Episode 86 - Tomb of the Great King Part I



“Hosh... hosh... tak kuat lagi... hosh... hosh... aku tak kuat lagi.” Chandra bersandar di pohon hitam dan bersembunyi. “Padahal airnya sudah kudapatkan.” Chandra menggenggam botol potion yang sudah diisi air hitam seperti air got yang ia dapat di danau kecil tempat ini. Ia angkat dan lihat di depan wajahnya. 

“Tak tahu sudah berapa lama aku ada di hutan seram ini.” Chandra menyandarkan kepalanya di pohon itu, bernafas panjang, tubuhnya berkeringat dan mata terpejam. “Tunggu saja Alzen. Tunggu sebentar lagi, bertahanlah... sampai aku bisa menemukan jalan pulang.”

Krssskk...

“Huh!?” mata Chandra terbuka lebar-lebar dan seketika bulu kuduknya berdiri sambil ia menengok ke belakang pelan-pelan dengan jantung berdebar-debar.

Krssskk...

“Huh!!” Chandra segera menoleh ke belakang dengan api di tangan kanan siap untuk menyerang. Ia duduk diatas tanah dengan banyak rumput kering, tangan dan kakinya gemetar hebat.

Kriek! Kriek! Kriek! 

“Huwaaa !!?” Chandra teriak keras sekali. Kaget melihat kelelawar keluar dari semak belukar di depannya. “Hah... hah... ternyata cuma kelelawar. Phew...” Chandra bernafas lega dan menaruh tangan kanannya di tanah sambil melihat ke atas.

“GROOOOOOO !!”

Tiba-tiba muncul sesosok monster bernama Grave Guardian, wujudnya hitam bertanduk seperti kambing, bermata merah seperti iblis, dengan sayap burung gagak, namun berjalan dengan empat kaki seperti anjing.

Grave Guardian keluar dari semak belukar itu dan bersiap memangsa Chandra

“HUWAAA !!”

Chandra kaget sekali badannya lemas, mukanya membiru dan ia hanya bisa melindungi diri sendiri dengan tangan menutupi kepala.

“GROOOO !!”

“Fireball !!”

BRUSSHHHH !!

Semburan api yang besar sekali datang dari arah kiri monster itu.

“...!!?” Monster yang bersiap menikam Chandra terhempas ke sisi kanan dan bergulang-guling berputar di tanah bersamaan dengan terbakarnya lintasan yang dilewati monster itu.

“Huft... akhirnya ketemu juga.” kata Lio dengan kuda-kuda meninju ke depan.

“Kau sudah dapatkan airnya, Chandra?” sahut Ranni sambil tongkatnya berada di pundak dengan pose yang gagah.

“Ka-kalian... Lio... Ranni...” Chandra tak tahan lagi menahan air mata. “Huwaa untung saja ada kalian...” Chandra menangis seperti anak kecil. “Aku takut sekali, aku takut sekali.”

Lio datang mendekat dan mengulurkan tangan. “Ayo bangkitlah,”

Chandra menggapai uluran tangan Lio dan bergegas berdiri.

“Tak heran sih kau tersesat.” balas Lio. “Hutan ini memang membingungkan, lihat kemanapun semuanya sama. Pohon hitam, pohon hitam, pohon hitam.”

“Ayo! Ayo! Kita harus cepat kembali ke kemah, Alzen harus ditolong!” Chandra memegang tangan pundak Lio kuat-kuat dan bicara terburu-buru sekali. “Ini airnya, ini airnya.” tunjuk Chandra pada botol potion berisi air hitam di genggamannya. “Aku harus coba sembuhkan Alzen.”

“Aaa... Alzen sudah disembuhkan. Dia sudah berdiri untuk cari kamu.” balas Lio dengan alis terangkat satu.

“Buang saja air itu.” Ranni langsung menarik botol itu dari tangan Chandra lalu membantingnya.

“Hei?!” Chandra tak habis pikir. “Tidak ada air lagi di tempat ini selain di danau kecil itu.”

“Grr...” Monster yang dipentalkan Lio mulai bangkit kembali.

“Lupakan saja soal itu,” Ranni memasang kuda-kuda dan berada di posisi tengah. “Monsternya sudah pulih kembali.”

“Chandra, aku tak tahu kenapa kau bersikas menjadi Healer, aku harap itu tidak membuatmu lupa cara bertarung dengan elemen api.” Lio memasang kuda-kuda dengan kedua tangan diselimuti api dan berada di posisi kanan.

