Episode 72 - Racun Raja Kobra Hitam (1)


“Racun raja kobra hitam?” tanya Jaya.

Tabib Wong mengangguk perlahan dengan raut wajah yang tegang sekali “Benar, ini adalah salah satu dari tujuh racun paling berbahaya dari negeri Tiongkok, setahu saya yang memiliki ilmu racun ini adalah si Raja Racun dari Barat!” jelas pria paruh baya ini. 

“Raja racun dari barat? Siapakah ia?” tanya Jaya dengan penasaran.

“Dia adalah tokoh Kungfu golongan hitam dari negeri Tiongkok, dia adalah salah satu tokoh dari 4 ahli Kungfu terhebat di Tiongkok, karena ia sangat jahat, maka banyak tokoh Kungfu yang memburunya, dan menurut kabar ia telah tewas oleh salah seorang Biksu dari Shaolin.” tutur Tabib Wong.

“Tapi mengapa racunnya bisa ada disini? Apakah Tabib punya penawarnya atau bisa membuat penawarnya?” tanya Jaya.

Tabib Wong menggelengkan kepalanya dengan lemas. “Raja Racun Dari Barat hanya mempunyai seorang murid, Tapi tidak pernah ada yang tahu keberadaannya dan siapa dia sebenarnya... Dan sayangnya saya tidak bisa membuat penawarnya karena racun ini bekerja sangat cepat, racun ini akan langsung melumpuhkan syaraf-syaraf, kemudian dalam hitungan menit orang yang terkena racun ini bisa langsung tewas dengan tubuh kejang-kejang kemudian seluruh kulit tubuhnya menghitam!”

“Kalau begitu apa yang harus kita lakukan untuk menganggulangi racun jahat ini Tabib?” desah Jaya dengan nada kecewa.

Tabib Wong berpikir sejenak sebelum mengemukakan idenya, ia tampak ragu-ragu untuk mengutarakan idenya. “Saya tidak tahu penawarnya, tapi... saya hanya bisa berusaha untuk mencoba membuat obat penangkalnya, saya akan mencoba membuat obat untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada racun ini, setelah itu sangat tergantung pada kekuatan tubuh dan takdir Thian, itu yang tertulis dalam kitab 1001 macam pengobatan.”

“Baiklah, mungkin itu jauh lebih baik daripada tidak ada penawarnya sama sekali, saya harus memberikannya pada para prajurit yang akan ikut saya untuk memburu pembunuh ini, apa saja bahannya?” angguk Jaya.

“Tuan hanya perlu menyiapkan jahe merah dan jamur kayu, saya masih punya bahan yang lainnya…” jawab Tabib Wong, Jaya pun memerintahkan para prajurit untuk menyiapkan Jahe Merah dan Jamur Kayu sebanyak-banyaknya, Tabib Wong pun meramu obatnya di rumah Jaya.

*****

Malam harinya didalam hutan yang terdapat diluar Kutaraja Surasowan, nampak Bun Pek Cuan bersama dengan Angsoka sedang duduk sambil mengobrol menghadap api unggun. “Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu… Kenapa tidak kemarin saja kita sampaikan tantangan langsung pada Jaya Laksana saat menyatroni rumahnya, kenapa kita malah harus menunggu lagi seperti ini?” tanya Bun Pek Cuan.

“Sabarlah Guru, tinggal selangkah lagi, besok pagi buta kita akan ke Surasowan lagi, kita bunuh para prajurit yang berpatroli di Kutaraja sekaligus kita sampaikan surat tantangan untuk Jaya Laksana!” jawab Angsoka.

“Sebenarnya aku masih tidak mengerti dengan rencanamu, mengapa kita harus membunuh banyak orang hanya untuk menantang Jaya Laksana?” cecar Bun Pek Cuan.

“Untuk memastikan Jaya Laksana akan menerima tantangan Guru, dengan gegernya Keraton Surasowan karena banyak Prajurit dan pedagang yang tewas terbunuh, pasti akan sangat menekan pemerintahan Banten, mereka pasti akan melakukan segala cara untuk menghentikan pembunuhan ini, begitupun Jaya Laksana, ia pasti akan kebingungan karena tidak ada obat penawar yang ampuh untuk racun milik Guru, maka surat tantangan dari guru pasti akan ia ladeni untuk menghentikan semua kasus pembunuhan ini... Itu juga sekaligus jadi bonus untuk Guru, Guru pasti senang kalau Jaya Laksana merasa kebingungan, tertekan, dan akhirnya kalut sebelum Guru membunuhnya, pasti akan sangat menyenangkan kalau Guru membunuhnya dengan semua beban tersebut!” jelas Angsoka dengan jumawa.

