Episode 94 - Each Meeting Will Have Goodbye



Brukkk!

Seseorang masuk ke Bar secara tergesa-gesa, ia membawa setumpukan koran di tangannya.

“Headline penting! Headline penting! Aloysius Vayne. Di eksekusi!”

“Haaa...!!?” seketika orang-orang disana terkejut dan berbondong-bondong mengambil koran itu.

“Aloysius Vayne?” Alzen memikirkan kepala sambil bertanya-tanya.

Brughhh!

Orang besar di sebelah Alzen langsung menggebrak meja makan bundar sekali hingga gelas dan piring-piring di satu meja itu bergetar semua.

Ia bernama Rex, pria dengan tubuh kekar, berambut jabrik merah tua, penuh luka sayat di beberapa bagian tubuhnya dan juga wajahnya. Ia memakai mantel musim dingin dengan dual axe sebagai senjatanya.

“...!?” Alzen terkejut hingga ia bulu kuduknya naik.

Sementara Leena yang lagi memasukkan makanan ke dalam mulutnya seketika terjatuh karena goncangan itu. Lantas membuat Leena jengkel.

“Tidak mungkin, Vayne yang sangat kuat itu...” kata pria besar berambut merah itu. “Minggir-minggir biar kulihat.” 

“Ini berita bukan hoax Rex, betulan, ini berita betulan.” kata si pengantar koran itu.

Rex segera membaca halaman terdepan koran itu dan mendapati foto Vayne di eksekusi di tengah-tengah kota Arcales dan Raja Arcales saat ini, Anzel berada di sampingnya. Di foto itu Vayne terlihat menunduk tak berdaya. Dan foto yang ditampilkan selanjutnya adalah foot Vayne yang kepalanya sudah terpenggal.

“Ti-tidak mungkin.” Rex berjalan kembali ke tempat duduknya sambil menangis. “Vayne...” Rex bercucuran air mata dan melihat gambar di koran itu dengan gemetar dan sedih.

“Aloysius Vayne?” pikir Alzen. “Uhm... pak, apa orang itu ada hubungannya dengan Aloysius Aldridge?”

“Tentu saja,” balas Rex. “Dia kakaknya Aloysius Aldridge.”

“Haa? Aldridge punya kakak?” Alzen langsung nyeletuk.

“Huh? Kau siapa? Kau mengenal Aldridge?” tanya Rex

“Kami pernah tinggal bersama setahun lalu. Tapi... aku tak tahu apa yang dilakukan setelah kami berpisah.”

“Pada awal tahun ini, Quistra sedang mengalami masalah pelik dengan Guild Criminal yang terstruktur bernama White Bear. Mereka Guild Kriminal yang cukup menyusahkan negara ini bertahun-tahun lamanya. Sampai Ratu Selena mengeluarkan kebijakan untuk memberi hadiah yang besar pada kepala anggota-anggota Guild Kriminal ini. Guildku dan tiga party lainnya, yaitu party Vayne, party Aldridge dan party mantan anak buahku, Rava. ikut andil dalam pemusnahan Guild White Bear ini.”

“...” Alzen mengangguk-angguk mendengarkan.

“Setelah ketua mereka, Karolina Stral berhasil di tangkap. Kami dijuluki sang pahlawan. Tapi setelah itu mereka semua pergi meninggalkan Quistra. Rava memutuskan pergi meninggalkan Azuria dan menuju North Azuria. Aldridge bilang ia akan ke Griffinia dan setelah kembali pada bulan ketiga tahun ini,”

“Bulan ketiga? Itu sewaktu kami melakukan turnamen.” pikir Alzen.

“Ia bilang, ia sedang membangun Guildnya sendiri dan sedang merekrut orang.” 

“Aldridge? Membangun Guild?” pikir Alzen sambil menaikkan alisnya.

Sementara Leena masih terus makan tanpa merespon mereka, sekalipun tetap mendengarkan pembicaraan mereka.

