Episode 32 - Lima Sisi


Pandanganku mencakup seluruh negeri. Setiap sudut, setiap cekung, setiap butir pasir tanpa luput dari pengawasanku ….

—Kaisar Pertama


Ambal memanjat tembok dengan susah-payah. Merepotkan sekali, dia harus menghilangkan zirah besinya untuk sementara demi kemudahan memanjat, palu telah diubah menjadi semacam pengait untuk menguatkan tumpuan tangan. Meski begitu, tulang tuanya merintih dalam setiap gerakan, parunya telah lelah dalam memompa udara. Beruntung, anak buah si Bandit Emas sedang sibuk sehingga tak ada yang mengganggunya. Kalau ada, bisa jadi ia mengamuk setelah mencapai tempat yang dapat dipijak dengan teguh untuk menenggelamkan rasa lelahnya.

Seolah sebab untuk marahnya si Abdi Katili masih kurang saja.

Ambal baru datang, dan dia langsung bergerak sediam yang bisa diijinkan oleh zirah yang selalu berderit untuk memeriksa keadaan kemah si Bandit Emas setelah ia bertanya pada para legiun, untuk memastikan apakah Hikram benar-benar menyerbu. Tak ia sangka malah akan bertemu dengan Putri Sidya, yang lepas dari pengawasan Hikram yang ceroboh dan kini sedang bersama seorang pemuda asing mencurigakan dengan ilmu peringan tubuh yang hebat. Si pemuda bahkan membawa kabur Putri Sidya ke dalam kemah Bandit Emas, sehingga membuat kecurigaan Ambal makin meningkat. Bukankah seharusnya dia tak perlu takut kalau memang dia berada dalam pihak yang benar? Mengapa malah lari?

Begitu Ambal mencapai bagian landai, ia langsung dipertemukan dengan sosok Hikram yang sedang dikeroyok empat atau lima bandit dari berbagai arah. Tongkat bambu kawan lamanya itu mengayun ke kiri dan kanan dengan ganas, setiap satu sentakan ia berhasil menohok leher, perut, atau dada lawan. Bahkan, terlihat ia sudah berkelahi cukup lama melihat betapa di sekelilingnya berserakan tubuh para bandit yang masih merintih mengeluhkan rasa sakit, beberapa kaku ciri khas dari penggunaan ilmu totok tubuh yang mampu membekukan pergerakan badan.

Ambal mendengus, mendatangkan zirahnya sekali lagi yang langsung melingkup melindungi badannya, lalu membentuk besinya menjadi palu yang biasa ia pergunakan dalam pertempuran. Dia maju dan memukul segarang beruang, menghantam siapa saja yang menghadangnya tanpa memilih-milih. Hikram yang tak menyangka akan dibantu langsung ketawa kesenangan.

“Ha! Akhirnya kau memutuskan untuk urun tenaga juga! Seperti waktu lalu, ya?”

“Diam, tukang mabuk ceroboh! Kau kehilangan Putri Sidya, bukan?! Setelah semua ini selesai, aku akan memukul pipimu sampai bengkak untuk memberimu pelajaran!” teriak Ambal sambil menghantamkan palu pada dada seorang bandit yang langsung terpelanting dan roboh seperti pohon yang kena hantaman kapak.

Ancaman itu menghapus cengiran Hikram. Sebelum sempat membalas, seorang bandit menubruknya dari belakang. Hikram ganti melabraknya dengan punggung sebelum si bandit mampu merangkulnya erat, dan badan yang kena tabrak punggung Hikram itu jatuh dari tembok diselingi dengan jeritan, beserta suara tulang patah tepat saat ia menghantam tanah.

Hikram melirik Ambal yang masih beringas dalam melancarkan gempuran, membayangkan bagaimana kalau dia yang kena hantam, untuk kemudian lekas bergerak lagi untuk merobohkan lawan yang masih datang.

Tak perlu diberitahu pun, Hikram sudah sadar bahwa ini akan jadi malam yang sangat, sangat panjang.

--

“Adik Plontos, sepertinya kita tidak dikejar lagi, tuh.”

Pisun menurunkan Sidya dari punggungnya. Benar saja, Sidya bisa lihat itu. Paman Ambal telah menghilang, sepertinya kesulitan mengejar jejak langkahnya. Bisa dilihatnya juga bahwa Pisun begitu takut pada sosok Ambal yang tinggi besar hingga kabur sejauh mungkin untuk menjauhi tembok.