Bun Pek Cuan mengangguk-ngangguk sambil tersenyum lebar. “Ya... Ya kau betul muridku, sekrang Jaya Laksana pasti sangat tertekan dan kebingungan karena racunku tidak ada penawarnya, sementara banyak prajuritnya yang mati!” Angsoka mengangguk sambil tersenyum.

“Seperti yang kau ceritakan dulu, kaupun memiliki dendam pada Jaya Laksana dan istrinya bukan sehingga kau mau repot-repot membantuku... Angsoka, aku ingin tahu menurutmu dendam itu apa?” tanya Bun Pek Cuan.

“Dendam adalah tungku api yang selalu menyala didada kita, meski tidak nampak dari luar, tapi dia selalu memanaskan pikiran dan rasa kita, ke manapun kaki kita melangkah... Didalam tidur dia memanaskan mimpi, bila terjaga dia memanaskan hati, membuat hidup kita gelisah dan resah!” jawab Angsoka. “Seorang yang dikendalikan dendam, membutuhkan telaga dengan air yang melimpah ruah, untuk memadamkannya, meski belum tentu bisa menghilangkannya!”

Bun Pek Cuan menatap mata murid tungalnya itu yang juga dipenuhi bayangan bara api dendam. “Yah! Aku setuju dengan pendapatmu, dendam adalah api neraka, yang menyala di hati dan pikiran kita!” Bun Pek Cuan lalu menengadahkan kepalanya menatap bulan sabit diatas langit yang cerah pada malam itu, ia menggeram. “Eaarrgghh.... Jaya Laksana telah mengambil satu-satunya sanak saudaraku yang tersisa di dunia ini!” bentaknya.

“Oleh karena api dendam kesumat inilah, sebaiknya kita tidak mempedulikan nilai-nilai kesatria, yang penting kita bisa membalaskan dendam kita!” sahut Angsoka.

“Ya aku setuju!” Bun Pek Cuan lalu mengambil sebuah kantong kecil dari buntalan miliknya. “Muridku, kantong ini berisi Katak Merah dari daerah Hunan yang sangat beracun, ambilah olehmu, jika sampai aku kalah oleh Jaya Laksana, larilah, dan bunuh Jaya Laksana dengan katak beracun ini!” Angsoka menrima bungkusan tersebut, kemudian gadis cantik ini mengangguk-ngangguk sambil tersenyum penuh selaksa makna.

*****

Pagi harinya saat mentari baru saja terbit di ufuk timur, saat rumput-rumput masih basah oleh embun, seorang pria paruh baya berpakaian ala Tiongkok mengenakan topi caping bersama dengan seorang gadis Pribumi berpakaian serba hitam yang juga mengenakan topi caping nampak memasuki Kota Surasowan, mereka terus berjalan menuju ke pasar yang terdapat di alun-alun kota.

Seorang prajurit yang sedang berpatroli bersama kawan-kawannya nampak mencurigai kedua orang tersebut, “Lihat mereka berdua nampak sangat mencurigakan!” katanya pada kawan-kawannya sambil menunjuk pada dua orang tadi, “Ya betul penampilannya agak aneh, meskipun untuk ukuran para orang Tiongkok yang bermukim disini sekalipun!” sahut temannya.

Sementara itu, kedua orang itu yang tak lain adalah Bun Pek Cuan dan Angsoka nampak berkeliling melihat-lihat keadaan pasar yang baru ramai didatangi pembeli dan pedagang. “Sekarang kita cari orang untuk menyampaikan suratku pada Jaya Laksana! Kalau dia benar-benar Kesatria, dia akan menerima tantanganku!” Ungkap Bun Pek Cuan.

Saat itu tiba-tiba datanglah 10 orang prajurit Banten yang langsung mengepung mereka berdua. “Siapa kalian?! Dan apa tujuan kalian datang ke kotaraja?!” tanya seorang prajurit.

“Kalau kita membuat keributan dan berhasil membunuh beberapa orang prajurit, pancingan kita akan semakin meyakinkan untuk Jaya Laksana Guru!” bisik Angsoka, Bun Pek Cuan pun mengangguk.