“Terakhir Vayne. Setelah kami menang, tak ada kabar tentangnya. Ia bahkan tak kembali setelah kami menang melawan White Bear. Party mereka mengorbankan diri untuk memberi kami waktu melarikan diri dari musuh yang sangat-sangat kuat. Kami bertemu Raja Arcales itu sendiri dan bodyguard besarnya. Seorang pria kekar berambut merah, di hadapannya kami semua bukan apa-apa.”  

“...” Alzen yang mendengarkan ikut sedih.

“Lama tak mendengar kabarnya dan berita yang sampai adalah berita kematiannya.” Rex menggebrak mejanya lagi.

Leena sekali lagi gagal memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan malah mengenai bajunya.

“Kenapa kau begitu ceroboh Vayne. Kenapa kau tertangkap oleh negara musuh. Aku benar-benar tak bisa percaya, kalau dia sudah tiada.” kata Rex sambil kesal menahan air matanya.

“Ketua Rex, tolong sabar. Ada kemungkinan ini berita hoax.” Kata salah satu anak buahnya.

“Kita harus menerimanya, fotonya sudah jelas sekali. Vayne telah di eksekusi oleh Arcales Empire.”

***

Setelah makan di salah satu bar di Holdrya Town.

“Puah, memang secara kuliner Quistra bukan tempat yang favorit.” Keluh Leena. “Meski aku mengerti alasannya tapi tetap saja, tidak terlalu kenyang dan tidak terlalu enak, tapi harganya mahal bukan main. Ngomong-ngomong tadi, kita habis berapa Alzen?”

“4200 Rez, mahal banget makanannya.” Alzen menangisinya.

“Tapi kotanya, benar-benar indah sih.” Leena melihat sekelilingnya, kota putih dengan salju yang tak henti-henti turun. 

“Oke selanjutnya biar kuhubungi Kak Neil.” Alzen mengenakan cincin CC dan menyuplai aura pada benda itu. “Halo kak Neil.”

“Haloo... kalian sudah dimana?”

“Kami sudah di Quistra kak,”

“Ohh kalian sudah sampai? Di bagian mananya kalian sekarang? Biar aku saja yang kesana menemui kalian.”

“Kami ada di Holdrya, di bar bernama...”

“Ohh oke-oke tunggu disana ya, biar aku jemput kalian.”

Dan pembicaraan terputus.

“Kita disuruh menunggu disini.” kata Alzen.

“Kau membicarakan apa barusan dengan pria besar itu?” tanya Leena penasaran. 

“Aku cukup kaget kalau Aldridge ternyata punya kakak.” Alzen duduk di depan bar tersebut sambil melihat ke langit. “Sewaktu pertama kali mengenalnya, ia orang yang cukup menderita trauma hebat. Ia salah satu orang Dalemantia yang berhasil selamat dari perang besar itu.”

“Alzen, aku ingin kasihan padanya,” balas Leena yang ikut duduk di sampingnya. “Tapi di sisi lain. Ia adalah bagian dari negara tirani Dalemantia Empire. Yang melangsungkan perang selama 13 tahun pada kami semua, negara-negara di sekitarnya.”

“Tapi dosa negaranya jangan di tumpahkan semua pada dirinya. Ia seumuranku dan tak tahu apa-apa soal perang itu.” balas Alzen.

“Namun tetap saja,” balas Leena. “Kami masih membenci Dalemantia sampai sekarang, dan segala kerusakan yang dibuatnya. Akan tetapi setelah jatuh, malah ada negara lain yang lebih parah lagi bangkit dari tanahnya.”

“Apa benar begitu Leena?” balas Alzen. “Aku tak melihat kamu membenci orang-orang Dalemantia yang ada di New Dalemantia. Mereka orang-orang Dalemantia juga kan.”

“...” Leena tak bisa menjawabnya. “Entahlah Alzen, aku sendiri kebingungan membedakannya.”

Brmm... Brmm... Brmm...

Neil turun dari mobilnya.

