Episode 317 - Keberhasilan


Awalnya Bintang Tenggara merasa jemu. Oleh sebab itu, untuk mengisi waktu ia memutuskan untuk mengunjungi sebuah pustaka yang terletak di sarang di mana dirinya menetap. Di pustaka tersebut, buku pertama yang ia telusuri adalah yang membahas tentang sejarah di Kerajaan Siluman Lebah Ledang. 

Kajian tentang masa lampau memang selalu menarik hati anak remaja ini. Sejak masih menetap di gubuk kecil di Dusun Peledang Paus, ia sudah gemar membaca. Apalagi, entah dari mana, Ibunda Mayang memiliki sejumlah kitab dan buku. Sudah sekian lama dirinya tiada bertemu dengan sang ibunda, namun Bintang Tenggara yakin dan percaya bahwa perempuan dewasa itu bukan sembarang ahli. Belum diketahui pasti mengapa Ibunda Mayang mengasingkan diri ke Pulau Paus, namun ada beberapa kemungkinan yang dapat ditarik menjadi kesimpulan. 

Kembali kepada sejarah, manfaat mempelajarinya sudah barang tentu sangat banyak. Mengetahui asal-usul, menghargai jasa pihak-pihak terdahulu, serta menelusuri perkembangan teknologi dan peradaban. Terlepas dari itu, manfaat terbesar mengetahui sejarah adalah untuk mengambil hikmah dari kejadian yang berlangsung pada masa lalu, baik yang benar maupun yang salah. 

Secara umum, terdapat empat ruang lingkup sejarah. Bagi para ahli yang mendalami hal ihwal sejarah, maka ruang lingkup dimaksud adalah: sejarah sebagai peristiwa, sejarah sebagai ilmu pengetahuan, sejarah sebagai kisah, serta sejarah sebagai seni. Tiap ruang lingkup ini memiliki ciri dan pengertian masing-masing.

Terkait sejarah sebagai peristiwa, Bintang Tenggara menemukan sebuah peristiwa menarik. Pada suatu ketika di masa lampau, ketiga kerajaan mendapat kunjungan dari ‘ kekuatan asing’. Ketika dituliskan sebagai ‘kunjungan’, maka makna yang sebenarnya terkandung adalah kedatangan sebagai ‘ancaman’. Kala itu, ketiga kerajaan hidup dalam permusuhan antara satu sama lain, sehingga dalam menghadapi kekuatan asing tersebut, mereka berperang secara terpisah-pisah. 

Tak dijabarkan lebih lanjut tentang kekuatan asing dimaksud. Tiada diketahui asal kedatangan dan demikian pula dengan alasan kedatangannya. Penggambaran di dalam buku sejarah tersebut lebih banyak mengungkapkan tentang kehancuran serta suasana duka yang menyelimuti. Akan tetapi, ada satu pernyataan yang menarik perhatian… 

“Datang dalam keheningan. Hadir dengan kesatuan. Pergi tanpa warisan.” 

Awalnya Bintang Tenggara mengira bahwa rangkaian kalimat tersebut sebagai petunjuk tentang jati diri kekuatan asing yang datang menyerbu. Namun, setelah menelusuri lebih jauh, maka diketahui bahwasanya kalimat-kalimat tersebut mengacu kepada tokoh lain. Seorang tokoh yang datang, kemudian menyatukan dan memimpin perlawanan menghadapi kekuatan asing. Namun, yang lebih mengejutkan bagi Bintang Tenggara kemudian, adalah kenyataan bahwa tokoh tersebut merupakan seorang manusia bernama… Pangkalima Rajawali!

Sampai pada titik ini, memang tak terlalu sulit dipercaya akan kemampuan tokoh sekelas Pangkalima Rajawali. Ia terkenal sebagai Jenderal Kesatu Pasukan Bhayangkara, manusia terkuat di Pulau Belantara Pusat. Namun kini, diperoleh informasi bahwa sebelum Perang Jagat di Negeri Dua Samudera, beliau pernah terlibat di dalam perang besar lain. 