Sidya mengedarkan pandang. Dilihatnya banyak kemah-kemah kusut, kebanyakan berbahankan kulit binatang dengan obor di berbagai tempat yang berfungsi sebagai penerangan. Selain suara ramai dari salah satu sisi yang jauh, tempat ini sangat sepi, lebih mirip kuburan daripada perkemahan.

Sidya baru berpikir-pikir untuk melakukan apa tepat ketika satu sosok yang mengawasi mereka berdua sedari tadi melangkah santai dari balik salah satu kemah. Seorang perempuan, kedua tangannya berada di punggung dan ia mengenakan semacam pakaian kulit binatang tebal yang biasa digunakan orang stepa untuk menghalau hawa dingin.

Mulut si perempuan yang cukup lebar terulur dalam senyum. “Kalian tersesat, anak-anak?” tanyanya, suaranya melengking membuat telinga sakit.

Pisun berpaling kaget, kemudian cengengesan seperti anak kecil ketahuan sedang mencuri mangga. “Siapa tersesat? Kami? Tidak, Nyisanak. Kami cuma main-main sebentar.”

“Benarkah? Ckckck. Bermain di tengah-tengah kemah yang sedang dikepung, dasar anak-anak ceroboh. Bahaya, kalian bisa mengganggu orang-orang yang siap-siap mau berkelahi!”

“Wah, maaf deh kalau ‘nganggu,” Pisun mengangkat bahu, “kami pergi saja kalau begitu.”

Herannya, si perempuan tertawa rendah saat menanggapi ucapannya, seolah ada hal yang lucu.

“Tidak semudah itu. Kita senang-senang sedikit sebelum kalian pergi. ”Bersamaan dengan tawanya, bumi berderak perlahan, kemudian makin keras seiring dengan tawa si perempuan yang makin kencang. Perasaan Pisun mendadak tak enak. Ia cepat tanggap menyambar Sidya untuk digendongnya lagi di punggung, kemudian melonjak untuk melayang di udara tepat saat sebuah batu berukuran lumayan besar dengan sisi bergerigi menonjol keluar dari tanah, lantas menggelundung mengincar tempat Pisun sebelumnya berada. Kalau dia tidak kabur, badannya sudah pasti kena hantam dan batu seukuran ini jelas-jelas mampu menggilas tubuh manusia biasa sampai lumat.

“Waduh, galak benar!” Pisun mengeluh, Sidya bergantung erat di punggungnya sementara dia mendarat di atas sebuah kemah yang cukup tinggi. Kalau begini, batu itu hanya bisa menggelundung saja tanpa harus menabraknya. Kalaupun mau menghancurkan tenda ini, Pisun tinggal melompat ke tenda lain.

“Untuk sementara, kita aman! Kamu tenang saja, Adik! Percaya padaku kita bisa melewati semua ini, percaya padaku!” kata Pisun dengan gugup.

“Padahal dia yang panik,” batin Sidya dalam hati. Entah kenapa, Sidya tak merasa mereka akan aman dalam waktu lama. Benar saja, tiba-tiba bongkahan batu yang masih menggelundung berputar, lantas melesat melawan hukum dunia bahwa semua benda berat harus jatuh ke bawah. Sebaliknya, batu itu malah terbang, seolah bobotnya seringan kapas untuk mengincar Pisun yang melongo.

“Kakak, bahaya!” Sidya mengemplang bahu Pisun, yang langsung melompat kaget untuk mengindar, terbangnya lebih cepat dari biasanya karena benar-benar terkejut.

“Ilmu peringan tubuhmu hebat juga. Rupanya bukan anak-anak biasa.”tawa si perempuan berhenti. Ia mengernyitkan dahi, sementara batu besar yang sebelumnya melayang kini jatuh dengan bunyi debam yang cukup keras.

“Berhenti menyebutku begitu, umurku enam belas, tahu?! Aku bukan anak-anak!” Pisun menghardik, lalu mendarat di atas tanah.

Perempuan itu cekikikan lagi seperti orang gila mendengar suara Pisun yang sangat kesal, rupanya senang bisa membuat orang marah. Sidya yang lebih waspada melihat bahwa batu yang sebelumnya jatuh begitu saja kini sekali lagi melayang mengancam di udara.

“Kakak, awas.” Sidya menunjuk batu itu. Pisun hanya mengangguk, masih menatap si perempuan dengan tak senang.