Bun Pek Cuan lalu menyeringai pada si prajurit tersebut, dan... Desh! sekonyong-konyong satu pukulan telapak tangan Bun Pek Cuan menghantam dada si prajurit, prajurit itu langsung terjungkal sambil muntah darah, kontan prajurit itu kejang-kejang dan sekujur tubuhnya menghitam! “Lihat! Tubuhnya langsung menghitam! Berarti orang inilah yang melakukan banyak pembunuhan itu!” tunjuk salah seorang prajurit.

“Kalau memang iya aku orangnya, kalian mau apa?” ejek Bun Pek Cuan dengan wajah bengis.

“Jahanam! Ayo serbu!” komando si prajurit, ia dan kedelapan prajurit lainnya pun segera menyerbu Bun Pek Cuan, pria paruh baya ini menyeringai bengis, ia tancapkan tongkat kobranya ke tanah, kedua tangannya tiba-tiba berubah menjadi hitam, dan Duesh! Desh! Desh! Sembilan kali Bun Pek Cuan menggerakan kedua tangannya, robohlah Sembilan orang prajurit Banten tersebut dengan sekujur tubuh menghitam, semuanya ia robohkan hanya dengan satu pukulan saja! Gemparlah suasana pasar di alun-alun kota tersebut.

Bun Pek Cuan menyeringai puas, ia lalu mengeluarkan sepucuk surat dari balik pakaiannya, dengan sembarang ia lemparkan surat itu diatas mayat para prajurit malang itu. “Koko Teng Lan, hari ini akan kubalaskan dendammu!” geramnya sambil menatap suratnya diatas tumpukan mayat prajurit tersebut, “Baiklah ayo kita pergi! Kita lihat apakah Jaya Laksana berani menerima tantanganku!” perintahnya pada Angsoka, mereka pun berkelebat meninggalkan alun-alun pasar yang menjadi gempar karena peristiwa tersebut. 

*****

Di lain tempat didalam sebuah gua Puncak Gunung Patuha, Nyai Lakbok menyambut kedatangan murid terkasihnya Mega Sari yang membawa mayat Dharmadipa bersama Emak Inah dan Ki Silah. “Suamimu terluka Mega Sari?” tanya Nyai Lakbok sambil mengamati luka didada Dharmadipa akibat terbeset keris Pusaka Panggul Naga milik Sultan Banten.

“Iya Guru, apa mungkin bisa disembuhkan? Saya sudah mencoba merawatnya, tapi cairan seperti darah yang berwarna hitam dan berbau busuk itu terus menerus keluar…” angguk Mega Sari dengan nada suara yang menyiratkan kecemasan yang teramat sangat.

“Tentu saja bisa, walaupun agak lama, nanti kubuatkan obatnya ya… Dia terluka oleh siapa? Siapa orang sakti yang sanggup melukai suamimu seperti ini?” jawab Sang Guru sekaligus bertanya seraya beranjak dari tempatnya ke sebuah cekungan batu yang berisi berbagai macam ramuan dan daun-daun tumbuhan yang dikeringkan.

“Dia terluka sewaktu bertarung dengan Sultan Banten guru…” jawab Mega Sari dengan suara amat pelan.

“Sultan Banten?! Astaga muridku, jadi kau pun menaruh dendam pada Sultan Banten yang sangat sakti itu?! Sungguh berbahaya perbuatanmu kali ini Mega!” Geleng Nyai Lakbok yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran murid terkasihnya tersebut.

“Sebenarnya kamu sudah melakukan perbuatan yang sangat berbahaya Mega Sari! Perjanjian Wasiat Iblis tanpa perantara seperti yang kau lakukan ini, suatu saat bisa tak terkendali, karena dia akan memakan yang empunya perjanjian itu sendiri, memakan dirimu!” ungkap Nyai Lakbok sambil meramu obat untuk luka didada Dharmadipa.

“Apa sebaiknya tidak engkau hentikan saja permainan ini? Bagaimanapun hidup Dharmadipa yang sekarang adalah kehidupan yang semu, dia bukan Dharmadipa suamimu yang dulu! Itu yang penting kamu pahami! Ambil hikmah dari kejadian terlukanya suamimu itu sebagai pertanda bahwa kau harus berhenti!”

Mega Sari menggelengkan kepalanya, dadanya serasa amat sesak mendapati peringatan dari gurunya tersebut. “Kakang Pangeran Dharmadipa harus menghabiskan semua musuh-musuh saya! Semua orang yang telah menghancurkan hidup saya! Semua orang yang membenci saya!”

Nyai Lakbok menghela nafas berat, dengan raut wajah kecewa ia berkata. “Kamu akan mendapatkan kesulitan! Kalau Dharmadipa sudah tidak bisa kau kuasai! Sapu Lidi Sanggah Sukmamu suatu saat tidak lagi ditakutinya!”

