Episode 316 - Kelemahan (2)




Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana!

Petir berkelebat membungkus di kedua kaki tatkala Bintang Tenggara melejit ke arah lawan. Jarak yang awalnya terpaut sepuluh langkah, seolah memendek hanya dalam satu kedip mata. Tak ada keraguan dari sorot matanya, tak ada kesia-siaan dari setiap gerakan. Berdiri di hadapan anak remaja itu, seolah sedang bertatap muka dengan seorang ahli yang memiliki pengalaman bertarung puluhan tahun, padahal ia adalah remaja semata. 

Kecepatannya yang di atas rata-rata itu membuat lawan terperangah. Akan tetapi, Regis masih cukup sigap untuk mengelak pukulan tinju yang ditujukan tepat ke arah ulu hati. Usai menghindar, lelaki dewasa muda itu melancarkan serangan balasan. Sebuah tendangan kaki kanan dilepaskan memutar dan mendatar, yang mengincar deras ke rusuk kiri. 

Bintang Tenggara melompat mundur, membiarkan tendangan lawan melibas angin. Sesaat ujung jemari kakinya menyentuh di permukaan lantai, kembali ia melejit maju. Kali ini, untuk memperpanjang jangkauan serangan, ia melepaskan tendangan menohok ke arah pundak lawan yang terbuka. Serangan ini dilakukan karena setelah melakukan tendangan memutar datar yang tadi meleset, posisi tubuh lawan sedang membelakangi dirinya. 

“Buk!” 

Tubuh si anak remaja terdorong mundur! Regis, dalam keaadaan terdesak bukannya menghindar menjauh atau pun menangkis. Sebaliknya, lelaki dewasa muda itu, dilihat dari sudut pandang Bintang Tenggara, malah melompat mundur menghantamkan tubuh kepada si penyerang. Kecepatan hantaman tubuh tersebut melebihi kecepatan tendangan. 

Bintang Tenggara terdorong mundur, namun segera kembali merangsek. Pertukaran serangan berlangsung selama beberapa saat. Tak ada serangan yang mendarat telak. Bintang Tenggara yang masih berada pada Kasta Perak Tingkat 1, dapat mengimbangi ahli yang berada pada Kasta Perak Tingkat 7. 

Setidaknya, demikian adalah pandangan dari ahli yang mungkin mengamati. Akan tetapi, Bintang Tenggara tahu pasti apa yang ia hadapi... 

“Mengapakah dikau tak bertarung dengan sepenuh hati…?” ungkap anak remaja itu ketika keduanya kembali terpisah jarak.

Regis terlihat canggung. Ia seperti tak tahu hendak menjawab apa. Akibat selisih peringkat keahlian yang demikian jauh, secara sadar lelaki dewasa muda itu sengaja menahan diri. Mana mungkin ia mengerahkan segenap kemampuan menghadapi seorang anak remaja. 

“Tuan Muda…,” sela Amadio menghampiri. “Sungguh latih tarung yang mengagumkan. Jika adalah demikian kemampuan bertarung Tuan Muda, maka sungguh diriku khawatir bahwa jasa kami sebagai pengawal pribadi tiada lagi diperlukan.” 

Bintang Tenggara mendengus sembari menoleh ke arah Amadio. Ia menangkap penekanan berlebih pada kata-kata ‘pengawal pribadi’ sehingga dapat membaca maksud yang tersirat. Bahwasanya, Tiga Jahanam ini bertugas sebagai pengawal pribadi, yang mengemban tanggung jawab atas keamanan serta kelangsungan dirinya selama berada di Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Mencelakai, walau di dalam sebuah latih tarung, merupakan pelanggaran terhadap tanggung jawab dimaksud!

Bintang Tenggara tak hendak membuang-buang napas. Ia segera memutar tubuh dan melangkah pergi. Ketiga pengawal pun membuntuti. 


===


“Apakah kalian tak bisa mendatangkan ahli lain yang dapat berlatih tarung dengan lebih serius…?” Beberapa hari kemudian, Bintang Tenggara meminta berlatih tarung lagi.

