Episode 71 - Sang Rajapati



Pada saat matahari telah digantikan kedudukannya oleh Sang rembulan, di suatu gua di lereng gunung Gede, Mega Sari nampak baru saja selesai bersemedi, ia lalu membaca mantera sambil melakukan upacara untuk memanggil Jin Bagaspati, tak lama kemudian munculah Jin yang dipanggil tersebut dan langsung masuk kedalam tubuh Dharmadipa, Mega Sari lalu memasangkan selendang Pati Sukma di pinggang dan mengikatkan benang Tirta sukma di jempol kaki kanan Dharmadipa.

Bangunlah tubuh Dharmadipa yang telah diisi oleh Jin Bagaspati tersebut. “Kakang Pangeran, malam ini kupanggil engkau untuk meneruskan rencana kita!”

Akan tetapi tapi Dharmadipa malah berteriak-teriak sambil meronta bagaikan orang gila ketika mendengar perintah dari Mega Sari tersebut. “Bunuh! Aku ingin lebih banyak nyawa!” ia lalu bangun dan mulai mengamuk, dinding-dinding gua yang atos itu hancur terkena pukulan dan sepakan kakinya! “Aku ingin lebih banyak nyawa!” teriaknya menggetarkan seantero lereng Gunung Gede.

Ki Silah dan Emak Inah hanya bisa terdiam saking ketakutannya, Mega Sari yang sempat terkesima karena amukan Dharmadipa langsung mengambil sapu lidi yang ditalikan benang Sanggah Sukma, ia lalu memukul Dharmadipa dengan sapu lidi tersebut, Dharmadipa pun menjerit-jerit ketakutan ketika ketika dipukuli oleh sapu lidi tersebut. “Kakang duduk kataku!” perintah Mega Sari, Dharmadipa pun duduk dengan mulut mengerang sambil menatap wajah Mega Sari.

“Kakang turuti semua perintahku atau akan kupukul kamu dengan sapu lidi Sanggah Sukma ini!” tegas Mega Sari sambil melotot, Dharmadipa pun mengangguk perlahan dengan wajah ketakutan, matanya nyalang memelototi sapu lidi yang telah diikat oleh Benang Sanggah Sukma yang dipegang oleh Mega Sari tersebut.

Mega Sari lalu mengambil baskom berisi air kembang tujuh rupa, ia lalu menaburkan bubuk sihir kedalamnya, nampaklah gambar Sultan Maulana Yusuf alias Sultan Banten didalam air baskom tersebut, “Sultan Banten?” desis Mega Sari dengan nada ragu.

“Kenapa Gusti?” tanya Ki Silah.

“Kenapa sasaran selanjutnya harus Sultan Banten Abah?” tanya balik Mega Sari dengan nada penuh keragu-raguan.

“Gusti kan pernah bercerita kalau air didalam baskom ini akan menggambarkan apa yang ada didalam hati Gusti, mungkin ini karena dendam dalam hati Gusti begitu hebatnya pada Sultan Banten…” jawab Ki Silah yang juga tidak yakin sepenuhnya.

“Benar Abah, tapi untuk membunuh Sultan Banten, pasti tidak mudah!” ragu Mega Sari.

“Nyawa! Aku ingin Nyawa!” teriak Dharmadipa.

Mega Sari segera melirik Dharmadipa dengan tatapan yang menyiratkan keragu-raguan, “Kakang, apakah Kakang sanggup untuk membunuh Sultan Banten?” tanya Mega Sari.

“Akulah sang keabadian, akulah sang kutukan! Aku sanggup membunuh siapa saja!” tegas Dharmadipa dengan suara dalam.

Mega Sari mengangguk lalu menatap Ki Silah dan Emak Inah, “Bagaimana menurut Emak dan Abah?”

“Sebaiknya Gusti coba sekali lagi, mungkin ada yang salah.” saran Emak Inah.

