Episode 82 - Kiamat Di Mega Mendung (2)



Kyai Pamenang segera membangunkan para pasukan penjaga kamar Sang Prabu yang tertidur pulas. “Cepat ketuk kamar Sang Prabu!” perintahnya, para prajurit itu pun mengetuk kamar Sang Prabu, tapi tidak ada yang menjawab hanya terdengar suara keributan didalam kamar Sang Prabu, “Dobrak!” perintah Kyai Pamenang, para prajurit itu Nampak ragu untuk menuruti perintah Kyai Pamenang. “Ayo cepat dobrak! Aku yang akan bertanggung jawab!” akhirnya mereka pun medobraknya!

Didalam kamar Nampak Dewi Larasati sedang mengamuk dan mencekik Suaminya tanpa sadarkan diri. “Celaka, Gusti Dewi Kesurupan lelembut!” kejut Kyai Pamenang.

Kyai Pamenang langsung bersidekap sambil menutup matanya sejenak, kemudian ia melompat ke arah Dewi Larasati yang sedang mengamuk itu, dengan cepat Sang Kyai menempelkan jempol tangan kanannya di antara kedua mata Dewi Larasati, Dewi Larasati pun menjerit dahsyat, dari ubun-ubunnya mengepul asap berwarna biru dan Wushhh!!! Bola api berwarna biru terbang keluar dari ubun-ubun Larasati dan terbang keluar mendobrak jendela kamar Sang Prabu! Larasati pun jatuh pingsan.

Kyai Pamenang menarik nafas lega. “Untung segera diketahui, kalau tidak…”

“Kalau tidak kenapa Kyai?” Tanya Sang Prabu yang masih memegangi lehernya yang kena cekik istrinya tadi.

“Saya melihat ada bola api berwarna biru terbang mengitari keraton ini disertai dengan suara ringkikan gagak, lalu terbang kearah kamar Gusti… Itu adalah Jin Balewa, Jin yang menjadi junjungan para dukun teluh karena ialah yang menjadi pelaksana ilmu teluh dan mempunyai kekuatan untuk merusak pikiran manusia! Dia adalah Jin yang paling jahat setelah Jin Bagaspati yang berasal dari Puncak Gunung Gede!”

“Kenapa Kyai bisa tahu?”

“Karena hanya Jin Balewa yang berkoak parau seperti burung gagak, sedangkan Jin Bagaspati Sang Panglima Jin dari Puncak Gunung Gede sering bersuara seperti sirit uncuing, seperti yang kita jumpai saat melihat mayat hidup Dharmadipa, kita harus lebih berhati-hati menjaga Gusti Dewi, karena Gusti Dewi sedang hamil, biasanya perempuan hamil memang lebih mudah untuk diganggu lelembut.” jelas Kyai Pamenang.

“Saya memang bermimpi sangat buruk Kyai, saya bermimpi berada didalam keraton ini yang terbakar hebat, mayat-mayat bergeletakan dimana-mana, jerit tangis menggema dimana-mana, saya lalu melihat Dharmadipa yang menjelma menjadi Kanda Prabu, maka sayapun berusaha untuk mencekiknya, dan ketika tersadar saya sedang mencekik Kanda Prabu…” ujar Dewi Larasati.

“Itulah akibat Jin Balewa yang menyusup kedalam alam bawah sadar Gusti, dia mengendalikan mimpi sekaligus tubuh Gusti, jadi Gusti dalam keadaan kesurupan dan melakukan semuanya tanpa disadari oleh Gusti… Dan ada baiknya sebaiknya Gusti sebelum tidur untuk membaca doa, agar selama tidur Gusti dilindungi oleh kuasa Gusti Allah.” saran Kyai Pamenang.

***

Ditepi hutan kaki gunung Masigit, Ki Silah sedang mencari ranting-ranting kering untuk dijadikan kayu bakar, tiba-tiba telinga pria tua berbadan tinggi kurus itu menangkap suara yang sangat ramai, dia langsung bersembunyi dibalik semak-semak sambil mengintip ke tepi jalan, di sana nampak rombongan besar yang sedang berjalan ke arah timur laut, menuju kearah wilayah Banten.

Pria setengah baya ini lalu memasang telinganya baik-baik utnuk menguping pembicaraan mereka.

“Kalau yang menyerbu desa-desa kita adalah bangsa dedemit, bagaimana bisa?”

