Episode 318 - Cenderawasih



Seorang lelaki dewasa nan berbalut perban di sekujur tubuh, sedang mencermati formasi segel yang melindungi wilayah pohon nan telah lama mati itu. Tinggi pohon hanya setara rumah biasa, kurus kering batang dan dahannya, sehingga tiada terlalu besar pula kubah formasi segel yang melingkupi. Pada satu-satunya dahan pohon, tergantung sebuah lentera usang. 

“Diriku selalu penasaran…,” celetuk seorang anak remaja. Ia sedang duduk santai di atas gundukan tanah yang terlihat masih baru dan segar. Tak terlalu jauh jarak yang memisahkan di antara kedua ahli ini. “Mengapa seseorang ahli yang tiada memiliki bakat sebagai perapal segel, dapat memiliki keterampilan khusus tersebut…?”

Sangara Santang menyipitkan mata, namun tiada hendak menoleh. Bila dalam keadaan normal, maka sang Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti akan menjawab dengan penjabaran yang rinci lagi lengkap. Bahwasanya, meski tiada memiliki bakat keterampilan khusus sebagai perapal segel, seorang ahli dapat menggunakan bantuan alat tertentu, cangkang siput misalnya, untuk merapal formasi segel. Bagi ahli yang sudah menerobos naik ke Kasta Emas, maka dengan sendirinya keterampilan khusus merapal formasi segel dapat dimiliki. Tentu, dalam dua situasi tersebut di atas, kemampuan merapal formasi segel terbatas adanya. 

Sebagai tambahan lagi, para ahli di Pulau Belantara Pusat dapat memanggil dan memanfaatkan kemampuan roh dalam menyusun dan mengurai formasi segel. Tentu keterangan yang terakhir ini tiada perlu dijabarkan lebih lanjut, karena anak remaja itu merupakan contoh yang paling gamblang. Menyadari kenyataan ini, bagi Sangara Santang, semakin membuat sakit hati saja rasanya. 

Kedongkolan Sangara Santang terhadap Kum Kecho tentu sangat beralasan. Anak remaja itu bertindak keji dengan membunuh sepuluh pemburu harta karun nan lengah tanpa alasan jelas. Seandainya saja tiada pernah bahu-membahu dalam menghadapi Wisanggeni, salah satu Raja Angkara, maka Sangara Santang pastinya tak ragu untuk meringkus Kum Kecho atas tindak pidana pembunuhan, dan menyerahkan tokoh tersebut kepada pihak berwenang. 

Bahkan sampai saat ini, batin Sangara Santang masih bergelut antara apakah dirinya patut menangkap Kum Kecho, ketimbang melepaskan begitu saja. Terlebih lagi, saat ini Kum Kecho sedang duduk-duduk santai di atas makam kesepuluh ahli yang dia jagal, sebuah tindakan nan tak berhati nurani. 

“Mungkin karena dikau sudah berada pada Kasta Emas…,” ujar Kum Kecho dengan nada setengah mencibir dalam menjawab pertanyaan yang ia ajukan sendiri. “Oh kemanakah ahli Kasta Emas yang hendak dikau kibuli…? Sungguh perkasa seorang ahli yang dapat mengendalikan awan, walau tipuan mata belaka…” Tak ada habisnya Kum Kecho menyindir. 

Sangara Santang menghela napas panjang, memejamkan mata, dan masih diam seribu bahasa. Perihal ahli Kasta Emas ketua pemburu harta karun yang ia hantam dari belakang karena hendak menyelamatkan Kum Kecho, tiada ditemukan keberadaan tubuh tokoh tersebut di antara reruntuhan tebing. Sudah barang tentu tokoh tersebut menderita cedera, namun masih cukup tangguh untuk dapat melarikan diri. Sangara Santang hendak mengejar demi memberikan penjelasan atas kesalahpahaman yang timbul di antara mereka. Akan tetapi, siapa yang akan percaya kepada seseorang yang telah menawarkan penyelesaian sengketa dengan adab keahlian, namun rekannya di bawah menyerang secara diam-diam…? Kemudian, dirinya pun menghantam lawan yang lengah dari arah belakang… Terhadap pengkhianat adab keahlian, tak akan ada yang mau percaya sebagai sebuah kesalahpahaman, kecuali keledai mungkin. 