Mega Sari mengangguk, kembali ia membaca mantera lalu menaburkan serbuk sihir kedalam air didalam baskom tersebut, kembali gambar Sultan Banten yang terpampang dalam air tersebut, “Tetap Sultan Banten!” ucap Mega Sari.

“Kalau begitu terserah Gusti saja, kami ikut kehendak Gusti saja…” sahut Ki Silah.

“Baiklah!” Mega Sari lalu menoleh pada mayat hidup Dharmadipa. “Kakang bunuhlah orang yang kau lihat disini!” perintahnya sambil menunjuk pada air didalam baskom tersebut, Dharmadipa mengangguk, ia lalu melangkah keluar gua dan langsung berubah menjadi burung sirit uncuing lalu terbang menuju ke Surasowan!

*****

Selesai melaksanakan shalat isya berjamaah di Masjid Agung Surasowan, Jaya Laksana dipanggil ke balai bengong Sultan Banten yang terdapat di bagian taman Keraton, setelah sampai di tempat yang dituju, Jaya menjura hormat dan Sultan mempersilahkannya duduk dihadapannya, “Jaya, kau tentu telah mengetahui bahwa saat ini Banten sedang berkonsentrasi untuk menyerbu Kota Pakuan Pajajaran.”

“Hamba Gusti Sultan.” angguk Jaya takzim.

“Terus terang sampai saat ini aku belum menemukan cara yang tepat untuk menerobos benteng kota Pakuan yang dikelilingi oleh parit lebar lagi dalam tersebut... Sedang aku memikirkan bagaimana caranya untuk menerobos benteng Pakuan, datang lagi masalah dalam negeri yang harus segera diselesaikan karena kalau tidak, akan sangat mengganggu rencana penyerbuan ke Pajajaran, malah bisa gagal rencana Banten untuk menyerbu Pajajaran gara-gara masalah ini!” ungkap Sultan dengan masygul.

“Ada dua masalah yang membahayakan dalam negeri Banten, yang pertama masalah bajak laut yang semakin merajalela disekitar selat Sunda dan pesisir utara, yang kedua adalah masalah pembunuhan pada para prajurit kita di perbatasan dan para pedagang yang hendak keluar Banten lewat jalur darat, mereka semua mati dengan tubuh menghitam! Itu artinya bisa kita simpulkan bahwa pelakunya adalah orang yang sama! Malah menurut laporanmu sendiri, semalam pembunuh itu telah menyerang penjaga rumahmu!” lanjut Sultan.

“Benar Gusti.” jawab Jaya.

“Maka dari itu aku ingin menyelesaikan kedua masalah ini terlebih dahulu sebelum kita kembali fokus pada rencana penyerbuan ke Pajajaran! Aku telah memerintahkan pada Senopati Tubagus Gempong yang akan dibantu oleh Pangeran Wijayakrama dari Jayakarta untuk menyerbu kepulauan seribu yang menjadi sarang para bajak laut tersebut... Dan untuk masalah pembunuhan para prajurit serta pedagang itu, aku ingin kamu yang menyelesaikannya! Usut sampai tuntas agar peristiwa pembunuhan ini tidak terus berlanjut!” perintah Sultan.

“Daulat Gusti, perintah Gusti akan saya laksanakan sebaik-baiknya!” jawab Jaya.

Baru saja Jaya menutup mulutnya, tiba-tiba terdengarlah suara cuitan parau burung Sirit Uncuing yang keras dan suaranya membuat bulu roma berdiri berkumandang ke seantero keraton Surasowan! “Burung Sirit Uncuing?!” desis Sultan, Jaya pun celingukan mengarahkan matanya keluar balai bengong, “Mengapa ada burung Sirit Uncuing pada malam hari begini?” tanya Sultan.

“Perasaan sayapun jadi tidak enak Gusti…” sahut Jaya.

