Episode 297 - Keterbatasan (1)


Seorang gadis belia bermain tangkas. Gerakannya gemulai seolah sedang menari legong. Rambut nan panjang dikepang satu mengalun-alun ke semerata penjuru mengikuti pergerakan tubuh. Pada genggaman kedua tangannya, sepasang kapak kecil bergerak lincah layaknya irama penari kecak. Senjata jarak dekat yang biasa dikenal sebagai kandik di tempat asalnya, mengalunkan hantaman demi hantaman. Apa pun yang ditebas, maka akan menghasilkan ledakan-ledakan bermuatan api nan beruntun. 

Ada yang terlihat mengerikan dari gadis ini. Pada bagian dada sampai ke bawah perut, sebentuk wajah garang terpampang. Sepasang mata belok dan besar, hidung bulat dan mulutnya menganga memperlihatkan taring-taring nan haus darah. Benda tersebut tak lain berfungsi sebagai perisai, yang biasa digunakan di saat sedang serius bertempur. Fungsi lain dari dari baju zirah ini juga untuk menutupi lambatnya pertumbuhan kekenyalan di dada! 

Terlepas dari itu, yang menarik perhatian terletak pada langkah kakinya. Ia tak berpijak pada tanah, melainkan melangkah di udara. Jika diperhatikan dengan seksama, maka terdapat sesuatu yang tak lazim pada kedua kaki sintal gadis belia tersebut. Pergelangan kakinya demikian ramping. Menyusur perlahan semakin ke atas, maka akan mengantar pandangan pada lekuk betis yang panjang dan berisi. Ukurannya betis pas dalam genggaman, kemudian dibalut oleh sekujur kulit kaki kuning langsat nan demikian mulus. Hanya rambut-rambut halus yang menghuni betis, sehingga ingin rasanya meraup sepasang betis itu. 

Keindahan sepasang betis bukanlah ketidaklaziman yang dimaksud. Memanglah indah demikian menggoda oh itu betis, sehingga ingin rasanya mengusap-usapkan wajah pada permukaannya… Akan tetapi, yang turut menarik perhatian terhadap sepasang betis, adalah sebentuk rajah bergambar cakar burung pada masing-masing bagian. 

Berkat keberadaan sepasang rajah tersebut, Canting Emas nan berbetis indah aduhai, dapat berpijak dan melangkah leluasa di udara. Udara ibarat memadat, sehingga dapat dipijak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwasanya roh yang saat ini memenuhi panggilan gadis belia tersebut, merupakan roh yang memiliki unsur kesaktian angin! 

Sebagaimana lazim diketahui, hanya ahli tertentu saja yang dapat mengerahkan lebih dari satu unsur kesaktian. Misalnya, Embun Kahyangan memiliki dua unsur kesaktian secara bersamaan, yaitu air dan angin, sehingga ia dapat menggunakan Selendang Batik Kahyangan. Kemampuan tersebut adalah kelebihan dari garis darah yang diturunkan oleh orang tuanya. 

Selain keadaan khusus seperti Embun Kahyangan, maka para ahli dapat menekuni jalan keahlian sampai kepada Kasta Emas, untuk dapat mengerahkan lebih dari satu unsur kesaktian. Meski, masih ada satu catatan tambahan, ahli Kasta Emas harus telah membangun unsur kesaktian Inti, barulah dapat mengembangkan unsur kesaktian tambahan. 

Ada pula jalan pintas bagi ahli yang hendak memiliki lebih dari satu unsur kesaktian namun tak memiliki garis keturunan tertentu atau belum mencapai Kasta Emas. Jalan pintas dimaksud adalah dengan menempa atau membeli atau menelusuri reruntuhan untuk memperoleh senjata pusaka. Walau, senjata pusaka yang diimbuh dengan unsur kesaktian, memiliki keterbatasannya sendiri. 

