Episode 19 - Permintaan Tolong



Disaat aku sampai di tikungan ruang komputer, tiba-tiba kerah bajuku ada yang menarik dari belakang.

“Ya, kenapa kak?” sapaku kepada wanita yang berdiri di hadapanku setelah aku memalingkan tubuhku.

“Bener kamu yang namanya Edi dari kelas 7D,” tanya wanita di depanku ini memastikan.

“Bener kak, memangnya ada apa?” tanyaku balik.

“Bisa nanti pulang sekolah ketemu di depan lab biologi,”

“Emm, gak janji ya kak, aku usahakan,”

“Oke, aku tunggu di depan lab biologi,”

“Iya kak.”

“Siapa orang itu tadi, baru sekali ketemu eh, juteknya minta ampun ngenalin diri kagak, langsung aja pergi gitu saja,” gerutuku sebal. Aku berjalan melewati kelas 7F sampai menuju kelasku. Masuk kelas kok sepi, ternyata masih jam istirahat. Yang ada di dalam kelas hanya beberapa temanku saja.

“Eh Edi, udah makan belum Ed?” tanya hesti melihat kedatanganku.

“Belum, boro-boro makan. Baru saja di hukum guru IPS terus dicariin pak kepala sekolah di suruh ke ruang BK,” jawabku duduk di depan Mei.

“Pelasaan dali kemalen ke BK telus Ed, emang ada masalah apa?” tanya Mei sambil makan bekal yang dia bawa dari rumah.

“Gak ada masalah sih, cuma minta bantuan saja,” ucapku sambil melihat perbekalan yang mereka bawa.?mungkin karena aku melihat kotak bekalnya Mei, Mei berinisiatif menawarkan bekalnya kepadaku. “Oh, nih mau,” kata Mei sambil menyodorkan roti kepadaku.

“Makasih, kamu baik deh,” ucapku dengan mengambil sepotong roti dari kotak bekalnya Mei.

“Kamu kapan kelumahku Ed?” tanya Mei tiba-tiba.

“Emm, kapan ya..! asal gak malam aja soalnya aku malam ada pengajian rutin di desaku,” alasanku, padahal pengajian selesai jam 8, malamnya lanjut latihan dengan guru besar, topiknya tentang rajah dan beberapa kisah nabi sih.

“Kalau begitu minggu aja gimana Ed,” terang Mei yang kelihatannya mengajakku main.

“Nanti aku lihat dulu ya, kalau gak ada acara boleh. Tapi aku gak tau rumahmu,”

“Gampang, bial pak Haliadi nanti yang jemput,”

“Lah, kamu yang nganter jemput siapa?”

“Selingnya sih pak Hasan, kadang pak Haliadi juga yang jemput gak tentu Ed, emang kenapa Ed,”

“Gak apa, cuma tanya saja,”

Sambil menunggu jam istirahat selesai, aku habiskan ngobrol dengan dewi penyelamatku. Kalau disuruh milih antara Mei atau Hesti, aku bakal kesulitan. Kalau menurut hati kecilku sih, aku milih keduanya satu di samping kanan satunya disamping kiri, jalan bareng. Wih bahagianya, serasa dunia milik bertiga. Bel berbunyi membuyarkan lamunanku aku balik ke tempat duduk ku, hingga satu demi satu anak-anak balik ke dalam kelas. Andik datang lalu memberikanku sebuah pertanyaan.

”Tadi yang ngajak ngobrol kamu di tikungan ruang komputer siapa Ed?” tanya Andik setelah duduk di kursinya.

“Engga tau Ndik, tahu-tau ngajak ngobrol minta janjian pula,” jawabku sambil mengeluarkan buku.

“Eh kamu kok tahu Ndik?”

”Haha, tau dong, mataku kan dimana-mana,”

“Ah, ngaco kamu,”

”Tapi cewek tadi cantik loh Ed’”

“Cantik apanya, orang jutek gitu cantik,”

”Ya cantik kalau nggak jutek maksudku, kenapa nggak kamu sikat saja,”

“Sikat-sikat, kamu kira ngebersihin toilet apa, main sikat saja,”

”Eh siapa tahu Ed. Mei sudah Hesti udah, target berikutnya si cewek tadi dong Ed, hahaha,”

“Lah emang Mei sama Hesti kenapa Ndik?”

”Ah, punya temen satu bloonnya minta ampun,” ucap andik menggerutu sambil menepuk jidatnya.

