Episode 78 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (1)



Mega Sari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Cukup Ibu! Seluruh raga saya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki sudah basah kuyub oleh dosa yang hanya bisa kering oleh api neraka! Biarkan diri saya tenggelam didalamnya!” kepala Dewi Nawang Kasih terkulai lemas mendapati ucapan putrinya yang sangat keras kepala itu, saat itulah tiba-tiba Nyai Lakbok pun hadir di sana. “Guru?!” seru Mega Sari.

“Muridku… kenapa kau benar-benar keras kepala? Aku sengaja mendatangimu lewat mimpi ini dengan membawa arwah ibumu untuk memperingatkanmu agar kau tak menyesal dan celaka di kemudian hari, tapi kau masih juga keras kepala! Hentikan polahmu sekarang juga muridku, sebelum semuanya terlambat!” ucap Nyai Lakbok.

“Kenapa guru juga ikut-ikutan menyruh saya untuk menghentikan niat saya? Bukankh salah satu tujuan dari ajaran kita adalah untuk membalas dendam?!” hardik Mega Sari.

“Karena kau sudah tidak dapat membedakan mana dendam kepada nasib, dengan dendam yang kamu anggap musuhmu! Semua orang kamu celakakan! Ingat muridku, perbuatanmu itu sudah jauh melenceng dari ajaran kepercayaan kita! Karena pada dasarnya Ilmu Teluh diciptakan hanya untuk mencelakai orang-orang yang telah berbuat tidak adil, yang telah mencelakakan dan menyakiti kita, bukan untuk mencelakakan semua orang apalagi untuk memusnahkan seluruh umat manusia!” jelas Nyai Lakbok dengan lembut.

“Tidak! Saya tidak akan berhenti sebelum semua orang yang telah menyakiti saya dibalas dengan setimpal! Mereka harus lebih menderita daripada aku!” kekeh Mega Sari.

Nyai Lakbok menghela nafas berat mendapati penolakan dari Mega Sari tersebut. “Mega Sari, kamu tidak tahu bahwa Jin Bagaspati yang melakukan perjanjian Wasiat Iblis denganmu dan menyusup kedalam raga suamimu itu Nakal! Dia jin pemarah yang sulit diatur! Dia tidak bisa dipercaya! Dia memang senang kalau disuruh membunuh, tetapi kalau terlalu sering membunuh, maka dia akan menjadi edan! Dan siapa saja akan dibunuhnya! Ingatlah muridku, bahwa peringatan kami berdua ini adalah sebagai bentuk rasa sayang kami kepadamu, kami hanya tidak ingin engkau celaka dan menyesal kelak! Pikirkanlah juga nasib bayi yang sedang kamu kandung! Hentikan perbuatanmu ini demi dirimu sendiri!” pungkas Nyai Lakbok yang kemudian menghilang bersama Dewi Nawang Kasih.

Mega Sari pun celingukan mencari kedua sosok yang hilang bagaikan ditiup asap tersebut, tapi yang terdengar hanya suara Nyai Lakbok yang kembali berpesan untuk terakhir kalinya pada wanita muda ini. “Lebih baik kau hentikan semua perbuatanmu ini sekarang juga! Kuburkan jasad suamimu dengan layak, hentikan perjanjian Wasiat Iblismu selagi masih bisa! Mandikan lagi jasadnya oleh air dari mata air yang masih suci dengan kembang tujuh rupa, kemboja putih, serta daun suji!”

Pandangan Mega Sari pun mengabur, kesadarannya kembali pada raganya, ia pun terbangun dari tapanya, putri dari Prabu Kertapati ini pun lalu menghela nafas berat dan merenung sambil mengelus-elus perutnya yang sudah hamil tua tersebut. “Kasihan kamu Nak, aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan apapun padamu saat ini… Oh Gusti, Seandainya aku tidak bertindak mengikuti hawa nafsuku, tapi sungguh, aku sama sekali tidak berniat untuk membuat kamu menderita! Sungguh!” rintih Mega Sari sambil menitikan air matanya, pikirannya mulai jernih, kepalanya mulai dingin, ia mulai tersadar dengan semua yang telah ia lakukan. Ki Silah dan emak Inah yang diam-diam melihat dan mendengar Gustinya merintih dengan pilu itu pun menitikan air matanya.

*****

Pagi harinya menjelang siang, Ki Silah tampak baru kembali dari hutan membawakan beberapa pohon Ubi Jalar dan Beberapa sikat pisang, “Gusti sudah bangun Nyai?” tanyanya pada emak Inah yang sedang menyalakan api untuk merebus air dialam kendi tanah liat.

