sementara Pisun, tak bisa dibantah bahwa ia sebenarnya sangat pandai, berkebalikan dengan kesan yang selalu ditimbulkannya. Guru Pisun yang berasal dari negeri jauh itu dari luarnya saja sudah kelihatan kalau dia itu bukan orang yang mudah menerima seorang murid. Bakat Pisun pun tinggi, ia bisa mempraktikkan apa yang Sidya ajarkan hanya dengan selang beberapa hari. Belum lagi kalau menyebutkan ilmu peringan tubuhnya yang sudah meraih tahap hampir sempurna, yang mungkin saja Pisun malah berani mengadu ilmu peringan tubuhnya dengan mereka-mereka yang sudah tua dan punya nama.

Tapi, Sidya tak melulu pesimis, sebab dia juga sudah punya bekal. Ia memutuskan bahwa langkah pertamanya dimulai sekarang. Ia sudah punya guru, betapapun orangnya aneh dan sering menenggak minuman keras sesering orang biasa menenggak air putih, dia tetap seorang pendekar, dan dengan begitu pula memiliki keahlian yang dapat diturunkan. Garis darahnya pun bukan modal yang remeh, seperti yang telah ia buktikan dengan cara mengalirkan hawa murni semudah Rayana Sang Dewi Air mengalirkan sungai, meski Sidya ketahui bahwa ia masih belum dapat mengendalikan alirannya dengan kendali penuh.

 Dan ia terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan, akan seperti apa pertemuannya dengan Apit dan Pisun dalam jarak tahun-tahun ke depan.

Hikram yang duduk tepat disebelah Sidya jelas tak tahu pikiran yang berkecamuk di kepala anak didiknya itu. Selain karena kurang memperhatikan, ia juga sedang sibuk minum terus-terusan dari kantung kulitnya, beberapa tetes mengalir di sudut bibir sebelum diusapnya tergesa dengan lengan baju.

Sidya mau memberitahunya tentang noda yang masih menempel di sisi bibir, tapi tak jadi. Mereka harus diam, sebab mereka berdua sedang menyaksikan sebuah pawai dari tempat yang tersembunyi.

Sidya dan Hikram menjadi salah satu dari banyaknya saksi yang menonton iring-iringan prajurit Sanfeilong. Para prajurit itu merayakan kemenangan, seolah andil mereka sangat besar dalam menumpas kejahatan, seolah-olah mereka tidak datang terlambat, justru menampakkan batang hidung saat kemelut sudah usai. Para bandit yang telah dirantai tangan, kaki, serta lehernya diarak dalam barisan yang memilukan seperti calon budak saja, padahal perbudakan di Nagart sudah dilarang sejak lama. Tak sampai di situ, pedang serta golok yang telah dipatahkan digantungkan di leher mereka sebagai penghinaan, sementara bendera ular yang membelit angka tiga belas meliuk bangga di mana-mana, baik di puncak tombak maupun di pedati tempat jarahan perang ditumpuk agar dapat disaksikan oleh seluruh rakyat. Kotak-kotak berisi emas padat, perhiasan dari batu mulia, pelindung kepala khas prajurit perbatasan menjadi isi dari pedati yang ditarik oleh lembu-lembu muda milik kotaraja Sanfeilong.

Sidya tahu kalau Jisan berbohong, buktinya ada di arak-arakan ini. Tak ada hakim yang adil untuk para bandit, yang ada hanya penderitaan panjang di penjara bagi yang beruntung, atau tiang gantungan bagi yang tidak. Betapapun ia merasa kasihan, tak ada yang bisa ia lakukan.

Setelah turun bukit, garnisun tidak langsung kembali ke Sanfeilong seperti para Legiun Asing yang sudah lelah serta muak menangani para begundal itu. Tidak, mereka malah berkeliling ke seluruh penjuru desa serta pemukiman sembari menarik para bandit yang telah terkalahkan dalam unjuk pamer kekuatan. Ada hal baik dan buruk dalam ini, di satu sisi para rakyat akan tahu bahwa ancaman telah dibasmi, sehingga bisa kembali pulang ke rumah mereka dan menjalani hidup seperti sediakala. Di sisi lain, para rakyat menganggap prajurit Sanfeilong yang telah berjasa, bukannya para legiun, yang kini pulang tanpa ada yang memberi ucapan selamat.