“Biasa aja kali Ndik,”

”Iya-iya, nanti juga tahu sendiri Ed,”

“Tahu apaan Ndik,”

”Haaaaaah, tau kalau nanti orang yang kamu taksir diambil orang lain,” ucapnya keras sampai anak-anak kelas pada ngeliatin.

“Jangan keras-keras goblog, untung gak ada guru,”

”Hehe, sory,” ucapnya sambil terkekeh.

Beberapa saat kemudian Guru IPA datang, di mulailah pelajaran IPA membahas system reproduksi manusia. “Ting.. tong.. ting.. tong..” suara bel menandakan pelajaran terakhir selesai.”Ini bel sekolah kayak yang jualan es krim keliling ya,”ucapku lirih. Setelah berdoa, kita membubarkan diri, keluar kelas ketemu Wijaya sama Ninda. Kenapa kok gak bareng sama Ninda dan Yeni, karena mereka naik angkot bareng, kalau aku sama Wijaya naik sepeda bareng.

”Ayo keparkiran bro,” ajak Wijaya kepadaku.

“Ayo,” Kami berdua jalan sampai diparkiran, “Sepertinya aku melupakan sesuatu, hem apa ya,“ aku berjalan sambil mengingat-ingat.

”Bro, kamu sudah masuk lab Biologi belum?” tanya Wijaya hingga membuatku ingat seketika.

“Astaga iya, aku ada janji sama cewek di depan lab biologi,” ucapku karena baru ingat ada janji sama cewek aneh di tikungan tadi.

“Wij, ikut aku ke lab biologi sekarang,”

”Emang ada apa Ed,”

“Udah, nanti aku jelasin,”

Aku berlari dengan Wijaya ke Lab biologi, karena sudah hampir kosong sekolahan dikarenakan anak-anak sudah pada pulang, tinggal beberapa guru dan murid yang bisa dihitung dengan jari, yang aku takutkan kalau wanita tadi sudah pulang, 5 menitan berlari sampailah di dekat lab biolongi, alhamdullilah cewek tadi masih ada didepan lab, duduk melamun di depan taman bunga.

“Jangan bengong saja, kesambet baru tau rasa nanti,” ucapku kepada cewek ini yang sedang melamun di depan lab biologi.

”Eh kamu Ed, kirain gak datang,”

“Hampir lupa kak, maaf ya, hehe,”

”Loh kakak bukannya …”

”Hust..!” cewek tadi mengisyaratkan kepada Wijaya untuk diam.

“Emang kamu kenal Wij?”

“En.. engga bro, cuma mirip saja,”

“Oh, emang ada apa kak, nyuruh aku kesini,”

”Ehhmm, jadi gini Ed, gak apa nih ada teman kamu,”

“Gak apa kak, santai saja,” ucapku kepada cewek ini, aku berinisiatif untuk mendekatinya. “Kak, sepertinya ada kotoran dibawah mata kamu,” aku mendekatinya, seperti membersihkan sesuatu dibawah matanya, sebenarnya niatku ingin langsung bertatap mata dengannya, sejenak aku bertatap mata dengan cewek ini, aku melihat sebuah gambaran di dalam rumahnya.?“Oh ternyata ini masalahnya,” gumamku dalam hati.

“Eh bro kamu pulang saja dulu ya, aku mau ngobrol dengannya bentar, tolong ngertiin ya bro,”

”Emmm, oke deh Ed, aku duluan kalau gitu,”

“Maaf ya bro, gak bisa bareng,”

Wijaya meninggalkanku dengan cewek ini berdua, karena masalahnya akan bersifat pribadi, maka aku menyuruh Wijaya pulang duluan.

“Kalau boleh tahu nama kakak siapa?” tanyaku kepada cewek di depanku ini.

“Oh, maaf, aku belum ngenalin diri ya, namaku Niken,” jawab Niken menyodorkan tangannya.

“Oh kak Niken, jadi apa yang terjadi dengan kakakmu kak,”

“Loh, kamu darimana tahu kalau aku punya kakak,”

“Emm tahu dong, kakaknya kak Niken, laki-laki usia sekitar 25 tahun, namanya kak Beni, sekarang lagi berbaring dirumah selama kurang lebih 2 minggu, dokter gak tahu apa penyakitnya, setiap pagi sampai sore tertidur sedangkan malam teriak-teriak seperti orang gila, apa aku benar kak,”

“Kok.. ka.. kamu tahu Ed,” ucapnya tergagap karena syock.

