Episode 59 - Empat Penguasa kota



Mobil-mobil mewah berbaris dengan rapi di jalan yang ramai dan menjadi pemandangan yang membuat setiap orang yang melihatnya iri. Barisan mobil itu terus melaju hingga sampai sebuah titik, di mana jalan sangat penuh, hingga tidak mungkin lagi untuk bergerak. 

Barisan mobil itu terjebak macet.

“Sial! Kenapa hari ini ramai sekali!”

“Apa yang terjadi, kenapa macet sekali hari ini?”

“Sial! Aku belum makan malam, cepatlah bergerak.”

Omelan dan keluhan terdengar dari para pengemudi jalan, akan tetapi tidak ada yang bisa mereka lakukan selain membunyikan klakson dan mengeluh untuk mengekpresikan kekesalan mereka.

Termasuk juga mereka yang berada di dalam barisan mobil mewah tadi, yaitu geng Serigala hitam, hampir saja karena emosi Nino keluar dan mengamuk, akan tetapi dia segera ditahan oleh tangan kanannya yaitu Roy. 

Setelah terjebak selama tiga puluh menit akhirnya jalan kembali normal lagi, dan ternyata penyebab kemacetan tadi adalah karena terjadi sebuah kecelakan mobil dan pengemudi lain yang melewatinya ingin memvideokan kecelakaan tersebut hingga kendaraan menjadi menumpuk.

Mereka hanya ingin melihat dan mengabadikan, tanpa ada uluran tangan.

Bagi mereka, mungkin penderitaan orang lain adalah tontonan yang sangat menarik dan menghibur, hingga mereka merasa bahwa seluruh dunia wajib mengetahuinya dan merasa terhibur juga.

Tidak lama kemudian rombongan mobil yang dikendari oleh geng Serigala Hitam akhirnya sampai di sebuah restoran mewah. Desain restoran tersebut seperti bangunan abad pertengahan tapi tetap membawa kharisma dan wibawa yang membuat restoran itu tampak mewah dan artistik.

Setelah memarkirkan mobil, geng Serigala Hitam, yang dipimpin oleh Nino segera masuk ke dalam. Di pintu masuk mereka segera di sambut oleh seorang gadis cantik yang mengenakan pakaian yang amat sangat seksi. Gadis tersebut dengan ramah menerima mereka dan mengantarkan mereka.

Sebuah ruangan mewah dan luas dengan banyak meja panjang yang di kelilingi kursi terlihat di dalam ruangan tersebut. Di atas meja terdapat berbagai hidangan yang cukup untuk seratus orang, dan di dalam ruangan tersebut terdapat beberapa meja panjang. 

Tanpa sungkan Nino langsung duduk disalah satu kursi dan merasakan kenyamanan yang tak terhingga dan membuat emosinya sedikit mereda. Dengan Nino sebagai yang pertama, kemudian Roy, Ren, dan semua anggota geng Serigala Hitam segera mengisi semua kursi di dua buah meja.

Geng Serigala Hitam membawa hampir lima puluh orang, dan di dalam ruangan luas tersebut terdapat delapan meja panjang dan masing-masing di kelilingi oleh tiga puluh kursi. 

“Di mana Bosmu?” tanya Nino pada gadis cantik yang memandunya tadi.

Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang pria masuk sambil berkata, “Di sini.”

Senyuman ramahnya membuat dia terlihat seperti orang baik, tapi jangan pernah tertipu, karena sebenarnya pria ini adalah bos dari geng Naga Emas, dia menyebut dirinya sendiri Dragon.

Dragon masuk ke dalam ruangan tersebut yang diikuti oleh anak buahnya yang jumlahnya tak kalah banyak dari geng Serigala Hitam. Mereka juga menduduki dua meja bundar.

Sangat kontras dengan geng Serigala Hitam, geng Naga Emas menggunakan jas dan celana putih dengan beberapa aksesoris yang terbuat dari emas. Seperti pemimpin geng Naga Emas, yaitu Dragon, dia memakai sebuah cincin emas dengan motif seekor naga yang sedang menyemburkan api. Sangat mewah dan elegan.

Dibanding dengan empat penguasa yang lainnya, geng Naga Emas bisa dibilang sebagai yang paling kaya. Itu semua berkat bisnis yang mereka lakukan lebih berani dari geng lainnya. Geng Naga Emas menjalankan bisnis obat-obatan terlarang dan penjualan wanita. 

