Episode 76 - Uga Siliwangi



“AUUUMMMMM!!!” suara auman harimau yang tiba-tiba mengaum itu terdengar sampai ke seantero Kutaraja Rajamandala dan menggetarkan seluruh keraton Rajamandala. Seluruh penghuni Kutaraja Rajamandala gempar apalagi para penghuni Keraton yang suara auman harimau itu seolah berasal dari Keraton! Prabu Arya Bogaseta yang sedang terlelap bersama istrinya Dewi Larasati langsung terbangun terkagetkan oleh suara auman harimau yang dahsyat itu, apalagi suaranya seperti dari balik pintu kamarnya!

“Apa itu Kanda Prabu?” tanya Dewi Larasati dengan ketakutan sambil merangkul suaminya.

“Seperti suara auman harimau, tapi kenapa bisa terdengar sampai sini? Suaranya seolah dari luar kamar kita?!” sahut Prabu Bogaseta. Dengan jantung berdebar ia turun dari tempat tidurnya kemudian meraih keris pusakanya, dengan berhati-hati ia membuka pintu kamarnya, dan terkejutlah ia setenagh mati ketika melihat apa yang ada diluar pintu kamarnya! Istrinya Dewi Larasati langsung menjerit dan menutupi wajahnya dengan bantalnya!

Bagaikan disengat ribuan tawon dan tersambar geledek sekaligus, Sang Prabu terkejut bukan alang kepalang ketika melihat mayat Ki Ranadikarta yang tewas dengan sangat mengenaskan beserta patahan-patahan Keris Pusaka Kyai Gupita tergeletak didepan pintu kamarnya, Sang Tumenggung kepercayaannya tersebut tewas dengan tulang diseluruh tubuhnya hancur, darahnya masih mengalir cukup deras dari mulutnya yang menganga serta kedua lubang hidung dan telinganya!

Prabu Bogaseta lalu celingukan melihat prajurit yang berjaga disekitar kamarnya, ternyata mereka semua telah roboh pingsan oleh semacam ajian sirep yang nampaknya jauh lebih dahsyat daripada ajian sirep biasa. Ia pun jatuh berlutut sambil memandangi mayat Ki Ranadikarta yang tewas dengan mata melotot tersebut. “Oh Gusti...” lirihnya, terbayanglah bagaimana kesaktian keponakannya itu.

Ia menjadi takut sendiri pada Jaya Laksana, apalagi peristiwa Rajapati yang telah merenggut banyak korban termasuk banyak petinggi Negara Mega Mendung masih berlangsung, ia merasa sangat menyesal karena terlalu terburu-buru ingin menyingkirkan Jaya Laksana padahal seharusnya ia menyelesaikan dahulu persoalan Rajapati di negrinya sendiri. Gemparlah keadaan Keraton Rajamandala mendapati kiriman mayat salah satu pejabatnya yang tewas dengan amat mengenaska tersebut!

*****

Pada waktu yang sama di Keraton Pakuan Pajajaran, malam itu begitu tenang, begitu sunyi, hanya suara angin malam yang terdengar yang begitu dingin mencucuk tulang, para prajurit jaga maupun yang bertigas berpatroli pun banyak yang tertidur oleh keheningan malam ini yang entah mengapa suasananya begitu sepi dan mencekam di Kutaraja Pakuan ini. Prabu Ragamulya Surya Kencana pun tertidur dengan lelapnya di kamarnya bersama Permaisurinya.

Sekonyong-konyong keheningan malam itu lenyap, bumi bergoncang dengan amat dahsyatnya! Angin bertiup dengan amat kencang seolah membadai! Seluruh bangunan Keraton Pakuan seolah hampir runtuh diguncang leh Lindu yang maha dahsyat tersebut! 