“Hei, hei, hei... kalian lagi asik duduk berduaan nih ya.” Neil menggoda mereka sambil tepuk tangan dengan lambat. “Terima kasih sudah berkunjung ke Quistra.” Kata Neil sambil mengulurkan tangannya. “Ayo main ke rumahku.”

***

“Heee!? Kak Neil punya kendaraan besi ini!?” Alzen terkagum-kagum. “Kursinya empuk,” Alzen melompat-lompat dengan bokongnya di kursi mobil Neil. “Dan sangat cepat.”

“Jangan bilang kendaraan besi dong, benda ini punya nama.” Balas Neil sambil menyetir. “Mobil, nama kendaraan ini adalah mobil.”

“Mobil? Kendaraan besi beroda empat dan mengeluarkan asap ini mobil namanya. Woahh...” Kepala Alzen keluar jendela dan melihat langsung desain mobilnya dari dekat. 

“Hei, hei, jangan keluarkan kepalamu begitu, bahaya, bahaya.” Neil memperingatkan.

“Ahh maaf, maaf.” Alzen kembali duduk tenang di kursi belakang bersama Leena.

“Leena, kau terlihat biasa saja. Kau sudah sering naik mobil ya?”

“Iya beberapa kali.” kata Leena sambil menatap keluar jendela dengan tenang. Meski dalam hatinya ia berkata. “Ke-kendaraan ini sangat keren.” dengan wajah yang memerah.

***

“Selamat datang ke rumahku.” Neil mempersilahkan mereka masuk ke rumahnya yang lebih seperti Laboratorium dimana banyak peralatan elektronik tersedia disana. “Kalian pasti banyak menemui sesuatu yang kalian baru pertama kali lihat.”

“Woah... benda kota bersinar ini apa namanya? Tombolnya juga banyak sekali.” kata Alzen di hadapan sebuah komputer dan keyboard. 

“Haha... kotak bersinar.” Neil tertawa. “Uhm itu kami sebut komputer. Mesin itu bisa membantu kami dalam banyak hal. Di Azuria hanya Quistra yang punya teknologi ini.”

“Tapi, darimana kalian dapatkan semua ini?” tanya Leena.

“Hehe... ayah ibuku seorang Researcher di North Azuria, kalian tahu. Marchestast, Marchestast Empire.” kata Neil dengan bangga. “Kedua orang tuaku adalah perwakilan peneliti Quistra yang belajar dan mengembangkan teknologi bersama dengan negara masa depan itu.”

“Ohh negara itu ya... mereka pernah ke Vheins kan?” balas Alzen.

“Huh... kalian berpakaian putih seperti tamu-tamu dari Marchestast waktu itu.” balas Leena sambil melihat sekitarnya.

“Aku mau bilang ini padamu sewaktu selesai ujian dungeon. Tapi baru sekarang kita bisa ketemu dan ngobrol langsung.” Kata Neil dengan kepala tertunduk. “Begini, Crystal Communicator akhirnya disetujui oleh pak Vlau untuk diteliti lebih lanjut di Marchestast. Haknya sudah diberikan.”

“Heh!? Bagus dong!” balas Alzen. 

“Dan setelah lulus Tingkat 2, aku akan pindah ke sana. Orang tuaku juga, teman-teman dan kamu... ya apa boleh buat. Perpisahan harus terjadi.”

“Kau direkrut mereka?” balas Leena.

Neil mengangguk dua kali secara pelan-pelan sambil tersenyum dengan mata menoleh ke bawah. “Begitulah.”

“Tidak apa, suatu hari kita pasti akan bertemu lagi.” Balas Alzen sambil menepuk pundak Neil untuk menguatkannya.

“Aku harap sih begitu, biarpun sedih harus berpisah dengan teman-teman. Tapi kalau ini harga yang harus dibayar untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia aku harus mau bayar harga.”

“Kesejahteraan umat manusia?” Leena terheran-heran sambil menunjuk CCnya. “Dari cincin ini?”

Neil mengangguk. ”Hmmp! Iya!’ jawabnya dengan semangat. 

“Kok bisa?” tanya Leena.

