Episode 58 - Tempat yang dijanjikan



Itu adalah pagi yang sama seperti kemarin. Cuacanya cerah, udaranya segar, kicau burung yang merdu sangat nyaman untuk didengar.

Di sebuah villa mewah.

Ren dengan cepat berlari menaiki tangga, langkah kakinya yang tergesa-gesa membuat semua orang yang melihatnya berpikir apa yang sedang terjadi? Apakah ada masalah besar?

Setelah sampai di tempat yang dia tuju, Ren menenangkan nafasnya sejenak lalu mengetuk pintu.

“Masuk.”

Terdengar suara dari dalam mempersilakan Ren untuk masuk.

Tanpa basa-basi Ren langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan itu sangat mewah, terdapat sebuah guci dengan lukisan naga dan harimau di pojok ruangan yang rumornya berharga ratusan juta. Di dinding sekitar ruangan juga terdapat beberapa lukisan yang harganya tak kalah mahal.

Di dekat jendela terdapat sebuah kursi dari kayu yang di ukir sangat indah. Seorang pria memakai jas hitam duduk sambil melihat keluar jendela. Di tangannya terdapat sebuah rokok yang telah terbakar setengahnya, dengan santai pria itu menoleh ke arah pintu dan berkata.

“Ada apa?” 

Tatapan mata pria itu sangat tajam yang membuat Ren tidak berani untuk mengatakan omong kosong dan langsung pada inti permasalahannya.

Ren maju dengan cepat lalu dengan sopan menyerahkan sebuah surat kepada pria tersebut sambil berkata, “Ada surat dari pemimpin geng Naga Emas, Bos.”

Pria dengan pakaian jas tersebut adalah Bos dari pemimpin geng Serigala Hitam, Nino.

Nino menaikan alisnya lalu meraih surat tersebut. Dia dengan perlahan membaca setiap kata yang tertulis di sana dan mengerenyitkan dahinya. Setelah membacanya dia langsung meremasnya dan melemparkan surat tersebut ke tempat sampah yang berada di pojok ruangan.

Tapi, sayanganya surat yang telah diremas tersebut tidak masuk ke dalam tempat sampah tersebut.

“Cih...”

Nino melirik ke arah Ren dengan tajam. Sadar bahwa Bosnya sedang melirik ke arahnya, Ren segera tahu apa yang Bosnya maksud. Dia dengan cepat berlari ke arah pojok ruangan dan memasukan surat yang tadi dilempar oleh Bosnya ke dalam tempat sampah.

“Hebat sekali Bos, kalau aku pasti tidak mungkin bisa melakukan hal ini, aku pasti akan meleset sangat jauh, Bos benar-benar hebat.” Ucap Ren dengan pandangan kagum. Jika dia tidak melakukan ini, maka mood Nino pasti akan menjadi lebih buruk.

“Haha, tentu saja.” Ucap Nino dengan senyum yang lebar. 

Bukan rahasia umum bagi semua anggota geng Serigala Hitam untuk memuji Nino apapun yang dia lakukan untuk menyenangkan hatinya. Jika tidak, kau pasti akan dalam masalah besar.

 “Baiklah Bos, aku permisi dulu.” Ucap Ren lalu melangkah pergi.

“Tunggu.” 

“Apakah ada intruksi lain, Bos?” tanya Ren dengan penasaran.

“Siapkan pasukan terbaik, malam ini kita akan bersenang-senang.” Jawab Nino dengan seringai yang mengerikan.

“Baik, Bos.” Ucap Ren dengan cepat, meskipun dia tidak tahu apa yang Nino maksud dengan ‘bersenang-senang’, tapi dia tetap mematuhi perintahnya.

Akhirnya Ren menghubungi semua pasukan terbaik di geng Serigala Hitam. Begitu mereka mendengar bahwa ini adalah perintah langsung dari Bos, mereka langsung tanpa basa-basi lagi berkumpul di Villa, markas geng Serigala Hitam.

Pada siang hari semua orang yang dihubungi oleh Ren telah sampai di villa, mereka dengan patuh menunggu instruksi selanjutnya dari bos mereka.

“Kira-kira geng mana yang akan kita basmi malam ini?”

“Entahlah, tapi malam ini pasti akan menyenangkan.”

“Benar, kita juga akan mendapat banyak hasil rampasan, hahaha.”

