Episode 79 - Maut Bernyanyi di Mega Mendung (2)



Malam itu, udara disekitar lereng gunung gede sangat dingin mencucuk tulang, malam itu suasanya sangatgelap gulita dan sepi sekali! Bulan dan bintang-gemintang seolah enggan bersinar, mereka tertutupi oleh awan tebal yang sangat gelap, binatang-binatang malam tidak ada yang bernyanyi, yang terdengar hanyalah suara tiupan angin yang amat sangat dingin yang berseoran sehingga menambah seramnya suasana malam itu.

Mega Sari, Ki Silah, dan Emak Inah sedang tidur dengan nyenyaknya saat Jin Bagaspati bersama dengan sepuluh mahluk lelembut lainnya melangkah memasuki gua tempat persembunyian Mega Sari. Di bawah pimpinan Jin Bagaspati, kawanan mahluk lelembut itu pun merasuki tubuh Dharmadipa, sekonyong-konyong tubuh Dharmadipa pun bangkit dan berteriak dahsyat menggetarkan seantero lereng Gunung Gede tersebut!

Mega Sari, Ki Silah, dan emak Inah terkejut dibuatnya, mereka pun langsung melompat bangun, Dharmadipa menatap bengis pada Mega Sari, dan ia langsung melompat lalu mencekik leher Mega Sari! Mega Sari pun langsung mengerahkan seluruh kekuatannya untuk berontak, tapi percuma karena kekuatan Dharmadipa yang telah dirasuki kawanan Jin itu sangat luar biasa! “Abah! Emak! Tolong!” jeritnya.

Ki Silah segera menghunus goloknya dan emak Inah segera mengambil sepotong dahan pohon besar yang akan digunakan untuk membuat api unggun, suami istri yang telah berusia lanjut nipun segera menyerang Dharmadipa untuk menyelamatkan majikannya meskipun tentu saja perbuatan mereka percuma saja karena baik sabetan golok, maupun pukulan kayu itu tidak mempan pada Dharmadipa, malah mereka berdua terpelanting dengan sekali kebutan tangan Dharmadipa!

“Nyai cepat ambil sapu lidi Sanggah Sukma itu!” perintah Ki Silah sambil melompat bangun dan kembali menerjang Dharmadipa dengan goloknya. Emak Inah pun mengambil sapu lidi tersebut dan menggebukannya pada kepala Dharmadipa! Dharmadipa pun menjerit dahsyat kesakitan akibat pukulan sapu lidi tersebut dan langsung melepaskan Mega Sari!

Mega Sari pun segera mengambil nafas sementara emak Inah sibuk memukuli sekujur tubuh Dharmadipa, “Emak! Abah! Tahan dia, saya akan segera mengusir roh jahat yang merasuki tubuh Kakang Pangeran!”

Sementara emak Inah dan Ki Silah sibuk menahan amukan Dharmadipa, Mega Sari segera membakar kemenyan dan menaburkan kembang tujuh rupa diatasnya, ia lalu memusatkan pikirannya untuk bersemedi. “Wahai Iblis yang merasuki jasad wadag Dharmadipa, keluarlah! Pulanglah kembali ke alam halusmu yang abadi di padang kegelapan! Atas nama perjanjian Wasiat Iblis diriku dengan raja iblis, kuperintahkan kau untuk pergi! Pergi!” bisiknya membaca mantera.

Mega Sari lalu membuka matanya, ia lalu mengambil segenggam serbuk sihir dan segenggam bunga tujuh rupa, ia lalu melemparkan bunga tujuh rupa itu pada Dharmadipa. “Pergi!” perintahnya, kemudian ia pun melemparkan garam sihir pada kepala Dharmadipa. “Pergi!” bentaknya sekali lagi.

Tubuh Dharmadipa pun bergetar hebat, ia menjerit-jerit bagaikan orang gila sambil memegangi kepalanya yang kena tabur serbuk sihir Mega Sari! “Eaaaa!!!” jeritnya dan wushhh! Tubuh Dharmadipa berubah menjadi burung sirit uncuing berwarna hitam yang langsung terbang meninggalkan goa tempat kediaman Mega Sari tersebut.