Menilik kenyataan tersebut, bilamana adalah manusia yang berperan sebagai pemersatu dan menggalang kekuatan tiga kerajaan mengusir kekuatan asing dimaksud, mengapakah ketiga kerajaan menjadi khawatir akan keberadaan manusia? Mengapa manusia dianggap sebagai ancaman?

Melalui latih tarung, Bintang Tenggara kemudian menemukan fakta unik yang lain lagi. Bahwasanya, para siluman sempurna serangga yang mendiami dunia ini tiada dapat mengerahkan unsur kesaktian. Atas pengetahuan tersebut, anak remaja itu pun kembali mendatangi pustaka. Kala itu, ketertarikan tentang sejarah berpindah menjadi rasa penasaran terhadap perkembangan keahlian. 

Pada latih tarung berikutnya, kemudian Bintang Tenggara sengaja memancing Amadio untuk berlatih tarung dan menegaskan tentang tidak dikenalnya unsur kesaktian. Pada kesempatan tersebut, Bintang Tenggara memperoleh tambahan pengetahuan baru. Entah bagaimana, tubuhnya dapat dibuat menjadi kaku. Hal yang sama pernah terjadi tatkala berada di hadapan Ibunda Ratu satu purnama yang lalu.  

“Dikau keliru…,” ungkap Elirio sembari menyondongkan tubuh. “Mengendalikan tubuh bukanlah kemampuan yang kami miliki…”

“Tuan Elirio,” Bintang Tenggara menatap tajam. “Bagaimana dengan kemampuan mengendalikan pikiran…?”

Elirio menarik tubuh. Bersandar perlahan pada kursi megah di balik meja kerjanya. 

“Kumohon Tuan Elirio berkata jujur. Sehari setelah tiba di Kerajaan Siluman Lebah Ledang, diriku mengalami sebuah mimpi buruk. Mimpi tersebut tampil demikian keji, dan kejadian di dalamnya terasa benar-benar nyata. Bukankah hal tersebut merupakan hasil dari tindakan menanamkan pikiran ke dalam benakku?”

Raut wajah Elirio berubah seketika, namun segera kembali tenang. Bintang Tenggara menangkap perubahan yang hanya walau hanya sejenak, dan menyimpulkan bahwa lawan bicaranya memang menyimpan rahasia tentang kemampuan khas siluman sempurna yang tak diketahui oleh manusia. 

Suasana hening. Kendatipun demikian, punggawa kerajaan tersebut hanya menatap dalam diam. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. 

“Tawaranku tetap terbuka,” lanjut Bintang Tenggara karena menyaksikan lawan bicaranya tak juga bergeming. “Diriku akan mengajarkan kemampuan untuk memanfaatkan unsur kesaktian,” tutupnya sambil bangkit berdiri, dan melangkah pelan ke arah pintu. 

Sepeninggalan Bintang Tenggara, Elirio mengatup kedua telapak tangan di depan wajah. Tak lama, seberkas senyum menghias sudut bibirnya. Pandangan mata lelaki dewasa itu beralih pada secarik kertas, tangan kanannya meraih pena. Perlahan ia menggoreskan tinta…

“Pendekatan berhasil. Ia akan mengajarkan kepada kita tentang teknik mengerahkan unsur kesaktian. – Elirio”


===


“Siapa di sana!?” terdengar suara menghardik gusar. 

Dari balik kegelapan, dua ahli yang masing-masing membawa sebatang obor melangkah perlahan. Ahli pertama ada seorang lelaki dewasa muda dengan balutan perban di sekujur tubuh, ia melontar senyuman. Sedangkan ahli kedua, merupakan seorang anak remaja yang mengenakan sebuah jubah berwarna gelap, sehingga hanya wajah pucat yang terlihat mendapat penerangan obor.

