Episode 24 - Inikah Rasanya Cinta



Malam hari setelah berlatih tanding dengan guru besar tentang penguasaan teknik beladiri tangan kosong, tubuhku benar-benar babak belur. Jika ini adalah tubuh asliku sudah dipastikan aku bakal masuk rumah sakit selama seminggu, benar-benar tenaga dalam guru besar sangat kuat dan berat, hanya dengan aYunan tangannya saja sudah membuat amalan benteng diriku langsung retak, 2 kali aYunan tangannya amalan benteng diri teknik beladiri tangan kosongku hancur dengan aku dibuatnya terbang ke belakang. 

“Lumayan, 2 kali serangan abah baru hancur bentengmu,” puji guru besar.

“Huh, kuat sekali abah, abah saja belum serius aku sudah kelelahan,” ucapku dengan nafas tersengal-sengal.

“Latihanmu masih kurang nak Edi, kekuatan gleipnr 2 kali lebih kuat dari pada kekuatan abah,” ucap abah membuatku syok.

“Apa..!” ekspressiku kaget setengah mati. Abah guru hanya menggunakan kekuatan aYunan tangannya saja, aku sudah tidak bisa memblokirnya. Bagaimana jika dengan tenaga penuh. Kekuatan abah saja sudah sangat kuat, tapi kekuatan gleipnr masih lebih kuat, gila. Bener-bener gila, ini ibarat mendaki langit tanpa tangga, yaitu mustahil.

“Tidak ada yang mustahil nak Edi, selama kita berusaha dan jangan menyerah,” ucap abah guru membangkitkan semangatku.

“Ayo lagi abah, aku gak akan meyerah,” ucapku berdiri lagi dengan kuda-kuda siap bertempur.

“Haha, begitulah anak muda, abah tidak salah memberikan harta berharga kepadamu nak Edi,” seru abah guru.

Kemudian kita mulai latihan lagi, selama 4 hari aku dan abah latihan teknik beladiri tangan kosong, bisa dipastikan aku babak belur dibuatnya, sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengontrol kekuatan tenaga dalamku, ya aku sangat lemah dalam hal kontrol, disaat lawan menyerang dari depan, aku fokuskan kekuatanku di depan, tapi jika ada lawan lagi dari belakang menyerang, bisa dipastikan bahwa bentengku langsung hancur. Di sinilah letak kelemahan pertamaku, aku mengingat pelajaran yang diberi oleh abah. Karena ini hari minggu, rencana Mei mau ngajak aku jalan-jalan, setelah puas jalan-jalan mampir sebentar ke rumahnya, karena masih pagi aku lari-lari dulu ah sama mbah Kosim, nyai Yun masih di rumah Mei karena aku belum tahu kelanjutannya dari Yongki, ya karena belum sempat ke rumahnya Mei. Aku menukar penjaga di rumahnya Mei, yang awalnya mbah Kosim kini ganti nyai Yun.??(Flashback sabtu kemarin)??“Hey sayang, besok kan hali minggu, main yuk,” ajak Mei dengan menyenderkan kepalanya di pundakku.

“Emm, mau main kemana?” tanyaku kepada Mei sambil menyalin catatan di depan papan tulis.

“Enaknya main ke mana sayang,” jawab Mei yang memberikan pertanyaan yang sama.

“Kalau ke danau Ngebel lagi gimana sayang,” kataku kepada Mei yang kepalanya kini ganti tiduran di atas meja sambil memandangiku.

“Hemb, ada yang salah denganku sayang,” sambungku kepada Mei yang entah kenapa memandangiku dalam.

“Engga sayang, helan aja, sejak kapan kita manggil sayang, padahal pacalan aja engga,” jawab Mei kembali yang masih lekat-lekat memandangiku.

“Emm, sejak kapan ya,” ucapku pura-pura lupa. Karena aku masih fokus dalam menyalin catatan di depan papan tulis.

“Ah, kamu gitu ed,” jawabnya sambil berdiri lalu pergi meninggalkanku.

“Hei sayang mau kemana?” tanyaku pada Mei yang sudah beranjak pergi.

“Mau ke toilet, ikut!” jawabnya tak kalah sewot.