Ruangan Balai Penghadapanan Keraton Pakuan yang asalnya remang hanya diterangi seadanya oleh lampu minyak di empat sudut ruangan tiba-tiba memancarkan cahaya emas yang terang sekali! Kursi Singgasana Sang Prabu yang berupa Watu Gilang memancarkan cahaya emas yang jauh lebih terang daripada seluruh beda yang ada di ruangan ini! Di lain tempat Prabu Ragamulya Suryakencana yang sedang terlelap tidur, tiba-tiba gelisah, ia mengingau, seluruh tubuhnya berontak, nafasnya ssangat sesak serasa dicekik, sekujur tubuhnya mengucurkan keringat yang amat deras!

Sementara cahaya emas di ruang Balai Penghadapan semakin terang menyilaukan mata bagaikan cahaya sang mentari di tengahari bolong! Dan seiring semakin dahsyatnya gempa bumi yang melanda seantero Kutaraja Pakuan serta angin ribut yang sangat dingin semakin bertiup kencang, satu bola sinar emas keluar dari kursi Singgasana Sang Prabu melesat terbang keangkasa bagaikan ekor bintang! Seiring lenyapnya sinar emas yang keluar dari singgasana Prabu Pajajaran, gempa bumi serta badai yang melanda Kutaraja Pakuan pun langsung berhenti, lenyap seketika itu juga!

Sang Prabu pun terbangun dari tidurnya dengan sekujur tubuh terasa sangat letih dan lemas serta basah oleh keringat dingin. Ia lalu celingukan menatap kesekeliling kamarnya lalu mengusap-usap wajahnya berulang kali, Permaisurinya pun terbangun dari tidurnya dan langsung memegang bahu suaminya. “Kanda Prabu, kenapa?”

Prabu Ragamulya Suryakencana mendesah dengan amat lemas. “Kita ini berada dimana Dinda?”

Sang Permaisuri menaikan aliasnya karena heran dengan pertanyaan suaminya tersebut. “Di kamar istana kita Kanda Prabu, kenapa?”

Prabu Ragamulya Suryakencana kembali mengusap-usap wajahnya yang basah oleh keringat dinginnya. “Entahlah, tiba-tiba perasaanku menjadi kosong! Ahhh... Kekuatanku seperti hilang semua…” 

Permaisuri lalu menatap kesekeliling kamarnya lalu memegang tengkuknya sendiri yang terasa dingin, ia pun merasakan tiba-tiba merasakan suasana yang sangat sepi mencekam, hampa sekali! “Apakah Kanda tadi merasakan sesuatu?”

“Yah... Seperti getaran... Aku... Aku harus melihat ke ruang Balai Penghadapan...” jawabnya dengan lemas seraya bangkit dengan dari tempat tidurnya, ia langsung berjalan cepat menuju ke Balai Penghadapan, “Kanda Tunggu!” permaisurinya pun segera mengikuti suaminya.

Begitu sampai di ruang Balai Penghadapan, Prabu Ragamulya Suryakencana pun jatuh berlutut dengan mulut menganga dan mata melotot, sekujur tubuhnya terasa lemas sekali, istrinya pun segera memegangi bahu suaminya. “Apa yang terjadi Kanda?” tanyanya dengan suara khawatir.

“Wahyu... Wahyu Keprabon telah hilang! Wahyu Keprabon telah terbang, pergi meninggalkan aku dan negeri Pajajaran Dinda!” desahnya dengan amat lemas, istrinya nampak sangat terkejut, tapi ia memilih untuk tidak berkata apa-apa, ia hanya mendekap suaminya yang masih merintih berlutut, meratapi kepergian Wahyu Keprabon dari negerinya tersebut.