Kejadian ini akan menjadi permasalahan di masa depan, batin Sangara Santang membayangkan si ketua pemburu harta karun. Dirinya merupakan seorang ahli terhormat dari sebuah perguruan terkemuka, sehingga suatu saat nanti pasti diminta pertanggungjawaban. Tak hendak mengutuk nasib terlalu lama, sang Maha Guru pun melanjutkan pengamatan pada formasi segel di hadapan. 

“Walau dikau berada pada Kasta Emas dan memiliki pengetahuan luas, formasi segel itu terlalu rumit untuk diurai,” ujar Kum Kecho masih dengan nada mencibir. Entah mengapa hari ini suasana hatinya cukup riang, sehingga terus melakukan monolog. “Kecuali bila dikau berasal dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang dengan bakat bawaan lahir, maka diriku adalah satu-satunya ahli di tempat ini yang dapat mengurai formasi segel itu.” 

Sungguh kesabaran sang Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti hari ini sedang mengalami ujian nan teramat berat. Anak remaja laknat itu dengan sengaja memanas-manasi. Walaupun mengetahui bahwa Kum Kecho dapat memanfaatkan Rajah Roh layaknya suku dayak kebanyakan, Sangara Santang menolak untuk meminta bantuan dari tokoh itu. Selain Kum Kecho, yang dapat membantunya mengambil lentera di dalam jalinan formasi segel itu, tak lain adalah Lintang Tenggara, tokoh laknat yang lain lagi. 

“Sudahlah, lupakan saja lentera usang itu…,” cemooh Kum Kecho. 

“Ini bukan sembarang lentera!” hardik Sangara Santang yang sudah mulai habis kesabaran. Meski, ia masih membelakangi lawan bicaranya. “Ini adalah Lentera Asura!” (1)

Raut wajah Kum Kecho berubah seketika. Segera ia melompat dari gundukan makam para korban pembunuhan. “Lentera Asura…,” ulangnya pelan. Di saat yang sama pula, benaknya sedang menelusuri nama yang terdengar sangat tak asing. 

“Benar!” Sangara Santang masih geram. 

“Apakah kegunaan lentera tersebut…?” 

“Sudah pernah kukatakan, bukan!? Lentera ini bermanfaat untuk menelusuri jati diri! Menelusuri sejarah masa lampau seseorang!” 

“Bukan… menurut hematku, bila benar bahwa benda usang tersebut adalah Lentera Asura, maka bukanlah demikian kegunaannya…” Kum Kecho melangkah mendekat. Raut wajahnya berubah serius. 

“Sudahlah!” Sangara Santang akhirnya memutar tubuh. Raut wajahnya dipenuhi amarah. Melontar lengan, ia mengusir, “Pergilah engkau kembali ke sukumu! Jangan tunggu sampai aku berubah pikiran! Jangan paksa aku menyerahkan engkau kepada Dewan Dayak atas kejahatan yang telah engkau perbuat di tempat ini!”

 “Tapi… diriku bukanlah anggota suku dayak…” Kum Kecho berujar polos. 

“Heh!?” 

“Diriku adalah anggota Partai Iblis…” 


===


Jajaran puluhan pulau membangun gugusan kepulauan yang membentang. Terdapat enam pulau utama, di mana lima pulau berukuran sedang dan satu pulau berukuran besar. Pulau terbesar itu sangatlah luas, mungkin mencapai dua sampai tiga kali ukuran luas wilayah Pulau Dewa. Letaknya pulau terbesar dikelilingi oleh lima pulau-pulau nan berukuran sedang.

Bila diperhatikan dari ketinggian, maka gugusan kepulauan ini membentuk sebuah bintang lima segi. Dengan kata lain, pulau terbesar terletak persis di tengah-tengah, sementara kelima pulau yang berukuran sedang membentuk setiap kaki-kaki bintang.

Oleh penghuninya, kepulauan ini dinamai sebagai Kepulauan Jembalang. Sekedar mengingatkan, kata ‘jembalang’ memiliki berbagai arti di berbagai wilayah Negeri Dua Samudera, namun secara umum jembalang berarti ‘hantu’. Kepulauan Jembalang juga memiliki sebutan lain, yaitu: Markas Besar Partai Iblis.