“Enyah kalian! Kami sudah tiba terlebih dahulu!” 

Sangara Santang dan Kum Kecho mengabaikan pertanyaan dan perintah. Pandangan mata mereka lebih terpusat kepada wilayah terbuka di hadapan. Lorong goa yang keduanya telusuri selama beberapa waktu, rupanya berujung di tempat asing. Keduanya pun meletakkan obor ke permukaan tanah, dan melangkah keluar. 

“Berhati-hatilah… Entah bagaimana, mereka berhasil melewati Wisanggeni dan tiba di tempat ini…” bisik Sangara Santang perlahan, mengacu pada sekelompok ahli di hadapan. Dengan kata lain, ia mengisyaratkan bahwa kelompok tersebut tak bisa dipandang sebelah mata. 

“Pemburu harta karun…,” tanggap Kum Kecho pelan. Tanpa perlu menghitung, jelas terlihat sepuluh ahli berada di hadapan sana. Kesemuanya berada pada Kasta Perak, berbagai tingkatan. 

Pemburu harta karun berbeda dengan ahli kebanyakan. Mereka menjelajahi reruntuhan kota atau wilayah yang para saat Perang Jagat luluh-lantak akibat serangan kawanan binatang siluman. Secara berkala, satu demi satu tempat-tempat yang hilang tersebut dikuak oleh kelompok-kelompok pemburu harta terpendam. Tak jarang mereka menemukan pusaka-pusaka langka atau harta karun yang tersembunyi. Oleh karena itu, motivasi mereka kekayaan semata.

“Hei! Apakah kalian tuli!?” Suara menghardik datang dengan lantang. 

“Tuan sekalian telah terlebih dahulu tiba di tempat ini. Benar.” Sangara Santang tampil tenang. “Akan tetapi, apakah Tuan sekalian telah memperoleh harta karun? Belum.” Sangara Santang bertanya dan menjawab sendiri. 

Kesepuluh ahli menatap geram. Tebakan Sangara Santang sungguh jitu, sehingga situasi di tempat tersebut serta merta jatuh ke dalam kendalinya. “Oleh karena itu, kami memiliki hak yang sama untuk mengambil benda pusaka itu,” lanjutnya sambil melangkah. 

Kata-kata Sangara Santang sesungguhnya mengacu kepada sebatang pohon yang telah lama mati. Kering keadaanya pohon, serta hitam warnanya sudah. Hanya terdapat sebuah dahan, yang mana pada dahan tersebut tergantung sebuah lentera logam berbentuk persegi. Kaca pada keempat sisi lentera berwarna kusam, dan bingkai logamnya sudah berkarat dimakan kelembaban udara. Dari keadaannya, terlihat bahwa benda tersebut sudah usang adanya, bahkan tak bernilai barang sekeping perunggu pun. 

Berdasarkan kondisinya, selintas pandang lentera tersebut sungguh tak layak untuk diperebutkan. Bahkan, banyak lentera dalam keadaan yang lebih baik dijual bebas. Namun demikian, keberadaan jalinan formasi segel berbentuk kubah yang terlihat perkasa melindungi sekeliling pohon di mana lentera itu berada, seolah berpandangan lain. Bahwasanya lentera usang tersebut merupakan sebuah benda pusaka nan tiada ternilai harganya. 

Tetiba, seorang lelaki dewasa bertubuh kekar mendarat ringan. Usai menjejakkan kaki, segera ia melangkah gagah menyambangi Sangara Santang. Tak sulit untuk mencerminkan bahwasanya lelaki ini adalah ketua gerombolan pemburu harta karun yang telah terlebih dahulu tiba. 

Di depan batang hidung sang Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti, lelaki itu menggeretakkan gigi. “Segera angkat kaki dari tempat ini…”

Dua ahli Kasta Emas saling berhadapan. Dilihat dari tingkatan Kasta Emas, maka Sangara Santang berada pada Tingkat 3, sedangkan lawannya berada pada Tingkat 4. Dilihat dari sudut pandang umum, maka Sangara Santang lebih lemah dan adalah lebih bijak baginya untuk tak terlibat dalam pertarungan. Terlebih lagi, terdapat sepuluh ahli Kasta Perak yang bergerak mengelilingi. 

