Episode 85 - Lumina Sinclaire


Kembali ke awal tahun sebelum kelas dimulai, ketika ujian beasiswa Vheins berlangsung.

Tes pertama adalah ujian tertulis. Ujiannya adalah menjawab 100 soal dalam waktu 2 jam. Dari sekitar 2000 peserta lebih hanya tersisa 100 peserta dengan nilai tertinggi, Alzen berada di peringkat 3 dan Aldridge di peringkat 4. Hanya selisih tipis dan mereka berdua lolos ujian pertama.

Sedang di peringkat 1 ada Leena, peringkat 2 ada Nicholas sedang Lumina Sinclaire sama sekali tidak masuk 100 besar. Ia terlalu stress memikirkan banyak kemungkinan buruk dan tidak bisa konsentrasi.

Tes kedua diadakan di Magic Arena. Tempatnya digunakan untuk pertandingan sihir, arena yang digunakan pada turnamen.

Tes kali ini. Dijurikan 3 orang penyihir elit. Setiap juri hanya bisa memberikan yes atau no dan untuk berhasil masuk ke tahap selanjutnya diperlukan minimal 2 yes. 1 yes dinyatakan gagal dan 3 yes dinyatakan sempurna dan dapat keuntungan di tes selanjutnya.

Tiba giliran Alzen,

"No 3! Alzen silahkan maju ke arena... Dan tunjukkan sihir terbaikmu!" kata sang MC.

Alzen maju ke depan. Meski agak gugup karena dilihat ribuan penonton yang juga penyihir dari seluruh Azuria.

Alzen menunjukkan sihir multi elemennya,

"Fire Pillar !!" 

Alzen mengeluarkan api dari kedua tangannya, dipusatkan di antar kedua tangannya dan dilontarkan keatas sehingga membuat api tersebut berputar-putar membentuk pilar tepat di depan wajahnya.

Pillar api sebelumnya belum usai berhenti, Alzen langsung menambahkan hentakan 4 petir sekaligus yang menyambar dari atas langit.  

"Lightning Bolt !!"  

Ke-empat sambaran petir itu datang dan menyambar lantai batu Arena. 

Alzen menggunakan elemen terakhir yang ia punya. Kini Alzen menggerakkan air di sekitar arena. Membuatnya terbang berputar, mengelilingi dirinya.

"Tidal Wave !!" 

Sampai-sampai membuat sebuah ombak tsunami kecil yang nyaris mengenai juri. Dan membahas seisi arena.

"Benar-benar luar biasa! Aku yes!"

"Wow. Disini tertulis kamu baru 16 tahun!? Wah luar biasa, masih semua ini, tapi sudah sebagus itu. Tentu saja! Aku yes! Akan sangat disayangkan sekali kalau tak meloloskanmu."

"Gak usah panjang lebar. Jelas! Aku Ya!"

Sambung MC. "Peserta kali ini mendapatkan. Tiga Ya! Kemampuan tiga elemennya tadi sungguh luar biasa!"

"Dia ini hebat ya... tapi mudah lelah kelihatannya. Lihat, dia sudah ngos-ngosan."

"Hmm... Sebetulnya anak itu terlalu banyak menggunakan tenaganya. Jadinya, habis-habisan sekali sihirnya. Tapi aku senang orang yang all-out seperti dia."  

"Benar... punya 3 elemen itu adalah suatu bakat langka. Jarang sekali dimiliki penyihir manapun, apalagi untuk anak seusia dia. Masih sangat muda dan potensial kedepannya."

Sorak-sorai penonton ujian itu menyoraki kehebatan Alzen sehingga ia kembali dengan perasaan sukacita. 

Aldridge bertepuk dengan Alzen sebagai ucapan selamat. "Hebat kau Alzen!" 

"Iya! Untungnya aku berhasil! Tapi... aku capek banget. Rasanya kayak mau demam." Alzen langsung duduk di ruang tunggu dengan nafas tersengal-sengal.

"No.4 Aldridge, Silahkan maju ke arena." ucap MC.