“Bayangkan,” Neil menjelaskan dengan sungguh-sungguh. “Yang punya kemampuan bicara jarak jauh hanya pengguna aura yang punya Cincin Crystal Communicator ini. Dan lagi distribusinya hanya orang-orang yang pernah ada koneksi dengan Vheins atau negara Greenhill saja karena penyebarannya dibatasi. Benda ini diluar Vheins hanya tersedia di pasar gelap.”

“Woh, sehebat itukah benda ini?” Alzen melihat kembali cincinnya.

“Dan dengan teknologi yang dimiliki Marchestast, kami semua punya visi untuk membuat benda ini bisa digunakan semua orang. Dan cara manusia berinteraksi seketika akan berubah jika alat itu tercipta. Semua orang bisa bicara jarak jauh secara instan dan informasi akan berpindah secara cepat. Kehidupan semua orang akan betul-betul berubahkan?”

“Jika benda itu ada, akan hebat sekali!” Alzen terkagum-kagum.

“Tak pernah terpikirkan olehku. Selama ini CC adalah benda yang umum dan biasa saja. Tapi...”

“Memang kekhawatiran pak Vlau cukup berasalan, kalau kemampuan bicara jarak ini digunakan untuk perang dan sangat mungkin untuk itu, maka hal-hal buruk akan terjadi. Tapi... efek positifnya juga banyak, dengan kemampuan ini dimiliki semua orang. Bayangkan ekonomi akan bergerak jauh lebih cepat dari hari ini dan, dan... dan...” Neil bicara dengan penuh gairah.

“Tunggu, tunggu, tunggu kakak bicara terlalu cepat.” potong Alzen.

“Hahaha, maaf-maaf. Untuk urusan begini aku memang terlalu bersemangat.” balas Neil. “Oke segitu dulu saja deh, kalian kan disini mau senang-senang. Kalian jalan-jalan dulu saja disini. Kalau sudah puas, silahkan kembali kemari dan anggap saja seperti rumah kalian sendiri. Dah...”

“Baik terima kasih kak.” balas Alzen, lalu ia langsung bertanya pada Leena. “Leena, langsung pergi atau istirahat dulu?”

“Terserah.” Balas Leena.

“Baik kalau begitu, kita tunggu disini dulu.” Alzen langsung duduk di sofa. “Puah... nyaman.”

“Alzen kita disini kan tidak lama-lama, ayo pergi. Sayang waktunya.”

“Ta-tadi katanya terserah.” 

***

Mereka berdua berkencan di negeri musim dingin abadi ini, menikmati berbagai tempat yang tersedia disini. 

“Alzen, ayo buat boneka salju. Aku belum pernah melakukannya.”

“Ayo kita bikin.” Alzen memungut salju di tanah tempat ia berpijak. “Brr... dingin. Rasa salju ini seperti apa ya.” Alzen menjulurkan lidah dan mencicipinya. “Tidak ada rasanya...”

Leena segera mengepal bola salju dan melemparnya ke wajah Alzen yang tidak siap.

“Aduh...” wajah Alzen 

“Hahaha!” Leena tertawa keras sekali. Lalu melemparnya lagi. 

Dan Alzen menangkisnya dengan sihir api.

“Yah curang, kamu kok pakai sihir.”

“Kita kan memang penyihir.” balas Alzen dengan tersenyum. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke atas, mengontrol salju-salju di sekitarnya. Lalu menembak secara bertubi-tubi salju-salju ke arah Leena.

Leena seketika membungkuk bersiap menarik pedangnya lalu menebas satu persatu bola-bola saju yang datang padanya.

“Pada akhirnya,” kata Leena dengan tersenyum dan berpose keren dengan pedangnya. “Memang selalu seperti ini.”

“Aduh dasar pendatang,” kata orang-orang lokal yang melihatnya. “Kami padahal sangat membenci salju-salju ini tapi mereka menemukan sukacita seperti anak kecil dari salju-salju sialan itu.”

“Biarkan saja, mereka kan masih anak-anak.” komentar orang lokal lainnya.

