Episode 85 - Wangsit Dharmadipa (1)



Kyai Pamenang diam tidak bergerak dan kembali menutup matanya, ia mengerahkan ilmunya yang paling hebat yakni “Ajian Wahyu Cahaya”, seluruh tubuhnya memancarkan cahaya emas yang amat menyilaukan dan membuat para dedemit itu kepanasan!

Dengan komando Dharmadipa, para lelembut segera menerjang Kyai Pamenang, namun mereka tak sanggup untuk menyentuh Kyai Pamenang, tangan mereka melepuh oleh cahaya emas yang keluar dari seluru tubuh Sang Kyai, mata mereka mengucurkan darah akibat silaunya cahaya emas yang keluar dari tubuh Kyai tua tersebut. Para dedemit itu menjerit-jerit kesakitan dengan suara yang amat menyeramkan!

Dharmadipa sendiri pun tak sanggup untuk menyentuh tubuh Sang Kyai, maka ia pun menggunakan cara lain. Di lain pihak Kyai Pamenang yang sedang berkonsentrasi penuh sambil memanjatkan doa kepada Yang Maha Esa Tiba-tiba terganggu pikirannya.

Tiba-tiba di benaknya muncul pemandangan Padepokan Sirna Raga yang asri, wajah-wajah para murid-muridnya terlintas di benaknya satu-persatu, kenang-kenangan di masa mudanya terlintas, bagaimana ia yang dulunya seorang bajak laut bertemu dengan Sunan Gunung Jati yang kemudian gurunya, pertemuannya dengan Nyai Mantili yang juga murid Sunan Gunung Jati, bagaimana ia menemukan dan memungut Dharmadipa, bagaimana ia pertama kali melihat Mega Sari, terakhir terlintaslah wajah orang-orang yang sangat ia sayangi yakni, Nyai Mantili, Dharmadipa, dan Jaya Laksana yang dahulu bernama Jaka Lelana.

Dari semua kenangan yang terlintas didalam benaknya itu, munculah satu penyesalan yang teramat sangat, ia sangat menyesal telah menerima Mega Sari menjadi muridnya di padepokan Sirna Raga padahal ia tahu bahwa wanita itu mempunyai watak yang sangat jahat! Dan hal itu pula yang membuat pertemuan antara Dharmadipa dengan Mega Sari terjadi, bagaimana tergila-gilanya Dharmadipa pada Mega Sari sehingga berani melawan dirinya dan akhirnya kabur dari padepokan tanpa mengindahkan pesan dan peringatannya. Bagaimana Dharmadipa berubah setelah menjadi suami Mega Sari menjadi manusia yang sangat kejam dan banyak membunuh manusia yang tidak bersalah, sampai akhirnya ia mendengar Dharmadipa telah mati. Sungguh Mega Sari adalah umber malapetaka bagi dirinya dan negeri ini.

Perasaan menyesalnya muncul menjadi-jadi dan semakin membumbumg tinggi ketika ia menyalahkan dirinya sendiri karena merasa semua nasib yang menimpa Dharmadipa adalah akibat perbuatannya. Dendam kepada Mega Sari pun langsung timbul dan membakar nuraninya.

Hal inilah yang memperlemah ajian Wahyu Cahayanya dan malah memperkuat para marakhyangan lawannya tersebut. Cahaya dari sekujur tubuhnya mulai meredup dan tidak semenyilaukan serta sepanas tadi, maka Dharmadipa dan pasukan lelembutnya berhasil menembus cahaya itu, tangan perkasa Dharmadipa langsung mencengkram kepala Sang Kyai.

Dharmadipa pun menyedot seluruh tenaga dalam serta sari pati kehidupan Kyai Pamenang, makin lama Sang Kyai pun makin lemas, akhirnya ia pun tewas dengan posisi masih bersikap bersemedi, seluruh tubuhnya menciut, hanya tertinggal tulang dan kulit tipis pelapis tulang akibat seluruh sari pati kehidupannya disedot oleh Dharmadipa!

