Episode 39 - Tigapuluh Sembilan



“Andarra.”

Darra menoleh mendengar namanya dipanggil. Abrar sedang berdiri di depan kelasnya.

“Makan,” kata Abrar singkat. Darra menggeleng. “Atau kamu mau makanannya aku bawain ke sini?”

Darra langsung melotot ke arah Abrar, dan dia tahu kakaknya itu tidak akan main-main dengan ucapannya. Mau tidak mau Darra bangkit lalu mengikuti Abrar. Mereka berpapasan dengan Dika dan Agung di tangga.

“Mau ke mana?” tanya Agung.

“Makan,” jawab Abrar tanpa menghentikan langkahnya sementara Darra hanya menunduk di belakangnya.

“Kenapa sekarang mereka barengan terus?” tanya Agung setelah Darra dan Abrar melewati mereka.

“Mana gue tahu,” jawab Dika ketus sambil meneruskan langkahnya menaiki tangga.

“Bukannya mereka emang digosipin pacaran ya?” lanjut Agung sambil membuntuti Dika ke arah kelas XII Sos 3. “Apa jangan-jangan karena waktu di Cimacan kemarin elo nggak ngaku kalau pacaran sama Darra, makanya Darra jadi pacaran sama Abrar?”

“Abrar orangnya nggak gitu,” sahut Dika sambil duduk di bangku di depan kelas. Agung langsung memukul lengannya.

“Nggak gitu apanya? Emangnya dia tahu kalau kalian pacaran? Kalau nggak tahu, ya udah pasti Abrar nggak ragu-ragu buat deketin Darra, lah.” Agung merendahkan suaranya. “Kayak gue dulu. Gue kira kan cowok itu Abrar, makanya gue nggak jadi nembak Darra. Gue nggak mau kalau harus berantem sama teman gara-gara cewek. Ternyata orangnya elo.”

“Terus kalau orangnya gue, kenapa?”

“Ya gue tetap nggak nembak, kan? Biarpun hubungan gue sama Rya begitu-begitu aja, nggak ada kejelasan, tapi gue nggak berniat deketin Darra lagi.”

“Berarti elo temenan sama dia cuma buat deketin dia aja, kan?”

“Sembarangan.”

“Buktinya, pas lihat dia punya cowok, terus elo musuhin dia sampai sekarang.”

Agung terdiam. Pandangannya menerawang. “Gue berhenti jadi temannya bukan karena dia udah punya pacar. Tapi...” Agung menghela napas. “Dari awal gue nggak yakin dia emang mau berteman sama gue. Gue nggak tahu apa-apa soal dia, dia nggak pernah curhat ke gue. Jadi rasanya gue ini sama aja kayak teman sekelas dia yang lain, yang berhubungan karena kita sekelas. Bukan karena berteman dekat.”

“Jadi elo bertepuk sebelah tangan, bukan cuma soal perasaan, tapi juga pertemanan?” ledek Dika.

“Sialan.”

~***~

Siang itu Darra dan teman-teman sekelasnya pergi ke lapangan depan untuk pelajaran olahraga. Mereka duduk-duduk di teras sambil menunggu Pak Puji tiba. Rin yang sedang kurang sehat terpaksa tidak bisa mengikuti pelajaran dan hanya ikut duduk-duduk bersama mereka.

Darra melengos saat melihat Rudi menggotong palang penanda kelas untuk upacara setiap hari Senin. Apa mereka akan melompati palang? Darra tidak terlalu menyukai pelajaran olahraga. Mungkin karena ia tidak terlalu suka dengan kegiatan di luar ruangan. Waktu kecil Darra memang senang memanjat pohon, tapi bukan berarti dia juga menyukai kegiatan sportif.

Tiba-tiba terdengar bunyi peluit dari arah belakang mereka. Murid-murid langsung berhamburan menuju lapangan, termasuk Darra.

“Ayo, buat empat baris ke belakang!” instruksi Pak Puji. Murid-murid menurutinya.

Setelah melakukan pemanasan, Pak Puji meminta Rudi untuk menjejerkan palang-palang tersebut lalu meminta Rudi untuk memberi contoh cara melompati palang dengan benar. Darra melengos saat Pak Puji meminta murid-murid bergiliran melompati palang untuk mengambil nilai minggu depan.

“Palangnya tinggi begitu, kakiku mana sampai,” bisik Maya pada Darra.

“Aku juga nggak bisa lompat kok, May,” sahut Darra balas berbisik.

Setelah itu teman-temannya bergiliran melompati palang. Darra sempat terpukau saat Dika bangkit dan menunggu gilirannya di belakang Emil. Kemudian cowok itu mengambil ancang-ancang sebelum berlari dan melompati seluruh palang dengan mudah. Ah, tentu saja, Dika memang dikenal atletis. Belum lagi kakinya yang panjang, tentu tidak sulit melakukannya.

“Kok kayaknya mereka gampang banget ya lompatinnya?” bisik Maya, membuat Darra semakin gugup. Terutama karena giliran mereka hampir tiba.

