Episode 92 - Regret



Klotak! Klotak! Klotak!

Syushh... 

Wruuuu...

Setelah melewati gerbang wilayah perbatasan Greenhill-Valencia. Dan berjalan menyusuri padang rumput luas, deru angin kencang semakin menghembus Alzen dan Leena.

“Woah... luas! Luas sekali!” kata Alzen sambil melihat sekelilingnya. “Anginnya juga hmm...” Alzen memejamkan mata sambil tersenyum. “Sejuk sekali. Sungguh berbeda sekali ya, sejauh mata memandang hanya ada padang rumput dan beberapa pohon saja. Tempat ini betul-betul indah.” Alzen menyandarkan dagu pada tangannya, sambil tersenyum melihat pemandangan sekitar. “Hati terasa damai berada disini.”

“Padahal kamu orang West Greenhill, tapi terlihat seperti belum pernah ke Valencia saja.” Leena melipat tangannya sambil menahan tawa.

“Ahh...bukan begitu, aku sudah beberapa kali melewati tempat ini, tapi...” Alzen berbalik badan dan menjelaskan pada Leena. “Dulu tempat ini, adalah medan perang. Mayat para tentara dan rakyat biasa tersebar di mana-mana di sepanjang tempat ini. Baunya busuk, sering dihinggapi gagak dan banyak senjata-senjata berserakan dimana-mana, yang jelas, rumputnya tidak pernah sehijau ini.” 

Leena memalingkan mukanya. Melihat sekelilingnya yang begitu damai, Sulit mempercayai bahwa tempat ini dulunya adalah medan perang.

“Betul sekali dek!” jawab pengemudinya sambil menghadap ke belakang. “Sebelum Fall of Dalemantia, di seluruh negara di Azuria, semuanya adalah medan perang. Syukurlah negara jahat itu sudah jatuh sekarang. Perang sudah berakhir dan masa damai ini sangat-sangat kami syukuri.”

“A... aku tahu kok!” Leena menghadap ke belakang kereta kuda dengan wajah memerah.

“Memang benar sih,” kata Leena dalam hati. “Aku mengunjungi Valencia baru setelah Fall of Dalemantia terjadi. Jadi aku tak pernah tahu bahwa, dulunya tempat ini kelam sekali.”

Selagi melihat pemandangan padang rumput luas, Alzen kepikiran lagi tentang kejadian itu.

***

“Ti-tidak mungkin!!?” kata Aeros. “Kita harus sekali lagi melawannya!?” 

“Hah... aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.” Yana mengamati telapak tangan dan tubuhnya sendiri. “Tubuhku terasa seperti saat aku bangkit.” 

Tidak ada kerusakan apapun yang diterimanya, tubuhnya masih benar-benar senormal saat ia pertama kali muncul di hadapan Alzen. Bahkan tubuhnya yang digerogoti kegelapan untuk keluar dari cengkraman Lasiuspun tidak berbekas sama sekali.

“Hah... hah... kenapa... kenapa kau pulih kembali!!? Bagaimana bisa kau pulih kembali.” Aeros bertanya dengan rasa putus asa.

Aeros melebarkan tangan dan kaki, lalu membungkukkan badannya. 

“Wind G-!!”

Belum sempat meng-cast hingga selesai, mata Yana langsung dengan cepat menoleh pada Aeros. Lalu...

CRASSSHHHTTT !!

Yana kepala Aeros hingga berkucuran darah, 

“Kau berlagak seperti aku akan diam saja, menunggumu berubah menjadi sesuatu yang merepotkan.”

“D-dia... c-cepat sekali.” Aeros memegangi tengah wajahnya yang tertebas secara diagonal. “Untung masih sempat.

“Hah... padahal aku sudah belajar dari kesalahan sebelumnya. Sekarang Aku menargetkan kepala, tapi kau masih sempat menghindar.” 

“Ini benar-benar membingungkan,” balas Aeros yang telapak tangannya kini berlumuran darah dari luka tebas di wajahnya. Kepalanya perlahan menjadi pusing hingga pandangannya berputar dan semakin pudar. “Kau seharusnya sudah kalah kan! Tapi kenapa...”

Yana membalas “Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi, yang pasti sebelum aku membalaskan dendam pada Rangda. Aku tidak akan...” 

BRUGH!

Aeros jatuh tak sadarkan diri.

***

“Setelah Pak Aeros jatuh pingsan, ketika siuman ia bilang terbangun di kamar rawat begitu saja. Dan tak percaya, dirinya selamat dari kejadian itu. Ia melihat cermin dan mendapati wajahnya memiliki bekas luka tebas yang signifikan.” 