***

Di Bukit Tagok Apu padepokan Sirna Raga, tasbih yang sedang dipakai Nyai Mantili untuk wirid tiba-tiba terputus, di benaknya tiba-tiba berkelebat sosok suaminya, Kyai Pamenang. “Kakang? Duh Gusti… akhirnya kita memang ditakdirkan untuk berpisah, Inalillahi Wainalillahi Rojiun, semoga arwahmu tenang dan diterima disisinya…” bisiknya sambil berurai air mata.

Saat itu datanglah seorang muridnya yang bernama Sekar dengan tergopoh-gopoh. “Guru, ada rombongan dari Rajamandala yang dipimpin oleh Ki Pranajaya, mereka meminta agar diizinkan menginap disini semalam ini karena Kutaraja Rajamandala akan segera hancur lebur oleh satu bencana yang maha dahsyat! Esok pagi mereka akan pergi ke Banten.”

Nyai Mantili mengangguk-ngangguk perlahan setelah berusaha tegar menahan gelora kesedihan di hatinya. “Terimalah mereka Sekar, dan besok kita juga akan ikut mereka mengungsi ke Banten untuk menemui kakakmu, Raden Jaya Laksana!”

“Kita ikut mengungsi?” lalu bagaimana dengan padepokan ini?” Bagaimana dengan Kyai Guru?” tanya Sekar yang terkejut dan keheranan pada keputusan gurunya tersebut.

“Kita tutup padepokan ini, kalau Gusti Allah mengizinkan kita akan bisa membukanya kembali suatu saat nanti… dan mengenai Kyai Guru… Ia sudah meninggal dunia...” jelas Nyai Mantili dengan suara bergetar.

“Inalillahi wainalillahi rojiun…” gumam Sekar, dan saking terkejutnya ia sampai jatuh terduduk lemas.

***

LANGIT di atas Rajamandala gelap tidak berbintang. Angin dari selatan, jauh dari arah laut bertiup kencang. Cabang pepohonan bergoyang, ranting berderak dan dedaunan bergesekan mengeluarkan suara gemerisik berkepanjangan. Sementara itu di keraton Rajamandala yang kini hanya dihuni oleh Ki Balangnipa bersama istrinya Nyai Sokawati. Nyai Sokawati Nampak sedang memegang sapu lidi dan untaian kalung bawang putih, sedangkan Ki Balangnipa sedang duduk bertafakur. Hujan yang mulai turun agak lebat tidak mereka perdulikan.

“Duh Gusti, apakah apakah kebathilan pada akhirnya yang akan menang di bumi Mega Mendung ini? Hamba tidak mengerti kehendakMU ya Allah… Hamba tidak mengerti rahasiaMU… Terus terang iman hamba menjadi goyah, hamba merasa doa-doa hamba padamu sama sekali tidak kau dengar Gusti…” kesah Ki Balangnipa dalam hatinya.

Ki Balangnipa lalu membuka matanya, dengan sayu ia menatap ke wuwungan istana di mana diletakkan Kereta Kencana Putih yang diatas atapnya ditancap oleh Tombak Pusaka Kyai Jagatru, ia menghela nafas. “Kesaktian seluruh pusaka Mega Mendung ternyata tidak mampu menolak bencana yang datang. Insan hanya bisa berusaha. Yang Maha Kuasa yang jadi penentu…”

Tiba-tiba ada belasan bola api berwarna-warni menyambar kereta kencana tersebut disertai gelegar laksana suara petir. Kereta Kencana Putih dan Tombak Pusaka hancur berkeping-keping. Meninggalkan kepulan asap putih dan merah di udara. Sepasang mata tua Ki Balangnipa tampak berkaca-kaca melihat hal tersebut, sementara suara gemuruh air tanda banjir besar sudah semakin dekat.

Tepat tengah malam, tiba-tiba langit diatas keraton berputar-putar dan membelah, satu lobang raksasa tampak merekah membuka lebar memuntahkan puluhan petir besar yang meledak dahsyat sampai-sampai menggetarkan bumi Rajamandala! Puluhan petir-petir itu menyambar seluruh benda pusaka Keraton termasuk Gong Kyai Bentar, seluruh benda pusaka Keraton itupun hancur menjadi abu berwarna hitam meninggalkan kepulan asap berwarna hitam. 