“Tiga serangan…,” ujar Sangara Santang mengangkat tangan, dan mengacungkan tiga jemari. “Mari kita bertukar tiga serangan. Siapa yang berhasil menyarangkan lebih banyak serangan, maka ia berhak mengambil benda pusaka itu.”

“Kau menantangku…?” Lelaki tersenyum tak percaya. Pertanyaannya pun disahut gerombolan pemburu harta karun dengan gelak tawa. 

“Tiga serangan…,” ulang Sangara Santang santai. 

“Baik, jika itu adalah kehendakmu. Tapi jangan salahkan aku bilamana berlaku terlalu kasar.”

Tanpa basa-basi lebih lanjut, Sangara Santang melesat tinggi ke udara, bahkan seolah mencapai gumpalan awan yang berarak pelan. Lelaki bertubuh kekar itu pun mengikuti. Keduanya memahami, bilamana dua ahli Kasta Emas bertarung, maka akan meluluhlantakkan wilayah sekitar mereka. 

Di bawah, para ahli Kasta Perak mendongak, mengamati sabar. Sebagian dari anggota gerombolan pemburu harta karun bahkan tak sabar menanti junjungan mereka menghajar pengacau yang datang. Mereka berteriak menyemangati, mengagkat kepalan tinju, serta bertepuk girang.

“Srash!” 

Semburan api berwarna biru menyeruak perkasa, seolah berasal dari seekor naga nan memuntahkan amarahnya. Serangan pembuka dilancarkan oleh ketua gerombolan harta karun. Sepertinya ia hendak segera menyudahi pertukaran serangan yang berlangsung.

Sangara Santang, di lain sisi, hanya berdiam di tempat. Tak gentar menghadapi semburan api, ia sepenuhnya menerima serangan lawan. Tiada menangkis, tiada pula menghindari. 

Teriakan para penonton, walau hanya sepuluh jumlah mereka, terdengar berkumandang. Akan tetapi, segera sirna tak lama kemudian. Sasaran amuk api masih berdiam melayang di tempat. Jangankan menderita luka bakar, bahkan pakaiannya tiada tergores api. 

Sangara Santang merentangkan tangan kanan ke arah sisi. Tetiba, gumpalan-gumpalan awan di langit, yang berada di atas posisi kedua ahli Kasta Emas, terdengar bergemuruh. Di saat yang sama pula, gumpalan awan yang awalnya berarak pelan, menderu laju. Dalam waktu yang cukup singkat, para penonton disuguhkan dengan tayangan yang membelalakkan mata. Gumpalan awan nan berwarna kelabu, telah membangun wujud sebila pedang melengkung nan maha megah. Bahwasanya, seekor naga sekalipun dapat di penggal dengan senjata tersebut!

Kum Kecho menyipitkan mata. Ia setengah tak percaya menyaksikan unjuk kebolehan yang sedemikian rupa. Baginya, yang sempat menyaksikan para Jenderal Bhayangkara bertarung pada suatu waktu di masa lampau, kemampuan yang ditunjukkan Sangara Santang di atas sana bukanlah kemampuan seorang ahli Kasta Emas! 

Dengan kemampuan yang sedemikian, menurut hemat sang Putera Mahkota Negeri Dua Samudera, maka sepantasnya Sangara Santang dapat menaklukkan Wisanggeni. Akan tetapi, mengapa tiada ia melakukan tindakan yang sedemkian beberapa waktu lalu…? Mungkingkah…?

Pandangan mata Kum Kecho beralih kepada sepuluh anggota gerombolan pemburu harta karun yang terkesiap tak jauh di sana. Betapa mereka tak hendak percaya akan kemungkinan ketua mereka dikalahkan dalam sekali pukul!