Hikram dan Sidya bersembunyi di balik sebuah rumah, yang walau agak jauh, masih dapat mengamati semua dengan baik.

Dari sini, mereka berdua mampu menyaksikan kekaguman dalam wajah orang-orang, para penghuni desa yang menyaksikan prajurit-prajurit ini melintas, kebanggaan di wajah para serdadu juga nampak di wajah mereka. Beberapa bersorak setiap kali seorang prajurit Sanfeilong melambai, seolah mereka sedang disapa Sang Panglima Perkutut sendiri, sementara anak-anak kecil berteriak kesenangan saat salah satu petinggi menaburkan koin-koin perunggu hasil pampasan untuk kemudian bergegas saling desak, ingin jadi yang pertama untuk meraup uang dari tanah. Para prajurit bersiul nakal pada para perawan desa, yang tersipu-sipu disambut sorak tawa dari pemuda-pemuda kampung.

“Menggelikan,” Hikram menggeram saat seorang anak muda lewat dalam barisan yang terus bergerak seperti ular besar itu, kuda tunggangannya yang gagah dikawal dalam iring-iringan. Hikram mengenalnya sebagai pangeran yang akan mewarisi kotaraja Sanfeilong kelak, rupanya ditugasi ayahnya sebagai pemimpin garnisun untuk memenangi pertempuran Sin Gong. Wajah mudanya amat tampan, lemparan senyum dari gadis-gadis setempat dibalasnya dengan tawa penuh kharisma, sementara pakaian pelindungnya bersih dan berkilat, membuat silau siapapun yang memandangnya. Jelas, pakaian itu tak pernah kena noda dari darah apalagi nanah yang berceceran. Nyata dan jelas ditangannya sebuah belati tumpul yang sebelumnya digenggam oleh mendiang Bandit Emas dipamerkan. Artefak kuno itu diangkat agar dapat dipersaksikan seluruh khalayak, bukannya dikembalikan ke makam seperti yang seharusnya dilakukan oleh siapapun yang tak mau kena kutuk oleh arwah Panglima Perkutut. Hikram berani bertaruh ia juga memakai pakaian pelindung yang baru dibeli, fungsinya bukan sebagai penjaga agar badan tidak kena serang, melainkan hanya sebagai alat untuk pamer pada orang. Bahkan Hikram ragu apakah ia pernah turun di garis depan pertarungan dan menyaksikan usus seseorang terburai dari perut, pemandangan mengerikan yang jelas tak akan bisa disaksikan dari posisi para komandan di belakang yang nyaman dan tanpa ancaman.

Hikram melirik muridnya, yang memandang kosong pada si pangeran, tangan Sidya membuka dan menutup sambil lalu. Muridnya berubah pendiam sekarang, tidak cerewet. Padahal biasanya ia akan menuntut pelajaran-pelajaran baru, meminta jurus andalan berulang-ulang sampai Hikram capek mendengarnya, atau protes jika merasa bosan sebab diam di suatu tempat terlalu lama.

“Memikirkan sesuatu? Kau jarang membuka mulut akhir-akhir ini.” Hikram tertawa singkat. “kecuali untuk makan. Kalau soal makan, baru mulutmu terbuka lebar.”

“Aku telah sadar kalau kita mengumpamakan diri sebagai burung layang-layang, Guru. Bukannya burung beo.” Sidya menghela napas dalam-dalam, tangannya berhenti dalam gerak mengepal. Sembari mengawasi tangannya yang tak halus lagi, ia berkata pelan, “Semuanya berubah terlalu cepat.”

“Untukmu, mungkin. Bagiku masih sama saja, tapi aku senang sekarang kau paham. Tidak semuanya segemerlap yang ditunjukkan oleh orang-orang istana.” Hikram diam, memikirkan betapa itu sangat membingungkan bagi seorang anak kecil sepertinya. Betapapun ia lebih serius dan lebih dewasa dari bocah seumurannya, semua yang telah dilaluinya akan meninggalkan bekas yang terlalu dalam hingga tak bisa dihapus. Bayangkan, duniamu berubah jadi jungkir-balik seperti ini. Jika Sidya di istana, ia mungkin akan mengucapkan selamat juga pada prajurit Sanfeilong, tak mengetahui bahwa para legiun yang sebenarnya berdarah dan patah dalam susah-payah menuntaskan teror para bandit. Kenyataan memang seperti obat bagi orang sakit: pahit, namun tetap harus ditelan kalau ingin jadi sehat dan waras.