Semua orang berbicara dengan bahagia. Perintah untuk berkumpul seperti ini tidak jarang terjadi.

“Mustahil kalau kita akan menyerang geng kecil.” Ucap salah seorang tiba-tiba, dia bukanlah seorang petarung, dia hanya pengumpul informasi, namanya adalah Roy.

Roy berjalan sambil berpikir sejenak lalu berhenti, kemudian dia melihat semua orang tampak menunggu apa yang ingin dia katakan selanjutnya.

“Dikumpulkannya semua pasukan terbaik seperti hari ini bukanlah yang pertama bagi kita, sebelumnya Bos pernah mengumpulkan kita untuk menghancurkan salah satu geng kecil yang membuat Bos marah, tapi aku yakin hari ini tidak sama.” Ucap Roy dengan tenang.

“Lalu apa yang sebenarnya Bos rencanakan dengan memanggil kita semua ke sini? Dan tadi Ren berkata bahwa Bos mendapatkan sebuah surat lalu tiba-tiba saja memerintahkan kita untuk berkumpul.” 

“Pertanyaan yang bagus,” Roy tersenyum kecil lalu melanjutkan, “menurut analisaku surat itu bukanlah dari geng kecil yang ingin dihancurkan, tidak ada geng kecil yang sebodoh itu.”

“Hahaha, tentu saja.”

“Sangat bodoh jika ada geng yang berani menantang Serigala Hitam.”

“Jika ada yang berani, maka geng tersebut akan hancur lebur, hahaha.”

“Lalu alasan sebenarnya apa?”

“Terima kasih atas pertanyaannya,” ucap Roy pada orang tersebut lalu kembali berkata, “aku punya dua dugaan tentang apa yang sebenarnya terjadi, apakah kalian ingin mendengarnya?” 

“Hei, jangan buat kami penasaran, langsung saja katakan apa itu.”

“Benar, cepat katakan.”

“Baiklah kalau kalian ingin mendengar, yang pertama adalah mungkin saja si pengirim surat adalah pejabat yang mendukung kita dan dia ingin bantuan kita untuk mengahabisi seseorang.” Ucap Roy dengan yakin.

“Haha, benar sekali, si brengsek itu pasti akan meminta bantuan untuk mengalahkan saingannya.”

“Bisa jadi, lagipula dia adalah si tikus busuk.”

Tidak pernah ada pihak berwajib yang berani mengganggu bisnis dari geng Serigala Hitam karena mereka memang memiliki koneksi dengan pejabat tinggi pemerintahan, dan kecuali untuk kasus besar, pejabat itu pasti akan memerintahkan kepolisian untuk tutup mata dalam kasus kecil.

“Lalu kemungkinan keduanya apa?”

“Ini yang aku takutkan.” Jawab Roy dengan ragu.

“Memangnya kenapa?”

“Cepat katakan saja, jangan buat kami penasaran.”

“Benar, ayo cepat katakan.”

“Baiklah, kemungkinan kedua adalah surat itu adalah surat tantangan dari salah empat penguasa kota.” Ucap Roy.

Empat penguasa kota adalah sebutan bagi empat geng terkuat di kota ini termasuk geng Serigala Hitam. Kekuatan mereka bisa dibilang merata, tapi mereka masing-masing memiliki wilayah dan bisnis masing-masing, dan geng lain tidak diperkenankan untuk menggangu satu sama lain.

Untuk geng Serigala Hitam, mereka memiliki bisnis bar dan tempat hiburan malam. 

“Apa?”

“Jadi kita akan melawan mereka?”

“Belum tentu.” Roy berkata sambil berpikir keras.

“Kenapa begitu?”

Tiba-tiba Ren datang dan berkata, “Jika itu sampai terjadi, maka kota ini akan jatuh dalam kekacauan.”

“Apa? Bagaimana mungkin?”

“Empat penguasa memiliki kekuatan yang hampir sama, jika kita bertarung dengan salah satu dari mereka dan menang sekalipun, kita pasti akan dalam kondisi lemah, dan geng lain pasti akan memanfaatkan momen itu untuk merebut wilayah kekuasaan dan menghancurkan kita, jika itu benar-benar terjadi, maka kota ini pasti akan kacau.” Jelas Ren.

“Apakah memang separah itu konsekuensinya?”

“Benar, itulah yang aku takutkan.” Ucap Roy.

