Episode 29 - Hari Perdana Masuk Sekolah.



”Jika kau ingin menertawakanku, tertawakan saja sesukamu,” kata Maulida tertunduk lesu.

“Aku tidak akan menertawakanmu. Maafkan aku telah mengambil sesuatu yang kamu inginkan,”

”Iya aku tahu, itu semua sudah takdir-Nya,”

“Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan tentang pacarku Mei,” ucapku yang baru ingat punya pacar Mei Lin. “Kenapa dalam 2 tahun aku bisa kehilangannya,” aku bertanya kepadanya, kenapa dia bias bilang seperti itu.

”Aku tidak bisa memberitahumu dengan detail, yang jelas Mei dan keluarganya tidak meninggal,” aku mengerutkan dahiku, membuatku tambah penasaran.

”Jika kamu penasaran, tunggulan 2 tahun lagi, disaat pengumuman kelulusanmu SMP sudah keluar,”

“Okelah, aku paham, aku akan menahan rasa penasaranku,” ucapku kepada Maulida dengan pikiran yang penuh dengan pertanyaan yang belum ada jawabannya.

”Oh ya pesanku satu lagi, berhati-hatilah dengan namanya Andik teman sekelasmu,”

“Kenapa?”

”Entahlah, aku tidak bisa melihatnya terlalu jauh, karena dia seperti tertutupi oleh kegelapan yang sangat pekat,” kata Maulida membuatku tambah bingung lagi. ”Pokoknya, jangan terlalu dekat dengannya, silahkan saja jika kamu percaya dengan omonganku atau tidak,” sambung Maulida.

“Baiklah, akan aku ingat saranmu,”

Itulah perbincangan kecil kami dirumahku. Aku menanyakan kapan dia akan balik ke Ponorogo lagi, ternyata nanti sore dia akan balik ke Ponorogo bersama rombongannya. Sabtu sore mereka pergi meninggalkan desaku. Sebelum Maulida pergi seorang anak kecil usia 9 tahunan mendekatiku dan menyerahkan sepucuk surat untukku, aku kemudian membukanya.

?

?“Dari : Maulida?Untuk : Edi J?Sabtu : 16-05-2005??Senang rasanya bisa bertemu langsung dan bertatap muka denganmu. Aku selalu menginginkan bertemu langsung denganmu dan akhirnya Allah menjawab doaku hari ini. Di setiap hari, ku panjatkan doa, setelah mimpi itu entah kenapa bayanganmu selalu muncul di fikiranku. Aku sadar bahwa kamu sudah milik yangg lain, tapi aku tahu suatu saat rasa suka ku ini akan mendapatkan perhatianmu. Senang bisa terus memandangimu, menjahilimu, dan menggodamu hari ini. Ingin rasanya waktu bersamamu lebih lama lagi, tapi apa daya karena aku di desamu cuma sebentar, jika ada waktu lebih lama lagi, aku ingin kamu mengajakku bermain menemaniku keliling desamu dan mengenalkanku dengan teman-temanmu. Jangan terlalu berpikir terlalu jauh Edi. Jalani saja sekarang yang kamu inginkan. Tetap menjalankan perintah-Nya dan bantulah sesama yang membutuhkan. Jangan bersedih Edi, tidak lama lagi kita akan bertemu kembali dengan cerita baru. Ya cerita tentang aku dan kamu. ????Salam kangen dariku.?Maulida Anggraini Putri ?

??Setelah membaca isi surat tersebut tak terasa air mataku jatuh, entah kenapa rasa sesak di dadaku ini sangat menyakitkan. Aku terus-terusan mengusap air mataku yang tidak mau berhenti. “Kenapa, kenapa kamu tidak mengucapkannya dari kemarin Maulida,”ucapku kesal sekali. Jika aku tahu kamu ingin dekat denganku, akan ku luangkan waktuku lebih untuk menemanimu bermain. Tapi sayang kini engkau telah pergi, tuggu aku Maulida, aku yang akan menjemputmu disana. Setelah rombongan Maulida meninggalkan desaku, aku berjalan pulang hingga sampai rumah, sampai dirumah aku masuk kamar, aku terus menggenggam sepucuk surat dari seorang wanita yang baru aku kenal. Ya perkenalan denganku yang tanpa sengaja menabraknya. Tak terasa aku tertidur pulas hingga aku melewatkan sholatku. Aku bangun jam sudah menunjukkan pukul 19.00 ternyata aku tertidur sekitar 3 jam karena kecapekan. Hingga aku memutuskan pergi keluar rumah duduk dikursi di bawah pohon mangga, melihat aku yang sedang duduk di bawah pohon mangga sambil melihat bintang dilangit, mbah Kosim dan nyai Yun datang menemaniku.

