Episode 62 - Pertarungan Dua Gadis Cantik



Dengan terburu-buru Angel berlari menuju rumah sakit. Setelah kejadian itu, Danny masih belum sadarkan diri, akan tetapi dokter berkata bahwa tidak ada luka serius di tubuhnya, hanya masalah waktu saja sampai akhirnya dia bangun.

Menelusuri lorong sambil membawa buah-buahan, Angel dengan antusias berjalan sambil berharap bahwa Danny telah bangun. Sampai di depan pintu ruangan Danny, Angel langsung membukanya dan masuk ke dalam.

Angel terkejut dengan apa yang dilihatnya, di dalam ruangan Danny masih terbaring dengan mata terpejam. Namun, ada seorang gadis cantik yang duduk sambil memainkan rambut Danny. Gadis tersebut adalah Alice.

“Oh, kamu...?” Alice berkata sambil berpikir siapa gadis seksi yang datang.

Angel dengan percaya diri berjalan mendekat lalu memajukan tangannya sambil berkata, “Perkenalkan, namaku Angelia.”

“Namaku...”

Belum sempat Alice mengenalkan dirinya, Angel memotongnya dan berkata “Alice, kan?” 

“I-iya, benar, bagaimana kau bisa mengenalku? Atau apakah kita pernah bertemu dulu? Maaf, aku tidak bisa mengingat apapun tentangmu.” Angel berkata sambil menundukan kepalanya.

“Haha, tenang saja, kau mungkin tidak mengenalku, tapi tidak ada orang di sekolah yang tidak mengenalmu. Sang Dewi Sekoalah, Alice.” Ucap Angel sambil tersenyum kecil.

“Kau terlalu melebih-lebihkan, itu semua hanya omong kosong, lagipula jika dibandingkan kau lebih cantik daripada aku.” Ucap Alice.

“Haha, kau bercanda, jika bicara tentang siapa yang paling cantik, jawabannya pasti kau, tentu saja.” Ucap Angel.

Memang terasa aneh. Namun, begitulah wanita. Mereka akan kembali memuji orang yang memujinya, dengan harapan bahwa orang tersebut akan memujinya kembali.

Angel berjalan ke sisi lain ranjang lalu memandang Danny yang sedang terbaring dengan lelap. Di sisi lain, Alice memperhatikan dengan serius tatapan yang Angel berikan pada Danny.

Masih menatap Danny yang sedang terlelap, Angel dengan lembut berkata, “Dia imut ya kalau sedang tidur.”

“Hmm,” Alice mengalihkan pandangannya pada Danny lalu mengangguk, “kau benar.”

“Hehe,” Angel terkekeh lalu kembali bertanya, “aku boleh tahu tidak bagaimana awal pertemuanmu dengan dia?”

“Tentu saja...”

Kemudian Alice menceritakan bagaimana dia bertemu dan kenal seperti sekarang ini. Dari sudut pandang Danny, dia baru mengenal Alice sejak masuk ke SMA. Namun, sebenarnya mereka sudah lama sekali bertemu. Dan, sejak perjumpaan pertama itu, Alice telah jatuh hati pada Danny. 

Tapi, tentu saja Alice hanya membicarakan tentang bagaimana mereka berdua bisa bertemu dan tingkah lucu dari Danny saat kecil dulu dan tingkah anehnya yang sangat menggilai tentang militer, tanpa pernah berkata bahwa dia mencintai Danny.

“Haha, ternyata dia lebih aneh dari pada yang aku duga, tapi entah kenapa aku tidak menyangka dia seperti itu, atau memang saat bersamaku saja dia jadi terlihat dinging dan terkesan misterius.” Ucap Angel sembari mengingat bagaimana tingkah Danny saat bersamanya.

“Aku juga tidak tahu, tapi kurasa belakangan ini dia berubah, dia tidak seperti dia yang dulu lagi.” Alice berkata dengan tatapan yang sendu.

“Maksudmu?”

“Seperti yang aku ceritakan, dia dulu adalah orang yang ramah dan sedikit aneh, tapi dia tidak pernah sekalipun memasang wajah dingin di depan orang lain, karena itu aku merasa dia seperti bukan dia lagi.”

“Mungkin saja dia sedang ada masalah akhir-akhir ini.” Hibur Angel.

