Episode 321 - Tumbal



“Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara!”

Sebuah formasi segel berbentuk limas dengan dasar persegi membangun wujud. Merangkai dengan sangat cepat. Dimulai dari bagian paling dasar, yang mana terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar, lalu membangun naik ke tiga pelataran melingkar. Pada permukaan dinding-dindingnya, dihiasi pula dengan panel-panel ukiran dan arca yang teramat rinci. 

Jika diperhatikan dengan lebih seksama, maka arca-arca tersebut mewakili tokoh mulia yang sedang duduk bersila di dalam posisi teratai sempurna. Terakhir, adalah sebuah stupa utama sebagai yang terbesar dan terletak di tengah dan paling atas, sekaligus memahkotai struktur bangunan.

Bangunan setengah transparan ini sesungguhnya merupakan monumen yang berperan untuk mewakili alam semesta, serta dibangun sebagai tempat suci. Ia juga berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju kebijaksanaan melalui pencerahan. 

Di Kamulan Bhumisambhara, manusia dibekali pengetahuan akan Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah pelepasan perkara duniawi), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Sungguh mencerminkan sebuah monumen nan agung. Kendatipun demikian, Kamulan Bhumisambhara yang saat ini sedang mengemuka merupakan semacam replika yang tersusun dari formasi segel semi transparan.

Bangunan Kamulan Bhumisambhara yang asli, pada kenyataannya telah lama hancur berkeping menjadi puing-puing nan melayang tinggi pada lapisan langit di atas Ibukota Minangga Tamwan. Sebagai tambahan keterangan, ukuran formasi segel yang sedang dirapal saat ini adalah sama persis sebagaimana aslinya. 

“Guru Wira…,” seorang gadis belia terlihat cemas, bahkan sedang mengatup telinga dengan kedua belah tangan sembari memejamkan mata. Sulit baginya untuk menolak keberadaan aura nan teramat kelam yang menyelimuti tempat di mana mereka berada. Napas terasa sesak, jantung berdegup kencang dan sekujur tubuh dibuat lemas. Ia berjongkok dan berlindung di balik tubuh seorang lelaki dewasa yang disapa sebagai guru. 

Hanya setelah formasi segel nan megah rampung dirapal, barulah gadis belia tersebut terbebas dari keadaan nan mencekam. Namun demikian, suasana hati Lamalera masih gundah gulana adanya. Mendongak ke atas, ia menyaksikan puluhan, bahkan mungkin ratusan, bola-bola api yang mendarat pada permukaan formasi segel nan perkasa. Suara berdentum sambung-menyambung, untungnya tak satu pun bola api yang dapat menerobos. 

“Janganlah khawatir…,” Balaputera Ragrawira meyakinkan. Kendatipun demikian, sekujur tubuh lelaki dewasa itu bermandi peluh, bahkan tiada sempat baginya menyeka bulir-bulir sebesar jagung yang membasah di dahi.

Ayahanda dari Lintang Tenggara dan Bintang Tenggara itu kemudian melangkah maju. Tak terlalu jauh, ia berhenti dan menghela napas panjang. Gelagat tubuhnya mencerminkan kesiagaan. “Kita sedikit terlambat… akan tetapi masih tersedia cukup waktu untuk mencegah…”

“Mencegah…” 

Belum tuntas kata-kata keluar dari mulut Lamalera, Balaputera Ragrawira telah melesat pergi meninggalkan gadis belia itu seorang diri. Berdiri mengamati betapa menakjubkannya formasi segel nan melindungi, benak Lamalera dipenuhi dengan seribu satu pertanyaan. 


===


“Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara!”

Berbeda dengan formasi sebelumnya di tempat lain, ukuran yang kali ini dirapal adalah lebih kecil dari yang asli. Paling-paling, ukurannya hanya seperempat sahaja, yaitu dengan luas dasar sekira tiga puluh meter persegi serta tinggi sekira sepuluh meter. Kendatipun demikian, keampuhannya menyajikan pertahanan tak dapat dipandang sebelah mata. 

