Episode 35 - Makan Tuan



Tak ada yangterasa lebih menyenangkan dibanding menusuk musuh dengan pisau milik mereka sendiri.

—Si Jago Pisau Stepa


Gempa telah berhenti melanda.

Hikram terduduk, memegangi perutnya yang seakan baru ditendang oleh seekor kuda. Dalam pandangannya, dunia masih berputar-putar meski getaran hebat telah berakhir, sudah lama dia tidak dikunjungi rasa mirip saat-saat dia sedang mabuk berat seperti ini. Hikram menekapkan tangan ke mulut ketika rasa asam telah sampai ke tenggorakannya. Ia mau mencegah, tapi sudah terlambat.

 Tak ayal, Si Dewa Arak Kolong Langit langsung muntah di tengah-tengah medan pertempuran.

Beberapa saat kemudian ia menegakkan diri dengan lemas, napasnya terengah sementara lengan mengusap bibir serta jenggot yang bernoda hijau bekas muntahan. Sialan, makan siang yang didapatnya secara cuma-cuma dari Legiun Asing kini terbuang sia-sia.

Hikram mengedar pandang dengan lemas. Memang gempa hebat telah usai secepat datangnya, tapi pengaruh yang ditinggalkan tak dapat dipungkiri lagi. Meski sebentar, tonjolan kasar khas tanah retak yang sebelumnya tak ada di bukit kini muncul di mana-mana, seperti sebuah bisul yang tumbuh sembarangan di badan manusia. Gempa gila ini mampu mengacaukan pertarungan yang sebelumnya terjadi.

Bahkan, ketiga lawan Hikram yang telah dibuatnya tak sadarkan diri dengan luka lebam di berbagai sisi badan kini tersadar, salah satu merangkak hanya untuk merintih kesakitan, sementara dua lainnya hanya diam menatap langit seolah pasrah menunggu nasib.

Hikram mencoba berdiri dengan sangga tongkatnya. Dapat dilihatnya para legiun yang paling waspada tak membuang-buang waktu. Mereka bergegas berdiri dan mengambil senjata serta tameng yang jatuh, beberapa yang terang-terangan berlutut dan melindungi diri sembari memanggil-manggil nama ibu mereka mengikuti tak lama kemudian karena disentak oleh bentakan-bentakan dari Erutuhu selaku kapten Legiun Asing.

Hikram agak naik semangat saat dilihatnya Ambal yang sebelumnya beradu punggung dengannya menampakkan wajah pucat luar biasa. Rupanya si wajah kaku ini tetap bisa diguncang dari keteguhannya dengan cara mendekatkannya pada sebuah bencana. Lelaki besar lagi garang itu berlutut sembari mengatur napas, sementara mayat kedua lawannya bergeser beberapa jarak akibat getaran bumi.

Di saat itu, para Bandit Perunggu kesusahan berdiri, terang kelihatan terguncang akibat geliat bumi yang tiba-tiba. Hanya para Perak yang cukup gesit mampu untuk menyambar senjata mereka yang jatuh lantas meneruskan perlawanan pada legiun lagi, beberapa terang-terangan menendang atau mengancamkan senjata pada para perunggu yang tak juga bangun. Barisan-barisan yang terkacaukan kini dibentuk, dan langsung bertumbukan.

Betapa mengerikan bagaimana manusia masih mau saling bunuh bahkan setelah sebuah bencana menimpa mereka semua.

Dalam jeda itu Hikram dapat menemukan Si Bandit Emas, kini polos tanpa penjagaan dan dapat ia tengarai dengan cukup mudah karena para pelindungnya sedang kerepotan menghalau para legiun yang lebih sigap dalam soal kedisiplinan. Hikram dapat mengenalinya dari senjatanya, yang kini dapat Hikram lihat dengan jelas bentuknya. Hanya sebuah belati polos yang tumpul, tapi hasil yang ditimbulkannya tak bisa dipandang sebelah mata. Si Bandit Emas bersiap untuk mengarahkan belati itu pada legiun, ingin sekali lagi memulai pembantaian. Cepat-cepat si Dewa Arak Kolong Langit menepuk bahu Ambal yang masih susah payah untuk berdiri karena keberatan zirah, lantas tanpa menunggunya bergegas mendesak para bandit yang masih kesulitan mengembalikan kesadaran diri, membuat mereka tersungkur lagi untuk memotong akar dari semua kekacauan ini.

Potong kepala ular untuk membunuhnya, hancurkan ketuanya maka kelompok bandit akan sirna.