“Tentu saja aku tidak lupa, aku dianugrahi elemen api dan air untuk melindungi dan menyembuhkan.” Chandra memasang kuda-kuda dan berada di posisi kiri.

“Grr... GRAAAAA !!” Monster itu menerjal kembali.

***

“Jadi nama tempat ini Nocturne Forest?” Nirn celingak-celinguk melihat pohon-pohon hitam dengan perasaan takut. “Tempatnya benar-benar angker banget ya, kalau melihat ke atas pohon aku seperti melihat wanita berpakaian putih sedang mengamati-mati kita. A-a-a-apa itu s-s-setan?”

“Diam kau gendut!” bentak Luiz. “Tidak ada yang namanya setan di dungeon. Yang kau sebut setan itu juga monster. Dan monster hanya perlu kita habisi.” 

“T-t-t-tapi... kalau setannya tidak bisa disentuh gimana? Gimana kita melawannya.”

“Aduh, memang ada yang monster seperti itu, tapi tenang saja.” balas Luiz. Mereka bukan roh orang mati, iblis atau semacamnya. Mereka cuma monster dungeon yang jika dihabisi akan respawn kembali.”

“Be-benarkah itu Luiz? Hantu-hantu disini bukan hantu sungguhan kan?” tanya Fia dengan ketakutan sambil waspada sekitarnya.

“...” Cefhi hanya menunduk ke bawah melihat langkah kakinya tanpa berani melihat sekelilingnya.

“Hah... daripada soal setan-setanan, aku lebih khawatir jumlah anggota kita berkurang.” Gunin berjalan dengan tenang melewati hutan pohon hitam ini. “Alzen!”

“I-iya?” Alzen menoleh ke Gunin di belakangnya.

“Kau yakin kita bisa melewati lantai ini berempat saja?”

“Aku juga tak tahu,” Alzen menjawab dengan kepala tertunduk. “Tapi Fhonia bilang dia lumpuh dan kita tidak bisa memaksanya lanjut.”

“Hmm... apa tidak boleh tukar anggota party ya?” balas Gunin.

“Tentu saja tidak boleh, bodoh.” balas Luiz.

“Kau benar, kita lanjut melewati dan melawan boss lantai ini tanpa Healer.” Alzen dalam hatipun meragukannya.

“Kau tidak boleh putus asa,” Luiz menepuk pundak Alzen. “Sebagai ketua kau harus semangat dalam kondisi sesulit apapun.”

***

Seterusnya mereka hanya berjalan lurus mengikuti jalan daun yang berbelok-belok tapi menuju satu arah, tanpa mencoba masuk dan mengeksplorasi ke dalam hutan, mereka berhasil keluar dari hutan.

Mereka tiba di sebuah sawah luas yang kotor dan penuh mayat yang dijadikan boneka pengusir burung, serta tanaman-tanaman yang sudah layu dikelilingi tulang-tulang hewan maupu manusia yang sudah kering.

“Hoek...” Alzen menutup hidung. “Tempat apa ini? Baunya menjijikan.”

“Syukurlah daritadi tak ada setan muncul.” Nirn menunduk dengan nafas tersengal-sengal.

“Sudah kubilang tidak ada yang namanya setan.” balas Luiz jengkel.

“Chandra dan Lio dimana ya?” kata Cefhi khawatir. “Apa mereka kembali ke kemah lagi?”

Fia geleng-geleng kepala. “Aku juga tidak tahu, sementara ini kita bergabung saja dengan party Alzen dulu.”

“Sepertinya kita dituntun ke bangunan besar di ujung sana itu.” tunjuk Gunin pada sebuah katedral bobrok yang masih kurang lebih 200 meter di depan mereka.

***

Party Leena sudah berdiri di depan pintu gerbang katedral besar itu.

“Huh... kita benar-benar diuntungkan karena punya elemen cahaya di dungeon berelemen kegelapan seperti lantai ini.” kata Leena sambil menyarungkan pedanngya.

“Maaf ya Leena aku harus menghemat Aura dan jadi tidak bisa memberi kalian berdua Buff.” balas sang support party Leena dengan wajah kelelahan.

“Tidak apa, tenang saja.” balas Leena dengan tersenyum.

“Leena, Leena, lihat... Alzen sudah sampai sini.” kata Sintra sambil menepuk Leena dengan menoleh ke belakang, sambil menunjuk Alzen yang berada 200 meter jauhnya.