Dengan kekayaan mereka, Dragon tidak pernah berurusan dengan aparat kepolisian dan pemerintah, karena uang yang mereka miliki dengan cepat bisa menyelesaikan semua urusan mereka.

“Aku tidak pernah menyangka kau yang akan sampai pertama.” Ucap Dragon sambil mengangkat gelas yang berisikan anggur lalu meminumnya sekali tenggak.

“Tentu saja, aku memiliki banyak orang hebat di gengku, jadi bisnisku sangat lancar dan mudah, tidak bisnis seseorang.” Nino berkata sambil tersenyum sinis pada Dragon. Dia membencinya, terkhusus bisnis yang dia jalankan.

“Haha, maaf, aku sedikit terlambat bukan karena bisnisku, tapi tadi aku terlalu repot menghitung uangku, sial! Banyak sekali, aku bahkan harus menyewa banyak orang untuk menghitungnya, bisa kau tebak, uangku...”

“Diam! Aku tidak peduli berapa banyak uang yang kau miliki.” Bentak Nino.

“Haha, nikmati semua makanan yang ada, tenang saja, kau tidak perlu sungkan, lagipula tempat ini adalah milikku.” Ucap Dragon dengan senyum yang terlihat sangat puas.

Brak

Suara pintu yang didobrak dari luar menarik perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan. Kemudian dengan sombong masuk tiga orang pemuda dengan beriringan, yang pertama adalah seorang pemuda dengan rambut berwarna pelangi, yang kedua adalah seorang pemuda yang tampak menyeramkan karena banyak tindik yang menghiasi wajahnya, dan yang terakhir adalah seorang pemuda dengan sebuah radio besar di samping kepalanya.

“Yo yo, sepertinya sudah ramai yo.” Ucap pemuda yang membawa radio dengan gaya seperti repper.

“Haha, orang-orang elit itu sudah berkumpul.” Ucap pemuda bertindik dengan sinis.

“Berhenti mengatakan omong kosong dan cepat masuk.” Ucap pria dengan rambut berwarna pelangi.

Pemuda dengan rambut berwarna pelangi bernama Dion, pemuda dengan banyak tindik diwajahnya bernama Ara, dan pemuda yang membawa radio bernama Jay.

Mereka bertiga adalah bagian dari geng Pemburun Iblis, salah satu dari empat geng penguasa kota. Geng ini tidak seperti geng lainnya, tidak ada yang tahu siapa bos dari geng Pemburu Iblis ini, akan tetapi ketika dia sudah kelaur, semua musuhnya akan kalah. Karena itu, meskipun geng ini hanya berisi pemuda jalanan, tapi tiga geng lainnya tidak berani untuk mengusiknya.

Pernah suatu waktu, geng Naga Emas mencoba untuk menyerang geng Pemburu Iblis, akan tetapi keesokan harinya semua dibayar lunas oleh bos misterius dari geng Pemburu Iblis dan geng Naga Emas mengalami kerugian yang sangat besar. Sejak saat itu tidak ada lagi yang mencoba mengusiknya, akan tetapi api kebencian masih menyala di antara dua geng tersebut.

Geng Pemburu Iblis datang hanya dengan belasan orang, jadi meja bundar yang mereka tempati masih memiliki banyak kursi kosong.

Setelah masuk mereka langsung melahap makanan yang ada di atas meja tanpa peduli dengan kehadiran dari geng Serigala Hitam maupun tuan rumah yaitu geng Naga Emas.

“Berandalan tetap saja berandalan.” Ucap Dragon dengan sinis.

“Hah? Kau mengatakan sesuatu?” tanya Dion sambil menaikan dagunya dan menatap tajam pada Dragon.

“Tidak ada.” Jawab Dragon singkat lalu membuang muka.

Ruangan kembali sunyi, hanya ada suara anggota geng Pemburu Iblis yang sedang makan dan anggota geng Serigala Hitam yang secara bergantian meniupkan asap rokoknya.

Namun tiba-tiba saja suara sepatu yang menghantam lantai, suara itu terdengar seirama dan semakin mendekat. Lalu dengan perlahan dari arah pintu yang belum ditutup masuk rombongan gadis dengan gaun yang sangat cantik dan dengan senyum yang indah di wajah mereka. 