Akhirnya Darra dan Maya maju untuk melakukan lompatan. Maya yang berada di depan Darra berlari lebih dahulu sebelum berhenti di depan palang lalu melompatinya perlahan, disusul oleh tawa teman-teman sekelasnya. Ia melakukan hal yang sama untuk palang yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Mau tidak mau Darra ikut menahan senyum. Andai saja dia memiliki kepercayaan diri di depan orang-orang seperti Maya.

“Ayo, Andarra!” seru Pak Puji mengagetkan Darra.

Darra mengambil ancang-ancang sambil menghela napas dengan gugup. Kemudian ia berlari dan melompati palang di depannya. Semua berjalan baik hingga palang yang ketiga. Tanpa sengaja kaki kanan Darra tergelincir dan mendarat pada pergelangan kakinya.

Darra terhuyung dan buru-buru berpegangan pada tembok di hadapannya sementara teman-teman sekelasnya menyoraki dan menertawakannya. Darra terduduk di tanah karena kaki kanannya tidak bisa menopang tubuhnya. Ia memegangi kakinya yang saat itu tidak bisa ia jelaskan keadaannya. Tidak ada rasa nyeri atau sakit, hanya ada rasa aneh dari pergelangan hingga ke telapak kakinya.

“Ada yang luka, nggak?” tanya Pak Puji yang tiba-tiba sudah menghampiri Darra.

Saat Pak Puji memegang mata kaki Darra, barulah Darra merasakan nyeri di sekujur kakinya dan membuatnya tersentak.

“Keseleo ini,” kata Pak Puji. “Kamu istirahat aja. Minta es batu di kantin, terus tempelin di kaki kamu yang sakit.”

Pak Puji membantu Darra bangkit dan memapahnya menuju Rin. Darra mengerenyit karena rasa sakit yang hebat setiap kali kaki kanannya menyentuh tanah sementara ia berusaha menghindari pandangan teman-temannya. Rin langsung bangkit dan menghampiri Darra.

“Kamu temani dia. Kalau perlu, ke UKS minta salep atau obat gosok,” kata Pak Puji pada Rin.

“Iya, Pak,” jawab Rin. Ia memapah Darra masuk ke bagian dalam sekolah lewat gerbang samping.

Mereka pergi ke kantin untuk meminta es batu lalu mengompres kaki Darra yang terkilir. Setelah itu mereka pergi ke ruang kesehatan untuk meminta salep dan obat untuk Rin. Pak Puji kembali menengok keadaan mereka saat mereka menghabiskan waktu hingga jam istirahat kedua di ruang kesehatan.

“Kenapa makin bengkak ini? Kamu kasih es batu nggak tadi?” tanya Pak Puji sambil mengamati kaki Darra.

“Iya, Pak. Udah dikasih salep juga,” jawab Darra.

“Nggak apa-apa. Kalau keseleo emang prosesnya begitu, pasti ada pembengkakan,” kata Pak Puji. “Ya udah. Nanti kalau pulang sekolah kamu nggak bisa naik bis, kamu temui saya aja. Nanti saya kasih ongkos untuk naik ojek atau bajaj.”

“Iya, Pak,” jawab Darra.

Setelah itu Darra dan Rin kembali untuk melanjutkan pelajaran terakhir. Darra sempat kesulitan untuk berganti pakaian, bahkan semakin lama kakinya sudah tidak muat di sepatunya lagi.

“Kamu pulang gimana, Ra? Emangnya bisa naik-turun bis?” tanya Rin cemas.

“Ya... Kalau emang mesti naik bajaj sih nggak apa-apa, deh,” jawab Darra. “Tapi aku nggak mau minta uang sama Pak Puji. Kan aku keseleo karena kesalahanku sendiri.”

Setelah bel tanda pulang berbunyi, seperti biasa Darra tetap duduk di mejanya untuk menunggu hingga suasana tidak terlalu ramai. Darra menoleh saat Rin bangkit dari kursinya. Ia mengawasi Rin yang berjalan memutar menuju meja Dika yang sedang merapikan buku-bukunya. Darra mengalihkan pandangannya. Ia bahkan tidak mau tahu apa yang mereka bicarakan.

“Kok pacar kamu gitu banget, sih?” sungut Rin saat kembali ke kursinya. Darra menoleh ke arahnya. “Aku minta tolong anterin kamu pulang, dia bilang dia ada urusan.”

“Biarin aja. Aku kan nggak minta kamu nanya ke dia,” balas Darra. Walau dalam hati ia sempat kecewa dengan jawaban Dika. Bahkan cowok itu tidak menanyakan keadaannya.

Akhirnya lantai dua berangsur-angsur sepi. Darra menenteng kedua sepatunya sementara Rin membantunya bangkit. Emil ikut memapah Darra keluar dari kelas lalu berjalan perlahan menuju tangga. Abrar, Agung, Ivan, dan Fajri yang sedang mengobrol di jembatan menuju kelas XII Sos 4 langsung menoleh melihat mereka.

“Kenapa?” tanya Abrar sambil buru-buru menghampiri Darra.

“Keseleo waktu olahraga,” gumam Darra.

