Episode 77 - Wangsit Sang Dewi



Sore itu Sultan Banten yang telah mendengar kabar bahwa Ibukota Pakuan akan segera ditinggalkan oleh Prabu Ragamulya Suryakencana beserta para pengikutnya, mengadakan pertemuan mendadak, seluruh pejabat penting terutama pejabat kemiliteran dikumpulkan di gudang persenjataan Keraton Surasowan, “Menurut mata-mata kita di Pakuan, tadi siang Prabu Ragamulya Suryakencana telah mengumumkan bahwa ia akan segera meninggalkan Ibukota Pakuan dan memerintahkan pada seluruh penduduk Pajajaran untuk segera meninggalkan Pajajaran dengan pilihan untuk ikut pergi meninggalkan Pjajaran, atau tetap tinggal dengan segala akibatnya di wilayah Pajajaran!”

Semua yang berada didalam ruangan itu nampak terkejut termasuk Tumenggung Jaya Laksana, mereka tidak mengira bahwa Prabu Pajajaran akan mengeluarkan perintah seperti itu, perintah yang didasarkan pada pendirian yang pengecut atau takut kalah. “Menurut kabar, mereka akan bedol dari Pakuan dua purnama yang akan datang, tepat pada saat tahun baru saka!” lanjut Sultan. (Bedol = Migrasi Besar-besaran).

Ia berhenti sejenak kemudian menatap seluruh pejabat yang kumpulkan di sana. “Maka dari itu kita harus bergerak cepat untuk menaklukan Kota Pakuan! Jangan sampai Prabu Pajajaran mendirikan satu negeri baru yang akan menghambat perkembangan syiar dakwah dan penyebaran agama Islam! Kita harus secepatnya mengukuhkan diri sebagai Negara agung yang menggantikan kedudukan Pajajaran di Bumi Pasundan ini!” tegas Sang Sultan yang diamini oleh semua yang ada di sana.

Sultan lalu menatap pada kedua belas meriam raksasa yang berada di sana yang bernama Ki Amuk yang baru saja Banten dapatkan dari para pedagang snjata asal Inggris. “Sebenarnya dengan kekuatan kita yang saat ini kita sudah lebih daripada sekedar sanggup untuk menduduki kota Pakuan, kita memliki dua belas meriam raksasa yang kita beli dari Inggris untuk membobol benteng mereka, kita juga memliki puluhan meriam yang lebih kecil, ratusan bedil, dan jumlah angkatan perang yang jauh lebih unggul daripada mereka, namun yang menjadi masalah adalah cara kita untuk memasuki benteng kota Pakuan setelah kita berhasil membobolnya!”

Sultan kemudian peta besar yang digelar diatas sebuah meja. “Kota Pakuan dikelilingi oleh parit besar juga lebar yang dipenuhi oleh buaya-buaya, sehingga kalaupun kita berhasil menghancurkan tembok benteng mereka, kita masih harus menggunakan jembatan darurat yang akan digunakan para prajurit kita untuk menyebrangi parit-parit besar dan lebar yang dipenuhi buaya-buaya itu, nah yang jadi masalah, saat prajurit-prajurit kita menyebrang menggunakan jembatan-jembatan darurat tersebut, mereka akan menjadi santapan empuk anak panah dan bedil mereka!”

“Lalu bagaimana kalau kita menyerang lewat selatan langsung menuju ke pintu gerbang utama seperti yang dulu direncanakan oleh Panembahan Fatahilah saat menyerbu Pakuan?” tanya Tubagus Gempong sang Panglima Perang.

“Itulah masalahnya, kota ini juga hanya memiliki satu pintu gerbang yang menurut mata-mata kita digembok oleh satu kunci wasiat peninggalan Eyang Sri Jayadewata Maharaja yang tidak akan sanggup ditembus oleh peluru-peluru meriam kita, dan tidak akan sanggup didobrak oleh kekuatan apapun kecuali oleh benda pusaka peninggalan eyang Sri Jayadewata sendiri!” geleng Sultan.

Sultan lalu membuka sebuah peti besi, dari dalamnya ia mengambil sebuah tombak yang tidak terlalu panjang, batang tubuhnya terbuat dari satu kayu aneh yang sangat langka berwarna hitam dengan hiasan relief berwarna emas naga disepanjang batang tubuhnya, tombak tersebut bermata keris bereluk tujuh berwarna perak yang memancarkan hawa dingin dan cahaya putih yang menggidikan. 

“Untuk mendobrak pintu gerbang utama yang digembok oleh kunci pusaka wasiat Eyang Sri Jayadewata tersebut, kita membutuhkan satu senjata pusaka yang sangat ampuh! Tombak ini adalah peninggalan Eyang Sri Jayadewata yang diberikan kepada Eyang Sunan Gunung Jati lalu diwariskan kepada Rama Sultan Hasanudin, tombak ini bernama Tombak Kyai Guludug karena mempunyai kesaktian yang bagaikan petir, sabetan maupun tusukan tombak ini laksana sambaran petir yang maha dahsyat sehingga mampu untuk menghancurkan benda sakti apapun!” ucap Sultan sambil mengangkat tombak tersebut.  