“Bupati Selatan Pulau Lima Dendam…” Kweiya Siangga menegur. “Apa yang engkau lakukan…?”

Sehari sebelumnya, Lintang Tenggara dengan hati gusar dipaksa meninggalkan wilayah Pulau Pusat Durjana. Akan tetapi, sebagaimana yang dapat diperkirakan oleh segenap ahli baca sekalian, tokoh yang satu ini tiada mudah menerima perintah. Walhasil, sesampainya di Pulau Lima Dendam, ia tiada kembali ke Griya Bupati tempat tinggalnya. Sebaliknya, Lintang Tenggara malah bergegas menyambangi Graha Gubernur. Dengan memanfaatkan prasasti lorong dimensi di Graha Gubernur, tokoh panutan ini pun mendatangi Istana Iblis di Pulau Pusat Durjana. 

Berbekal formasi Segel Kamar Kosong ciptaannya, kemudian Lintang Tenggara menyembunyikan diri sambil menonton pertempuran antara Balaputera Tarukma dan Kweiya Siangga di tengah Pulau Pusat Durjana. Tentu ia tak bodoh apalagi ceroboh, kegiatan menonton dilakukan dari jarak yang sangat aman.

Bagi Lintang Tenggara, kenekatan Balaputera Tarukma menantang Ketua Partai Iblis, sedikit banyak dikarenakan dirinya memberikan dukungan. Akan tetapi, tiada pernah ia duga bahwa Balaputera Tarukma akan bertindak demikian gegabah dengan datang menantang tanpa memiliki informasi yang memadai tentang jati diri lawan. 

“Balaputera… Lintara…” Kata-kata yang keluar dari mulut Balaputera Tarukma keluar sepatah-sepatah. Lelaki setengah baya itu tergeletak tiada berdaya di dekat Lintang Tenggara. Walau dalam keadaan lemah, rupanya ia masih sadarkan diri. 

Lintang Tenggara mengabaikan Balaputera Tarukma. Ia mendongak ke atas. Kedua matanya menyaksikan bongkahan logam yang berbentuk kerucut besar dan panjang, berwarna merah membara karena panas, masih melayang di hadapan sang Ketua Partai Iblis. Tinggal diimbuhkan unsur kesaktian angin, maka senjata tersebut akan menderu secepat peluru. Kendatipun demikian, Lintang Tenggara yakin dan percaya bahwa formasi segel pertahanan yang saat ini ia bangun, masih cukup kuat untuk menantang gempuran. 

“Yang Mulia Ketua Partai Iblis…” Lintang Tenggara membungkukkan tubuh. “Mohon ampun beribu ampun atas kelancangan hamba.” 

“Kau melanggar perintahku…” 

“Yang Mulia Ketua Partai Iblis, terpaksa hamba melanggar perintah karena Balaputera Tarukma ini tak lain adalah anggota keluarga hamba dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang...”

“Apakah kau berpikir dapat mencegah aku mengambil nyawanya…? Sampai berapa lama kau kira formasi segel itu dapat terus bertahan…? Atas dasar apa aku patut percaya bahwa tindakanmu semata untuk menyelamatkan anggota keluarga…?” 

Lintang Tenggara terdiam. Meskipun formasi segel pertahanan milik Kadatuan Kesembilan demikian digdaya, waktu adalah sebuah kelemahan yang tiada dapat dipungkiri. Sudah barang tentu ia dapat menakar diri sendiri, karena paling lama formasi segel ini hanya akan bertahan selama setengah jam. Terkait alasan menyelamatkan Balaputera Tarukma, Lintang Tenggara tak dapat berkilah.  

“Ketika menantang aku, ia sepantasnya sudah mempersiapkan diri. Nyawa adalah taruhan di dalam pertarungan ini,” tutur Kweiya Siangga menikmati kecemasan lawan bicaranya. 