Dia merasa tak perlu menyaksikan ini lebih jauh lagi. Iring-iringan yang memamerkan kejayaan ini membuatnya muak, jadi Hikram meluruskan diri.

“Kita pergi.”

Sidya hanya mengangguk sembari mengiringi Hikram yang sudah terlebih dahulu melangkah. Mereka terus berjalan, menghindari rumah-rumah serta jalanan untuk kemudian menembus pepohonan di bagian desa yang paling pinggir, yang dekat dengan sebuah ladang. Mereka masih diam, Sidya tak berminat untuk bicara bahkan hanya untuk berkomentar tentang pegalnya kaki atau apa, dan mendadak si pesilat tua berharap bahwa ia tak pernah membawa Sidya ke bukit Sin Gong. Anak itu berubah jauh, jauh dari sebelumnya. Bukan mustahil bahwa dalam lelapnya pun Sidya masih menyaksikan mayat-mayat yang bertebaran dalam mimpi-mimpi buruk yang hanya berakhir saat pagi menjelang.

Apa mau dikata, semua sudah terlambat, walau tidak sepenuhnya. Hikram ingin menebus kesalahan dengan cara menghiburnya.

Melatihnya. Itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang untuk meredam kesedihannya. Dan sesuatu itu harus baru, sebab Hikram punya firasat buruk kalau ia akan menangis keras-keras kalau disuruh untuk melatih kuda-kuda lagi. Selain bosan, pikirannya jelas akan melayang ke bukit Sin Gong sekali lagi sebab memang melatih tumpuan kaki adalah latihan yang monoton.

“Mau kuajarkan sesuatu, Bangsawan Cilik?”

Sidya menghela napas untuk kedua kalinya, walau kali ini alasannya tak begitu berat. Pasalnya, Hikram kembali memanggilnya sebagai ‘Bangsawan Cilik’ lagi, bukannya ‘Nak’ seperti hari-hari lalu. “Mengajarkan apa, Guru?”

“Mengajarkan sesuatu yang berguna.”

Dagu Sidya jadi agak terangkat karena itu, memandangi gurunya, sementara Hikram malah mengalihkan pandang kemana saja asal tidak ke arahnya.

“Bukannya setiap pengajaran itu berguna? Maksudnya apa?”

“Maksudnya adalah jika kita terlibat sesuatu yang mirip dengan Sin Gong lagi, kau akan dapat memanfaatkan tenagamu—hawa murnimu— yang besar, bukannya diam dan merepotkan orang lain.” Hikram melemaskan pundaknya sendiri, “Jujur saja, hantaman dari pisau Jendral Perkutut merupakan hantaman yang amat keras. Aku tak akan bohong, Bangsawan Cilik. Usiaku sudah tua, pegal lebih cepat datang daripada sebelumnya. Tak mustahil kalau suatu saat aku tak bisa menjagamu dari belati atau senjata lain dari orang-orang yang menghadang kita. Maka, kau harus bisa menjaga diri sendiri.”

Sidya mengangguk-angguk cepat, dan kali ini mengijinkan diri untuk sedikit tersenyum. Ia bahkan tak mengindahkan kata-kata Hikram yang terkesan meremehkan dirinya, berhubung Sidya sendiri mengakui bahwa ia tak begitu membantu, malahan ia sempat jadi tawanan kalau saja keberuntungan tidak datang.

Hikram berhenti, memeriksa sekitar untuk memastikan bahwa tak ada orang, lalu memerintahkan Sidya membuka telapak tangannya ke udara, mirip dengan orang yang sedang berdoa.

“Ingat Lautan Energi yang dibicarakan oleh tua keparat Diogene?”

Mulut Sidya mengerucut.

“Ingat, Guru.”

“Pernah melihat Lautan itu sebelumnya?”

Sidya berpikir keras. Samar-samar ia tahu adanya deburan ombak, tapi selebihnya tak ada gambaran lain.