Banjir besar aliran sungai Citarum yang airnya berubah menjadi berwarna merah mencapai kotaraja seiring dengan semakin derasnya angin badai panas yang bergantian dengan angin badai dingin yang menebarkan aroma kembang tujuh rupa, tanah kuburan, dan bangkai busuk yang sangat menusuk hidung. Gejolak derasnya air bah berwarna merah tidak berkurang, malah semakin dahsyat ketika mendekati Kutaraja Rajamandala yang sudah pasti akan mendatangkan bencana mengenaskan.

Ratusan rumah hancur dihanyutkan. Ratusan pohon bertumbangan. Seluruh bangunan istana roboh. Ke mana mata memandang yang terlihat hanya air berwarna merah setinggi pohon pisang, apungan mayat orang-orang yang tidak mampu menyelamatkan diri serta bangkai binatang. Bau bangkai busuk menghampar di mana-mana.

Dalam keadaan seperti itu dari delapan arah di kejauhan terdengar suara cuitan parau burung sirit uncuing, cuitan burung gagak, ringkikan kuda seperti yang sedang marah, serta lolongan srigala seperti saling bersahut-sahutan. Alunan gamelan yang membawakan irama mengerikan yang membuat bulu roma berdiri pun mengalun menggema. Ki Balangnipa dan istrinya Nyai Sokawati tewas diterjang banjir tersebut, berakhirlah riwayat negeri Mega Mendung beserta sesepuhnya yang terakhir pada hari ulang tahunnya, saat usianya yang tepat mencapai seratus tahun! Mega Mendung Sirna Ilang Kertaning Bhumi! 

***

Pada malam yang sama menjelang dini hari di sebuah gubug ditengah hutan kaki gunung Masigit, Mega Sari sedang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan anak keduanya, Emak Inah Nampak terus menyemangati Mega Sari sambil mengelap keringatnya yang bercucuran dengan derasnya. “Abah! Cepat ambilkan air Abah!” perintah Emak Inah.

“Saya tidak mengerti apa yang harus saya lakukan! Saya tidak pernah melihat wanita melahirkan!” sahut Ki Silah yang datang dengan tergopoh-gopoh, tentu saja ia tidak mengerti apa-apa karena ia dan Emak Inah tidak pernah diberi keturunan.

“Sudah! Cepat ambil saja airnya!” bentak emak Inah.

“Baik! Baik!” Ki Silah pun langsung berlari keluar untuk mengambil air bersih.

“Emak! Saya sudah tidak tahan lagi! Emak…” rintih Mega Sari dan tiba-tiba ia jatuh pingsan!

“Gusti?! Gusti?!” jerit emak Inah sambil berusaha membangunkan Mega Sari, tapi majikannya itu tidak mau bangun juga.

Di sebuah gua yang gelap gulita dan dipenuhi kabut putih, Mega Sari yang mengenakan baju kebaya serba putih terbangun oleh suara Dharmadipa yang memanggil namanya. “Mega Sari… Mega Sari istriku… Mega Sari…”

“Kakang Dharmadipa? Dimana Kakang?” Tanya Mega Sari sambil celingukan melihat kesana kemari.

“Kemarilah istriku… Ikuti pelita yang menuntunmu!” jawab suara ghaib Dharmadipa, Mega Sari melihat satu pelita kecil berwarna putih yang bergerak ke arah selatan, ia pun mengikuti pelita itu menembus kegelapan dan pekatnya kabut putih di goa tersebut.

Di tengah goa itu terdapat barisan obor-obor yang menerangi bagian dalam goa tersebut, ditengahnya terdapat sebuah altar. Diatas altar tersebut Mega Sari melihat Dharmadipa telanjang bulat dalam keadaan terpasung, seluruh tubuhnya terluka parah seperti bekas disiksa habis-habisan. Dari seluruh lukanya keluar darah dan nanah, dari kemaluannya mengalir nanah yang bercampur dengan darah yang berbu amt busuk! Namun berbeda dengan mayat Dharmadipa yang kini dikuasai oleh Jin Bagaspati bersama lelembut lainnya, seluruh kulit Dharmadipa tidak pucat pasi seperti kapas, matanya tidak merah seperti darah, dan tubuhnya hangat tidak dingin seperti es.