“Sekarang kakak ceritakan garis besarnya saja,”

“Baiklah kalau kamu sudah tahu,”

“Jadi gini Ed. 3 minggu yang lalu kakak aku habis pulang wisata dengan temannya dari Bali, sampai rumah dia tidak ada masalah apapun, masih seperti biasanya, main PS sama teman-temannya kalau senggang di pagi hari atau sore hari, malam hari ada temannya kak Bambang sama cewek kakak aku, kak Rosita datang, setelah ngobrol panjang di teras, aku mendengar kakakku marah-marah sama Bambang dan kak Rosita, entah apa masalahnya aku juga gak tahu, besoknya kakak ku mulai aneh, sering ngigau gak jelas kalau malam sering ketakutan, dan puncaknya 2 minggu yang lalu seperti yang kamu ceritakan Ed, keluargaku sudah coba ke dokter dari Surabaya sampai Jakarta tidak ada perkembangan, bahkan kata dokter kakak aku sehat-sehat saja, kan aneh Ed,” ucap Niken menjelaskan poko permasalahan.

“Sudah nyoba minta tolong sama praktisi supranatural kak?” tanyaku kepada Niken.

“Sudah Ed, setelah pulang dari Jakarta, ayahku mengundang ustad ke rumah untuk didoakan, setelah didoakan kakakku membaik tapi besoknya kumat lagi, aku sudah gak tahu harus minta tolong kemana Ed,” ucap Niken sudah kelihatan pasrah.

“Emm, baiklah, aku bisa bantu kakak,”

“Serius Ed, kapan bisa bantu Ed,”

“Kalau bisa secepatnya, besok saja kita gak usah masuk sekolah dulu kak, nanti aku kirim surat ke sekolah minta ijin sehari,”

“Baiklah,” 

“Alamat kak Niken dimana?” tanyaku kepada Niken menanyakan alamat jelasnya.

“Ini Ed,” Niken menuliskan alamat rumahnya di secarik kertas kemudian diserahkan kepadaku, sejenak aku lihat alamat ini, sepertinya aku tahu alamat ini.

“Kak boleh nanya sesuatu,”

“Nanya apa Ed,”

“Kenal dengan bapak Jonathan kak,”

“Kenal Ed, beliau salah satu pengusaha besar di kompek perumahan itu Ed, memangnya kenapa?”

“Anaknya pak Jonathan itu satu kelas denganku, namanya Mei Lin, kakak kenal?”

“Oh, aku kenal Ed, tapi cuma kenal dekat dengan kakaknya, yaitu Fei Lin. Kalau adiknya si Mei gak terlalu kenal Ed,”

“Oke deh, karena aku cuma punya kendaraan sepeda, jadi bakalan lama ke sana, kakak punya HP gak,”

“Punya Ed, ini,” jawab Niken sambil menyodorkan hp merk Sony entah tipe apa.

“Pinjem bentar boleh kak, ada pulsanya gak,”

“Ada Ed, emang buat apa?”

“Aku mau minta tolong sama Mei buat nganter aku ke rumahmu,” untungnya udah ngasih aku nomor hp nya, memang bener-bener sang dewi penyelamatku.

“Gak usah Ed, nanti aku jemput kamu pake motor ku,”

“Emang kakak tahu rumahku, rumahku masuk dalam area angker loh,” ucapku sambil menakut-nakutinya.

“Eh masak sih Ed, aduh gimana ya,”

“Sudah kakak tenang saja, sini pinjem HP nya kak,”

“Nih Ed,” Niken meminjamkan hpnya kepadaku.

“Caranya nelpon gimana kak, aku kan gak punya HP, hihi,”

“Ah kamu ini, mana nomernya biar aku yang nelpon,”

“Nih kak nomornya,” ucapku menyodorkan secarik kertas bertuliskan nomer hpnya Mei.

Memencet tombol apaan gak tahu lalu di sodorkan Hpnya ke arah ku.

“Tut.. tut... tut.. Halloh,” uwaaahh indah sekali suaranya Mei, hingga bisa menyejukkan hatiku yang sedang panas ini.

“Hallo, dengan nona Mei,” kataku menjawab panggilan telepon.

“Ya aku Mei, ini siapa ya,”

“Ini aku, Edi,”

“Oh Edi, wah sudah punya HP ya sekalang,”

“Engga, ini bukan hpku, ini hpnya kak Niken,”

“Niken...! Siapa itu,” jawabnya dengan nada sinis.

