Episode 300 - Tempuling Berserakan



Bila mengacu kepada skema unsur kesaktian api, maka urut-urutan tingkat panas api adalah: kuning, jingga, merah, biru, putih dan hitam. Ahli Kasta Perunggu merapal api kuning, pada Kasta Perak dapat menghasilkan api jingga kemudian merah, selanjutnya bagi Kasta Emas api biru. Api putih jarang ditemukan, sedangkan api hitam hanyalah legenda belaka. Skema yang sedemikian ini sudah sangat dikenal luas di kalangan ahli di seantero Negeri Dua Samudera. 

Sebagamana diketahui, api adalah unsur kesaktian yang paling banyak dipelajari dan dikembangkan. Istana Danau Api di Pulau Barisan Barat, keluarga besar Canting Emas di Perguruan Gunung, serta berbagai kerajaan atau lembaga lain pun secara khusus mengembangkan jurus-jurus untuk unsur kesaktian ini. Entah apa alasannya sampai demikian banyak ahli di Negeri Dua Samudera yang menggandrungi unsur kesaktian ini. Kemungkinan besar karena kemampuan ledakan dan membakarnya api yang dianggap sebagai unsur kesaktian paling sangkul dan mangkus. 

Di lain sisi, Bintang Tenggara yakin dan percaya bahwa banyaknya pengguna unsur kesaktian api adalah yang menjadi penyebab mengapa segenap ahli gampang panas dan naik darah. Bersumbu pendek, adalah istilah yang lazim diberikan kepada mereka yang gampang marah, seperti Canting Emas, misalnya. 

Berbeda dengan skema unsur kesaktian api yang digemari, unsur kesaktian petir jarang dikembangkan. Tak banyak yang mendalami unsur kesaktian ini, sehingga pemahaman masih cukup terbatas adanya. Oleh karena itu pula, tiada diketahui pasti apakah skema sengatan petir memiliki urutan yang sama dengan panas api. Nanti ditanyakan kepada Maha Guru Keempat di Perguruan Gunung Agung, batin Bintang Tenggara saat pertama kali berlatih kemampuan Roh Nyaru Menteng. 

Panggung Pertarungan yang mana merupakan lembar-lembar daun raksasa terlihat semarak. Pertarungan berlangsung sengit. Saling dorong dan saling hantam. Kelompok Canting Emas, Panglima Segantang dan Aji Pamungkas tampil mencolok. Walau tak mudah, mereka berhasil mengungguli lawan dan tampil sebagai pemenang. Sebagai catatan, kelompok yang tadinya menampung Kum Kecho, setelah ditinggal begitu saja terpaksa menelan pil pahit kekalahan di tangan kelompok Canting Emas. 

Walhasil, dari delapan, kini sudah tersisa empat kelompok sahaja. Masing-masing kelompok beranggotakan sepuluh ahli, sehingga jumlah keseluruhan remaja yang tersisa adalah empat puluh. Mereka menunggu perintah yang akan diberikan selanjutnya...

Lembar-lembar daun raksasa yang tadinya menempel, kembali bergerak lagi. Bukan mendekat, tumpang tindih dan menempel, melainkan kini dedaunan berpencar. Di kala itu terjadi, Bintang Tenggara merasakan semacam tarikan tak kasat mata terhadap tubuhnya. 

“Swush!” 

Secara acak, sepasang remaja muncul di atas selembar daun raksasa. Bintang Tenggara menatap lurus ke hadapan. Seorang remaja dayak yang mengenakan ikat kepala sudah terlihat menanti. Ia berasal dari kelompok yang sama dengan Aji Pamungkas. Yang paling utama, Bintang Tenggara mengenal remaja tersebut sebagai tokoh yang tempo hari menangkap Si Kancil di hutan. Tokoh yang juga mempecundangi dirinya dengan mudah.

Bintang Tenggara menyunggingkan senyum. Sebentuk senyuman itu seolah menyatakan bahwa, ‘saat itu engkau dengan mudah mengalahkan aku. Hm... tidak kali ini. Karena kali ini aku memiliki Roh Nyaru Menteng nan perkasa! 

Menganggap enteng lawan, Bintang Tenggara kemudian melontar pandang ke wilayah sekeliling. Ia mengamati daun-daun raksasa yang lain. Pada setiap permukaan dua puluh daun, sepasang remaja juga terlihat saling hadap-hadapan. Tak perlu berlama-lama merenungi, karena babak ini adalah pertarungan satu lawan satu. Tanpa perintah apa pun, setiap pasang remaja mengetahui apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Suasana di setiap lembar daun raksasa memanas...

“Duar!” 