“Hei, bocah plontos. Batunya bukan hanya itu.” kata si perempuan menahan tawa, sebelum akhirnya tak kuat, lantas terbahak-bahak seperti sedang menonton dagelan yang teramat kocak.

“Sial,” Sidya dan Pisun berucap berbarengan saat batu lain muncul dari dalam tanah dengan putaran, lalu bergoyang di tempat seperti menunggu perintah.

“Sial!” Sidya dan Pisun mengumpat lagi saat kedua batu itu bergerak dari arah berlawanan dengan kecepatan yang sangat gila, menggelinding mirip roda untuk menumbuk mereka berdua sementara si perempuan masih terbahak geli.

--

Kotak anak panah milik Thaif kosong. Begitu merogoh kantung milik Fathur, ia juga mendapati bahwa adiknya telah menggunakan seluruh anak panahnya.

Apa yang harus ia lakukan?

“Tuhan yang Satu, dalam doa kami mohonkan perlindungan-Mu kepada pendosa bernama Hikram—”

Thaif berpaling, mendapati Fathur merapal doa, mulutnya bergerak-gerak. Mendadak Thaif menggampar pipi adiknya keras-keras, membuat Fathur memegangi pipinya yang kena tampar. “Kakak, kenapa?!”

“Meracau nanti, sekarang fokus pada tugas. Kita bisa turun tangan, jadi membantu mereka dengan doa hanya akan menjadikan kita seorang pengecut seperti si Pemegang Gelar bilang.”

“Tembok itu tinggi sekali, Kakak! Hawa murni tak akan cukup sebagai pendorong. Kurasa lebih baik kita serahkan saja pada para Pemegang Gelar dan bersembunyi di sini hingga semua selesai—”

Thaif menampar pipi adiknya lagi, yang kali ini merintih. Memelas sekali kelihatannya.

“Cukup. Aku tak akan membiarkanmu mempermalukan nama keluarga Denarii lebih jauh lagi. Sekarang, kita panjat tembok itu.”

“Dengan cara apa?”

Untuk sekali ini senyuman membayang di bibir Thaif yang memang jarang tersenyum hingga otot wajahnya terasa kaku. Ia menarik sesuatu dari ikatan sabuknya, yang memang tak bisa dilihat oleh Fathur karena gelapnya keadaan. Setelah diamati, ternyata sebuah pengait berbentuk mirip cakar, dengan tambang yang diikatkan pada sisi lainnya.

“Mau protes apalagi, Adik?”

Fathur menelan ludah, lalu melayangkan pandang pada Hikram yang masih riuh mengadu senjata dengan para bandit, dibantu oleh seseorang dengan perawakan besar berbalut baju besi, gerakan mereka terlalu cepat untuk diikuti mata.

Entah mengapa, hati Fathur merasa lebih gentar daripada biasanya.

--

Namanya Robert, dulu hanya petani dengan ladang warisan yang tak sebegitu luas tempatnya menanam gandum serta sedikit anggur untuk menyambung hidup. Hidupnya cukup senang, ladang ini miliknya sendiri dan ia tak punya tuan, standar hidupnya lebih baik dari para serf yang harus memberikan lebih dari setengah hasil panen mereka pada para ksatria tuan tanah.

Robert berasal dari negeri jauh bernama Brytisia yang diperintah oleh raja-raja berwajah kaku lagi muram. Cuaca yang lebih muram dari sekedar wajah raja Brytisia serta semakin sulitnya mempertahankan emas di dalam kantong membuat Robert memutuskan untuk angkat kaki selamanya dari negeri itu.

Selain alasan-alasan tersebut, rasa takut terhadap pedang bersisi dua milik para ksatrialah yang membuatnya tak ingin tinggal lebih lama. Mereka mulai mengganggu para petani bebas lagi, ksatria-ksatria muda yang hartanya hanya berupa zirah serta kuda tunggangan kehabisan cara untuk mencari kekayaan setelah perang dengan Nagart usai. Turun dari kastil dan turnamen-turnamen mereka dengan pedang teracung, mustahil Robert si petani bisa bertahan begitu mereka merampoknya secara halus dengan cara menaikkan pajak lagi dan lagi, belum juga memaksanya untuk menyerahkan seperempat hasil panennya seolah dia ini hanya seorang serf rendahan dan bukannya petani bebas tanpa tuan. Ditekan dan tak punya pilihan lain, dalam gelap malam Robert memasang tudung pada jubahnya, mengepak sedikit pakaian, lalu menuju pelabuhan dan bersumpah tak akan kembali kalau dipaksa jadi budak orang seperti ini.