“Tapi Kang ada yang melihat kalau yang memimpin hantu-hantu itu adalah Pangeran Dharmadipa!”

“Har? Ceunah Pangeran Dharmadipa itu sudah mati?” (Ceunah = Katanya).

“Ah Kang, lamun jelema jahat mah, biar sudah jadi arwah juga tetap saja jahat Kang!” (Lamun = Kalau), (Jelema = Manusia).

“Iya juga sih, Akang setuju dengan pendapatmu.”

“Iya kan? Makanya selain saya bawa anak istriku, semua ayam dan kambing ternakku saya bawa semua, jaga-jaga kalau memang nanti tidak akan pernah bisa kembali ke desa di wilayah Mega Mendung ini!”

“Sekarang jauh-jauh kita mengungsi ke Banten, apa para dedemit itu tidak akan menyusul kita kesana?”

“Oh tidak mungin! Menurut cerita, hantu atau dedemit manapun tidak akan mampu menembus tabir ghaib yang dipasang oleh Sunan Gunung Jati dulu! Dan kamu harus ingat, bahwa kabarnya Banten juga sudah menerima Islam secara khafah, berbeda dengan Mega Mendung yang masih setengah-setengah!”

“Tapi di sana ke mana kita akan mengadu? Masa mau langsung menghadap Sultan Banten?”

“Kita menghadap dulu pada Raden Jaya Laksana, dia kan putra mendiang Prabu Kertapati dan orang Mega Mendung asli, dia pasti akan bela kepada kita!”

Setelah rombongan itu pergi, Ki Silah langsung berlari menuju ke gubug tempat tinggal Mega Sari, Mega Sari dan Emak Inah agak kaget melihat Ki Silah yang datang dengan tergopohoh-gopoh, Ki Silah yang bermandikan keringat langsung menengak air putih sepuasnya dari bumbung bambu.

“Ada apa Abah? Apa ada bahaya yang mengancam kita?” Tanya Mega Sari.

“Orang-orang ngungsi ke Banten Gusti!”

“Orang-orang mana?”

“Orang-orang dari desa Gondangsari dan desa-desa disekitar Gunung Masigit ini! Mereka ketakutan dengan mahluk lelembut yang menyerang desa-desa mereka, dan katanya pasukan dedemit itu dipimpin oleh Gusti Pangeran.”

“Ah saya tidak perduli dengan nasib para penduduk desa itu Abah, tapi jasad wadag Kakang Dharmadipa yang diperalat oleh para lelembut… Saya merasa sangat bersalah! Saya punya kewajiban tubuh Kakang Dharmadipa dari penderitaannya!”

“Apa tidak membahayakan Gusti? Dan ke mana kita bisa mencari Gusti Pangeran? Jasadnya dan para lelembut itu seolah sudah menjadi satu dalam tubuh Gusti Pangeran!”

“Saya akan minta tolong guru, kalau anak ini sudah lahir…” pungkas Mega Sari dengan lemas sambil membelai perutnya.

***

Pada pagi hari tujuh hari kemudian di alun-alun Kutaraja Surasowan Banten yang dipenuhi oleh ribuan pengungsi dari wilayah Mega Mendung, Tumenggung Jaya Laksana yang didampingi Lurah Tantama kepercayaannya Indra Paksi, datang dengan tergopoh-gopoh, para pengungsi itupun menghanturkan hormatnya pada putra sulung Prabu kertapati tersebut. Beberapa orang sesepuh perwakilan para pengungsi tersebut langsung menceritakan semuanya pada Jaya Laksana.

“Kami akan melaporkan semua kejadian ini pada Gusti Sultan, percayalah! Banten tidak akan berpangku tangan kepada rakyat kecil atau siapapun yang membutuhkan bantuan! Banten tidak akan tinggal diam kepada para pengacau yang menyengsarakan rakyat kecil, siapapun mereka!”

“Kanjeng Tumenggung, dengan ini kami menyerahkan nasib kami kepada perlindungan Banten, kami berjanji akan setia kepada Banten.” ucap salah seorang pemimpin rombongan pengungsi.

“Ya… Tapi saya masih heran dengan malapetaka ini, saya memang sudah mendengar bahwa di wilayah Mega Mendung sedang terjadi peristiwa Rajapati yang luar biasa, tapi saya dan pihak Banten mengira bahwa peristiwa itu adalah peristiwa kejahatan dan pembunuhan biasa.”

