Episode 21 - Gangguan Sihir di Rumah Niken (2)



Jam menunjukkan pukul 18.00, dimulailah kejadian aneh di rumah yang besar dan mewah ini, di awali dengan udara dingin berhembus dari arah kamar kak Beni, di sertai dengan Buhul sihir yang ada di dalam baskom kaca bergerak sendiri.?“Sepertinya sudah dimulai, lihatkan benda ini bergerak sendiri,” ucapku sambil menunjukkan baskom kaca yang aku letakkan di atas meja.

“Kok bisa ya ed, jadi takut aku,” seru Wildan di sampingku.

“Ih takut aku Ed,” ucap Mei sambil memeluk lengan kananku.

“Jadi apa kalian akan tetap ikut melihat,” kataku kepada mereka bertiga.

Mereka saling pandang. “Kami akan menemanimu Ed, walaupun kami tidak bisa membantu banyak, paling tidak kami bantu menemanimu,” ucap Wildan paham akan resikonya saat ia ikut denganku.

“Baiklah, ingat pesanku barusan,”

Aku memanggil Rijalul Ghaib untuk menemaniku, sedangkan mbah kosim aku biarkan dia menjaga rumahku, karena ibuku sepertinya sedang hamil muda, pasti rawan dengan gangguan gaib.

“Al-Hasim hadir,” ucapku dalam hati memanggil khodam Al-Hasim.

“Iya dek Edi, ada yang bisa saya bantu,” seru Al-Hasim yang berdiri di sampingku.

“Tolong temani saya,” kataku melangkahkan kakiku menuju kamarnya kak Beni.

”Baik Dek,”

Aku melaksanakan dulu sholat sunah Hajad dan sholat magrib, meminta kepada Allah SWT untuk meminta perlindungannya supaya dimudahkan menjemput sukma kak Beni. Selesai sholat aku bergabung dengan teman-temanku dan menuju ke dalam kamar kak Beni. Sebelum masuk kamar aku membaca amalan terlebih dahulu. Aku pegang gagang pintu kamar sambil mengingatkan kepada mereka.

“Kalian tetap di belakangku,” kataku memalingkan wajahku ke belakang.

“Oke,” mereka mengangguk tanda mengerti.?Aku buka pintu kamar pelan-pelan dengan posisi mengintip, kemudian aku hidupkan lampu ruangan yang di sebelah pintu. Aku memandang tempat tidur kak Beni.

“Loh kok gak ada,” ucapku heran melihat tubuh kak Beni tidak ada di atas tempat tidur. Ternyata kak Beni berdiri di pintu ruangan pas dekat dengan wajahku, dengan ekspresi wajah kak Beni, pucat pasi, mata melotot, senyumnya menyeringai. 

“Ah, sialan,” aku mengumpat karena kaget dengan reflek menendang tubuh kak Beni dengan amalanku, yang mengakibatkan tubuhnya kak Beni terbang jauh.

“Ayo cepat masuk ke lingkaran,” ucap Wildan bergegas masuk ke dalam lingkaran yang aku tulis sebelumnya.

Mereka bergegas masuk ke dalam lingkaran, aku duduk di depan mereka sambil membawa baskom kaca yang berisi buhul sihir di depanku. Aku berdoa dan membaca amalan penyerangan langsung ke tubuh jin yang ada di dalam tubuhnya kak Beni.

”Arrrggghhhh...! Kenapa kau ikut campur, kembalikan itu,” ucap kak Beni dengan posisi seperti anjing yang hendak menerkam targetnya. Aku tidak ada toleransi dengan jin kafir, semua jin kafir yang menyakiti manusia harus pergi menjauh.

Sontak saja karena aku menolak menyerahkan buhul sihir, tubuh kak Beni mulai beraksi menyerangku. Posisi tubuhnya yang awalnya di atas ranjang tidurnya kemudian meloncat ke arahku seperti menerkam mangsanya.

“Bruuaakk..!” suara yang dihasilkan dari tabrakan tubuh kak Beni dengan benteng diriku. Karena dia sedang berada didepanku, aku serang dengan amalan yg diberi Guru Besar, ”Boom..” amalanku menyerang telak ke tubuh jin kafir langsung dia menggelepar di lantai kamar.

“Jangan ada yang keluar dari lingkaran,” ucapku kepada Niken yg hendak menolong kakaknya.

“Tapi Ed, kakakku,”

“Apa kau ingin kakakmu mati,” bentakku pada Niken dan dia langsung diam.