Dari daun di mana Canting Emas berada, sebuah ledakan membahana. Tak diragukan lagi bahwa gadis belia tersebut sudah membuka serangan. Kemungkinan besar lawan melontarkan kata-kata yang menyinggung, atau mungkin sekedar berlagak menyebalkan bagi Canting Emas. Suaranya ledakan bergema dan meluas ke seluruh wilayah pohon. Seolah berperan sebagai aba-aba, ledakan tersebut menjadi pemicu pertarungan antar para remaja di permukaan daun-daun yang lain! 

“Swush!” 

Bintang Tenggara sigap melompat ke samping. Tiada dinyana, lawan membuka serangan terlebih dahulu. Gerakan tangan kosongnya nan lincah dan gesit. Melompat ke kiri dan ke kanan, sulit membaca pola serangannya. Jurus persilatan ini didasarkan pada perilaku binatang bangkui, yaitu sejenis beruk yang berekor pendek, dengan dada yang tebal dan bulu berwarna cokelat kemerahan.

Di kala tradisi kayau masih dipraktekkan di Pulau Belantara Pusat sebagai kegiatan inisiasi kedewasaan, setiap pemuda dayak wajib menguasai jurus persilatan sebagai bekal untuk merantau, mempertahanan diri, atau berperang. Jurus persilatan tersebut secara khusus diwariskan secara turun temurun. Ada yang memperoleh ajaran melalui garis keluarga, ada pula yang belajar dari guru silat.

Bintang Tenggara memiliki pengetahuan yang sangat terbatas perihal jurus ini. Karena keterbatasan waktu, selama berada di pemukiman Dayak Kaki Merah, anak remaja itu lebih banyak menekankan pada latihan pemanggilan Roh Nyaru Menteng dan mengerahkan kemampuan sang roh kepada unsur kesaktian. Oleh karena itu, Bintang Tenggara tiada memperoleh kesempatan berlatih gerakan-gerakan di dalam jurus persilatan Kuntau Bangkui. 

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana! 

Menanggapi kelincahan gerak lawan yang melompat ke kiri dan ke kanan, jalinan petir berderak di kedua kaki Bintang Tenggara. Kilatan petir bercahaya seperti biasanya, karena Bintang Tenggara tiada meningkatkan unsur kesaktian petir dengan memanfaatkan kemampuan Rajah Roh Nyaru Menteng.  

Bukan tak hendak, melainkan belum memungkinkan. Untuk mengubah sifat unsur kesaktian petir, diperlukan penyelarasan mata hati dengan Roh Nyaru Menteng. Bukan perkara mudah, namun karena sempat berlatih merapal formasi segel bersama-sama di dalam regu saat mengenyam pendidikan di Perguruan Svarnadwipa, Bintang Tenggara sedikit dapat menghemat waktu. Setelah itu, kemampuan Rajah Roh Nyaru Menteng dapat diimbuhkan untuk meningkatkan daya sengat unsur kesaktian petir. Barulah kemudian ia dapat mengerahkan ke dalam bentuk jurus kesaktian. 

Nah, pengerahan unsur kesaktian ke dalam bentuk jurus pun terbukti cukup rumit. Bentuk pertama dari salah satu Sapta Nirwana Perguruan Gunung Agung adalah membungkus kaki dengan jalinan petir, sementara bentuk kedua adalah membungkus lengan. Bilamana Rajah Roh dikerahkan bersamaan dengan jurus Asana Vajra, maka Sisik Raja Naga pun tiada dapat meredam daya sengat halilintar hitam. Walhasil, Bintang Tenggara akan menderita sengatan balik jurus seketika itu jua. 

Beruntung bagi anak remaja tersebut karena ia menguasai Jurus Guntur Menggelegar. Jurus ini menjadi pilihan yang paling tepat untuk sementara ini karena kesederhanaannya, serta karena ia dilesatkan keluar dari bagian tubuh. Walau tetap menimbukan sengatan balik, namun masih tersedia waktu yang lebih dari cukup untuk jurus tersebut menyengat lawan terlebih dahulu.

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang! 

Meski telah merapal jurus kesaktian yang mengandalkan kecepatan, Bintang Tenggara masih saja tertinggal. Serangan-serangan lawan datang dengan cepat dan jitu. Beberapa kali anak remaja itu terdorong mundur. Oleh karena itu, Bintang Tenggara menyatukan kecepatan jurus kesaktian dengan kecepatan jurus persilatan! 

Berkat kombinasi jurus, pertarungan nan mengandalkan kecepatan mulai berjalan imbang. Di tengah tukar-menukar serangan yang berlangsung sangat cepat, Bintang Tenggara menunggu waktu yang tepat untuk membungkam lawan!


===


Pada permukaan selembar daun raksasa pada dahan pohon yang lain, sedang terjadi perbedaan pandangan di antara para anggota Dewan Dayak. 

