Episode 299 - Keterbatasan (3)



Kum Kecho tiba di Pulau Belantara Pusat hampir berbarengan dengan Canting Emas. Tentu saja keduanya tiada berpapasan jalan. Walaupun seandainya bertemu muka, maka kecil kemungkinan akan saling mengenal pula. Pertemuan keduanya hanya sejenak ketika Lintang Tenggara dan Anjana bersiasat menculik Bintang Tenggara di dalam salah satu dimensi ruang berlatih Perguruan Gunung Agung. 

Kedatangan Kum Kecho ke Pulau Belantara Pusat sesungguhnya hanya berdasar pada firasat belaka. Ia tak memiliki kepastian, namun hati kecilnya berkata agar mengunjungi Pulau Belantara Pusat. Sungguh merupakan tanda tanya. Terlepas dari itu, ada sesuatu yang menjadi ganjalan di dalam benak tokoh tersebut.

Sejak beberapa waktu ke belakang, anak remaja tersebut gundah gulana. Ia sepenuhnya menyadari telah melakukan kesalahan yang teramat besar. Keberadaan jiwa sang iblis di dalam Cincin Penakluk Iblis, yang terikat kepada dirinya, sewaktu-waktu dapat mengambil alih tubuh. Hal ini menimbulkan permasalahan yang tak dapat dipandang sebelah mata. Kesepakatan yang ia bangun dengan Belial, dapat menjadi ancaman besar bagi para gadis belia yang mengiringi. 

Bilamana datang waktunya bagi Belial mengambil jatah kendali tubuh, walau untuk sementara, maka iblis tersebut pastilah melibas sesiapa saja yang ditemui. Tak pandang bulu, membantai dan menyerap mustika tenaga dalam umat manusia maupun kaum siluman. Semakin lama, akan semakin kuat pula jiwa sang iblis karena tindakan menyerap mustika tenaga dalam. Oleh karena itu, pada waktunya nanti, bukan tak mungkin Belial mengambil alih tubuh Kum Kecho secara tetap!

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Kum Kecho meninggalkan budak-budaknya di Pulau Logam Utara. Pertama, tentu agar para gadis belia tak berada dekat dengan mara bahaya, dan yang kedua, yang mana merupakan harapan yang belum tentu terwujud, adalah mencari cara mengendalikan jiwa Belial. 

Demikian, Kum Kecho berharap akan sebuah peruntungan di Pulau Belantara Pusat. Langkah kakinya membelah semak belukar yang tinggi-tinggi. Hari jelang petang. Awan gelap berarak dan bergerombol menutup langit, semilir angin bertiup lembab dan sejuk. 

Anak remaja itu menambah kecepatan langkah kaki. Sebentar lagi hujan turun, dan sepertinya akan mengguyur lebat. Ia hendak segera mencari perkampungan, karena bilamana tersesat pada malam hari di tengah hujan lebat, maka risiko yang akan dihadapi teramat besar. Di Pulau Belantara Pusat, keadaan alam dapat berubah ganas dan binatang siluman akan berkeliaran mencari mangsa dengan buas. 

Tetiba, Kum Kecho merasakan keberadaan sepasang mata yang terus-menerus mengikuti dan mengintai. Akan tetapi, tak ada tanda-tanda akan pergerakan yang menyertai, serta tiada terasa pula keberadaan mustika tenaga dalam. Waspada, Kum Kecho mengirimkan Seribu Nyamuk Buru Tempur. Binatang-binatang siluman itu berdenging dan menyebar cepat ibarat lingkaran radar ke semerata penjuru. Sampai pada jarak sejauh lima ratus meter, yaitu batas maksimal jalinan mata hati Kum Kecho dalam mengendalikan sekian banyak binatang silumannya, tak juga ada petanda keberadaan pengintai.

Kum Kecho menarik napas panjang. Setengah lega dan setengah kecewa. Lega karena tak menemukan ancaman, serta kecewa karena jauh di lubuk hati, ia berharap berpapasan dengan tokoh seorang guru. Pernah Kum Kecho pertanyakan kepada Jenderal Kesepuluh Pasukan Bhayangkara, Arya Wiraraja, di Persaudaraan Batara Wijaya, namun tiada diketahui di mana sesungguhnya keberadaan jenderal-jenderal lain dan bagaimana nasib mereka. 