Mereka berdua lalu bergegas keluar balai bengong yang besar itu, mereka berdua lalu celingukan melihat keatas mencari burung yang dipercaya sebagai pembawa pesan kematian tersebut. “Itu dia burungnya Gusti!” tunjuk Jaya pada bagian tertinggi atap balai bengong, Jaya dan Sultan menatap burung itu untuk beberapa saat, Jaya merasa ada yang aneh pada burung itu, burung itu menimbulkan satu perasaan yang sangat tidak enak bila dipandang, apalagi ketika hidung Jaya mencium bau bangkai yang keluar dari burung itu, aroma maut yang menggidikan hatinya, entah mengapa burung itu seperti mengingatkannya pada Topeng Setan.

“Aku paling tidak suka mendengar suara burung Sirit Uncuing, apalagi pada malam hari begini! Usir dia!” perintah Sultan.

Jaya lalu memungut sebuah batu kerikil yang cukup besar dari tanah, sebelum melemparkan batu itu, Jaya membaca Basmalah terlebih dahulu, kemudian ia lemparkan batu itu dengan diiringi tenaga dalamnya karena ia tahu itu bukan burung biasa! Brakkk! Atap balai bengong itu berlubang besar terkena timpukan batu yang dilempar oleh Jaya, sementara burung Sirit Uncuing tersebut berhasil menghindar lalu terbang menghilang!

“Aneh... saya merasa bahwa itu bukan burung biasa Gusti…” ungkap Jaya.

Sultan mengangguk setuju. “Sayapun merasa demikian, hmm... Kalau kita ingat, menurut laporan para duta kita di Mega Mendung, sekarang di sana sedang ada peristiwa Rajapati yang sangat mengerikan! Kabarnya sebelum kejadian, selalu ada suara cuitan burung Sirit Uncuing yang bercuit nyaring terlebih dahulu!”

“Jaya, pulanglah, jaga istrimu baik-baik! Saya punya firasat yang tidak enak akan hal ini” perintah Sultan setelah terdiam beberapa saat.

“Baik Gusti, kalau begitu saya pamit.” angguk Jaya.

“Berhati-hatilah! Ingat, Rajapati itu mengincar para pembesar Keraton Mega Mendung, dan kau sendiri adalah putra mendiang Prabu Kertapati!” tambah Sultan.

“Hamba Gusti, terimakasih” Jaya pun langsung menjura hormat dan pergi meninggalkan Sultan.

Setelah Jaya pergi, Sultan tergopoh-gopoh berjalan menuju kekamarnya, tetapi alangkah terkejutnya ia ketika melihat permaisurinya, Ratu Khadijah sedang berjalan menuju ke taman kaputren dari arah kamarnya bersama dengan sosok Sultan sendiri! “Dinda!” seru Sultan.

“Kanda Sultan?!” seru Ratu Khadijah dengan sangat terkejut ketika melihat Sultan berada dihadapannya, padahal saat itu Sultan juga sedang berjalan disebelahnya sambil merangkulnya.

Ratu Khadijah keheranan teramat sangat! Ia menatap kedua sosok Sultan, yang satu ada disebelahnya, dan yang satu ada di hadapannya, sungguh mereka tidak ada bedanya sedikitpun, bahkan pakaian yang mereka kenakan saat itu pun sama!

“Siapa kau?!” bentak Sultan yang berada dihadapan istrinya yang baru saja hendak kembali ke kamarnya pada Sultan yang merangkul istrinya, Sultan yang ditanya hanya terdiam, ia menatap dengan tajam dan dingin pada Sultan yang berada dihadapannya, Ratu Khadijah pun tiba-tiba merasakan tubuh Sultan yang merangkulnya menjadi sangat dingin, sedingin mayat! Aroma Bangkai yang disertai kembang tujuh rupa pun santar tajam tercium!

Ratu Khadijah memelototi sosok Sultan yang berada disebelahnya, tengkuknya terasa dingin, perlahan ia melepaskan tangan Sultan yang merangkulnya dan melangkah menjauh, “Dinda kemarilah!” perintah Sultan yang asli, Ratu Khadijah pun menghampiri sosok suaminya yang berada dihadapannya, “Kurang ajar! Siapa kau?! Berani benar meniruku!” bentak Sultan.