Tongkat bambu Hikram turun membelah udara, tapi Bandit Emas tak akan sampai sejauh ini kalau tidak menyimpan kepandaian yang luar biasa. Ia melihat kelebatan dari sosok Hikram, langsung mengerti dan mendatangkan mustika miliknya sendiri yang bukan merupakan hasil curian, mustika yang dianugerahkan kepadanya secara langsung.

Sebuah tameng bundar berwarna kekuningan terbentuk ditangannya, sudah terikat rapi dan siap menangkis. Bentuknya bundar, sekilas mirip dengan sebuah koin emas berukuran sangat besar, dengan gambar wajah seorang lelaki berambut panjang, dua buah batu mulia berwarna merah menjadi matanya.

Ia mengangkat mustikanya itu untuk menangkis serangan Hikram.

Saat kedua mustika beradu, suara serupa gong yang sedang dipukul menggema, membuat telinga semua yang terlalu dekat dipenuhi dengung yang membuat kepala sakit. Pukulan Hikram mampu membuat Si Bandit Emas tergeser dalam jarak dua langkah ke belakang, jejakan kakinya yang dalam meninggalkan garis di tanah. Namun, Si Dewa Arak tak memaksa untuk melanjutkan serangannya, karena ia terlalu sibuk bergegas menghindari tusukan dari pisau tumpul itu. Hikram tak tahu kegunaan lain dari belati itu, tapi bisa celaka juga kalau dia sampai kena tusuk, sedangkan legiun dengan perisai bagus buatan pandai besi kelas atas saja ditebas tak berdaya dari jarak yang cukup jauh. Hikram bersiap lagi, sementara Si Bandit Emas menyembunyikan diri di balik tameng, hanya bagian atas dari wajahnya yang kelihatan. 

Selayang pandang, dan Hikram tahu ia orang luar Nagart.

“Brytisia?” Hikram memastikan, matanya tertumbuk pada rambut si pria yang keemasan, saat ini agak pendek dan kehitaman karena terkena api yang dilancarkannya. Meski beberapa Gelar juga dapat secara ekstrim mengubah penampilan orang, kulit putih berbintiknya sepertinya memang menunjukkan ia berasal dari negeri Ksatria Baja.

Wajah yang hanya kelihatan setengah itu mengangguk, lalu berkata, “Dan hanya itu jawaban yang akan kuberikan hari ini atas pertanyaan-pertanyaan yang akan kau utarakan, Pendekar.”

“Masih banyak jawaban yang harus kau berikan,” jawab Hikram penuh dendam, “terutama atas kelakuan bawahanmu pada anak dari guruku. Juga,” mata Hikram menyipit pada belati yang langsung disembunyikan di balik perisai serupa koin raksasa itu, “belati yang kaupegang bukan milikmu, Orang Asing. Huh, kau pasti telah membongkar makam. Kembalikan pada Jenderal Perkutut sekarang juga kalau tak mau arwahnya memburumu sampai ujung dunia.”

“Kalian orang Nagart selalu percaya dengan takhayul-takhayul menggelikan,” kata si Bandit Emas, suaranya berdengung aneh karena gaung dari balik perlindungan tamengnya. “Pendekar kawak sepertimu pasti masih punya ambisi … hah, apa sebenarnya kau menginginkan senjata Jenderal Perkutut ini untuk dirimu sendiri, Penyembur Api?” ia menghunus belati tumpul itu setelah memukulkannya ke tameng, menimbulkan suara dengung. “Kalau begitu ke sini dan ambillah.”

Hikram menuruti tantangannya. Memang ia nekat, tapi ia menyerbu terutama saat ia melihat kelebatan di sampingnya yang baru datang, tanpa dilihat baik-baik pun ia tahu itu siapa. Besar, seperti beruang, dan ganas, Ambal telah menyusul untuk ikut urun tenaga. Hikram mengangkat tongkatnya dalam gemerisik daun bambu, siap memukul. Ambal mengangkat palunya, yang kini berbau, bahkan berasap seperti jelaga yang datang langsung dari perapian seorang pandai besi. Keduanya melangkah berderap untuk menyerbu, dan siapakah kiranya yang mampu menahan dua senjata milik abdi Dewa-Dewi sesembahan orang Nagart yang perkasa?

Si Bandit Emas merasa ia mampu melakukan hal itu, dan tidak dengan tameng emasnya. Ia menimang-nimang belati untuk menunggu waktu yang tepat, lantas membabat udara dengan senjata kuno milik Jenderal Perkutut pada Hikram dan Ambal yang semakin mendekat.

Sekilas, dalam gerak lambat, mata Hikram mampu menangkap … sesuatu yang bergerak membelah udara keluar dari mustika kuno itu. Tipis, hampir-hampir tak dapat ditangkap mata. Napas Hikram mendadak tercekat saat menyadari sesuatu itu bergerak mengincar lehernya. Beruntung, ia cepat tanggap dengan mengangkat tongkat untuk merintangi sesuatu itu.