“Dari tadi pagi belum bangun Kakang, saya takut kalau Gusti sakit, biasanya kan dia selalu bangun pagi.”

“Biasanya bawaan orang hamil kan inginnya tidur melulu, biar saja!”

Ki Silah lalu menghunus goloknya untuk memengupas kulit ubi jalar yang baru ia bawa dari hutan, saat itu terdengar suara Mega Sari memanggil dari dalam gua. “Abah!”

Ki Silah segera menyarungan goloknya, “Iya Gusti!” sambil beringsut bangun menghampiri majikannya.

Didalam gua, Mega Sari bangun dengan sangat lemas sambil memegang perutnya yang sudah semakin besar, saat itu masuklah Ki Silah dengan tergopoh-gopoh yang langsung duduk bersimpuh dihadapan Mega Sari. “Ada apa Gusti? Apa Gusti mau membangkitkan Gusti Pangeran?”

Mega Sari tidak langsung menjawab, Ia menghela nafas berat sambil menatap lemas pada tubuh Dharmadipa yang terbujur kaku. “Tidak Bah… Huffhhh… Terus terang saya dalam keraguan yang teramat sangat Abah, dalam semedi saya semalam, Almarhumah Kanjeng Ibu dan Guru datang untuk melarangku membangkitkan lagi Kakang Pangeran juga untuk segera menghentikan perjanjian wasiat iblis dengan Jin Bagaspati. Mereka juga menyuruh saya menguburkan jenasah Kakang Dharmadipa dengan layak semestinya… Bagaimana pendapatmu Abah?”

Ki Silah terdiam dengan raut wajah binung mendengar penuturan Mega Sari, pada dasarnya ia sangat setuju dengan nasihat dari almarhumah Dewi Nawang Kasih dan Nyai Lakbok yang mendatangi mimpi Mega Sari, namun ia serba salah, ia takut untuk menyinggung perasaan Junjungannya, maka ia pun menjawab “Saya akan berbahagia apabila Gusti Putri pun bahagia, dan saya akan mengikuti apa yang Gusti anggap baik…”

Saat itu tiba-tiba suara cuitan parau burung Sirit Uncuing terus bergema di seantero lereng Gunung Gede, suaranya sangat menyeramkan dan membuat takut Mega Sari, Ki Silah, serta Emak Inah, emak Inah pun langsung berlari masuk kedalam goa menghampiri suaminya dan majikannya, berbarengan dengan itu, angin panas yang anehnya malah terasa mencucuk tulang hingga ke sumsum dan menggidikan bulu kuduk bertiup kencang berseoran diiringi dengan bau tanah kuburan, bau bangkai, serta bau kembang tujuh rupa yang menghampar menusuk hidung ketiga orang didalam goa tersebut.

Mega Sari berusaha untuk menenangkan dirinya, tiba-tiba matanya melihat Jin Bagaspati melayang masuk kedalam dari mulut Goa, Ki Silah dan emak Inah saling berpelukan saking ngerinya melihat kedatangan mahluk halus ini yang hadir tanpa diundang! 

Wushhh! Sluppp! Jin Bagaspati merasuki tubuh mayat Dharmadipa! Mega Sari membelalakan matanya, ia terkejut hebat karena baru kali ini Jin Bagaspati sanggup untuk merasuki tubuh Dharmadipa tanpa ia perintah, padahal selendang pati sukma dan benang tirta sukma masih melingkar di pinggang serta jempol kaki kanan Dharmadipa!

Sekonyong-konyong tubuh Dharmadipa pun bangkit! Ia lalu menatap mata Mega Sari dengan tatapan yang sangat lebut, Mega Sari pun heran dengan tatapan Jin Bagaspati yang telah merasuki tubuh suaminya tersebut karena biasanya tatapannya kosong bagaikan tiada bersukma, dan terkadang tatapannya malah sangat beringas! Dharmadipa lalu tersenyum pada Mega Sari, “Nyai istriku, kemarilah, aku ingin bicara denganmu.” ucapnya dengan lembut diiringi senyum manis yang merekah di wajahnya yang sangat putih pucat pasi dan bermata semerah darah tersebut.

Kekagetan Mega Sari pun bertambah mendengar ucapan mayat suaminya yang sangat lembut dengan diiringi senyum manis tersebut, ia bagaikan melihat Dharmadipa sewaktu masih hidup dulu, dengan perasaan yang bercampur aduk antara kaget, heran, aneh, tapi senang juga, ia melngkah menghampiri mayat Dharmadipa yang terbangun dengan penuh kewaspadaan. 

