Episode 20 - Gangguan Sihir di Rumah Niken (1)

Buku Harian Indigo

Episode 20 – 


“Hei kau sini bentar,” ucap salah satu anak SMA yang sedang duduk di depan tempat foto kopian. 

“Aku kak,” jawabku ke mereka yang terlihat tidak bersahabat.

“Iya kamu, sini bentar,” balas salah satu anak SMA tersebut. Aku menghampiri mereka dengan mendorong sepedaku dari parkiran sekolah menuju tempat foto kopian di depan.

Setelah sampai di depan tempat foto kopian aku bertanya, ada apa gerangan mereka memanggilku.

“Ada apa kak?” tanyaku kepadanya setelah menyandarkan sepedaku.

“Kamu apanya Niken,” tanya salah satu anak SMA yang sedang memegang rokok.

“Adik kelasnya kak,”

“Kok pulangmu bareng sama Niken,”

“Kak Niken minta tolong sama aku kak, emang kenapa,”

“Masa minta tolong, kamu bukan pacarnya kan,”

“Bukan kak, sumpah. Lha kakak ini siapanya kak Niken,”

“Aku pacarnya Niken,”

“Oh, jadi gini kak, aku dimintai tolong sama kak Niken besok ke rumahnya, karena kakaknya sedang sakit, kalau kakak gak percaya besok pagi datang aja ke rumahnya kak Niken,”

“Oke, besok aku datang ke rumahnya Niken,”

“Kalau kamu sampai bohong awas ya,” ancam anak SMA yang mengaku sebagai pacarnya Niken.

“Siapp kak,”

“Yuk pulang,” ajak salah satu teman pacarnya Niken yang sudah terlihat bosan.

Karena sudah tidak ada urusan aku pun mengayuh sepedaku pulang, sampai rumah jam menunjukkan pukul 13.20, aku bergegas ganti pakaian lalu tidur, aku lihat mbah Kosim tumben tidur di kasurku. Karena ada mbah Kosim tidur diatas ranjangku ya mau bagaimana lagi, akhirnya tidur siang ditemani mbah Kosim. Baru memejamkan mata aku dibangunkan oleh ibuku untuk shalat ashar, aku lihat jam dinding menunjukkan pukul 16.00, “Cepat sekali jam berlalu, baru saja tidur sebentar sudah jam 16.00.” gumamku dalam hati. Setelah shalat ashar aku duduk di depan teras, aku lihat ke atas pohon mangga di depan rumahku, ”Sudah sehari nyai Yun belum balik, apa dia baik-baik saja,” ucapku lirih, kemudian mbah Kosim keluar dari pintu rumah.

”Ada apa bos Edi?” tanya mbah Kosim yang muncul dari dalam rumah.

“Lagi mikirin nyai Yun mbah, apa dia baik-baik saja ya,”

”Percayakan sama nyai Yun bos Edi, pasti dia baik-baik saja, dia kan lebih kuat dari saya bos Edi,”

“Gak usah kecewa mbah, bagi saya kalian adalah keluarga saya,”

”Baik bos Edi, bos Edi memang baik,”

“Hehe, sini mbah duduk sama saya,”

Mbah Kosim pun duduk dibawah lantai disamping kursi yang aku duduki, tidak terasa jam sudah hampir pukul 17.00, aku bergegas mandi lalu siap-siap ke pengajian. Setelah pengajian selesai, aku sampai di rumah pukul 20.15, setelah berganti pakaian, aku menata buku pelajaran untuk lusa, karena besoknya aku ijin libur sehari ke rumah kak Niken. Aku sebenarnya masih bingung antara membantu atau tidak, jujur baru kali ini aku membantu seseorang yang memiliki gangguan supranatural. ”Sudahlah gak usah banyak fikiran mending tidur saja,” gumamku lirih. Aku lekas tidur di kamarku. Baru memejamkan mataku, aku didatangi oleh Guru Besar.

”Bagaimana kabarmu Nak?” tanya Abah Guru kepadaku.

“Baik Abah, Abah saya mau tanya sesuatu boleh,”

”Apa yang kamu tanyakan, apakah berhubungan dengan kakaknya temanmu,”

“Loh..! Abah kok tahu, baru saja mau bilang sama Abah,”

“Memang kakak temanku kenapa Abah,”

”Kakaknya temanmu diguna-gunai oleh temannya sendiri, sukmanya diasingkan ketempat lain,”

“Lalu, yang ditubuhnya siapa Abah,”

”Yang ditubuhnya adalah Jin kafir, secepat mungkin kamu harus menolongnya,”

“Besok saya ingin ke sana Abah, tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,”

”Abah akan kasih tahu caranya:

Pertama, kamu ke sana pagi, cari sesuatu yang ada bungkusan kain putih di sekitar rumah temanmu, jika sudah ketemu jangan dibuka, masukkan ke dalam tempat yang terbuat dari kaca yang ada tutupnya.