Tidak ada yang tahu persis di mana letak Kepulauan Jembalang sebagai lokasi Markas Besar Partai Iblis. Kesepakatan umum menyimpulkan bahwasanya Markas Besar Partai Iblis terletak di sebuah dunia dimensi yang berbeda dengan Negeri Dua Samudera. Sebuah dimensi yang tersembunyi serta tak dapat ditembus selain oleh para anggotanya. 

Pada kenyataannya, jalur keluar-masuk menuju dan dari Kepulauan Jembalang sesungguhnya tersebar di berbagai wilayah di Negeri Dua Samudera. Anggota Partai Iblis menyamarkan dan menyembunyikan prasasti lorong dimensi di tempat-tempat strategis dan tersembunyi. Kelompok khusus dari setiap pulau, senantiasa memindahkan prasasti-prasasti, sehingga makin mempersulit kegiatan melacaknya. 

Saat ini, sebuah kejadian besar sedang berlangsung di Kepulauan Jembalang. Puluhan Ahli sudah berdiri melayang mengelilingi Pulau Pusat Durjana yang berada di bagian tengah kepulauan. Mereka bersiaga di lima penjuru pesisir pantainya dan berkelompok dalam lima kubu. Yang tampil paling mencolok, adalah lima ahli yang melayang di depan masing-masing kubu. Mereka yang biasanya tak pernah muncul bilamana keadaan tak memaksa, kini tampil perkasa. 

Suasana hening. Gemuruh ombak dan semilir angin menjadi latar belakang yang menemani. 

Tak lama berselang, sejumlah ahli terlihat melesat keluar dari wilayah terdalam Pulau Pusat Durjana. Mereka menyebar ke lima penjuru. Membawa pesan adalah tugas yang diemban. 

“Yang Terhormat Gubernur Pulau Satu Garang, Putra Mahkota Kerajaan Garang…” Di hadapan seorang lelaki dewasa muda, sang utusan menunjukkan sebuah lencana keemasan sembari membungkukkan tubuh. Pesan pun ia utarakan, “Yang Mulia Ketua Partai Iblis melarang keras sesiapa pun untuk masuk ke dalam wilayah Pulau Pusat Durjana. Pelanggaran berakibat binasa.” 

“Mengapa mendadak dan pagi-pagi sekali beliau berkegiatan…?” Lelaki dewasa muda Putra Mahkota Kerajaan Garang masih terlihat sangat mengantuk. 

Sang pembawa pesan tiada menanggapi. Ia memutar tubuh. 

“Atas alasan apakah Yang Mulia Ketua Partai memberi perintah yang sedemikian…?” Salah seorang dari tiga Jenderal Besar yang hadir di belakang tokoh mengantuk, melontar pertanyaan. 

“Pertarungan akan segera berkecamuk.”

Di wilayah lain, pesan yang sama juga disampaikan oleh utusan-utusan lain. Gubernur Pulau Dua Pongah, Gubernur Pulau Tiga Bengis, serta Gubernur Pulau Empat Jalang menaati perintah tanpa banyak tanya. Tentu setiap satu dari mereka sangat penasaran, akan tetapi bila perintah diturunkan langsung dari sang Ketua Partai Iblis, maka tak seorang pun anggota yang berani membangkang. 

“Yang Terhormat Gubernur Pulau Lima Dendam, Yang Mulia Ketua Partai Iblis melarang sesiapa pun masuk ke dalam Pulau Pusat Durjana. Barang siapa yang menentang, maka akan menerima hukuman mati!” 

Pesan pun tiba di kubu Pulau Lima Dendam. Sang Gubernur mengibaskan lengan, sebagai petanda bahwa ia mengerti dan tak memerlukan penjelasan lebih lanjut untuk menaati. Seperginya si pembawa pesan, Sumantorono melirik kepada salah seorang bawahannya. Tatapan mata kedua mereka bertemu, namun tak ada pertukaran kata-kata. 

“Apakah kiranya yang berlangsung di sana…?” seorang bawahan lain, perempuan dewasa muda yang berbalut kebaya ketat, melenggok gemulai. 