“Dia cuma bertiga dengan partynya? Apa dia akan baik-baik saja?” pikir Leena dalam hati. 

“Woah, pintu gerbangnya tinggi sekali.” kata sang Tanker melihat ke ujung atas gerbang itu. 

“Hei lihat, ada pahatan lukisan pahatan di pintunya.” kata Healer party Leena.

Leena berbalik, “Lukisan?” dan maju ke depan lalu mengamat-amati empat kali dua lukisan di pintu gerbang itu.

Leena melihat sesosok raja yang dikagumi rakyatnya bagaikan tuhan, di sisi sebelahnya raja itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi menghunuskan pedang ke arah matahari.

Gambar di bawahnya menunjukkan sang raja berperang dengan banyak raja-raja lain. Dan gambar di sebelahnya menunjukkan kemenangan yang ia dapatkan sambil mengangkat pedang tinggi-tinggi di depan rakyatnya.

Gambar di bawahnya lagi menunjukkan raja semakin tua dan mati di tangan putranya sendiri. Di sebelahnya terdapat gambar kerajaan yang hancur porak-poranda terbakar api di bawah pemerintahan putranya.

Gambar di paling bawah pintu, raja di makamkan di atas bukit dengan taburan bunga dan pedang yang ada di pelukannya dan gambar di sebelahnya makam raja tersebut berubah menjadi dungeon yang persis seperti entrance dungeon ini hanya saja dalam kondisi belum runtuh.

“Hmm... apa ini semacam Lore dungeon ini?” tanya Leena sambil terus-mengamat-amati pintu gerbangnya.

“Kisahnya cukup masuk akal sih,” balas Sintra sambil melihat keatas dengan kedua tangannya di pinggang. “Dan karenanya dungeon ini dinamakan Tomb of the Great King.”

“Huh!?” Leena melihat pintunya memiliki celah tengah yang sudah terbuka sedikit. “Pintunya sudah terbuka sedikit, ayo masuk. Mungkin disinilah tempat bossnya.” kata Leena sambil memimpin di depan. 

Sewaktu masuk melewati celah kecil pintu itu. 

“KRAAAAAAAA !!”

Leena dikagetkan dengan teriakan gas hitam yang melayang cepat ke arahnya, ia dengan segera berputar dan menebasnya hingga terbelah dua. Akan tetapi makhluk itu berpencar menyelimuti Leena, melalui mulut dan pori-pori kulit. 

Setelah masuk ke tubuhnya, mata Leena berubah menjadi hitam merah dan kini ia berbalik menjadi musuh. Dengan wajah tersenyum seram, Leena menggerakkan pedangnya untuk melukai anggota partynya sendiri.

“KRAAA !!” teriak Leena yang sedang kerasukan sambil bergerak cepat untuk menebas anggota yang paling lemah yaitu healer mereka.

TRANGGGG !!

Sintra menghadang Leena dan beradu pedang. Pedang Leena tertahan oleh persilangan dua pedang Sintra.

“Le-Leena... sadarlah.”

***

“Velizar, aku pikir kamu cuma orang malas yang tak bisa apa-apa seperti temanmu Sinus.” kata Luxis dengan suara lantang dan bersikap sok akrab, merangkul pundak Velizar seperti sudah kenal dengannya sejak lama.

“...” Sinus mendengarnya terang-terangan karena duduk di sebelah Velizar. Hatinya sakit tapi ia malah menunduk saja. 

“Sebenarnya apa sih kekuatanmu? Aksimu memang jarang, tapi ternyata kau hebat juga.” puji Luxis selagi merangkulnya.

Velizar mencabut pedang di pelukannya sedikit dan melihat bayangannya di pantulan pedangnya. “Biasa saja, tak ada yang spesial.”

“Tidak ada yang spesial apanya? Sewaktu Nicholas kerasukan, kau mampu mengalahkannya dalam sekali tebas. Aku baru tahu sebenarnya kau ini hebat sekali. Apa yang kau lakukan waktu itu?”

“Biasa-biasa saja.” balas Velizar dengan datar.

“Ahh gitu, kau masih merahasiakannya,” Luxis melepas rangkulannya dan duduk sambil melihat ke langit cerah dengan ditopang kedua tangannya yang condong ke belakang. “Hah... jujur aku pikir kalian berdua lemah-lemah, tapi ternyata dugaanku yang satu benar, dugaanku yang satu salah.”

“Nah,” Velizar menolaknya dengan enteng. “Aku biasa saja, Sinus juga biasa saja. Nicholas juga... biasa-biasa saja.”