"Wahh... beda 1 nomor doang sih. Sekarang giliranmu Aldridge, kau pasti bisa." Alzen menyemangati Aldridge.

"Tentu saja !!" Aldridge naik dan melakukan tesnya.

"No 4 Aldridge! Silahkan maju ke arena dan tunjukan sihir terbaikmu!" ucap MC itu sekali lagi.

Di tonton sedemikian banyak penonton yang adalah penyihir-penyihir hebat Vheins membuat Aldridge makin gugup.

"Jangan gugup begitu nak! Lakukan saja seperti biasanya." Juri menasehati.

Jawab Aldridge gemetar. "Ba... Baik."

Aldridge melakukan tembakan angin dengan menggerakan sebatang besi miliknya menusuk ke depan. 

"Wind Cutter !!"

"Tembakannya mengarah kesini."

"Serangannya lemah!"

"Fire Wall !!" salah seorang juri meng-cast spell dan menangkis serangan nyasar barusan.

Para juri mendiskusikannya dan bertanya pada Aldridge.

"Tenaganya lemah sekali, Apa hanya ini yang sodara punya? ... Kalau begini caranya... aku NO!"

"Aku sihh NO..."

"Maaf aku juga NO. Coba lagi tahun depan ya. Tetap semangat dan jangan menyerah." ucapnya dengan nada formalitas semata.

"T-tapi" Aldridge lemas rasanya. "Bo-boleh kucoba lagi? I-Itu baru..."

"Baru apa? Kau gak serius tadi?"

"Kalau gak bersungguh-sungguh yah... mau gimana?"

"Kita menjurikan lebih dari lima ratus orang loh! Dengan kemampuan seamatir itu, sudah keberuntungan kamu bisa sampai ujian praktek ini. Selanjutnya! Masuk!"

MC mencoba menghibur Aldridge. "Sayang sekali peserta kali ini tidak lolos... tapi kamu tetap bisa mencobanya tahun depan kok. Jadi jangan patah semangat ya! Selanjutnya!"

Aldridge tak menyangka ini akan terjadi. "... !?" Dengkulnya tersungkur di tanah dan sebatang besi itu jatuh terpenlanting dengan bebasnya. Aldridge yang sebelumnya menggenggamnya erat-erat, kini tersungkur lemas. Aldridge mendapatkan 3 NO tanpa ada kesempatan mencoba lagi.

"Dia masih belum mau beranjak dari sana juga. Security! Urus anak itu!"

Aldridge diangkut paksa dan dibawa duduk kembali ke belakang bersandar bersama dengan Alzen.

"A... aku... aku tak mendapatkannya... Alzen! Aku tak mendapatkannya." Aldridge mengeluarkan air mata. dan duduk melipat dirinya dengan memeluk kedua dengkulnya. 

"..." Alzen tak bisa berkata apa-apa. Ia berempati dan berdiri menyandar tembok di sebelah Aldridge. Bersandar lemas dan menyesal.

"Pa-padahal... Padahal! Aku sudah membayangkan kita akan berlajar sihir bersama-sama. Ta... tapi... aku... aku gagal! Aku sungguh-sungguh gagal!"

"Aku juga tak mengira akan jadi seperti ini..." Alzen juga turut bersedih, 

"Tapi..." ucap Aldridge sambil membaringkan kepalanya di lipatan tangannya. "Ini sudah mutlak terjadi, aku harus berpisah denganmu." 

"Ma... Maafkan aku..." balas Alzen yang ikut sedih, namun tidak bisa berbuat apa-apa.

***

“Jadi begitu ya, yang mengalami perpisahan pada hari itu bukan hanya aku saja.” Alzen menatap bulan, bersandar di pohon dan mengenang kejadian beberapa bulan lalu.

“Haa? Kau mengalami perpisahan apa?”