Sosok Sultan yang ditanya tidak menjawab, ia hanya menyeringai bengis pada Sultan Banten yang asli, Wusshhh! Sosok Sultan palsu itu berubah menjadi sosok seorang pemuda berambut panjang riap-riapan, bertubuh tinggi kekar, berbaju dan berjubah serba putih, kulit di sekujur tubuhnya pucat pasi seputih kapas, kedua bola matanya semerah darah! “Siluman?!” seru Sultan yang dapat merasakan aura mayat hidup tersebut.

Sultan segera memanggil para prajurit, tapi tak satupun prajurit yang datang karena ternyata mereka semua sudah dibunuh oleh Dharmadipa sehingga mereka semua tertidur! Sultan tak dapat menahan amarahnya lagi melihat prajurit di sekitar taman istananya telah roboh semua, ia menjotoskan tangan kanannya, Dharmadipa menangkisnya, dengan penasaran, Sultan Banten mengirimkan beberapa serangan lagi, tapi ternyata Dharmadipa itu dapat meladeni Sultan Banten dengan baik, bahkan Sultan Banten sangat terkejut ketika terjadi betrokan tenaga dalam dengan lawannya tersebut, ternyata Dharmadipa memiliki tenaga dalam yang amat tinggi!

Sultan segera melompat mundur, ia pun mengerahkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya dan melepaskan pukulan “Sinar Rembulan Purnama”, selarik sinar putih besar menghamparkan udara yang sangat dingin berkiblat menyerang Dharmadipa, mayat hidup Dharmadipa tidak beranjak dari tempatnya, ia hanya tertawa sambil berkacak pinggang, dan Wussshhh! Sinar putih pukulan Sultan Asli menembus tubuh Dharmadipa, Blarrr! Sinar putih itu menghancurkan tembok istana dibelakang Dharmadipa!

Sultan kerutkan keningnya, ia hampir tak percaya bahwa pukulan pamungkasnya itu tidak mempan pada Dharmadipa, ia lalu menghunus keris pusakanya dari pinggangnya, raut wajah Dharmadipa berubah ketika melihat keris pusaka Sultan Banten tersebut yang memancarkan cahaya putih menggidikan dan menghamparkan hawa yang sangat dingin! Keris bereluk tiga belas yang bernama “Kiai aka Panunggul Naga” di tangan Sultan bersuit membabat Dharmadipa, tidak seperti biasanya, kali ini mayat hidup Dharmadipa menghidar dari serangan keris pusaka Sang Sultan.

Sultan terus mencecar Dharmadipa, Dharmadipa nampak sangat panik ketika keris ditangan Sultan terus mencecarnya, ia berkelebat kesana kemari terus menghindar dari sabetan maupun tusukan Keris Pusaka Kiai Panunggul Naga Sultan Banten, hingga pada suatu kesempatan, Sultan kirimkan satu tusukan secepat kilat, Dharmadipa nampak sangat gugup ketika melihat dan merasakan hawa sakti yang dingin dan cahaya putih yang terpancar dari keris Sultan, ia terlalu menaruh perhatiannya pada keris Sultan hingga ia sedikit terlambat menghindar, Breettt! Dharmadipa berhasil menghindari tusukan maut keris Sultan ke samping, tapi dadanya sobek terserempet ujung keris Sultan!

“Aaaaa!!!” jerit Dharmadipa setinggi langit, Sultan segera melompat mundur dan melihat apa yang terjadi Dharmadipa! Dharmadipa terus menjerit setinggi langit sambil memegangi dadanya yang sobek oleh ujung keris Sultan, dari lukanya meneteskan darah berwarna hitam dan mengepulkan asap yang juga berwarna hitam! Ratu Khadijah yang sedari tadi ketakutan langsung merangkul suaminya. 

