Episode 63 - Keputusan Mereka


Alsiel berjalan dengan cepat ke samping ranjang Dan lalu duduk dengan satu kaki sembari menunduk dengan penuh hormat, “Tuan, akhirnya aku bisa menemukanmu.”

Dan mencoba bangkit dari baringnya lalu dengan perlahan melihat Alsiel, “Kau?”

“Aku Alsiel, Tuan.” Alsiel menjawab dengan tegas.

Dan melirik ke arah Angel dan Alice lalu berkata, “Bisakah kalian berdua keluar terlebih dahulu.”

Angel dan Alice sangat terkejut. Siapa sebenarnya pria itu?

Tanpa mengatakan apa-apa Angel dan Alice langsung berjalan keluar kamar dan menutup pintu. Di luar ruangan mereka berdua saling pandang lalu kemudian tertawa. Mereka tidak menyangka, pria yang sedang mereka rebutkan ternyata lebih memilih untuk bersama dengan pria, ketimbang mereka, dua orang gadis dengan kecantikannya masing-masing.

“Kau tahu siapa pria itu?” Angel bertanya pada Alice.

Alice menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Tidak, aku jug baru pertama kali melihat pria itu.”

“Lalu, kenapa juga dia memanggil Danny sebagai tuan, ya?” Tanya Angel lagi.

“Entahlah, aku juga tidak tahu.” Jawab Alice seraya menggeleng lagi.

Melihat reaksi Alice membuat ujung bibir Angel meninggi, dia menatap mata Alice lalu berkata, “Hehe, ternyata kau tidak sedekat yang aku pikirkan.”

“Hmm, aku tidak mau menggangu privasi orang lain.” Ucap Alice.

“Benarkah? Aku tidak yakin dengan ucapanmu, mungkin itu hanya menurutmu saja bahwa kalian adalah teman dekat.” Angel kembali berkata dengan senyum yang lebar.

“Terserah kau saja,” Ucap Alice dengan ketus. “Sebenarnya, aku juga tidak percaya sedikit pun dengan apa yang kau ucapkan.” Sambung Alice dengan senyum simpul.

“Hoho, kau boleh tanya langsung pada Danny, tapi aku ragu dia akan menceritakannya, kau tahu, hal-hal dewasa seperti ini sangat sulit untuk diceritakan kepada orang lain.”

Alice menatap mata Angel dengan tajam lalu mengela nafas, “Sebenarnya apa yang kita ributkan, sih?”

“Entahlah, tapi satu yang pasti, kau yang memulai semua ini.”

Angel dan Alice saling tatap untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara, kemudian tiba-tiba saja Alice tertawa yang juga diikuti oleh Angel. 

Sungguh pemandangan yang sangat indah, ketika ada dua orang gadis cantik tertawa bersama. Sayangnya, di tempat itu tak ada seorang pun kecuali mereka berdua.

Sedangkan itu, di dalam ruangan, Dan bersama Alsiel sedang berbicara dengan serius.

“Bagaimana kau bisa menemukan aku?” tanya Dan.

“Aku merasakan auramu Tuan, tapi tidak tahu kenapa, saat ini aku tidak bisa merasakan auramu dengan jelas, padahal sebelumnya aku bisa merasakan auramu dengan sangat jelas.” Jelas Alsiel.

“Saat ini aku tidak bisa menggunakan kekuatanku dengan sesuka hati seperti dulu lagi, mungkin sebelumnya itu adalah ketika kekuatanku sedang meluap.” Balas Dan.

Alsiel mendongak seraya bertanya, “Kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu lagi?” 

“Bukan tidak bisa, tapi aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku lagi.” Jawab Dan dengan tenang.

“Tenang saja, Tuan. Meskipun kau tidak bisa mengendalikan kekuatanmu lagi, aku akan tetap setia padamu.” Ucap Alsiel dengan bersungguh-sungguh, tidak ada sedikitpun keraguan pada ucapannya.

“Aku tahu, aku juga tidak pernah meragukanmu.” Jawab Dan dengan senyum simpul.

“Terima kasih Tuan.” 

“Lalu, apa kau tahu kabar dari yang lainnya?”

“Tidak, Tuan. Aku tidak dapat menemukan mereka.” Ucap Alsiel. 

Selain mencari Dan, Alsiel juga mencari keberadaan rekannya yang lain. Namun, dia tidak bisa menemukan mereka, entah karena mereka terlalu jauh hingga Alsiel tidak mampu merasakan aura mereka, atau mereka dengan sengaja menyembunyikan aura mereka.