Kedua, masukkan bungkusan putih tersebut ke dalam baskom lalu tutup, jika sudah tertutup, tulislah rajah ini “Abah Guru menuliskan sebuah rajah yang baru aku lihat,” di atas tutupnya agar ia tidak bisa kabur.

Ketiga, sore hari menjelang magrib, bawa baskom tersebut menuju kamar kakak temanmu dan jangan mengajak seorang pun, jika mengajak seseorang, buatlah garis berbentuk lingkaran, lalu tulis rajah ini sebagai bentuk perlindungan seseorang yang berada di dalam lingkaran, jangan biarkan seseorang keluar dari lingkaran sebelum sukma kakaknya temanmu balik ke tubuhnya, 

Keempat, selepas magrib tubuh kakak temanmu akan bereaksi, jin kafir akan menyerangmu yang telah menyimpan bungkusan kecil di dalam baskom tersebut, di saat jin kafir menyerangmu gunakan amalan teknik beladiri bintang digabung dengan amalan ini “Guru besar memberikan sebuah amalan kepadaku,” ini adalah sebagian dari teknik beladiri tangan kosong yang terdapat pada kitab Al-Ajnas bab keenam. Abah akan menuliskan amalan benteng diri level 4, dan amalan penyerangan level 1. 

Kelima, kamu siapkan rajah ini untuk kakak temanmu, tulis saja rajah ini di lantai seukuran panjang tubuh manusia “Abah Guru memberikanku rajah lain,” saat jin kafir itu sudah kalah dan tidak ada tanda-tanda akan menyerang lagi, fokuskan tenaga dalammu, sinkronkan dengan energy mahluk ghaib lalu pegang jin tersebut dari punggung kakak temanmu lalu tarik keatas sampai lepas. Setelah jin lepas segera angkat tubuh kakakmu ke dalam rajah yang tadi kamu buat agar jin lain tidak bisa masuk ke tubuh kakak temanmu.

Kelima, kamu bacakan amalan perlindungan rumah dari segala gangguan mahluk ghaib.

Keenam, setelah amalan perlindungan selesai, siap-siap untuk menjemput sukma kakak temanmu.

“Cara jemputnya gimana Abah?”

”Gunakan ilmu Ngrogo Sukmo, lalu cari cahaya bewarna biru kemudian carilah sukmanya, jika ingin melihat kejadian masa lalu bagaimana dan siapa pelakunya, masuklah ke cahaya warna putih. Setelah ketemu sukmanya bacakan ayat ini untuk mengetahui apakah jin yang menyerupai atau benar-benar sukmanya. Kemudian kamu pegang tangannya masuk kembali ke tubuhmu, saat sukmamu sudah masuk ke dalam ragamu, kamu masukkan sukmanya kakakmu maka dia akan berangsur-angsur akan pulih, jangan lupa netralisir dulu tubuhnya.”

”Untuk menjaga ragamu waktu Astral Projection (Ngrogo Sukmo), akan aku utus salah satu khadammu menemanimu untuk jaga-jaga,”

”Al-hasim hadir,” perintah Abah Guru memanggil salah satu pengawalnya.

”Baik syech, ada yang bisa saya bantu,”

”Besok kamu temani Nak Edi untuk menjemput sukma seseorang,”

”Baik syech,”

”Saya titipkan khadam penjagaku ke padamu Nak, namanya adalah Al-hasim, jika butuh bantuan kamu panggil saja,”

“Baik Abah” dapat penjaga sehari dari jin golongan Rijjalul Ghaib.

”Baik sekarang latihan penerawangan lembar terakhir, agar tidak sembarang lihat rahasia orang lain,” sindir Abah Guru.

“Hehe, Abah bisa saja,”

Malam itupun aku latihan lembar terakhir dari bab kelima. Setelah latihan berjam-jam, Abah Guru menghentikan latihannya lalu mengantarkan aku pulang, lalu ibuku membangunkan tidur nyenyakku.