“Lagi-lagi,” balas Leena. “Cerita ini hanya disampaikan padamu seorang ya?”

Alzen geleng-geleng kepala. “Aku tak tahu... aku memastikan semua yang ia katakan sesaat setelah aku bisa melihat kembali. Dalam 2 bulan kegelapan, aku merasakan banyak hal telah berubah.”

“Dan setelah pak Aeros?” tanya Leena.

Jawab Alzen. “Begini...”

***

“Setelah aku tidak sadarkan diri,” kata Aeros pada Alzen yang masih di rawat. “Tidak ada yang tahu lagi apa yang terjadi pada saat itu. Atau paling tidak, orang yang tahu tidak mau menceritakannya. Karena setelah kejadian itu Pak Glaskov mengajukan Resign dan pergi meninggalkan Azuria tanpa ada kesempatan kita untuk berbicara lagi.” 

“Monster itu, Yana... benar-benar mengalahkan kita dengan telak.” balas Alzen. “Maafkan aku... aku tidak bisa berbuat apa-apa.” Alzen menangis dengan matanya yang masih ditutupi perban.

“Tidak, tidak, berhenti menyalahkan dirimu. Ini kelalaian kami ditambah sedikit nasib buruk. Tapi aku sangat bersyukur tidak ada murid yang jadi korban jiwa. Ya hanya saja...” Aeros tersenyum kecil sambil sedikit menahan air mata.

“Tapi kalian, pak Aeros... pak Lasius... dan pak... Kazzel.”

“Yang sudah terjadi terjadilah...” kata Aeros yang dengan kepala tertunduk dan sikunya bersandar di lututnya. “Banyak hal yang terjadi selama kita hidup sangat tidak sesuai dengan keinginan kita. Tapi biar bagaimanapun kita harus belajar menerimanya. Pak Kazzel sudah tiada dan... dan...” Aeros mengusap-usap matanya yang berlinang air mata. “Yang sudah terjadi...” katanya sambil menangis terisak-isak. “Terjadilah...”

***

“Nah adek-adek, kita istirahat dulu disini sebentar.” kata pengemudi yang melompat turun dari bangku kemudinya.

“Hee? Tapi kita belum sampai kan?” Alzen mengeluhkan.

“Hari sudah hampir sore dan tidak baik kalau kita mengarungi Quistra pada malam hari.” pengemudi itu menjelaskan. “Besok pagi kita berangkat, kalian sebaiknya mencari penginapan dan beristrihatlah dulu, aku mau memasok Firestone untuk kita tidak mati kedinginan di Quistra. Dan jangan lupa siapkan pakaian tebal kalian.”

“Yah... kirain langsung sampai.” balas Leena. “Percuma dong aku sudah pakai baju musim dingin ini dari awal.”

“Siapa juga yang suruh.” balas pengemudi itu sambil membuka botol minum. “Sudah cepat turun sana, kita ketemu lagi di tempat ini besok pagi.”

“Kita ada dimana?” tanya Alzen.

“Tempat ini,” kata Leena sambil berjalan melihat-lihat. “Aku pernah kesini sebelumnya. Aku ingat, Lumina, ini kota Lumina.” 

“Lumina?” Alzen mengingat-ingat. “Seperti nama...”

“Lumina Sinclaire? Memang ia berasal dari sini.” jawab Leena. “Tapi entah dia ada di kota ini atau masih di Vheins.”

“Huh? Menara tinggi apa itu?” tunjuk Alzen pada menara di tengah-tengah kota.

“Itu benteng pertahanan militernya. Aku pernah diberitahu Sinclaire bahwa kota ini dihuni pengungsi dari Dalemantia Empire yang melarikan diri dari perang Fall of Dalemantia dan tak punya tempat tinggal lagi. Makanya kota ini dijuluki Lumina, Capital City of New Dalemantia.”

“Ahh.. aku kurang begitu mengerti.” Alzen memejamkan mata sambil garuk-garuk kepala.

Drap! Drap! Drap!

“Huh!?” Alzen terkejut mendengar suara langkah kaki “Bikin kaget saja!?” 

“Itu patroli tentara kota ini. Karena Raja Valencia, Giroldus. Mengambil kebijakan untuk memberi sebagian kecil wilayah mereka untuk dihuni orang-orang Dalemantia yang seharusnya adalah musuh mereka. Sebagai gantinya New Dalemantia harus berkontribusi menjaga keamanan negara khususnya dari serangan Arcales Empire.”