Seperginya Dharmadipa, Mega Sari bersama kedua abdinya itu masih belum bisa bernafas lega, dengan penuh kewaspadaan wanita cantik berkulit putih yang sedang hamil tua tersebut terus menatap nanar ke mulut goa, Ki Silah dan Emak Inah pun menghampiri Mega Sari. “Gusti Pangeran nampaknya sudah sulit untuk dikendalikan lagi Gusti!” ucap Ki Silah sambil menyeka darah yang menetes dari sela-sela mulutnya.

Mega Sari menghela nafas berat sambil menatap sayu kearah mulut goa. “Hhhh… Aku Bingung Abah, semuanya selalu berakhir dengan tidak menyenangkan, hidup selalu memusuhiku, dari kecil dulu aku tidak dapat melakukan apa yang aku mau, dan apa yang aku inginkan tidak pernah aku dapatkan… Aku ingin mati saja!”

Emak Inah langsung memeluk majikannya yang sangat ia sayangi tersebut. “Sabar Gusti, sudah berbagai cobaan hidup Gusti arungi, dan selalu bisa Gusti hadapi… Kenapa sekarang jadi putus asa begini? Apalagi kandungan Gusti sudah tua, mungkin dalam beberapa minggu lagi akan lahir anak Gusti yang kedua.”

Dua butir cairan bening jatuh membasah pipi Mega Sari yang putih halus tersebut, perlahan isaknya mulai terdengar, wanita ini lalu mengelus-elus perutnya yang sudah besar. “Saya takut kalau anak ini akan memanggul dosa-dosaku Emak, dan meneruskan nasib yang selalu memusuhiku.”

Ki Silah menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak Gusti, saya pernah mendengar seorang ulama mengatakan bahwa semua manusia lahir dalam keadaan suci, dan dia membawa kodratnya sendiri-sendiri, sebab didalam ajaran Islam tidak ada yang namanya dosa turunan…”

***

Malam itu begitu dingin mencekam, langit malam begitu pekat hitam gelap gulita tanpa ada satupun bintang yang bersinar, sang bulan pun enggan menampakan dirinya, angin yang begitu dingin bagaikan es yang mencucuk tulang bertiup berseoran dengan derasnya hingga menusuk sumsum, binatang-binatang malam pun enggan bersuara, sunyi senyap, bahkan srigala dan anjing-anjing hutan pun enggan membuka suaranya! 

Di tengah gelap pekatnya malam yang mengerikan tersebut, Kyai Pamenang nampak berjalan seorang diri di satu hutan yang sangat lebat, orang tua itu dengan sangat kepayahan berusaha untuk terus berjalan menembus lebatnya hutan tersebut, medan yang sangat sulit membuat orang tua yang dikenal sangat sakti ini terseok-seok, seluruh ilmu kanuragan maupun ilmu kebathinannya seolah tak sanggup untuk membantunya menerobos gelapnya hutan tersebut.

Dengan terus menguatkan dirinya, akhirnya Kyai Pamenang sampai pada satu tebing jurang yang sangat curam, alangkah terkejutnya ia ketika melihat keraton Rajamandala yang berada didasar jurang tersebut. “Keraton Rajamandala? Kenapa bisa ada disini? Gusti, dimana hamba sedang berada sebenarnya?” pikirnya.

Saat itu tiba-tiba angin yang sangat panas menebar aroma bangkai, dan kuburan, sekaligus bunga tujuh rupa bertiup kencang berseoran, saking derasnya Kyai Pamenang segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk bertahan agar tidak terbawa tertiup angin, jubah putihnya berkibar-kibar, sampai sorbannya terlepas tertiup angin hingga jatuh kedalam jurang, “Astagfirullah! Angin pembawa petaka!” istigfar sang kyai.

Badai angin panas itu mereda setelah beberapa saat meskipun angin cukup deras sampai membuat jubah Kyai Pamenang berkibar-kibar masih bertiup, Sang Kyai segera mengatur nafasnya kembali, namun begitu terkejutnya ia ketika diatas langit malam yang gelap pekat muncul bulan purnama yang besar berwarna merah seperti darah! “Gusti Allah! Apa itu?” kejut Kyai Pamenang.