“Haha, haha!’

“Hahahaha!”

Mereka berdua tertawa dengan sukacita dengan apa yang ada di Quistra.

Sehabis bermain mereka pergi ke banyak tempat di sekitar sana. Sampai jam 5 sore, wajah mereka berdua dipenuhi sukacita. Mereka akhirnya duduk berdua di luar tembok kota Northern Kingdom yang terbungkus es, dimana di hadapan mereka ada hamparan padang salju yang luas. Putih semuanya.

“Hari ini sangat menyenangkan ya Alzen.”

“Hmmph!” Alzen mengangguk setuju.

“Hah, aturan yang tak adil ya... kenapa hanya hari yang menyenangkan yang cepat berlalu.”

“Ya! Aku ingin hari ini berlangsung lebih lama.”

“Tapi harapan kita itu tidak akan terjadi, waktu akan terus berjalan.” Leena menunduk. “Dan setiap pertemuan selalu ada perpisahan.”

“Meski sakit, tapi aku harus sudah siap menerimanya.” balas Alzen sambil memandang ke depan.

“Sesiap apapun perpisahan akan selalu terasa sakit Alzen.” balas Leena dengan menunduk dan memeluk dengkulnya. “Seperti kak Neil, aku juga punya sesuatu yang harus disampaikan padamu tapi aku tunda sangat lama.”

“Huh? Tentang apa?” tanya Alzen.

‘Kau mungkin tak tahu, pedangku patah sewaktu melawan Yana. Pedang itu sekarang disimpan di kotak kaca dan tidak aku gunakan lagi.” Kata Leena dengan posisi yang sama. “Di pertengahan tahun ini, sewaktu kamu baru sembuh dari kebutaanmu. Kakakku pulang sambil membawa pedang baru. Pedang yang aku gunakan saat ini. Papa juga datang hari itu.”

“Lalu selagi tidak ada pedang kamu pakai?”

“Pedang logam biasa, dan sangat sulit mengimbangi kecepatan dan suntikan Aura elemen cahaya milikku sehingga pedangnya tidak terlalu kuat.” balas Leena. “Aku senang sekali dapat pedang ini, terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tapi pesan yang mereka sampaikan berikutnya dan berat untuk memberitahumu.”

“Sampaikan saja.” balas Alzen dengan tenang. 

“...” Leena terdiam.

“Tapi kalau kamu tak mau... yasudah...”

“Aku harus memberitahumu, kalau aku direkrut guild yang dimasuki papa.”

“Itu kabar baik dong!”

“Guildnya ada di North Azuria, jadi setelah lulus kami semua akan pindah kesana, menjadi sama seperti kakak dan papa. Aku akan dilatih menjadi Royal Guard kerajaan. Dan karena di Azuria hanya tinggal mama seorang, mama juga akan ikut kesana dan kami sekeluarga akan pindah ke North Azuria. Yang berarti kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi.”

“Dengan kata lain... kita putus...” sambung Alzen dengan kepala tertunduk.

‘Hmmp...” Leena mengangguk.

“Tapi, apakah harus diputuskan sekarang, apa tidak bisa lebih lagi?” balas Alzen.

“...” Leena tidak menjawab.

“Kalau begitu begini saja, di hari kelulusan kita sudah sepakat akan berpisah. Kita masih punya waktu dua bulan lagi untuk melanjutkan hubungan kita.”

“Tapi pada akhirnya tetap sama saja.” Balas Leena.

“Tidak apa, dua bulan terakhir ini kita akan nikmati bersama-sama dan jadikan itu kenangan terbaik kita.”

“Dan setelah semua itu, kita berpisah. Sama saja.”

“Tidak apa-apa, aku harus siap menerimanya.” Balas Alzen dengan antusias. “Dan jika kita dipertemukan kembali. Entah 2 tahun entah 5 tahun entah 10 tahun lagi. Kita pasti sudah akan menjadi...”

“Baik Alzen.” Leena tersenyum dengan posisi memeluk bahunya. “2 bulan lagi ya...”

***