“Aku benar-benar tidak mengerti.” mata Alzen berputar-putar.

“Hah... kau cuma tahu sihir doang ya. Politik dan perang begini kamu tidak bisa mengerti.”

“Sudah yuk, cari penginapan saja.” balas Alzen.

Drap! Drap! Drap!

“Huh? Leena? Hoii... Leena.” sahut suara seorang pria menghampiri Leena sambil berlari.

“Huh siapa?” Leena menoleh.

“Leena hoi... Leena... kamu ngapain disini.” 

“Huh... terserah aku dong.” jawab Leena dengan membuang muka.

“Haha... hah... kamu masih marah ya. Ahh aku juga tidak pantas mendapat maaf darimu.” kata pria tampan itu berpakaian armor tentara itu. “Dan kau...” Pria itu menoleh ke arah Alzen. “Ahh pasti kekasihnya Leena.”

Seketika Alzen dan Leena wajahnya berubah merah.

“I... iya... aku Alzen Franquille.”

“Woahh... Alzen Franquille! Aku tahu kamu! Aku nonton kamu sewaktu di turnamen beberapa bulan lalu.”

“Ohh ya?’ balas Alzen.

“Kenalin, aku... Lumina Sinclaire.” katanya sambil memeluk helm pada ketiaknya. “Hmm tapi setahuku, Alzen tidak pakai kacamata deh.” kata Lumina sambil mengamati Alzen dari dekat.

“Ahh memang tidak, aku baru mengenakannya kok.” balas Alzen yang seketika teringat kembali dengan kata-kata Leena dulu.

***

“Tapi akhirnya ada 1 orang yang aku terima. Dia orang pertama yang menembakku di usia 14 tahun. Pernah kutolak dan terus mencoba sampai 3 tahun kemudian, ia belum menyerah juga. Dan setahun lalu aku menerimanya.”

“Si-siapa!? Seperti apa orangnya? Pasti hebat sekali ya...” Alzen terlihat penasaran sekali.

“Tidak, kau masih jauh lebih baik darinya.” Leena geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Dia juga dibawah umurku satu tahun, saat itu kami menghabiskan waktu bersama, belajar bersama, bermain bersama. Ya... aku benar-benar bahagia dengannya.”

“Si-siapa namanya?”

“Lumina Sinclaire, dia orang dari Valencia Kingdom. Dia tampan, warna rambutnya juga mirip sepertimu, hanya saja potongan rambutnya berbeda. Meski ia sempurna dan menyenangkan, tapi gara-gara aku diterima di Vheins, ia sudah langsung menyerah dan dari hari itulah semua masalahnya dimulai...”

***

“Pria ini yang memutuskan Leena begitu saja.” pikir Alzen sambil mengamat-amati sosok orangnya. “Tapi orangnya terlihat baik, ramah dan memang tampan.” 

“Aku sudah tidak ada urusan lagi denganmu. Alzen, ayo pergi.”

“Ahh... o-oke...”

“Aduh, tunggu-tunggu Leena kumohon tunggu.” pinta Lumina dengan mengulurkan tangan ke depan.

“Aku sudah melupakanmu. Bye”

“Kumohon tunggu...”

Byuurr !!

Alzen dan Leena tercebur di selokan dan badan mereka hitam semua.

“Yah pakaian musim dinginku.” keluh Leena

“...” Alzen hanya berdiri disitu saja, tidak tahu harus apa.

“Kan sudah kubilang untuk tunggu.”

***

Di rumah besar Lumina Sinclaire.

Rumahnya seperti kastil di antara padang rumput, dengan dikelilingi tembok di keempat sisi, letaknya ada di luar kota Lumina, namun cukup dekat untuk dicapai dengan berkuda beberapa menit.

“Hee? Ini rumahmu? Besar banget!?” sahut Alzen terkagum-kagum.

“Ahh tidak, masih kalah mewah dengan rumah Leena.”

“...” Leena hanya cemberut dan tak merespon.

“Kamu tinggal disini?” tanya Alzen dengan polosnya.

“Tidak, sejak bergabung di militer New Dalemantia, aku tinggal di barak Commander Fesvaux. Tapi kalau aku bawa kalian kesana, tidak enak sama kalian.”

“Habis mandi, kita pergi dari sini.” balas Leena yang melangkah lebih cepat mendahului mereka.

“Aduh, kamu masih marah ya Leena.”

‘Huh...” Leena buang muka. Lalu berbalik menatap Lumina dan mengusap-usap air got di tubuhnya pada armor Lumina.