Hari minggu jadwal pagi seperti biasa, lari pagi ditemani oleh mbah Kosim. Kalau saja mbah Kosim bisa mewujudkan diri ke semua orang normal, aku akan naik di atas punggung mbah Kosim, keren sekali naik macan besar keliling desa, hahaha. Lupakan sejenak khayalanku di pagi hari. ?Hari minggu kerjaan hanya bermain saja, kadang dulu waktu SD, aku, Yeni, Ninda, dan Putra sering bolos berjamaah. Kenapa bolos berjamaah karena kami berempat serempak tidak masuk sekolah karena sakit. Lalu surat sakitnya dari mana, dari orang tua Yeni yang berprofesi sebagai dokter umum di salah satu rumah sakit swasta di karesidenan Madiun.

Senin pagi di halaman depan rumah wijaya,

“Ayo bro berangkat,” teriakku dari halaman depan rumahnya Wijaya.

”Semangat sekali masuk sekolah,” katanya dari dalam rumah keluar mendorong sepedanya.

“Ya semangat dong, lama nih gak masuk sekolah,” jawabku sekenanya.

”Baru aja 4 hari gak masuk sekolah, pasti pengen ketemu Mei nih,” candanya.

“Haha, tau aja kamu bro, yuk berangkat,”

Aku dan Wijaya seperti biasa ngobrol kesana kemari sambil mengayuh sepedaku ke sekolahan yang jaraknya 8 km dari rumah. Kali ini kami lewat jalan raya, karena kalau lewat areal persawahan jalannya becek habis hujan, jadi kami memutuskan lewat jalan raya sekalian cuci mata.

”Eh Ed, tuh liat cewek didepan naik sepeda warna pink, mantep ya bodinya,” ucap Wijaya menunjuk salah seorang cewek didepan kami.

“Mana, gak keliatan,”ucapku mencoba melihatnya yang terhalang oleh anak cewek yang naik sepeda di depanku.

”Itu tuh bego, kesini dikit,”ucap Wijaya agak menengah ke arah tengah dijalan raya.

“Eh iya, bener mantep tuh cewek anak mana,” ucapku penasaran melihat cewek memakai sepeda warna pink. 

”Hemb, kayaknya anak sini deh,“

“Jangan cari yang kek gitu ah,” ucapku kembali kepinggir jalan raya.

”Lah kenapa?” tanya Wijaya penasaran.

“Udah punya cowo bego,” jawabku ketus.

”Sebelum bendera kuning berkibar di depan rumahnya, selama,” belum selesai bicara Wijaya langsung memotong pembicaraanku.

“Mati dong,” kata Wijaya dengan wajah tanpa dosa.

”Haha,”

Itulah canda tawa kami saat berangkat ke sekolah, palingan ngecengin cewek lewat tapi gak berani kenalan, ya itulah masa-masa SMP. Sampai di SMP masih ada waktu 15 menit sebelum kelas dimulai, ngobrol aja dulu sama anak-anak diparkiran sepeda, 15 menit kemudian bel pun berbunyi aku jalan ke arah kelas dipojokan sendiri, tapi kali ini aku lewat depan kantor, bareng sama guru Biologi.

“Loh sudah sembuh, emm siapa namamu?” tanya guru Biologi yang sedang membawa buku menuju kelas yang diajarnya.

“Edi bu, alhamdullilah sudah, semua teman-teman saya juga sudah masuk kok bu,”

”Oh ya udah, ayo masuk kelas,”

“Iya bu,”

Semua guru disekolahanku tahunya, desa kami terkena wabah virus, jadi kami semua tidak masuk sekolah selama 4 hari, padahal ada kejadian horror di desaku. Aku jalan di belakang guru biologi ke arah kelasku. Sampainya di kelas guru biologi masuk duluan, aku belum masuk coba ngintip dari balik pintu kelas. Aku lihat Mei duduk sendirian dengan wajah cemas, aku lihat Andik dengan Veve masih dibelakang seperti biasa, lalu aku mencari Hesti.

