Episode 75 - Bara Dendam



Selesai Shalat Isya di Masjid Agung Banten, Jaya Laksana langsung menaiki kudanya untuk pulang ke rumahnya, sepanjang perjalanan pulang ia merasa ada tiga orang yang mengikutinya, Jaya lalu teringat pada bagaimana cara kedua putra Juragan Kertajaya menatap dirinya, tatapan yang dipenuhi manusia yang haus darah karena hatinya telah dipenuhi oleh bara api dendam!

Jaya tampaknya memahami niat kedua adik Angsoka tersebut, ia juga mengira kalau yang seorang lagi mungkin adalah jago bayaran yang disewa mereka untuk membantu membalas dendam pada dirinya. Sengaja ia membuka diri agar mereka bertiga menjajal kesaktian dirinya, sengaja pula ia perintahkan Indra Paksi serta para prajurit penjaga rumahnya agar membiarkan masuknya ketiga orang dengan ciri-ciri yang ia sebutkan, katanya. “Kalau kedua anak laki-laki Juragan Kertajaya bersama seorang jago bayarannya datang kemari, berpura-puralah kalian tidak melihatnya ketika ia memasuki gerbang rumah ini, biarkan ia memuaskan keinginannya untuk menjajalku!”

Indra Paksi mengangguk-ngangguk, mengaminkan perintah Tumenggung Jaya Laksana. Ia sangat percaya bahwa si Pendekar Dari Lembah Akhirat yang namanya begitu menggegerkan dunia persilatan tersebut akan mampu menyelesaikan “penjajalan” itu dengan baik, mengingat dengan mata kepalanya sendiri berulang kali ia telah melihat kesaktian dan kedigdayaan komandannya itu.

Didalam kamarnya ia juga berpesan pada istrinya. “Dinda... sebentar lagi kita akan kedatangan tiga orang tamu, aku minta kau membiarkannya saja memasuki kamar kita, kita biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka inginkan.” 

Galuh menatap suaminya keheranan. “Apa maksud Kakang? Siapa yang akan datang?”

“Kedua adik kembar Angsoka dan mungkin bersama seorang jago bayarannya, akan datang malam ini untuk membalas dendam.” jawab Jaya.

“Tapi aku tidak mengerti mengapa Kakang akan membiarkan mereka dan malah memintaku untuk berpura-pura tidak tahu?” tanya Galuh penasaran.

“Untuk menghabiskan rasa penasaran mereka, aku akan biarkan mereka membokongku malam ini, sebab kalau aku meladeni mereka, mereka akan terus penasaran dan pusaran dendam ini akan terus berlanjut, maka aku minta kamu untuk membiarkan mereka dan berpura-pura tidur saja, percayalah aku tidak akan kenapa-kenapa!” Meskipun tidak mengerti dengan permintaan suaminya, Galuh pun menurut saja.

Dengan mengendap-endap tanpa suara, Ki Ranadikarta bersama Subali dan Subala mendekati gerbang rumah Tumenggung Jaya Laksana. Di tempat yang gelap, Ki Ranadikarta duduk bersila sambil besedekap, menutup matanya kemudian memusatkan pikiran sambil mulutnya komat-kamit membaca mantera, memanggil “Aji Sirep Lintang Kemukus” yang ia pelajari dari seorang sakti dari wilayah Jawi Wetan atau tepatnya dari seorang pertapa di Gunung Lawu. Ajian Sirep Lintang Kemukus sangat ampuh untuk menidurkan segala jenis mahluk hidup, ajian ini merupakan ajian yang paling hebat dari segala ajian ilmu sirep yang ada waktu itu. Sekonyong-konyong rumah Jaya dipenuhi oleh kabut dingin yang sangat tipis, semua orang yang berada disekitar rumah Jaya pun langsung roboh tertidur pulas, bahkan Indra Paksi sang Lurah Tantama yang begitu ternama ilmu kesaktiannya tiada sanggup untuk menolak ajian sirep tersebut!

Setelah melihat semua pasukan penjaga rumah Jaya roboh, Ki Ranadikarta bersama Subali dan Subala pun segera begerak gesit memasuki halaman rumah Jaya, mereka terus bergerak penuh kewaspadaan dan kehati-hatian melewati pintu rumah yang penjaganya tertidur semua. Mereka lalu melangkah menuju ke pintu kamar utama yang merupakan kamar tidur Jaya dan Galuh, Ki Ranadikarta bersidekap sambil memejamkan matanya, pintu kamar Jaya yang dikunci dari dalam tiba-tiba terbuka dengan sendirinya seolah dibuka dari dalam!