Robert sudah menetapkan tempat untuk memulai kehidupan baru: Protektorat Nagart. Setelah luntang-lantung tanpa hasil, akhirnya tawaran untuk menjadi penjaga kereta pedagang diambilnya. Pekerjaan itu berbahaya dan ia perlu bertaruh nyawa, karena padang pasir Protektorat terkenal akan para penjahatnya yang tak segan untuk membabat leher siapapun yang tak mau sukarela membagi emas, tapi itu lebih baik dibanding tidur dengan perut melilit menahan lapar setiap harinya. 

Namun, hidup memang penuh kekecewaan. Belum juga ia lulus dari pelajaran memainkan pedang, desa tempatnya berlatih menjadi sasaran rampok. Memutuskan bahwa kabur dari Brytisia merupakan kali terakhirnya lari dari masalah, ia angkat senjata.

Akan tetapi, bisa apa seorang mantan petani yang kemampuannya tak seberapa melawan segerombolan penyamun yang menghadang? Begitu pedangnya terlepas dari tangan, luka-luka menghiasi dada serta lengannya, Robert sudah membuka kerah leher untuk memudahkan mereka menusuk, semata untuk menghindari siksaan lebih lanjut. Dengan mata terpejam, ditunggunya pukulan besi dingin membebaskan jiwa dari raga busuk yang selalu tak beruntung ini.

Kematian tak datang mengunjunginya. Malahan, si pemimpin para bandit ini tertarik padanya, dan nasib Robert berbalik sejak pertemuan itu.

“Kau memiliki bakat!” Robert masih ingat apa yang ia katakan. “Aku akan dengan senang hati melatihmu. Tentu saja tidak secara cuma-cuma, tak ada yang tanpa pamrih di dunia ini. Satu syarat, dan kau akan kuangkat menjadi muridku. Kuajari kau cara mendapatkan Gelar.”

Robert ternganga. Ia tak paham Gelar itu apa. Tapi, ketimbang mati dengan leher robek, ia lebih memilih bertahan. “Syarat apa?” Robert bertanya buru-buru, sembari mengawasi kulit si pemimpin bandit yang pucat mirip orang sakit, rambutnya yang putih, dan terutama, matanya yang merah membara.

Si pemimpin bandit menyeringai. “Kepatuhan penuh padaku, orang Brytisia. Sekarang, berlututlah, atau mati.”

Robert tak perlu pikir panjang. ia segera menekuk lututnya, rasa pahit di bibir muncul akibat pemikiran bahwa ia harus menukar seorang raja lalim dengan raja lalim yang lain.

Hari berganti, musim bergulir, emas berpindah tangan, tak ada yang tak berubah di dunia ini, Begitu juga dengan pikiran Robert.

Kini, Robert si petani dikenal dengan nama Si Bandit Emas, warna rambut sewarna dengan Gelarnya. Ia telah menyandang Gelar itu cukup lama. Bahkan, Gelar tersebut telah mendarah daging dalam dirinya sehingga dia tak mau dipanggil dengan nama aslinya lagi. Baginya, Robert yang lemah namun tak pernah mau diinjak oleh para penguasa kini telah mati, yang ada hanya tinggal Bandit Emas yang melayani si kulit pucat dengan mata merah, tak lebih dari itu. Terkadang, sisi Bandit Emas rindu dengan sisi Robert. Namun, berulangkali pula Si Bandit Emas menekan perasaan itu. Toh, hidupnya lebih baik daripada waktu menjadi petani, dengan emas berat di sakunya dan anak buah yang siap menerima apapun perintahnya.

Robert tersadar dari lamunan dalam semadi. Pasalnya, terdengar sebuah gangguan halus di udara, pertanda seseorang tengah menyingkap kain tendanya. Tanpa perlu membuka mata sekalipun Bandit Emas langsung tahu identitasnya, terutama karena hubungan tak kasat mata yang dimilikinya dengan siapapun itu yang tengah membuka kain tenda. Robert bahkan tidak tahu nama aslinya, yang ia tahu hanyalah Gelar yang dimiliki si pembuka kain sebagai Bandit Perak, salah satu anak buahnya, dan hanya itulah hal penting yang perlu Robert ketahui.

“Ada kabar apa, Perak?”

