Episode 312 - Mempelai Lelaki



Seekor ikan pari raksasa melayang ringan di atas permukaan lautan berombak. Sirip di sisi kiri dan kanannya mengalun gemulai dan ekor panjangnya bergerak mengibas perlahan. Berdiri di atas pundak ikan pari tersebut, adalah seorang nenek tua nan bungkuk yang terlihat sangat letih. 

Sekujur lengan kiri bergemetar ketika ia memaksakan diri untuk mengangkatnya. Lemah sekali nyatanya ia, bahkan untuk mengangkat lengan saja terpaksa berupaya demikian keras. 

Di kala mengangkat lengan kiri itu, terdapat keanehan yang tak mungkin lepas dari perhatian. Bahwasanya, setelah pergelangan lengan kiri, maka terlihat telapak tangan kanan. Dengan kata lain, perempuan tua itu memiliki dua telapak tangan kanan, bahkan pada lengan kiri! Walau, sedikit perbedaan terletak pada telapak tangan di lengan kiri yang berwarna lebih muda. Sungguh abnormal! 

Sorot matanya lalu terpusat hanya pada pergelangan tangan kiri, tepatnya pada posisi di mana nadi berada. Berdenyut kencang, dari permukaan kulit di atas nadi kemudian merambat keluar sebulir darah segar. Merah dan pekat! 

Raut wajah perempuan tua itu seketika berubah kusut. Terhadap sebulir darah tersebut, ia kemudian membangun jalinan mata hati.

“Raja Angkara Durkarsa akan memenuhi panggilan. Mohon kesediaan menunggu, karena masih membutuhkan waktu yang panjang sebelum dapat memulihkan kemampuan seperti sedia kala…” 


===


Aroma pengap dari tempat yang gelap tertutup sungguh menyesakkan dada. Permukaan lantai terbuat dari batu, membuat suhu di dalam aula menjadi semakin lembab. Jangankan cahaya mentari, hembusan angin pun seolah enggan masuk ke dalam aula nan berukuran luas itu. 

Beberapa anak tangga yang juga terbuat dari bongkahan-bongkahan batu hitam, mendaki ke atas sebuah panggung. Di atas panggung, adalah satu-satunya sumber penerangan di dalam aula, di mana sepasang obor terlihat mengapit sebuah kursi singasana megah yang tersusun dari bongkahan bebatuan nan kokoh. 

Sesosok tubuh kekar dan besar sedang duduk diam di atas kursi singasana nan temaram itu. Siku lengan kanannya bertumpu pada sandaran batu singasana, dan telapak tangan kanan menopang dagu. Meski matanya terpejam, aura yang ia pancarkan terlalu gelap sampai tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. (1)

Perlahan ia membuka kelopak mata, lalu menoleh kepada sebulir darah segar yang sebelumnya merambat keluar dari nadi di pergelangan lengan kiri. Kini, sebulir darah tersebut melayang setara mata persis di depan wajah. Sepanjang kejadian terkait bulir darah ini berlangsung, sama sekali tak terjadi perubahan pada posisi duduk serta raut wajah lelaki tersebut. 

“Raja Angkara Durjana menantikan kunjungan….,” suara nan berat terdengar ketika mulut berujar dan mata hatinya menebar.


===


Seorang remaja lelaki berkulit tubuh gelap melangkah gontai. Beberapa hari sebelumnya ia terlibat dalam pertarungan sengit dengan mitra lama. Tenaga dalam banyak terkuras, oleh karena itu hari ini ia masih terlihat lemas. 

Menyoren di pundak remaja lelaki tersebut, adalah sebilah keris raksasa berwarna keemasan. Bukan hanya bentuk dan warna keris tersebut yang menarik perhatian, melainkan ujungnya keris yang bercabang dua mirip dengan lidah ular yang membuat penampilannya menjadi semakin janggal. Tak sembarang ahli yang dapat mengerahkan keris raksasa tersebut. Pada kenyataannya, saat ini hanya terdapat tiga ahli yang memenuhi persyaratan menebaskan keris Tameng Sari serta memperoleh anugerah yang menyertainya.

Mengangkat lengan dan mencermati pergelangan lengan kiri di mana nadi berdenyut kencang, sebulir darah lalu merembes keluar. Raut wajah remaja lelaki berkulit tubuh gelap tersebut berubah jengah dan jelak.

“Tunggu apa lagi!?” Tetiba terdengar suara melalui jalinan mata hati, yang berasal dari sang keris. “Mari kita tebas, babat, bacok, potong, cencang, kerat, tetak, tusuk, tikam, iris, toreh, sayat, beset, rajang, caruk, penggal, pancung, kayau!” 