“Yang Mulia Ketua Partai Iblis, hamba memohon sebuah pengecualian…”

“Pengecualian…?” Sorot mata Kweiya Siangga menatap demikian tajam. Logam berbentuk kerucut dan besar, yang panas membara, bergetar. Hanya dengan menjentikkan jemari, maka senjata tersebut akan melesat mencabut nyawa. 

Detak jantung lintang Tenggara berdegup kencang tatkala tatapan mata mereka saling bertemu. Spontan ia menundukkan kepala. 

“Jangan mentang-mentang engkau cucu dari Balaputera Dharanindra, sehingga dapat berbuat sesuka hati,” lanjut Kweiya Sianggara. “Berani pula engkau memasang Kamulan Bhumisambhara yang setengah jadi di hadapanku…”

Mendengar nama Balaputera Dharanindra, Balaputera Tarukma kembali memuntahkan darah. Tokoh yang ia tikam dari belakang ratusan tahun silam, dapat berpeluang menjadi juru selamat bagi dirinya di hari nahas ini. Sungguh sebuah ironi. 

Di lain sisi, Lintang Tenggara menyipitkan mata. Tak sulit menebak bahwa tokoh sekelas Ketua Partai Iblis mengenal Balaputera Dharanindra, akan tetapi beliau juga mengenal formasi Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara. Apakah artinya ini…? Apa yang dapat diperbuat dalam keadaan ini…? 

Waktu terus berjalan. Formasi segel pertahanan tak akan bertahan lama lagi. Lintang Tenggara memutar otak. 

“Pergilah dari tempat ini…” Balaputera Tarukma berbisik pelan. Dada naik-turun dan napas tersengal, tokoh tersebut seperti sudah pasrah menjemput ajal. 

Lintang Tenggara menekuk sebelah lutut. Ia memeriksa keadaan tubuh Balaputera Tarukma. Cedera dalam, tulang dada retak dan banyak kehilangan darah, namun nyawanya masih dapat diselematkan bilamana pertolongan diberikan cepat. Tentunya, dengan catatan bahwa sang Ketua Partai Iblis melepaskan mereka. 

Waktu terus bergulir, dan setengah jam berlangsung cepat. Formasi Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara mulai memudar. Sementara itu, melipat lengan di depan dada, Kweiya Siangga demikian sabar mengikuti alur pemainan ini. 

“Menyingkirlah wahai penentang, maka aku tak akan mencabut nyawa engkau hari ini.” Sang Ketua Partai Iblis berujar penuh kepastian. “Akan tetapi, bagi sang penantang, maka nyawanya dipastikan milikku!”

Lintang Tenggara sepenuhnya menyadari bahwa Balaputera Tarukma adalah sang penantang, dan dirinya sendiri adalah si penentang. Tetiba lelaki dewasa muda itu bangkit berdiri, ia lantas berujar lantang, “Hamba akan menukar satu nyawa dengan nyawa yang lain!” 

“Nyawa siapakah kiranya yang bernilai setimpal dengan nyawa sang penantang…?”

Lintang Tenggara memantapkan hati. “Yang Mulia Ketua Partai Iblis, Kweiya Siangga sang Raja Angkara Durjana…”

“Raja… Angkara…!?” Balaputera Tarukma sekali lagi terbatuk memuntahkan darah. Tiada pernah ia menyangka akan menantang salah satu Raja Angkara! Bagaimana mungkin dirinya dapat mengalahkan tokoh nan demikian digdaya!? Selama lebih kurang lima ratus tahun, dirinya berada pada tahapan awal Kasta Bumi, yaitu Tamtama. Akan tetapi, bila membahas tentang para Raja Angkara, maka mereka merupakan tokoh-tokoh yang teramat digdaya. Sepantasnya para Raja Angkara sudah berada pada tingkatan Kasta Bumi yang lebih tinggi lagi, kemungkinan besar Bintara, atau bahkan Perwira! 