*****

Dini hari menjelang Adzan Subuh di hutan luar Kutaraja Rajamandala Mega Mendung, Senopati Laksadi nampak sedang mandi sekalian bersuci di sungai Citarum, sudah menjadi kebiasaannya bahwa setiap hari menjelang Adzan Subuh, ia akan mandi sekaligus bersuci di sungai Citarum tersebut. Senopati Laksadi adalah mantan salah satu Lurah Tantama kepercayaan mendiang Prabu Kertapati, karena dianggap berjasa pada Negara, ia pun diangkat menjadi seorang Senopati kepala Ponggawa Mega Mendung oleh mendiang Prabu Kertapati, sekarang ia merupakan sekutu dari Mahapatih Ki Balangnipa yang dianggap penghianat oleh Mega Sari.

Setelah selesai mandi, saat ia sedang mengenakan pakaiannya, tiba-tiba terdengar suara cuitan parau burung Sirit Uncuing yang menggema ke seantero tempat itu! Senopati Laksadi pun bersiap-siap, ia segera menggenggam hulu Keris pusakanya, matanya liar menatap kesekelilingnya dengan jantung berdegup kencang! Tetapi setelah beberapa saat suara cuitan parau burung Sirit Uncuing itu hilang, tapi Senopati Laksadi masih bersiaga menjaga segala kemungkinan dengan jantung berdegup kencang.

“Kakang” suara seorang wanita memanggil Sang Senopati tersebut, ia pun menoleh kebelakang, ternyata istrinya yang datang menyusulnya ke tepi Sungai Citarum tersebut, “Nyai? Kenapa menyusulku kemari?” tanya Senopati Laksadi yang keheranan karena tadi saat ia pergi istrinya masih terlelap dengan pulasnya, ia selalu pergi meninggalkan istrinya sebab istrinya selalu menolak untuk ikut kalau diajak, selain itu karena suasana pada saat seperti itu masih gelap gulita istrinya selalu merasa takut kalau diajak keluar ke tepi sungai yang terdapat di hutan seperti ini, alasan keselamatan istrinya juga mempunyai andil besar untuk Sang Senopati tidak mengajaknya kemari.

“Aku hanya kangen padamu Kakang, aku takut kalau sendirian di rumah!” jawab Sang Istri dengan manja.

“Takut? Bukankah di rumah kita banyak pembantu dan prajurit penjaga Nyai?” tanya Laksadi dengan keheranan yang teramat sangat. Istrinya tidak menjawab, ia hanya langsung memeluk suaminya. Laksadi merasakan keganjilan yang teramat sangat, apalagi ketika diingatnya tadi burung Sirit Uncuing yang selalu menjadi pertanda akan terjadi Rajapati di seantero Rajamandala ini bercuit parau dengan keras beberapa kali, dan sekarang ia mencium bau bangkai serta bau kemenyan bercampur kembang tujuh rupa yang keluar dari sekujur tubuh sitrinya!

Laksadi langsung berontak dan mendorong tubuh istrinya hingga istrinya terjajar mundur beberapa langkah kebelakang, “Siapa kamu?! Siluman?! Ayo tunjukan wujud aslimu!” bentak Laksadi menantang.

“Kakang? Kakang kenapa begitu kasar padaku?” tanya istrinya sambil menangis.

“Diam! Kau bukan istriku! Siluman ayo tunjukan wujud aslimu!” hardik Laksadi.

Istrinya terus menangis terisak, tapi sekonyong-konyong ia tertawa terbahak-bahak, dan sekujur tubuhnya perlahan menjadi kabur, perlahan berubah wujud menjadi Dharmadipa yang sekujur kulit tubuhnya pucat pasi seputih kapas serta sepasang mata merah semerah darah! Meskipun sudah siaga, Laksadi tetap terkejut setenagh mati juga melihat perubahan wujud istrinya menjadi Dharmadipa! “Dharmadipa!” serunya dengan mata melotot.

Laksadi langsung meraih hulu Keris Pusakanya di balik pinggangnya, tetapi Dharmadipa langsung mencengkram tangan kanannya dan memelintirnya sehingga Laksadi mengeluh kesakitan, sedangkan tangan kirinya ditekuk oleh tangan kiri Dharmadipa kebelakang kepalanya sehingga Laksadi tidak mampu begerak apalagi berontak! Kemudian... Krakkkk!!! “Aaaaa!!!” jerit Laksadi, Kedua tangannya patah oleh tenaga dahsyat dari mayat hidup Dharmadipa!