“Ogah,” jawabku juga gak mau kalah.??(Kembali ke minggu pagi)??Begitulah obrolanku dengan Mei kemarin. Entah hari ini jadi main atau tidak, karena aku takut Mei akan mencariku dirumah, maka sejak pagi aku dirumah saja. Hanya olahraga kecil di depan rumah. Dan feelingku benar saja, baru 1 jam aku olahraga kecil di depan rumah, ada mobil Mei datang lalu masuk ke dalam halaman rumahku. Setelah berhenti dari pintu belakang keluarlah seorang bidadari yang cantik nan anggun. Aku langsung bengong melihat Mei memakai dress berwarna putih.

“Hey, bengong aja Ed,” sapa Mei setelah turun dari mobilnya.

“Eh gak sadar aku. Habisnya kamu cantik banget Mei, mau kemana!” candaku kepadanya.

“Ih kamu ya, katanya mau main,”

“Loh jadi kah mainnya, aku kira gak jadi,”

“Loh gitu kan Edi,” ucapnya cemberut.

“Kamu sih kemarin gak ngomong kalau mau main, aku aja hampir pergi main sama temanku habis ini,”

“Telus gimana, aku suluh pulang,” ucap Mei cemberut.

Pak Hariadi yang keluar dari mobil langsung menyalakan rokok dengan wajah tersenyum kecil, mungkin lucu kali ya, melihat anak muda saling menggoda. Aku persilahkan mereka masuk kedalam rumah, lalu aku meminta ibuku untuk menyuguhkan beberapa makanan dan minuman kepada tamu. Aku bergegas mandi lalu ganti baju, 15 menit kemudian.

“Yuk berangkat Mei. Kita mau kemana?” tanyaku kepada Mei.

“Ke danau itu lagi Ed,”

“Ayuk,”

Aku dan Mei masuk mobil dan tidak lupa meminta izin ke ibu bahwa pulangnya agak malam. Aku dan Mei pergi jalan lagi ke danau Ngebel, karena hari minggu pasti akan ramai di sana. Kurang lebih perjalan 2 jam kami sampai disana. Keluar dari dalam mobil udaranya sejuk dan sangat asri.

“Enak ya udaranya Mei,”

“Ih kok Mei lagi, huh,”

“Iya iya sayang, jangan ngambek gitu dong, senyum coba,”

“Engga mau, hemb,” ucapnya dengan memalingkan wajahnya.

“Ya sudah,” kataku meninggalkan Mei dengan jalan terlebih dahulu.

“Eh eh, kok gitu sayang,”

“Apa, tadi kamu bilang apa sayang,”

“Sayang,” ucapnya dengan tersipu malu.

“Hehe, yuk jalan,” ajak ku menggandeng Mei jalan keliling danau.

Aku lihat banyak muda mudi memadu kasih dengan pasangan mereka. Pengunjung rata-rata SMA dan mungkin kuliahan atau keluarga yang melepas lelah dengan berwisata ke danau ini. 

“Sayang aku tinggal ke toilet bentar ya, udah nanggung ini,”

“Ih sayang jolok ah, udah sana pergi,”

Aku berlari menuju toilet karena sudah diujung, 10 menit kemudian aku keluar dari dalam toilet, aku lihat Mei kok gak ada, kemana dia.

“Loh, Mei kemana kok gak ada,” ucapku melihat Mei tidak ada di depan toilet danau ini. Setelah berjalan cukup lama aku mendapati Mei jalan dengan cepat menuju mobil yang masih agak jauh di depan, di samping Mei ada anak remaja mungkin usia 17 tahun yang ngajak Mei bicara, mungkin minta nomor hp atau apalah, modusnya laki-laki dari dulu. Karena aku tahu aku teriak aja ke arah Mei. 

“Sayang, tungguin, jalan cepet amat,” ucapku sambil berlari, kemudian Mei menoleh ke belakang dengan ekspresi bahagia. Aku berlari ke arah Mei yang agak jauh. Karena Mei memakai dress panjang warna putih, bisa dipastikan dia sangat cantik.

“Huh.. huh.., sayang kamu jalan cepet amat,” ucapku berpura-pura ngos –ngosan seperti habis lari marathon.

“Hehe, maaf sayang, tadi pengen ke mobil duluan,”

“Tega kamu sayang, masa pacarnya ditinggal,”

“Maaf ya mas, aku udah punya cowok,” kata mei kepada laki-laki di samping kami.