Balaputera Tarukma kini menyadari sebuah kenyataan nan teramat pahit. Bahwasanya sedari awal pertarungan perebutan tampuk pimpinan Partai Iblis, Kweiya Siangga kemungkinan besar tiada bertarung dengan mengerahkan segenap kemampuan! 

Keterkejutan merasuk sampai ke relung terdalam hati sanubari lelaki setengah baya itu. Akibat syok, serta tubuh yang telah lemah, Balaputera Tarukma lalu… tergolek pingsan! 

“Hamba akan menukarkan nyawa Balaputera Tarukma dengan satu nyawa yang setimpal,” ujar Lintang Tenggara. “Berikan waktu, maka hamba akan menumbalkan putri dari… Tirta Kahyangan!” (1)


===


“Kau tunggu di sini!” Perintah terdengar tegas, tiada memberi ruang untuk pembangkangan. 

Embun Kahyangan mengangguk pelan. Kedua matanya mengantar kepergian seorang perempuan dewasa yang melangkah ke dalam liang sebuah goa. Di sekitar mulut goa, gadis belia itu baru merasakan keletihan yang mendera. Setelah melewati perjalanan nan panjang dan teramat berat, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Ia lalu mencari tempat yang cukup nyaman, untuk menyandarkan tubuh.

Dalam keadaan lelah, Embun Kahyangan memerhatikan wilayah sekeliling. Bentang pegunungan yang memanjang sejauh mata memandang. Suasana terasa sejuk, lebih sejuk daripada wilayah Padepokan Kabut. Di mana pun tempat ini terletak, sungguh ia sudah tak memiliki cukup tenaga untuk sekedar mempertanyakan.


“Mayang Tenggara…” 

Dari kedalaman liang goa, suara menyapa terdengar serak dan rendah. Namun, di saat yang bersamaan, terbersit nada kurang senang. Mirip dengan keadaan bilamana seseorang yang hendak beristirahat tidur siang, namun tetiba ada yang tamu yang datang mengganggu. 

Kendatipun demikian, tokoh yang disapa meneruskan langkah. 

Batu kuarsa memberi penyinaran temaram. Tak lama, istri dari Balaputera Ragrawira telah mencapai ujung goa. Buntu. Adalah bebatuan dan tanah keras yang menghentikan langkahnya. Tak ada perubahan dari riak wajah perempuan dewasa itu. Ia lalu menempelkan telapak tangan demi menebar mata hati, sembari mengalirkan sedikit tenaga dalam. 

“Swush!” 

Telapak tangan Mayang Tenggara tetiba menembus masuk. Bebatuan keras telah berubah layaknya tipuan mata sahaja. Ia kemudian melangkah maju, dan serta merta menerobos masuk tanpa hambatan. 

Suasana di balik sana bertolak belakang dengan liang goa di wilayah pegunungan tinggi. Mentari bersinar cerah terhadap wilayah yang ditumbuhi pepohonan subur. Pemandangan yang tersaji demikian teduh. Kehangatan menenteramkan. 

Samar di kejauhan, terdengar suara air terjun berukuran sedang. Airnya menciptakan aliran sungai kecil. Gemericik air sungai terdengar seolah membelai ringan jiwa dan raga. Pada bantarannya, rerumputan menghijau, bebunga bermekaran indah berwarna-warni. (2)

“Keciprak!” tetiba aliran air sungai berdecur bergelombang.

Sebaliknya, pandangan mata Mayang Tenggara tertuju kepada seorang perempuan dewasa di bawah pohon nan rindang. Pakaian yang ia kenakan hanyalah lembar-lembar kain sederhana. Lusuh adanya, penuh dengan jahitan tambalan yang berperan mempertahankan fungsi kain. Dari kondisinya, seolah pakaian tersebut tiada pernah diganti selama puluhan tahun. Adalah dia yang tadi melempar sebongkah batu ke aliran sungai. 