Melalui pemanggilan roh, maka Canting Emas saat ini benar-benar dapat menggunakan dua unsur kesaktian secara bersamaan. Terlebih, karena unsur kesaktian angin yang memungkinkan untuk berjalan di udara berasal dari luar diri dan memiliki pasokan tenaga dalam yang terpisah, gadis belia tersebut tiada perlu memecah konsentrasi atau menghamburkan banyak tenaga dalam. Inilah kelebihan utama dari penggunaan Rajah Roh yang dimiliki oleh suku dayak di Pulau Belantara Pusat. 

Canting Emas terusmenampilkan betis nan indah dan melibas beriringan dengan kelompoknya. Lawan-lawan mereka didorong mundur! 

Pada permukaan lembar daun raksasa yang lagi, seorang ahli berpakaian cerah menebar mata hati yang bercabang dua. Benar, bukan cuma mampu menebar mata hati melingkar mirip radar dan memusatkan ke satu arah secara bersamaan, ia dapat pula memusatkan mata hati pada dua arah berbeda secara berkesinambungan. Saat ini, satu tebaran mata hati mengincar lawan, sedangkan tebaran mata hati yang kedua mengikuti pergerakan betis pada permukaan daun raksasa di sebelah. 

Ahli dengan gairah serta kemampuan istimewa dalam mengintip ini, memang terkenal luar biasa. Sangat piawai dalam pertarungan jarak dekat bila berhadapan dengan kaum hawa, serta unggul dalam pertarungan jarak jauh memanfaatkan sebentuk busur besar nan mewah. 

Aji Pamungkas hanya berdiri diam di belakang kelompoknya sembari melepaskan panah-panah angin yang melesat cepat. Rupanya, menebar mata hati secara bercabang tetap memakan konsentrasi sangat tinggi sehingga ia tak bisa banyak bergerak. Oleh karena itu, terpaksa ia berdiam di tempat sahaja. Pengorbanan diperlukan demi mencapai hasil yang didambakan, adalah prinsip yang tak pernah lekang dimakan zaman. 

Kendati wajib terus menikmati lekuk betis yang bergerak lincah di seberang sana, setiap satu anak panah yang ia lesatkan mengincar jitu. Dari garis belakang, tak satu pun anak panah yang luput, sehingga membuat kelompok lawan kewalahan menangkis dan menghindar di kala terlibat dalam pertarungan sengit. Karena dukungan serangan jarak jauh tersebut, berkali-kali anggota kelompok lawan terdorong dan terdesak. Oleh karena itu, mereka berupaya mengambil gerakan memutar demi mematikan ancaman yang datang melalui serangan jarak jauh. 

Sungguh usaha membungkam berjurung kesia-siaan belaka. Serangan-serangan darikelompok lawan kesulitan mengincar tubuh Aji Pamungkas. Mereka tak dapat menemukan celah, karena dari permukaan tanah mencuat semacam kaki-kaki gurita yang terbuat dari jalinan air. Ukurannya setinggi tubuh, sigap mengalun deras demi melindungi tubuh tokoh berambut belah tengah itu. 

Jika ditilik, dari celah depan kemeja pesilat yang Aji Pamungkas kenakan, tiada tumbuh rambut. Padahal, sangat ia mendamba rambut pada permukaan dada agar terkesan semakin jantan. Tak terbilang sudah banyaknya ramuan penumbuh rambut yang pernah ia balurkan, namun tetap saja dadanya tiada menampilkan hasil yang diimpi-impikan. Kini, yang terlihat pada permukaan dada justru merupakan rajah tentakel gurita! 

Di atas lembar daun raksasa yang lain lagi, suara berdentam sambung-menyambung. Gagah dan perkasa dua sosok remaja lelaki bertubuh kekar mengamuk. Raut wajah dan bentuk tubuh keduanya sama persis layaknya sepasang kakak beradik kembar. Yang sesungguhnya berlangsung, adalah kenyataan bahwa dua Panglima Segantang yang melepaskan pukulan-pukulan tangan kosong dengan naluri layaknya binatang buas. 

Pada kening salah satu Panglima Segantang, terlihat rajah tubuh orangutan. Dengan kata lain, roh yang datang kepadanya bukan memberikan kemampuan unsur alam. Roh orangutan yang sejatinya tanpa jasad, dapat hadir mengemuka sebagai replika diri yang nyata. Mau disebut sebagai klon bayangan atau kage bunshin sekali pun, silakan saja. Yang jelas, seorang saja Panglima Segantang sudah sangat menyusahkan, apalagi dua! 

