Episode 301 - Kepanikan


 

Bintang Tenggara sedang terlibat di dalam pertarungan satu lawan satu yang berlangsung sengit. Lawannya mengandalkan kecepatan, begitu pula dengan dirinya. Ketika Bintang Tenggara melompat ke samping, remaja lelaki dengan ikat kepala menyusul dengan tangkas. Keduanya bergerak beriringan, seolah sepasang bayangan pada permukaan cermin. 

Tendangan menyapu yang dilepaskan Bintang Tenggara menyapa angin ketika lawan melompat mundur, lalu ibarat bilah bambu sang lawan melecut maju. Sebuah tendangan tinggi kini mengincar kepala, yang ditanggapi dengan gerakan merunduk. Seolah pegas, Bintang Tenggara lalu melesat ke depan mengincar dada. 

Pertukaran pukulan seperti yang baru saja berlangsung, hanya terjadi beberapa kali. Selebihnya, pertarungan di atas sehelai daun raksasa tersebut merupakan pergerakan-pergerakan cepat. Bukan hanya itu, pertahanan keduanya pun terbukti rapat. Walhasil, kedua pihak belum menemukan kesempatan dan terus berupaya mencari celah, namun betapa sulitnya celah tersebut tercipta. 

Bintang Tenggara menatap lawan. Pandangan matanya dibalas dengan tatapan mata lawan nan terkesan kosong. Aneh sekali, batin Bintang Tenggara. Lawannya kali ini tiada pernah sekali pun menampilkan emosi di kala bertarung. Walau selalu berupaya menjaga ketenangan, Bintang Tenggara menyadari bahwasanya di dalam pertarungan bahkan dirinya akan terbawa emosi. Memang dirinya tiada hanyut dalam emosi sebagaimana Panglima Segantang yang penuh semangat atau Canting Emas dengan amarah atau Aji Pamungkas dengan gairah. 

Sulit memendam emosi di kala bertarung, bahkan kebanyakan ahli akan terlalu larut sampai-sampai menyibak hawa membunuh nan demikian kental. Akan tetapi, lawan kali ini benar-benar tiada memiliki emosi, apalagi hawa membunuh! 

“Penempatanmu tumpul!” sergah suara yang datangnya dari jalinan mata hati. Jelas sekali, Komodo Nagaradja tak puas akan kinerja anak didiknya di dalam pertarungan ini. 

Bintang Tenggara mengabaikan sahaja. Dalam pertarungan ini, kesalahan sedikit saja dapat berujung fatal. Tiada guna terpancing dan terburu-buru oleh kata-kata sang Super Guru. 

“Payah...,” cibir Komodo Nagaradja dengan nada mengejek. 

“Alangkah lebih baik bilamana Super Guru memberi sedikit petunjuk...,” tanggap Bintang Tenggara sedikit kesal. Kemudian, ia melompat mundur jauh sekali ke belakang. Anak remaja itu hendak mencari waktu berpikir sejenak, serta menarik napas panjang. Dari kejauhan nanti, ia berpandangan akan bisa memperoleh gambaran yang lebih baik terkait pertarungan ini. Bahkan, anak remaja itu berharap memperoleh celah waktu untuk memanggil Roh Nyaru Menteng. 

“Apa jadinya engkau tanpa aku!” balas Komodo Nagaradja. “Sampai kapan engkau hendak berbuat curang dengan mengandalkan pemikiran cemerlang dan kebijaksanaan ahli maha digdaya digdaya bernama Komodo Nagaradja ini!?”  

Memang benar bahwa dalam beberapa kesempatan, peran Komodo Nagaradja terbukti menjadi faktor kemenangan anak didiknya. Akan tetapi, tidak pula selalu. Pada banyak kesempatan, Komodo Nagaradja hanya mengamati pertarungan dalam diam. Menikmati penderitaan anak didiknya mungkin adalah salah satu kegemaran tokoh tersebut.

Di saat yang sama, Bintang Tenggara menelan ludah. Betapa kesempatan menjauh tiada mudah didapat. Lawan mengejar, menempel ketat tiada memberi ruang. Sedikit demi sedikit Super Murid Komodo Nagaradja mulai terlihat kewalahan. Baru kali ini ia berhadapan dengan remaja seusia dengan kemampuan yang jauh di atas dirinya sendiri. 