“Kejadiannya benar-benar seperti mimpi buruk, sudah banyak yang menjadi korban, sudah banyak desa-desa yang musnah akibat amukan para lelembut itu! Bahkan putera hamba sendiri tewas oleh mahluk yang sampai sekarang belum jelas rupanya seperti apa!”

“Ada yang melaporkan bahwa pelakunya adalah sebangsa siluman, dan mereka juga menghancurkan kadipaten-kadipaten di wilayah Mega Mendung!”

“Benar Kanjeng, tapi ada juga yang melihat seperti Dharmadipa!”

“Dharmadipa?! Bukankah dia sudah mati?!” seru Jaya dengan kaget sampai melotot.

“Benar Kanjeng, mungkin rohnya gentayangan, karena mati dengan penasaran!”

“Dharmadipa…” gumam Jaya sambil nampak berpikir.

“Betul Kanjeng, banyak sekali saksi mata yang melihat bahwa pelakunya adalah Dharmadipa, meskipun ada juga bilang bahwa pelakunya adalah bangsa Dedemit Marakhyangan yang sangat jahat dan kejam! Tapi ada juga melihat bahwa para dedemit itu dipimpin oleh Dharmadipa yang seluruh kulit tubuhnya putih pucat pasi seperti kapas, bola matanya semerah darah, dan sekujur tubuhnya dingin bagaikan es!”

“Baiklah, kalian aman untuk tinggal diwilayah Banten ini, saya akan segera menghadap Gusti Sultan untuk melaporkan hal ini!”

“Terimakasih Kanjeng! Kami akan bersumpah bahwa kami akan selalu setia kepada Banten dan khususnya kepada Kanjeng!” pungkas orang tua itu dengan tatapan penuh makna pada Jaya Laksana.

Setelah pembicaraan itu selesai, Jaya segera memanggil Indra Paksi, Lurah Tantama kepercayaannnya. “Indra, kau sudah mendengar semua pembicaraan kami bukan?”

“Sudah Raden!”

“Bagaimana kalau kamu kuberi tugas?”

“Saya siap Raden!”

“Pergilah ke Kutaraja Rajamandala, tawarkan bantuan kita kepada mereka, agar para penduduk Mega Mendung untuk mengungsi ke Banten, katakan bahwa Banten dengan tangan sangat terbuka akan menerima mereka, karena disini aman! Saya juga akan segera melaporkan hal ii kepada Gusti Sultan dan memohon agar para pengungsi itu diberi tempat.”

“Baik Raden, hari ini juga hamba akan berangkat!”

“Bawalah tiga puluh orang prajurit pilihan dari Katumenggungan kita untuk menemanimu!”

“Baik Raden!” Indra Paksi pun menjura hormat dan langsung pamit untuk melaksanakan titah atasannya tersebut.

***

Di hari yang sama pada sore harinya di Rajamdandala, seorang dayang yang sudah tua nampak sedang membujuk Dewi Larasati untuk makan, tapi Dewi Larasati yang semenjak pagi tidak mau makan tetap menolak untuk makan, hal ini membuat Sang Prabu menjadi khawatir pada keadaan istrinya. “Istriku ayo makanlah barang beberapa suap, dari sudah tiga hari kamu tidak mau makan dan tidak mau tidur… Bagaimana dengan nasib si kecil dalam perutmu?”

“Sejak mimpi aneh yang mengerikan itu saya jadi takut tidur Kakang, dan rasanya aneh sekali, udara yang aku cium selalu berbau kembang tujuh rupa dan tanah kuburan serta bangkai busuk yang menusuk sekali, sehingga saya tidak beranfsu untuk makan, saya hanya ingin para lelembut itu pergi selamanya dan tidak menganggu seantero negeri kita ini lagi…” jawab istrinya dengan lemas sekali.

