Episode 306 - Berkumpul (2)



“Apakah yang ikau lakukan, wahai Balian Bapuyu Huludaya…?” Seorang lelaki tua menegur sesaat ketika seorang lelaki dewasa muncul. 

Di saat yang sama, tatap mata keempat anggota Dewan Dayak yang terhormat lain mengawasi gerak-gerik Balian Bapuyu Huludaya yang kini sudah berkumpul kembali di tengah-tengah mereka. Ada yang memajang wajah geram, ada pula yang tersenyum takjub. Sungguh, setiap satu mereka memiliki pandangan yang berbeda-beda. 

“Tidakkah kalian sadari bahwa terjadi sesuatu terhadap gadis Dayak Kaki Merah…?” ujar Bapuyu Huludaya ringan. “Ia hampir saja diculik oleh remaja lelaki berjubah hitam….”

Kelima anggota Dewan Dayak lain tentunya merupakan tokoh-tokoh terkemuka dan digdaya dari rumpun-rumpun dayak besar. Tentu pula mereka sempat menyadari keanehan terhadap formasi segel yang melindungi dan menyembunyikan keberadaan Kuau Kakimerah. Akan tetapi, mereka tak bertindak. Atau lebih tepatnya, karena Balian Bapuyu Huludaya telah terlebih dahulu memeriksa, mereka hanya menanti sahaja. 

“Tidak mungkin! Anak remaja itu tak mungkin bertahan terhadap serbuan binatang siluman serangga, apalagi membuka formasi segel yang aku rapal,” seorang lelaki dewasa anggota Dewan Dayak yang bertubuh kekar, terlihat berang. 

“Perihal mempertahankan diri dari serbuan kerumunan binatang siluman serangga, sungguh aku tiada mengetahui bagaimana cara ia berkelit. Akan tetapi, terkait formasi segel, sepanjang ia dapat mengerahkan Rajah Roh Antang Bajela Bulau, maka tak ada formasi segel yang tak dapat ditembusnya….”

“Lalu, ke mana perginya dia….?”

“Aku tak sengaja membunuhnya…” Balian Bapuyu Huludaya tak hendak berpanjang lebar menjelaskan perihal jati diri Kum Kecho. Dirinya sendiri tak sepenuhnya percaya akan pengakuan sebagai murid dari Pangkalima Rajawali. Bilamana dijelaskan sekalipun, maka kemungkinan besar tak seorang pun yang akan percaya. Sebaliknya, bilamana membuka ceritera maka sudah barang tentu dirinya dianggap mengada-ada, serta memperkuat kecurigaan. 

“Kita patut menyelidiki maksud dan tujuannya...” 

“Aku sudah bertanya akan jati dirinya, dia menjawab dengan serangan. Aku pertanyakan maksud dan tujuannya, ia terus menyerang.”

“Mengapa sampai membunuhnya…? 

“Sudah kukatakan, bahwa aku tak sengaja membunuhnya. Ketika aku menghindar, ia terperosok jatuh ke sarang binatang siluman serangga, kemudian mati disantap habis…”

Tentu tak ada yang percaya akan pengakuan tersebut. Adalah perkara mudah bagi tokoh sekelas Bapuyu Huludaya untuk memusnahkan kerumunan binatang siluman di wilayah ini. Sebagai catatan, tempat di mana mereka berada saat ini adalah sisi terluar dunia dimensi Goa AwuBalang. Semakin ke wilayah tengah, maka semakin kuat pula binatang siluman serangga yang bersarang. 

Sekali lagi, tak ada yang sepenuhnya mempercayai kata-kata lelaki dewasa itu, baik pendukung maupun penentangnya. Bahkan, sebagian anggota Dewan Dayak menaruh kecurigaan bahwa anak remaja berjubah hitam itu sejak awal memang ditugaskan oleh Balian Bapuyu Huludaya untuk membebaskan gadis Dayak Kaki Merah. Kendatipun demikian, karena tiada memiliki bukti-bukti, mereka yang tak puas hanya dapat mendengus kesal. 

“Lalu, mengapa ikau mengirim gadis Dayak Kaki Merah ke tengah medan pertempuran…?”