“Aaaaa!!!” Wushhh! Tubuh Dharmadipa menghilang seketika setelah menjerit hebat kesakitan, ia berubah menjadi burung Sirit Uncuing lalu pergi meninggalkan keraton Surasowan!

Sultan menarik nafas lega sambil menatap langit ke arah kepergian burung Sirit Uncuing barusan. “Dari beberapa malam yang lalu aku sudah curiga, tidak biasanya ada burung Sirit Uncuing yang bercuit di keraton ini apalagi pada malam hari! Ternyata Sirit Uncuing Siluman!”

Permasuirnya yang masih ketakutan semakin mendekap erat suaminya seraya bertanya karena penasaran. “Apakah mungkin itu burung Sirit Uncuing Siluman yang diceritakan dalam peristiwa Rajapati di Mega Mendung Kanda Sultan?” tanyanya.

“Mungkin Dinda, tapi mengapa siluman itu menyamar menjadi diriku dan nyaris mencelakai kita?” sahut Sultan.

“Sebenarnya sudah beberapa malam ini saya mendengar suara burung Sirit Uncuing, ia berkicau terutama saat bada isya dan saat dini hari menjelang subuh, tadinya saya kira burung kesasar” ungkap istrinya, “Apa yang harus kita lakukan Kanda Sultan?” lanjut istrinya.

“Kalau menghadapi manusia sesakti apapun atau jagoan darimanapun, Insyaallah saya tidak takut, tapi kalau menghapi Jurig atau siluman... Jujur, saya belum punya pengalaman…” jawab Sultan.

“Apakah mungkin ini adalah teluh yang dikirimkan oleh pihak Pajajaran karena kita berencana untuk menyerbu negeri mereka?” tanya Ratu Khadijah lagi yang nampak sangat penasaran.

“Mungkin saja Dinda, segala kemungkinan bisa terjadi dalam keadaan seperti ini…” jawab Sultan.

“Kanda, saya dengar dulu Tumenggung Jaya Laksana berhasil mengalahkan seorang pertapa sesat yang berjuluk Topeng Setan, bukankah ia adalah orang yang memiliki ilmu ghaib dan sangat sakti yang menngicar semua keturunan Eyang Prabu Siliwangi? Bagaimana kalau kita suruh Jaya Laksana untuk mencari tahu dan menyelesaikan masalah ini?” usul Ratu Khadijah.

“Kamu benar Dinda, tapi dia sedang kuberi tugas yang tidak kalah pentingnya untuk menyelsaikan kasus pembunuhan para prajurit dan pedagang itu, sudah nanti saya pikirkan lagi, sekarang sebaiknya kita beristirahat!” pungkas Sultan sambil berjalan menuju ke kamarnya setelah sebelumnya memanggil para prajurit untuk mengurus para prajurit yang roboh akibat terkena sirep Dharmadipa.

*****

Di sebuah gua di lereng Gunung Gede, Mega Sari nampak menunggu Dharmadipa dengan sangat gelisah. “Sudah satu minggu Kakang Dharmadipa belum juga pulang…” desahnya dengan cemas.

“Saya pun mencemaskan keselamatannya Gusti, saya khawatir dia mendapat halangan sebab bagaimanapun Sultan Banten bukan orang yang sembarangan, lagipula Sultan pasti dilindungi oleh orang-orang sakti!” Timpal Emak Inah.

“Benar Gusti, apalagi di sana ada Raden Jaya, kakak Gusti sendiri yang namanya begitu menggetarkan dunia persilatan, selain itu Sultan Banten sangat ternama kesaktiannya!” sambung Ki Silah.

Saat itu terdengarlah suara cuitan burung Sirit Uncuing, “Kakang” ucap Mega Sari sambil tersenyum, tapi senyumnya langsung luntur ketika melihat Dharmadipa masuk kedalam goa dengan sempoyongan, di dadanya nampak luka sabetan yang menganga dan bercucuran darah berwarna hitam! 