“Loh kok gak ada ketua kelas, dimana dia,” ucapku heran dengan ketua kelas yang tidak ada di tempat duduknya.

”Cari siapa mas,” ucap seorang cewek dibelakangku sambil memegang pundakku.

“Bentar, nyari seseorang kok gak ada ya,” ucapku membalas jawaban cewek ini tanpa menoleh kebelakang.

”Oh mungkin itu dia, dibelakang mas,” kata cewek ini, secara spontan aku menoleh ke belakang tubuhku dan.

“Waaaaaa….” teriakku yang lumayan kencang hingga teman-temanku di kelas langsung melihat ke arah pintu kelas.

”Jangan teriak-teriak, kaget aku ayo masuk,” ajak Hesti yang muncul dibelakangku.

“Sialan, dasar cewek rese, ngagetin saja,” gumamku pelan sambil mengelus dadaku karena syock. Bukan syock melihat Hesti tapi syock karena waktu menoleh ke belakang wajah hesti dan wajahku hanya beberapa cm saja. Aku masuk ke dalam kelas, lalu berjalan ke samping Mei, wajah Mei kembali ceria yang tadinya cemas. 

”Sayang, syukulah kamu masuk sekolah, aku kila kamu gak masuk lagi hali ini,” ucap Mei dengan ekspresi berseri-seri.

“Hehe, maaf ya sayang, kangen ya,” balasku kepada Mei.

”Ihh, balu saja masuk sudah bikin sebel,” ucap Mei mencubit pinggangku. 

“Aduh,, duh,, duh, sudah nanti saja kangen-kangenannya, pelajaran sudah di mulai,” balasku sambil memegang tangan Mei yang mencubit pinggangku.

”Tau ah,” jawabnya manyun.

Pelajaran pertama dimulai dengan biologi, guru biologi menyuruh kami minggu depan membawa bunga uluk-uluk atau nama lainya bunga kecubung. 

”Dimana nyali bunga itu sayang,” bisik Mei ke arahku.

“Oh, tenang sayang, di desaku banyak nanti aku bawakan sekarung,” ucapku sambil menulis materi di depan papan tulis. Sejenak kemudian aku menoleh ke arah Mei sambil mengangkat kedua alisku. Ekspresinya kesal dengan wajah bersungut-sungut mendengar jawabanku.

“Hehe,” ucapku sambil tersenyum.

”Tau ah, awas saja nanti istilahat,” ucap Mei sambil memalingkan wajahnya.

“Kabur dulu ahhh,” jawabku kembali menulis catatan yang ada didepan papan tulis.

”Ihhhhh, sebel sebel sebel,” seru Mei dengan mencubit pahaku sampai merah padam. Aku hanya bisa menahan rasa sakit karena di serang oleh cubitannya Mei. Mau teriak tapi masih di dalam kelas, terpaksa meringis kesakitan.

“Teng…teng..teng…” jam pelajaran pertama selesai, waktunya istirahat dan aku kabur duluan ke kantin. Baru saja mau keluar pintu kelas terdengar teriakan Mei dari belakangku.

“Ediiii... awas saja kamu, aku kejal sampai kemanapun kamu pelgi,” begitulah teriakan lucu Mei Lin waktu dikelas. Sesampainya aku di kantin, seperti biasa aku memesan pecel Madiun lalu aku mencari tempat duduk di pojokan di bawah pohon, karena biasanya disana ada grupnya Wijaya, dan ternyata benar saja.

“Hai bro, cepet amat kesini,” kata Wijaya yang sedang menunggu makanan datang.

”Iya dong, gurunya tadi 10 menit sebelum bel istirahat udah selesai,” jawabku menggeret kursi plastik untuk duduk.

“Lah, kok enak, pelajaran siapa emang,” tanya Wijaya lagi.

”Itu guru Biologi, Ibu Endah,” kataku menjawab pertanyaan Wijaya.

“Oh, pantes cepet kesini, udah makan kamu bro,”

”Sudah, baru aja selesai, tumben sendirian mana pacarmu,”

“Pacarku dikelas lagi asik tuh sama temennya,” balasku kepada Wijaya. Tanpa sadar Wijaya dari tadi melirik ke arah belakangku.

”Masa dikelas bro, ngapain juga dikelas,” ucap Wijaya sambil melirik ke arah belakang tubuhku.

