Episode 44 - Empatpuluh Empat



“Ka, elo bawa HP, nggak?”

Dika yang sedang menggambar di mejanya, langsung mendongak ke arah Lisa. “Bawa. Kenapa?”

“Gue lupa nyimpan HP gue di mana. Gue pinjam HP elo sebentar, dong,” pinta Lisa.

“HP elo di-silent, nggak? Nanti kalau ditelepon, nggak kedengeran,” tanya Dika sambil merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya.

“Iya, sih. Tapi kalau ada getar-getar kan pasti kedengaran juga,” jawab Lisa sambil menerima ponsel yang disodorkan oleh Dika. “Pinjam dulu, ya!”

Dika mengangguk lalu menoleh ke arah meja Darra yang kosong. Tadi Darra dan Rin dipanggil ke ruang kepala sekolah. Ada apa, ya? Apa ada hubungannya dengan mereka yang tadi dihukum karena datang terlambat?

Sementara itu Lisa pura-pura mengutak-utik ponsel Dika sambil melangkah keluar dari kelas. Ia membawanya ke arah kelas XII Sos 2 dan menuju Vina, Sheila, dan Carla yang sedang menunggunya di depan kelas itu.

“Dapat?” tanya Vina begitu Lisa menghampirinya.

“Iya, tapi buat apaan, sih?” Lisa balik tanya.

“Gue ada urusan sebentar. Kalau gue yang pinjam, nanti Dika nggak mau ngasih,” jawab Vina.

“Tapi jangan dibuat macam-macam, ya. Nanti gue yang kena,” kata Lisa, setengah tidak percaya pada Vina.

“Iya, tenang aja,” balas Vina sambil mengulurkan tangannya. Lisa menyodorkan ponsel Dika pada Vina yang langsung melihat-lihat isinya bersama kedua sahabatnya.

“Ini, nih. Kontaknya Andarra,” bisik Sheila sambil menunjuk ke layar ponsel Dika.

“Isinya apa, ya?” gumam Vina. Kemudian ia sudah sibuk mengetikkan sesuatu di ponsel Dika. “HP-nya si cemberut udah sama elo, kan?”

Carla mengangguk. “Gue kirimnya kalau HP-nya Dika udah dikembaliin.”

Vina mengangguk-ngangguk. Jarinya sibuk menelusuri galeri foto di ponsel Dika hingga berhenti di salah satu foto. “Lihat, nih. Dika bisa punya foto kayak gini.”

Sheila dan Carla ikut melongok ke layar ponsel Dika yang menunjukkan foto Darra sedang duduk di perpustakaan sambil membaca sebuah buku. Kelihatannya Dika sedang ada di depan Darra saat foto itu diambil, dan Darra tidak mengetahuinya.

“Mau gue hapus aja rasanya,” sungut Vina.

“Jangan,” sergah Carla. “Nanti Dika malah curiga kalau ada foto yang hilang.”

Vina merengut. Setelah itu ia mengembalikan ponsel Dika pada Lisa. “Nih. Jangan bilang-bilang sama Dika, ya. Makasih.”

Lisa mengambil ponsel itu lalu membawanya kembali ke kelas. Dika masih sibuk dengan gambarnya saat Lisa menghampirinya.

“Ketemu?” tanya Dika sambil menerima ponselnya kembali.

“Ketinggalan di rumah ternyata,” jawab Lisa sambil nyengir. “Makasih, ya.”

Dika mengangguk kemudian Lisa pergi meninggalkannya. Baru saja Dika menyimpan ponselnya di kolong meja ketika tiba-tiba ponselnya bergetar. Dika kembali mengeluarkannya lalu melihat pesan dari Darra.

Pulang sekolah nanti tunggu aku di kelas. Ada yang mau aku omongin.

Dika mengerenyitkan dahi. Ia mengira Darra tidak lagi ingin bicara dengannya. Kali ini apa? Mungkinkah akhirnya Darra ingin mendengarkan penjelasannya? Dika harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.