“Saat Fall of Dalemantia terjadi, aku bertemu anak rambut pirang seusiaku. Aldridge namanya. Aloysius Aldridge. Karena keluarganya terbunuh dalam perang itu. Kita cuma tinggal bareng-bareng selama setahun. tadinya kita berjanji akan belajar disini bersama-sama. Namun karena yang dapat beasiswanya cuma aku. Mau tak mau kita berpisah. Hah... aku penasaran dia ada dimana sekarang?”

“Setidaknya temanmu itu sudah mencoba meskipun gagal.” balas Leena dengan tegas dan agak sedikit kesal. “Mantanku ini orang yang terlalu takut gagal. Meski hebat, dia bahkan tak hadir di ujian keduanya. Hanya karena dia tidak masuk peringkat 100 besar, namun tetap memiliki kesempatan di ujian kedua. Dia sudah memutuskan menyerah sebelum mencoba.”

***

Kembali ke pada saat ujian itu.

“Lumina! Lumina! Tunggu! Kau sudah mau menyerah sebelum mencoba.”

“Tidak ada gunanya Leena, tidak ada gunanya.” balas Lumina dengan perasaan depresi.

“Kenapa? Apa salahnya mencoba?”

“KAU BELUM PUAS BIKIN AKU MALU HAH?!” bentak Lumina keras-keras.

“...!!?” Leena terkejut sekali mendengarnya dan membuatnya terdiam dengan hati tertusuk. “Kok kamu...”

“Huhh... huhh...” Lumina memegang dahinya dan berjalan mondar-mandir seperti sedang gelisah sekali. “Ini saatnya kita berpisah.” Katanya sambil mengibas tangan dan air mata di pipi. “Kau terlalu tinggi buat kuraih, kau terlalu jauh untuk kukejar, jarak kita terlalu jauh. Dan aku tak pernah tahu kita jarak sejauh ini, Ini semua salahmu!” katanya dengan nada marah.

“Sa-salahku!?” Leena sakit hati sekali mendengarnya. “Dimana letak kesalahanku?!” Leena bicara sambil menahan tangis.

“Ya! Wanita seharusnya tak boleh lebih hebat dari laki-laki! Dan, dan.. dan... aku tak pernah tahu... kamu... Arrrghh! Sudahlah!” Lumina mengacak-acak rambutnya dan kesal sekali. “Kita putus! Tidak ada gunanya lagi kita bersama. Leena,” Lumina berbalik badan sambil mengibaskan sihir anginnya ke depan. “Selamat tinggal!”

“Hah...” badan Leena sudah gemetar dan menangis. “Tunggu Lumina, kok tiba-tiba jadi begini.”

“Hubungan ini sudah tidak bisa dilanjutkan. Gap kita ternyata terlalu jauh.”

“Apa maksudnya gap? Jarak terlalu jauh apanya? Kita ini pacaran kan. Tidak ada yang namanya gap kan?”

“Andai aku tahu ini dari awal, aku tak akan pernah mendekatimu.” Balas Lumina sambil berjalan menjauh.

“Apa maksudmu Lumina, aku benar-benar tidak mengerti. Kamu orang yang pertama yang menembakku dan aku menolakmu dan terus menolakmu,” sahut Leena sambil menangis. “Tapi kamu terus pantang menyerah selama 3 tahun dan, dan... aku akhirnya jatuh hati padamu. Lalu setahun kita bersama, kenapa tiba-tiba...”

“...” Lumina menghentikan langkahnya dan berdiri diam.

“Aku tak mengerti Lumina, aku tak mengerti. Kumohon tetaplah bersamaku” Leena duduk di atas tanah dengan lemas dan sedih sekali.

Lumina berbalik badan dan menjelaskan alasannya. “Pada saat itu, aku terus berusaha mendapatkan hatimu, karena aku yakin pada akhirnya aku akan berhasil, waktu itu kita ada di tingkatan yang setara. Kita di kelas yang sama di jenjang yang sama. Tanpa tahu latar belakangmu. Aku terus berusaha, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Aku di ranking 3, Nicholas si bajingan sombong itu ranking 2 dan kau ranking 1. Meski sulit, namun tidak terlalu jauh buatku.”