Belum habis keterkejutan Kyai Pamenang, bumi yang ia pijak bergoncang hebat, langit malam pun nampang bergoncang, dan satu pemandangan yang sulit dipercaya Nampak secara jelas didepan mata Kyai Pamenang, Bulan Purnama Merah yang tergantung diatas langit itu meluncur turun, jatuh tepat pada Keraton Rajamandala! Jeggeerrrr!!! Bumi bergoncang lebih dahsyat ketika bulan purnama berdarah itu menghantam dan meluluh lantakan keraton rajamandala yang megah lagi kokoh tersebut!

Kyai Pamenang terkesima untuk beberapa saat menyaksikan apa yang terjadi diahadapan matanya, seluruh keraton rajamandala telah hancur lebur! Setelah dapat menguasai dirinya kembali, Kyai Pamenang segera mengerahkan ilmu meringankan dirinya untuk melompat turun kedalam jurang menuju kearah puing-puing kehancuran Keraton Rajamandala. Begitu mengerikannya suasana didasar jurang tersebut, puing-puing kehancuran bertebaran dimana-mana, mayat-mayat bergeletakan dimana-mana, si jago merah membara dimana-mana, bau anyir darah menusuk hidung, darah memerah menganak sungai di seantero puing kehancuran Keraton tersebut!

Saat Kyai Pamenang termenung melihat keadaan disekelilingnya, tiba terdengar suara Dharmadipa yang memanggil-manggil dirinya! “Guru! Bebaskan aku guru! Guru!”

Kyai Pamenang celingukan mendengar suara itu. “Dharmadipa?! Suara kamukah itu?!” tanyanya dengan mengerahkan tenaga dalamnya sehingga suaranya menggema diseantero jurang yang kini menjadi puing kehancuran Keraton Rajamandala tersebut.

“Benar Guru! Iya! Ini Aku!” balas suara ghaib yang terdengar lirih seperti sedang menahan kesakitan yang teramat sangat tersebut, itu yang juga menggema ke seantero tempat itu.

Kyai Pamenang pun terus melangkah mencari sumber suara tersebut, “Tolonglah saya guru! Saya sangat menderita! Saya sangat kesakitan!”

“Dharmadipa?! Dimana kamu Dharmadipa?!”

“Guru! Tolong! Tolonglah saya!”

“Dharmadipa! Dharmadipa!” teriak Kyai Pamenang berlarian kesana kemari mencari sumber suara ghaib Dharmadipa tersebut, akan tetapi ia tidak dapat menemukan dimana Dharmadipa berada, ia hanya bisa terus mendengar suara lirih kesakitan Dharmadipa yang meminta pertolongannya “Dharmadipa! Dharmadipa!” teriak Kyai Pamenang.

Saat itu kedua matanya terbuka ketika istrinya Nyai Mantili membangunkan dirinya. “Kakang?! Kakang?!” seru Nyai Mantili, Kyai Pamenang pun terbangun dengan sekujur tubuh basah oleh keringat dingin, ia pun berusaha untuk mengatur nafasnya sambil beristighfar dan memandang kesekelilingnya, dengan matanya yang telah tua tersebut melihat bahwa ia sedang berada didalam kamarnya sendiri di padepokan Sirna Raga.

Nyai Mantili pun segera mengambilkan air putih, dengan nafas yang masih terengah-engah Kyai Pamenang meminum air tersebut sampai habis. “Kakang, kakang bermimpi Dharmadipa?” Tanya Nyai Mantili.

“Ya… Mungkin hanya kangen, aku mendengar suara anak kita Dharmadipa memanggil-manggil namaku, tapi… Gusti… Mimpiku itu sungguh mengerikan!”

“Kakang bermimpi bagaimana?”