Maka begitu PM hari itu selesai, Dika merapikan buku-bukunya seraya sesekali melirik ke arah Darra. Pasti Darra menunggu kelas sepi seperti biasa. Lagipula mana mungkin dia mau bicara di depan teman-temannya. Namun, setelah kelas berangsur-angsur sepi, dilihatnya Darra keluar dari kelas. Apa mereka tidak jadi bicara? Ah, barangkali Darra hanya ingin mengembalikan buku jurnal kelas ke meja piket. Jadi Dika tetap duduk di tempatnya. Ia juga sudah memberitahu Emil untuk menunggunya di luar.

Dika merasa gelisah karena kelas sudah kosong, dan Darra tidak muncul juga. Ke mana dia? Mungkinkah akhirnya Darra menunggunya di gang seperti biasa. Akhirnya Dika bangkit sambil mengutik-ngutik ponselnya. Haruskah dia menghubungi Darra dulu?

Langkah Dika sempat terhenti saat melihat Vina memasuki kelas. Ah, Dika masih jengkel dengannya. Jadi ia melanjutkan langkahnya, tapi Vina menahannya.

“Mau ke mana?” tanya Vina.

“Pulang,” jawab Dika singkat.

“Nemuin Si Cemberut?” tanya Vina lagi.

Dika mengerenyitkan dahi. Dari mana Vina tahu?

“Biarpun elo nunggu sampai malam, dia nggak akan ke sini.”

Akhirnya Dika mengerti situasinya. “Elo yang ngirim pesan ke gue pake nama Andarra?”

“Habis kalau nggak begitu, elo nggak mau nemuin gue.”

Dika melengos. “Elo mau apa lagi, sih? Gue kan udah bilang, nggak usah ikut campur urusan gue lagi.”

“Gue mau ngasih tahu sesuatu soal Darra. Elo yakin nggak mau dengar?”

“Kalau elo mau jelek-jelekin dia lagi, nggak perlu.”

“Ini soal Darra sama Abrar,” kata Vina sambil buru-buru menahan Dika yang hendak melangkah pergi. “Elo tahu kan, kemarin Abrar pernah ngebuang tas gue ke selokan? Elo tahu kenapa dia ngelakuin itu?”

“Semua orang di sekolah ini juga tahu, karena dia ngebalas elo yang buang tas Andarra ke bak mandi.”

“Terus, elo nggak penasaran, kenapa Abrar sampe ngebalasin gue? Kan elo yang pacarnya Darra, tapi kenapa Abrar yang balas?”

Dika hanya menatap Vina tanpa menjawab.

“Semua orang juga ngomongin kalau kemungkinan karena Abrar suka sama Darra, atau mereka emang pacaran. Terus elo tahu, apa yang Abrar bilang waktu gue nanya, kenapa dia ngebelain Darra terus?” bisik Vina. “Katanya Darra itu adiknya.”

Dika mendengus menahan tawa. “Abrar itu anak tunggal. Elo nggak usah ngarang cerita.”

“Gue beneran cuma ngasih tahu apa yang dia omongin ke gue, kok. Elo sendiri yang sahabatnya aja nggak percaya, kan?” Vina tersenyum karena Dika terlihat tertarik dengan pembicaraan mereka. “Tapi jaman sekarang banyak lho, cowok yang nganggap cewek sebagai adiknya. Bisa karena cowoknya suka, tapi ceweknya nggak. Jadi biar mereka tetap dekat, mereka nganggap kayak kakak-adik aja. Tapi bukan berarti mereka nggak bisa pacaran, kan? Apalagi kalau mereka sering bareng dan lihat Abrar perhatian banget, lama-lama Darra pasti juga suka sama Abrar.”

Dika menatap Vina sambil berpikir cepat. Abrar memang tidak pernah membahas mengenai Darra padanya. Haruskah dia percaya pada Vina? “Gue mau cari Andarra dulu.”

“Buat apa? Elo nggak usah nyari dia lagi!” seru Vina sambil mengikuti Dika keluar dari kelas.

“Tapi gue mesti ngomong langsung sama dia!” balas Dika. Langkahnya terhenti saat melihat Darra berdiri tidak jauh darinya.

Darra memandang bergantian ke arah Dika dan Vina di belakangnya. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata, Darra langsung berbalik dan menjauh dari Dika.