Nah, pertanyaan yang satu ini sangat sulit dijawab oleh Balian Bapuyu Huludaya. Ia sendiri tak memiliki jawaban atau alasan khusus. Tindakan yang ia ambil dengan menempatkan Kuau Kakimerah di tengah medan pertempuran datang begitu saja, tanpa alasan pasti dan tentunya tanpa pikir panjang terlebih dahulu. 

“Apakah karena ikau merasa bahwa gadis Dayak Kaki Merah itu berhak turut serta di dalam upacara adat…?” Lelaki tua kembali melontar pertanyaan. Kali ini kedua matanya terpejam, sembari menghela napas panjang. Secara sadar, ia menyuguhkan alasan yang paling masuk akal bagi Bapuyu Huludaya. Kemungkinan, hatinya pun telah luluh di kala menyaksikan kengerian di mana ratusan tubuh anak remaja tercerai-berai, darah merah menggenang, serta nyawa meregang. 

“Betul!” 


Kedatangan Kuau Kakimerah serta merta mengubah keadaan di permukaan daun raksasa. Gadis belia itu segera membangun dinding rotan berduri, yang melindungi segenap wilayah daun. Tindakan itu membuat kedatangan binatang siluman serangga terhambat, dan arah kedatangan mereka mudah ditebak adanya. 

Bintang Tenggara, Canting Emas dan Panglima Segantang berdiri di tiga sudut pada sisi luar daun. Mereka menghadang serbuan binatang siluman yang hendak merangsek masuk. Namun demikian, wilayah daun masih terlalu luas sehingga ada saja binatang siluman yang menyelinap masuk.  

Aji Pamungkas, seperti biasa, berada di tempat paling aman. Berdiri di tengah-tengah daun, ia melesatkan anak panah yang membinasakan binatang siluman serangga yang mencoba menyantap hidangan nan tersaji. 

Tak berselang lama, belasan remaja dayak tiba. Mereka merupakan peserta upacara adat yang masih mampu bertarung, atau memaksakan diri untuk terus bertarung. Dari sudut pandang lain, sampai pada batasan tertentu, upaya Dewan Dayak membentuk sikap dan mental para remaja sepertinya membuahkan hasil. Mereka yang selama ini terbuai dalam kedamaian, saat ini berjuang mempertaruhkan jiwa dan raga demi menyelamatkan sanak saudara atau sahabat karib yang sedang tak sadarkan diri. 

Walau segelintir jumlah mereka, setidaknya ini adalah permulaan yang baik. Tak sepenuhnya sia-sia menumbalkan demikian banyak remaja, jika hasil yang dicapai berhasil menyaring beberapa yang tangguh. Demikian adalah pemikiran beberapa anggota Dewan Dayak saat ini. 

Para remaja dayak yang baru saja tiba, segera mengisi tempat di sisi luar daun. Mereka menutup celah dan ikut bertahan dari serbuan binatang siluman. Keadaan mulai dapat dikendalikan, dan karena memiliki tujuan yang sama, koordinasi di antara mereka mulai terbentuk. Saat ini, musuh hanya satu, yaitu binatang siluman serangga setara Kasta Perak tingkatan awal dan menengah di hadapan mata. 

Kendatipun demikian, ada seorang anak remaja yang resah raut wajahnya. Kerisauan di hatinya beralasan. Pertama, ia belum juga menemukan keberadaan Puyuh Kakimerah. Kedua, jumlah para peserta berbanding terbalik dengan bilangan binatang siluman serangga yang dalam ribuan, bahkan mungkin belasan ribu, sedangkan tenaga dalam para anak remaja terus terkuras. Terakhir, jauh dari lembar daun yang sedang mereka lindungi, terlihat jelas keberadaan tiga gumpalan awan melayang yang berwarna hitam dan gelap. 

“Aji!” seru Bintang Tenggara ke arah tengah lembar daun. Kemudian ia menebaskan Tempuling Raja Naga, mendorong beberapa binatang siluman seranggga yang menerkam. “Awan… coba pastikan awan apa itu!” lanjutnya sembari menghunus tempuling, menikam dan menunjuk ke arah langit di saat yang bersamaan. 