Mega Sari mengangguk mantap meskipun ucapan gurunya barusan tidak ia pikirkan masak-masak. “Saya tahu guru, dan saya siap menjadi korban, asalkan dendam saya terbalaskan!”

Nyai Lakbok mendesah kecewa pada sifat keras kepala muridnya tersebut. “Muridku, bukankah kamu masih memiliki seorang sanak keluarga di dunia ini? Datanglah pada Kakakmu yang bernama Jaya Laksana itu, ia orang baik yang sangat menyanyangimu meskipun belum sempat ia tumpahkan kasih sayangnya itu padamu, dan bukankah kalian pernah saling jatuh cinta dulu pada saat sebelum mengetahui kalau kalian bersaudara kandung? Pergilah padanya, ia pasti akan sanggup melindungimu!”

Mega Sari menggelengkan kepalanya perlahan. “Saya tidak bisa guru, saya dengar saat ini kehidupan Kakang Jaya sedang menanjak, ia diangkat menjadi seorang Tumenggung oleh Sultan Banten dan menjadi orang yang sangat mukti disana, kalau saya mendatanginya saya hanya akan membuat kesulitan baginya, bisa-bisa Sultan memecatnya dan ia akan menjadi sasaran banyak orang yang dendam dan benci pada saya! Saya tidak mau itu terjadi Guru, saya kasihan padanya karena di masa lalu ia selalu hidup susah dan penuh derita karena dibuang oleh orang tua kami!”

 Nyai Lakbok mengangguk-ngangguk, ia lalu mengelus-elus perut Mega Sari yang sudah hamil lima bulan. “Muridku, ingatlah pada bayi dalam kandunganmu ini, hati-hati muridku, biasanya orang yang sedang mengandung akan mendapatkan banyak sekali godaan! Terutama dari akibat perjanjian Wasiat Iblismu ini!”

Mega Sari mengangguk lemas. “Terima kasih Guru, saya akan berhati-hati dan akan terus menggembleng ilmu kebathinan saya.”

*****

Malam harinya Di rumah Jaya Laksana, seorang prajurit tergopoh-gopoh masuk dengan tergopoh-gopoh menghadap Lurah Tantama Indra Paksi. “Kenapa surat itu tidak segera kamu sampaikan? Bagaimana kalau isinya sangat membahayakan Gusti Tumenggung?” tegur Indra Paksi.

“Maaf, tadi sebetulnya sudah mau langsung kami sampaikan, tapi Gusti Tumenggung Cahyaningrat ingin memeriksanya terlebih dahulu karena ini menyangkut kematian para prajurit di bawah komandonya.” jawab si prajurit. “Kenapa surat untuk Gusti Tumenggung Jaya Laksana malah diperlihatkan pada orang lain? Bodoh!” semprot Indra Paksi dengan marah.

Sementara itu, Jaya sedang berduaan dan bermesraan dengan istrinya didalam kamarnya, dengan manja Galuh menaruh kepalanya dipangkuan Jaya. “Akhir-akhir ini aku ingin selalu dengan Kakang, terkadang kalau Kakang sedang sibuk seperti hari ini, rasanya ingin sekali menyusul dan menyertaimu…” ungkap Galuh dengan suara manja.

Jaya tertawa kecil. “Hehehe... Hawa perempuan yang sedang mengandung seperti itu, tapi jangan terlalu diikuti, kita harus tetap biasa-biasa saja, kelihatannya aku akan semakin sibuk, karena selain harus menangani kasus pembunuhan misterius ini, Banten sedang dalam masa persiapan akhir untuk menggempur Pajajaran, ditambah juga beberapa hari yang lalu Gusti Sultan diserang oleh mahluk ghaib sebangsa siluman…”

Galuh menatap manja pada suaminya. “Tugas itu tidak harus untuk Kakang, banyak pendekar dan senopati yang mumpuni di Banten ini, atau berikan saja pada Tumenggung Cahyaningrat yang ambisius itu Kakang, aku dengar dari desas-desus bahwa ia iri padamu karena Gusti Sultan sangat mempercayaimu. Gusti Sultan lebih mempercayai Kakang padahal Tumenggung Cahyaningrat adalah kerabat Gusti Sultan sendiri.” 