“Dikau sesungguhnya tiada mengetahui bagaimana caranya agar Nak Bintang dapat menghadapi lawan ini...” Tetiba jalinan mata hati datang menyela. Tentu berasalnya dari Ginseng Perkasa. 

“Jangan ikut campur, wahai ahli cabul!” gerutu Komodo Nagaradja. 

“Akui sajalah...”

“Kau hendak mencari perkara...?”

“Jangan mengalihkan inti pembicaraan...”

“Kejutkan dia!” sergah Komodo Nagaradja yang mudah terpancing cibiran Ginseng Perkasa. “Kejutkan dia dan ciptakan penempatan!” 

Mendengar petunjuk dari Komodo Nagaradja, tanpa pikir panjang lagi Bintang Tenggara mengepal telapak tangan erat-erat. Kepalan tinjunya lalu mengincar permukaan daun di mana mereka berpijak...

“Beledar!” 

Adalah suara memekakkan telinga yang serta merta mengikuti di kala Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama dilepaskan. Hantaman mendarat tanpa hambatan pada permukaan daun. Seluruh wilayah daun bergoyang selayaknya dihembus angin nan kencang. 

Suara nan membana menggoncang tubuh remaja dayak yang mengenakan ikat kepala. Wajahnya seketika berubah kaget, selayaknya seseorang yang terkejut bangun dari tidur siang. Getaran pada permukaan daun kemudian membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Gelagapan, ia pun bergerak mundur, berupaya menjauh dari Bintang Tenggara yang sebelumnya merupakan sasaran serangan.  

Keadaan berbalik arah dalam seketika! Menyaksikan kesempatan telah terbuka, Bintang Tenggara sontak merangsek maju. Ia tak terlalu memikirkan apa yang sesungguhnya terjadi terhadap lawan. Walau, satu pertanyaan yang mencuat sulit ditepis pergi. Bagaimana caranya Komodo Nagaradja dapat mengetahui kelemahan lawan dengan semudah itu? Mungkinkah keadaan lawan yang tiada menyibak emosi dalam pertarungan merupakan sebuah petunjuk penting. Sulit memang mengalahkan pengalaman ahli sekelas Jenderal Bhayangkara.

Akan tetapi, belum sempat Bintang Tenggara mencapai sasarannya, permukaan daun kembali bergetar. Bukan hanya bergetar, namun bergerak dan berpindah lagi. Hal yang sama terjadi terhadap dedaunan maha raksasa lainnya. Kejadian ini memaksa Bintang Tenggara memperlambat langkah, dan lawan pun bergerak semakin menjauh

Dedahan membawa dua puluh lembar daun maha besar bergerak serempak dan saling mendekati. Seolah menyatu, lembar-lembar daun menjadi mirip sebuah pulau nan bercokol gersang di tengah lautan. Mereka para remaja yang sedang terlibat dalam pertarungan nan sengit, berkumpul di atas permukaan dedaunan yang kini membentang sangat luas, bahkan hampir menjangkau pohon yang lain. 

Bintang Tenggara berhitung cepat. Rupanya, beberapa pertarungan di atas dedaunan lain telah rampung. Lihat saja Panglima Segantang dan Canting Emas yang berdiri seorang diri di atas lembar daun mereka masing-masing. Aji Pamungkas terlihat kepayahan, karena lawannya adalah seorang gadis belia yang cukup menarik pembawaannya. Dengan demikian, jumlah remaja yang saat ini berada di atas dedaunan berjumlah sekira 30 ahli. 

Belum semua pertarungan rampung..., simpul Bintang Tenggara di dalam hati. Di saat yang sama, anak remaja tersebut mencari-cari. Akan tetapi, tiada ia menemukan keberadaan Puyuh Kakimerah, sepupu dari Kuau Kakimerah dan putra semata wayang Tiong Kakimerah, yang menjadi teman seperjuangan sebagai perwakilan dari suku Dayak Kaki Merah. 

Sontak Bintang Tenggara melontar pandang ke arah sebatang pohon maha raksasa yang lain. Di sana, di antara ribuan remaja, ia mendapati seorang remaja lelaki bertubuh kecil tergeletak tiada berdaya. Tak diragukan lagi, Puyuh Kakimerah telah tersingkir. Siapakah lawannya tadi...? Jangan-jangan Panglima Segantang atau Canting Emas...