Nyamuk-nyamuk yang menyebar, secara tak sengaja, menemukan keberasaan sebuah pemukiman dayak. Hari beranjang malam, KUm Kecho pun bergegas mendatangi pemukiman tersebut. 

Secara tak sengaja, Kum Kecho kemudian mendapat informasi bahwasanya upacara adat bagi remaja suku dayak akan berlangsung dalam waktu dekat. Ia pun mengetahui bahwa dimensi dunia Goa Awu BaLang akan dibuka. Mungkin penyelenggaraan upacara adat inilah yang menjadi penyebab perasaan harus berkunjung ke Pulau Belantara Pusat mengemuka, batin anak remaja itu. 

Dikarenakan telah menguasai jurus persilatan Kuntai Bangkui dari gurunya dulu, mudah bagi Kum Kecho untuk mendapat tempat sebagai perwakilan suku itu di dalam upacara adat. Bagaimana tidak, yang mengajari Kuntai Bangkui kepada Elang Wuruk adalah Pangkalima Rajawali langsung, tentu saja ia tampil lebih unggul. Sampai pada batasan tertentu, Kum Kecho bahkan sedikit banyak mengkoreksi kesalahan-kesalahan penerapan Kuntai Bangkui di dalam kelompok suku di mana ia menumpang. 

Walhasil, Kum Kecho kemudian dipercaya melatih remaja suku dayak tersebut. Sebagai imbal jasa, kepala suku dayak berkenan memandu Kum Kecho dalam menjalani balampah atau bertapa. Mata hatinya kemudian mengikat hubungan dan memperoleh Rajah Roh Antang Bajela Bulau sang pelindung. Sebuah kebetulan, karena Kum Kecho sendiri tiada mengetahui bahwa Rajah Roh tersebut merupakan milik gurunya di masa lampau. 


Kum Kecho telah keluar dari wilayah daun maha besar yang dilindungi oleh formasi segel. Balian Bapuyu Huludaya terlambat mencegah upayanya, sehingga ia dapat melenggang santai. Di atas Kecapung Terbang Layang, saat ini ia melesat sangat cepat. 

Keberadaan seorang manusia di dunia tersebut tentu sangat menarik perhatian segenap serangga-serangga raksasa yang haus darah. Akan tetapi, berkat kelincahan terbang tiada beraturan sang kecapung, Kum Kecho dapat menghidar dari sergapan demi sergapan. 

Yang tak seorang pun ketahui, bahwasanya kesempatan ini bukanlah kali pertama bagi Kum Kecho masuk ke dalam dimensi dunia Goa Awu BaLang. Malah, sudah berkali-kali ia keluar-masuk tempat ini untuk dibawa berlatih bersama gurunya. Bersama Pangkalima Rajawali pula, Putra Mahkota Elang Wuruk dulu menangkap nyamuk, kepik, kecapung, kutu, serta lintah dan menyegel binatang-binatang siluman tersebut ke dalam Kartu Satwa. 

Nama-nama Nyamuk Buru Tempur, Kepik Cegah Tahan, Kecapung Terbang Layang, Kutu Gegana Ledak dan Lintah Intai Sergap, merupakan nama-nama yang Pangkalima Rajawali dan Elang Wuruk ciptakan sesuka hati di kala waktu senggang selama berlatih. Toh, binatang-binatang siluman di dalam dimensi tersebut memang belum memiliki nama. Kenangan bersama gurunya merasuk ke dalam jiwa, belum lama rasanya waktu berlalu. 

Melayang terbang tanpa arah dan tujuan, waktu berlalu cepat. Kum Kecho tak tahu apa yang ia lakukan di tempat ini. Apakah demi nostalgia masa lalu…? Ataukah ada sesuatu yang menarik dirinya tanpa ia sendiri sadari. Di sela-sela pephonan maha raksasa dan menjulang menjangkau langit, Kum Kecho larut dalam penjelajahan entah kemana. 

“Apa pun yang kiranya terjadi… Jangan pernah sekali-sekali melangkah ke arah pohon itu…,” seorang lelaki dewasa dengan berbagai rupa rajah di permukaan tubuhnya, memperingatkan. 