“Aku bermimpi melihat Keraton Rajamandala hancur berantakan karena kejatuhan bulan purnama raksasa yang berwarna merah semerah darah! Keadaan di sana sungguh mengerikan! Puing-puing kehancuran berserakan dimana-mana, mayat-mayat berserakan, api bergelora dimana-mana, bau anyir darah menusuk hidung, dan darah membanjir mennganak sungai… Saat itulah aku mendengar suara Dharmadipa memanggil-manggilku dengan lirih seperti sedang menahan kesakitan yang teramat sangat! Aku terus mencarinya tapi tidak ketemu!”

“Mungkin kita harus mendoakannya Kakang, sudah lama kita tidak mendoakannya, dan menurut kabar yang kita dengar, sampai saat ini jasadnya yang dibawa lari oleh Mega Sari belum ditemukan juga… Bahkan…” tenggorokan Nyai Mantili seolah tercekat tak mampu untuk meneruskan kata-katanya.

Kyai Pamenang mengangguk-ngangguk dengan lemas. “Ya aku juga mendengar bahwa… seekor burung sirit uncuing yang dapat menjelma mirip dengan Dharmadipa sedang menebar malapetaka di negeri Mega Mendung ini… Tapi… Tetapi aku belum bisa memastikan kebenarannya karena sudah lama aku tidak meninggalkan padepokan ini”.

***

Setelah usai shalat subuh, seorang anak murid padepokan Sirna Raga memberitahukan pada Kyai Pamenang dan Nyai Mantili bahwa Patih Balangnipa dan Senopati Sentanu dari Mega Mendung datang ingin bertemu, Kyai Pamenang dan Nyai Mantili pun menyambut kehadiran mereka di balai ruing padepokan.

“Hehehe… Kakang Patih Balangnipa dan Adi Senopati Sentanu, maafkanlah sambutan kami terlalu alakadarnya dan serba kekuarangan ini” ucap Kyai Pamenang membuka percakapan dengan satu basa-basi.

“Kamilah yang seharusnya meminta maaf Kyai, karena kedatangan kami yang terlalu mendadak.” jawab Ki Balangnipa.

“Bagaimana kabar Gusti Prabu? Aku sungguh berdosa karena belum lagi menghadapnya setelah penobatannya dulu.”

“Beliau baik-baik saja, beliau rindu sekali ingin bertemu dengan Kyai.”

“Oalah hahaha… Ya ya semoga beliau sehat selalu dan bisa memimpin negeri ini dengan khusnul khotimah… Ada keperluan apakah dua orang pembesar negeri ini menemui orang tua yang sudah pikun ini?” Tanya Kyai Pamenang.

Ki Balangnipa dan Ki Sentanu saling padang sesaat baru kemudian patih tua yang sudah banyak pengalaman ini membuka mulutnya. “Sebelumnya kami memohon maaf Kyai… Tapi Kyai tentu ingat kejadian satu tahun silam, pada saat Pangeran Dharmadipa bentrok dengan murid Kyai lainnya yang ternyata adalah putra kandung mendiang Gusti Prabu Kertapati yang bernama Raden Jaya Laksana atau yang lebih dikenal sebagai Pendekar Dari Lembah Akhirat?”

Raut wajah Kyai Pamenang langsung berubah tegang. “Ada apa?”

Ki Patih Balangnipa melanjutkan dengan suara berat dan perasaan tidak enak karena ia tahu bahwa Dharmadipa adalah anak angkat sang Kyai selain juga sebagai murid kesayangannya. “Pangeran Dharmadipa dapat dikalahkan oleh Raden Jaya Laksana hingga seluruh tubuhnya lumpuh, namun ia tewas ditangan ayah mertuanya sendiri mendiang Prabu Kertapati!”

Nyai Mantili terdiam, air matanya mengalir keluar, sedangkan Kyai Pamenang mengangguk- ngangguk dengan lemas. “Ya… Dia telah memanggul takdirnya sendiri… Lalu apa maksud kedatangan Kakang Patih dan Adi Senopati? Tidak hanya sekedar melepas kangen bukan?”

Ki Balangnipa mengangguk berat diiringi dengan desahan nafas berat. “Benar Kyai, saya diutus Gusti Prabu untuk menjemput Kyai ke Rajamandala, Gusti Prabu ingin sekali untuk bertemu dengan Kyai.”