Tiada satu remaja yang bergerak. Mereka menanti perintah selanjutnya. Bintang Tenggara memperkirakan bahwa babak selanjutnya merupakan pertarungan di antara mereka dengan tujuan mencapai jumlah tertentu. Pola seperti ini mirip dengan kejadian-kejadian sebelumnya, dan tak sulit ditebak pemikiran para panitia penyelenggara kegiatan sejenis di mana pun mereka berada. 

Akan tetapi, satu hal masih mengganjal di lubuk hati Bintang Tenggara. Mengapa belum semua pertarungan rampung, tetapi dedaunan telah berkumpul? Sepertinya ada sesuatu yang sengaja disegerakan, batin anak remaja tersebut tak dapat memendam kecurigaan. Bahkan, firsasatnya kini mengatakan bahwa sesuatu yang buruk akan segera berkecamuk.

Seluruh pandang mata mengawasi Bintang Tenggara tatkala ia menjadi anak remaja yang pertama bergerak. Bukanlah bergerak menyerang, melainkan ia melangkah cepat mendatangi Panglima Segantang. Perasaan tak kena membuat ia harus mencari sekutu. 

“Panglima...,” sapa Bintang Tenggara. “Babak berikutnya kemungkinan besar adalah pertarungan di antara remaja yang tersisa untuk mencapai jumlah tertentu. Sebaiknya kita bekerja sama.” 

“Hm...?” Panglima Segantang malah terlihat kebingungan. “Sudah cukup lama kita tiada bersua dan berlatih tarung bersama, wahai sahabatku. Ini adalah kesempatan langka...,” tanggapnya remaja lelaki betubuh bongsor itu penuh semangat. 

Bintang Tenggara menyeringai. Panglima Segantang sedikit pun tiada berubah. Mendecak lidah, dan tak hendak membuang-buang waktu, ia pun berbelok mendatangi Canting Emas. Setidaknya, gadis tersebut pasti dapat diajak berbicara logis. Menurut hemat Bintang Tenggara, kedatangan Canting Emas ke Pulau Belantara Pusat pastilah karena hendak mencegah Kuau Kakimerah menikah muda, serta membawa kembali ke Perguruan Gunung Agung. 

“Aku tak akan kalah!” sergah gadis belia itu penuh amarah. “Bersiaplah kalian! Kalian semua!” 

Bintang Tenggara kini menganga. Mengapa Canting Emas malah marah di kala hendak diajak bekerja sama. Bukankah dengan bekerja sama kesempatan untuk melewati babak berikutnya lebih terbuka lebar!? Bukankah dengan demikian kesempatan membawa Kuau Kakimerah kembali ke Perguruan Gunung Agung semakin besar!?

Kecewa, Bintang Tenggara mendatangi Aji Pamungkas. 

“Bukan aku tak tahu bahwa selama ini kalian bertiga memandang aku dengan sebelah mata!” hardik Aji Pamungkas tanpa berbasa-basi. “Hari ini akan kubuktikan jikalau aku layak mempersunting Kukame!”

“Apa yang ada di dalam kepala kalian!?” Bintang Tenggara memaki sebal. Bahkan Aji Pamungkas berpikiran aneh, walau bukan sesutu yang baru. Kurang berkaitan pula kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya.

Belum sempat Bintang Tenggara meluapkan emosi lebih lanjut, tetiba sesuatu yang aneh berlangsung di pohon lain. Firasat buruk semakin kentara terasa. Kedua matanya menyaksikan langsung bahwasanya formasi segel nan kokoh yang melindungi daun di mana ribuan remaja yang gagal melanjutkan, memudar perlahan. Keadaan mereka para remaja itu masih tergeletak tiada berdaya, bahkan sepertinya memang sengaja dibuat tak sadarkan diri. 

“Hah!?” Beberapa remaja suku dayak terlihat cemas. Tentu di sana terdapat saudara, sahabat, atau sesama anggota suku. Jikalau formasi segel tersebut menghilang, bukankah mereka di sana akan terpapar kepada binatang-binatang siluman serangga yang maha besar ukurannya!? Lebih dari seribu jumlah remaja, dan tak satu pun yang terlihat sudah siuman!

Formasi segel yang melindungi pohon di mana Bintang Tenggara dan yang lainnya berada, pun ikut memudar. Di saat yang sama pula, dedaunan mengubah posisi lagi. Kali ini, tersusun berjajar selayaknya membangun jembatan ke arah daun di pohon sebelah. Apakah maksud dari kejadian ini!?