“Cih! Aku tak akan memenuhi panggilan!” umpat remaja lelaki bertubuh gelap itu naik darah. Kata-kata penolakan yang berhembus dari mulutnya, sesuai sekali dengan gelar ‘Durhaka’ yang ia sandang sebagai salah satu Raja Angkara. 


===


Melesat cepat membelah pepohonan dan rerumputan yang tumbuh subur, adalah seorang pemuda. Gerakannya gancang ibarat kuda jantan yang mengejar kuda-kuda betina di kala musim kawin. Penuh hasrat dan penuh gelora, bergegas sekali ia hendak menunggangi kuda-kuda betina, untuk melampiaskan dan menghujamkan nafsu birahi. Padahal, sesungguhnya tak ada kuda binal yang sedang dikejar. Tak ada barang seekor pun. 

Tetiba pemuda tersebut menghentikan langkah. Raut wajahnya berubah heran tatkala menyaksikan sebulir darah yang merambat lambat dan keluar dari nadi di pergelangan lengan kiri. 

“Tepat pada hari di mana aku terbebas dari formasi segel yang dirapal si anjing Pangkalima Rajawali, datang pula panggilan berkumpul dari anjing lain. Apakah kebetulan semata…? Anjing-anjing memang selalu punya cara untuk merusak kesenangan…” Ia bergumam kepada diri sendiri. 

Sembari memantau keadaan sekeliling, ia lalu menebar mata hati kepada bulir darah segar yang sedang melayang setinggi leher. Dengan tenang, pemuda tampan tersebut kemudian berujar… “Raja Angkara Durjasa hendak bersenang-senang terlebih dahulu… Aku akan datang memenuhi panggilan bilamana sudah bosan nanti…” 


===


Suhu teramat sangat rendah sehingga uap terlihat jelas keluar dari bibir pucat ketika menghembuskan napas. Dari langit nan cerah, butiran-butiran putih berguguran sembari membawa hawa dingin. Udara pun sangat tipis, menjadi petunjuk tambahan bahwa tempat ini berada pada titik tertinggi Negeri Dua Samudera. 

Seorang gadis belia nan cantik jelita sedang memandang keluar dari sisi dalam sebuah jendela besar di atas menara. Serba putih dengan berbagai gradasinya, adalah panorama yang tersaji sejauh mata memandang. Entah apa yang sedang ia pikirkan di balik raut wajah tanpa ekspresi. Sama sekali tak dapat ditebak. 

Dingin. 

Semilir angin yang berhembus terdengar bersiul sembari memperluas hawa dingin, lalu membelai rambutnya yang berwarna seputih salju. Angin juga menyapa pakaian tipis menerawang yang ia kenakan, di mana siluet lekuk tubuh meliuk menggoda tatkala gadis belia itu memutar tubuh. 

Melanjutkan dengan langkah gemulai, lembaran-lembaran pakaian tipis yang ia kenakan menyibak kulit putih lagi mulus. Semakin menarik perhatian lagi, adalah kenyataan bahwa ia tiada mengenakan pakaian dalam. Samar, sepasang payudara berukuran sedang berguncang ringan, senada seirama dengan gerakan pinggul nan sintal.

Sebuah kursi singasana tinggi dan megah, yang dimahkotai oleh pilar-pilar es yang menyeruak runcing di kedua sisi dan ke arah atas, menanti beku. Tatkala gadis belia itu duduk perlahan, uap dingin di atas es menyingkir halus seolah memberi ruang. Dengan gerak lambat yang demikian anggun, ia terlihat sangat serasi dengan singasananya. 

Bekunya es yang menjadi singasana tiada memberi pengaruh sama sekali, bahkan terhadap tubuh yang hampir tanpa busana. Tatapan mata dingin gadis belia itu mengamati sebulir darah yang sebelumnya merambat keluar dari nadi di pergelangan lengan kiri. Melayang merah pekat, sungguh bulir darah nan segar bertolak belakang dan tampil mencolok di tengah-tengah es dan salju.  

Terhadap bulir darah yang melayang, gadis belia itu hanya menatap kosong. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir tipis nan tampil pucat, tak ada pula jalinan mata hati yang menebar menjalin ikatan. 

Si gadis belia itu sepenuhnya mengabaikan panggilan darah….


===


Sebuah ruang aula yang luas dan berkilau keemasan. Corak yang menghiasi aula tersebut adalah unik adanya, karena terdapat lubang-lubang seukuran jendela dengan bentuk persegi enam. Tersusun rapi dan saling berkaitan pada permukaan dinding dan langit-langit, lubang-lubang persegi enam itu tak terbilang jumlahnya saling berdempetan membangun kubah besar berbentuk lonjong. 

