Episode 310 - Racun Api



Jauh tinggi di atas sana, gumpalan awan berarak ringan. Mereka senantiasa mengamati keadaan yang berlangsung di permukaan bumi, namun tak pernah hendak ikut campur. Walau terkadang, gumpalan awan bersatu-padu dan saling bergumul sehingga menjadi gelap dan berat. Ketika itu terjadi, awan-awan tanpa sengaja memuntahkan air yang berjatuhan membasahi permukaan bumi. 

Pepohonan besar-besar yang berdiri tegar dan ilalang tinggi-tinggi yang menari gemulai, pun tiada peduli ketika dua ahli bergerak beriringan dengan gesit di antara mereka. “Biarkan saja, biarkan mereka mencari mati…” mungkin adalah demikian kata-kata yang terlontar dari pepohonan dan ilalang. 

Suasana rimba belantara siang itu demikian tenang. 

Tetiba kedua ahli itu secara serempak menghentikan langkah. Yang depan, seorang lelaki dewasa muda berbalut perban di sekujur tubuh menyapu pandang. Ia mengamati wilayah sekeliling. Di belakangnya, napas sedikit terengah, seorang anak remaja yang mengenakan jubah hitam menanti sabar. 

“Sebentar lagi kita tiba,” ujar Sangara Santang sambil menghela napas. “Apakah dikau masih sanggup meneruskan…?”

Kum Kecho tiada membalas dengan kata-kata, ia hanya mengangguk pelan. Walau sudah dua hari dan dua malam mereka bergerak tanpa henti, bukanlah sesuatu yang terlalu memberatkan bagi anak remaja itu. Ia terus mengikuti Sangara Santang, dan kini sudah dapat menebak di mana sesungguhnya mereka berada, yaitu di wilayah timur Pulau Belantara Pusat. 

“Setengah hari lagi kita akan memasuki wilayah Bukit Pasir Sunyi…,” ujar Sangara Santang.

“Bukit Kersik Luway...,” balas Kum Kecho menggunakan bahasa dayak dalam mengatikan nama bukit itu. “Apakah Kakak benar-benar hendak menuju ke sana...?”

“Benar.”

“Apakah tujuan di sana nanti...?”

“Ada sesuatu yang perlu diriku ambil di sana... Sebuah lentera.” Usai memberikan jawaban singkat tanpa penjelasan lebih lanjut, Sangara Santang kembali melesat cepat. Kendatipun demikian, sedari awal ia sengaja membatasi kecepatan gerak, agar teman seperjalanannya tersebut berkesempatan untuk menjaga jarak di antara mereka. Tentu tindakan ini perlu, karena kecepatan di antara ahli Kasta Emas dengan ahli Kasta Perak terpaut jauh. 

Setengah hari berlangsung cepat. Sangara Santang bersama Kum Kecho baru mulai mendaki wilayah perbukitan. Tetiba... 

“Selangkah lagi, maka nyawa kalian milikku!” 

Suara peringatan tersebut datang berkumandang dan menggetarkan mustika di ulu hati. Di saat yang sama, sebuah tekanan berat terasa membebani tubuh. Bahkan bagi ahli sekelas Sangara Santang, ia tak dapat bergerak leluasa karena adanya kekuatan tekanan tersebut. Segera Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti itu menghentikan langkah. 

Kum Kecho, di lain sisi sontak melompat mundur. Karena tindakan yang cekatan dan tepat waktu tersebut, ia terlepas dari wilayah dimana tekanan membebani tubuh. Adapun tindakan mundur didasarkan pada aura yang panas sekaligus demikian mengerikan. Ia pernah bersinggungan dengan aura serupa di masa lalu. 

“Kakak Sangara, sebaiknya kita memutar langkah…,” bisik Kum Kecho gelisah. Tak banyak ahli atau pun keadaan yang dapat membuat anak remaja itu tampil gelisah, namun kali ini ancaman yang hadir di depan mata nyata adanya.

“Tidak! Langkah kakiku tak mudah dihentikan hanya oleh aura dan tekanan mata hati!” Usai menyelesaikan kata-katanya, Sangara Santang perlahan melangkah maju. Walau tak kelihatan gentar, ia cukup waspada. 

“Anak-anak anjing yang tak tahu diri!” Suara yang datang terdengar kasar dan amat merendahkan. Di saat yang sama, semburan api berwarna biru tua merangsek deras ke arah Sangara Santang. Bak semburan api yang keluar dari mulut naga, tingkat panas dan kecepatan datangnya sangatlah tinggi!