Sultan kembali menatap pada gelaran peta di mejanya “Pertama kita akan menyusupkan pasukan penyusup ke Kota Pakuan yang akan dipimpin oleh Senopati Ki Jungju yang didampingi oleh empat puluh orang lurah tantama pilihan, tugas mereka adalah untuk mendobrak pintu gerbang Kota Pakuan menggunakan Tombak Pusaka Kyai Guludug itu oleh Senopati Ki Jungju, ingat, kalian harus selalu bersiap di sekitar pintu Gerang kota Pakuan, pada tengah malam yang akan ditentukan kemudian, kalian akan mendapatkan aba-aba dari pasukan utama untuk mendobrak pintu Gerbang Kota Pakuan dari induk pasukan diluar! Selain itu tugas kalian juga adalah untuk memata-matai setiap gerakan pihak Pajajaran, jangan bertindak apa-apa selain yang aku perintahkan!” 

Senopati Ki Jungju yang merupakan pejabat sangat senior di Banten itu menjura. “Daulat Gusti!”

Sultan Mengangguk. “Kalian harus berangkat lebih awal, besok pagi kalian harus berangkat, tanggalkan semua atribut ketentaraan, jangan bawa senjata, dan berbicaralah dengan logat Pajajaran!”

*****

Malam harinya Jaya bersemedi di mushola rumahnya setelah melaksanakan sholat sunah, ia memejamkan matanya dan menutup semua panca indranya untuk mencari ketenangan untuk bathinnya yang gundah karena ia akan menjadi salah satu senopati yang akan menyerbu negeri leluhurnya yakni Negeri Pajajaran.

Jaya pun membuka matanya lalu mengucap Alhamdulillah sambil mengusap wajahnya, tapi saat itu tiba-tiba ia mendengar suara jeritan Mega Sari yang memanggil-manggil namanya. “Kakang Jaya! Tolong! Tolong saya! Tolong!” jerita Mega Sari yang terngiang-ngiang di telinganya. “Mega Sari?” gumam Jaya sambil celingukan melihat kesana-kemari, ia pun lalu termenung sejenak merenungkan nasib adik kandungnya itu sebelum meninggalkan ruangan itu.

Jaya kemudian melangkah masuk kedalam kamarnya, di sana istrinya yang sedang hamil tua, ia lalu berbaring disebelah istrinya dan mengecup kening istrinya yang mempunyai tahi lalat di bawah mata kanannya itu, “Bagaimana Kakang? Sudah dapat petunjuk?” Tanya Galuh sang istri.

Jaya mengangguk. “Sudah Nyai, aku terpaksa akan melaksanakan tugas ini dengan sangat berat hati… Aku merasa berat untuk menyerbu Padjadjaran, negeri leluhurku sendiri! Tapi ada lagi satu hal yang sangat meresahkan aku…”

“Kenapa Kakang?” Tanya Galuh yang dapat melihat kekalutan di wajah suaminya yang Nampak jelas itu.

“Tadi setelah bersemedi aku seperti mendengar teriakan Mega Sari, ia seperti berteriak meminta tolong padaku… Gusti… Aku benar-benar khawatir pada dirinya, sejak mengetahui bahwa ia adalah adik kandungku, aku belum bisa bercengkrama, berkumpul dengannya apalagi melindunginya… Dan sampai sekarang aku masih belum bisa menyisihkan waktuku untuk mencarinya.” keluh Jaya dengan wajah muram.

“Bersabarlah kakang… Setelah urusan penyerbuan ke Pajajaran ini selesai, mintalah izin pada Gusti Sultan untuk mencari Mega Sari, sementara itu, Kakang berdoalah pada Gusti Allah untuk keselamatan Mega Sari.” saran Galuh sambil memeluk mesra suaminya, Jaya tersenyum, ia bersyukur karena istrinya selalu dapat memberikan saran-saran yang bijak pada dirinya, ia bersyukur sekali diberikan seorang istri yang sangat cerdas oleh Allah SWT, dengan lembut ia pun mengelus perut istrinya yang sudah besar itu.

*****

Suara cuitan parau burung Sirit Uncuing terus bergema di seantero lereng Gunung Gede, suaranya sangat menyeramkan dan mampu membuat takut bagi siapapun yang mendengarnya, bau bangkai bercampur bau bunga kemboja serta bau kuburan menghampar ke mana-mana, menusuk hidung bagi siapa saja yang menciummnya di senatero lereng gunung gede, udara terasa sangat gerah dan lembab tidak nyaman, angin panas yang anehnya malam membuat tengkuk terasa dingin bertiup dengan kencang, daun-daun pun berguguran, menambah seram suasana malam bulan purnama saat itu.