Kum Kecho tersentak sadar. Ingatan kepada sang guru segera pupus. Sebagai ganti, jauh di hadapannya, sebuah pohon terlihat berdiri kokoh seorang diri. Ibarat terkucilkan, tak ada satu pun tumbuhan lain yang hidup dalam radius satu kilometer dari pohon. Bahkan, serangga-serangga raksasanya yang beterbangan atau menempel pada pohon, tak satu pun yang berani mendekat ke pohon itu. 

Bagi Elang Wuruk, peringatan Pangkalima Rajawali sang guru merupakan amanah yang perlu ia taati tanpa terkecuali. Sang guru merupakan tokoh yang paling ia hormati dan sanjungi. Akan tetapi, pandangan itu adalah di kala dirinya masih hidup sebagai Elang Wuruk sang Putra Mahkota Negeri Dua Samudera. 

Saat ini, dirinya bukan lagi Elang Wuruk. Ia adalah Kum Kecho! 


===


“Haaaahhh… Dia lagi…,” gerutu Komodo Nagaradja sambil menghembus napas kesal. “Lagi-lagi dia…” 

“Bersiaplah Komodo Nagaradja…” Ginseng Perkasa menebar mata hati penuh kesiagaan. 

“Sampai kapan kalian akan melindungi anak ini…?” tetiba terdengar suara yang dalam. Datangnya dari tokoh ketiga, wujudnya seekor burung rajawali. 

Sesungguhnya, roh Nyaru Menteng merupakan roh yang teramat sangat kuat. Hasratnya untuk mengamuk dan membinasakan tiada mudah dibendung. Bahkan bagi tokoh sekelas Pangkalima Rajawali, ia harus melewati tempaan berat dan waktu yang panjang demi menaklukkan dan memanfaatkan kemampuan roh tersebut. Tak heran bilamana hampir seluruh anggota suku dayak meragukan rapalan seorang anak remaja. 

Bila demikian, bagaimana dengan dengan Bintang Tenggara…? Apakah anak remaja itu benar-benar dapat memanfaatkan Rajah Roh Nyaru Menteng, sang Dewa Perang yang menguasai angin, halilintar dan api!?

Jawaban sejatinya, adalah tiada mungkin, bahkan mustahil, bagi seorang anak remaja Kasta Perak Tingkat 1. Bahkan dengan memiliki garis keturunan Balaputera dan Tenggara sekalipun, masih mustahil bagi seorang anak remaja untuk dapat mengerahkan kemampuan roh sekelas Nyaru Menteng. Pertama, diperlukan jiwa dan raga yang kuat untuk dapat menampung roh tersebut. Kemudian, mata hati haruslah sangat kuat demi bertahan dari pengaruh roh dengan hasrat mengamuk yang teramat tinggi. 

Intinya, bagi seorang anak remaja adalah tindakan mustahil untuk menjalin hubungan dengan roh Nyaru Menteng. Belum waktunya. Bila nanti sudah dewasa dan berada pada Kasta Emas tingkat atas, barulah memungkinkan untuk mencoba. Maka dari itu, keraguan Dewan Dayak yang mengamati berlangsungnya upacara adat, sangatlah beralasan. 

Akan tetapi, anak remaja yang kita maksud bukanlah sembarang anak remaja. Ia memiliki mustika tenaga dalam cadangan dan merupakan induk semang dari Akar Bahar Laksamana yang merekat sebagai benalu. Ia memiliki tubuh yang diperkuat oleh otot-otot ekor siluman sempurna. Ia memiliki dua jiwa nan sangat kuat yang senantiasa hadir bersamanya!

Fakta yang terakhir itu, adalah faktor penentu utama bagi Bintang Tenggara meminjam kemampuan roh nan digdaya. 

“Wahai Roh Nyaru Menteng… sungguh aku menghormati engkau sebagaimana aku menghormati Pangkalima Rajawali,” tegas Komodo Nagaradja. “Oleh karena itu, setiap kali engkau memenuhi panggilan, maka setiap kali itu pula aku akan datang menyambut.”

“Wahai Roh Nyaru Menteng… Kami mohon agar engkau bersedia meminjamkan sekelumit kemampuan. Pada waktunya nanti, aku Ginseng Perkasa, akan membayar berkali lipat atas dukungan yang telah engkau berikan.” 