Ki Ranadikarta segera menghunus keris pusaka Kyai Gupita yang memancarkan cahaya hijau terang setelah berhasil memasuki kamar Jaya. Mereka bertiga hampir bersorak kegirangan ketika melihat Jaya tengah tertidur pulas dengan berselimut sembari memeluk istrinya. Ki Ranadikarta bserta Subali dan Subala menelan ludahnya, jantung mereka berdegup amat kencang ketika melihat istri Sang Tumenggung yang tertidur pulas dengan dipeluk oleh suaminya itu hanya mengenakan kemben yang sangat tipis dan nyaris memperlihatkan bagian tubuhnya yang paling pribadi! 

Tetapi Ki Ranadikarta segera mengenyahkan pikiran kotor yang menghampiri kepalanya, ia segera memberi isyarat pada Subali dan Subala agar kembali bersiaga, ia khawatir kalau pemandangan yang membuat jantungnya berdebar dan membakar gelora kelelakiannya itu merupakan jebakan dari sasaran mereka. Orang kepercayaan Prabu Bogaseta itu buru-buru bersidekap dan membaca mantera ilmu sirep Lintang Kemukusnya lagi, untuk memastikan Jaya Laksana dan istrinya tertidur pulas.

Setelah ia yakin Jaya dan istrinya memang sedang tertidur pulas, kembali ia dan kedua kawannya bergerak. Dengan sangat perlahan dan tanpa menimbulkan suara, mereka mendekati Jaya, tak menunggu waktu lama, Ki Ranadikarta segera menusukan keris pusakanya tepat ke dada Pendekar Dari Lembah Akhirat sekuat tenaganya! Sinar hijau menggidikan berkiblat! Hawa dingin dingin menghampar!

Tersentak Ki Ranadikarta saat merasakan tusukan kerisnya bagai membentur besi yang amat keras. Tangannya hingga bergetar hebat dan Jaya Laksana sama sekali tak terpengaruh dengan serangan tiba-tiba itu, jangankan kulitnya terluka lecet sedikitpun, malah bajunya dan selimutnya tidak robek sedikitpun oleh keris pusaka yang sangat dibanggakan oleh Ki Ranadikarta tersebut. Jaya tampak masih terlelap dengan nikmatnya.

Dengan penuh rasa penasaran, Ki Ranadikarta meneruskan serangannya, belasan kali ia menusuk-nusukan keris pusakanya ke segala bagian tubuh Jaya untuk mencari kelemahannnya, namun usahanya kerasnya tetap tak berhasil melukai cucu Prabu Siliwangi itu. Berbagai bagian tubuh Jaya sudah coba ia tusuk, dari mata, hidung, sampai telinga termasuk bagian “Kelelakian” Jaya yang nampak besar menonjol dengan keras dari balik celananya, tapi semua usahanya nihil, bahkan ia merasakan ada satu tenaga maha dahsyat yang mendorongnya setiap ia menusukan kerisnya. Ki Ranadikarta seperti kehabisan akal untuk melukai Jaya, Subali dan Subala pun hanya bisa termangu melihat kesaktian Jaya yang seluruh tubuhnya kebal sangat atos tak mempan ditusuk keris bertuah milik Ki Ranadikarta.

Jaya tetap enak-enakan tidur dengan lelapnya sambil memeluk istrinya, Ki Ranadikarta semakin penasaran. Ia pun mendapat akal busuk, ia menusukan kerisnya pada Galuh yang juga terlelap sembari dipeluk oleh Jaya! Namun sama seperti ketika ia menusuk Jaya, keris pusakanya tak mampu melukai atau bahkan menggores sedikitpun kain kemben Galuh! 

Frustrasi, Ki Ranadikarta terus-menerus menusuk dan menghujamkan keris pusakanya dengan penuh nafsu pada Galuh hingga terkuras habis tenaganya, jatuh terduduk ia pada akhirnya, dan ia terperanjat ketika mendapati ujung keris pemberian Prabu Arya Bogaseta itu bengkok dan rusak laksana telah digunakannya untuk menusuk Baja! Rupanya Jaya sengaja memeluk tubuh istrinya untuk menyalurkan ajian “Bajra Panjara” agar tubuh istrinya sama-sama menjadi kebal seatos baja seperti tubuh dirinya.