“Penggalian telah usai, Emas. Kami menemukan beberapa senjata. Tak ada yang aneh dari senjata-senjata itu, walaupun kami akui semuanya berkualitas tinggi. Sampai kami menemukan … sebilah belati. Tumpul dan tanpa hiasan. Kami baru tahu itu bukan benda biasa saat seorang perunggu tewas dengan mata terbakar setelah berusaha mendeteksi kegunaannya. Kami butuh kehadiran anda untuk memeriksa.”

“Aku akan segera ke sana. Tulang-belulang Panglima Perkutut, sudahkah kalian temukan?”

“Tak ada. Mungkin telah melapuk dimakan waktu sampai hancur jadi debu, atau raib dicuri orang. Kami sama sekali tak menemukan jasadnya.”

“Bagaimana keadaan para Perunggu di gerbang utama?”

Gelombang penyesalan melanda Robert, namun ini bukan miliknya, ini milik si Perak. Bukan hanya keberadaan, Robert kadang bisa tahu perasaan mereka, apalagi jika emosi itu terlalu kuat seperti yang dialami si Perak saat ini.

“Buruk, Emas. para legiun enggan untuk maju. Mereka memilih untuk mengganggu kita dengan busur panjang dan beberapa alat mekanik pelontar lembing. Jarak yang mampu kita capai dengan busur biasa tidak cukup untuk memberikan serangan balasan. Beberapa Perunggu turun dan menyingkap Gelar, tapi tak cukup untuk membuat para legiun gentar, malah mereka diterpa oleh anak panah serta lembing. Apa perintah anda?”

“Mundur teratur, hindari konfrontasi langsung, tahan mereka sampai aku berada di sana.” Pikiran Robert melayang ke wanita yang dipasangkan padanya. “Si Tawa Gempa. Di mana dia, mengapa tidak ikut mempertahankan gerbang?”

“Sedang memburu Pemegang Gelar yang menyusup. Kami khawatir dia tak dapat membantu untuk saat ini.”

“Baiklah.” Si Bandit Emas berdiri, dan secara otomatis si Bandit Perak merunduk sedikit untuk mengakui kekuasaannya. “Artefaknya telah kita dapatkan, bukan? Itulah yang terpenting. Dengan mustika Jendral Perkutut itu, kita akan memenangkan semua.”

Robert pun melangkah keluar tenda dengan ringan, sementara si Perak bergegas lari ke gerbang untuk menjalankan perintahnya.

Begitu Robert telah memegang belati milik mustika si jendral, ia akan turun gelanggang untuk mengakhiri pertikaian ini, dan dengan demikian, berhasil melaksanakan perintah tuannya.

Ia tak tahu bahwa jauh, jauh di dalam dirinya, ada pertikaian yang lain.

Sosok Robert si petani bebas yang sebelumnya hanya tinggal setitik dalam diri ini meraung berang penuh penolakan saat ia memikirkan kata ‘tuan’, amarahnya membara seperti api. Bisa saja bagian Bandit Emas mendengar kemarahan itu, lalu terjadi perdebatan dalam diri sekali lagi. Tapi, hal itu tak terjadi, karena sebuah bayangan gelap mendadak datang, menyeringai. Bayangan gelap itu tak jelas, hanya kelihatan bahwa bentuknya mirip asap namun padat, dengan mata merah membara. Tangan besar bayangan itu menekan sosok Robert yang kecil, berusaha menutup kehadirannya, dan membuat sosok kecil Robert si petani megap-megap seperti orang mau mati.

--

Erutuhu mengawasi pendobraknya melaju sementara bandit-bandit mulai menghilang dari ketinggian tembok. Bisa dilihat bahwa para anak buahnya telah berhasil memenangi pertarungan senjata jarak jauh. Musuh sepertinya telah diperintah mundur untuk menghindari jatuhnya lebih banyak korban dari pihak mereka.

Erutuhu bersyukur dalam hati karena wanita Pemegang Gelar yang dapat melemparkan gumpalan batu tidak menampakkan batang hidungnya seperti dalam serbuan lalu, kehadirannya bisa menghancurkan semua rencana. Kalau dia sampai muncul, remuk sudahlah segala macam alat berat pelempar lembingnya dilabrak batu seukuran seekor kuda, dan dia tak akan bisa mendekat untuk mendobrak gerbang tanpa dihantam oleh gelindingan serta lemparan batu besar-besar.

