Episode 308 - Percaya Diri



“Apa yang engkau pikirkan!?” 

“Sebagai ketua panitia upacara adat, adalah tanggung jawabmu memastikan agar gadis Dayak Kaki Merah keluar bersama dengan kita!” 

Keributan terjadi di langit tinggi antara anggota Dewan Dayak. Sasaran amarah, tak lain adalah Balian Bapuyu Huludaya yang berperan sebagai ketua panitia upacara adat. Tatkala keluar dari dimensi dunia Goa AwuBalang, tokoh tersebut seharusnya membawa serta Kuau Kakimerah, tepat sebelum gadis belia itu kehilangan kesadaran. 

Balian Bapuyu Huludaya hanya diam. Bukan ia lupa akan tugasnya, akan tetapi ia memang sengaja tak membawa serta Kuau Kakimerah. Dengan meninggalkan gadis belia tersebut di dalam dimensi dunia Goa AwuBalang, maka di masa datang tak akan ada lagi upacara adat. Dengan kata lain, kegiatan yang memakan korban dalam jumlah teramat besar tak akan berulang lagi. 

Mengorban satu, demi menyelamatkan ratusan bahkan ribuan anak remaja. Demikian adalah pemikiran Balian Bapuyu Huludaya. Sederhana. 

Atas tindakan-tindakan Bapuyu Huludaya, hli-ahli digdaya dari enam rumpun besar suku dayak sudah jelas terpecah. Akan tetapi, walau sedang dibalut amarah, tak ada yang sampai kalap dan membuka pertarungan. Ada semacam kode etik yang mencegah baku hantam di antara mereka. Apalagi, pertempuran di antara ahli sekelas anggota Dewan Dayak pastilah berlangsung gegap gempita. Rumpun dayak dari mana mereka berasal, tentunya akan ikut serta. Perang saudara dapat tercipta kapan saja. 

Demikian, keenam anggota Dewan Dayak berpencar. Hanya Balian Bapuyu Huludaya yang menetap, karena ia hendak menyaksikan para remaja menenangkan diri. 

Suara tangis tersedu terdengar di sejumlah tempat. Bagaimana tidak, mereka kehilangan saudara dan sahabat dalam jumlah banyak hanya dalam waktu sehari. Perlahan, mereka pun membubarkan diri, lalu kembali menuju pemukiman masing-masing. 


“Tendanganmu membuat tulang rusuknya retak…” Panglima Segantang berjongkok, memeriksa keadaan Aji Pamungkas yang sedang tergelatak di rerumputan. Dalam keadaan tak sadarkan diri, raut wajahnya demikian damai. Sama sekali jauh dari kesan mesum yang biasanya ditampilkan.   

“Kau menyalahkan aku!?” hardik Canting Emas kesal. “Andai saja kau tak keras kepala, maka aku tak perlu menendang. Lagipula, adalah engkau yang memajang tubuhnya sebagai tameng!”

“Tendangan yang bagus!” Panglima Segantang berujar penuh semangat. 

“Aarghh… Aku akan mencari tabib di pemukiman terdekat!” Canting Emas mengabaikan komentar Panglima Segantang, kemudian ia menyeret tubuh Aji Pamungkas. 

“Aku akan kembali ke Istana Danau Api,” ujar Panglima Segantang. “Sudah terlampau lama berada di sini.”

“Bagaimana dengan Kuau dan Bintang!?” hardik Canting Emas. “Kau hendak meninggalkan mereka yang masih berada di dalam sana!?” 

Panglima Segantang mengibaskan lengan, sebagai isyarat bahwa tiada yang patut dikhawatirkan. “Kuyakin Sahabat Bintang akan membawa Kuau kembali dalam keadaan selamat...,” ujarnya penuh percaya diri. 

Canting Emas hanya menatap, mendecakkan lidah, lalu memutar tubuh. Ia pun percaya bahwa Bintang Tenggara akan kembali bersama Kuau Kakimerah. 


==


Kuau Kakimerah jatuh tergeletak dan kehilangan kesadaran. Tenaga dalamnya habis terkuras karena memaksakan diri terlalu lama membuka lorong dimensi antar dunia. Sementara itu, lorong dimensi antar dunia itu sendiri telah tertutup dan menghilang dari pandangan. 