“Selamatkan diri, atau selamatkan saudara dan sahabat!?” Tetiba terdengar suara bergema. Akan tetapi, suara ini sangat berbeda dengan suara ketua panitia yang sebelumnya memberi perintah. Adalah tokoh lain yang memberi aba-aba.

Bintang Tenggara terkejap. Di sana, Puyuh Kakimerah tak sadarkan diri dan akan menjadi santapan nikmat binatang siluman serangga nan buas dan haus darah!

Sejumlah remaja suku dayak yang masih bertahan, segera memacu langkah. Dengan gagah berani mereka hendak segera menjangkau daun yang lain. Paling depan, adalah remaja dengan ikat kepala yang merupakan bekas lawan Bintang Tenggara. Sepertinya, ia hendak secepatnya menyelamatkan seseorang di sana.  

Dengan memudarnya formasi segel, ratusan binatang siluman serangga yang awalnya hanya dapat menyaksikan anak-anak manusia berkegiatan, tersadar. Hawa membunuh khas binatang siluman terasa pekat memenuhi udara, sehingga membuat rasa sesak di dada. Ratusan binatang siluman lain yang berada jauh dari pohon, pun sudah tersadar akan kejadian yang berlangsung. 

Serbuan binatang siluman datang menggebu. Sejumlah serangan sudah mulai berlangsung. Banyak binatang siluman serangga mengincar remaja yang hendak menyelamatkan, karena pergerakan menarik perhatian mereka. Meski, beberapa serangga juga terlihat mendatangi remaja-remaja yang tak berdaya jauh di hadapan sana. 

Bintang Tenggara hampir dibuat panik. Ia tak mungkin membiarkan Puyuh Kakimerah menjadi santapan binatang siluman. Paman Tiong Kakimerah menugaskan Puyuh Kakimerah untuk membantu dirinya meraih kemenangan bagi Dayak Kaki Merah. Perkembangan situasi saat ini sungguh di luar dugaan!

Usai melakukan beberapa teleportasi jarak dekat, Bintang Tenggara kemudian memacu langkah. Jalinan petir berderak di kedua kali ketika ia mengelak dan menghindar dari serangan dan sergapan binatang-binatang siluman serangga yang mengincar. Sorot matanya terpaku pada selembar daun yang terhubung di hadapan sana. Ia menyadari bahwa dalam keadaan ini, hanya waktu yang memisahkan Puyuh Kakimerah dari ajal datang menjemput. 

Keadaan berubah hiruk-pikuk dalam seketika. Pekik merapal jurus bersatu padu dengan denging sayap binatang siluman serangga. Setiap satu remaja tak ada yang gentar. Kendatipun demikian, semakin banyak binatang siluman serangga yang tiba. Puluhan terlihat mendarat dan mencegat di lembar-lembar daun yang berfungsi sebagai jembatan. 

Pertarungan berlangsung acak tanpa koordinasi. Kepanikan pun membuat pertarungan berlangsung serampangan dan terpisah-pisah. Setiap remaja hanya memiliki satu tujuan, yaitu untuk secepatnya mencapai daun di ujung sana. Demi menyelamatkan sanak saudara, mereka menerobos sambil membantai binatang siluman serangga yang datang menghadang. 

Bintang Tenggara menggeretakkan gigi. Di garis depan, tak mungkin lagi bagi dirinya hanya menghindar. Mulut berkomat-kamit, tetiba di dalam genggaman tangan sebentuk gagang golok telah tiba. Puisi pemanggilan selesai dilafalkan. Sambil menyerongkan tubuh, golok angin Mustika Pencuri Gesit melibas deras! 

Sejumlah binatang siluman serangga terpenggal rapi. Akan tetapi, tak sedikit yang memiliki cangkang nan kuat sehingga hanya terdorong ke belakang. Bintang Tenggara melakukan tebasan beberapa kali lagi, namun hanya dapat menyingkirkan beberapa sahaja. Gelombang kedatangan binatang siluman serangga ibarat ombak laut pasang yang bergulung tiada habisnya. Kekuatan setiap binatang siluman yang baru tiba, disadari semakin tinggi dari sebelumnya.  

Melenting tinggi, Bintang Tenggara lalu mengeluarkan... Tempuling Raja Naga!