Bunyi denting terdengar, dan otot-otot Hikram tertaut, tertarik saat dirasainya tekanan belati itu luar biasa kuat. Di sampingnya, Ambal menggerung, karena walau ia mampu menangkis, ia terpaut cukup jauh dalam soal tenaga karena memang tebasan itu datang dari sisi kanan yang diambil Si Abdi Dewa Katili. Bahkan, langkah mereka berdua yang sebelumnya menggemuruh seolah mengumumkan bahwa tak akan ada seorangpun yang mampu menghadang dua orang Wakil Kahyangan yang sedang naik darah, kini telah terhentikan sepenuhnya.

Hikram mendesak, mampu untuk sementara menjaga keselamatan lehernya, sementara pertahanan Ambal kian meluntur, sedikit bagian bahu dari zirahnya memisah seperti kena bacok sesuatu. Pelat besi di bahunya mulai terbelah seiring dengan palunya yang turun, terus turun, sementara pelatnya teriris seolah perlindungan itu hanya sebuah roti yang sedang dibelah oleh pisau, bukannya pelat baja yang luar biasa teguh. Ambal menarik napas tajam saat gempuran dari sesuatu itu berhasil memotong pelat bahunya hingga jatuh menggelinding ke atas tanah yang hancur, lantas terus turun untuk membelah bahunya sekalian sementara si Bandit Emas tertawa lantang sembari terus menekankan belati.

Hikram merasa ia juga tak akan mampu bertahan lama. Ia bisa mundur untuk cari selah yang lebih baik, tapi meninggalkan Ambal menanggung tekanan sendiri itu rencana yang berbahaya. Dia tidak bisa cari selamat sementara kawannya tinggal seujung tanduk dari ancaman kematian. Ambal yang sudah mulai putus asa sebisa mungkin mengangkat senjata seolah ingin menjauhkan kenyataan bahwa bahunya kini sobek, terkena sayat dari sesuatu yang tak kasat, dan mulai mengucurkan darah yang tercium amis di udara. Hikram baru saja memutuskan untuk menyemburkan napas apinya lagi, setidaknya melakukan perlawanan agar nyawa Ambal tak melayang, tepat ketika sebuah teriakan datang dari puncak bukit yang tendanya telah roboh.

“Hoi!”

Ketiga lelaki yang sedang berada dalam adu tenaga yang sengit itu segera berpaling, dan dipertemukan dengan Sidya yang menyedekapkan tangan, Pisun yang berada disampingnya sedang mengunyah sebatang rumput secara main-main. Si Walet dari Timur memegangi kepala sembari menggeleng, “Susah deh, harus mengatakan ini pada semua bandit yang kutemui.” Pisun meringis, lantas menarik si Tawa Gempa yang sebelumnya tak kelihatan karena berada dari sisi yang landai. Si perempuan sakti itu telah diikat tangan dan kakinya oleh sesuatu yang mirip dengan benang layang-layang, meski warnanya hitam. Wajah tawa gempa kusut bukan main. Sisa-sisa noda masih terlihat, terutama darah di atas bibirnya yang mulai mengering.

“Memang kakak selalu mengatakan apa pada para bandit?” Sidya bertanya penasaran.

 Pisun tergelak, “Cari lawan yang seimbang, dong!”

Pisun menarik rumput diantara sela-sela giginya, lantas digunakannya ujung rumput itu untuk menggelitik telinga si perempuan. Si Tawa Gempa menggeliat. Meskipun kelihatan sekali ia bersusah-payah menahan tawanya, namun cepat atau lambat ia akan gagal. Siapa juga yang mampu untuk menahan tawa kalau dibegitukan? Si Bandit Emas, yang sudah tahu benar pengaruh dari tawa perempuan yang jadi pengiringnya itu langsung melepaskan tekanan tak kasatnya pada Hikram dan Ambal. Ia baru mau mengangkat senjatanya untuk memotong ikatan Si Tawa Gempa dari jarak jauh, tapi meleset karena Pisun bergegas menarik si perempuan ke arah Hikram dan Ambal, gelitikannya makin gencar sementara Sidya mengikutinya dari belakang.

Awalnya pelan, lebih mirip kikik, tapi tak lama kemudian tawa si perempuan meledak, kian lama kian keras dan nyaring.

Maka tak ayal, tanpa bisa dicegah-cegah lagi, sebuah derak pelan mengiringi datangnya gempa bumi ke bukit Sin Gong untuk kedua kalinya hari ini.

--