Mega Sari tercengang melihat keadaan suaminya yang tersiksa sedemikian rupa, dia langsung berlari sambil menangis hebat. “Kakang! Siapa yang melakukan ini pada Kakang?!”

“Jangan Nyai! Jangan sentuh aku! Alam kita sudah berbeda, kau bisa terseret ikut masuk ke alamku!” cegah Dharmadipa.

“Siapa yang merantai dan menyiksamu seperti ini Kakang?”

“Kamu Nyai! Kamu sudah menahan jasad wadagku!”

“Itu sebab saya masih membutuhkanmu Kakang… Saya membutuhkan seorang pelindung!” 

Dharmadipa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah yang penuh penyesalan. “Kamu keliru Nyai! Jangankan untuk melindungimu, Bahkan aku sudah tidak mampu lagi melindungi nasibku! Karena di hadapan Sang Maha Pengadil, aku adalah seorang terdakwa! Aku harus menanggung semua akibat dari perbuatanku semasa masih hidup di alam dunia… Kini aku baru menyadari bahwa semua yang aku lakukan semasa hidup adalah salah, dan semua yang diajarkan oleh Guru serta yang dikatakan oleh Yayi Jaya Laksana adalah benar!”

Namun Mega Sari seolah tidak mau mengerti dengan ucapan suaminya tersebut, ia malah memasang wajah sayu dan terus merengek. “Kenapa Kakang tidak mau merasuk masuk kedalam jasad Kakang sendiri sewaktu saya membaca mantera yang saya dapat dari hasil Perjanjian Wasiat Iblis saya Kakang? Saya kangen padamu!”

“Tidak mungkin roh orang yang sudah mati bisa dipanggil Nyai! Apalagi masuk ke jasadnya sendiri! Kalau itu bisa dilakukan, artinya orang tidak akan bisa mati! Setiap mati akan kembali lagi ke jasadnya, lalu kembali hidup! Seperti Rahwana dalam kisah pewayangan Ramayana… Nyai, carilah kembali jasadku! Kuburkan dia dengan layak! Supaya terbebas dari perbuatan kaum denawa yang menggunakan tubuhku!”

Mega Sari menghela nafas berat. “Maafkan Kakang, jasad Kakang dibawa kabur oleh Jin Bagaspati dan denawa yang lain…”

“Maka satu-satunya cara adalah menghancurkan tubuh itu Nyai! Kamu masih ingat dengan pasak emas yang kutanam di belakang rumah kita? Pergilah ke Keraton Mega Mendung, ambilah pasak emas itu, dan gunakan pasak emas itu untuk mencabut susuk azimat yang ditanam ayah kandungku di kepala kemaluanku!”

“Namun dimana tepatnya azimat itu ditanam pada kemaluanmu Kakang? Kamu belum pernah memberi tahu saya secara jelas.” tanya Mega Sari dengan ragu sambil bergidik ngeri ketika ia memperhatikan kemaluan Dharmadipa yang terus menerus mengalirkan nanah bercampur darah busuk tersebut. Ia memang mengetahui bahwa Dharmadipa memiliki azimat berupa susuk yang ditanam pada kemaluannya dari gurunya Nyai Lakbok, namun ia ia tidak tahu dimana letak pastinya, di bagian mana pada kemaluan suaminya susuk tersebut ditanam.

“Kamu lihat nanah dan darah yang terus mengucur dari kemaluanku ini Nyai? Disitulah tempat azimat yang ditanam oleh ayahku berada. Sobek tonjolan yang ada di kemaluanku, dan ambil jarum emas yang ditanam ayahku!” jelas Dharmadipa sambil menunjukan lubang sebesar paku di kemaluannya yang terus mengucurkan nanah dan darah busuk dengan gerakan kepalanya.