“Dia kakak kelasku, dia minta tolong ke aku untuk ke rumahnya besok,”

“Emang kenapa ke lumahnya,” jawabnya masih sinis.

“Kakaknya lagi sakit , kamu jangan banyak nanya, nih pulsanya tinggal dikit,”

“Aku aja yang telpon balik Ed,”

Tut.. tut..

“Loh kok mati kak,” kataku kepada Niken.

“Coba sini kakak lihat,” ucap Niken mengambil kembali hpnya. Baru saja di pegang, ada telpon masuk.

“Hallo Edi. Kamu dimana?”

“Aku masih di sekolahan, kenapa Mei,”

“Tunggu disana Ed, aku kesana bental,”

“Eh, jangan Mei, nanti kamu…. tut... tut”

“Lah, mati lagi kak,”

“Coba kakak lihat, pulsanya masih Ed, mungkin di matiin sama Mei,”

“Bisa jadi kak, tadi Mei bilang mau kesini,”

“Lah kenapa Ed,”

“Gak tahu kak,”

“Eh jam setengah satu kak, aku ke mushola bentar ya shalat dzuhur dulu,”

“Oke Ed,”

15 menit kemudian Mei datang dengan di antar sopirnya. Setelah lihat-lihat sebentar, ketemu cewek duduk di depan lab Biologi.

“Pelmisi kak, benal dengan kak Niken,”

“Iya benar, adek siapa ya?”

“Saya Mei kak, Edinya ada,”

“Ada, tapi masih shalat di musholla sana, tuh orangnya datang,”

Aku berjalan ke arah lab biologi, dari kejauhan aku melihat 2 cewek cantik menunggu sang pangeran menjeputnya. Sampai lah aku di depan lab biologi.

“Kok kamu kesini?” tanyaku kepada Mei.

“Iya Ed, aku mau tahu kenapa kak Niken minta tolong sama kamu,”

“Jadi gini .. bla…bla….bla..” aku menjelaskan ke Mei seperti menjelaskan sebuah kata dengan mbah kosim dan nyai yun yang oonnya aduh, parah. Mei ini agak susah mengerti dengan sesuatu yang berbau supranatural, kalau untuk pelajaran, aku kalah telak.

“Oh jadi begitu Ed, aku kila,”

“Kirain apa, jadi gimana bisa bantu gak,”

“Bisa Ed, tenang aja tapi ada syalatnya,”

“Syaratnya apaan Mei,”

“Syalatnya besok aku ikut, ya..!” ucapnya sambil memohon.

“Kamu gak dimarahin papamu,”

“Gak apa Ed, aku kan ngomongnya sama kamu,”

“Ya udah deh asal gak dimarahin sama papamu,”

“Besok jemput aku jam 9 ya Mei dirumah, langsung kerumahnya kak Niken saja, kan beda beberapa blok saja kan dari rumahmu,”

“Siap Ed, bisa kok. Habis dali lumahnya kak Niken, mampil kelumahku ya Ed,”

“Wah, gak janji ya Mei, soalnya selesainya pasti malam,”

“Yah,” ekspresinya cemberut. 

Setelah berpikir sebentar..

“Oke deh, habis dari rumahnya kak Niken, mampir sebentar ke rumahmu, tapi jangan lama-lama ya, takut kemaleman pulang,”

“Nah gitu dong Ed, hehe,”

“Ya sudah ayo pulang, hati-hati kalau pulang ya. Sampai rumah istirahat,”

“Iya Ed, sini aku punya sesuatu buat kamu Ed,”

“Apaan,”

“Tutup mata bental dong,”

“Oke,” aku menutup mata, kemudian..

“Cuupppp….” Sebuah kiss mendarat di pipi kananku.

“Loh,” aku bengong dengan kejadian ini.

“Hehe, dah pulang ah, jangan bengong mulu,”

“Eh..! iiya. Kamu hati-hati,”

Mei sudah pulang, tinggal aku dan kak Niken di sekolah.

“Kakak pulang dulu Ed, besok kakak tunggu dirumah,”

“Oke kak,”

Aku bergegas ke parkiran mengambil sepedaku, lalu aku keluar gerbang sokolah, di depan tempat fotokopi ada 4 anak SMA.

“Hei kau sini bentar,” ucap salah satu anak SMA.