Sosok Dharmadipa menyeringai, ia lalu kembali merubah wujudnya menjadi sosok istri Laksadi. “Kakang! Kau kenapa? Ah kasihan kau nampak sangat kesakitan, sini biar aku peluk kamu!” ucap isrtinya, dia pun langsung memeluk Laksadi.

“Lepaskan! Lepaskan aku!” teriak Laksadi sambil meronta berontak dari pelukan istrinya, namun tenaganya seolah tersedot, semakin hebat ia meronta dengan tenaga dalamnya, semakin ia merasa tenaga luar dalamnya tersedot oleh istrinya, dan sekarang yang sangat berbahaya adalah semakin lama, pelukan istrinya semakin terasa panas memanaskan tubuhnya, semakin lama ia merasa kepanasan seolah tubuhnya dibakar api! Sekujur tubuhnya mengepulkan asap beserta bau sangit! Darah mengalir dari mata, hidung, telinga, dan mulutnya!

“Panas! Panas! Ampun! Tolong lepaskan aku Dharmadipa! Ampun! Lepaskan aku! Panas! Arrggghhhh!” jerit Laksadi yang memohon belas kasihan pada Dharmadipa yang mewujud menjadi istrinya tersebut.

“Oh kamu kepanasan Kakang? Kasihan, kalau begitu ayo kita meyejukan diri!” sahut istrinya dengan suara manja, Wusshhh! Sosok Istrinya kembali berubah menjadi mayat hidup Dharmadipa, ia lalu menggotong tubuh Laksadi dan membawanya terus ke tengah sungai yang dalam, dan ia menenggelamkan tubuh Laksadi yang terus berontak sampai senopati itu kehabisan nafas dan tak berkutik lagi untuk selamanya!

*****

Pagi harinya saat cahaya matahari mulai menerangi marcapada, Prabu Ragamulya Suryakencana memanggil empat orang perwira kepercayaannya yang disebut prajurit Kandaga Lante ke ruangan penyimpanan pusaka Keraton Pakuan Pajajaran, mereka adalah Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

“Kalian aku panggil kemari untuk melaksanakan satu tugas yang maha penting, satu tugas yang akan sangat menentukan keberlangsungan Negeri Pajajaran, yang sangat menentukan keberlangsungan warisan Trah Prabu Siliwangi kepada pewarisnya yang berhak! Karena saat ini Wahyu Keprabon telah terbang meninggalkan Negeri Pajajaran ini!” ucap Prabu Ragamulya Suryakencana dengan penuh tekanan.

Keempat prajurit Kandaga Lante itu hanya terdiam saling pandang dengan perasaan yang sangat terkejut. “Apakah maksud Gusti Prabu, Wahyu Keprabon itu telah terbang ke keraton Pajajaran yang baru di tanah kabuyutan Pandeglang sebagaimana yang direncanakan oleh Gusti Prabu?” tanya Jayaperkosa yang akhirnya memberanikan diri.

Prabu Ragamulya Suryakencana menggeleng lemas sambil tersenyum kecut “Tidak Embah, tapi wahyu keprabon itu terbang kearah Wetan!”

Kembali keempat Kandaga Lante tersebut terdiam dengan seribu tanya berkecamuk di benaknya, “Ketahuilah bahwa di antara keempat negeri pecahan Pajajaran yang semua rajanya merupakan keturunan Eyang Prabu Sri Baduga yakni Banten, Cirebon, Sumedanglarang, serta Mega Mendung, yang masih mempunyai hubungan baik dan tidak memusuhi kita hanya Sumedanglarang. Meskipun mereka telah memeluk kepercayaan baru yang bernama Islam, namun mereka masih menjungjung tinggi ajaran Prabu Siliwangi dan menghormati kita selaku negera leluhur mereka…” ungkap Sang Prabu.