Mega Sari mengangguk-ngangguk, ia teringat pada saat ia dan suaminya tersebut melakukan hubungan suami-istri dulu. Ia merasa memang ada sedikit keganjilan pada kemaluan milik suaminya tersebut, ia merasa ada tonjolan kecil di bagian kepala kemaluan milik suaminya yang sekarang merupakan lubang luka yang mengucurkan nanah serta darah yang teramat busuk. 

Dahulu ia sangat ingin bertanya kepada suaminya perihal keganjilan tersebut, namun karena hal tersebut ia rasa tidak menganggu hubungan suami-istri mereka, ditambah Dharmadipa sangat piawai juga perkasa dalam berhubungan intim, maka ia tidak mempermasalahkannya.

Tiba-tiba angin yang sangat dingin bertiup dengan sangat kencang, satu persatu obor yang menerangi tempat itu padam, seluruh goa itu bergoncang hebat! “Nyai kau harus pulang! Pulanglah Nyai! Waktumu sudah dekat.”

“Tidak! Saya masih belum puas bertemu denganmu Kakang! Saya masih kangen!”

“Jangan Nyai! Cepat pulanglah!” tegas Dharmadipa, saat itu seluruh tubuh Dharmadipa menjadi semakin kabur di mata Mega Sari, wanita itu menjerit keras sambil hendak memeluk Dharmadipa, tapi tubuh Dharmadipa keburu menghilang lenyap tak berbekas!

“Kakang?! Kakang Dharmadipa?! Dimana kamu?!” jeritnya sambil kebingungan melihat kesana kemari.

Angin yang sedingin es semakin bertiup kencang, gempa bumi semakin dahsyat, “Cepat pulang istriku sebelum seluruh pelita di tempat ini padam! Ikutilah pelita yang masih menyala!” perintah Dharmadipa yang kini tidak berwujud alias hanya merupakan suara ghaib, Mega Sari pun akhirnya menurutinya, ia berlari mengikuti barisan obor yang apinya masih menyala ke sebuah lorong goa, di ujung lorong ia melihat ada satu cahaya yang terang sekali, ia terus memepercepat larinya menuju cahaya tersebut.

Di dunia nyata, Ki Silah dan Emak Inah menangis tersedu-sedu sambil menatapi Mega Sari yang tak sadarkan diri, mereka mengira bahwa Mega Sari sudah mati. “Begitu gelap nasibmu Gusti, begitu berat cobaan yang bertubi-tubi menimpa dirimu! Akhirnya kemenangan yang kamu impikan tidak pernah datang, bahkan akhir ceritamu sangat sengsara!” rintih emak Inah.

Ki Silah lalu mendekap istrinya yang menangis tersedu-sedu tersebut sambil menatap Mega Sari yang tak sadarkan dengan matanya yang berlinang. “Dari semenjak kecil engkau dipaksa untuk menuruti kehendak ayahmu, kau harus belajar ilmu teluh dan membuang masa kecilmu, kau dipaksa untuk nyantri di Padepokan Sirna Raga sebagai topeng ayahmu dari tuduhan-tuduhan miring. Kau harus mendapati kenyataan bahwa pria yang sangat kamu cintai ternyata adalah kakak kandungmu sendiri. Engkau pun harus berpisah dengan suamimu tercinta dan kedua orang tuamu dengan cara yang amat tragis, putra pertamamu dijadikan tumbal untuk perjanjian Wasiat Iblis Ayahmu. Terakhir engkau bahkan dikejar-kejar oleh jasad suamimu sendiri yang dikuasai oleh para Jin! Namun begitu, kami tetap menaruh hormat padamu Gusti, kami tetap menyayangimu…” pungkas perempuan tua itu sambil menutupi sekujur tubuh Mega Sari dengan kain samping.

Tetapi ketika baru saja kain samping itu menututupi seluruh tubuhnya, terdengar erangan Mega Sari sambil menggeliat-geliat, “Gusti?!” seru Emak Inah dan Ki Silah berbarengan, mereka pun langsung menyingkapkan kain samping yang menutupi wajah majikannya itu.

