Episode 37 - Tigapuluh Tujuh



Pagi itu setelah mandi dan berganti pakaian, Darra menunggu Rin, Mia, dan Maya di depan kamarnya sambil memandang ke arah taman di bawahnya. Dilihatnya beberapa murid menceburkan diri ke kolam renang, padahal airnya sangat dingin. Tanpa sadar Darra mencari Dika di antara murid-murid itu. Ia melihat Fajri dan Emil di sana, tapi tidak ada Dika.

“Ra, udah dari tadi?”

Darra menoleh dan melihat Mia menghampirinya. Mia menggamit lengan Darra lalu menggandengnya.

“Kamu udah sehat? Katanya semalam sakit?” tanya Mia saat mereka berjalan menuju kamar Rin dan Maya. Darra langsung menoleh ke arah Mia dengan bingung.

“Kok kamu tahu?” Darra balik tanya.

“Pas lari pagi tadi Pak Rudi ngeledekin Dika terus. Katanya Dika nemenin kamu di ruang kesehatan semalaman. Jadinya yang lain ikut ledekin dia juga deh,” tutur Mia.

Darra tercengang. Bukankah itu artinya semua jadi mengetahui hubungannya dengan Dika? Astaga, apa yang harus dia katakan jika ada yang bertanya padanya?

“Kenapa kamu nggak ngasih tahu kita kalau semalam kamu sakit?” tanya Rin saat mereka pergi ke aula untuk sarapan.

“Aku nggak enak. Udah tengah malam soalnya,” jawab Darra.

“Tapi kamu ngasih tahu Dika,” tuntut Maya.

“Aku nggak ngasih tahu dia, kok,” balas Darra. “Dia yang datang sendiri. Katanya Agung yang ngasih tahu.”

Sepanjang sarapan, Darra berkali-kali menoleh ke arah pintu untuk melihat kalau-kalau Dika datang. Namun, cowok itu tidak terlihat batang hidungnya. Padahal semua teman-temannya datang untuk sarapan.

Setelah sarapan, semua murid pergi ke gedung paling ujung untuk mengikuti sesi Listening selama dua jam. Sebenarnya Darra ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk bicara dengan Dika yang satu kelompok dengannya. Namun, mereka tidak duduk sesuai kelompok, dan Darra duduk berjauhan dengan meja Dika.

Darra sedang berkonsentrasi mendengarkan percakapan melalui speaker saat tiba-tiba sebuah gumpalan kertas mendarat di mejanya. Ia langsung menoleh untuk mencari siapa yang melemparnya. Rudi yang duduk di sebelah meja Darra memberi isyarat ke arah Sheila. Darra mengambil kertas itu lalu membukanya.

Jam bebas nanti temui gue di taman luar.

Darra kembali meremas kertas itu sambil mengerenyitkan dahi. Ia bahkan tidak tahu di mana taman luar berada. Darra tidak memedulikannya dan kembali berkonsentrasi pada pelajarannya.

Setelah sesi Listening berakhir, Darra pergi ke kamarnya untuk menyimpan buku-bukunya. Kemudian ia kembali keluar karena sudah janjian dengan teman-temannya untuk bermain ayunan di taman selama jam bebas. Namun, Darra kaget ketika melihat Sheila sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

“Elo kira gue main-main ya?” sembur Sheila tiba-tiba.

“Aku nggak tahu taman luar di mana,” balas Darra.

“Ya udah, ikut gue aja!” Sheila menarik lengan Darra lalu membawanya turun.

Darra yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya mengikuti Sheila hingga keluar dari gerbang wisma. Ia tidak memikirkan apa keperluan Sheila dengannya, dan justru melihat dengan takjub ke arah beberapa orang temannya yang menyewa kuda.

Sementara itu, Maya yang sedang berada di taman bersama Rin dan Mia rupanya melihat Darra dan Sheila dari kejauhan.

“Eh, eh, itu ngapain Sheila nyeret-nyeret Darra segala?” bisik Maya sambil menunjuk ke arah gerbang. Teman-temannya ikut menoleh ke arah yang ditunjuk.