“An!” panggil Dika. Ia bergegas mengejar Darra dan menahannya di tangga. “An, ada yang mau aku jelasin sama kamu soal Vina.”

“Nggak perlu. Aku udah liat sendiri, kok,” balas Darra.

“Tapi ini bukan kayak yang kamu kira. Aku sama Vina nggak ada hubungan apa-apa.”

“Aku nggak peduli. Aku udah muak selalu kena masalah karena Vina. Kalau ada yang harus kamu ajak ngomong, itu Vina. Bukan aku.”

“Terus, kamu sendiri sama Abrar gimana?” tanya Dika akhirnya. “Bukannya kamu juga dekat banget sama dia? Semua sampai gosipin kamu sama Abrar, tapi kamu juga nggak pernah nolak ajakan dia. Biarpun nggak ada yang tahu soal kita, mestinya kamu juga mikirin perasaan aku!”

Darra menatap Dika. “Kamu yang minta supaya nggak perlu ada yang tahu, sekarang kamu minta aku mikirin perasaan kamu? Kamu sendiri mikirin perasaan aku nggak, setiap kali kamu cuekin aku di depan orang lain? Setiap luka aku dari Vina, kamu nggak pernah belain aku.” Bibir Darra mulai gemetar sementara matanya berkaca-kaca. “Aku tahu, aku yang bilang suka duluan sama kamu, tapi kamu nggak pernah bilang perasaan kamu ke aku. Sampai sekarang aku nggak ngerti, kenapa kamu mau pacaran sama aku. Kalau aku tahu pacaran itu kayak gini, mendingan dari awal aku nggak bilang ke kamu.”

Darra menyentakkan lengannya dari pegangan Dika. Ia mengalihkan pandangannya dari cowok itu.

“Aku nggak pernah larang kamu dekat sama Vina. Sekarang kalau kamu pacaran sama dia juga, terserah,” ucap Darra. “Aku nggak peduli. Kita udah putus dari kemarin. Nggak ada yang perlu kita bahas lagi.”

Darra berlari menuruni tangga. Kali ini Dika tidak mengejarnya. Namun, setelah melihat Vina yang ternyata mendengarkan pembicaraan mereka dari tangga paling atas, akhirnya Dika ikut keluar dari sekolah.

Saat menuju lapangan parkir, langkahnya terhenti melihat Darra berada di depan gerbang sekolah. Gadis itu menunduk, terlihat jelas ia sedang menangis. Namun, di hadapannya ada Abrar yang sedang menatap Darra. Dada Dika terasa sakit begitu melihat Abrar mengulurkan tangannya ke arah wajah Darra. Ternyata memang ada sesuatu di antara mereka.

~***~

Pagi itu Darra sedang menuliskan buku jurnal kelas di mejanya. Saat menuliskan tanggal, Darra baru menyadari sesuatu. Hari ini Dika ulang tahun. Darra melirik ke seberangnya, ke arah Dika yang sedang mengobrol dengan Emil di mejanya. Sudah berminggu-minggu sejak mereka putus, dan mereka tidak pernah saling bicara.

Walaupun sebelumnya mereka memang tidak pernah mengobrol, setidaknya kadang mereka masih bertukar pesan atau telepon. Kini seolah mereka tidak berada di tempat yang sama, dan jika ada keperluan dengan Darra, Dika masih menyampaikannya melalui Rin. Walau kadang Darra masih merasa kecewa jika Dika melakukan itu, tapi ia memilih untuk tidak memikirkannya.

“Aku udah putus sama Emil,” bisik Rin tiba-tiba. Darra langsung menoleh ke arahnya.

“Kenapa?” tanya Darra.

“Nggak apa-apa. Cuma, akhir-akhir ini kita sering berantem. Mungkin kita sama-sama udah bosan,” jawab Rin.

Darra tidak menyahut. Ia baru mengerti, ternyata dalam pacaran juga bisa ada rasa bosan. Namun, dengan begitu Rin mengaku jadi bisa lebih fokus pada ujian yang diadakan pertengahan bulan depan. Darra menghabiskan hari-harinya mempelajari kisi-kisi untuk ujian bersama Rin, Mia, dan Maya hingga tidak sempat memikirkan tentang Dika atau yang lainnya.