“Aku akan membatalkan upacara adat ini!” sergah Balian Bapuyu Huludaya yang telah kembali hadir di pohon di mana lima balian lain berada. Setelah merenung dan menimbang-nimbang selama beberapa saat, akhirnya ia sampai kepada sebuah keputusan yang sulit. Meski disadari bahwa keputusan ini dapat memecah kesepakatan di antara para balian anggota Dewan Dayak, ia harus bertindak!

“Apa!?” Seorang lelaki dewasa sontak bangkit berdiri. Wajahnya garang. Ia adalah juga seorang balian dan salah satu anggota Dewan Dayak. Terang sekali ia menolak keras kehendak Balian Bapuyu Huludaya. 

“Atas alasan apakah, wahai Balian Rumpun Dayak Hulu...?” Seorang perempuan tua menengahi. 

“Tidakkah kalian lihat bahwa Roh Nyaru Menteng dan Roh Antang Bajela Bulau telah mengemuka!?” sahut Balian Bapuyu Huludaya. “Kedua roh suci yang tiada pernah dapat dikendalikan, apalagi oleh anak remaja, menampilkan diri. Ini adalah sebuah petunjuk bahwa Yang Mulia Pangkalima Rajawali menentang tindakan kita!”

“Roh Nyaru Menteng memanglah mengemuka,” seorang balian lain menanggapi. “Akan tetapi, kita tiada pasti apakah benar Roh Antang Bajela Bulau yang membuka formasi segel. Bisa saja roh lain, atau keahlian khusus sebagai perapal segel…”

“Tidaklah mungkin…” Balian yang lain lagi menanggapi. Ia berada di pihak Balian Bapuyu Huludaya. “Tidaklah mungkin bagi seorang anak remaja membuka formasi segel yang kita bangun bersama-sama… Tidak dengan roh lain, tidak pula dengan mengerahkan keterampilan khusus… Hanya Roh Antang Bajela Bulau yang dapat memberi kemampuan yang sedemikian,” sambungnya tanpa dapat menyembunyikan keheranan di hati. 

Keadaan berujung buntu. Dua balian menolak melanjutkan upacara adat, dua tiada berpendapat, sedangkan dua balian lain bersikeras untuk meneruskan kesepatakan yang telah dicapai bersama-sama. 

“Aku dipercaya sebagai penanggung jawab upacara adat,” Balian Bapuyu Huludaya kembali bersuara. “Oleh karena itu, aku berhak memutuskan untuk melanjutkan atau menyudahi upacara adat ini!” 

“Hmph… terlambat!” Balian yang bersikeras melanjutkan upacara adat mengibaskan lengan. “Babak berikutnya akan segera dimulai dan apa pun yang engkau lakukan, tiada mungkin dapat menghentikannya!” 

Di saat yang sama, keempat lembar daun raksasa bergerak menempel dan menjadi satu panggung pertarungan yang maha luas. Upacara adat dipercepat! 


===


Sebuah pohon raksasa berwarna cokelat nan gelap. Tiada selembar daun pun yang bergelayutan pada ranting-rantingnya yang menyeruak tajam ke berbagai penjuru. Sang pohon sudah lama mati. Dari kejauhan, ia terlihat mirip dengan pohon-pohon angker di dalam ceritera-ceritera horor. Mendatangi pohon mati ini seolah dapat membuat mimpi-mimpi buruk pada malam hari menjadi nyata. 

Seorang anak remaja hendak masuk ke dalam wilayah nan gersang yang mengelilingi pohon pada radius satu kilometer. Namun, tetiba tunggangannya menolak perintah yang disampaikan melalui jalinan mata hati. 

Kecapung Terbang Layang hanya melesat ke kiri dan ke kanan, bahkan bergerak mundur. Tiada sejengkal pun ia bersedia masuk ke dalam wilayah gersang yang mengelilingi pohon nan angker itu. Kum Kecho menebar jalinan mata hati yang diperkuat dengan tenaga dalam sebagaimana layaknya pawang binatang siluman tatkala beraksi. Akan tetapi, tetap binatang siluman tersebut menolak perintah. 

Pada tahap ini, Kum Kecho merasakan akan ketakutan tiada terperi dari binatang siluman tersebut. Tiada dapat memaksakan kehendak terlalu lama, Kum Kecho mendarat dan turun dari pundak Kecapung Terbang Layang. Ia lalu menyegel kembali binatang siluman tersebut ke dalam Kartu Satwa. 

Sesungguhnya Kum Kecho tiada mengetahui ada apa dengan pohon tersebut sehingga Guru Pangkalima Rajawali menetapkan sebuah larangan. Rasa penasaran berkutat di dalam benaknya. Secercah harapan tentang cara mengendalikan iblis yang tersegel di dalam cincin memberikan sekelumit semangat untuk pergi menjelajah. 