“Tidak-tidak, Nicholas yang terbaik di angkatan kita. Bagaimana dia bisa disebut biasa-biasa saja.” balas Luxis sambil menggerak-gerakkan tangannya untuk menolak pendapat Velizar. “Sinus memang biasa-biasa saja dan terbukti...”

“...!?” Sinus mendengarnya dan semakin sakit hati, tapi lagi-lagi dia masih diam, tapi tangannya mulai mengepal.

“Beda denganmu, setelah separty bareng. Ternyata kau hebat juga Vel. Bisa mengalahkan Nicholas yang tiba-tiba kerasukan itu dengan sekali gerakana saja dan akan gawat kalau dia berbalik melawan kita.” balas Luxis sambil memandang ke langit dengan wajah bosan menunggu. “Ahh begini saja!” seketika mukanya bersemangat.

Luxis segera bangkit berdiri dan mengambil pedang rapiernya, “Untuk mengisi waktu luang menunggu tes ini selesai.” Luxis menghunuskan pedangnya pada Velizar. “Kita sparing, kebetulan kau ini pengguna pedang dan aku juga. Nah, bagaimana? Velizar... kita duel!”

“Buat apa? Aku tak bersemangat padamu.” Velizar menatapnya dengan wajah yang bosan sekali.

“Ayolah aku ini cukup kuat kok. Ayo naik dan...”

“Ayo Sinus,” Velizar beranjak naik dan pergi menjauhi Luxis sambil menarik tangan Sinus. “Aku bosan disini.”

“Haduh, haduh, haduh...” Luxis geleng-geleng kepala dan senyum meremehkan. “Kau takut ya...”

“Iya aku takut,” jawab Velizar sambil memunggungi Luxis. “Aku takut ini jadi membosankan.”

“Halah... bicara begitu tinggi tapi malah menghindar.” balas Luxis sambil menyeka rambutnya ke atas lalu ke belakang. “Sepertinya kau perlu diberi sedikit dorongan.” ucapnya dengan suara kecil.

“Ice Wall !!”

Luxis meng-cast sihirnya dan membentuk dinding es yang cukup tinggi untuk memblok jalan mereka.

“Kamu lewat kiri, aku lewat kanan.” kata Velizar dengan santainya pada Sinus.

Dan tembok itu dilewati begitu saja.

Luxis mengibas pedangnya secara diagonal dan dinding itu di hilangkannya.

“Grr... mungkin perlu lebih banyak dorongan.” Luxis melesat cepat dan tiba-tiba menebas punggung Sinus secara tiba-tiba hingga bajunya terkoyak dan kulitnya tertebas.

“UAGHHHH !!” Sinus langsung menunduk dan mengusap-usap punggungnya sambil menejerit. “Sakit! Sakit!”

“Oops maaf, aku tak sengaja, sepertinya agak sedikit terlalu berlebihan.” ucap Luxis dengan nada menahan tawa.

Luxis melihat Nicholas lebih dulu memastikan ia tak menyadari kejadian disini. “Bagus, Nicholas sepertinya sedang memikirkan sesuatu, dia tak bakal kesini dan ikut campur.” kata Luxis dalam hati.

Kemudian Luxis menoleh melihat Velizar yang ekspresinya sama sekali datar tak berubah. “Cih, dia gak ada khawatir atau sedih dengan temannya kah?” pikir Luxis.

“Apa salahku Luxis! Kenapa kau tiba-tiba menebasku?” sahut Sinus geram dalam posisi berbaring diatas rumput.

“Maaf aku tidak sengaja.” Luxis membalas sambil bersiul dan matanya melihat ke atas.

“Grr... brengsek!” Sinus geram sekali melihat ekspresi menahan tawa dari Luxis.

***

Di perjalanan melewati jalur sawah itu yang jalannya sempit dan kotor, mereka tiba-tiba dilempari gerobak kayu yang jatuh dari langit yang menargetkan Alzen.

“Alzen awas!” Luiz dengan sigap meniarapkan Alzen dan melindunginya dengan tubuhnya yang besar itu sehingga ia yang terkena jatuhnya gerobak itu. 

DUARRR !!

“UAGHHH !!”

“Luiz terima kasih, tapi... kau...” Alzen tak habis pikir melihat luka di punggung Luiz begitu fatal.

“Tidak apa, ini sudah tugasku,” balas Luiz dengan mata tertutup satu menahan rasa sakit yang luar biasa di punggungnya. “Kali ini aku seorang tank.”