”Ayo bangun Ed, subuhan gak,” 

“Iya Bu, jam berapa Bu,”

”Jam 5 sudah, ayo cepetan,”

“Iya Bu,”

Setelah shalat subuh, aku ajak mbah Kosim lari pagi keliling desa, setelah dirasa cukup melihat orang-orang yang sudah tidak ada pergi ke sawah berarti sudah siang. Aku bergegas pulang lalu mandi. Selesai mandi aku sarapan pagi apalagi kalau bukan pecel Madiun, lalu ibuku membuka pembicaraan.

”Ed, kamu gak sekolah?” tanya ibuku.

“Engga Bu, aku ijin sehari sama Mei mau ke rumah kakak kelasku Bu,” kataku jujur karena aku gak mau berbohong kepada orang tua karena dosa.

”Ngapain ke rumahnya Ed?”

“Mau bantu kakaknya temanku Bu, gak apakah?”

”Gak apa Ed,hati-hati ya,”

“Iya Bu,”

”Kamu kalau punya adik mau gak Ed,”

“Mau dong Bu, cewek atau cowok gak apa bu,”

”Ya sudah, Ibu cuma nanya kok,”

Ibuku bertanya seperti itu apakah nantinya aku akan memiliki seorang adik, Jam menunjukkan pukul 08.45, aku sudah menunggu di depan rumah duduk dengan mbah Kosim. Aku berpesan kepada mbah Kosim, untuk jaga rumah jangan pergi kemana–mana, 15 menit menunggu mobilnya Mei pun akhirnya datang. Jam menunjukkan pukul 09.20, kita sampai di rumahnya kak Niken, rumahnya pagarnya tinggi, dengan halaman luas, rumahnya memiliki tingkat dua. Aku turun dari mobilnya Mei untuk menyakan alamat, apakah benar ini alamatnya kak Niken.

“Permisi ibu, saya mau nanya, apa benar ini rumahnya Niken dengan kakak laki-lakinya yang bernama Beni bu?”

”Iya bener Dek, ini rumahnya, pencet aja belnya Dek,”

“Makasih buk,”

Aku pencet belnya, setelah lama mencet belnya keluarlah kak Niken dari dalam rumah, kak Niken menggunakan celana pendek warna hitam dan kaos agak ketat warna Hitam garis putih.

”Eh Edi, udah nyampai lama ya nungguin,” tanya Niken yang sedang membukakan pagar rumahnya.

“Engga kak, baru saja tiba takut nyasar juga,”

“Loh kakak yang kemarin jadi ke sini,” tanyaku melihat anak SMA yang kemarin memanggilku di tempat foto kopian.

”Jadilah, kan aku pegang omonganmu,” jawab pacarnya Niken.

”Loh kalian saling kenal Ed?” tanya Niken terkejut karena aku kenal dengan pacarnya.

“Kenal sih belum kak,”

”Kenalin ini namanya Wildan, pacarku yang sekolah di SMA pink,”

“Wildan, Edi kak,” ucap kami sambil bersalaman.

”Yukk masuk Ed,”

“Oke kak,”

Aku masuk dengan Mei, sampai di dalam rumah hawa negativenya sudah terasa, aku langsung memulai obrolan karena waktunya terbatas.

“Baik, karena kak Niken yang meminta aku datang ke rumah ini untuk membantu kak Beni, maka semua yang aku katakan jangan ada yang membantah, apa kalian mengerti,” perintahku kepada semua penghuni rumah. Kecuali orang tua Niken mereka tidak ada di dalam rumah, hanya kami dan pembantunya keluarga Niken.

“Kami mengerti,” ucap mereka bersama menandakan mereka paham.

“Baiklah, sekarang ini yang ada di tubuhnya kak Beni bukanlah kak Beni, tetapi mahluk kiriman dari seseorang,”

”Siapa Ed yang ngirim ke pada kak Beni?” tanya Wildan penasaran.

“Aku belum tahu, yang jelas pertama siapkan spidol permanen 3 buah atau lebih, kedua siapkan baskom dari kaca dengan tutup, ketiga nanti akan aku kasih tahu lebih lanjut, karena waktu terbatas aku minta secepat mungkin,”

“Oke,” balas mereka kompak.

Kemudian Wildan dengan Niken membeli spidol permanen dengan baskom kaca, aku menyuruh Mei untuk tidak jauh-jauh dariku. Aku gandeng tangannya Mei lalu aku mulai menetralisir seluruh rumah Niken dari energy negative lalu aku bacakan amalan perlindungan rumah dari segala gangguan jin. 20 menit kemudian mereka kembali.