“Nah, semalam Wahyu Keprabon dari singgasana Keraton Pakuan ini terbang ke arah wetan dan hinggap pada diri putra sulung Ratu Pucuk Umum dan Pangeran Santri yang bernama Pangeran Angkawijaya, dialah yang akan meneruskan kebesaran Eyang Prabu Siliwangi di masa mendatang!”

Prabu Ragamulya Suryakencana lalu menatap pusaka mahkota emas Binokasih yang merupakan simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu juga beberapa Senjata pusaka termasuk Keris Emas Prabu Siliwangi.

“Kalian berempat, bawalah semua pusaka ini ke Sumedanglarang, bawalah seratus prajurit pilihan untuk mengawal kalian, setelah sampai di Sumedanglarang, mengabdilah kalian pada Ratu Pucuk Umum dan Pangeran Santri selaku penguasa di sana, bujuklah mereka dengan iming-iming semua pusaka ini untuk membebaskan diri dari pengaruh Cirebon!”

Prabu Ragamulya Suryakencana berhenti sejenak untuk menahan gelora kesedihan didadanya, nafasnya terasa sesak, hatinya merasa sangat berat untuk mengatakan semua hal tersebut. Prabu Ragamulya Suryakencana lalu menghela nafas dalam sambil memandang keluar jendela. “Dan Ajaklah seluruh penduduk Pajaran yang telah memeluk agama Islam bersama kalian, ajak juga penduduk yang masih memegang kepercayaan lama mereka, karena... Karena sebentar lagi kota Pakuan ini akan Sirna Ilang Kertaning Bumi, bagi siapapun rakyat Pajajaran yang tidak bersedia untuk mengorbankan segalanya demi Negara, persilakan mereka ikut dengan kalian ke Sumedanglarang!” perintah Prabu Ragamulya Suryakencana dengan sangat berat hati.

“Daulat Gusti!” jawab keempat pemimpin Prajurit Kandaga Lante itu dengan berat hati pula.

Siang harinya Prabu Ragamulya Suryakencana mengumpulkan seluruh pejabat dan perwakilan rakyat dari segala golongan di alun-alun Pakuan, di sana ia berpidato : “Perjalanan kita hanya sampai disini hari ini, walaupun kalian semua setia padaku! Tapi aku tidak boleh membawa kalian dalam masalah ini, membuat kalian susah, ikut merasakan miskin dan lapar. Kalian boleh memilih untuk hidup kedepan nanti, agar besok lusa, kalian hidup senang kaya raya dan bisa mendirikan lagi Pajajaran! Bukan Pajajaran saat ini tapi Pajajaran yang baru yang berdiri oleh perjalanan waktu! Pilih! aku tidak akan melarang, sebab untukku, tidak pantas jadi raja yang rakyatnya lapar dan miskin.”

Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara! Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!

Dengarkan! Kalian yang di timur harus tahu: Kekuasaan akan turut dengan kalian! dan keturunan kalian nanti yang akan memerintah saudara kalian dan orang lain. Tapi kalian harus ingat, nanti mereka akan memerintah dengan semena-mena. Akan ada pembalasan untuk semua itu. Silahkan pergi!

Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kalian Ki Santang! Sebab nanti, keturunan kalian yang akan mengingatkan saudara kalian dan orang lain. Ke saudara sedaerah, ke saudara yang datang sependirian dan semua yang baik hatinya. Suatu saat nanti, apabila tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara minta tolong, nah itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan sampai berlebihan, sebab nanti telaga akan banjir! Silahkan pergi! Ingat! Jangan menoleh kebelakang!