“Hmm, tidak apa-apa, tapi aku ingin kau menemukan mereka secepatnya, bagaimana pun caranya.” Dan berkata dengan serius.

“Baik Tuan, perintahmu adalah kehendakku.” Jawab Alsiel dengan hormat.

“Bagus, oh ya, saat ini aku sedang mencari cara untuk bisa mengendalikan kekuatanku lagi, apakah kau tahu bagaimana caranya?” Tanya Dan.

“Maafkan aku Tuan, aku juga tidak tahu caranya.” Alsiel menunduk malu.

“Lalu, apakah kau bisa menggunakan kekuatanmu?” tanya Dan ladi.

“Bisa.” Ucap Alsiel. Kemudian dia memajukan tangan kanannya dan tiba-tiba saja sebuah bola api berukuran kecil tercipta di atas telapak tangannya.

“Hmm, baiklah, sebaiknya kau pergi dulu, aku ingin istirahat.” Ucap Dan lalu kembali berbaring.

“Baik, Tuan.” Alsiel berkata dengan patuh. Kemudian dia dengan perlahan membuka pintu dan keluar ruangan.

Di luar, Alsiel menemukan dua gadis yang sebelumnya berada di dalam kamar Dan masih berada di luar ruangan.

“Hmm ... bisa kita bicara sebentar?” tanya Angel.

Sementara itu, di belakang Angel, Alice hanya menatap Alsiel dengan antusias seraya menganggukan kepala.

“Tidak.” Ucap Alsiel dengan cepat. 

Kemudian, tanpa peduli kepada Angel dan Alice, Alsiel berjalan sedikit menjauh lalu berdiri dengan tegap, seperti seorang penjaga. Dia melakukan ini untuk melindungi Tuannya, Dan, yang masih belum bisa mengendalikan kekuatannya. Alsiel merasa khawatir apabila tiba-tiba saja musuh datang dan menyerang Dan.

Angel dan Alice terkejut, karena mereka berdua sama-sama belum pernah diabaikan seperti ini. Tidak ada satu pria pun yang tidak bahagia apabila mereka ajak mengobrol. Namun, dengan tegas Alsiel menolak untuk mengobrol dengan mereka, yang lebih parah lagi adalah dia dengan sengaja mencoba menjauh.

Angel dan Alice tidak menyerah, mereka melakukan berbagai cara untuk mencari tahu tentang apa hubungan dia dan Danny. Namun, Alsiel terus mengatakan bahwa Danny adalah Tuannya. Namun, tentu saja Angel dan Alice menganggap jawaban itu sebagai bualan. Di zaman sekarang, kecuali kau adalah seorang praktisi bela diri yang sangat tersohor, orang lain tidak mungkin memanggilmu sebagai tuan.

Akhirnya Angel dan Alice menyerah. Menurut mereka, lebih baik tanyakan saja langsung pada Danny.

Sedangkan itu, di dalam ruangan, Dan sedang berpikir, tentang kenapa Alsiel bisa menggunakan kekuatannya dengan sesuka hati, akan tetapi dia tidak mampu menggunakannya.

Setelah berpikir panjang, akhirnya Dan bisa menyimpulkan bahwa Alsiel bisa menggunakan kekuatannya karena sejak awal dia langsung menggunakannya, sedangkan Dan baru saja menggunakannya. Jadi, selama enam tahun ini semua energi yang terkumpul terus mengendap hingga akhirnya Dan tidak mampu lagi untuk mengendalikannya. 

Hanya ada satu cara untuk bisa mengendalikan kekuatannya, yaitu membiasakan diri untuk menggunakannya. Lalu, satu-satunya tempat yang tepat untuk membiasakan diri dengan kekuatannya adalah arena pertarungan. Jadi, Dan telah memutuskan untuk masuk ke perguruan bela diri Iblis Merah, tempat di mana Angel berlatih bela diri.

*** 

Di sebuah bar. 

Lantunan musik bertempo cepat membuat suasana lebih meriah, semua orang bergerak mengikuti irama. Aroma minuman keras melayang dengan bebas di udara. Tiga orang pria duduk berdampingan seraya menikmati minuman di gelas masing-masing.

“Apakah kau yakin tidak mau ikut rencana itu?” Dion berkata lalu menegak habis semua minuman di gelasnya.

“Tidak.” Jawab Ara dengan cepat.