“...” Leena mendengar alasannya dan hatinya semakin sakit. “Jadi kamu pikir...”

“Belum selesai! Di Valencia, aku dibesarkan dengan ajaran pria harus lebih baik dari wanita. Dan aku merasa bisa lebih baik darimu, di beberapa hal meski hanya sedikit saja. Sampai akhirnya aku mendapatkanmu dan begitu bangga dan bahagianya diriku. Namun mengenalmu lebih jauh, malah membuat jarak yang begitu dalam.”

“Kita setara Lumina...” Leena berusaha membuat Lumina mengerti.

“Itu tidak benar! Aku memang lahir di keluarga berada, namun keluargamu jauh diatasku. Aku memang pintar tapi ternyata kau jauh sekali diatasku dan aku tahu, aku ini tampan, tapi sekali lagi, kau jauh diatasku. Dan dalam urusan sekolah kau lagi-lagi jauh diatasku. Kau dapat Vheins peringkat pertama dan aku... tidak.”

“Lalu kenapa? Kenapa kau menyerah begitu saja.”

“Aku sadar diri Leena, di dunia ini ada hal-hal yang tak bisa kau raih sekeras apapun kau mencoba. Jaraknya terlalu jauh dan aku tak sanggup. Aku tak sanggup melihat pandangan hina orang-orang, pandangan hina keluargamu dan cepat atau lambat kau akan memandangku rendah seperti mereka juga, kau... kau...” 

Leena berlari dan memeluknya.

“...!!?” Lumina kaget sekali dipeluk seperti itu dan ia terdiam.

“Tidak apa-apa, aku menerimamu apa adanya.”

“...” Lumina terdiam menatap Leena dari dekat, namun raut wajahnya seketika berubah menjadi marah. “Omong kosong!” Lumina mendorong Leena hingga terjatuh.

Saat Leena terdorong, matanya terpejam dan ia menangis dengan hati yang sesak sekali.

“Sekarang kau akan tinggal di Vheins! Dan aku tak akan bisa meraihmu lagi!” bentak Lumina keras-keras di depan Leena yang tersungkur di tanah. “Kita putus dan selamat tinggal.” Lumina berbalik badan. “Leena.”

Melihat Lumina berjalan meninggalkannya Leena terbaring di atas tanah dan menutup matanya dengan lengan kanannya sambil menangis.

***

“Dia tidak diterima, bukannya tidak pintar, semata karena dirinya meyakini itu mustahil dan tak berani mencoba. Kau tahu kan biaya belajar disini perlu 100 juta Rez. Tapi yang kubenci adalah sikapnya setelah itu. Dia... menyerah lalu membuangku begitu saja dengan alasan jarak kita terlalu jauh.”

“...’ Alzen diam tidak menanggapi Leena.

“Dia menyerah dan menyalahkanku atas perpisahan ini, aku yakin dia bukan tipe orang yang takut gagal. Tapi ternyata aku salah, dia seperti Velizar yang menyerah duluan kalau tahu lawannya terlalu kuat. Hari itu terjadi sudah 4 bulan yang lalu, tapi sakitnya masih terasa sampai sekarang.” kata Leena memegang dadanya.

“Maaf, aku tak pernah tahu kamu pernah patah hati sampai begitu.”

“Tidak-tidak ini bukan salahmu, tidak ada yang tahu soal ini. Semuanya kupendam sendiri saja. Aku mentertawaimu saat menembakku karena, sama seperti waktu itu. Awalnya begitu menjanjikan, awalnya begitu tulus. Aku berusaha agar hubungan itu tetap ada, tapi... dia sendiri yang membuangku begitu saja. Kenapa harus saling cinta, jika harus dipisahkan.”

“...” Alzen tak tahu harus membalas apa. Tapi terlihat ia sedang memikirkan sesuatu untuk dikatakan.

Mereka berdua akhirnya diam-diaman untuk beberapa saat.

“Hmm... ngomong-ngomong Alzen.”

“Ya?”

“Kamu sendiri sudah pernah berapa kali pacaran.” tanya Leena dengan tersenyum dan kepalanya dimiringkan ke samping.