Kalian yang di sebelah utara! Dengarkan! Kota takkan pernah kalian datangi, yang kalian temui hanya padang yang perlu diolah. Keturunan kalian, kebanyakan akan menjadi rakyat biasa. Adapun yang menjadi penguasa tetap tidak mempunyai kekuasaan. Suatu hari nanti akan kedatangan tamu, banyak tamu dari jauh, tapi tamu yang menyusahkan. Waspadalah!

Semua keturunan kalian akan aku kunjungi, tapi hanya pada waktu tertentu dan saat diperlukan. Aku akan datang lagi, menolong yang perlu, membantu yang susah, tapi hanya mereka yang bagus perangainya. Apabila aku datang takkan terlihat; apabila aku berbicara takkan terdengar. Memang aku akan datang tapi hanya untuk mereka yang baik hatinya, mereka yang mengerti dan satu tujuan, yang mengerti tentang harum sejati juga mempunyai jalan pikiran yang lurus dan bagus tingkah lakunya. Ketika aku datang, tidak berupa dan bersuara tapi memberi ciri dengan wewangian. Semenjak hari ini, Pajajaran hilang dari alam nyata. Hilang kotanya, hilang negaranya. Pajajaran tidak akan meninggalkan jejak, selain nama untuk mereka yang berusaha menelusuri. Sebab bukti yang ada akan banyak yang menolak! Tapi suatu saat akan ada yang mencoba, supaya yang hilang bisa diteemukan kembali. Bisa saja, hanya menelusurinya harus memakai dasar. Tapi yang menelusurinya banyak yang sok pintar dan sombong. dan bahkan berlebihan kalau bicara

Suatu saat nanti akan banyak hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak Gembala. Rumahnya di belakang sungai, pintunya setinggi batu, tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang. Apa yang dia gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.

Dengarkan! yang saat ini memusuhi kita, akan berkuasa hanya untuk sementara waktu. Tanahnya kering padahal di pinggir sungai Cibantaeun dijadikan kandang kerbau kosong. Nah di situlah, sebuah nagara akan pecah, pecah oleh kerbau bule, yang digembalakan oleh orang yang tinggi dan memerintah di pusat kota. semenjak itu, raja-raja dibelenggu. Kerbau bule memegang kendali, dan keturunan kita hanya jadi orang suruhan. Tapi kendali itu tak terasa sebab semuanya serba dipenuhi dan murah serta banyak pilihan.

Semenjak itu, pekerjaan dikuasai monyet. Suatu saat nanti keturunan kita akan ada yang sadar, tapi sadar seperti terbangun dari mimpi. Dari yang hilang dulu semakin banyak yang terbongkar. Tapi banyak yang tertukar sejarahnya, banyak yang dicuri bahkan dijual! Keturunan kita banyak yang tidak tahu, bahwa jaman sudah berganti! Pada saat itu geger di seluruh negara. Pintu dihancurkan oleh mereka para pemimpin, tapi pemimpin yang salah arah!

Yang memerintah bersembunyi, pusat kota kosong, kerbau bule kabur. Negara pecahan diserbu monyet! Keturunan kita enak tertawa, tapi tertawa yang terpotong, sebab ternyata, pasar habis oleh penyakit, sawah habis oleh penyakit, tempat padi habis oleh penyakit, kebun habis oleh penyakit, perempuan hamil oleh penyakit. Semuanya diserbu oleh penyakit. Keturunan kita takut oleh segala yang berbau penyakit. Semua alat digunakan untuk menyembuhkan penyakit sebab sudah semakin parah. Yang mengerjakannya masih bangsa sendiri. Banyak yang mati kelaparan. Semenjak itu keturunan kita banyak yang berharap bisa bercocok tanam sambil sok tahu membuka lahan. mereka tidak sadar bahwa jaman sudah berganti cerita lagi.

Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.

Lalu berdiri lagi penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Karena jelas keturunan penguasa, penguasa baru susah dianiaya! Semenjak itu berganti lagi jaman. Ganti jaman ganti cerita! Kapan? Tidak lama, setelah bulan muncul di siang hari, disusul oleh lewatnya komet yang terang benderang. Di bekas negara kita, berdiri lagi sebuah negara. Negara di dalam negara dan pemimpinnya bukan keturunan Pajajaran.