“Benar, mungkin dia sedang ada masalah,” Alice menatap dengan rindu pada Danny, “lalu, kalau kau sendiri, bagaimana pertemuan pertamamu dengan dia?”

“Kalau aku...”

Kemudian Angel mulai menceritakan tentang bagaimana dia pertama kali bertemu Danny di belakang sekolah. Di siang itu, Angel merasa sangat mengantuk karena malam sebelumnya dia berlatih dengan keras, akhirnya dia memutuskan untuk ke tempat di mana dia biasa membolos, tapi ternyata sudah ada Danny di sana. Namun, karena Angel terlalu malas untuk mencari tempat lain, akhirnya dia malah menjadikan pangkuan Danny sebagai bantal.

Saat terbangun, Angel dan Danny melihat seorang siswa yang sedang di bully oleh beberapa siswa. Namun, Danny tidak memedulikannya. Akhirnya Angel bergegas untuk membantu, tapi entah kenapa Danny malah mengikutinya dan akhirnya Danny dengan cepat mencoba untuk membantu. 

Tapi, ternyata orang yang sebelumnya Angel dan Danny anggap sebagai korban, malah menghajar mereka semua sendirian. Semua terjadi begitu cepat dan begitu kejam.

Akhirnya, Danny bertarung dengan siswa itu dan dari pertarungan inilah yang membuat Angel tertarik untuk mengajaknya masuk ke dalam perguruan bela diri Iblis Merah nya. 

Namun, semua tidak berjalan dengan mulus karena Ayah Angel merasa sikap Danny sangat tidak sopan. Akan tetapi, setelah melihat pertarungan Danny dengan beberapa orang di depan bangunan perguruan bela diri, Ayah Angel tidak lagi menolak apabila putrinya ingin Danny masuk ke dalam perguruan bela diri Iblis Merah.

Semuanya Angel ceritakan, kecuali tentang topik mesum yang kadang meraka bicarakan.

Mendengar cerita dari Angel membuat Alice sedikit terperangah, karena Danny yang dia kenal sebelumnya sama sekali berbeda dari apa yang Angel katakan. 

Danny yang Alice kenal akan membantu orang lain, apalagi orang yang sedang dalam kesusahan. Danny yang Alice kenal selalu bersikap ramah, apalagi kepada orang yang lebih tua. Danny yang Alice kenal, berbeda dengan Danny yang Angel ceritakan.

“Oh, iya, kalau boleh tahu apa hubunganmu dengan Danny?” tanya Alice menyelidik.

“Hehe, kami hanya teman.” Jawab Angel dengan senyum kecil.

“Oh, begitu.” Ucap Alice sembari mengangguk pelan.

“Kalau kau bagaimana?”

“Kalau aku?” Alice berpikir sejenak lalu kembali berkata, “mungkin, bisa dibilang teman dekat.”

Setelah mendengar jawaban dari Alice entah kenapa Angel merasa kalah. Karena dia bukan orang yang dengan mudah menyerah dan mengaku kalah, Angel berpose seperti sedang berpikir lalu berkata, “Hmm, sepertinya hubunganku dengan Danny bukan hanya teman, sih.”

“Eh? Maksudmu?” tanya Alice.

“Yah, aku tidak terlalu yakin tentang ini.” Angel mencoba membuat Alice penasaran.

“Aku tidak mengerti, tolong katakan dengan jelas apa maksudmu.” Alice berkata dengan tidak sabaran.

“Tidak, jangan dibahas lagi, aku terlalu malu bahkan untuk mengingatnya.” Ucap Angel.

Apa yang Angel maksud adalah tentang percakapan mesum antara dia dan Danny. Namun, karena dia menyampaikannya dengan ambigu, Alice menangkapnya sebagai sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih kotor.

Ruangan sunyi untuk beberapa saat, kemudian di atas ranjang, Danny yang sedari tadi tak sadarkan diri mulai mengerjapkan matanya. Tidak, dia bukan Danny, tapi Dan. 

Dan terbangun dan melihat dua orang gadis, yang satunya adalah seorang gadis yang baru-baru ini datang dihidupnya dan yang lainnya adalah gadis yang sudah cukup lama berada di dekatnya. Melihat mereka berdua di dalam ruangan yang sama membuat kepala Dan yang masih pusing, menjadi lebih pusing.

“A-air.” Ucap Dan pelan.