Wajah Alzen memerah melihat Leena indah senyumannya. “Aaa... aaa... aaa... aku belum pernah, aku belum pernah pacaran sama sekali.”

“Hee? Padahal kamu populer loh.”

“Ahh tidak-tidak, itu kebetulan saja. Aku lebih sering berdiam diri di rumah bersama ayahku dan membaca buku saja.”

“Hehe... makanya tak heran kamu pintar ya.” Leena tertawa kecil lalu beranjak naik dan berdiri. “Oke, aku mau ke partyku. Melanjutkan lantai ini.”

“Eee? Eee, eee, ehh Leena.” kata Alzen sambil menarik tangan Leena.

“Huh?”

“Kalau sekali lagi aku menembakmu dan aku tak keberatan jika kita berpacaran hingga akhir kelulusan nanti, apakah kamu... mau menjadi... pacarku?”

“Hubungan percintaan tidak sesedarhana itu Alzen, perpisahan tetaplah perpisahan dan itu menyakitkan.” Leena melepas genggaman tangan Alzen. “Tapi biar kupikirkan nanti.” Leena beranjak pergi sembari melambaikan tangan dengan tersenyum. “Sampai jumpa.”

Alzen berdiri diam disana, lalu mulutnya tersenyum, baru ia melangkah ke depan.

***

Jam 1 siang, Party Nicholas adalah party pertama yang berhasil menyelesaikan ujian eksplorasi dungeon ini.

“Tuh benarkan!” kata Lunea ketika melihat Nicholas.

“Wohoho... anak dari kelasku ternyata yang paling pertama selesai.” sambut Glaskov bangga pada Nicholas. “Kuucapkan selamat ya.” Ia mengulurkan tangan untuk berjabat diam.

“Minggir!” Nicholas mendepak tangan Glaskov dengan buku grimoirenya. “Kau berniat membaca pikiranku ya?”

“Hehe... ketahuan ya.” Glaskov menyikapinya dengan enteng.

“Kamu sih tak usah heran kov.” Lunea bicara di samping Glaskov. “Dari tahun ke tahun ujian ini dilaksanakan, jika ada Obsidus di angkatan mereka, akan selalu jadi yang paling pertama. Selamat ya Nicholas.” Lunea mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Namun Nicholas dengan tatapan datar segera melewatinya begitu saja.

“Tapi, kesombongannya juga yang paling pertama.” Lunea jengkel diabaikan begitu.

“Biar salaman denganku saja...” Velizar menjabat tangan Lunea. “Nicholas memang orangnya begitu. Tapi dia tetap teman kami.” kata Velizar dengan tatapan datar.

“Tapi tetap saja jengkelin!!” Lunea kesal sekesal-kesalnya di dalam hati.

“Jangan keras-keras dong bu... tanganku sakit nih....” Velizar mengungkapkan rasa sakitnya dengan ekspresi dan nada bicara yang sama.

Nicholas berjalan dengan menunduk sambil mengenakan cincin CC ke jarinya.

“Hah... tidak seru ya. Obsidus lagi juaranya,” komentar Aeros sambil membakar BBQ di depan api unggun.

“Aku justru lega, dia tidak kenapa-napa.” balas Andini dengan nada lembut dan duduk yang anggun.  

 “Aku malah kasihan padanya, dengar-dengar tuntutan keluarganya begitu tinggi, sampai-sampai tak ada sukacita begitu.” komentar Eriya sambil melipat tangan di belakang kepalanya.

Kazzel melipat tangan, kepalanya tertunduk dan kakinya disilangkan sambil terus menepuk-nepuk tanah. “Hah... aku malah khawatir ada korban lagi di tahun ini. Semoga mereka semua bisa baik-baik saja ya...”

“...” Lasius tidak berkomentar, melainkan hanya menatap BBQ yang dibakarnya.

Sementara Steve dan Felix menggunakan kemampuan aura tipe unique berkemampuan Detector, untuk menerawang 3 lantai pertama dungeon Tomb of the Great King secara berkala dan bergantian.