Dharmadipa lalu menggenggam tangan Mega Sari dengan halus, lagi-lagi Mega Sari terkejut karena biasanya sekujur tubuh Dharmadipa sangat dingin laksana es, kini genggaman tangannya terasa sangat hangat, mayat hidup yang dirasuki Jin ini tersenyum manis sekali sambil menatap mata istrinya. 

“Urungkan niatmu Nyai, tegakah kamu meninggalkan aku didalam timbunan tanah yang pengap dan gelap? Tegakah kamu membiarkan belatung-belatung menggerogoti tubuhku hingga hancur?” lirih Dharmadipa.

Mega Sari terdiam sejenak berusaha untuk menguasai dirinya dari segala keanehan yang ia saksikan tersebut, baru ia menyahut dengan sebuah pertanyaan. “Bagaimana mungkin roh Kakang bisa masuk sebelum saya bacakan mantera untuk memanggil roh Kakang?”

Raut Wajah Dharmadipa berubah sekejap, tapi kemudian ia tersenyum lagi dengan tatapan hangat pada istrinya. “Aku akan masuk kapanpun aku mau… Kapanpun kamu membutuhkan aku, kapanpun aku ingin bersamamu… Hmm… Benarkah Nyai berniat mengubur aku?”

Seketika itu keraguan menyerang hati Mega Sari, pertanyaan Dharmadipa yang disampaikan dengan nada lirih serta tatapan matanya yang mengiba membuat hati wanita ini bergetar hebat, rasa tidak ikhlas kemudian mengemuka didalam hatinya karena bagaimanapun ia masih sangat mencintai suaminya, ia masih tidak sanggup untuk berpisah dengan suaminya!

“Saya… Sama sekali tidak Kakang… Mana aku sanggup untuk melakukan perbuatan sekeji itu padamu?!”

“Kenapa?”

“Karena saya sangat mencintaimu Kakang! Apakah Kakang masih ingat janji setia kita pada saat pernikahan kita dulu bahwa kita akan sehidup semati?”

Dharmadipa menyeringai dingin. “Mega Sari, aku dapat membaca apa yang ada didalam pikiranmu, aku dapat merasakan apa yang kau rasakan dalam hatimu!” Dharmadipa melotot hingga bola matanya yang semerah darah tersebut hampir saja meloncat keluar, Mega Sari dapat melihat samar-samar wajah menyeramkan Jin Bagaspati timbul tenggelam dari wajah Dharmadipa, akan tetapi ia seolah benar-benar terhipnotis oleh sikap Jin Bagaspati yang merasuki jasad Dharmadipa tersebut yang memperlakukannya bagaikan seorang suami yang mesra terhadap istrinya.

“Mega Sari, bukankah kau masih menyimpan dendam pada seluruh rakyat Negeri Mega Mendung? Nyai menginginkan kematian Ki Balangnipa? Kematian Arya Bogaseta? Kematian semua rakyat Mega Mendung? Kehancuran negeri Mega Mendung?!”

Mega Sari hanya bisa menatap lemas dan mengangguk pelan sekali mendengar semua pertanyaan Jin Bagaspati yang merasuk kedalam tubuh Dharmadipa tersebut, bayangan wajah Jin Bagaspati yang timbul tenggelam dari dalam wajah Dharmadipa pun menghilang, wajah Dharmadipa kembali tersenyum manis. “Nyai yakinlah bahwa aku akan membalaskan semua dendammu pada seluruh rakyat dan negeri Mega Mendung, sekarang peluklah aku Nyai!”

Mega Sari mengangguk lalu memeluk tubuh Dharmadipa yang kini terasa hangat bagaikan manusia yang masih hidup, Dharmadipa pun balas memeluknya, kemudian Dharmadipa mengecup kening Mega Sari dengan sangat lembut dan mesra! Karena perhatian Mega Sari sedang tertuju pada Dharmadipa yang membuatnya terpana, ia tidak menyadari bahwa ada sekitar sepuluh lelembut atau mahluk halus yang mengelilingi mereka berdua, sementara Ki Silah dan Emak Inah yang tak dapat melihat mereka hanya bisa merasakan kehadiran sepuluh mahluk halus itu dengan perasaan yang sangat ketakutan! 

Perlahan Jin Bagaspati pun keluar dari jasad Dharmadipa dan melangkah pergi bersama sepuluh mahluk halus tersebut. Jasad Dharmadipa pun kembali terkulai lemas tanpa menyadarkan diri lagi, sekujur tubuhnya pun kembali dingin laksana es, angin panas yang membuat bulu roma merinding dengan menebar bau kuburan, bangkai, serta kembang tujuh rupa itu pun lenyap.