“Tu-tunggu disana kak Luiz.” Fia mengarahkan kedua tangan ke depan.

“Heal !!”

Fia dengan segera meng-cast sihir penyembuhan pada Luiz.

Dari gerobak kayu lapuk itu ada box kaca berisikan monster gas hitam seperti yang pernah Alzen lawan dulu sewaktu awal-awal masa sekolah. 

“Mo-monster gas ini kan...” Alzen teringat kejadian beberapa bulan silam.

***

“Fireball !!” 

Cast Chandra dengan tinju berkali-kali dari jarak jauh.

Buzt! Buzt! Buzt!

"Fiery Fire Strike !!"

Serang Lio sekali namun mematikan.

BRUUUUUSSSHHHZZZTTT !!

Ranni melompat dengan tongkatnya diangkat kuat-kuat hingga ke belakang lalu dihantamkan ke monster yang dilawannya.

“Vulcanic Hammer !!”

DUARRRR !!

Grave Guardian terluka parah, sayapnya sudah rusak satu, namun masih memiliki tenaga yang kuat untuk kembali melawan.

“Hosh... hosh... dasar iblis, sudah diserang sekuat tenagapun masih belum mati.” kata Chandra sambil memegangi dadanya yang sesak.

“Apa kita lancarkan serangan sekali lagi?” balas Lio dengan posisi kuda-kudanya.

“Masih ada satu boss lagi yang harus kita kalahkan,” balas Ranni. “Kita kabur saja, mungkin dia tidak didesain untuk dikalahkan oleh tingkat kita saat ini.”

DUARRR !!

“UAGHHH !!”

Di tengah-tengah pertarungan, mereka mendengar suara teriakan pria dan gerobak jatuh yang kencang sekali suaranya.

“Ada orang lain dekat sini!?” jawab mereka bertiga bersamaan.

***

Sinus dirawat di kemah para instruktur dan disembuhkan oleh Lunea.

Luxis dan Velizar berhadap-hadapan di atas rumput dan di hempas angin untuk saling berduel.

“Nah begitu dong, akhirnya kau mau...”

“Sebenarnya aku masih malas.” balas Velizar dengan kuda-kuda membungkuk bersiap menarik pedang. “Tapi kau membuatku punya alasan.”

Luxis dengan tersenyum menantang, mengelus pedangnya dari ujung kanan ke ujung kiri.

“Ice Blade !!”

Rapiernya kini dilapisi Es.

“Oke aku siap!”

Velizar yang membungkuk, kembali berdiri tegak dan berjalan biasa ke arah Luxis yang berada 10 meter di depannya.

“Hee? Apa maksudnya nih? Kau malah...”

“Hah...” Velizar menghela nafas. “Habisnya kamu membosankan.” kata Velizar di depan wajah Luxis.

“Haa!?” Luxis heran sampai-sampai menaikkan alis.

Dengan cepat sekali Velizar melepas pedangnya dari sarung, dalam posisi kuda-kuda yang ia lakukan dengan segera, Velizar menebasnya dari sisi kanan Luxis.

Tranngg !!

“Cepet banget!!?” Luxis terkejut. 

Namun yang ia tak sadari, es yang melapisi pedanngnya dalam sekejap hilang.

Velizar menebasnya lagi dari sisi kiri Luxis.

Tranggg !!

Benturan kedua, membuat bagian tengah Rapier Luxis retak.

“Pe-pedangku!?”

Di tebasan ketiga, Velizar secara diagonal dari kanan atas ke kiri bawah.

TRANGGG !!

Velizar mematahkan Rapier Luxis.

“HUWAAA !!? Pedangku! PEDANGKU!!” Luxis berteriak keras melihat potongan pedanngya terjatuh di tanah. Ia menunduk dan melihat darah menetes di depan matanya. Luxis meraba-meraba wajahnya dan baru menyadari wajahnya tertebas secara diagonal dari alis kanannya hingga ke pipi kirinya. “HUWAAA!!? Wajahku yang tampan.

Luxis berbalik ke belakang melihat Velizar berjalan dengan santainya, “VELIZAR !! KAU !! KAU APAKAN WAJAHKU !!”

“Biar kau ingat, bahwa kau juga...” Velizar menoleh ke belakang dengan senyuman yang seram sekali. “Biasa saja.”

“...!!?” Luxis kaget sekali melihat ekspresi Velizar barusan dan tak menyahutinya lagi.

***