“Entahlah..” ucapku sambil menaikkan kedua pundakku menanggapi pertanyaan Wijaya.

”Ohhh, bagus ya sayang, gak ngajak pacalmu baleng,” ucap Mei Lin sambil kedua tangannya diatas pinggang.

“Eh, sayang kapan kesini,” ucapku kaget yang tiba-tiba Mei sudah ada di belakangku .

”Gitu ya, pacalnya ditinggal dibelakang malah duluan kesini,” ucapnya dengan mencubit pingganggku.

“Aduhh.. duh.. sakit sayang, lepasin dong,” ucapku memohon ampun kepada Mei. Sumpah ini cubitannya sakit bener.

”Enak aja main lepasin, minta maaf dulu dong,” jawab Mei gak mau kalah.

“Iya sayang, aku minta maaf, gak lagi deh ninggalin kamu,” jawabku dengan memegang tangan Mei yang mencubit pinggangku.

”Hemb,” balas Mei dengan memalingkan wajahnya. Sejenak kemudian wajahnya memandang ke arahku.

“Haus ya, mau beli minum tapi ramai, nih air minum, sayang minum dulu,” ucapku menawarkan air mineral kepada Mei.

”Hehe, sayang kok tau sih aku lagi haus,” ucap Mei mengambil air mineral yang aku sodorkan.

“Tahu dong, kan kita sehati,” ucapku sekedar merayunya.

”Hehe, bisa aja sayang,”

”Cih, kalau mau mesra-mesraan jangan disini, pergi sana kepojokan,” ucap Wijaya ketus.

“Makanya jangan jomblo mulu, jomblo kok betah dari lahir,” sindirku kepada Wijaya.

”Gitu ya sekarang sama aku Ed. Eh Sa, kamu mau gak jadi pacarku,” ucap Wijaya kepada Sasa teman sekelasnya.

”Ogah,” jawab Sasa ketus. Semua teman-teman Wijaya tertawa dengan puas.

Kami semua tertawa melihat tingkah Wijaya hari ini, aku akhirnya ikut nongkrong sama mereka di kantin, jam istirahat hampir selesai. Aku dan Mei pamit dulu untuk kembali ke kelas kami. Baru beberapa langkah, aku mendengar beberapa bisikan yang isinya “Itu anak kelas mana, pacarnya cantik bener. Chinese pula. Dukunnya kuat itu bisa ngedapetin cewek Chinese,” seperti itulah suara iri hati yang sering ku dengar. Wanita manapun kuncinya hanyalah satu yaitu “Hargailah,”. Hargailah wanitamu karena dia adalah pilihanmu sendiri.

“Sayang, balik yuk,” ucapku mengajaknya balik ke kelas agar tidak mendengar bisikan iri dari orang lain. 

”Bental sayang, beli sosis dulu ya,” Mei ke kantin dengan membawa 2 bungkus sosis.

”Nih buat kamu satu sayang,”

“Makasih sayang,”

Aku berjalan di koridor depan kelas 8D lagi asik-asik ngobrol sama Mei sambil menyantap sosis panas ditanganku, salah satu anak laki-laki kelas 8D keluar dari kelas sambil berlari keluar pintu, mereka pasti sedang bercanda dengan teman mereka dikelas.

“Bruukkk….” Anak laki-laki kelas 8D menabrak Mei yang pas didepan pintu keluar. Reflek aku menangkap tubuh Mei sebelum tubuhnya jatuh di lantai dan menendang tubuh anak laki-laki ini ke depan agar tidak jatuh menimpa tubuhnya Mei.

“Aduhh….” keluh anak laki-laki kelas 8D ini.

“Kalian kalau jalan lihat-lihat, nih bajuku kotor kena saus, ganti gak,” ucap anak kelas 8D ini dengan bajunya warna merah sedikit terkena saus yang dibawa Mei.

Aku tidak memperdulikan ocehan anak kelas 8 ini, aku lihat Mei memelukku erat dengan tubuhnya bergetar, bisa dipastikan Mei menangis, bukan karena tertabrak anak kelas 8 ini, melainkan karena bentakan anak kelas 8 ini, aku mencoba bersabar kepadanya. Karena ujung-ujungnya pasti berantem kalau kita berdua sama-sama keras. Apalagi kelas 8 angkatan tahun ini, terkenal sekali dengan membuat rusuh. Hampir semua kelas pasti ada ketua gengnya.