Mega Sari pun perlahan membaringkan jasad Dharmadipa di tempat pembaringannya, Ki Silah dan Emak Inah pun menghampiri majikannya “Apakah Gusti Pangeran masih bisa kita kendalikan Gusti, kalau arwahnya sudah bisa keluar masuk sendiri?” Tanya Ki Silah.

“Benar Gusti, saya cemas kalau tiba-tiba arwahnya masuk dan dia mengamuk!” sahut Emak Inah.

Mega Sari menggelengkan kepalanya. “Apakah Abah dan Emak tidak melihat bagaimana lembutnya ia menyapaku? Bagaimana dengan mesranya ia memperlakukan aku seperti sewaktu ia masih hidup? Bagaimana dengan penuh kasih ia akan membalaskan dendamku pada seluruh rakyat Mega Mendung?”

Ki Silah dan Emak Inah saling pandang, kemudian pria tua bertubuh tinggi kurus ini kembali bertanya. “Bagaimana dengan pesan Gusti Dewi denga Nyai Guru dalam mimpimu Gusti?” Mega Sari terdiam, kembali kebimbangan menguasai dirinya, ia menatap keluar goa sambil menghela nafas berat.

Emak Inah pun menatap wajah Gustinya itu dengan tatapan iba, ia merasa sangat sedih karena majikannya tersebut masih saja larut dalam lautan dendamnya dan masih belum bisa mengikhlaskan kematian suaminya, sehingga hatinya bisa dikuasai oleh pengaruh jahat Jin Bagaspati. “Duh Gusti Allah yang Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui, tolonglah bukakan hati Gusti Putri, kuatkan hatinya dari bisik setan dan iblis jahat yang selalu menggodanya sehingga ia bisa ikhlas menerima takdir yang telah Engkau tetapkan pada dirinya.” mohonnya dalam hati.

*****

Siang itu di keraton Rajamandala, Dewi Larasati sang permaisuri Prabu Arya Bogaseta Nampak sedang termenung sambil memandangi kolam air mancur di taman kaputren dengan ditemani beberapa orang dayang, saat itu datanglah Prabu Arya Bogaseta dengan diiringi beberapa orang pengawal pribadinya menghampiri istrinya. Para dayang pun segera pergi meninggalkan Dewi larasati, Sang prabu kemudian menggandeng istrinya untuk duduk di balai bengong taman keraton tersebut.

“Bagaimana Kakang Prabu? Apa hasil dari pertemuan akbar untuk menanggulangi bencana ini?” Tanya Dewi Larasati dengan cemas.

Sang Prabu menghela nafas berat, wajahnya teramat muram, ia memang baru saja selesai menghandiri penghadapan agung dengan seluruh pejabat di Negeri Mega Mendung ini, dari mulai Demang, Adipati, para Tumenggung dan Rangga, para Mantri, Para Senopat dan Mahapatih, serta Raja-raja negeri bawahan, “Nyai, semua raja-raja bawahan negeri Mega Mendung, serta lebih dari separuh Adipati serta Demang menyatakan bahwa mereka hendak memisahkan diri dari Mega Mendung karena kita sudah tidak dapat melindungi mereka lagi dari terror mayat hidup Dharmadipa! Aku… Aku tidak sanggup berbuat apa-apa serta membujuk mereka agar tetap berada di di bawah naungan Mega Mendung, mereka memutuskan untuk memisahkan diri! Ada yang menyatakan bergabung dengan Banten, ada yang bergabung dengan Cirebon, bahkan ada yang memutuskan untuk bergabung dengan Sumedanglarang! Keagungan Negeri ini yang telah dibangung dengan susah payah oleh mendiang Kakang Prabu Kertapati hancur begitu saja tanpa bisa aku pertahankan!” jawabnya lirih.

“Kasihan rakyat kita yang selalu dicekam ketakutan, negeri yang rakyatnya selalu dicekam ketakutan, tidak pernah bisa makmur… Apakah saya perlu menghubungi Kanda Sultan di Banten untuk meminta bantuan Kakang Prabu?”

Prabu Arya Bogaseta menggelengkan kepalanya, “Tidak usah Nyai, Ini soal harga diri negeri ini, kita bukan sedang menghadapi serbuan dari negeri lain… Persoalan ini adalah persoalan keluarga kita yang ditimbulkan oleh keponakanku sendiri, Mega Sari putri mendiang Kakang Prabu Kertapati dan Kakak Dewi Nawang Kasih.”