“Mohon maaf, Tuan Muda…” Amadio mejawab tenang, “Kami tak bisa mempercayai pihak-pihak lain. Tuan Elirio secara tegas membatasi interaksi Tuan Muda hanya kepada mereka yang sepenuhnya dapat dipercaya. Sebagaimana kita ketahui bersama, keselamatan Tuan Muda adalah yang paling utama.” 

Bintang Tenggara menyipitkan mata. Amadio ini sungguh pandai bersilat lidah, cibirnya dalam hati. 

“Bagaimana bila dikau, Amadio, hari ini menjadi rekan latih tarungku…?”

“Mohon maaf, Tuan Muda…” Amadio berlagak sedikit kaget. “Akan tetapi, diriku bukanlah petarung, melainkan pengawal. Jikalau kemampuan bertahan, maka diriku cukup tangguh. Akan tetapi, menyerang bukanlah keahlian dari diri ini…” 

Licin… cibir Bintang Tenggara di dalam hati

“Regis…” Amadio menoleh ke arah rekannya. “Mohon temani Tuan Muda Bintang dalan berlatih tarung.” Kali ini ia memberikan anggukan ringan, semacam memberi sebuah perintah khusus kepada rekannya. 

Tetiba suasana hati Bintang Tenggara berubah girang. Bila tak salah tangkap, maka Amadio meminta Regis untuk sedikit lebih serius di dalam latih tarung hari ini! 

Kilatan petir berderak tak hanya di kedua belah kaki, melainkan juga pada kedua telapak tangan yang bergerak mencakar. Anak remaja itu merangsek maju ibarat binatang siluman harimau nan buas hendak menerkam mangsa. 

Di lain sisi, Regis berkelit. Kendatipun mampu menghindar, kecemasan nan mendalam tak dapat dihapus dari raut wajahnya. Ia melompat mundur. 

Si binatang buas terus merangsek. Dengan berbekal kecepatan mengejar sembari mencari kesempatan menyarangkan cakar-cakar bermuatan petir, ia menempel ketat. Hanya waktu yang memisahkan lawan dari serangan-serangan yang mengincar deras. 

Lama kelamaan, Regis semakin terdesak. Kegigihan lawannya tak dapat dipandang sebelah mata. Dirinya pun menyadari bahwa pada akhirnya tebasan serangan lawan tak terelakkan dan akan mendarat telak. Di saat yang sama, di dalam benaknya juga sedang terjadi sebuah pergelutan. Bila bertarung dengan sepenuh hati, maka terdapat kekhawatiran mencerderai sang Tuan Muda, selayaknya lalai dalam menjalankan tugas. Sebaliknya, bilamana dirinya dikalahkan di dalam latih tarung, maka Tuan Erilio akan meninjau ulang kemampuan dan kelayakan sebagai pengawal pribadi. Bagaimana mungkin pengawal tampil lebih lemah dari sosok yang dikawal…?

Regis kini dihadapkan pada situasi yang rumit. Pertentangan di dalam batinnya menyebabkan gerakan menghindar menjadi lambat…

“Swush!  

Tebasan cakar Bintang Tenggara siap mencabik! 

“Buk!” 

Tinju beruntun mendarat telak di pergelangan tangan kiri dan kanan Bintang Tenggara, hampir secara bersamaan! Cakar-cakar bermuatan petir yang sedianya siap mencabik, serta merta terpental ke arah yang berlawanan. Kedua lengan Bintang Tenggara merentang di kedua sisi! 

Menyaksikan posisi lawan yang telah terbuka lebar, Regis merunduk dan merangsek maju untuk menyarangkan tinju ke ulu hati! Sepertinya telah ia mengambil keputusan untuk secepatnya merobohkan lawan latih tarung tersebut. Tentu tindakan tersebut tak akan mencederai si Tuan Muda secara berlebihan.  

Akan tetapi, sungguh Regis tiada mengetahui tentang keberadaan Sisik Raja Naga. Bintang Tenggara hanya merasa sedikit kesemutan di sekujur lengan, karena keberadaan senjata pusaka yang meredam kekuatan pukulan. Oleh sebab itu, kedua lengan yang tadinya merentang lebar akibat pukulan tinju, kini sedang bergerak mencabik ke hadapan! 