Bersama kelompoknya, Panglima segantang melibas maju. Satu langkah yang ia ambil, berarti beberapa langkah mundur kelompok lawan. Tanpa belas kasihan, mereka membantai tanpa ampun.

Entah karena kebetulan, atau sudah diatur dengan sedemikian rupa, ketiga ahli tersebut berada dalam kelompok-kelompok yang berbeda. Tak sulit untuk menebak, bahwa motivasi mereka mengikuti upacara adat ini berbeda-beda pula adanya. 

Perlu diketahui bahwasanya Panglima Segantang tiba di Pulau Belantara Pusat segera setelah menerima surat pemberitahuan dari Canting Emas perihal Kuau Kakimerah yang terpaksa pulang kampung. Dengan kata lain, ketibaan Panglima Segantang dan Canting Emas hampir secara bersamaan. Aji Pamungkas lain lagi ceriteranya, ia sudah tiba lebih dahulu karena segera menyusul tak lama setelah kepergian Kuau Kakimerah. Tak sulit ditebak, bahwa di tengah luasnya Pulau Belantara Pusat, ketiga remaja tersebut tiba di lokasi yang berbeda-beda dan bergabung dengan kelompok suku yang berbeda-beda pula. 


Balian Bapuyu Huludaya sudah berada melayang tinggi jauh di atas selembar daun raksasa. Ia mengamati cermat Rajah Roh yang berada pada permukaan kulit di bahu Bintang Tenggara. Tak salah lagi, ia mengenal rajah tersebut. Dalam pengamatannya, selama ratusan tahun banyak ahli yang hendak menjalin hubungan dengan roh Nyaru Menten. Akan tetapi, banyak yang tak dapat menarik perhatian roh tersebut, sedangkan yang dapat menarik perhatian kesemuanya menghembuskan napas karena tak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan sang roh. Peruntungan seperti apa yang dimiliki anak remaja itu? Siapakah sesungguhnya jati dirinya? Pertanyaan menyeruak di dalam benak sang tetua. 

Di sisi tempayan di sebuah lembah, Enggang Kakimerah menyaksikan kelangsungan upacara adat dengan seksama. Ia menarik napas lega. Tak seorang pun mengetahui bahwa di saat kepala Bintang Tenggara berada di dalam cengeraman cakar roh Nyaru Menteng, Enggang Kakimerah sempat panik. Ia lalu berupaya memutus paksa jalinan mata hati Bintang Tenggara yang tenggelam dalam balampah. Tiada ia menyangka bahwa anak remaja tersebut akan menarik perhatian roh nan mengerikan. Akan tetapi, keterlambatan dirinya memutus jalinan mata hati justru memberi waktu bagi Bintang Tenggara untuk memberikan jawaban yang tepat kepada sang roh. 


Anggota kelompok yang lain, hanya mengamati gelagat kedua perwakilan dari Dayak Kaki Merah. Sebagaimana telah dijanjikan sebelumnya, bahwa pada babak ini hanya dua perwakilan dari Dayak Kaki Merah sahaja yang akan bertarung menyingkirkan lawan. Meski, bila keadaan mendesak, anggota kelompok yang lain pun akan turun tangan demi menumpas lawan. 

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan… Rotan Bunian: Bebat!”

Puyuh Kakimerah sontak menumbuhkan jalinan rotan. Menjalar cepat pada permukaan lembar daun raksana, rotan-rotan tersebut segera menjerat kaki demi mengunci gerakan dua belas remaja yang baru saja tiba. Tindakan ini sangat perlu dilakukan agar rekannya nanti dapat melancarkan jurus sesuai harapan. Puyuh Kakimerah adalah tokoh yang paling memahami bahwa meski dapat menjalin hubungan dengan roh yang perkasa, Bintang Tenggara memiliki keterbatasan. 

Keterbatasan tersebut tak lain disebabkan karena permahaman yang rendah, serta waktu yang terlalu singkat dalam berlatih.