“Lalu bagaimana ini?”

“Tenang saja, itu tidak mungkin terjadi.” Ucap Ren menenangkan semua orang.

“Kenapa tidak mungkin?” tanya Roy dengan cepat, dia kesal karena hipotesisnya dibantah oleh Ren.

“Tentu saja.” Jawab Ren dengan tegas.

“Kenapa kau bisa seyakin itu? bukankah Bos memanggil semua orang terbaik dan menyuruh kita membawa senjata, tidak mungkin persiapan seperti ini hanya untuk membantu pejabat busuk itu, kita pasti akan melawan salah satu dari empat penguasa.” Jawab Roy dengan pasti.

“Jika memang kita akan melawan mereka, tidak mungkin mereka akan memberikan surat pemberitahuan terlebih dahulu, kau pikir mereka sebodoh itu?” ucap Ren dengan sinis.

“Lalu, apakah kita akan membantu pejabat busuk itu?” tanya Roy lagi, meskipun kemungkinan tadi salah, dia masih memiliki kemungkinan kedua.

“Untuk apa kita membantu pejabat busuk itu dengan kekuatan penuh kita?” tanya Ren dengan sinis lagi.

“Lalu apa yang akan kita lakukan malam ini dengan kekuatan penuh geng kita?” ucap Roy.

“Tenang saja, aku yakin itu tidak seperti yang kau bayangkan, meskipun aku tidak tahu apa yang akan kita lakukan, jadi kita tunggu saja sampai malam nanti.” Jawab Rudi lagi.

“....” Roy terdiam membisu.

Ren menuju ke arah Roy dan menepuk pundaknya, “Kau adalah tangan kanan sekaligus informan geng Serigala Hitam, ketika kau mencari informasi pastikan itu benar-benar asli, jangan campurkan dengan imajinasimu yang luar biasa.”

“Hahaha.”

Semua orang kecuali Roy tertawa setelah mendengar apa yang Ren katakan. Sementara itu Roy hanya bisa meremas tangannya dengan kuat lalu menghela nafas.

“Baiklah, anggap saja aku tidak pernah mengatakan apa-apa.” Ucap Roy lalu pergi meninggalkan teman-temannya yang masih tertawa terbahak-bahak. Dia butuh waktu untuk sendiri terlebih dahulu untuk melupakan kejadian memalukan tadi.

Setelah puas tertawa, akhirnya mereka melanjutkan obrolan sembari menunggu malam tiba. 

Tanpa terasa malam telah datang, semua anggota geng Serigala Hitam telah siap di mobil masing-masing, yang tersisa hanyalah menunggu Bos mereka datang dan mereka akan segera berangkat.

Nino mengintip dari jendela dan tersenyum kecil, kemudian dia berjalan ke arah cermin yang berada di dekat mejanya lalu merapikan dasinya. Setelah merapikan dasi, Nino lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Namun, meskipun penampilannya sudah terlihat sangat tampan menurutnya, dia merasa seperti ada yang kurang.

Tidak butuh waktu lama akhirnya Nino mengetahui apa yang dia anggap kurang tersebut, yaitu kacamata. Nino berjalan ke meja kerjanya dan mengambil sebuah kacamata hitam yang berada di sana dan berjalan ke arah cermin lagi.

Dengan perlahan Nino memasang kacamata tersebut dan sebuah seringai terlukis di wajahnya.

“Hmm, aku benar-benar tampan, sial! Pasti banyak gadis yang akan jatuh cinta padaku, tapi apa boleh buat, beginilah nasib seorang pria yang terlanjur tampan, aku tidak bisa berbuat apa-apa, lagipula aku memang benar-benar tampan.”

Nino lagi dan lagi memuji dirinya sendiri.

Setelah selesai dengan pujian untuk dirinya sendiri dia segera turun dan menuju mobil kesayangannya. Di dalam mobil tersebut sudah ada tangan kanannya, Roy, sedang menunggunya.

“Bos, apakah kita akan langsung berangkat?” tanya Roy dengans sopan.

“Tentu saja, kita langsung ke tempat pesta diadakan, kita akan bersenang-senang.” Jawab Roy dengan tenang.

Kemudian mobil yang dinaiki Nino memimpin semua mobil lain di belakangnya. Dengan perlahan mereka semua akan pergi ke tempat yang di janjikan.