Pertanyaan yang kemudian muncul, adalah siapa yang tiba terlebih dahulu…? Apakah tinju Regis terlebih dahulu mendarat di ulu hati Bintang Tenggara, sehingga merobohkan anak remaja itu…? Ataukah tebasan cakar bermuatan petir milik Bintang Tenggara yang melibas dan menyengat tubuh Regis…? Sungguh rangkaian pertanyaan yang hanya dapat dijawab dengan kejadian berikutnya…

“Swush!” 

Tetiba Regis melompat mundur. Raut wajahnya cemas, bahkan sorot matanya gentar. Bukannya mengambil kesempatan merobohkan lawan, ia malah melompat mundur. Sungguh aneh, padahal kedua ahli memiliki peluang yang sama besarnya!

Bintang Tenggara tak dapat mengabaikan apa yang kedua matanya saksikan. Bukan hanya pada raut wajah Regis, namun reaksi tubuhnya turut mendukung. Keringat dingin bercucuran serta napas terengah-engah melanda lelaki dewasa muda itu. Dia ketakutan!

Sebentuk tanda tanya besar seolah tampil mengemuka di atas kepalanya Bintang Tenggara… Apakah yang terjadi…? Sebagai ahli yang telah menapak jalan keahlian sampai dengan Kasta Perak Tingkat 7, rasa takut sepantasnya sudah lama sirna!

Tak hendak menduga-duga, Bintang Tenggara memutar tubuh. Langkah kakinya mengarah menuju… pustaka.


===


Beberapa hari berselang. Bintang Tenggara kembali hadir di panggung pertarungan. “Amadio, sudikah dikau yang menjadi lawan latih tarungku hari ini…?”

“Sungguh Tuan Muda…”

“Amadio,” sela Bintang Tenggara tak hendak memberi ruang penolakan. “Diriku hendak memastikan apakah dikau cukup dapat dipercaya… karena pada latih tarung sebelumnya, Regis terlihat ragu-ragu. Tentu diriku tak hendak memiliki pengawal yang meragu, apalagi lemah. Sebagaimana kita semua ketahui, diriku ini adalah calon mempelai bagi Ibunda Ratu. Keselamatan diriku adalah utama, karena ancaman dapat datang dari dalam maupun luar Kerajaan Siluman Lebah Ledang.”

Amadio tercekat. Setiap kata-kata yang pernah ia lontarkan, dikembalikan dengan kontan. Bagaimana mungkin anak remaja itu memiliki lidah nan setajam pedang? Pembawaannya sama sekali tiada mengisyaratkan sebagai tokoh yang terbiasa menyusun muslihat.

“Baiklah, Tuan Muda.” Perlahan, Amadio melangkah ke tengah panggung pertarungan. Tak ada gunanya berdebat, karena setiap satu dari kata-kata yang terlontar adalah benar adanya. Tiada mungkin menjilat ludah sendiri.

“Apakah dikau sudah siap…?” aju Bintang Tenggara. 

“Senantiasa,” tanggap Amadio singkat. 

Bintang Tenggara pun melejit ke arah lawan. Jarak yang awalnya terpaut belasan langkah, memendek seketika. Di kala hanya terpisah beberapa langkah dari lawan…

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang!

Ledakan kecepatan yang berlipat ganda, membuat tubuh Bintang Tenggara berkelebat. Ia tiba di hadapan Amadio, dan sebagaimana layaknya, melepas tinju berkecepatan tinggi ke arah ulu hati! 

Sebaliknya, Amadio yang terlihat tenang, merasakan bahaya yang mengancam. Kedatangan ancaman tersebut sangat cepat pula. Baru kali ini ia merasakan tekanan yang didapat dari lawan nan berada jauh lebih rendah dari segi kasta dan tingkat keahlian… Apakah perasaan ini yang membuat Regis meragu…?  

Dalam keadaan terdesak, Amadio melompat mundur. Di saat itu pula, ia menebar mata hati…

“Brrtt…” 

Tetiba sekujur tubuh Bintang Tenggara bergetar, kemudian kaku di tempat! Jangankan melancarkan serangan, menggerakkan jemari saja tiada dapat diupayakan. Anak remaja tersebut benar-benar tiada dapat bergerak. Untuk lebih tepatnya, ia merasa seolah tubuhnya tiada dapat menerima perintah. Aneh sungguh! 