Menambah keunikan yang tersaji, bahwasanya di dalam lubang-lubang persegi enam terdapat cairan kental dan lengket mirip lendir yang berwarna keemasan pula. Aroma semerbak dari lendir kental lengket tersebut demikian menyegarkan dan membangkitkan berbagai selera. Lendir yang sama pula yang membiaskan warna keemasan ketika menerima pencahayaan dari sang mentari. 

Di satu sisi ruang aula, sebuah panggung berbentuk persegi enam yang disusun rapi tanpa cela. Pada sisi atas panggung, berdiri megah sebuah kursi singasana dengan sandaran berbentuk persegi enam, serta dasar yang juga persegi enam. Ada apa dengan persegi enam, apakah sedang menjadi tren terbaru di tempat ini…? Tidak, bukanlah itu pertanyaan yang tepat untuk diajukan. Melainkan, dimanakah tempat ini terletak…?

Sepasang anak remaja lelaki dan perempuan berdiri diam tepat di hadapan panggung kursi singasana. Sekujur tubuh keduanya tiada dapat digerakkan, menoleh tak bisa, bahkan membuka mulut tiada memungkinkan. Sebagai tambahan lagi, jalinan mata hati tiada pula dapat dikerahkan. Yang dapat keduanya lakukan, adalah melirik, bernapas serta mendengar. 

Tetiba berkas cahaya terang jatuh menerobos lendir keemasan dan menyinari singasana tepat dari arah atas. Suasana berubah semakin cerah, dan dipenuhi dengan kehangatan. Alunan musik mulai terdengar pelan dan merdu, entah dari mana datangnya. Yang jelas, keadaan ini menandakan bahwa akan ada yang segera datang. 

Empat bola mata milik sepasang anak remaja lelaki dan perempuan yang masih berdiri kaku, melirik ke atas. Keduanya mencari sumber datangnya cahaya, namun dikejutkan pada kehadiran delapan ahli yang melayang turun perlahan ibarat dewa dan dewi dari kahyangan. Empat di sisi kiri, dan empat di sisi kanan dengan susunan berpasang-pasangan lelaki dan perempuan. 

Sepasang anak remaja lelaki dan perempuan itu melotot heran. Masing-masing dari delapan ahli mengenakan pakaian lengkap dan rapi ibarat pejabat tinggi di negeri antah berantah. Mereka turun serempak dan perlahan, serta memilki sepasang sayap semi transparan dengan motif mirip ranting pepohonan. Panjang sayap setengah depa, mengepak cepat bermain dengan udara.

Apakah itu sayap asli…? Ataukah benda pusaka berbentuk sayap yang digunakan untuk terbang bebas…?

Kedelapan ahli telah mendarat dan berdiri di kedua sisi singasana. Mereka mengamati sepasang anak remaja lelaki dan perempuan di hadapan dengan seksama. Sulit dipercaya bilamana tak disaksikan langsung, akan tetapi postur tubuh dan wajah kedelapan ahli itu sama persis. Cantik dan tampan, serta tinggi langsing. Sementara yang membedakan setiap satu dari mereka, adalah pada permukaaan kulit tubuh kuning langsat, yang mana memiliki motif bergaris-garis kelabu.

Alunan musik yang awalnya terdengar pelan, tetiba menjadi rancak. Suasana berubah meriah dan berkas cahaya semakin berkilau. Kedelapan ahli yang telah tiba, sontak memutar tubuh dan membungkuk ke arah singasana. 

Sepasang anak remaja lelaki dan perempuan kemudian menyaksikan sebuah gumpalan bulat dan besar yang melayang turun lebih perlahan lagi. Lilitan kain selembut sutera berwarna-warni membalut gumpalan bulat besar tersebut. Ia juga memiliki sepasang sayap di punggung. Aura yang terpancar mencerminkan kebangsawanan sampai seolah menyilaukan mata. 

Gumpalan bulat besar tersebut mendarat. Sepasang anak remaja lelaki dan perempuan baru menyadari bahwa sesungguhnya ia adalah seorang perempuan dewasa bertubuh gemuk. Mengenakan pakaian ketat dengan belahan dada rendah, payudaranya menyembul megah. Pinggulnya besar dan lebar, yang mungkin membutuhkan dua atau tiga rentangan lengan lelaki dewasa untuk dapat memeluk pinggul tersebut. Wajahnya senada dengan ahli-ahli sebelumnya, hanya berbetuk lebih bulat lagi besar. 

“Yang Mulia Ibunda Ratu, sembah sujud kami haturkan!” Kedelapan ahli lelaki dan perempuan serempak menyambut junjungan mereka. 

Perempuan gemuk yang disapa sebagai sang ratu, mengambil tempat di kursi singasana. 