Melelehlah nyali ketiga orang penyerang gelap ini, mereka lanngsung berlari keluar dari kamarnya Jaya, tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika mendapati Jaya sedang duduk bersantap di meja makannya, mereka semakin terkejut ketika melihat Jaya yang lain sedang duduk santai disudut ruangan, di bagian ruangan itu, sosok Jaya Laksana yang lainnya sedang menatap keluar jendela, dan terakhir sosok Jaya sedang berdiri di lawang pintu keluar menatap mereka!

Bukan main terkejutnya mereka melihat ada empat sosok Jaya Laksana didalam ruangan tengah rumah itu, apalagi ketika mereka menoleh kebelakang kekamar tidur Jaya, sosok Jaya yang tadi mereka serang masih tidur terlelap di sana, berarti ada lima sosok Jaya Laksana yang mereka lihat dirumah ini! Mata mereka melotot melihat kelima sosok Jaya Laksana yang ada dihadapan mata mereka, mulut mereka menganga, nyali mereka semakin menciut, bulu kuduk mereka merinding, lutut mereka bergetar hebat!

Rasa kaget segera berubah menjadi rasa takut bagi ketiga orang itu, mereka langsung berlari ke arah dapur untuk melarikan diri lewat pintu belakang, tapi lagi-lagi mereka dibuat terkejut ketika melihat sosok Jaya sedang mengambil air minum di dapurnya. Tanpa mempedulikannya, mereka berlari ke halaman belakang, lagi-lagi mereka dibuat terkejut karena melihat Jaya sedang menengok kandang kudanya yang ada di halaman belakang rumahnya itu. 

Bagaikan orang gila, ketiga orang itu langsung melompati tembok belakang rumah Jaya yang tinggi itu, begitu kakinya mendarat, mereka langsung memasang langkah seribu meninggalkan rumah Jaya! “Gila! Ilmu apa yang dimiliki orang itu?! Sudah tubuhnya kebal, sekarang ia muncul bagaikan setan yang bisa menggandakan tubuhnya!” rutuk Subali.

“Benar-benar gila! Aku tak menyangka ia bisa sesakti itu!” sahut Subala.

“Sudahlah yang penting sekarang kita lari menyelamatkan diri dulu, nanti kita akan pikirkan untuk menyusun langkah selanjutnya!” tukas Ki Ranadikarta.

Ketika sampai di tegalan beberapa puluh tumbak belakang rumah Jaya, sekonyong-konyong terdengarlah suara auman harimau yang menggetarkan bumi yang mereka pijak! Kabut malam segera menebal berbarengan dengan suara auman harimau itu, angin dingin bertiup kencang menebarkan aroma kembang tujuh rupa! Mereka pun menghentikan larinya dan celingukan melihat kesekelilingnya. “Harimau?” tanya Subala.

“Bodoh! Jangan sebut namanya! Dia bisa muncul kalau kau sebut namanya!” tukas Subali, tapi baru saja mereka menutup mulutnya, si “Mbah” itu sudah berjalan menghampiri mereka dengan tatapan buasnya!

Subali dan Subala langsung ketakutan setengah mati, sementara Ki Ranadikarta sebagai orang yang lebih berpengalaman mencoba untuk tetap tenang. Tumenggung dari Mega Mendung ini langsung mengamati harimau dihadapannya yang menghampiri mereka bertiga, harimau ini belang ini memacarkan cahaya emas dari sekujur tubuhnya, matanya hijau menyala menatap mereka bertiga, Ki Ranadikarta pun langsung berkesimpulan bahwa harimau ini bukanlah harimau biasa alias maung kajajaden! (Maung Kajajaden = Harimau Jadi-jadian).

Harimau itu melangkah perlahan sambil terus mengamati ketiga orang yang ada dihadapannya, Ki Ranadikarta yang tahu gelagat bahwa harimau jadi-jadian ini berniat mencelakai mereka bertiga segera mengambil ancang-ancang untuk menyerang harimau itu, namun rupanya hewan buas itu sudah maklum akan niat Ki Ranadikarta, ia pun mendahului Ki Ranadikarta dengan menerkam pria paruh baya itu sambil mengaum dahsyat! 