Jaya menggelengkan kepalanya perlahan. “Aku tidak bisa menolak sebuah tugas, apalagi dengan posisiku yang sekarang, dan aku pikir Sultan belum mempercayaiku sepenuhnya karena bagaimanapun aku adalah Putra Prabu Kertapati Nyai…”

“Bagaimana kalau kita tangani bersama seperti dulu? Seperti saat kita masih jadi pendekar dan pengembara?” tawar Galuh.

“Kamu ngomong apa Nyai? Bukannya aku tidak mau tapi Kamu kan sedang mengandung, kamu harus menjaga kandunganmu agar bayi kita sehat istriku.” jawab Jaya sambil mengelus-elus kepala istrinya.

Saat itu ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka. “Siapa?” tanya Jaya yang agak dongkol karena mengganggu waktu bermesraan dengan istrinya.

“Maaf, saya Indra Paksi Raden, ada surat untuk Raden…” jawab Indra Paksi dari balik pintu.

Jaya menghela nafas berat, kemudian ia pun bangun lalu membuka pintu, ia langsung menemui si prajurit pembawa surat. “Ada apa?” tanya Jaya.

“Maaf Gusti, tadi pagi kami menemukan surat ini diatas mayat-mayat para prajurit yang tewas dengan tubuh menghitam seperti kasus pembunuhan yang terjadi selama ini, dan ternyata setelah kami periksa, ini adalah surat untuk Gusti Tumenggung!” ucap si prajurit sambil menyerahkan sepucuk surat pada Jaya.

Jaya menrima surat itu dan membacanya, isinya. “Jaya Laksana atau Pendekar Dari Lembah Akhirat, kalau kamu benar-benar seorang ksatria, jawab tantanganku! Kutunggu kau di hutan Banten Girang dekat desa Karang Tinunggal, tertanda, dari orang yang selama ini kamu cari, orang menyebabkan banyak kematian di negeri ini!”

Dahi Jaya Laksana berkerut setelah selesai membaca surat tersebut. “Jadi memang benar kalau sebenarnya akulah yang diincar orang ini!” pikirnya.

“Kamu tahu orangnya seperti apa?” tanya Jaya pada prajurit itu.

“Menurut laporan saksi mata yang melihat kejadian, Yang lelaki adalah orang dari Negeri Tiongkok, ia berpakaian ala Tiongkok dan wajahnya sangat dingin juga pucat! Yang perempuan adalah orang pribumi yang seperti gadis kota biasa, tapi wajahnya tidak terlihat jelas karena ditutupi oleh topi caping yang lebar!”

Jaya mengangguk-ngangguk. “Kamu boleh pergi!” si Prajurit menjura hormat lalu beringsut meninggalkan Jaya.

“Apakah itu surat tantangan Raden?” tebak Indra Paksi.

“Benar, tapi tolong jangan beritahu istriku!” jawab Jaya.

“Lalu apakah Raden akan memenuhi tantangan itu?” tanya Indra.

“Tentu saja, karena orang ini adalah dalang dibalik kasus pembunuhan keji ini, dan selain itu sebagai seorang kesatria, pantang bagiku untuk menolak tantangan!” tegas Jaya.

“Tapi ini pasti akan sangat berbahaya Raden! Biarkan saya ikut, saya akan segera mempersiapkan pasukan!” cemas Indra/

“Tidak usah! Ini adalah tantangan pribadi, maka aku harus datang seorang diri! Kamu disini saja, tolong jaga istriku dan Tabib Wong yang sedang membuat penawar racun ini!” tukas Jaya yang kemudian masuk kedalam rumahnya.

Menjelang tengah malam, Jaya melihat Galuh sudah tertidur pulas, dengan sangat hati-hati dan tanpa menimbulkan suara, ia bangun lalu mengenakan pakaiannya, mengambil Keris Pusaka Kyai Segara Geni yang diselipkan di balik pinggangnya juga memasang cincin Pusaka Kalimasada di jari manisnya, kemudian ia keluar dari kamarnya. Setelah itu Jaya mengambil kudanya, dan langsung memacunya keluar kota ke arah selatan.

Di sebuah hutan dekat desa Karang Tinunggal, Jaya Laksana menghetikan kudanya ketika melihat satu api unggun menyala di sana, ia celingukan melihat keadaan disekitarnya, hutan itu sepi senyap, Jaya berpikir sejenak lalu berkata. “Aku Jaya Laksana, aku datang menjawab tantanganmu!”

Dari balik semak-semak rimbun yang gelap keluarlah seorang pria paruh baya Tiongkok dengan gerakan yang sangat enteng dan tidak menimbulkan suara sedikitpun! “Ternyata kamu memang punya cukup nyali!” ucapnya dengan suara dalam.