“Emak?! Abah?!”

Emak Inah tertawa senang sekali. “Gusti nu Agung! Kami kira Gusti sudah…”

“Saya bermimpi bertemu dengan Kakang Dharmadipa…” desah Mega Sari.

“Gusti bukan bermimpi, tadi Gusti sudah mati suri, jantung Gusti sudah tidak berdetak sama sekali!” jawab Ki Silah.

“Ahh… Artinya saya benar-benar bertemu dengan roh Kakang Dharmadipa…” lirih Mega Sari.

Tiba-tiba Mega Sari kembali mengerang kesakitan, perutnya mulai berkontraksi lagi. “Aaahhh…. Aahhh… Abah Emak, terasa lagi! Perut saya berkontraksi lagi!”

“Abah cepat ambilkan jamu untuk menambah kekuatan Gusti Putri! Cepat!” perintah Emak Inah.

“Baik!” Ki Silah pun langsung berlari keluar untuk mengambilkan jamu yang diramu Emak Inah untuk penambah kekuatan Mega Sari melahirkan.

“Aahhhh!!! Aahhh!!! Cepat Abah!” jerit Mega Sari kesakitan.

“Ini Gusti!” Ki Silah pun memberikan kendi berisi jamu pada Mega Sari, Mega Sari pun dengan dibantu Emak Inah langsung menengaknya sampai habis!

“Siapkan air Abah! Siapkan Air!” perintah Emak Inah pada Ki Silah, kembali pria tua berbadan tinggi kurus itu berlari keluar untuk membawa air.

“Aaaaaa!!!” jerit panjang Mega Sari. Tepat pada saat matahari terbit terdengarlah jerit tangis bayi yang dilahirkan oleh Mega Sari dengan susah payah dalam keadaan yang sangat menderita, jerit tangis bayi tersebut amat keras memecah keheningan dini hari tersebut. Ki Silah dan Emak Inah pun menarik nafas lega, Emak Inah pun langsung menggendong bayi yang baru lahir tersebut.

***

Dua hari kemudian di desa Bojong Nimpa yang merupakan wilayah perbatasan antara Mega Mendung dengan Banten, ribuan pengungsi dari Mega Mendung yang dipimpin oleh Ki Pranajaya memasuki desa yang kini telah kosong ditinggal oleh penduduknya yang telah lebih dulu mengungsi ke Banten. Ki Pranajaya beserta beberapa mantan lurah tantama Mega Mendung dan anak murid Padepokan Sirna Raga yang berada di barisan terdepan rombongan mendengar suara petikan kecapi yang menyayat juga menggetarkan hati mereka, selain itu tempat itupun sontak dikerubungi oleh bau yang tidak sedap, Ki Pranajaya selaku pemimpin rombongan pun langsung memerintahkan agar semua anggota rombongan bersiaga.

Ia segera memacu kudanya kebelakang barisan, ia menuju ke bagian tengah barisan itu dimana Nyai Mantili beserta para anak murid perempuan Padepokan Sirna Raga berada, dengan nafas memburu ia menghampiri kereta kuda yang dinaiki oleh Nyai Mantili dan Sekar.

“Nyai, apakah Nyai mendengar suara kecapi yang seolah mempunyai daya magis itu?”

“Iya, saya pun mendengarnya, saya juga mencium bau yang tidak sedap!” jawab Nyai Mantili.

Ki Pranajaya dan Nyai Mantili pun mengedarkan pandangannya ke sekitar desa yang kosong itu

“Jangan-jangan para lelembut itu! Heran, padahal matahari sedang tinggi-tingginya berada diatas puncak kepala kita!” gerutu Ki Pranajaya.

“Sepertinya bukan Ki…” jawab Nyai Mantili sambil tersenyum, ia lalu turun dari kereta kudanya dan berjalan menuju ke depan barisan, Ki Pranajaya dan Sekar tidak mengerti dengan gelagat tersebut, maka mereka pun mengikuti Nyai Mantili.