Suasana masih hiruk-pikuk. Ribuan, bahkan mungkin belasan ribu binatang siluman serangga menerjang bak air bah yang tiada terbendung. Kini sudah tak ada lagi yang menghalangi gerak langkah mereka. Tujuan mereka berada di hadapan mata, yaitu dua anak remaja yang tertinggal. 

Bintang Tenggara salah perhitungan. Awalnya ia berpandangan bahwa masih memiliki waktu lebih dari cukup untuk keluar. Pada detik-detik akhir, ia berencana melakukan teleportasi jarak dekat, lalu membawa Kuau Kakimerah bersama-sama melompat ke dalam lorong dimensi ruang antar dunia. Bintang Tenggara lalai memperhitungkan bahwasanya cadangan tenaga dalam Kuau Kakimerah yang sudah terkuras.

Ajal sudah berada tepat di depan mata. Seorang diri, tiada mungkin bagi anak remaja itu menghadang binatang siluman serangga. Jumlah mereka terlampau banyak dan kalaupun bisa, mau pergi ke mana ia melarikan diri nanti...?

Kelebat-kelebat pikiran putus asa mencuat di dalam benak si anak remaja. Bilamana ajal datang menjemput, kemanakah diri ini akan dibawa nanti...? Apakah ada dunia lain yang bernama surga dan neraka...? Ataukah menjadi roh yang bergentayangan...? 

Roh...

“Wahai Roh Nyaru Menteng nan mulia, kumohon inayat akan degar… Halilintar!”

Bintang Tenggara belum mau menyerah! Ia kemudian melempar Tempuling Raja Naga ibarat sebilah lembing. Senjata pusaka tersebut mendarat tepat di sisi tubuh Kuau Kakimerah yang sedang tak sadarkan diri. 

Di saat yang bersamaan, pandangan matanya terhadap keadaan sekitar sudah berubah serba ungu, sebagai petanda bahwa ia sedang dalam keadaan yang memungkinkan untuk melihat roh. Terdapat berbagai macam roh berwujud binatang yang sediakala tak kasat mata, tapi kini terlihat jelas melayang-layang di wilayah di mana dirinya berada. 

Roh berwujud seekor burung rajawali raksasa yang sedang terbang melayang tinggi di angkasa, pun menanggapi panggilan. Ia serta merta menghilang dari tempatnya, kemudian muncul dalam wujud pola rajah sepasang kepak sayap di bahu kiri dan kanan Bintang Tenggara. 

Akan tetapi, selain munculnya rajah, kali ini terdapat perbedaan pada raut wajah Bintang Tenggara. Jika diperhatikan dengan seksama, maka ia yang biasa tampil tenang kali ini terlihat berubah beringas, bahkan liar ibarat binatang buas. Hawa membunuh nan teramat kental menyibak ke semerata penjuru! 

“Asana Vajra, Bentuk Ketiga: Vriksasana!”

Petir tumbuh bergemeretak… sampai terdengar jelas layaknya dahan-dahan dan ranting pohon yang berpatahan. Postur tubuh Bintang Tenggara, kini sempurna seperti pose pohon di dalam yoga. Ia selesai merapal! 

Dengan mustika tenaga dalam dan pemahaman jurus saat ini, Bintang Tenggara mampu menumbuhkan wujud pohon petir hanya dalam sepersekian detik. Sementara dalam kaitan ukuran, pohon petir tumbuh menjulang setinggi lima belas meter dan mencakup wilayah dalam radius lima belas meter juga. 

Sebagaimana diketahui, kemampuan Roh Nyaru Menteng bukan merupakan sebuah jurus, melainkan peningkatan unsur kesaktian yang menjadi dasar dari jurus. Dengan kata lain, kemampuan Roh Nyaru Menteng adalah mengubah sifat unsur kesaktian menjadi semakin lebih kuat dari pada aslinya. Oleh karena itu, yang paling kentara pada wujud pohon petir kali ini, adalah warnanya yang hitam pekat!

“BELEDAR!” 