Lalu akan ada penguasa, tapi penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Memang penguasa buta! Bukan buta pemaksa, tetapi buta tidak melihat, segala penyakit dan penderitaan, penjahat juga pencuri menggerogoti rakyat yang sudah susah.  Sekalinya ada yang berani mengingatkan, yang diburu bukanlah penderitaan itu semua tetapi orang yang mengingatkannya. Semakin maju semakin banyak penguasa yang buta tuli. memerintah sambil menyembah berhala. Lalu anak-anak muda salah pergaulan, aturan hanya menjadi bahan omongan, karena yang membuatnya bukan orang yang mengerti aturan itu sendiri. Wajar saja bila kolam semuanya mengering, pertanian semuanya puso, bulir padi banyak yang diselewengkan, sebab yang berjanjinya banyak tukang bohong, semua diberangus janji-janji belaka, terlalu banyak orang pintar, tapi pintar kebelinger.

Pada saat itu datang pemuda berjanggut, datangnya memakai baju serba hitam sambil menyanding sarung tua. Membangunkan semua yang salah arah, mengingatkan pada yang lupa, tapi tidak dianggap. Karena pintar kebelinger, maunya menang sendiri. Mereka tidak sadar, langit sudah memerah, asap mengepul dari perapian. Alih-alih dianggap, pemuda berjanggut ditangkap dimasukan kepenjara. Lalu mereka mengacak-ngacak tanah orang lain, beralasan mencari musuh tapi sebenarnya mereka sengaja membuat permusuhan.

Waspadalah! sebab mereka nanti akan melarang untuk menceritakan Pajajaran. Sebab takut ketahuan, bahwa mereka yang jadi gara-gara selama ini. Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan. Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.

Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!

Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.

Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala. Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!”*. (*Dikutip dari Bagian Uga/Ramalan Siliwangi, menurut Hipotesa beberapa ahli Sejarah, Prabu Ragamulya Suryakencana adalah raja yang bergelar Prabu Siliwangi yang terakhir yang mengeluarkan Uga Siliwangi).

Riuhlah semua orang yang menangis dan mengomentari pidato Sang Prabu, mereka menangis sejadi-jadinya menginta bahwa Negara yang agung ini akan segera berakhir! Keributan mereka berhenti saat Bergemuruhnya suara angin ribut yang bertiup dari arah timur, langit sontak mendadak gelap, petir meledak bersahutan diiringi harum kembang melati yang tiba-tiba muncul entah darimana, sayup-sayup terdengar suara musik gamelan yang menyayat hati bagi siapa saja mendengarnya, keraton pakuan Pajajaran yang megah itu kehilangan auranya bagi siapapun yang memandanginya, tak ubahnya hanya merupakan bangunan megah yang kosong tak mampu menggetarkan hati yang melihatnya.

Dikalangan rakyat, pejabat dan prajurit sendiri terjadi perpecahan, ada yang ingin ikut dengan para prajurit Kandaga Lante ke timur ke arah Sumedanglarang, ada yang keluar menuju ke arah utara, ada yang memutuskan untuk pergi ke barat menyepi menuju daerah Banten Girang yang kemudian nantinya dikenal dengan sebutan “Kaum Badui”, ada yang akan pergi ke selatan ikut Sang Prabu untuk menempati kota tempat tinggal mereka yang baru di tanah Kabuyutan yang bernama Pandeglang, tetapi ada juga yang memutuskan untuk tetap tinggal di Kota Pakuan Pajajaran terutama para menak, prajurit, serta pejabat Keraton, mereka memutuskan untuk mempertahankan Kota dan Keraton Pakuan yang didirikan oleh Sri Baduga Maharaja ini habis-habisan sampai titik darah penghabisan!