“Apakah kita belum berhasil menghubungi orang sakti Kakang? Saya dengar Ki Patih Balangnipa dan Ki Senopati Sentanu bahwa mereka telah mencoba untuk menghubungi orang sakti dari pulau Nusa Kambangan.”

“Sebenarnya bukan hanya Ki Balangnipa dan Ki Sentanu saja yang berusaha, kami semua juga berusaha Nyai, hanya saja iblis itu sangat sakti, dia bisa berubah wujud menjadi apa saja, dia bisa menjadi mahluk hidup, maupun benda mati, itu kenapa seluruh pejabat yang masih setia pada Mega Mendung bersatu untuk mencari orang sakti, untuk melenyapkan gangguan Iblis itu! Akan tetapi banyak dari orang-orang sakti tersebut yang tewas oleh Iblis itu, bahkan Dukun sakti dari Nusa Kambangan yang dihubungi oleh Ki Balangnipa dan Ki Sentanu tidak menyanggupi permintaan kita karena takut tidak akan sanggupmenghadapi kesaktian Iblis ini!”

Saat itu datanglah seorang perempuan tua yang langsung menjura hormat pada Sang Prabu dan istrinya. “Ah Nyai Sokawati, silahkan! Saya memang telah menunggumu!”

“Daulat Gusti, apa yang Gusti perlukan dari hamba?” Tanya perempuan tua yang tak lain adalah istri dari Ki Patih Balangnipa, karena dari dulu ia dikenal mempunyai kemampuan untuk meramal selain juga orang tua yang telah lama hidup dilingkungan keraton Rajamandala, maka Sang Prabu merasa perlu untuk meminta pendapat wanita tua ini.

“Setelah gagal untuk memanggil bantuan dari dukun sakti di Nusa Kambangan, apakah Ki Patih sudah pulang?” Tanya Sang Prabu.

“Belum Gusti, setelah gagal membawa orang sakti dari Nusa Kambangan, suami hamba memutuskan untuk ke mampir terlebih dahulu ke Bukit tagok apu.”

“Maksudmu ia akan meminta bantuan Kyai Pamenang?”

“Benar Gusti.”

Prabu Arya Bogaseta terdiam sejenak dengan roman wajah berpikir keras sambil mengusap-usap dagunya. “Hmm… menurut pengelihatan Nyai, apakah Kyai Pamenang akan sanggup untuk mengalahkan Setan Sirit Uncuing itu?”

Nyai Sokawati terdiam sejenak sambil menutup matanya. “Ampun Gusti hamba tidak sanggup menembus tabir yang sangat pekat untuk dapat melihat masa depan.” ucapnya setelah membuka matanya kembali.

“Kenapa? Lalu apa pendapatmu untuk dapat mengalahkan Setan Sirit Uncuing ini?”

“Menurut hemat hamba… Keadaan seperti ini tidak akan bisa berubah, kalau penyebabnya tidak kita lenyapkan!”

“Nyai pikir siapa yang ada dibelakang semua ini?”

“Semua ini pelampiasan dendam Putri Mega Sari! Dia sangat sakit hati! Kekuasaan negeri ini yang seharusnya jatuh ketangannya malah jatuh ketangan Kakang Prabu, lebih-lebih setelah suaminya tewas!” celetuk Dewi Larasati tiba-tiba. 

“Kakang tentu masih ingat dengan peristiwa kematian Prabu Karmasura dan istrinya yang sangat mengenaskan di keraton ini, kemudian bagaimana sepak terjang keponakan Kakang itu yang memiliki ilmu hitam teluh Ngareh Jiwa yang terkenal akan kedahsyatannya itu!” sambungnya dengan nada berapi-api.

“Ya memang sampai sekarang kita belum bisa menemukan dan menangkap menangkap Putri Mega Sari serta kedua pembantunya yang setia itu!” sahut Sang Prabu.

“Ampun Gusti Prabu, menurut hamba Setan Sirit Uncuing itu memang sengaja dikendalikan oleh seseorang yang sangat tinggi ilmu hitamnya! Tujuannya adalah supaya seluruh penduduk di negeri ini menjadi resah dan ketakutan setiap hari, dengan begitu mereka jadi tidak bekerja, akibatnya negeri kita akan hancur, dan dengan sangat mudahnya ditaklukan oleh negeri lain!” ucap Nyai Sokawati.

Prabu Arya Bogaseta mengangguk-ngangguk setuju. “Baiklah selain berusaha mencari orang sakti untuk melindungi dan mengusir setan itu dari negeri kita, aku juga akan berusaha untuk mencari orang sakti yang kuutugaskan untuk mencari dan menangkap Mega Sari!”