Aji Pamungkas melepas beberapa anak panah yang diimbuhkan dengan unsur kesaktian angin. Bidikannya jitu seperti biasa, dan beberapa binatang siluman serangga terjengkang nyawa meregang. Kemudian, sembari tetap mengawasi keadaan sekeliling, ia ia memusatkan pantauan mata hati ke salah satu awan gelap nan melayang tinggi jauh di sana.  

Apa yang Aji Pamungkas saksikan berikutnya ibarat melangkah masuk ke dalam mimpi paling buruk dari yang paling buruk. Gumpalan awan hitam tersebut bukanlah awan adanya, melainkan kerumunan binatang siluman serangga. Hal ini bukanlah alasan yang terlalu mengejutkan. Bukan pula kenyataan bahwa binatang siluman serangga di sana jumlahnya puluhan ribu, atau bahwasanya lebih digdaya karena hampir semuanya setara Kasta Emas tingkatan awal. Yang mengejutkan Aji Pamungkas adalah keberadaan seekor binatang siluman serangga di tengah-tengah kerumunan. Peringkat keahliannya tiada dapat ditakar!

Di kala pantauan mata hati Aji Pamungkas mercermati binatang siluman serangga tersebut… ia melirik balik! Sorot matanya dingin, dan pantauan mata hatinya menghantam tubuh Aji Pamungkas! 

“Bruk!”

Sekujur tubuh Aji Pamungkas lunglai. Aliran tenaga dalamnya simpang siur. Kemudiaan, ibarat kehilangan tulang belakang, tubuh Aji Pamungkas tergolek jatuh. 

Tiada siapa yang mengetahui penyebab pasti mengapa tetiba Aji Pamungkas jatuh dan kehilangan kesadaran... 

“Apakah ia kehabisan tenaga dalam!?” seru Canting Emas. 

“Tidak!” Naluri Panglima Segantang berkata lain. Akan tetapi, ia tak dapat berbuat banyak karena disibukkan musuh di hadapan merangsek maju. Menggeretakkan gigi, remaja bertubuh bongsor itu menebaskan parang api Taring Raja Lalim sekuat tenaganya. 

Secara umum, kehilangan dukungan dari Aji Pamungkas merupakan pukulan yang cukup telak! Firasat Bintang Tenggara mengatakan bahwa bahaya besar hadir di depan mata. Sampai kapankah upacara adat ini akan berhasil. Bilamana diteruskan lebih lama lagi, maka mereka semua akan binasa! 

Awan hitam semakin mendekat…

“Kau menghabiskan banyak waktu di Kemaharajaan Cahaya Gemilang…” sergah Canting Emas, yang sengaja datang mendekat. “Apakah kau tak mempelajari cara merapal formasi segel untuk melindungi wilayah tertentu!?”

Bintang Tenggara tersenyum kecut. Ia sesungguhnya menguasai formasi segel pertahanan nan maha digdaya. Akan tetapi, karena satu dan lain hal, jangankan merapal formasi segel nan digdaya, merapal formasi segel sederhana saja tiada dapat ia lakukan. Tentu hal ini sebaiknya dirahasiakan sahaja. 

“Diriku akan membuka lorong dimensi antar dunia,” potong Kuau Kakimerah. Wujud unsur kesaktian kepak sayap rajawali telah membentang perkasa. Sepertinya, ia mengetahui akan bahaya besar sudah mengintai. 

“Tapi…,” Canting Emas masih terlihat cemas. “Tapi, kita akan kesulitan memindahkan mereka yang tak sadarkan diri. Jumlahnya terlalu banyak!” 

“Tidak bilamana mereka bergerak sendiri…,” sela Bintang Tenggara.

“Maksudmu…? Apakah englau memiliki cara untuk menyadarkan mereka…?” Canting Emas penuh harap.

“Super Guru…” Melalui jalinan mata hati, Bintang Tenggara berujar pelan. 

“Engkau hendak meminta aku menyadarkan sedemikian banyak bocah!?” Komodo Nagaradja dapat membaca jalan pikiran Bintang Tenggara semudah menyentil ahli Kasta Perunggu.

“Benar.”

“Yang kau pinta adalah lebih berat dari menyadarkan dan menurunkan pencerahaan jurus Gema Bumi kepada bocah bertubuh bongsor kala itu…”

“…”

“Kesadaranku akan memudar lebih lama dibandingkan…”

“Super Guru, kumohon…”