Di saat yang sama, Jenderal Ketiga dan Jenderal Keenam dari Pasukan Bhayangkara menebar mata hati. Keduanya membentengi Bintang Tenggara agar tiada dirasuk dan dibinasakan oleh Roh Nyaru Menteng. 

“Aarrgghhh…,” erang sang roh kurang puas. 

Di kala itu, arena telah dipersiapkan. Puyuh Kakimerah baru saja menumbuhkan jalinan rotan. Menjalar cepat di permukaan lembar daun raksana, rotan-rotan tersebut menjerat kaki dan mengunci gerakan dua belas remaja yang baru saja tiba. 

Bintang Tenggara membuka dan mengarahkan telapak tangan ke arah lawan... 

“Guntur Menggelegar!”

Kilatan petir bergemuruh dan siap menyambar. Jurus ini adalah jurus tunggal dari unsur kesaktian petir. Jurus yang sangat sederhana untuk melesatkan petir dari telapak tangan, yang didapat dari gulungan naskah milik Perguruan Duta Guntur di Kota Ahli. 

Akan tetapi, di saat petir melesat keluar dari permukaan tangan Bintang Tenggara, segenap ahli yang menonton dapat merasakan bahwa detak jantung mereka terhenti! 

Mengapakah demikian terperangahnya? Karena petir yang melesat keluar dari telapak tangan Bintang Tenggara… berwarna hitam! 

Bila harapan para ahli baca sekalian adalah Bintang Tenggara akan merapal jurus baru, maka sungguh harapan yang muluk. Kemampuan Roh Nyaru Menteng bukan merupakan sebuah jurus, melainkan peningkatan unsur kesaktian yang menjadi dasar dari jurus. Dengan kata lain, kemampuan Roh Nyaru Menteng adalah mengubah sifat unsur kesaktian menjadi semakin lebih kuat dari pada sebelumnya! (1)

Baik Ginseng Perkasa maupun Komodo Nagaradja memahami betul bahwa kemampuan meningkatkan unsur kesaktian yang disajikan Roh Nyaru Menteng bukan merupakan isapan jempol. Telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri, betapa digdayanya tokoh terkuat di Pulau Belantara Pusat ketika beraksi. Atas dasar itu pula, kedua tokoh ini dengan suka rela mengerahkan kemampuan untuk memastikan agar Roh Nyaru Menteng dapat membantu tanpa mencelakai Bintang Tenggara. 

“Beledar!” 

Gemuruh halilitar hitam terdengar keras. Petir yang melesat keluar dari permukaan telapak tangan perwakilan Dayak Kaki Merah, menyambar deras ke arah lawan yang telah terkunci kakinya karena jalinan rotan. Dari satu tubuh ke tubuh berikutnya, halilintar berwarna hitam terus menyambar dan menyegat hampir di saat yang bersamaan!

Rintih kesakitan terdengar pilu ibarat diiris sembilu. Kedua belas lawan serta merta kaku di tempat!

Kurang dari tiga detik, Bintang Tenggara mengatupkan telapak tangan dan membatalkan jurus. Bila lebih dari tiga detik merapal halilitar hitam, maka lawan akan mati tersegat. Lebih dari lima detik, maka hentakan balik halilintar hitam tiada dapat diredam lagi oleh Sisik Raja Naga, sehingga Bintang Tenggara yang tersengat dan akan kehilangan nyawa!

Sungguh peningkatan kemampuan yang mematikan! 



Catatan:

(1) Di dalam dunia game, MMORPG, peningkatan kemampuan ini dikenal dengan nama ‘Buff’. 

Pada dasarnya buff di dalam game digunakan untuk menambah maupun memperkuat berbagai jenis stat (atk-def-dex, dll.), efek, segala jenis skill, maupun resistance (ketahanan) atau senjata yang ada pada karakter di dalam game.

Dengan adanya buff, seorang player atau pemain game dapat memperkuat karakter yang dimainkannya, memperkuat anak buahnya (minion), memperkuat teman satu tim, memperkuat hewan peliharaan (pet), memperkuat senjata, dan lain sebagainya. 

Pada intinya, buff digunakan untuk memperkuat performa karakter yang ada sehingga ia memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. 

Buff ada yang memiliki sifat sementara, ada juga yang bersifat permanen.