“Bupati Utara, kita akan menaati perintah dan bersiaga di sini. Yang Mulia Ketua Partai Iblis tak hendak ada campur tangan di dalam sana.” Gubernur Pulau Lima Dendam mengingatkan bawahannya. 

“Sungguh diriku mengerti….” Perempuan dewasa muda itu mengangguk. “Akan tetapi, mengapakah diriku berfirasat bahwa salah satu di antara kita akan bertindak ceroboh…?” Ia melirik ke samping. 

Lelaki dewasa muda yang berdiri di samping sang Bupati Utara, memang cukup terkenal sulit menahan diri dan menaati perintah. 

“Bupati Selatan…” Sang Gubernur berujar kepada Lintang Tenggara. “Kembalilah ke Pulau Lima Dendam, keberadaan dikau di sana jauh lebih penting. Jangan sampai ada pihak-pihak dari pulau-pulau lain yang memanfaatkan kesempatan di tengah kekacauan.”

Lintang Tenggara terlihat enggan beranjak. Sorot matanya tajam memandang ke wilayah hutan lebat yang membentang di dalam wilayah Pulau Pusat Durjana. 

“Wahai Bupati Selatan…,” Bupati Utara berujar pelan. “Tidakkah kau mendengar perintah…?” 

Lintang Tenggara menoleh kepada rekan sejawatnya. Raut wajah terlihat sebal, namun tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. 

“Pergilah segera!” tegas sang Gubernur. 

Membungkukkan tubuh, Lintang Tenggara pun berputar. Mau tak mau, terpaksa ia meninggalkan wilayah pesisir pantai Pulau Pusat Durjana. 


===


“Kau datang hendak menantang…?”

Jauh dari pesisir pantai, di tengah Pulau Pusat Durjana, dua ahli melayang tinggi di angkasa. Tokoh pertama merupakan lelaki setengah baya dengan aura terhormat lagi berwibawa. Di hadapannya, lelaki yang juga berpenampilan setengah baya namun bertubuh besar dan kekar menyibak aura nan demikian kelam. Pertanyaan yang baru saja terucap, berasal dari tokoh yang kedua. 

“Hari ini, aku akan mengambil alih tampuk kepemimpinan Partai Iblis!” Usai berujar, si penantang meletakkan telapak tangan ke ulu hati, lalu melakukan gerakan menyentak cepat. Segel yang dirapal terhadap diri sendiri terurai, aura Kasta Bumi menyibak digdaya!

Sebagaimana diketahui umum, jumlah ahli Kasta Bumi di Negeri Dua Samudera tak lebih banyak dari bilangan jemari di kedua tangan. Sebagian besar telah pergi menyendiri dalam tapa, sebagian lagi mengambil peran sebagai penguasa. 

Kendatipun berhadapan dengan ahli Kasta Bumi, tak ada perubahan pada raut wajah, tak ada pula gelagat gentar dari gerak-gerik sang Ketua Partai Iblis. Perlahan namun pasti, aura yang bergelora dari dirinya meningkat pesat, sampai-sampai membuat gumpalan awan di atas langit menyingkir dan pepohonan di bawah tercabik! 


Gubernur Pulau Satu Garang yang berbekal keahlian biasa-biasa saja, merasakan tekanan nan sangat berat mendera tanpa mengetahui mengapa. Sedangkan keempat Gubernur lain yang juga masih berada di pesisir pantai Pulau Pusat Durjana, sangat terkesima. Bahkan dari posisi nan teramat jauh dapat mereka merasakan. Sungguh sulit menyembunyikan kegundahan di hati, karena setiap satu dari mereka serta-merta menyadari bahwa terdapat dua ahli Kasta Bumi yang akan segera mengadu kekuatan! 

Kenyataan ini tentunya memupus keraguan dan desas-desus tentang ketiadaan Ketua Partai Iblis. Tokoh tersebut walau selama ratusan tahun tiada mengemuka, jelas masih bermukim di dalam sana. Akan tetapi, satu pertanyaan kemudian menggelitik rasa ingin tahu: siapakah gerangan penantangnya…?