Sang Prabu pun mendekap istrinya “Jangan khawatir Nyai, kelihatannya Kyai Pamenang cukup linuwih untuk mengatasi permasalahan ini.” (linuwih = sakti)

Seperti biasa, suasana malam hari di Rajamandala sangat mencekam, angin panas bergantian dengan angin dingin bertiup bergantian, bau kembang tujuh rupa, tanah kuburan, dan bangkai busuk menghampar menusuk hidung, suara burung sirit uncuing menggema dimana-mana, para prajurit yang bertugas jaga nampak tergeletak tertidur dengan pulasnya, dan yang mengenaskan adalah para prajurit yang bertugas jaga di pintu gerbang utama Keraton telah tewas dengan keadaan yang sangat mengenaskan, di sana nampak Dharmadipa yang dirasuki Jin Bagaspati berjalan memimpin sepuluh jin lainnya memasuki keraton.

Ki Sentanu yang bertugas mengawasi penjagaan di keraton segera berlari berasama puluhan prajurit pilihan kearah gerbang utama keraton, alangkah kagetnya ia melihat pasukan lelembut yang dipimpin oleh Dharmadipa berjalan memasuki keraton. “Kalian berempat, lekas panggil Kyai Pamenang kemari, katakan Dharmadipa bersama pasukan lelembutnya telah datang di gerbang utama ini!”

Keempat prajurit yang disuruh segera berlari masuk untuk menemui Kyai Pamenang, sedangkan puluhan pasukan berani mati lainnya dengan dipimpin oleh Ki Sentanu segera menerjang Dharmadipa dan pasukan lelembutnya! Namun tentu saja itu adalah perbuatan sia-sia, dalam sekejap puluhan prajurit itu itu tewas dan hanya menyisakan Ki Sentanu seorang diri!

Panglima tua inipun menjadi nekad, ia melakukan serangan putus asa, ia menerjang menggunakan keris pusakanya yang bernama Keris Pusaka Kyai Jagat, namun rupanya keris pusaka bertuah tersebut tak sanggup untuk melukai Dharmadipa maupun kawanan para lelembut itu, kerisnya hanya seolah-seolah menyabet bayangain dan angin saja, malah ia beberapa kali terkena pukulan dahsyat dan cakaran-cakaran beracun dari para lelembut itu, dan satu tendangan dahsyat dari Dharmadipa membuat sang senopati terpental tiga tumbak! Ia jatuh membentur tembok keraton lalu jatuh berguling-guling, tiga tulang rusuknya patah, dari mulutnya muntah darah segar!

“Setan! Jangan pikir kalian sudah menang!” bentak Ki Sentanu sambil memegangi tulang rusuknya yang patah, ia lalu memejamkan matanya, mulutnya berkomat-kamit, ia mengangkat tangan kanannya keatas dan tiba-tiba di telapak tangannya muncul satu bola mutiara besar berwarna hitam, Dharmadipa dan para lelembut yang melihatnya segera melangkah mundur.

“Hahahaha… Kalian takut?! Rasakanlah Mustika Bola Mata Kobra Pelebur Nyawa ini!” Ki Sentanu melemparkan bola mutiara berwarna hitam tersebut, bola mutiara tersebut langsung berubah menjadi bola api raksasa! Dan Ajaibnya bola api raksasa itu seolah bermata dan bernyawa, dia terus mengejar para lelembut itu ke manapun mereka menghindar!

Kemudian dengan satu komando dari Dharmadipa, semua lelembut itu merasuki tubuh Dharmadipa, Dharmadipa pun mendorongkan kedua tangannya, dari kedua tangannya keluar satu awan hitam berpetir yang sangat besar, awan itu kemudian menerjang Mustika Bola Mata Kobra Pelebur Nyawa, dan awan ciptaan Dharmadipa tersebut menelan Mustika Bola tersebut, lalu… Duaarrr!!! Terjadilah satu ledakan dahsyat yang mengguncangkan seantero tempat itu, Mustika Bola Mata Kobra Pelebur Nyawa milik Ki Sentanu yang begitu ampuh itu hancur lebur!

Ki Sentanu kaget bukan main melihat senjata andalannya yang hancur lebur tersebut, dia terkesima sehingga kejadian ini tak disia-siakan oleh Dharmadipa, mayat hidup itu melompat keatas dan menukik kebawah, kedua telapak tangannya menghantam kepala Ki Sentanu, Ki Sentanu menjerit hebat ketika tangan Dharmadipa mendorong kepala Ki Sentanu kebawah sehingga seluruh tubuhnya melesak kedalam tanah dan hanya menyisakan kepalanya! Ki Sentanu pun tewas dengan seluruh tubuhnya yang dalam keadaan berdiri terbenam kedalam tanah, dan hanya kepalanya yang hancur dengan otak berhamburan keluar yang tidak terbenam!