Anak remaja itu melangkah masuk ke dalam wilayah nan gersang. Sebuah tekanan tak kasat mata serta merta membebani tubuhnya, dan hawa panas membuat tubuh seolah kehilangan tenaga. Bukan sesuatu yang aneh, batin Kum Kecho. Tentu sesuatu tiada dianggap keramat bila tak memberi kesan yang sedemikian. 

Pantas saja gersang, batin Kum Kecho lagi. Ada semacam kekuatan yang menyibak panas di dalam wilayah pohon. Kendatipun demikian, tekanan yang dirasa dan hawa panas yang membebani masih jauh dari mampu untuk menggetarkankan niatnya menjelajahi pohon. 

Lima puluh langkah berselang. Selangkah demi selangkah, tekanan yang membebani tubuh semakin terasa berat dan hawa panas semakin membakar. Kum Kecho memantapkan niat di hati, mengabaikan tekanan yang hawa panas, ia terus melangkah.

Jarak kini terpaut 500 meter, atau sekira setengah wilayah nan gersang telah ditempuh. Ingin rasanya mengeluarkan Kepik Cegah Tahan sebagai alat pertahanan untuk meredakan tekanan dan hawa panas. Akan tetapi, niat tersebut diurungkan mengingat tak seekor pun binatang siluman serangga berani melangkah masuk ke dalam wilayah tersebut.

Setelah menempuh sekira tiga perempat perjalanan, Kum Kecho menghentikan langkah. Kepalanya pening dan tubuh seolah terbakar api. Dada terasa sesak dan otot mengeras sampai tubuh menjadi kaku. Perlahan ia mengangkat lengan, yang mana menghasilkan pendar cahaya terang dari permukaan telapak tangan nan membuka. 

Berkas cahaya terang seolah mampu menepis tekanan terhadap tubuh dan panas nan membara. Akan tetapi, untuk mempertahan unsur kesaktiannya melindungi diri, berarti menyedot tenaga dalam dari mustika di ulu hati. Cukup banyak dan berkesinambungan!

Kum Kecho mempercepat langkah. Permukaan pohon maha besar sudah terlihat di depan mata. Luas dan tinggi menjulang pohon raksasa itu, ibarat sebuah bukit batu karang nan berdiri perkasa. Sesampainya di sisi batang pohon, tiada sesuatu apa pun terjadi. Apakah memanjat pohon...? batin anak remaja itu sambil mengamati dan menyisir sisi pohon. 

Sebuah celah sangat besar kemudian terlihat di sisi pohon. Gelap suasana di dalamnya, ibarat sebuah goa nan tak berujung. Udara yang terasa pengap berbaur dengan panas membara. Kum Kecho lalu menebar mata hati, memastikan bahwa tak ada ancaman jiwa di dalam sana. Usai menelusuri dan tiada menemukan ancaman, ia pun melangkah masuk. 

Berkas cahaya dari telapak tangan mulai menyapu bagian dalam pohon raksasa. Kum Kecho mendapati keberadaan wilayah luas di dalam celah pohon. Belum melangkah terlalu jauh, kedua mata Kum Kecho menyipit. Ia menyaksikan beberapa tiang-tiang nan panjang berserakan. Ada yang tertancap di permukaan tanah, ada pula yang hanya tergeletak seperti ditinggal pergi begitu saja. 

Kum Kecho melanjutkan langkah semakin dalam, sambil memeriksa beberapa di antara tiang-tiang itu. Berserakan begitu saja, tiada menunjukkan pola tertentu. Ia juga mendapati keadaan tiang yang sudah usang dimakan waktu. Meskipun demikian, tiang-tiang tersebut masih menampilkan keperkasaan para pemiliknya di masa lampau! 

Sesungguhnya sang Putra Mahkota Negeri Dua Samudera mengetahui bahwanya bukanlah tiang-tiang yang tertancap dan berserakan di tempat itu. Ia cukup mengenal benda-benda tersebut sebagai senjata nan sangat digdaya. Salah seorang sahabatnya di masa lampau memiliki senjata serupa....

Sekali lagi Kum Kecho menyapu pandang, namun tak ada tanda-tanda kehidupan atau apa pun. Rasa penasaran semakin tinggi mengundang dirinya untuk melangkah semakin ke dalam. Melewati lagi sejumlah tiang-tiang nan tertancap, Kum Kecho bergumam pelan kepada diri sendiri... 

“Apakah gerangan yang terjadi di tempat ini...? Apa kiranya yang menimpa Pasukan Lamafa Langit...?” 



Cuap-cuap:

Apakah ahli baca sekalian dapat menebak jawaban atas pertanyaan Kum Kecho...?