Kendatipun demikian, bukan sang rubah namanya bila tak mampu berkelit. Sangara Santang melompat ke samping, lalu segera merangsek maju. Sepintas ia merasakan keanehan pada warna api tersebut. Sebagaimana diketahui, bahwa tingkat panas di atas api jingga adalah api biru muda, sedangkan birunya api yang mengincar ini justru berwarna biru tua! 

Sangara Santang mengabaikan keanehan tersebut. Ia sudah dapat memperkirakan arah datangnya suara dan serangan, dan hendak segera menghadapi siapa pun itu tokoh yang menghalang-halangi langkah mereka. Selain itu, betapa Sangara Santang penasaran kepada tokoh yang digadang-gadang melindungi wilayah Bukit Pasir Sunyi ini, yang dikatakan mampu membinasakan sesiapa saja yang melangkah masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.

“Srash!”

Semburan api biru tua kembali mengincar tubuh Sangara Santang. Lelaki dewasa muda itu melompat lalu terbang di udara. Kelincahannya menjadi berkali lipat tatkala menghindar dari setiap semburan api yang hendak membakar tubuh. 

“Anak anjing yang benar-benar cari mati!” 

“Kau hanya ahli biasa...,” tanggap Sangara Santang ringan. “Kemungkinan memang lebih tangguh dari kebanyakan ahli, namun engkau tetaplah ahli yang menjalani persilatan dan kesaktian. Bukan tak mungkin bagiku membungkam siapa pun engkau!” 

“Heh... Selalu ada anak anjing tak pernah dapat membedakan mana lawan yang dapat dihadapi... dan mana lawan yang sebaiknya dihindari. Anak anjing seperti ini memang sepantasnya segera dibinasakan!” 

Tetiba, kobaran api mengambil wujud ibarat ombak besar di lautan. Membentang dan bergulung, api berwarna biru tua datang melibas tanpa hambatan! 

Sangara Santang tiada dapat menahan kekaguman di hati. Siapakah sesungguhnya dia ahli yang akan dihadapi ini...? Tak mungkin sembarang ahli. Menilik dari kemampuan yang disuguhkan, maka sepantasnya lawan tersebut merupakan ahli yang memiliki nama besar di Negeri Dua Samudera. Ingin mengetahui jati diri lawan, Sangara Santang terlihat penuh semangat. Sebagai ahli yang gemar berpetualang, kesempatan menghadapi lawan tangguh senantiasa dinanti.  

Di saat yang sama, merasa bahwa menghindar bukan lagi sebuah pilihan, Sangara Santang memutuskan untuk bertahan dari gelombang ombak api. Ia pun menyilangkan kedua lengan ke depan, sembari memperkuat tubuh dengan tenaga dalam. 

Akan tetapi, tatkala gelombang api berwarna biru tua itu mendekat, tetiba naluri Sangara Santang merasakan adanya bahaya, bahkan ancaman terhadap jiwanya. Secepatnya ia melompat mundur, namun gelombang ombak api segera menggulung. Terlambat...

Kepik Cegah Tahan! 

Di saat genting, seekor kepik raksasa berdiameter lebih dari dua meter muncul di antara Sangara Santang dengan gelombang api. Bentuk tubuhnya menyerupai sebuah kubah, yang berwarna hitam dengan bintik-bintik besar berwarna merah muda. Di bagian kepala yang berukuran kira-kira delapan kali lebih kecil dari tubuhnya, tumbuh sepasang tanduk. Kepik ini memiliki kemampuan melindungi dari senjata dan jurus persilatan.

Kemudian, tetiba kubah kepik memancarkan cahaya terang. Sebagaimana pernah berlangsung tatkala menghadang unsur kesaktian asap milik Hang Jebat, Kum Kecho telah mengimbuhkan unsur kesaktian cahaya kepada kepik tersebut. Dengan demikian, unsur kesaktian api biru tua tak dapat menyerap ke tubuh kepik, sehingga kelebihan unsur kesaktian api biru tua menjadi tak berpengaruh terhadap binatang siluman yang bertugas sebagai perisai tersebut. 

Setelah itu, dengan memanfaatkan tenaga dorongan gelombang api, Kum Kecho membawa Sangara Santang menjauh dari gelombang api. Perlu segera menghindar, karena disadari bahwa sang kepik tiada akan dapat bertahan terlalu lama. 

“Hampir saja... Terima kasih, Adik Kum Kecho,” dengus Sangara Santang sembari menatap tajam ke arah kobaran api biru tua yang memudar. “Api apakah itu tadi!?” ratapnya cemas. 

Di saat yang bersamaan, dari balik kobaran gelombang api yang menyurut, seorang permuda bertubuh ramping dan cukup tinggi mulai menyibak. Alisnya berkedut, matanya menatap lurus, dan bibirnya memajang senyum penuh keangkuhan. Seolah-olah, raut wajahnya mengungkapkan bahwa lawan di hadapan tak lebih dari sampah yang perlu dimusnahkan dengan cara membakar habis menjadi abu!