Dari balik kursi besar tersebut, seorang ahli tetiba melangkah keluar sambil membawa sebuah gentong. Ia bersujud, meyodorkan gentong, lalu diam di tempat demi menjaga gentong itu berada dalam jangkauan.  

Lengan kanan yang besar dan gempal milik sang ratu kemudian dicelupkan ke dalam gentong. Lendir keemasan seperti yang berada di seluruh penjuru dinding aula, kemudian terlihat membungkus jemari besar-besar. Sang ratu lalu menyempalkan apa pun itu ke dalam mulutnya! 

Sungguh lahap dan nikmat rasanya ia menyantap lendir keemasan itu. 

“Yang Mulia Ibunda Ratu…,” tetiba seorang lelaki di antara delapan ahli menyela. 

Di luar perkiraan, sang ratu tetiba melotot berang. Kedua bola matanya hampir melompat keluar. Suasana yang tadinya semarak, berubah tegang. Bahkan alunan musik tetiba berhenti. Sepertinya, ia sangat tak senang mendapat gangguan di kala sedang menyantap hidangan. Sedangkan lelaki tadi, hanya mampu menundukkan kepala. 

Suasana berlanjut hening sampai beberapa saat. Satu-satunya suara yang terdengar adalah bunyi yang ditimbulkan sang ratu saat menyeruput lendir kental keemasan. Kini, ia sedang menjilati jari-jemari sampai ke sela-selanya. Sungguh penuh penghayatan, ibarat tak ada kenikmatan lain yang dapat mengalahkan. 

“Apa yang hendak kalian sampaikan…?” tetiba sang ratu berujar. Suaranya terdengar serak. 

“Yang Mulia Ibunda Ratu…” Seorang perempuan dari delapan ahli di depan panggung singasana menanggapi, “Sepasang anak remaja ini adalah manusia yang Ratu titah untuk diselamatkan tempo hari....” 

“Hm…? Anak manusia…?” Sang ratu menatap sepasang anak remaja lelaki dan perempuan yang masih berdiri kaku. 

“Kita menghadapi risiko gesekan dengan dua kerajaan siluman lain…” Lelaki yang tadi menyela dan dipelototi, memperoleh ruang bicara. 

“Oh… aku ingat!” Sang ratu tetiba bersuara. “Dua anak remaja ini tertinggal…. dan aku menyelamatkan mereka.” 

“Yang Mulia Ibunda Ratu… Kita tak memiliki kegunaan atas anak-anak manusia. Keberadaan mereka di kerajaan hanya akan mengundang masalah.” Ahli lelaki yang lain menimpali. 

“Aku tak bisa membiarkan mereka mati. Aku memiliki kesepakatan dengan Pangkalima Rajawali ratusan tahun silam. Ia pernah menyelamatkan jiwaku, dan aku berjanji akan melindungi anak cucunya di kemudian hari.” Sang ratu kembali mencelupkan tangannya ke dalam gentong. 

Suasana berubah gaduh. Delapan ahli, empat perempuan dan empat lelaki dewasa yang diperkirakan sebagai punggawa kerajaan, saling berbisik. Akibat mendengar nama Pangkalima Rajawali, raut wajah sebagian dari mereka berubah cemas. Tidak lagi berbisik, suara perbincangan dan perdebatan di antara mereka sontak bergema di dalam aula nan luas. Jelas ada yang sepakat dengan kehendak sang ratu, namun ada pula yang mempertentangkan. 

“Aku telah memutuskan…” Tetiba sang ratu berujar sembari menjilat jemarinya. Lendir keemasan masih terlihat di antara sela. “Aku akan mengangkat anak perempuan itu sebagai dayang-dayang,” lanjutnya sambil menunjuk ke arah gadis belia bertubuh mungil. 

“Yang Mulia Ibunda Ratu, mohon dipertimbangkan.”

 “Yang Mulia Ibunda Ratu, keturunan Pangkalima Rajawali malah akan membawa bencana bagi kerajaan...” 

“Aku sudah memutuskan!” titah sang ratu nan bertubuh gemuk, kembali mencelupkan tangan ke dalam gentong. “Sedangkan untuk anak lelaki itu… aku merasa bahwa ia berasal dari keturunan yang tak biasa.” Ia menyeruput lendir keemasan dengan nikmatnya. 

Kedelapan ahli menanti cemas. 

“Oleh karena itu, aku akan menjadikan anak lelaki itu sebagai mempelai lelaki!” sambung sang ratu menyibak senyum.



Catatan:

(1) Episode 175

(2) Durjasa/dur·ja·sa/ n 1 kehilangan kepercayaan; 2 perbuatan yang merugikan