Ki Ranadikarta segera melompat ke samping lalu jungkir balik untuk menjauhi harimau itu sambil menghunus Keris Pusaka Kyai Gupita yang ujungnya telah rusak itu karena tidak sanggup menembus tubuh Jaya. Si Harimau itu menyeringai pada Ki Ranadikarta, tiba-tiba harimau itu berubah menjadi sesosok pria bertubuh tinggi kekar mengenakan pakaian seorang perwira angkatan perang yang tampangnya sangat gagah! Ki Ranadikarta amat terkejut melihat perubahan harimau tersebut, sementara Subali Dan Subala hampir pingsan ketakutan melihat hal tersebut, mereka pun saling berpelukan sampai ngompol bersama!

“Siapa kamu?!” hardik Ki Ranadikarta.

Si perwira gagah itu menyeringai dingin sambil menatap Ki Ranadikarta. “Aku penguasa tegalan ini! Kalian telah berbuat tidak genah di wilayah kekuasaanku” jawabnya sekenanya.

Ki Ranadikarta melotot dengan mengacungkan kerisnya ke muka. “Pergi dari hadapanku! Jangan kau pikir aku takut pada demit! Cepat! Atau kuusir kau dengan pusakaku!”

Si Perwira tertawa sinis mendapati ancaman Tumenggung Ranadikarta. “Kau mau mengusirku dengan keris buntungmu itu? Hahaha… Aku juga tidak takut mantera, karena akulah sang pembuat mantera!”

“Kurang ajar! Kau belum kenal Ki Ranadikarta alias si Elang dari Karang Layung rupanya!” gertak Ki Ranadikarta.

“Ah sudah! Kau hanya seorang pengecut yang berlagak jadi jagoan! Kesatria busuk yang beraninya membokong orang yang sedang tidur!” ejek si Perwira yang tak lain adalah Panglima Gandawijaya, salah seorang senopati pasukan Ghaib Prabu Siliwangi yang bertugas untuk melindungi Jaya Laksana.

“Kurang ajar! Aku bukan pengecut! Aku hanya ingin tahu seberapa saktinya Pendekar Dari Lembah Akhirat yang di agung-agungkan orang itu!” marah Ki Ranadikarta.

“Ternyata sakti kan? Lalu kau takut dan melarikan diri, watak apa itu?” ejek Panglima Gandawijaya dengan nada bicara dan raut muka mengejek Ki Ranadikarta.

Murkalah Ki Ranadikarta, dengan keris Kyai Gupita yang telah buntung itu, menerjanglah ia pada Panglima Gandawijaya, rupanya keris Kyai Gupita masih memiliki tuah meskipun sudah rusak, cahaya hijau menggidikan berkiblat dari keris buntung itu meskipun sudah agak redup, tidak sesangar sewaktu masih utuh tadi, yang diserang malah menyeringai mengejek, ia tidak berusaha menghindar ke mana-mana.

Wushh! Keris ditangan Ki Ranadikarta bagaikan menembus gumpalan asap ketika menembus tubuh Panglima Gandawijaya, dengan penuh rasa penasaran, ia mencecar membabat tubuh Sang Panglima, tapi bagian manapun yang serang, semuanya bagaikan menyerang gumpalan asap saja, Ki Ranadikarta hanya menyerang bayang-bayang hampa yang kosong tiada berisi!

“Curang! Dasar siluman pengecut!” maki Ki Ranadikarta karena semua serangannya tidak berarti apa-apa pada Panglima Gandawijaya.

Sang Panglima tertawa dingin lalu berkata. “Baiklah Ki Ranadikarta, aku akan meraga pada wujud kasar untuk bermain-main denganmu!” Wushhh! Tubuh Panglima Gandawijaya langsung berubah menjadi wujud seorang kakek tua manusia biasa berpakaian ala rakyat biasa yang tubuhnya dapat disentuh oleh manusia biasa. Ia mematahkan sebuah ranting pohon, ranting itu lalu berubah menjadi sebuah Keris emas yang memancarkan cahaya emas yang amat menggidikan!

Ki Ranadikarta terkejut melihat si manusia siluman dihadapannya itu mampu membuat sebuah senjata pusaka hanya dari ranting pohon! Tapi karena sudah kepalang tanggung dan tidak mungkin melarikan diri, Ki Ranadikarta pun menerjang dengan keris Kyai Gupita mengeluarkan semua ajian kesaktian yang ia miliki, angin deras menyambar kian kemari yang keluar dari setipa gerakannya, tapi Panglima Gandawijaya meladeninya dengan sangat tenang, bahkan ia nampak tidak serius meladeni Ki Ranadikarta, beberapa kali ia menyunggingkan senyum mengejek karena serangan Ki Ranadikarta tak pernah membuahkan hasil apa-apa!