“Nging…”


“Takluk atau binasa…,” ujar Sangara Santang. Suaranya tak terdengar karena deru angin nan bergemuruh, akan tetapi lawannya dapat melihat bahaya yang mengincar. 

Setengah gugup, lelaki dewasa bertubuh kekar sontak melontar pandang ke arah bawah. Rasa malu jelang kekalahan membuat ia harus melepaskan harta karun yang sudah di depan mata. Sia-sia upaya mengalihkan Wisanggeni, bahkan mengorbakan beberapa anak buah agar dirinya dapat mengambil jalur berputar dan tiba di tempat ini. 

Akan tetapi, apa yang lelaki dewasa itu saksikan sungguh di luar perkiraan. Keterkejutan pun dirasa oleh Sangara Santang

Akibat perhatian yang teralihkan pada bilah pedang melengkung raksasa yang mengambil wujud dari gumpalan awan, gerombolan pemburu harta di bawah tiada menyadari bunyi denging binatang siluman serangga yang terbang menderu. Telambat menyadari, mereka menjadi sasaran empuk para pemangsa. 

“Bangsat!” Ketua gerombolan pemburu harta melotot ke arah Sangara Santang. Amarah merasuk ke lubuk hati sanubari terdalam. Kesepatakan untuk menyelesaikan sengketa satu lawan satu serta-merta dilanggar! Ia pun segera melesat turun! 

“Apa yang dikau lakukan!?” Sangara Santang berteriak kepada Kum Kecho. 

Satu persatu anggota gerombolan meregang nyawa. Serangan curi-curi dilakukan tanpa ragu dan tanpa ampun. Bahkan bagi yang hendak melarikan diri dari kerumunan nyamuk, segera dihadang oleh kutu-kutu yang dengan suka cita meledakkan diri. 

Dalam kecepatan turun, kedua telapak tangan ketua gerombolan pemburu harta karun terbuka dan menghadap kepada Kum Kecho. Jarak terpisah sekira 50 meter dari permukaan tanah, ketika semburan api berwarna biru melibas deras!

“Duak!” 

Lutut kanan Sangara Santang mendarat telak di tengkuk lawan yang sedang lengah mengincar anak remaja di bawah sana. Kekuatan hantaman membuat tubuh lelaki dewasa yang sedang lengah merapal jurus, terpental jatuh. Tanah terasa bergegar tatkala tubuh nan menerima pukulan telak, kemudian menghantam dinding sebuah tebing batu. Kemungkinan tak meregang nyawa, namun dipastikan derita luka berat mendera sosok tersebut. 

Sangara Santang mendarat di tengah kobaran api, hanya untuk mendapati Kum Kecho sedang berlindung di balik kubah Kepik Cegah Tahan miliknya. 

“Apa yang engkau lakukan!?” hardik Sangara Santang sambil menyentak kerah pada Jubah Hitam Kelam. Sebelah tangannya menunjuk kepada mayat-mayat yang tergeletak layaknya tengorak. Dari mereka, hanya tersisa kulit kering nan membungkus tulang. “Aku sedang berupaya menyingkirkan pimpinan mereka!”

“Cih!” cibir Kum Kecho yang terlihat muak. “Menyingkirkan lawan dengan bersandiwara…?”

Sangara Santang masih dibalut dengan amarah, genggaman jemarinya pada kerah jubah lawan mengencang. Sebagai tokoh nan terhormat, Maha Guru Kesatu di sebuah perguruan nan terkemuka pula, tentu ia tak sembarang menghabisi ahli yang ditemui di persimpangan jalan. Di matanya, tindakan Kum Kecho benar-benar sangat keterlaluan. “Tak perlu ada pertumpahan darah!”

“Pertumpahan darah…? Hehe… Kebetulan nyamuk-nyamukku sudah lama tak menyantap makanan segar…”