Sejenak kemudian, tubuh kak Beni berdiri lagi, dengan ekspresi wajah marah berlari ke arahku dan” boom..!” lagi-lagi menabrak dinding tak terlihat, setelah 3 kali mencoba menyerangku, jin jahat yang ada di dalam tubuh kak Beni sudah kuwalahan, dan saatnya menyerangnya untuk terakhir kali. Aku amalkan lagi teknik penyerangan dari guru besar dan ”Boom..!” tubuh kak Beni menggelepar dilantai dengan tidak adanya niat menyerangku lagi.

“Sudah saatnya menariknya keluar,” gumamku lirih. Aku berjalan mendekati tubuh kak Beni, aku dudukkan tubuhnya kemudian aku pegang punggunya dan aku sinkronkran energiku untuk menarik tubuh jin kafir dari dalam tubuh kak Beni. Setelah keluar dari tubuh kak Beni, aku angkat tubuhnya aku masukkan ke dalam rajah yang telah aku siapkan tadi.

“Tolong Al-Hasim musnahkan Jin kafir tadi,” perintahku kepada khodam yang menemaniku.

“Siap dek Edi,”

Aku meminta tolong kepada Al-Hasim untuk memusnahkan jin kafir yg bersemayam dalam tubuh kak Beni, beberapa saat kemudian Al-Hasim kembali.

“Tolong jaga tubuh saya Al-Hasim,”

“Baik dek Edi,”

Aku duduk bersila, menyelaraskan nafasku, aku buat tubuhku serileks mungkin, dan ”Wush..!” aku bisa melihat tubuhku yang sedang duduk dengan teman-temanku di belakang tubuhku, aku memberikan kode kepada Al-Hasim untuk pergi menjemput sukma kak Beni, aku melihat cahaya warna putih dan warna biru, karena aku sudah tau siapa pelakunya aku gak penasaran lagi, toh nanti bisa lihat dari ingatan kak Beni. Aku langsung masuk kedalam cahaya berwarna putih.

“Gelap,” satu kata dariku saat memasuki dimensi lain. Karena aku tidak bisa melihat apapun, aku membaca surah yang diberi tahu oleh guru besar, selesai membaca beberapa ayat, ak bisa melihat walaupun tidak begitu jelas. Banyak sekali jin di dunia ini, sudah seperti kampung manusia pada umumnya. Aku berjalan cukup lama setelah kesana kemari mencari sukma kak Beni, akhirnya aku menemukan titik terang, kak Beni duduk di sebuah batu dipinggir sungai dengan melihat ke dalam air, tapi, yang membuatku penasaran adalah siapa orang yang berdiri di samping kak Beni.

“Assallamualaikum…” salamku kepada orang yang disamping kak Beni dan,

“Pergilah, aku disuruh menjaga sukma orang ini,” begitulah kata dari jin tersebut.

“Hemm, siapa kau berani menyuruh ku pergi, terserahku akan pergi atau tidak,” balasku arogan.

“Dasar manusia tidak tahu terima kasih, jangan salahkan aku kalau kau mati disini,” kata jin tersebut bersiap menyerangku.

Kemudian jin jahat tersebut berlari ke arahku hendak menyerang, aku mengamalkan amalan benteng diri, sesaat sebelum tangannya mencoba mencakar tubuhku dan ”Bledar...!” pukulannya menabrak dinding tak terlihat dan berhenti di depan tubuhku sekitar 2 jengkal. Aku langsung menyerang dengan gaya taekwondo dan karate dari pengalaman bertarung dengan Bagus dan Ivan waktu MOS dulu. Aku bertarung imbang dengan jin jahat tersebut tapi aku salah, tubuhku terlalu lemah berlama–lama di dalam alam jin, hingga akhirnya aku sedikit demi sedikit terpojok. ”Dhuar...!” pukulan jin jahat melayang ke arahku dan berhasil mengirim aku terbang jauh, aku tidak terluka karena aku fokuskan pertahananku. Hingga energi kita saling bertabrakan.

“Bakal repot ini, masa aku harus kembali lagi, sudah ada didepan mata,” gumamku lirih hingga akhirnya aku kuwalahan dan hanya bisa bertahan, setelah jin jahat terus-terusan menyerangku, dan yang aku takutkan pun terjadi, amalan dinding pertahananku mulai retak karena tubuhku sudah hampir tidak kuat. Hingga akhirnya dinding kokohku hancur.

“Blarr...!” suara dinding tak terlihatku hancur, hingga sebuah pukulan dari jin jahat hampir mengenaiku, aku melihat seseorang berdiri di depanku, ya seseorang yang telah lama aku tunggu-tunggu kedatangannya, walaupun baru 3 hari tidak bertemu, akan tetapi rasanya sudah hampir 1 tahun tidak bertemu.

“Bos Edi tidak apa-apa,” kata pertama dari nyai Yun yang berdiri di depanku.