“Keris pemberian Prabu Mega Mendung itu tidak berarti apa-apa Ki Ranadikarta! Sekarang lihat Keris ranting pohonku!” ejek Panglima Gandawijaya, Straangggg!!! Keris Emas yang terbuat dari ranting pohon itu beradu dengan keris Kyai Gupita di tangan Ki Ranadikarta, dan bertapa terkejutnya Ki Ranadikarta ketika melihat kerisnya telah patah menjadi tiga bagian oleh Keris Emas yang terbuat dari ranting pohon itu!

“Bangsat siluman haram jadah!” maki Ki Ranadikarta, ia segera menghunus senajatanya yang lain berupa pisau belati yang memacarkan cahaya putih. 

Panglima Gandawijaya hanya tertawa terbahak melihat kemurkaan Ki Ranadikarta, tubuhnya berubah lagi menjadi wujud aslinya yang berpakaian seorang perwira pasukan bertampang gagah seperti semula. “Kau mau apalagi Ki Ranadikarta? Apakah kau tidak mau menyerahkan dirimu pada tuanku Kanjeng Tumenggung Jaya Laksana?”

“Hanya dalam mimpimu aku menyerah siluman busuk! Hiaattt” bentak Ki Ranadikarta seraya menerjang kemuka kirimkan satu tusukan dahsyat! Crasshhh! Kali ini pisau belati di tangan Ki Ranadikarta berhasil menusuk leher Panglima Gandawijaya! Dengan pisau yang masih mencancap di leher lawan, Sang Tumenggung kerahkan seluruh tenaga dalamnya dan membaca mantera ajiannya untuk membeset leher lawannya dan... Crasshhh! Kepala Panglima Gandawijaya terpisah dari tubuhnya!

“Mampus kau siluman busuk!” rutuk Ki Ranadikarta.

“Kenapa terburu-buru Ki? Aku masih hidup Ki Ranadikarta! Ayo kita teruskan permainan kita! Hahaha!” tawa kepala Panglima Gandawijaya yang telah terpisah dari tubuhnya, kepalanya lalu melayang-layang, dan yang paling mengerikan adalah ketika Sang Panglima mencopoti bagian tubuhnya satu persatu! Seluruh bagian Tubuh Panglima Gandawijaya lalu terbang kian kemari mencecar Ki Ranadikarta!

Ki Ranadikarta jadi sibuk membabatkan pisau belati pusakanya kian kemari, tapi semua serangannya pada bagian-bagian tubuh Panglima Gandawijaya seolah mengenai angin! Sementara yang diserang hanya tertawa terbahak-bahak yang suaranya menggema dan menggetarkan keseantero sekitarnya!

“Cukup! Kita sudahi saja permainan ini! Ucapkan selamat tinggal pada kehidupan ini Ki Ranadikarta!” pungkas Panglima Gandawijaya! Sekonyong-konyong seluruh bagian Panglima Gandawijaya menyatu kembali, Sang Panglima mengarahkan tangan kanannya kemuka kearah Ki Ranadikarta, dari telapak tangannya keluarlah sebuah rantai besi besar berwarna emas, rantai itu menerjang kemudian membelit tubuh tubuh Ki Ranadikarta, Pejabat asal Mega Mendung itu berteriak melangit ketika rantai ghaib itu semakin ketat membelit tubuhnya, dan... Kreekkkk!!! Seluruh tulang di tubuh Ki Ranadikarta pun hancur dibelit Rantai Emas Ghaib itu, melayanglah nyawanya seketika itu juga!

Tinggalah Subali dan Subala yang ketakutan melihat Panglima Gandawijaya yang berjalan menghampiri mereka, tapi saat itu juga Jaya tiba ke tempat itu menghampiri mereka bertiga, melihat kedatangan Jaya, Subali dan Subala segera berlutut merangkul kaki Jaya sambil memohon maaf dan memohon ampun, sementara Panglima Gandawijaya menjura hormat pada Jaya. Jaya merasa geli hatinya ketika mencium bau pesing dan melihat celana kedua saudara kembar itu basah. Kemudian ia membiarkan kedua kakak beradik kembar itu berlaku seperti itu seperti tak terjadi sesuatu padanya, dengan tenang ia berujar “Jadi, bagaimana mau kalian Subali dan Subala?”