“Siapakah dia…?” Sangara Santang teramat penasaran. 

“Wisanggeni!” hardik Kum Kecho. 

“Oh… Engkau mengenali aku, wahai anak anjing…?” Tokoh tersebut masih saja menghina dina. 

“Sebaiknya kita menyingkir…,” bisik Kum Kecho kepada Sangara Santang. 

“Mengapa harus kita menyingkir…? Apakah karena unsur kesaktian api berwarna biru tua itu…?”

“Benar.”

“Ada yang pelik dari unsur kesaktian api itu…,” Sangara Santang menyipitkan mata. “Tadi kusadari pada detik-detik akhir, sebelum dihempas gelombangnya.”

“Unsur kesaktian api yang mengandung racun!”

“Api beracun…? Dari manakah Adik Kum kecho mengetahui hal tersebut…?” 

“…” Kum Kecho tak memberikan jawaban. Namun dari raut wajahnya yang sudah berubah dari gelisah menjadi cemas, merupakan sebuah jawaban yang tiada dapat dinafikan. Bahwasanya, lawan di hadapan bukanlah ahli yang dapat dihadapi saat ini, bahkan oleh ahli sekelas Sangara Santang.

“Tidak…” Sangara Santang berdiri tegap ibarat pahlawan penumpas kebathilan. “Diriku membutuhkan lentera yang tersimpan di bukit itu…?”

“Lentera apakah gerangan yang layak ditukarkan dengan nyawa…?”

“Sebuah benda pusaka yang dapat digunakan untuk menelusuri masa lalu…,” tanggap Sangara Santang sambil bersiap melangkah maju. 

Selama pertukaran kata-kata dengan Sangara Santang berlangsung, tak sekalipun tatapan mata Kum Kecho lepas dari sosok Wisanggeni di hadapan sana. Anak remaja itu terus mengamati, sampai menemukan sebuah kejanggalan… Mengapakah Wisanggeni tiada melancarkan serangan susulan…? batin Putra Mahkota Negeri Dua Samudera itu bertanya-tanya. Hal ini bertolak belakang dengan sifat dan pembawaan dari Wisanggeni yang ia dengar dari banyak ahli, serta pernah ia saksikan langsung sepak terjangnya.

“Wahai Roh Antang Bajela Bulau nan mulia, kumohon inayat semerbak… Sibak!” ucap Kum Kecho pelan. Segera setelah memanggil roh tersebut, raut wajah anak didik Pangkalima Rajawali itu berubah drastis. Kini, sebuah simpul senyum menghias sudut bibirnya. 

“Kakak Sangara Santang, diriku menemukan cara mengatasi Wisanggeni…,” bisik Kum Kecho. 

“Apakah dikarenakan ia tak melancarkan serangan susulan…” Sangara Santang pun membaca hal yang sama, namun belum menemukan alasan yang melatarbelakangi tindakan lawan.

Sambil melangkah maju, perlahan Kum Kecho berujar, “Sebelum kita terjun ke dalam pertempuran ini, diriku hendak memperingatkan bahwasanya kita akan berhadapan dengan… salah satu Raja Angkara!” 



Catatan: 

Wisanggeni merupakan anak dari Arjuna dengan Dewi Dresnala, yaitu putri Dewa Api, Brahma. Nama Wisanggeni berasal dari kata ‘wisa’ yang berarti ‘racun’ dan ‘geni’ yang berarti ‘api’. Di dalam dunia pewayangan, ia diceritakan sebagai titisan dari Sang Hyang Wenang, ayah dari raja para dewa, Bathara Guru. Sang Hyang Wenang memiliki kesaktian berupa tatapan yang dapat membakar siapa dan apa pun. 

Akan tetapi, Brahma menolak anak dari Arjuna dan akhirnya membuang Wisanggeni ke kawah Candradimukha di Gunung Jamurdipa. Ketika terkena lahar, tubuh Wisanggeni tidak berbakar melainkan bersatu dengan api. 

Wisanggeni juga diceritakan sebagai sosok yang angkuh, arogan, dan mudah naik darah. Wisanggeni termasuk ke dalam kumpulan tokoh yang tidak pernah menggunakan bahasa halus pada siapa pun kecuali pada sang pencipta. Tokoh Wisanggeni akhirnya dimatikan oleh Kresna karena bila ia masuk ke dalam perang Bharatayudha maka peperangan menjadi tidak seimbang.

Wisanggeni merupakan tokoh asli pujangga Indonesia. Ia tak tertera di dalam naskah wiracarita Mahabharata.