“Tolong cariin taksi di depan,” kata Abrar pada Ivan yang langsung menuruni tangga bersama Fajri. Abrar memindahkan ransel yang digendongnya ke depan. “Naik.”

“Nggak usah!” tolak Darra kaget ketika tiba-tiba Abrar berjongkok di depannya.

“Terus kamu turunnya gimana? Loncat?” tanya Abrar dengan nada tajam.

Darra menoleh ke arah Rin yang kemudian mengambil tas dan sepatu Darra. Akhirnya ia naik ke punggung Abrar lalu menuruni tangga. Rupanya Pak Puji sudah menunggunya di depan ruang guru.

“Kakinya tambah bengkak. Kamu pulang naik apa?” tanya Pak Puji.

“Dia pulang sama saya naik taksi, Pak,” jawab Abrar.

“Ooh, rumah kalian dekat? Ini buat ongkos pulang,” kata Pak Puji sambil merogoh saku celana dan mengeluarkan dompetnya.

“Nggak usah, Pak. Dia kan adik saya,” tolak Abrar.

Astaga, Darra hanya bisa membenamkan wajahnya di bahu Abrar. Ia bahkan tidak berani melihat reaksi Dika dan Agung di belakang mereka. Setelah berpamitan dengan Pak Puji, mereka keluar dari gedung sekolah. Sebuah taksi sudah menunggu di depan. Fajri membantu membukakan pintu sementara Abrar memasukkan Darra ke dalam taksi dengan hati-hati.

“Ini tas kamu,” kata Rin sambil menyodorkan tas dan sepatu Darra. “Hati-hati, ya. Kalau belum sembuh, besok nggak usah masuk.”

“Iya. Makasih,” balas Darra. Dilihatnya Abrar merogoh sakunya lalu mengeluarkan kunci motornya.

“Tolong bawa ke rumah, ya,” kata Abrar sambil memberikan kunci motornya pada Agung. Setelah itu Abrar masuk ke dalam taksi dan duduk di sebelah sopir.

Mereka pergi ke dokter untuk merawat kaki Darra sebelum akhirnya pulang ke rumah. Lagi-lagi Abrar memaksa untuk menggendong Darra ke lantai dua. Untunglah Aline sedang tidak ada di rumah. Bahkan Abrar membukakan pintu kamar yang berada di sebelah kamarnya sendiri.

“Kamu sementara tidur di sini aja dulu. Daripada kamu tidur di lantai,” kata Abrar sambil menggendong Darra masuk ke dalam kamar.

“Nggak, ah,” tolak Darra. “Emangnya ini kamar siapa?”

“Kamar kamu,” jawab Abrar sambil menurunkan Darra di tempat tidur. Darra tercengang mendengarnya. “Kamu tunggu di sini. Aku ambilin baju kamu.”

Darra tidak sempat mencegah karena Abrar langsung keluar dari kamar lalu menutup pintu. Sepeninggal Abrar, Darra memandang berkeliling ruangan. Kasur yang empuk, lemari yang besar, meja belajar, hingga meja rias. Benarkah ini kamarnya? Bahkan rasanya kamar ini lebih besar dari kamar Abrar.

Darra menoleh begitu pintu terbuka. Abrar muncul dengan kaos dan celana Darra di tangannya.

“Kamu ganti baju dulu, aku mau keluar cari makanan,” kata Abrar sambil meletakkan pakaian Darra di kasur.

Abrar membuka tirai jendela lalu keluar lagi, tidak lupa menutup pintu kamar. Darra berganti pakaian lalu kembali duduk di kasur. Ia merasa canggung di sini. Mungkin karena ia tidak terbiasa berada di kamar yang luas, atau duduk di kasur yang empuk. Ia tidak bisa tidur di kamar ini. Aline akan mengusirnya jika ia tahu Darra masuk ke kamar ini tanpa seijinnya.

Tak lama kemudian terdengar suara motor memasuki halaman. Darra mengintip melalui jendela dan melihat Abrar turun dari motor bersama Agung. Darra buru-buru menutup tirai dengan kaget.

Astaga, Darra sama sekali lupa kalau tadi Abrar meminta Agung mengantarkan motornya ke rumah. Bagaimana ini? Darra harus memastikan tidak membuat suara agar Agung tidak mengetahui keberadaannya.

Darra menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak bergerak saat mendengar langkah kaki menaiki tangga. Ya ampun, ia tidak ingat untuk memeriksa jika tadi Agung langsung pulang atau ikut masuk bersama Abrar.

Darra terlonjak kaget saat pintu kamarnya diketuk.

“Kamu udah jadi ganti baju?” tanya Abrar dari luar.

“U—udah,” jawab Darra gugup.

Pintu terbuka. Abrar melongokkan kepalanya ke dalam kamar. “Ada yang mau nengokin kamu,” katanya.

Darra melongo. Siapa? Apa tadi ada teman-temannya yang lain yang ikut dengan mereka?

Abrar membuka pintu lebar-lebar lalu menyingkir, memperlihatkan Agung yang sama kagetnya dengan Darra.