“Nyai Yun, Nyai sudah selesai bertapanya,” ucapku melihat nyai Yun berdiri di depanku.

“Sudah bos Edi, maaf telat bos Edi,”

“Tidak apa-apa Nyai, saya senang Nyai datang,”

“Jadi bagaimana bos Edi?” tanya nyai Yun sambil menahan pukulan jin jahat tersebut.

“Seperti biasa Nyai, tanpa ampun,”

“Baik bos Edi,”

Nyai menendang tubuh jin kafir hingga terbang jauh, kemudian nyai mengambil tusuk kondenya yang berada di rambut dan berubahlah menjadi sebuah busur panah berwarna keemasan. Nyai membidik jin jahat tersebut dan ”Wuss..!” anak panah nyai melesat ke arah tubuh jin kafir dan menembus tubuh jin kafir itu lalu menghilang, panah yang nyai Yun tembakan berubah lagi menjadi tusuk konde dan dirapikannya rambut nyai Yun yang tadinya terurai panjang untuk disanggul kembali dengan tusuk konde.

“Nyai makin lama makin kuat,”

“Terima kasih bos Edi, berkat bos Edi juga saya bisa kuat,”

“Ayo bos Edi, cepat kita balik tidak baik berlama-lama disini,”

“Sebentar Nyai,”

Aku menghampiri kak Beni yang duduk di atas batu dan aku menepuk pundaknya hingga dia sadar dari lamunannya.

“Benar dengan kak Beni?” tanyaku kepada sukma kak Beni.  

“Iya, kamu siapa?” jawabnya masih belum sadar akan sukma manusia dan jin.

“Sebentar kak,” aku melafalkan surah yang diberi tahu oleh guru besar untuk membedakan antara jin yang menyamar dengan sukma manusia.

“Oh benar dengan kak Beni, saya temannya kak Niken, kak Niken minta tolong ke saya untuk menolong kak Beni,” ucapku kepada kak Beni yang mulai sadar. 

“Ini benerankan, Niken adikku kamu gak bohongkan,”

“Engga kak, percaya saja sama saya,”

“Oke, aku percaya,”

“Nyai ayo balik,”

“Baik bos Edi,”

Nyai mengantar kami sampai dunia manusia, aku keluar dari cahaya putih bersama kak Beni dan nyai Yun. Aku lihat posisi mereka masih didalam lingkaran.

“Benar, itu tubuh kak Beni,” ucapku sambil menunjuk tubuh kak Beni yang terbaring dilantai.

“Benar itu aku, kok aku bisa lihat tubuhku, apakah aku sudah mati,”

“Hampir mati kak,” candaku kepada kak Beni.

“Kak Beni tunggu disini jangan kemana-mana,” sambungku kepada sukma kak Beni. Aku kembali ke tubuhku dan aku mulai membuka mataku. 

“Kalian bisa keluar sekarang,” ucapku kepada mereka yang masih di dalam lingkaran.

“Ed, bagaimana kakakku?” tanya Niken.

“Dia di sana,” aku menunjuk samping tubuh kak Beni yang tertidur di lantai

“Mana, kok aku gak bisa lihat,”

“Ya gak lah kak, masih juga dalam bentuk roh, bentar aku kembalikan dulu,”

Aku berjalan ke arah tubuh kak Beni, aku pegang sukmanya lalu aku arahkan dari kepala kak Beni lalu perlahan-lahan turun sampai ke dadanya dan sampai pusar aku hentakan. Sejenak kemudian tubuh kak Beni seperti di setrum oleh dokter yang gagal jantung, kemudian mata kak Beni mulai membuka, hingga kak Beni aku bantu untuk bisa duduk sendiri, aku netralisir dulu tubuh kak Beni dari aura negative, setelah selesai aku netralisir aku suruh kak Niken untuk ambil minum. Setelah minum aku rebahkan kak Beni di atas tempat tidurya, karena kak Beni masih sangat lemah, aku memberikan sedikit energiku ke kak Beni agar bisa pulih lebih cepat dan bisa menceritakan awal mula kejadian ini terjadi. Akhirnya kak Beni bisa duduk sendiri dan sedikit demi sedikit bisa berjalan walaupun masih perlu bantuan. Kita pergi keruang tamu di sana sudah ada ayah dan ibunya kak Niken. Kak Beni yang sedang dipapah oleh Wildan turun ke ruang tamu.

“Ini ada apa ramai-ramai ya,” ucap ayah Niken yang agak emosi karena pulang kerja.

“Loh Beni, sejak kapan kamu sembuh Nak,” tangis ibunya pecah melihat Beni yang bisa berjalan walaupun masih agak lemah.