Sepuluh lelembut anak buah Jin Bagaspati pun kembali keluar dari tubuh Dharmadipa, mereka tertawa terbahak-bahak dengan suaranya yang amat menyeramkan menggetarkan seluruh keraton Rajamandala, setelah itu mereka pun kembali melangkah pergi meninggalkan Keraton Rajamandala dan hilang lenyap bagaikan asap ditiup angin!

Beberapa saat kemudian tibalah Kyai Pamenang dan Ki Balangnipa yang memimpin para lurah tantama serta ratusan prajurit ke tempat itu, alangkah terkejutnya mereka melihat pemandangan yang begitu mengerikan di pintu gerbang Keraton Rajamandala tersebut. “Ya Gusti Allah! Kita terlambat!” keluh Kyai Pamenang dengan penuh penyesalan.

“Tapi Saya heran Kyai, kita tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai disini, tapi Ki Sentanu dan para prajurit lainnya sudah tewas semua dengan begini mengenaskan! Padahal semua orang di Mega Mendung tahu bahwa Ki sentanu adalah orang yang sangat linuwih dalam ilmu kanuragan!” ucap salah seorang lurah tantama.

“Itulah perbedaan kita dengan mahluk ghaib, mungkin karena sekat pembatas antara alam ghaib dengan alam nyata sudah melebur karena para lelembut itu menguasai tubuh Dharmadipa, para lelembut itu bisa menarik musuhnya ke satu alam di antara alam ghaib dengan alam nyata.”

“Ya… Ya saya ingat, seperti kejadian yang menimpa Ki Jaka Yaksa dan Ki Panji Andara yang kematiannya sangat aneh itu!” sahut lurah tantama yang lainnya.

“Sudah, sebaiknya kita urus jenasah mereka, besok pagi kita kuburkan dengan layak!” pungkas Kyai Pamenang, ia kemudian menatap mayat Ki Sentanu yang tewas dengan mengerikan. “Dengan tewasnya Ki Sentanu, sekarang orang penting di Mega Mendung hanya tersisa Gusti Prabu dan Ki Balangnipa, sepertinya firasatku memang benar, sebentar lagi Mega Mendung akan sirna ilang kertaning bumi.” pikirnya dengan sedih.

“Sepertiga prajurit urus jenasah-jenasah ini, sisanya ikut saya untuk berkeliling berpatroli mencari setan itu, berhati-hatilah dan selalu waspada! Kalau ada apa-apa jangan bertindak sendiri, segera beri aba-aba pada yang lainnya untuk segera bergabung dengan kalian!” komando Ki Balangnipa.

***


Cuap-Cuap :

Akhir-akhir ini penulis lagi seneng dengerin lagu jaman old dari Morrissey judulnya “The More You Ignore Me, The Closer I Get” itu lagu tentang “Stalker”… Eh apa ya hubungannya sama kisah ini ya? Apa penulis lagi curcol? Hehehe :D Enggak keduanya kok… Lagu tersebut memang bercerita tentang Stalker yang ngejar-ngejar cewek idamannya. Biasanya Stalker diasosiasikan dengan hal yang negatif, tapi si pencipta lagu itu malah bikin Stalker jadi tema lagunya, lagu itu sukses pada masanya, banyak yang suka, dan banyak orang yang jadi terbuka wawasannya tentang “Romansa Dari Kisah Cinta Yang Dimulai Dari Stlaking Gebetan”. Jadi selalu ada “Reverse Logic” dari segala hal :D

Maaf ngomongnya jadi kemana-mana nih hehehe… Lewat kesempatan ini, penulis cuma pengen ngadain angket kecil-kecilan, yang ga terlalu serius jadi mungkin ga terlalu penting juga :P Angketnya cuma ngehayal doang kok :D

Okey ini angketnya, kita ngelamun aja ya… Menurut para sahabat pembaca, kalau “Wasiat Iblis” ini diangkat menjadi film, siapa aja yang cocok memerankan para tokoh utamanya seperti Jaya Laksana, Mega Sari, Dharmadipa, Galuh, dll?

Lha apakah Wasiat Iblis beneran akan dibikin filmnya? Enggak, cuma ngelamun aja, tapi kalau para sahabat berkenan, ya kita doain aja :D Salam