Ini juga jadi bukti bahwa perkataan Dewa Arak tak main-main. Tanda denyar hawa murni yang dilesatkan dari anak panah salah satu anak buahnya yang ikut menyusup telah memberitahukan bahwa si Dewa Arak telah masuk ke perkemahan dan benar saja, konsentrasi para bandit pada gerbang utama terpecah. Bagaimana caranya satu orang saja bisa membuat kacau seluruh perkemahan, dia tak tahu. Si Pemegang Gelar hanya meyakinkannya bahwa dia akan masuk dan membuat mereka kerepotan, dan memang itulah yang terjadi. Orang-orang Nagart ini memang sombong, tapi untunglah kesombongan mereka juga didasari dengan bukti.

Erutuhu mengedarkan pandang kepada para anak-buahnya yang menantikan kayu gerbang dilumat habis oleh pendobrak yang masih berayun, setiap satu ayunan merupakan sumbangan dalam usaha pembobolan. Ia bisa melihat kulit kuning langsat yang dibalut jubah dari pulau selatan, kulit putih dari Brytisia yang ditutupi pelat baja, kulit pucat Jaffar, kulit gelap seperti miliknya, bahkan kulit merah dari negeri teramat jauh … semuanya berbeda, tapi juga sama. Semuanya tawanan politik yang disumpah untuk mengabdi pada Nagart agar negeri mereka tidak dibuat berdarah lebih parah. Beberapa mungkin datang karena tawaran emas, ya, tapi kebanyakan sama sepertinya, tawanan yang dipaksa melayani Sang Naga sampai mati atau kontrak sepuluh tahun terpenuhi.

Erutuhu memikirkan tentang ucapan Si Dewa Arak yang dibisikkan hanya untuknya, tentang Nagart yang sebenarnya ingin mengirim mereka pada tugas berat, mengirim mereka seperti potongan daging sapi pada gilingan daging agar mereka kembali ke rumah tinggal nama, mayat terbujur kaku di tanah bekas pertempuran. Bahu Erutuhu yang masih belum sembuh sepenuhnya terasa nyeri, ucapan si kasim tentang kuasa penuh Nagart padanya dan seluruh rekan legiun merogoh sanubari.

Erutuhu takut bahwa ia akan jatuh pada malam ini.

Tapi, mau tak mau dia harus berusaha untuk bertahan. Ya, dia harus bertahan. Kalaupun bukan demi diri sendiri, ini demi seluruh anak buahnya. Akan dia buktikan bahwa walaupun leher negeri-negeri mereka telah terinjak, Legiun Asing terbuat dari bahan yang lebih kuat daripada yang Sang Naga duga.

Erutuhu mencabut pedang pendeknya, wajah mengernyit sedikit akibat rasa sakit saat bahu bergerak, lantas mengamati pantulan dirinya di senjata tajam yang terasah baik itu. Ia merindukan tombak panjang khas negerinya, merindukan saudara-sepertarungan yang akan menarikan tarian kematian bersamanya sebelum berperang dan berteriak lantang menyanyikan lagu pertempuran, tapi untuk sementara ini, pedang ini cukuplah.

Derak keras memecah keheningan yang biasa terjadi sebelum pertumpahan darah besar. Para pendobrak berhasil menghancurkan gerbang, diikuti oleh para ahli hawa murni dari pulau selatan yang melakukan dorongan hawa murni padat ke gerbang, membuat kayu yang sebelumnya masih bertahan hancur berkeping-keping sepenuhnya, menciptakan jalan mulus agar Legiun Asing dapat masuk.

Erutuhu mengangkat pedangnya, dan untuk sekali ini, bahunya tak terasa sakit sama sekali.

“Maju! Kita tunjukkan pada Nagart bahwa walaupun lawan sangat berat, kita dapat bertahan, karena kita Legiun! Mungkin kita akan mati malam ini, tapi ya, pengorbanan agar negeri kita tidak diluluh-lantakkan akan diingat bahkan sampai matahari menjadi bola dingin tanpa terik. Diingat oleh saudara-saudara senegerimu, itulah keabadian, kawan-kawanku! Sekarang, siapa yang mau berdiri bersamaku untuk meraih keabadian itu?!”

Sorak-sorai garang, jawaban lantang, bau keringat dan darah di udara, serta bunyi mengerikan pedang yang dipukulkan berulang-ulang pada perisai membuat Erutuhu sadar bahwa walaupun ia jauh dari rumah, orang-orang ini untuk sementara bisa dianggapnya sebagai saudara-sepertarungannya yang kedua.

Maka, melangkahlah Legiun Asing dengan penuh disiplin ke ladang pembantaian yang dihamparkan oleh Nagart.

--