“Beni, sejak kapan kamu sadar Nak,” ucap ayahnya sambil berlari menghampiri Beni.

“Baru saja Mah, Beni dibantu oleh temannya Niken,” kata Beni berpaling melihat ke arahku.

“Yang mana Nak yang bantu kamu?” tanya ayahnya Niken.

“Dia Ya,” Beni menunjuk ke arahku.

“Makasih Nak atas bantuannya, jika tidak adek bantu aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Beni,” ucap ibunya Beni kepadaku.

“Hehe, bukan saya sendiri kok tante yang bantu, semua yang ada disini ikut membantu,”

“Makasih ya semuanya, sudah bantu Beni anak tante,”

“Sama-sama tante,” jawab Mei kepada ibunya Beni.

“Ya sudah, ayo semua makan bareng dirumah tante sebagai ucapan terima kasih tante,” ajak ibunya Beni.

Kami semua makan malam dirumah Beni dengan canda tawa mereka yang melihat Beni sudah bisa tersenyum.

“Jadi apa yang terjadi dengan anak tante Nak Edi?” tanya ibunya Beni penasaran.

“Maaf ya tante, nanti setelah makan akan saya jawab semua pertanyaan Om dan Tante,” ucapku kepada ibunya Beni, karena jujur aku sangat lapar. Banyak sekali energi yang aku habiskan di pertempuran tadi, dan sejujurnya aku gak mau jika sedang makan diganggu.

Setelah makan selesai, kami duduk di ruang tamu dengan di temani oleh Niken, Beni, Wildan dan Mei. Hingga akhirnya orang tua Beni datang ikut bergabung. Setelah basa basi dimulailah pertanyaan penasaran mereka kepadaku.

“Jadi Nak Edi, apa yang terjadi dengan Beni anak saya?” tanya ibunya Beni.

“Tante percaya dengan jin atau hantu atau setan,” kataku kepada ibunya Beni.

“Saya percaya Nak Edi.”

“Baik, kalau tante percaya akan mudah bagi saya menjelaskan, anak tante diguna-gunai oleh seseorang karena sakit hati oleh perlakuan atau mungkin perkataan kak Beni dengan cara, mengambil sukma kak Beni dan di asingkan ke alam jin,”

“Astagfirulahal’azim, kok tega mereka Nak,”

“Ya, saya tidak tahu isi dari hati manusia tante,” kataku sambil mengangkat kedua bahuku. “Saya jemput sendiri sukma kak Beni di alam jin,” sambungku kemudian. 

“Terus ini apa Nak Edi?” tanya ayahnya Beni menunjuk pocongan kecil dalam baskom kaca yang aku pegang.

“Oh, ini media guna-guna yang ditaruh dihalaman rumahnya Om untuk mencelakai kak Beni,”

“Isinya apa Nak Edi,”

Aku kemudian mengambil pocongan kecil dalam baskom kaca, lalu aku membukanya.

“Ini ada potongan rambut, mungkin miliknya kak Beni lalu ada tanah kuburan, dan potongan kuku dari kukunya kak Beni serta bekas darah dan bunga bungaan yang sudah kering, lebih baik kita bakar saja,” ucapku menjelaskan.

“Astaga,” nampak kaget mereka semua dengan yang aku jelaskan.

“Terus bagaimana Nak Edi, apakah akan kembali lagi sesorang yang meneror anak saya?” tanya ibunya Beni.

“Insya allah tidak tante, karena saya dan kak Beni akan menemui orang yang mengirim guna-guna tersebut,”

“Saya ikut Nak Edi,”

“Jika tante ikut, tante mau apa maaf bukan bermaksud lancang tante, biarkan saya dan kak Beni saja yang urus,”

“Baiklah kalau begitu tante percaya,”

“Ya sudah tante, saya pulang dulu, sudah malam takut ibu saya nyariin dirumah, besok sore saya datang kesini lagi tante,”

“Baiklah Nak Edi tante tunggu kedatangannya,”

Aku kemudian membakar pocongan tersebut hingga habis tanpa tersisa, lalu pamit kepada keluarga Niken untuk ijin pulang. Sesaat sebelum Aku dan Mei berjalan menuju pintu keluar, ibu Beni menghentikanku sebentar.

“Ini ada sedikit rezeki dari tante, tante cuma bisa memberikan ucapan terima kasih kepada Nak Edi yang sudah menolong,” kata ibunya Beni memberikan sebuah amplop berwarna putih.

“Baiklah tante, akan saya terima,” jawabku menerima bingkisan dari ibunya Beni. Saya terima amplop dari ibunya Beni lalu pergi menuju mobilnya Mei.