Episode 57 - Pilihan Sony



Semua orang pernah tersesat ke sebuah titik di mana mereka berpikir bahwa itu adalah jalan terbaik yang harus dia tempuh, hingga akhirnya mereka sampai pada satu titik, di mana sebuah kejadian akan merubah mereka kembali.

Apa yang sebelumnya mereka anggap benar, ternyata salah. Apa yang mereka anggap baik, ternyata buruk. Dan akhirnya mereka sadar, bahwa mereka sudah terlanjur menyesal.

Kemudian, apa yang harus mereka lakukan selanjutnya? Apakah mereka akan kembali menempuh jalan yang salah tersebut? Atau berbalik dan menapaki jalan baru, yang masih belum mereka tahu apakah akan baik atau tidak.

Untuk mereka yang pemberani, tidak sulit untuk langsung berjalan di jalan asing tersebut, lalu bagaimana nasib di penakut? Mereka akan ragu-ragu untuk melangkah, tentu saja.

Tapi, bagaimana pun, pada jalan yang setiap orang pilih, pasti ada hikmah di dalamnya, dan juga sebuah cerita indah yang hanya mereka pahami. Apapun itu, setiap orang berhak memilih jalan apa yang ingin mereka lalui.

Di sebuah rumah tua di tepi kota.

“Oke, akhirnya selesai.” 

Seorang pria bertubuh besar dengan kepala botak langsung terduduk setelah mengatakan itu. Peluh keringatnya tercucur dan membasahi bajunya. Kemudian pria botak itu menoleh ke arah kanan, di sana terdapat temannya yang terlebih dulu terduduk di lantai dengan kondisi yang tak lebih baik dari pria botak tersebut.

“Ambilkan air di dapur.” Pinta pria botak tersebut pada temannya. 

Pria botak ini adalah Sony, sedangkan teman di sebelahnya adalah Rudi. Mereka adalah orang yang dulu pernah mencoba untuk menyerang Danny dan yang lainnya untuk membalas dendam, hingga akhirnya masuk dalam pertarungan dengan geng serigala hitam.

“Oke.” Jawab Rudi sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur.

Tidak butuh waktu yang lama, Rudi membawa satu botol air lalu memberikannya pada Sony. Dengan sangat cepat juga Sony menghabiskan setengah air di dalam botol tersebut.

“Hei, sisakan untukku juga.” Rudi berkata sambil mencoba merebut botol itu.

“Haha, aku haus sekali.” Jawab Sony sambil mengelap bekas air di bibirnya dengan lengannya.

Tanpa mengatakan apapun Rudi langsung menghabiskan setengah air di botol tersebut.

“Tentu saja haus, banyak sekali pekerjaan yang harus kita selesaikan, sih.” Jawab Rudi lalu menutup kembali botol yang telah kosong itu.

“Memang,” Sony menatap ke sekeliling ruangan yang telah bersih lalu mengintip keluar dan melihat pakaian basah yang baru saja dia jemur, lalu kembali berkata, “tapi, kau tahu, aku rasa ini lebih baik dari dulu.”

“Haha, jangan samakan dengan dulu,” Rudi tertawa terbahak-bahak, “dulu kitra bahkan malas untuk membuang sampah dan akhirnya menumpuk di mana-mana.”

“Ya, kau benar.” Ucap Sony. 

Sony kembali mengingat kembali masa itu, masa di mana dia hidup dengan mencuri rezeki orang lain, merebut kebahagian mereka, lalu dia dan teman-temannya gunakan untuk kesenangan sesaat. 

Menyesal? Tentu saja dia menyesal, tapi dia tidak akan terus-terusan menyesalinya. Karena ada yang harus dia lakukan, yaitu merubah dirinya dan hidup dengan lebih bermanfaat, juga tak lupa juga tidak akan mengulangi apa yang telah dia perbuat.

Menurutnya itulah arti dari menyesal yang sebenarnya.

Menangis dan terus meratapi bukan jawaban, itu hanyalah perbuatan yang sia-sia.

Kenapa mereka berdua berubah? sebenarnya apa yang membuat mereka berubah? jawabannya sederhana, yaitu karena mereka telah kehilangan sesuatu yang penting bagi diri mereka, dan juga sedikit ancaman.

Seseorang baru akan mengerti, ketika mereka merasakannya sendiri.

Setelah pertarungan antara mereka melawan Danny dan akhirnya masuk dalam pertarungan melawan geng serigala hitam. Satu persatu teman-temannya pergi entah kemana, mereka terlalu takut untuk tinggal lagi di kota ini, dan akhirnya yang tersisa hanyalah Sony dan Rudi.