“Aaaaa! Cepat lepaskan selendang dan benang ini! Aku harus segera keluar untuk mengobati lukaku!” pinta Dharmadipa dengan panik sambil terus mengaduh kesakitan! “Cepat! Aku bisa mati! Cepat!” perintahnya.

Mega Sari segera mengambil sapu lidi yang diikat oleh benang Sangga Sukma dan mengacung-acungkannya didepan wajah Dharmadipa. “Jangan berteriak-teriak memerintahku seperti itu Kakang! Aku tidak suka! Mintalah dengan lembut pada istrimu ini!” bentak Mega Sari dengan melotot.

 “Tolong lepaskan benang dan selendang ini Nyai, aku harus keluar untuk mengobati lukaku.” pinta Dharmadipa dengan lembut pada akhirnya, Mega Sari pun melepaskan benang dan selendang pusaka dari tubuh Dharmadipa, dalam sekejap Jin Bagaspati melayang keluar dari tubuh Dharmadipa sambil menjerit-jerit kesakitan, tubuh Dharmadipa pun kontan jatuh tergeletak!

Seperginya Jin Bagaspati, Mega Sari, Ki Silah, dan Emak Inah segera memperhatikan luka besetan didada mayat Dharmadipa yang terus mengucurkan darah berwarna hitam! “Benar, rupanya Kakang menghadapi orang sakti!” ucap Mega Sari.

“Apa lukanya bisa sembuh Gusti? Dan... Darahnya aneh, warnanya hitam! Darahnya juga sangat panas sampai mengepulkan asap hitam begitu!” tanya Ki Silah.

“Saya tidak tahu... Mungkin kita harus membawanya ke Gunung Patuha untuk menemui Guru Nyai Lakbok!” jawab Mega Sari sambil mengusap luka didada Dharmadipa dengan kain basah.

*****

Pagi itu di Keraton Surasowan, Sultan Banten mengumumkan bahwa semalam telah terjadi penyerangan pada dirinya oleh satu ilmu hitam ghaib, beliau tidak tahu darimana asalnya, yang jelas sebelum mahluk teluh itu menyerangnya terdengar suara cuitan burung Sirit Uncuing, Sultan pun mengeluarkan sabda bahwa para penduduk Banten harus berhati-hati ketika mendengar suara burung Sirit Uncuing, ia pun memerintahkan pada para ponggawanya untuk menyelidiki hal ini.

Sementara itu di rumah Tumenggung Jaya Laksana, seorang pria paruh baya berpakaian ala Tiongkok datang ditemani oleh Indra Paksi dan empat orang prajurit, Jaya yang telah menunggu kedatangannya di halaman depan rumahnya segera menyambut kedatangan pria paruh baya tersebut “Tabib Wong!” sapa Jaya sambil menyalami Sang Tabib.

“Haiya! Saya tidak mengira sekarang Tuan Pendekar sudah menjadi seorang pejabat di Negara Banten ini! Terakhir kita bertemu di Rajamandala, Tuan masih menjadi prajurit di Mega Mendung!” sahut Tabib Wong. “Oh ya apa ada yang bisa saya bantu sampai Tuan jauh-jauh memanggil saya kemari?” tanya Tabib Wong

Jaya memberikan isyarat pada para prajurit, mereka lalu membawa Tabib Wong ke rumah duka para prajurit yang tewas dengan sekujur tubuh menghitam, “Tabib Wong, apakah anda mengenal racun ini? Kalau dari baunya seperti racun ular kobra, tapi sepertinya bisa ini lebih hebat dan lebih ganas, juga lihat tubuh mereka sampai menghitam begini!” tanya Jaya.

Wajah Tabib Wong langsung berubah ketika melihat mayat-mayat prajurit yang tubuhnya telah menghitam itu, dua di antara mereka nampak ada bekas pukulan telapak tangan, Indra Paksi juga memberikan jarum-jarum berwarna hitam pada Tabib Wong, Tabib Wong menggeleng-gelengkan kepalanya. “Racun Raja Kobra Hitam dari barat!” desisnya dengan suara bergetar.