“Saya yakin bukan hanya sekedar itu”. sahut Kyai Pamenang dengan dada yang masih berat karena teringat pada sosok anak angkat kesayangannya tersebut.

“Benar Kyai, ada sesuatu hal yang sangat penting menyangkut hal Pangeran Dharmadipa…”

“Dharmadipa? Bukankah semua orang tahu dia sudah tewas?”

“Benar Kyai, tapi sampai sekarang keberadaan jenasahnya masih belum jelas bersama dengan keberadaan istrinya Gusti putri Mega Sari… Dan beberapa waktu ini, banyak saksi mata yang melihat bahwa jasadnya tidak hancur, saat ini Mega Mendung sedang dirundung oleh satu malapetaka dahsyat yang disebabkan oleh mahluk ghaib yang mewujud dalam sosok Dharmadipa, berat dugaan kami bahwa ada mahluk halus yang mungkin merasuki dan mengendalikan jasad Pangeran Dharmadipa yang mengganggu dan membunuh penduduk yang tidak bersalah!” jelas Ki Balangnipa.

Nyai Mantili tidak sanggup lagi untuk menahan tangisnya, perempuan tua ini langsung meninggalkan ruangan itu, begitupun dengan Kyai Pamenang, tangisnya meledak juga, orang tua yang berpakaian, bersorban, dan berjubah serba putih itu langsung menangis tersedu-sedu. “Astagfirullah Aladzim… Dharmadipa…”

“Maafkan saya apabila menyinggung perasaan Kyai dan Nyai…” ucap Ki Balangnipa perlahan.

Kyai Balangnipa bangkit dari duduknya dan berjalan menatap keluar jendela. “Saya tidak tersinggung kakang… Tapi… Siapapun akan menangis kalau mengetahui murid yang apalagi adalah anak angkatnya menjadi penjahat, bahkan mayatnya pun masih melakukan kejahatan!”

“Maafkan kami Kyai, tapi kami sudah berkeliling keseluruh pelosok tanah Pasundan ini untuk mencari orang sakti yang sanggup untuk menanggulangi malapetaka dan rajapati yang sangat aneh lagi dahsyat ini, tetapi gagal, sudah banyak dari mereka yang menjadi korban dari keganasan mayat hidup Dharmadipa, maka dari itu Gusti Prabu dan kami meyakini bahwa hanya Kyai sanggup untuk memusnahkannya! Kami memohon dengan sangat pada Kyai, karena sdah tak terhitung berapa banyak nyawa yang lenyap akibat keganasan Dharmadipa, telah banyak juga para pejabat penting di Keraton Rajamandala yang tewas!”

Dada Kyai Pamenan semakin sesak, perasaan sedihnya semakin membumbung tinggi melangit, “Begitu ironis… Sungguh ironis bahwa aku harus memusnahkan jasad murid sekaligus anak angkat kesayanganku yang sedari kecil menjadi tumpahan kasih sayangku dan istriku, yang menjadi tumpuan harapan yang akan melanjutkan ilmu kami…”

Ki balangnipa dan Ki Sentanu tertunduk mendengar ucapan Sang Kyai, Kyai Pamenang menutup matanya sesaat dan berusaha untuk meredakan gejolak didadanya. “Namun begitu, sebagai seorang guru sekaligus orang tuanya, aku tetap harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan apa yang diperbuat oleh Dharmadipa, selain itu aku juga harus membantu arwah Dharmadipa agar bisa tenang di alam sana, akan kulakukan tugas ini sebagai wujud cinta kasih guru terhadap muridnya, sebagai wujud kasih sayang orang tua pada anaknya, dan sebagai rasa baktiku pada tanah airku… Baiklah aku bersedia untuk melaksanakan titah Gusti Prabu… Namun aku meminta izin satu malam ini untuk melakukan sholat Istikharah demi memohon petunjuk dari Gusti Allah!”

Ki Balangnipa dan Ki Sentanu pun mengangguk-ngangguk setuju. “Baiklah, terima kasih atas kesediaan Kyai.”