”Nih Ed, spidol permanen sama baskom kacanya,” kata Niken menyerahkan barang pesananku.

“Oke, terima kasih kak,”

Aku menerima baskom kaca dan spidol permanen, aku tulis rajah diatas tutup baskom kaca tersebut. Setelah selesai menulis rajah, aku ingin ditunjukkan kamarnya kak Beni.

”Ini kamarnya Ed,” kata Niken menunjukkan kamarnya kak Beni.

“Oke, aku masuk ya,”

”Silahkan Ed,”

Baru membuka pintu, energy negative sudah terasa dari tubuhnya kak Beni yang tertidur, aku tutup kembali pintunya.

“Waktu proses nanti, kalian ikut melihat atau tidak. Saranku kalian jangan ikut melihat, tapi jika kalian ngotot, kalian harus ikuti apa perintahku,”

“Oke, aku siap ikuti perintahmu Ed,” ucap mereka paham mengenai syaratku.

Kami masuk lagi kedalam kamar kak Beni. Kemudian aku menulis rajah membentuk lingkaran seukuran 9 orang, karena menulis rajah membutuhkan banyak spidol, karena itu aku menyuruh Niken membeli lebih dari tiga. Sesudah menulis rajah untuk teman-temanku, aku menulis rajah untuk kak Beni di lantai kamar dekat dinding kamar. Setelah menulis rajah untuk kak Beni, aku ajak mereka keluar kamar.

“Oke persiapan selesai, sekarang tugas yang penting,”

”Apa Ed yang penting,”

“Cari bungkusan kecil warna putih seukuran 3 spidol yang digabung, jika ketemu jangan dibuka, ingat jangan dibuka. Ketemu langsung bilang kepadaku,”

“Oke Ed,” ucap mereka bersama diikuti kita berjalan keluar rumah.

“Kita sisir dari gerbang depan rumah,” perintahku kepada mereka.

Aku mengajak mereka menyisir bungkusan kecil mulai gerbang depan, 15 menit mencari, Niken menemukan sesuatu dikubur dibawah pohon.

”Ini bukan Ed,” sambil menunjuk sesuati yang masih di dalam tanah.

“Coba aku lihat,” 

Aku menggali sedikit, dan benar saja ada bungkusan putih, aku ambil lalu aku masukkan ke dalam baskom kaca kemudian aku tutup. Setelah mendapatkan semua syaratnya aku ajak mereka duduk di ruang tamu. Jam menunjukkan pukul 16.00, aku pamit sebentar ingin menunaikan shalat ashar, setelah shalat ashar dimulailah sesi tanya jawab.

“Maaf ya aku nyuruh seperti yangg punya rumah, hehe,” kataku mencairkan suasana tegang ini.

”Gak apa Ed, kan demi kebaikan bersama,”

“Baiklah, masih ada waktu kurang lebih 2 jam, apa yang ingin kalian tanyakan,”

”Kamu dukun bukan Ed” ucap Wildan tanpa rem.

“Aku bukan dukun, cuma aku diberi kelebihan saja,”

”Berarti kamu indigo dong,”

“Apaan itu indigo?”

”Ya itu yang punya kemampuan supranatural,”

“Ya mungkin bisa dibilang begitu asal bukan dukun ya,”

”Hehe, maaf Ed. Kemarin aku juga salah paham sama kamu,”

“Gak apa kak, tapi sekarang kan sudah jelaskan,”

”Iya, hehe,” jawab Wildan terkekeh.

”Itu yang didalam gelas apa Ed?” tany Mei penasaran.

“Oh ini Mei, ini namanya buhul sihir, sejenis santet tapi bukan santet. Aku juga kurang tahu persis, yang jelas ini membuat celaka orang yang dituju,”

”Oh gitu, kenapa dimasukkan ke dalam kaca Ed,”

“Supaya gak kabur Mei,”

”Emang bisa Kabul ya Ed,”

“Nanti sebelum magrib lihat saja Mei,”

”Nanti kakakku pasti balik kan Ed,”

“Insya allah pasti kak, saya minta doanya dari kalian semua,”

”Terus kalo kita mau nonton gimana Ed,”

“Masuk ke dalam lingkaran yang aku buat tadi di depan pintu kamar pas, dan jangan keluar sebelum aku suruh keluar, oke,”

“Siap Ed,” ucap mereka kompak lagi.

Jam menunjukkan pukul 18.00, dimulailah kejadian aneh dirumah yang besar dan mewah ini, di awali dengan...