Detector adalah salah satu cabang Aura tipe Unique yang terkenal langka itu. Kemampuan aura ini adalah melihat secara tembus pandang dalam bentuk siluet-siluet warna untuk mendeteksi posisi dan jumlah manusia yang ada dalam jangkaunnya.

Aura Detector ini sangat berguna pada dungeon tingkat lantai terdalam yang perlu kewaspadaan lebih dulu untuk mempelajari jebakan-jebakan dan monster-monster kuat di dalamnya. Dalam perang juga bisa berperan untuk mata-mata dan mensurvey jumlah dan kekuatan musuh, jika dimiliki seorang Assassin, Aura ini akan sangat berguna sekali untuk mengetahui semua posisi di dalam jangkauannya.

Steve dan Felix baru di kontrak pada tahun ini sebagai antisipasi terbunuhnya pelajar saat menjalani ujian eksplorasi dungeon tidak terjadi lagi.

Nicholas duduk diatas batu yang tak jauh dari api unggun tempat para instruktur berkumpul dan segera menelpon ayahnya menggunakan CC.

“Ayah, aku sudah selesai paling pertama di ujian dungeon ini.” kata Nicholas pada cincin yang bersinar itu.

“Bagus, sesuai ekspektasi ayah... kau sehebat yang ayah harapkan. Nico, Ayah bangga padamu.” Puji Nero melalui suara dari CC.

“Hmph!” Nicholas tersenyum puas. “Tentu saja ayah, kita Obsidus adalah yang terbaik. Dan si anak miskin itu, masih jauh ada di belakangku. Sampai kapanpun dia tak akan pernah mengalahkanku. Bahkan Leenapun bukan apa-apa sekarang.”

“Bagus sekali, ayah senang mendengarnya.”

“Ngomong-ngomong ayah, aku punya pertanyaan.”

‘Hmm? Tentang apa?”

“Aku bisa selesaikan ujian ini dalam 4 jam saja. Apa kak Nathan dan kak Nouva mengalami ujian yang sama sewaktu belajar di Vheins?”

“Ya... tentu saja, ujian ini rutin dilakukan sejak Vlaudenxius menjadi kepala sekolahnya.”

“Lalu berapa rekor mereka? Apa ayah ingat?”

“Ahh... kau sebaiknya tidak usah tahu.”

“Apa mereka selesai paling pertama juga?!”

“...” Nero terdiam.

“Kenapa diam saja ayah? Aku ingin tahu.”

“Baiklah, Nathan bisa selesaikan 3 lantai dungeon dalam 30 menit,”

Nicholas mendengar itu langsung gemetar kaget dan keringat dingin.

“Sedang kakak perempuanmu, Nouva. Dia bisa selesai dalam 2 jam dan mereka...”

Syuuuppp...

Nicholas langsung memutus aliran aura ke CCnya dan pembicaraan mereka terputus. 

“Wah sial! Sial! Aku masih terlalu bersantai.” Nicholas menunduk lemas, tangannya mengepal kuat dan dia geram sekali.

***

Alzen membuka tirai kemahnya,

“Loh... Chandra belum balik?” komentar Alzen.

Semuanya geleng-geleng kepala.

“Lio dan Ranni juga belum kembali,” kata Fia khawatir.

“Party Leena barusan berangkat, kita sebaiknya menyusul.” kata Cefhi.

“Tunggu sebentar,” Alzen menoleh ke arah Gunin. “Gunin, ia masih belum bangun ya.” Ia mendapati Nirn sedang sibuk melakukan sesuatu di depan Gunin yang tertidur sambil duduk. “Hei kamu ngapain!”

“HWAAA!!?” Nirn yang gemuk itu langsung terjatuh. “Tidak-tidak kok.”

“Pfft... Hahahaha...” Alzen mentertawai muka Gunin yang dicorat-coret.

Semuanya segera menoleh dan ikut tertawa. “Hahahahaha!”