“Sialan, aku kira gak punya, ya sudah,” ucap laki laki ini sambil mencolek anggota tubuh Mei.

“Kyaaaa… Plaaakkkk,” sebuah tamparan melesat ke arah wajah laki-laki ini.

“Sialan, kamu perempuan jangan sok jual mahal,” ucapnya yang hendak menampar Mei aku tahan tangannya.

“Cukup, apa kamu mau aku patahin tanganmu,” ucapku sambil menggenggam erat lengan laki-laki ini.

“Aduuhh..duh.. sakit woy lepasin,” ucapnya yang tak mau kalah, dengan menendang perutku.

“Bruk..!” tendangannya mengarah keperutku tapi aku tidak merasakan apapun. 

“Kamu minta maaf sekarang,” ucapku dengan memperkuat genggaman tanganku.

“Ahh, sakit, sakit..” ucapnya merintih kesakitan.

“Minta maaf sekarang,” ucapku lagi.

“Baik baik, aku minta maaf, aku salah,” ucapnya sambil meringis kesakitan.

Aku lihat mata Mei berkaca kaca hingga air matanya terjatuh, aku yang lihat Mei baru pertama kali mengeluarkan air mata. Aku tendang perut laki-laki tersebut.

“Brukk...!” tendanganku melesat ke arah perut laki-laki ini. Aku tidak tahu kalau dia punya teman dibelakangnya.

“Woy ada yang berantem,” ucap salah satu anak laki-laki di belakang sambil berlari, seketika itu teman dari laki-laki yang aku tendang perutnya berlari ke arahku, aku lihat ada 6 orang yang berlari. Sebelum bertarung dengan mereka aku ingatkan kepada nyai Yun.

“Nyai Yun, apapun yang terjadi, jangan sampai Mei di sentuh oleh mereka,”ucapku kepada nyai yang masih dibelakang Mei.

“Baik bos Edi, akan saya jaga anak ini,” ucapnya mengerti.

“Sayang, maaf ya, karena aku telat aku gak bisa jaga kamu,”

“Gak apa sayang, aku senang kamu jagain aku, telus gimana sayang, kita lali yuk kemobil bial pak Haliadi yang nanganin,”

“Udah, kamu percaya aja sama aku, mulai sekarang aku akan jagain kamu,”

Setelah mengucapkan sebuah kalimat itu, aku menghadap Mei lalu memegang kedua tangannya,??“Mei, mungkin aku gak pantas buatmu, tapi maukah kamu jadi pacarku,” ucapku yang secara spontan pertama kali nembak cewek.

“Aku mau, sudah lama aku menunggu kamu mengatakannya Ed,” ucapnya sambil menangis bahagia

“Terima kasih sayang, sayang tetap dibelakangku, jangan kemana-mana. Aku akan mengatasi mereka,”

“Heem, aku mengerti sayang,”

Aku mempebaiki nafasku, aku amalkan Tenaga dalam Asmaul Husna. Amalan ini dapat dilontarkan sampai jarak fikiran, yang artinya selama fikiran kita menjangkau sasaran, maka pukulan kita pun akan sampai, amalan ini termasuk dalam golongan tenaga dalam hikmah jadi lebih menyerang ke emosi dan jiwa musuh, hingga akhirnya akan berpengaruh kepada fisik lawan. Sebelum mereka berenam mendekat aku gunakan pukulan jarak jauh. 

“Bledaarrrr…” enam orang jatuh tersungkur di tanah, aku yang hendak menyerang lagi, dikagetkan dengan seorang kakek yang memeganggi pundakku.”Berhenti, sudah cukup,” ucap kakek ini. Aku melihat kakek ini, beliau dari golongan jin mungkin kekuatannya hampir mendekati khodam abah guru, walaupun bukan dari golongan Rijalul Ghaib tapi masih masuk golongan putih. 

“Kenapa kakek menyuruhku berhenti?” tanyaku kepada jin ini.