Seekor burung Sirit Uncuing hitam mendarat dan berubah wujud menjadi sosok Jin bertubuh tinggi kekar berwarna merah, wajahnya sangat buruk dan menyeramkan, rambutnya gondrong awut-awutan, mahluk dahsyat ini memiliki tiga tanduk dikepalanya, dan matanya seolah menyala-nyala merah bagaikan bara api! Jin yang bernama Bagaspati ini terus melangkah masuk kedalam gua persembunyian Mega Sari.

Ki Silah dan Emak Inah terbangun dari tidurnya ketika merasakan bumi bergetar oleh setiap langkah Jin Bagaspati, ketika mereka membuka matanya, bukan main terkejutnya mereka ketika melihat sosok Jin Bagaspati melangkah masuk kedalam gua, mereka pun langsung menutup matanya dan membuang muka karena tidak sanggup menatap sosok Jin Bagaspati lebih lama lagi!

Jin Bagaspati terus melangkah menghampiri Mega Sari yang sedang duduk bersemedi, “Groooaaaaaggggghhhhh!!!” erang Jin Bagaspati dengan dahsyat yang menggetarkan goa tersebut, Mega Sari pun membuka matanya “Mau apa kau? Kembalilah menjadi sosok Kakang Dharmadipa!” perintah Mega Sari sambil mengacungkan sapu lidi yang diikat oleh benang Sanggah Sukma.

“Aku ingin bebas! Lepaskan diriku!” bentak Jin Bagaspati!

“Diam Kakang! Kembalilah ke tempatmu! Aku tidak suka diperintah olehmu!” benatk Mega Sari, Jin Bagaspati pun kembali mewujud menjadi sosok Dharmadipa, ia lalu berjalan ke satu cekungan batu tempat ia biasa berbaring, dan ia pun berbaring di sana. Mega Sari segera menghampirinya dengan tetap menggenggam sapu lidi Sanggah Sukmanya. 

“Sudah Kakang laksanakan tugas dari saya untuk membunuh Senapati Laksadi?” tanyanya.

Mayat Dharmadipa pun kembali bangun lalu berteriak-teriak tidak karuan seperti orang gila! “Lepaskan! Lepaskan diriku! Oaaaaa!!!!” jeritnya sambil melepaskan kain selendang yang membelit di pinggangnya, Jebredd! Mega Sari pun memukul kepalanya dengan sapu lidi Sanggah Sukma, Dharmadipa pun tergeletak dengan lemas tanpa tenaga, Jin Bagaspati pun keluar dari tubuhnya, Mega Sari sangat terkejut karena Jin Bagaspati bisa keluar dari tubuh Dharmadipa meskipun kain selendang Pati Sukma dan benang Tirta Sukma belum dilepaskan dari tubuh Dharmadipa!

Perempuan muda ini segera menguasai dirinya kembali, ia mengacungkan sapu lidi Sanggah Sukmanya pada Jin Bagaspati yang hendak menerkamnya. “Kamu mau apa?! Cepat tinggalkan tempat ini atau aku siksa kamu dengan sapu lidi ini!” hardik Mega Sari.

Jin Bagaspati pun melotot ketakutan menatap sapu lidi tersebut tapi ia masih belum beranjak dari tempatnya, Mega Sari pun menggebuk kepala Jin ini sehingga Jin ini meraung-raung kesakitan. “Cepat pergi! Atau kau ingin kubunuh dengan sapu Sanggah Sukma ini!” bentak Mega Sari, Jin Bagaspati pun langsung keluar dari tubuh Dharmadipa dan lari keluar dari goa sambil ketakutan.

Melihat mahluk gaib tersebut Mega Sari beserta Emak Inah dan Ki Silah pun menarik nafas lega, “Abah tolong siapkan sesajen lengkap, aku akan membacakan mantera pengusir Jin dan Lelembut!”

Ki Silah pun mengangguk dan langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh tuan putrinya tersebut, “Terus terang, saya sempat takut Gusti, setan itu kekuatannya sangat luar biasa! Jangan-jangan setan itu yang merasuk kedalam tubuh Gusti Pangeran!” ucapnya sambil menyiapkan sesajen.

Mega Sari termenung mendengar ucapan Ki Silah, sebab bagi Ki Silah maupun Emak Inah ini adalah pertama kalinya mereka melihat wujud asli Jin Bagaspati, sebelum-sebelumnya termasuk pada saat upacara pembangkitan Dharmadipa untuk yang pertama kalinya, mereka berdua hanya melihat roh halus yang menyerupai Dharmadipa sehingga mereka benar-benar mengira Dharmadipalah yang merasuk kedalam jasad mati Dharmadipa.