Mendengar tawa sekeras itu, Gunin terbangun. “Hee? Kok pada ketawa?”

“Sebentar-sebentar, sepertinya aku bawa cermin.” Nirn merogoh tas tempat ia membawa barang Loot dan menunjukkan cermin ke wajah Gunin.

Gunin melihat wajahnya di cermin dan ikut tertawa. “Hahahaha!”

“Iseng aja lu...” ancam Gunin dengan ujung guandaonya di samping leher Nirn. Matanya memerah dan tatapan seram.

Nirn pucat, berkeringat dingin dan hanya bisa menelan ludah.

***

Alzen kemudian mampir ke kemah Fhonia dan disana hanya ada Luiz dan Fhonia yang masih berbaring lumpuh.

“Fhonia? Lukamu sudah sembuh?” tanya Alzen yang melihat perut Fhonia sudah kembali normal meski belum sembuh total.

“Hihi... sudah dong. Tapi sepertinya aku tak bisa melaju ke lantai berikutnya.”

“Dia punya efek samping yang menyulitkan ketika menggunakan aura tipe summon.” balas Luiz. “Tubuhnya akan lumpuh selama 3 hari penuh.”

“Hihi... begitulah.” 

“Kalau begitu kita harus naik ke lantai 1 dan membawanya keluar dungeon.” Balas Alzen.

“Kau gila! Apa kamu pikir kembali itu cuma beda satu dua langkah saja?”

“Tapi, kita tidak boleh meninggalkan Fhonia sendiri disini.”

“Alzen, ada apa di dalam? Kita berangkat yuk.” kata Fia dari luar kemah.

Alzen segera keluar dan menjelaskan situasinya. “Fhonia lumpuh. Apa ada cara membawanya keluar dungeon?”

Fia diam dan geleng-geleng kepala, 

Cefhi melakukan hal yang sama.

“Pakai ini saja.” Nirn mengeluarkan kristal biru di genggaman dua jarinya.

“Hee? Kau dapat darimana Nirn?” tanya Fia.

“Loot monster dong, tadi ada yang drop item ini.”

“Kupikir kamu sudah buang semuanya.” balas Cefhi.

“Ya sebagian besar sih dibuang, tapi yang bisa digunakan aku ambil diam-diam.” Nirn menjelaskan. “Nih ambil.”

“Terima kasih Nirn.” Alzen mengambilnya dan segera bicara dengan Fhonia.

“Fhonia, sampai jumpa diatas.” Alzen melemparkan batu itu dan ketika menyentuh Fhonia. Ia langsung di warp keluar. “Sekarang dia aman. Kita lanjut berempat saja.”

***

Lantai 28, lantai terakhir dungeon ini. 

Ruangan ini adalah kuburan raja, tempat gelap tanpa ada obor sama sekali. Dinding-dindingnya sudah berlumut dan banyak batu yang sudah lapuk, udaranya juga sesak, karena tempat ini ada jauh di bawah tanah. Tempat ini memiliki tangga menuju tengah dan puncak tempat ini, disanalah makam raja bersemayam.

“Yes! Yes! Yes! Akhirnya sampai juga di lantai ini.” kata salah satu anggota party kelas S yang sedang menjelajah dungeon ini. Ia adalah seorang Wizard dengan pakaian berlevel tinggi. Pengguna elemen api.

“Belum ada yang pernah sampai sini kan? Kita harus hati-hati.” kata ketua party mereka, seorang Knight berpakaian zirah emas dan perak mengkilap dengan pedang dan perisai.

“Ketua, coba lihat, sepertinya ada 4 orang disana.” tunjuk healer wanita mereka, ia adalah seorang Priest dengan kemampuan elemen cahaya.

“Yang benar? Biar aku periksa.” kata sang assassin dengan pakaian kain dan tutup mulut. Ia segera naik dan memeriksa tempat itu secara diam-diam.

Namun setelah menunggu beberapa saat saja. Mayat Assassin itu terlempar dan wajahnya sudah pucat tak bernyawa.

“...!!?” Priest itu tutup mulut dan berteriak. “KYAAA !!?”