“Kamu terlalu kuat nak, kamu belum sepenuhnya bisa mengendalikan tenaga dalammu, kamu bisa membunuh mereka,”

“Baiklah kek, saya rasa pelajaran hari ini cukup,”

“Hemb, kamu memang bocah yang menarik,”

“Kakek dari mana bisa muncul,”

“Loh ilang,”

Kakek tadi hilang begitu saja, aku gak bisa melacak aura kakek ini, kakek yang datang dan pergi begitu saja, aku benar-benar kecolongan, aku gak bisa merasakan kehadiran Jin di dekatku. Bukan hanya tidak bisa merasakan kehadirannya, aku juga tidak bisa merasakan dia waktu hilang, seolah-olah auranya menyatu dengan alam. Hingga akhirya seorang bapak-bapak datang menghampiriku.

“Kamu gak apa-apa nak?” tanya seorang laki-laki paruh baya.

“Gak apa apa pak,” ucapku sambil mencari keberadaan kakek tadi.

”Kenapa, kamu mencari kakek ini,” ucap bapak ini sambil memperlihatkan kakek tadi dibelakangnya.

“Loh, kakek. Kok bisa disitu, apa jangan-jangan…” ucapku heran melihat orang ini.

”Haha, kamu masih sangat muda, sudah punya ilmu tenaga dalam, bagus juga bisa mengontrol tapi masih kurang, terlalu banyak tenaga dalam yang kamu pakai nak, menggunakan tenaga dalam itu seperti ini,” ucap bapak tersebut memberikan sebuah gerakan. 

Bapak tersebut memindahkan 5 orang yang pingsan ke dekatku hanya dengan satu tangan kanannya mengangkat seperti membawa piring dengan telapak tangan. ”Huph..” inilah cara menggunakan tenaga dalam nak, hanya menggunakan sedikit tapi kontrolnya menyeluruh, coba kamu angkat anak itu dengan tenaga dalam,”. Aku mencoba mengangkat 1 anak yang pingsan dijalan, aku mencoba mengangkatnya seperti bapak tadi dan “berat,” seperti mengangkat kursi duduk dari kayu yang berada di sekolahan. Karena aku tidak kuat dengan satu tangan, aku coba dengan dua tangan, dari mengangkat tubuh manusia dari jarak 10 meteran dan aku sudah kelelahan yang nampak dari wajahku.

“Gila, bapak kuat sekali,”ucapku yang kelihatan kelelahan, kemudian bapak tadi berjalan ke belakang tubuhku, kemudian menguluran jarinya ke arah punggungku lalu menusuk ruas tulang belakangku dengan telunjuk tangan kanannya. Sesaat kemudian tusukan tersebut makin lama makin hangat dan aku merasakan energiku kembali. 

”Bagaimana, udah mendingan?” tanya bapak tersebut.

“Sudah pak, terima kasih pak,” ucapku kepada bapak tadi.

”Ya sudah nak, kamu pulang saja lagi, suatu saat kita akan ketemu kembali,” ucap bapak tersebut lalu pergi.

Aku melihat dari kejauhan bapak tersebut pergi dengan keluarganya, aku lantas mengajak Mei untuk pulang saja.

“Sayang, ayuk pulang,”

”Ayo sayang, aku ingin istilahat,” ucapnya sambil menggandeng lengan kananku.

Aku masuk ke dalam mobil Mei kemudian kita pulang ke rumah Mei. Jam 14.30 sampailah di rumah Mei, karena di dalam rumah bosan, aku ajak Mei main ke rumah kak Beni saja. Sampai dirumah kak Beni, aku ngobrol dengan mereka, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 18.00 aku pamit ke mereka lalu pulang ke rumah Mei. Setelah sampai dirumah Mei, aku duduk di dalam rumah menunggu adzan magrib lalu menunaikan shalat magrib di kamar tamu, kemudian aku ajak Mei duduk di depan teras.

“Sayang, kenapa senyum-senyum,” ucapku kepada Mei yang sejak tadi senyum mulu.

”Hehe, seneng aja sayang, akhilnya kamu mengutalakan pelasaanmu kepadaku,”

“Kamu mau sama aku sayang, padahal lihat sendiri aku seperti apa, keluargaku seperti apa,” ucapku membuatnya berpikir.

”Aku gak memandangmu dali halta ataupun fisik sayang, sejak peltama ketemu waktu pendaftalan, aku udah nyaman sama kamu, tenang lasanya didekatmu,” ucapnya memandangku lekat-lekat.