Sosok gadis yang memimpin para gadis tersebut adalah seorang perempuan tinggi dengan gaun merah ketat membungkus tubuhnya yang membuat lekukan tubuhnya terlihat sangat jelas, terutama di bagian dada dan pantatnya. Namanya adalah Jessica.

Aroma parfum yang memikat tiba-tiba menggantikan aroma rokok yang sebelumnya sangat membuat ruangan tersebut sangat tidak nyaman. Mereka dengan perlahan duduk di meja yang masih kosong.

“Maaf, aku terlambat, tadi ada sedikit masalah.” Ucap Jessica dengan senyum yang menggoda. Namun, sama sekali tidak ada raut wajah penyesalan yang di wajahnya.

“Haha, tentu saja, tidak masalah.” Ucap Dion sambil berdiri dan mendekati mereka yang diikuti oleh teman-temannya.

“Yo santai saja yo, kami juga baru sampai yo.” Ucap Jay dengan senyum yang cerah.

Lalu kemudian mereka duduk di sekitar rombongan gadis tersebut, karena memang rombongan tersebut hanya berjumlah sepuluh orang, jadi masih banyak kursi kosong di sekitarnya.

“Hehe, baguslah kalau begitu.” Jessica berkata dengan senyum kecil di wajahnya.

Jessica dan rombongan gadis yang dia bawa adalah geng terakhir dari empat penguasa kota ini. Mereka menyebut diri mereka Mawar Biru, dan di geng tersebut semuanya adalah gadis-gadis cantik, tanpa terkecuali.

Namun, meskipun semua anggotanya adalah perempuan, geng Mawar Biru tidak bisa dipandang sebelah mata, karena mereka menjalankan bisnis penyelundupan yang membuat mereka mengenal banyak orang dan kemudian sosok mereka sangat penting di dunia bawah tanah.

Dengan sosok mereka yang cantik, geng Mawar Biru dengan mudah dapat mengelabui orang-orang dan bisnis penyelundupan mereka bisa berjalan dengan mudah. Apa yang mereka selundupkan biasanya adalah alat elektronik, kosmetik, hingga senjata api.

Dan semua senjata api yang dimiliki oleh geng lainnya berasal dari geng Mawar Biru. Karena itu, mereka adalah sosok yang tidak bisa kau sentuh meskipun kau menginginkannya, atau kau akan merasakan konsekuensinya, duri tajam dapat dengan mudah melukaimu.

“Hei, semuanya sudah datang, cepat katakan apa yang sebenarnya ingin kau sampaikan.” Nino berteriak pada Dragon.

“Haha, tenang dulu, biarkan para gadis-gadis cantik itu mencicipi rasa dar makanan spesial di restoran milikku.” Ucap Dragon dengan bangga sambil mengatakan kata terakhirnya sedikit lebih keras.

“Fufu, kami memang belum makan apapun sebelum datang kemari, jadi kami tidak akan sungkan untuk menerima tawarannya,” Jessica berkata dengan senyum tipis di wajahnya sambil menatap Dragon, lalu dia dengan perlahan mengalihkan pandangannya pada Nino dan berkata, “tidak apa-apa, kan?”

“Hmm...” Nino hanya mengangguk pelan tanda setuju.

“Haha, beanr sekali, mari kita nikamti makanan disini. Tenang saja, aku bisa pastikan semuanya sangat enak.” Ucap Dion dengan bangga.

“Hehe, baiklah, kalau begitu kami akan makan dulu.” Ucap Jessica.

Tidak lama, akhirnya Jessica dan semua anggota geng Mawar Biru telah selesai makan.

“Baiklah, terima kasih atas hidangannya.” Jessica dengan lembut berkata.

“Haha, tidak perlu berterima kasih, lagipula aku memiliki banyak untuk untuk dihambur-hamburkan.” Dragon dengan bangga berkata.

“Hei, jangan banyak omong kosong, cepat langsung ke intinya saja.” Nino berkata dengan ketus.

“Haha, sepertinya ada yang sangat tidak sabaran disini,” Dragon melirik Nino lalu melanjutkan, “sebelumnya aku mengucapkan terima kasih karena kalian bersedia hadir kemari, jadi apa yang ingin aku katakan adalah tentang si Iblis Hitam.”

“Si Iblis Hitam?”