Di ruangan yang sepi itu, suara Dan seolah menjadi bom yang membuat semua orang yang berada di sana menjadi terkejut. Dengan sigap Alice mengambil gelas yang berisi air di atas meja di dekatnya. Lalu dengan sangat lembut Alice membantu Dan untuk meminumnya.

Melihat kejadian itu, Angel tidak tahu apa yang dia rasakan, yang pasti dia merasa sangat tidak enak, bukan, mungkin lebih tepatnya tidak suka.

Setelah membantu Dan untuk minum, Alice melirik ke arah Angel dan menampilkan senyum kemenangan. Persaingan antara dua gadis terjadi dengan begitu lembut, tapi menyakitkan.

“Terima kasih.” Ucap Dan pelan.

“Hmm ... sama-sama.” Balas Alice dengan senyum yang merekah.

“Oh ya, Danny, aku akan membayar janjiku, kau boleh menyentuh pantatku.” Ucap Angel dengan santainya.

“Ap-apa? Menyentuh pantat?” ucap Alice lalu menoleh di antara Angel dan Dan. Dalam hatinya Alice bertanya-tanya, seberapa dekat hubungan mereka berdua?

Dan menoleh ke Angel dan berkata, “Janji apa?”

“Masa kau lupa, sih, padahal baru beberapa hari yang lalu aku menjanjikannya.” Ucap Angel.

Tidak, sebenarnya janji itu tidak pernah ada. Angel hanya mengada-adakannya untuk menyerang Alice. Juga, tentu saja walaupun Angel berkata begitu, dia tidak akan membiarkan Dan menyentuh pantatnya. Dia bukan gadis murahan.

“Benarkah? Aku tidak mengingatnya?” ucap Dan.

“Hehe, kau salah orang, mungkin kau berjanji ke pria yang lain.” Ucap Alice dengan lembut. Sebuah ucapan yang dapat membuat siapa saja tenang mendengarnya. Namun, isi dari kalimatnya sangat beracun. 

“Tidak mungkin, aku masih sangat sehat, lihat dada dan pantatku sangat seksi, semua giziku terpenuhi.” Balas Angel.

Kali ini, Angel menggunakan aspek tubuhnya yang jauh lebih menarik di mata laki-laki manapun. Sesuatu kelebihan yang Angel miliki, tapi tidak untuk Alice. Karena meskipun Alice memiliku wajah yang sangat jeliita, akan tetapi tubuhnya tak semolek Angel.

“Hoho,” Alice menutup mulut dengan tangan kirinya, “yah, mungkin semua gizimu menuju ke tempat itu, jadi bagian ‘ini’ tidak mendapat bagian.” Alice memegang kepalanya dengan tangan kanannya.

Pertarungan kata oleh dua gadis makin sengit. Ejekan tersembunyi dan serangan terus mengalir. Di atas ranjang, Dan masih terbaring sambil menyaksikannya. Dia tidak berusaha menghentikan mereke berdua, karena tubuhnya masih terasa sangat lemas.

Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, sesosok pria muncul. Wajah pria itu biasa saja, tubuhnya normal seperti orang pada biasanya, auranya juga sperti oranng biasa. Pria itu benar-benar terlihat seperti orang biasa. Namun, dia bukan orang biasa, karena jiwa yang berada dalam tubuh itu adalah Alsiel.

Alsiel berjalan dengan cepat ke samping ranjang Dan lalu duduk dengan satu kaki sembari menunduk dengan penuh hormat, “Tuan, akhirnya aku bisa menemukanmu.”

Dan mencoba bangkit dari baringnya lalu dengan perlahan melihat Alsiel, “Kau?”

“Aku Alsiel, Tuan.” Alsiel menjawab dengan tegas.

Dan melirik ke arah Angel dan Alice lalu berkata, “Bisakah kalian berdua keluar terlebih dahulu.”

Angel dan Alice sangat terkejut. Siapa sebenarnya pria itu?

Tanpa mengatakan apa-apa Angel dan Alice berjalan keluar kamar dan menutup pintu. Di luar ruangan mereka berdua saling pandang lalu kemudian tertawa. Mereka tidak menyangka, pria yang sedang mereka rebutkan ternyata lebih memilih untuk bersama dengan pria lain, ketimbang mereka, dua orang gadis dengan kecantikannya.