“Hehe, makasih sayang sudah nerima aku,”

“Cuupp,” sebuah ciuman dariku mendarat di pipi kanan Mei.

”Hehe, lagi dong yang sini,” ucapnya menunjuk pipi kirinya.

“Cuuuppp,” sebuah ciuman dariku mendarat di pipi kirinya.

”Hehe, makasih sayang, sayang kamu banget,” ucapnya sambil memelukku yang sedang duduk dikursi depan.

“Sudah sudah, itu diliatin papa kamu,” kataku kepada Mei yang sedang memelukku.

”Heh, mana papa,” ucapnya sambil melepas pelukannya.

“Dalam foto, hihihi,” balasku tertawa.

”Iiihhh.. sayaanngg..” ucapnya sambil mencubit pipiku.

“Aduhh.. duh.. duh,” rintihanku sakit menahan cubitan Mei di pipi kiriku.

Sejenak kemudian munculah sebuah motor dari pintu depan, dari suaranya aku hafal dengan motor ini, pasti Yongki.

“Sayang, ambilin minum dong haus,” ucapku ke Mei untuk masuk ke dalam.

”Oke sayang, bental ya,”

“Yang lama juga gak apa sayang,”

”Ihhh, kamu gitu deh sayang,” Kemudian Mei masuk ke dalam rumah, aku lantas menghampiri Yongki yang baru masuk dari luar.

“Oh masih berani ya kamu datang kesini,” hardikku kepada Yongki.

”Kamu ngapain disini,” ucapnya kaget melihat aku ada di rumah ini. 

“Aku, ya ngapeli pacarku lah, ngapain lagi,”

“Bagaimana rasanya di santet oleh pamanmu sendiri,” ucapku kepada Yongki.

”Kau, jadi kau yg ngirim balik santet itu,” ucapnya dengan ekspresi ketakutan.

“Aku ingatkan sekali lagi, kalau kau masih berhubungan dengan keluarga pak Jonathan, aku pastikan sukmamu di asingkan dan kau tidak akan bisa kembali ke dunia ini,” ucapku dengan mengancam kepada Yongki.

”Aku.. aku..” ucapnya tergagap.

“Kenapa masih disini, sana pergi,” kataku seraya mengusirnya.

Kemudian Yongki balik lalu pergi meinggalkan rumah Mei. Sesaat kemudian Mei datang membawakanku segelas jus alpukat.

”Sayang, nih minumnya,”

“Makasih sayang,”

“Eh sayang, kakakmu ada dirumah,”

”Ada sayang, palingan didalam kamal, kenapa sayang,”

“Kakakmu suka gak dengan jus alpukat,”

”Suka sayang, memang kenapa,”

“Bentar ya sayang,”

Aku menyuruh Mei diam sebentar, aku membacakan ayat suci Al-Quran untuk menghilangkan pengaruh gaib dari Yongki. 

“Sayang, berikan ini kepada kakakmu, suruh minum sampai habis, kemudian besok lihat reaksinya sayang,”

”Ini apaan sayang, kakakku kenapa sayang,”

“Sudah sayang jangan bawel ah, ini buat kebaikan kakakmu, percaya deh sama kekasihmu ini,” rayuku kepada Mei.

”Oke deh sayang, aku pelcaya,”

Kemudian Mei membawa jus alpukat ke dalam rumahnya untuk diberikan kepada kakaknya. karena jam menunjukan pukul 22.00 aku pamit ke Mei dan ayahnya untuk pulang karena sudah malam. Yang aku lihat dalam fikiran Yongki adalah, setelah Yongki meniduri kakaknya dan menguras harta pak Jonathan lewat Fei secara pelan-pelan, lantas Yongki ingin macarin Mei serta menikmati tubuh Mei dan juga menguras hartanya secara pelan-pelan juga, sebaliknya Fei, kakaknya Mei akan di berikan kepada sepupu Yongki, setelah sepupu Yongki puas memeras harta keluarga pak jonathan lantas memberikan Fei kepada teman-teman Sepupu Yongki. Begitu pula dengan Mei, hampir saja Mei dan Fei akan jadi kupu-kupu malam. Aku gak bisa bayangin, bisa ya mereka menyakiti hati wanita.