“Lama tiada bersua…,” sapa Mayang Tenggara sembari melangkah mendekat. 

“Aku sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan kesaktian. Tidak seperti engkau, aku bersungguh-sungguh memegang sumpahku.” 

Mayang Tenggara tersenyum sinis. Di hadapan lawan bicaranya, ia kemudian berujar, “Airlangga Ananta menetap di Kota Baya-Sura, mendirikan perguruan, dan kini menyebut diri sebagai Resi Gentayu. Cecep bergelar Raja Bangkong IV sebagai penguasa tunggal di Kerajaan Siluman Gunung Perahu.”

Perempuan dewasa kembali menatap sungai kecil. Tangannya meraih batu dan kembali melempar, menimbulkan suara bergemericik yang mengubah ketenangan aliran air. Raut wajahnya jelas mencerminkan ketakpedulian. 

“Elang Wuruk masih hidup…,” lanjut Mayang Tenggara. 

Perempuan dewasa berpakaian lusuh di bawah pohon rindang, sontak menoleh kepada Mayang Tenggara. Dahinya berkerut dan mulutnya sedikit membuka, namun tiada sepatah kata pun yang keluar. Ia melempar pandang, lagi-lagi menatap air. Sepertinya, terdapat kenangan masa lalu yang membekas terlalu dalam terhadap aliran sungai itu. 

“Jadi, apa alasan kedatanganmu…?”

“Sungguh aku menghargai keputusan engkau meninggalkan dunia persilatan dan kesaktian. Atas keputusan itu pula, aku hendak meminta bantuan…”

“Bantuan apa…? Tak usah berbasa-basi…”

“Aku hendak menitipkan seseorang…”

“Akh!” 

“Apa maksudmu ‘akh’…?”

“Kau hendak aku menjaga gadis belia itu…?”

Mayang Tenggara mengerutkan dahi, “Kau tahu tentangnya…?” 

“Aku meninggalkan dunia persilatan dan kesaktian, bukan berarti aku kehilangan kemampuan…”

“Oh…”

“Sekali pandang saja, siapa pun dapat menyimpulkan jati dirinya. Putri dari Tirta Kahyangan, bukan? Siapa lagi yang memiliki sepasang payudara dengan ukuran yang berlebihan…” Perempuan dewasa berpakaian lusuh di bawah pohon rindang, menoleh sembari mengangkat sebelah alis. 

“Kemungkinan selama ini suamiku menyembunyikan keberadaannya…”

“Oh… Wira? Dengan segala rahasia yang ia pendam. Apakah gerangan khabarnya…?”

“Aku tak tahu pasti. Tapi sepertinya dia masih bernapas.” Mayang Tenggara seolah acuh tak acuh atas keadaan suaminya sendiri. 

“Mengapakah gadis itu disembunyikan…?”

“Sepertinya suamiku berupaya melindungi dia dari pihak-pihak yang hendak menangkapnya. Dan saat ini dia juga sedang mencari Kitab Kahyangan… Kurasa kedua hal ini bersangkutan.” 

“Kitab Kahyangan…” Perempuan dewasa berpakaian lusuh di bawah pohon rindang kembali menatap Mayang Tenggara. Kini, raut wajahnya menyibak kecemasan. 

“Sebaiknya gadis ini, dan kitab itu tiada ditemukan…,” lanjut Mayang Tenggara. “Aku tak dapat membayangkan ancaman dari jurus yang memberikan kemampuan menembus dimensi waktu.”

“Mayang Tenggara…” Perempuan dewasa berpakaian lusuh di bawah pohon rindang terlihat kesal. “Setelah sekian lama, engkau datang hanya untuk menyeret aku kembali ke dunia yang telah lama kutinggalkan…” 


Catatan:

(1) Episode 160

(2) Episode 126