“Besok siapa yang datang?” tanya Rin.

Darra mengerenyitkan dahi. “Hm?”

“Orangtua kamu, siapa yang datang?”

Ah, Darra baru ingat. Karena ujian sudah berakhir, seluruh orangtua murid kelas XII diminta datang ke sekolah. Darra mendengar Aline akan datang untuk Abrar, tapi tentu saja ia tidak bisa mengharapkan Aline akan dengan senang hati menjadi wali muridnya juga.

Maka keesokan harinya Darra duduk di depan gerbang sekolah sambil memperhatikan teman-temannya menyambut orangtua mereka. Pertemuan itu diadakan jam sepuluh pagi dan karena sudah tidak ada jadwal pelajaran, murid-murid lebih memilih nongkrong di luar sambil menunggu orangtua mereka.

Darra sempat mendengar bisik-bisik mengenai teman-temannya yang merasa kasihan karena Darra sudah tidak memiliki orangtua. Mau tidak mau Darra ikut merasa hampa. Apalagi setelah papanya Rin, mamanya Agung, bahkan mamanya Dika ikut menyapa dirinya. Darra sempat melihat Aline datang tadi, tapi mereka sama-sama bersikap seolah tidak saling mengenal.

Darra tersadar dari lamunannya. Ia bisa mendengar suara Dika, Agung, dan teman-temannya di dekatnya.

“Wah, tadi kan mamanya Abrar udah datang, Om.”

“Saya bukan datang untuk Abrar.”

Darra menoleh begitu mendengar suara pria yang dikenalnya. Ia tercengang melihat papanya berdiri dikerumuni oleh teman-temannya Abrar. Darra langsung merasa gugup. Haruskah ia pura-pura tidak mengenalnya juga? Namun, rupanya Papa juga melihatnya.

“Andarra!” panggil Papa sambil melambaikan tangan ke arah Darra. “Saya ke dalam dulu, ya.”

Darra langsung bangkit begitu Papa menghampirinya. Ia menghindari pandangan teman-temannya yang melihat ke arah mereka sambil ternganga, termasuk Vina.

“Mana Mas kamu?” tanya Papa setelah Darra mencium tangannya.

“Tadi nemenin Tante Aline ke dalam,” jawab Darra gugup.

“Ya udah, kamu juga temenin Papa ke dalam,” kata Papa sambil merangkul Darra.

Darra bisa merasakan sorotan mata orang-orang di sekitarnya saat ia dan Papa berjalan menuju aula, terutama mereka yang mengenal orangtua Abrar. Setelah mengantar Papa, entah mengapa mata Darra berkaca-kaca. Apalagi saat Papa mengatakan untuk menunggunya agar bisa pulang bersama. Padahal sejak kecil Bu Retno selalu datang ke sekolah jika orangtua murid diminta datang. Namun, entah mengapa kali ini rasanya berbeda.

Saat Darra hendak kembali keluar, ia berpapasan dengan Abrar. Abrar juga tidak terlihat terkejut saat Darra memberitahunya bahwa papanya datang ke sekolah. Namun, seperti yang sudah Darra duga, teman-temannya langsung menghujani Abrar dengan pertanyaan begitu melihat mereka muncul.

“Kenapa bokap elo bisa sama Darra?” tanya Ivan.

“Dia kan bokapnya Andarra juga,” jawab Abrar cuek.

“Elo adik-kakak sama Darra?” tanya Fajri. Abrar mengangguk. “Ah, adik ketemu gede kali, nih. Masa gue nggak tahu kalau elo punya saudara. Bokap elo ngadopsi Darra apa gimana?”

“Andarra anaknya, masa diadopsi,” sungut Abrar.

“Serius?” tanya Ivan sambil melotot.

“Tanya aja tuh sama Agung,” balas Abrar.

“Jadi selama ini kalian dekat bukan karena pacaran?” tanya Ivan, masih tidak percaya.

Darra melirik ke arah Dika yang jelas-jelas sedang melihat ke arahnya. Untunglah, kini ia tidak perlu repot-repot memberi penjelasan padanya.