Sony tak punya lagi tempat pulang, begitu pula Rudi, kecuali rumah tua tersebut.

Setelah kepergian teman-temannya, rumah tua tersebut menjadi terlihat lebih suram, akan tetapi mereka berdua tidak punya pilihan lain kecuali terus bertahan di sana.

Mereka berdua juga kembali mencoba untuk mencopet dan semacamnya, tapi dengan hanya mereka berdua saja tidak membuat semua rencana menjadi lancar. Hingga pada suatu hari, ketika mereka berencana untuk mencopet, tapi akhirnya gagal.

Mereka berdua di kejar oleh orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut dan dipukuli habis-habisan. Namun, mereka berdua tidak dilaporkan ke polisi atas saran salah seorang pria yang ikut memukul.

Pria itu berkata bahwa anggap saja pukulan itu sebagai bayaran yang harus mereka terima karena telah mencoba mencopet dan dia juga berkata untuk memberikan kesempatan kedua pada Sony dan Rudi, mereka semua setuju dengan usulan tersebut dan bubar kecuali pria yang tadi menyarankan untuk mengampuni Sony dan Rudi.

Pria itu duduk sambil menceritakan kisah perjuangannya pada Sony dan Rudi di kota ini, tentang sulitnya mencari pekerjaan yang ‘layak’ dan bisa ‘dibanggakan’ oleh dirinya sendiri dan keluarganya. Tentang masyarakatnya yang selalu memberikan kejuatan, bagaimana tidak, kadang ada yang terlihat baik, tapi ternyata dia sangat busuk, begitu pula sebaliknya.

Setelah lama menganggur karena tidak juga diterima di tempat kerja yang dia idamkan, pria tersebut akhirnya memutuskan untuk membangun usahanya sendiri, yaitu sebuah restoran.

Tidak mudah memang untuk mendapatkan kepercayaan pelanggan untuk terus makan di sana, tapi dengan kesabaran dan ketekunan untuk terus menghidangkan makanan dengan bahan terbaik dan menjaga kebersihan, akhirnya restoran tersebut cukup terkenal di lingkungan sekitar.

Sambil mendengarkan cerita tersebut, Sony kembali mengingat kembali masa lalunya, tentang restoran kecil yang dulu pernah dia punya, andai saja waktu bisa diulang, Sony ingin kembali ke masa itu.

Karena bukan hanya dia dapat terus mengembangkan hobinya untuk memasak, dia juga pasti hidup berkecukupan dan mungkin saja dapat memiliki keluarga kecil sendiri.

Tapi, dengan cepat dia menggelangkan kepalanya, meskipun hidupnya bisa dibilang berantakan, tapi Sony bersyukur telah mendapatkan banyak pengalaman yang tak terlupakan, juga seorang teman yang dia anggap sebagai saudara sendiri yaitu Rudi.

Setelah puas bercerita, pria itu berdiri lalu mengatakan sebuah kalimat yang akhirnya merubah Sony dan Rudi, dia berkata.

“Kalian harus berubah, jangan sampai aku tahu kalian melakukan hal seperti ini lagi, atau aku akan membunuh kalian berdua.” Ucap pria tersebut dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.

Banyak cara untuk menasihati, akan tetapi untuk pria seperti Sony dan Rudi, menurut pria itu ancaman adalah cara terbaik.

Sony dan Rudi langsung menelan ludah setelah mendengar kata-kata tersebut, entah bagaimana mereka merasa bahwa apa yang pria itu katakan bukan bualan, dan dia bersungguh-sungguh akan membunuh mereka berdua jika pria itu tahu mereka mengulangi perbuatan tersebut.

Setelah itu pria tersebut memberikan kartu namanya pada Sony dan Rudi, dia juga menawarkan pekerjaan kepada mereka berdua yang langsung mereka berdua terima tanpa sedikitpun keraguan.

Pada awalnya Sony dan Rudi bekerja sebagai pelayan di restoran tersebut, tapi karena Sony memiliki kemampuan memasak dan kebetulan ada seorang pekerja di dapur yang mengundurkan diri, akhirnya Sony mengisi bagian tersebut.

Dan begitulah lucunya takdir memainkan kehidupan setiap orang di dunia ini. Pada awalnya pria itu adalah seorang yang kebetulan lewat dan ikut memukul Sony dan Rudi karena ketahuan ingin mencopet, sekarang dia adalah bos dari mereka berdua.

Lagi-lagi ini tergantung apa yang kau pilih, apakah kau akan berubah atau tetap pada jalan yang kau yakini. Tidak masalah jalan mana yang kau pilih, selama kau merasa tidak akan menyesal setelah mengambil jalan itu, maka itu adalah jalan yang terbaik untukmu.