Setelah berpikir beberapa saat Mega Sari pun menjawab. “Bisa iya bisa tidak, sebab dalam keadaan kosong, jasad Kakang Dharmadipa bisa dengan mudah disisipi mahluk halus…” jawabnya dengan nada penuh keraguan, ia kemudian kembali besemedi mematikan seluruh panca indranya setelah sesajen dari Ki Silah selesai. Dan tiba-tiba sukmanya pun solah melayang kealam lain.

Mega Sari yang sedang merasakan ketakutan yang amat sangat berjalan terus disebuah gua batu pualam yang keseluruhan bagian guanya berwarna putih, udaranya sangat dingin hingga mencucuk tulang, dan kabut tipis senantiasa selalu menyelimuti goa tersebut, disaat ia sedang kebingungan seperti itu, terdengarlah suara seorang wanita memanggilnya yang menggema diseluruh goa tersebut. “Megasari anakku, kemarilah Nak, kemari!”

Mega Sari celingukan mendengar suara tersebut, suara yang sangat ia kenal “Ibu? Itukah engkau Ibu? Dimana dirimu? Saya takut!”

“Teruslah berjalan lurus kedepan, jangan tengok kiri-kanan!” jawab suara Gaib tersebut.

“Baiklah Ibu!” sahut Mega Sari, ia lalu terus berjalan lurus memasuki bagian terdalam goa tersebut, tiba-tiba ia pun sampai disebuah tempat terbuka yang sangat luas, diatas sebuah batu yang tinggi berdirilah sosok Dewi Nawangkasih. “Ibu?!” seru Mega Sari sambil berlari menghampiri ibunya yang mengenakan pakaian kebaya serba putih.

“Sudah saatnya engkau hentikan polahmu Anakku! Kau tidak boleh melawan takdir!” ucap Dewi Nawangkasih begitu melihat Mega Sari berlari menghampirinya, “Hentikan dendam yang ada didalam dasar sanubari hatimu! Karena dendam itu yang akan menjadi tunggangan Setan! Yang akan menghancurkan dirimu sendiri! Ingatlah, bahwa kaum Iblis itu tidak bisa engkau jadikan sahabat, karena mereka telah memendam dendam pada seluruh umat manusia sejak jaman nabi Adam!" la”jutnya.

“Tapi merekalah yang telah menyakiti saya Ibu! Merekalah yang menaburkan benih dendam didalam hati saya hingga terus tumbuh subur bermekaran didalam hati saya! Karena setiap kali mereka selalu menyiramnya dengan hinaan serta cercaan! Setiap perlakuan mereka pada saya terasa begitu getir! Bahkan mereka terus memburu saya untuk menghabisi nyawa saya!” cerocos Mega Sari.

Dewi Nawangkasih menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak kecewa. “Kau tahu anakku, bahwa setiap cercaan maupun tindakan buruk dari orang yang membenci kita, akan mengurangi dosa-dosamu, kenapa kamu tolak?” 

Mega Sari membelalakan matanya. “Bukankah ayah dan ibu telah mengajarkan saya tentang Harga Diri? Dan bukankah ayah dan ibu telah melahirkan saya sebagai seorang putri dari negeri Mega Mendung? Harga diri itulah yang akan saya pertahankan sampai kapanpun! Saya tidak rela harga diri saya diinjak-injak! Saya tidak rela jika mereka terus mencerca ayah dan ibu sebagai penjahat di negeri kita sendiri! Saya juga harus mempertahankan diri saya dari usaha-usaha pembunuhan yang terus mereka lakukan pada saya!”

“Kamu memang berhak membela dirimu anakku, malah kamu memang wajib mepertahankan hidupmu, tetapi… Kamu tahu anakku? Semuanya memiliki batas, dan polahmu itu sudah melampaui batas! Pembalasan dendam adalah perbuatan yang salah jika dilihat dari sudut apapun! Pembalasan dendam bukan lagi termasuk pembelaan diri! Mega Sari anakku, Dendammu membuatku dan ayamu semakin gerah dan panas didalam kubur!” tegas Dewi Nawang Kasih.

“Maafkan saya Ibu, mungkin garis nasib buruk inilah yang memang sudah menjadi takdir yang harus saya panggul di kehidupan ini” jawab Mega Sari dengan lemas. 

“Tapi itu bukan pembenaran pada semua polahmu anakku! Mega Sari, siapapun bisa menjadi orang yang baik, menjadi orang yang beriman dan dikaruniai kasih saying Tuhan, kalau memang niatnya mau menjadi orang yang baik serta beriman padaNYA! Dan sebaliknya, siapapun bisa menjadi jahat, kalau niatannya memang sudah jahat!” tegas Dewi Nawangkasih.