Subali dan Subala menyembah, merintih-rintih hingga memohon ampun. Dijelaskannya tujuan tindakan mereka untuk membalaskan dendam kematian Kakak sulungnya, “Lalu?” tanya Jaya.

“Setelah kami mengehtahui kesaktian Kanjeng Tumenggung, kami menjadi yakin bahwa kami tidak pantas untuk membalaskan dendam kami…” jawab Subali dengan gugup.

Jaya menghela nafas sambil menatap mereka berdua. “Subali dan Subala, ketahuilah seharusnya kalian menghentikan niat kalian untuk membalas dendam bukan karena takut akan kesaktianku, tetapi takut kepada Gusti Allah! Gusti Allah akan melaknat siapa saja yang memelihara benih bara dendam dan kebencian di hatinya apalagi sampai melaksanakan niatnya itu dengan segala cara, niscaya orang tersebut akan terkena bilahi di dunia maupun di akhirat! Paham?!”

“Kami berdua paham Kanjeng Tumenggung, kami berjanji akan memperbaiki akhlak kami!” janji Subala.

“Bagus! Sekali lagi aku jelaskan pada kalian bahwa dalam hal ini Alamarhumah Kakak kalian memang telah melakukan satu kesalahan besar, puluhan nyawa telah melayang akibat perbuatannya, dan aku sudah berusaha semampuku agar dia menyerahkan dirinya, tetapi ia malah membokongku. Terpaksa aku membela diri yang berakibat pada kematiannya, ia tewas oleh racunnya sendiri yang ia dapat dari Bun Pek Cuan! Tapi itu sudah berlalu, sekarang yang terpenting bagi kalian adalah mendoakan alamrhumah agar dosa-dosanya diampuni dan diterima disisiNYa, serta memohon maaf pada keluarga semua korban atas kesalahan Almarhumah!” tutur Jaya.

“Sekarang kami berdua paham, pikiran dan hati kami kini menjadi terang... Kami mohon ampun Kanjeng Tumenggung, dan kami akan melakukan apa yang Kanjeng sarankan!” janji Subala sambil menyembah-nyembah.

“Apakah aku dapat memegang janji kalian?” tanya Jaya.

Tegas menjawab Subali. “Demi Gusti Allah! Kami akan melakukan apa yang Kanjeng sarankan! Kami juga tidak akan pernah melakukan perbuatan sepengecut ini lagi pada siapapun! Dan izinkan kami berdua berada di barisan terdepan pembela Kanjeng, apabila Kanjeng mengalami kesulitan!”

Jaya mengangguk sambil tersenyum. “Baiklah, kalian kumaafkan, kita akan lihat janji lelaki bernama Subali dan Subala putra dari Juragan Kertajaya dapat dipercaya atau tidak!” Subali dan Subala pun menyembah sekali lagi untuk mengucapkan terima kasihnya, kemudian Jaya menyuruh mereka pulang dan mengatakan semua yang terjadi dengan jujur pada Juragan Kertajaya dan istrinya.

Setelah Subali dan Subala pergi, Jaya menghampiri mayat Ki Ranadikarta. “Paman Tumenggung Ranadikarta?” ucap Jaya yang mengenali pejabat asal Mega Mendung ini.

“Betul Raden, hamba memohon maaf karena mendahului kehendak Raden, tetapi hamba terpaksa membunuhnya karena ia diperintah membunuh Raden oleh Prabu Arya Bogaseta, raja Mega Mendung!”

“Begitu? Aku tak menyangka Paman Bogaseta sampai menyuruh seseorang untuk membunuhku karena masalah tahta dan keris Kyai Segara Geni, sungguh keterlaluan!” ungkap Jaya yang sangat membenci perbuatan licik, khianat, dan pengecut seperti yang dilakukan oleh pamannya tersebut.

“Panglima Gandawijaya, bawa mayat Ki Ranadikarta beserta seluruh patahan keris Pusaka Kyai Gupita kedepan pintu kamar Prabu Arya Bogaseta, saya ingin dia melihat mayat utusannya dan senjata pusakanya yang hancur malam ini juga!” perintah Jaya Laksana.

“Daulat Raden!” jawab Panglima Gandawijaya, ia pun langsung menggotong mayat Ki Ranadikarta dan seluruh patahan keris pusaka Kyai Gupita kemudian terbang, menuju ke depan pintu kamar Prabu Bogaseta di Keraton Mega Mendung!