Dalam hidup banyak pilihan yang tersedia, tapi kau harus ingat bahwa tidak semua pilihan tersebut baik untukmu.

“Hei, ayo kita lanjutkan lagi.” 

Lamunan Sony tentang apa yang telah terjadi buyar setelah mendengar ucapan Rudi yang kini berdiri di sampingnya.

“Oke.” Balas Sony.

Sebelumnya mereka berdua sudah selesai menyelesaikan pekerjaan kecil seperti menyapu, mencuci, dan membersihkan debu-debu di setiap sisi rumah tua tersebut, kini akhirnya mereka sampai ke tugas utama, yaitu mengecat ulang rumah tersebut.

Dengan warnanya yang pudar, rumah tersebut tampak sangat suram. Jadi Sony dan Rudi memutuskan untuk mengecat ulang rumah tersebut setelah meminta libur ke bosnya.

Sony membuka sebuah kaleng cat dan bersiap untuk menggunakannya.

Dengan perlahan rumah tersebut dibaluti warna baru, sebuah warna yang membawa harapan dan kehangatan, seperti matahari, yaitu warna kuning.

Meskipun setelah selesai akhirnya mereka berdua merasa sedikit menyesal, karena warnanya terlalu cerah dan terlihat norak, tapi apa boleh buat, tidak mungkin mereka harus mengecat ulang dengan warna lain lagi.

Selain karena tidak ada biaya untuk membeli cat baru, mereka juga sudah terlalu lelah untuk melakukan hal tersebut.

Hari-hari terus berganti, mereka berdua terus bekerja dengan giat di restoran tersebut. Terutama untuk Sony, dia bertekad untuk mengumpulkan pengalaman dan dana untuk sekali lagi membangun restorannya sendiri.

Pada suatu hari, orang yang bertugas membeli bahan-bahan makanan jatuh sakit, hingga akhirnya Sony dan Rudi diminta tolong untuk menggantikannya membelinya.

Pada jam satu malam, Sony dan Rudi keluar dari rumah dan pergi ke pasar. Waktu paling baik untuk membeli bahan-bahan adalah saat sayuran itu datang, selain harganya yang lebih murah, sayurannya juga lebih segar, selain itu kita dapat memilih sayuran terbaik.

Di tengah perjalanan, sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya untuk mendapat kehangatan, Rudi tiba-tiba membuka obrolan.

“Hei, kau tahu rumor tentang Iblis Hitam?”

“Tentu saja, tapi rumor tetaplah rumor, tidak bisa dipercaya.” Ucap Sony sambil membenarkan posisi jaketnya.

“Bagaimana kalau kita coba cari tahu.” Rudi berkata dengan semangat.

“Maksudnya?”

“Seperti yang aku katakan, kita coba cari tahu, apakah rumor itu benar atau tidak.”

“Bagaimana caranya?”

“Menurut rumor, si Iblis hitam selalu muncul pada tengan malam di gang yang sepi, bagaimana kalau kita saja.”

“Hmm, kita bisa sampai ke pasar lebih cepat kalau lewat gang, baiklah, tidak ada salahnya kita coba.”

Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berjalan melewati gang sekaligus untuk mencari si Iblis hitam yang sedang viral saat ini.

Setelah melewati beberapa gang dan tidak jauh lagi sampai ke pasar yang sedang mereka tuju, tapi sosok yang mereka cari tersebut belum muncul juga.

“Yah, rumor tetap saja rumor, tidak bisa dipercaya.” Ucap Rudi dengan kecewa.

Tapi tiba-tiba saja Sony memegang pundak Rudi untuk berhenti dan menunjuk ke suatu arah. Di sana terlihat sesosok sedang berdiri dengan pakaian serba hitam.

“Itu si Iblis Hitam?” tanya Rudi.

“Entahlah, aku tidak yakin.” Jawab Sony sambil memfokuskan matanya untuk melihat bagaimana rupa sosok tersebut.

Karena rasa penasaran yang amat sangat, akhirnya Sony memutuskan untuk mendekatinya. Sosok itu menyadari bahwa Sony sedang mendekatinya, dia menatap Sony untuk sesaat lalu berlari pergi.

Sony agak ragu, karena meskipun dia bisa melihat bagaimana rupa sosok tersebut berkat bantuan sinar bulan, dia tidak menyangka bahwa ternyata dia mengenali orang tersebut.

“Bagaimana mungkin dia adalah si Iblis Hitam?” guman Sony dengan pelan.