“Yah... yah... jangan dong, jadi kotor nih.”

“Huh...” Leena buang muka lagi.

“Hehe... yasudah tidak apa-apa deh.”

***

Saat matahari terbenam. Alzen mengobrol berdua dengan Lumina di atas tembok kastil rumahnya.

“Lumina, kami jadi menginap dirumahmu nih,” kata Alzen yang sudah berpakaian seperti orang Valencia. “Tidak apa ya?”

Alzen mengenakan baju kuning pudar dengan lengan panjang dan celana panjang berwarna biru tua.

“Ohh tenang saja, tenang.” balas Lumina yang mengenakan pakaian yang serupa dengan warna yang berbeda. “Setelah pakaian kalian dicuci, kalian silahkan melanjutkan perjalanan kembali. Toh kalian juga sedang mencari penginapankan? Sudah disini saja menginapnya.”

“Hmm... Leena masih mandi ya.”

“Ya biasa cewek mandinya memang lama.” balas Lumina. “Biarin saja.”

***

“Puah tempat ini memang bagus banget ya,” Leena bersantai di pemandian besar, sebesar kolam renang, tapi hanya dia seorang yang mandi disana. “Apa aku terlalu jahat pada Lumina ya. Tapi dia sendiri waktu itu sudah...” Leena menggeleng-gelengkan kepalanya. 

“Hah... padahal aku sendiri yang bilang...”

“Orang berubah karena suatu hal. Alzen,” kata Leena pada Alzen sewaktu di kereta kuda. “Kau harus belajar menerimanya.”

“Apa mungkin dia juga sudah berubah.”

***

“Penyesalan selalu datang terlambat.” kata Lumina sambil bersandar di pinggir tembok kastil dan melihat ke langit malam. “Melihat dari reaksimu kamu sepertinya sudah diceritakan sedikit tentangku ya.”

“Ya...” Alzen menjawab sambil mengikuti posisi Lumina disampingnya.

“Jujur saja aku sangat menyesal,” kata Lumina.



“Lumina! Lumina! Tunggu! Kau sudah mau menyerah sebelum mencoba.”

“Tidak ada gunanya Leena, tidak ada gunanya.” balas Lumina dengan perasaan depresi.

“Kenapa? Apa salahnya mencoba?”

“KAU BELUM PUAS BIKIN AKU MALU HAH?!” bentak Lumina keras-keras.

“...!!?” Leena terkejut sekali mendengarnya dan membuatnya terdiam dengan hati tertusuk. “Kok kamu...”



“Setahun lalu aku masih begitu bodoh.”



“Ya! Wanita seharusnya tak boleh lebih hebat dari laki-laki!”

“Hah...” badan Leena sudah gemetar dan menangis. “Tunggu Lumina, kok tiba-tiba jadi begini.”

“Hubungan ini sudah tidak bisa dilanjutkan. Gap kita ternyata terlalu jauh.”



“Bukannya meningkatkan diri aku malah melarikan diri dengan alasan begitu.”



“Aku sadar diri Leena, di dunia ini ada hal-hal yang tak bisa kau raih sekeras apapun kau mencoba.”



“Aku bahkan belum mencoba sekeras yang kubisa.”



“Jaraknya terlalu jauh dan aku tak sanggup. Aku tak sanggup melihat pandangan hina orang-orang, pandangan hina keluargamu dan cepat atau lambat kau akan memandangku rendah seperti mereka juga, kau... kau...” 



“Padahal Leena tidak memandang rendah diriku, semua itu cuma asumsiku saja, terdahap hal yang mungkin, tapi belum pasti terjadi.”



Leena berlari dan memeluknya.

“...!!?” Lumina kaget sekali dipeluk seperti itu dan ia terdiam.

“Tidak apa-apa, aku menerimamu apa adanya.”



“Padahal Leena sudah begitu baik.”


“...” Lumina terdiam menatap Leena dari dekat, namun raut wajahnya seketika berubah menjadi marah. “Omong kosong!” Lumina mendorong Leena hingga terjatuh.



“Tapi aku malah bersikap begitu.” 

“Semua itu sudah terjadi, tidak ada cara untuk memperbaikinya.” kata Lumina dengan kepala tertunduk merenungkannya. “Di hari itu aku masih merasa melakukan hal yang benar, tapi tidak sampai besok. Aku, aku menyesalinya hingga menangis terus-terusan di kamar, di saat itu aku baru menyadari bahwa aku membuat pilihan yang salah.”

***