“Yo aku juga ingin tahu, kenapa kita tidak ikut saja yo?” tanya Jay.

“Kenapa? Karena aku tidak percaya pada mereka.” Jawab Dion dengan lugas.

“Tidak percaya? Kenapa? Aku yakin, Jessica tidak akan mengkhianati kita.” Ucap Ara.

“Yo benar yo, Jessica tidak mungkin mengkhianati kita.” Tambah Jay.

“Jessica? Hehe, dia adalah yang paling tidak aku percaya.” Ucap Dion.

“Yo kenapa yo?”

“Menurutmu bagaimana dia bisa bertahan di dunia yang kotor seperti ini?” tanya Dion.

“Tentu saja karena dia pintar dan memiliki koneksi yang luas.” Jawab Ara.

“Benar, dia adalah wanita yang pintar, jadi wajar saja dia mampu membodohi setiap orang, ditambah dengan wajahnya yang cantik, dia pasti sudah menipu banyak orang sebelumnya.” Jelas Dion.

“Darimana kau tahu?” tanya Ara lagi.

“Tentu saja, itu hanya khayalanku saja, hahaha.” Dion tertawa dengan keras setelah dengan serius mengatakan itu.

“Sialan kau.” Ucap Ara dengan kesal.

“Hahaha.” Jay ikut tertawa setelah melihat ekspresi kesal Ara.

“Lagipula apa kau berani mengambil keputusan tanpa sepengetahuan dari Bos?” tanya Dion pada Ara.

Ara langsung terdiam setelah mendengar apa yang Dion katakan. Lalu ingatan tentang kejamnya apa yang telah Bosnya lakukan membuat Ara menggigil karena ketakutan.

Melihat bagaimana ekspresi takut dari Ara membuat Jay kembali tertawa dengan keras.

“Sialan!” Ara berkata dengan keras setelah melihat Jay yang menertawakannya.

“Yo, jadi apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus membocorkan rencana mereka?” tanya Jay setelah puas menertawakan Ara.

“Haha, aku yakin itu akan membuat semuanya jadi lebih menarik. Namun, lebih baik kita biarkan saja mereka.” Ucap Dion.

Kemudian mereka terus berbicara seraya menegak gelas demi gelas hingga akhirnya mereka mabuk.

***

Jessica melihat sekeliling lalu mengela nafas. Kembali, dia merasakan kecewa yang amat sangat, itu karena semua pria yang berada di dekatnya hanya melihat wajah cantik dan tubuh indahnya. Bagaimana pun, Jessica tetaplah seorang wanita. Pada akhirnya, Jessica juga ingin merasakan apa yang namanya jatuh cinta.

Namun, lagi dan lagi, semua pria yang mencoba mendekatinya datang seraya membawa nafsu, tidak ada yang benar-benar mencintainya.

Sambil memasang senyum palsu, Jessica terus menemani pria yang mencoba mendekatinya. Itu semua Jessica lakukan untuk memudahkan bisnisnya. 

Setelah sepakat, Jessica langsung pergi dari tempat pertemuan. Jessica bergegas pulang dan berbaring di kasurnya. Rahangnya terasa sakit karena dipaksa untuk selalu tersenyum. Tubuhnya yang lembut sangat tidak nyaman karena pelukan ketat baju yang ia kenakan. 

Setelah berbaring sejenak, Jessica langsung bergegas untuk mengganti baju dan membersihkan kosmetik yang menghiasi wajahnya. Namun, tidak ada bedanya, mau bagaimana pun, Jessica tetap cantik bagaimana pun dia berpakaian dan walaupun tanpa hiasan.

Jessica menatap bayangannya di cermin lalu berkata.

“Sampai kapan? Sampai kapan kau akan tetap begini?”

Tidak ada jawaban, karena memang di ruangan ini hanya ada Jessica seorang.

“Apakah kau mau jadi seperti ini terus? Apakah ini kehidupan yang kau inginkan?”

Tanpa sadar, tetesan air mata keluar dari ujung mata Jessica.

“Apakah ini kebahagian yang kau cari? Apakah memang ini yang kau inginkan? Apakah kau tidak iri melihat kebahagian wanita lain di luar sana?” 

Jessica memejamkan matanya lalu kembali berkata.

“Apakah kau yakin ini adalah yang terbaik?”

Jessica membuka matanya lagi, kemudian dia menatap tajam bayangan di cermin.

“Aku mau ini jadi yang terakhir kalinya, bisakah kau menjanjikan itu padaku?”