Dahan dan ranting petir berubah menjadi badai halilintar! Suasana seketika berubah gelap di kala petir berwarna hitam melahap segala. Ratusan binatang siluman serangga berbagai jenis, yang berada di dalam wilayah kekuasaan, tak sempat menghindar. Meski naluri mengisyaratkan untuk segera melarikan diri, akan tetapi kecepatan badai halilintar melahap habis tanpa terkecuali! 

Badai berlangsung cepat, meninggalkan tubuh-tubuh binatang siluman serangga nan tercabik-cabik. Sebagian hangus, tak ada lagi yang bernyawa. Akan tetapi, wilayah cakupan badai halilintar masih cukup kecil bilamana dibandingkan dengan jumlah binatang siluman yang datang. 

Apakah upaya Bintang Tenggara berujung sia-sia...? Walau kemampuan jurus yang dikerahkan teramat digdaya dan berada jauh di atas ahli sepantaran, sesungguhnya ia hanya memperlambat waktu. Di samping itu, tenaga dalamnya sudah terkuras sehingga tak ada lagi yang dapat diperbuat. 

Dengan sisa tenaga yang hanya sedikit, Bintang Tenggara melompat ke arah tubuh Kuau Kakimerah. Meski berada di dekat badai halilintar hitam, tubuh gadis tersebut tiada terpengaruh. Tempuling Raja Naga yang menancap di dekat gadis belia itu, pada dasarnya memiliki kesaktian unsur tanah, sehingga menyerap dan menjadi penghantar petir ke permukaan bumi. 

Berdiri tegar, Bintang Tenggara menghunus tempuling. Di saat yang sama, ia membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Menurut perkiraannya, waktu yang tercipta cukup untuk setidaknya mengisi setengah wadah penampungan mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 1. 

Sedikit lagi... anak remaja itu membatin. Ia sangat percaya diri dapat menciptakan sebuah kesempatan. Atau lebih jelasnya, keajaiban, 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!

Dengan menggandakan kekuatan dan kecepatan tubuh, anak remaja itu tetap enggan menyerah. Ia menikamkan Tempuling Raja Naga bertubi-tubi dan dalam sekejap mata, lapisan terdepan kerumunan binatang siluman serangga yang mengepung ditikam habis. 

Di kala menikam, mulut Bintang Tenggara sibuk mengucap puisi pemanggilan. Dewi Anjani tiba, dan anak remaja itu pun menggenggam golok angin Mustika Pencuri Gesit. Memutar tubuh 360 derajat, bilah angin melibas beberapa baris binatang siluman serangga yang mendekat. 

Beberapa waktu berlalu, seorang diri Bintang Tenggara berjuang dan terkepung. Pada akhirnya, jumlah binatang serangga terlampau banyak, dan dirinya kembali kehabisan tenaga dalam. Selain itu, tubuhnya pun sudah memberi tanda-tanda kelelahan, bahkan berdiri pun terasa sangatlah sulit. 

Bintang Tenggara menyadari bahwa dirinya sudah mencapai ambang batas kemampuan. Sedikit lagi... anak remaja itu kembali membatin. Seolah-olah ada sesuatu yang ia nantikan... Seolah-olah ada harapan yang masih terbuka. 

Gerakan Bintang Tenggara serampangan dan membabi-buta. Ia tiada lagi menikam, melainkan melibaskan Tempuling Raja Naga. Berputar-putar tak tentu arah, berupaya sekuat tenaga menghalau terjangan binatang siluman serangga. 

 Ajal kembali bergerak, datang dalam kerumunan yang berarak. 

“DUAK!” 

Tetiba, tubuh sejumlah binatang siluman serangga yang hendak melibas, meledak di tempat. Serpihan tubuh berserakan, dan binatang-binatang siluman lain tertahan di tempat.

Hentakan tenaga dalam yang baru saja melesak, membuat tubuh Bintang Tenggara yang sudah tak kuasa berdiri, ikut terhenyak. Bertopang pada satu lutut, ia mendongak tinggi ke atas. Sesuatu yang telah ia nanti, sampai harus mengulur-ulur waktu, berada jauh tinggi di atas kepada...

Salah satu dari tiga gumpalan awan hitam, telah tiba!