“Hoo.. ada yang berhasil sampai sini rupanya.” kata seorang pria tinggi dengan pakaian jaket tebal panjang, mengenakan topi pesulap yang semuanya berwarna hitam.

Keempat orang misterius itu berjalan berdampingan menuruni tangga.

“Ohog! Ohog! Mayat pria itu tidak kau jadikan bonekamu saja? Ohog! Ohog!” kata pria tua ubanan berambut panjang, mengenakan sebuah jubah hitam dari kain dengan tongkat kayu yang ujung atasnya adalah tengkorak manusia. Meski pakaiannya memiliki hoodie, ia tak menutupi kepalanya yang beurban dengan hoodie.

“Seorang Assassin tapi mudah sekali ketahuan.” kata seorang yang memiliki kulit biru, keungungan yang sedikit pucat, rambutnya putih dengan mata merah darah dan telinganya panjang. Ia adalah ras Dark Elf. 

Kemudian Dark Elf ini memutar-mutar kedua pedang pendeknya yang berlumuran darah orang yang baru saja dibunuhnya dan mensarungkannya kembali di belakang pinggangnya.

“Seharusnya kau tak langsung main bunuh saja.” kata seorang yang mengenakan jubah hitam, dengan hoodie menutupi wajahnya. Namun tetap terlihat rambut hitamnya tanpa sosok wajah yang keliahtan jelas. Tubuhnya lebih pendek dibanding ketiga orang lain di sampingnya.

“Maaf ketua, hanya berjaga-jaga saja.” balas Dark Elf itu.

Selagi mereka turun, party kelas S ini langsung memasang kuda-kuda.

“Eits-eits, sebaiknya kalian tidak perlu takut dan coba-coba melawan kami. Silahkan meninggalkan tempat ini dan...” kata ketuanya yang tubuhnya paling pendek itu.

“Brengsek! Siapa kalian?! Kau membunuh teman kami!” tegas ketua party mereka.

“Loh itu hal yang biasa kan? Kalau kalian lemah di dungeon ya kalian mati.” Kata si pesulap dengan entengnya.

“Kurang hajar!” Sang ketua party kelas S langsung mengibas pedangnya secara vertikal ke depan. 

“Air Slash !!”

Namun serangan sedashyat itu langsung ditahan oleh persilangan dua bilah pisau merah Dark Elf itu. “Boleh kubunuh saja orang ini?”

“Jangan dulu, jangan dulu. Kita sebaiknya jangan cari masalah yang tidak perlu.” kata si ketua yang berjalan mendekati mayat si Asasssin itu.

Ia menepuk dadanya lalu seketika Assassin itu hidup kembali.

“HUFFFTTT !! Hah... hah...” Assassin itu terbangun dan kaget sekali.

“Hidup kembali!?” Sang ketua party kelas S terheran-heran. “Bagaiman cara-“

“Yah... tidak jadi bonekaku dong.” komentar si pesulap.

“Keputusan ketua itu mutlak.” balas si pria tua.

“Kau tak perlu tahu bagaimana aku melakukannya. Sekarang saranku kalian pergi. Karena boss terakhir dungeon ini adalah raja itu sendiri. Dan dia ada disana.” tunjuk si ketua ke atas dan ada sosok siluet raja dengan tinggi manusia dewasa memancarkan aura kegelapan yang luar biasa. “Bye-bye!”

Ketua mereka memecahkan Teleportation Stone keluar dungeon.

Syushh...

Disusul dengan tiga anggota lainnya.

“Bagaimana nih ketua? Kita sudah sejauh ini?”

“Apa boleh buat, kita tak boleh meresikokan diri terlalu jauh. Kita pulang dan beritahu kejadian ini pada Pemerintah.” setelah mengucapkan itu, mereka melarikan diri dengan Teleportation Stone.

Boss terakhir dungeon ini bangkit dari kuburan dan ia perlahan menuruni tangga sambil menyeret pedangnya.

***

Next Chapter – ARC 3 Finale.