“Aku adalah Balaputera Tarukma, berasal dari Kadatuan Kesatu di Kemaharajaan Cahaya Gemilang!” Lelaki setengah baya itu sudah siap. Untuk mengambil alih Partai Iblis, bukanlah dengan menyusun tipu muslihat caranya. Untuk mengambil alih Partai Iblis, pertarungan satu lawan satu dengan sang Ketua adalah jawabannya. Siasat datang kemudian, ketika nanti hendak menaklukkan para Gubernur sebagai pengikut setia.

“Ketua Partai Iblis, Kweiya Siangga, menerima tantangan!” (2)

“Segel Syailendra, Pedang Svarnadwipa!” 

Sejurus setelah lawan memperkenalkan diri, sebuah formasi segel merangkai secepat kilat. Simbol dan pola yang menyusunnya demikian rumit. Wujudnya merupakan sebilah pedang raksasa nan bercahaya dan berpendar perkasa. Bilah lebarnya merentang akbar di tangan kanan hampir sepanjang seratus meter. Balaputera Tarukma sepertinya hendak menyelesaikan pertarungan secepat mungkin! 

“Swush!” 

Meski berwujud raksasa, tebasan Pedang Svarnadwipa membelah lincah ketika serangan pembuka dilancarkan. Menyadari ancaman, sang Ketua Partai Iblis melesat ke samping tepat di saat bilah pedang hanya terpaut sejengkal dari dahinya. Ia kembali mengelak ketika arah pedang berubah arah. Kesemua gerakan menghindar, dilakukan tatkala senjata lawan sudah berada sangat dekat dari tubuh.

Kweiya Siangga menjaga jarak aman dari ujung pedang nan bercahaya. Ia kini berada di luar jangkauan formasi segel Pedang Svarnadwipa. Kemudian, mengangkat sebelah lengan, jari-jemari membuka perlahan. Dari setiap ujung jemari tersebut, lima formasi segel berpendar di mana setiap satunya membuka lorong dimensi ruang. 

“Surga Kuning, Surga Putih, Surga Biru, Surga Merah, Surga Hitam.” 

Mendapat panggilan, secara bersamaan dari masing-masing lorong dimensi, mengepak keluar lima ekor binatang siluman berwujud burung. Setiap satunya berukuran tubuh dan bercorak tak sama. Aura yang menyibak terasa demikian perkasa. 

Surga Kuning merupakan binatang siluman yang berukuran tubuh paling kecil di antara mereka, setara dengan seekor kambing. Bulu-bulunya berwarna kombinasi merah-cokelat dengan mahkota kepala berwarna kuning dan punggung atas bernuansa kecokelatan. Ekornya nan panjang menjuntai dua, dihiasi bulu-bulu tebal berwarna kuning dan putih.

Surga Putih berukuran tubuh sebesar seekor sapi. Ia memiliki bulu ekor nan seputih salju yang sangat panjang, bahkan sampai dengan tiga kali panjang tubuhnya. 

Selanjutnya, Surga Biru berbentuk tubuh ramping dengan dada berwarna hitam. Rentang sayapnya biru keunguan tersaji demikian lebar, mirip dengan samudera luas yang hampir tak berbatas. 

Surga Merah dibalut bulu-bulu semerah darah dengan bagian ujung berwarna putih, serta variasi kuning dan cokelat. 

Terakhir, Surga Hitam sesuai namanya memiliki bulu-bulu berwarna hitam dan alur kuning tua. Pada bagian kepalanya, terdapat dua helai bulu kawat bersisik berwarna biru-muda mengkilap nan sangat panjang, bahkan terlihat bak sepasang antena. 

Kedatipun berbeda ukuran tubuh serta corak warna, kelima binatang siluman burung ini merupakan jenis yang sama. Mereka berasal dari keluarga burung cenderawasih!


Catatan:

(1) Asura merupakan makhluk yang memiliki kesaktian dan menguasai ilmu tertentu, mirip dengan dewa atau Sura. Para Asura dapat bersifat baik maupun jahat, dan dapat bersikap merusak atau memelihara alam semesta. 

(2) Kweiya merupakan nama tokoh utama di dalam ceritera rakyat ‘Asal Usul Burung Cenderawasih’ dari Papua Barat. Burung cenderawasih dikenal juga sebagai ‘Burung Surga’, sementara burung cederawasih jantan disebut sebagai ‘siangga’.