“Belum perna—”

“Sebenarnya sudah. Tapi kau tak ingat.”

Kening Sidya mengerut. “Guru tahu dari mana?”

“Aku tahu kalau kau menguarkan hawa panas hingga membuat Tara kelabakan, dan aku tahu kalau kau berhasil melawan hawa dingin dari si Kembara Pencatat, yang tak mungkin dilakukan kecuali oleh mereka yang memiliki hawa murni tingkat tinggi.” Hikram mengelus jenggotnya, “Tapi ada satu hal yang kurang darimu soal ini, yaitu kendali. Kesan yang timbul dari cerita pertemuanmu dengan Diogene adalah saat kau ingin mendatangkan aliran kecil, yang datang malah air bah. Kau tak bisa terus begitu. Pasti sudah pernah kau dengar tentang para pendekar yang terlalu nekat hingga hawa murninya kosong, dan aku tak mau muridku bernasib sama dengan mereka-mereka itu.”

Lalu Hikram berkacak pinggang seolah baru saja melakukan sebuah hal yang patut dipuji, kepalanya mendongak tinggi. “Beruntung bagimu, gurumu yang hebat ini pernah baca sesuatu di istana Giok. Di perpustakaan. Perpustakaan lingkar dalam, tepatnya.”

Dahi Sidya berkerut lebih dalam lagi. “Bukannya selain keluarga kaisar masuk perpustakaan tersebut dilarang, ya?”

Hikram terbatuk dibuat-buat, dan masih mempertahankan posisinya yang terlalu berlagak. “Aku dulu Jawara Prathama, Bangsawan Cilik. Aku lebih dari sekali menyaksikan Singgasana Giok, lebih dari sekali berlatih di Lapang Seroja. Jadi kalau aku bisa masuk, kuanggap berarti aku diijinkan, walau saat itu gelap dan tak ada orang. Buktinya tak ada yang menghalangiku, jadinya ya … aku masuk dan membaca.”

Mungkin maksudnya menyelinap dan mencuri-curi kesempatan untuk menyerap ilmu dari karya-karya leluhurnya secara sembunyi-sembunyi, tapi kali ini Sidya merasa beruntung juga. Kalau Hikram tak masuk ke perpustakaan khusus keluarga istana itu, ia mungkin tak bisa memberikan petunjuk sekarang. “Dan guru kebetulan menemukan sesuatu tentang tentang Lautan ini?”

“Ya, padahal aku memburu topik lain yang jauh lebih penting ... tapi ternyata ada gunanya juga. kitab karangan Kaisar Ling Chi yang kubaca itu mengatakan kalau ingatan tentang Lautan akan terhapus kalau kau mengunjunginya secara tidak sengaja. Kaisar Pertama sendiri mengatakan kalau ia tidak senang orang yang malas dan senang berpangku tangan, bukan? Mungkin karena itulah kamu harus berusaha untuk membuat diri diakui olehnya, dan dengan begitu mendapat jalan mulus ke Lautan.”

“Dan Guru akan membantuku mendapatkan pengakuan?”

“Ya,” Hikram mengangkat tangannya sendiri, dan Sidya merasakan hawa murni merebak dari telapaknya, serta hawa lain yang asing, yang entah kapan juga pernah dirasakannya mengalir dari diri Hikram. “aku akan membantumu. Persiapkan diri, Bangsawan Cilik. Ini tak akan mudah.” Hikram memiringkan kepala, “juga … kalau kau ketemu mereka, ingat-ingat pertanyaan ini. Tanyakan siapakah yang berjaga kemarin hari waktu aku berada di Sin Gong. Tanyakan hal itu, ya?”

Sidya mengangguk, baru menimbang-nimbang apa harus menanyakan juga pada siapakah kiranya pertanyaan aneh itu ditujukan, tapi ia belum sempat membuka mulut saat gurunya terlanjur menangkupkan tangan ke telapaknya yang telah membuka.

Begitu keduanya bertemu, bukannya suara tepukan yang datang. Malahan, bunyi yang muncul terdengar seperti sebuah tetabuhan yang amat keras bagi Sidya. Keras, seperti guntur yang datang tiba-tiba.

Dan saat kedua telapak bertemu pula, semuanya jadi gelap.

--