===


“Sudah satu purnama sejak diriku berada di bawah pengawasan Tuan Erilio…,” ujar Bintang Tenggara tak hendak berbasa-basi. “Katakan mengapa siluman sempurna di dunia ini tiada dapat mengerahkan unsur kesaktian…?”

Erilio memejamkan mata sembari menghela napas panjang. Dari manakah anak remaja itu membongkar kelemahan dari kaum siluman sempurna di dunia ini…? Apakah Amadio yang terlepas bicara? Tak mungkin… Amadio, Regis dan Delfina merupakan prajurit yang dirinya pilih sendiri. Ketiganya memiliki disiplin tinggi dalam mengemban tanggung jawab yang diberikan. 

“Katakan Tuan, mengapakah siluman sempurna di dunia ini demikian takut pada unsur kesaktian…?” lanjut Bintang Tenggara. 

Erilio masih tertegun. Ia memandangi Bintang Tenggara dengan seksama. Waktu bergulir. 

“Siluman sempurna di dunia ini tak memiliki unsur kesaktian…” Akhirnya lelaki dewasa itu menanggapi.

“Apakah hal ini yang menjadi penyebab mengapa siluman sempurna di dunia ini khawatir, bahkan takut, terhadap manusia…? Apakah hal ini yang menjadi penyebab dua kerajaan lain menjadi cemas atas keputusan Ibunda Ratu untuk menikahi manusia…?”

Sebuah anggukan pelan menjadi jawaban Erilio. Yang tak tersampaikan, bahwasanya terdapat sejarah panjang nan turut menyertai penolakan pernikahan dimaksud. Sebuah sejarah yang berkaitan dengan perang menghadapi kekuatan asing di masa lampau. 

“Menurut hematku, setiap ahli memiliki unsur kesaktian. Serta sepanjang ahli tersebut mampu mengerahkan tenaga dalam dari mustika dan menebar mata hati, maka unsur kesaktian tersebut dapat dilatih.” Bintang Tenggara mengutarakan pengetahuan yang jamak dipahami di Negeri Dua Samudera.

Suasana hening. Keraguan terlihat jelas dari raut wajah Erilio. Bahkan, ia seolah menolak untuk mempercayai apa yang ia dengarkan.

“Tahap awal, adalah mencari tahu jenis unsur kesaktian. Untuk itu, diperlukan daun dari tumbuhan siluman Sirih Kemuning,” lanjut Bintang Tenggara, sambil mengingat pengalamannya memanfaatkan selembar daun dimaksud. Sebuah pengalaman yang tak menyenangkan, sebenarnya. 

“Tak ada tumbuhan siluman Sirih Kemuning di dunia ini.”

“Jika demikian, diriku memiliki cara lain untuk mendeteksi jenis unsur kesaktian di kalangan ahli…,” lanjut Bintang Tenggara cepat. Sorot matanya tiada menyiratkan keraguan barang seberkas pun. 

“Benarkah…?”

“Tuan Erilio, tentunya kita dapat saling belajar dari satu sama lain. Menjadi teman bertukar pikiran…,” ujar Bintang Tenggara mengulang kata perkata dari apa yang pernah diucapkan oleh punggawa kerajaan yang duduk di hadapannya itu. Ia pun menyibak senyum, yang mengisyaratkan sebuah siasat.

Erilio menyipitkan mata. Sulit rasanya menebak jalan pikiran anak remaja di hadapannya itu. “Apakah ada yang dikau kehendaki…? Sudah kukatakan, bahwa kalian dapat meninggalkan Kerajaan Siluman Lebah Ledang pada waktunya nanti.”

“Ada, dan tak berkaitan dengan kehendak meninggalkan Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Diriku pun sepakat bahwa masih tersedia banyak waktu untuk kita.” 

“Untuk kita…?”

“Diriku akan mengajarkan cara mengerahkan unsur kesaktian kepada Tuan… Sebaliknya, Tuan hendaknya mengajarkan kepadaku cara… mengendalikan pikiran.”