“Wah, jangan-jangan mereka mau ketemu Vina.” Rin langsung terkesiap. “Tadi pagi kan anak-anak ramai gosipin Darra sama Dika. Jangan-jangan Vina mau ngelabrak Darra lagi?”

“Susulin, yuk!” ajak Mia.

Mereka mengikuti Darra dan Sheila keluar menuju taman yang memang agak jauh dari wisma. Tadi murid-murid pergi ke sana saat lari pagi, jadi mereka tahu arahnya. Rupanya dugaan mereka benar, Vina dan Carla sudah menunggu di sana. Rin, Mia, dan Maya hanya mengintip dan mendengarkan pembicaraan mereka dari kejauhan.

“Wah, gue nggak nyangka kalau selain nyebelin, ternyata elo sok penting juga ya,” kata Vina saat Darra berdiri di hadapannya. “Gue nyuruh elo nemuin gue di sini aja, mesti dijemput dulu.”

Darra melirik Vina. “Aku nggak tahu taman luar di mana...”

“Ya nanya, dong! Elo punya mulut buat apa?” sela Vina dengan nada tinggi.

“Terus, kamu mau ngapain ketemu aku?” tanya Darra. Kali ini ia menatap langsung ke mata Vina.

Vina melipat tangannya di depan dada. “Mungkin elo udah dengar ya, kalau tadi pagi anak-anak ngomongin elo sama Dika. Tapi elo nggak usah senang dulu, karena gue tahu pasti. Dika nggak mungkin tahu-tahu nyamperin elo terus nemenin elo semalaman kalau bukan elo yang godain dia. Atau memperalat dia.”

Rin, Mia, dan Maya sempat terpana saat melihat ujung bibir Darra terangkat.

“Jadi kamu percaya cerita yang beredar kalau Dika nemenin aku semalaman?” balas Darra. “Semalam aku turun ke ruang kesehatan sendirian, dan cuma ketemu Pak Rudi. Selama Dika nemenin aku, pintu ruangan terbuka. Jadi kamu bisa nanya sama Pak Rudi, apa aja yang aku omongin sama Dika. Atau kamu bisa nanya Dika langsung, kenapa dia nemenin aku. Aku nggak manggil dia, kok. Dia sendiri yang datangi aku. Terserah kamu mau percaya atau nggak.”

Darra melangkah melewati Vina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun, Vina menyambar lengannya.

“He, elo berani nantangin gue?”

Rin, Mia, dan Maya terkesiap saat melihat Vina menampar Darra. Mia langsung memukul-mukul lengan Rin.

“Panggil Agung—atau Dika—atau siapa aja!” bisik Mia.

Rin buru-buru berlari kembali ke arah wisma. Yang pertama dilihatnya adalah taman dan kolam renang, karena cowok-cowok itu paling sering berada di sana. Namun, baik Dika maupun Agung tidak ada di sana. Jadi Rin berlari menuju kamar cowok. Rupanya mereka sedang duduk di salah satu tempat tidur sambil mengobrol.

“Dika, Dika! Buruan ikut gue!” panggil Rin sambil menarik lengan Dika.

“Ke mana?” tanya Dika kaget.

“Vina tuh, lagi ngelabrak Darra di taman tempat kita lari pagi tadi gara-gara gosip elo berduaan sama Darra semalam!” jawab Rin sambil terus menarik lengan Dika.

Namun, justru Abrar yang lebih dulu bangkit lalu keluar dari kamar. Rin bergegas menyusulnya, diikuti oleh Dika dan Agung.

Darra yang tidak tahan karena Vina menarik-narik rambutnya, akhirnya mendorong Vina sekuat tenaga hingga tersungkur. Wajah Vina memerah karena marah. Ia langsung bangkit dan mengayunkan tangannya ke arah Darra. Namun, Darra kaget karena Abrar menangkap tangan Vina.

“Masih main keroyokan juga sampai sekarang?” tanya Abrar dengan nada dingin. “Apa lagi masalahnya sekarang? Soal Dika lagi?”

Vina melotot ke arah Abrar lalu menyentakkan tangannya. “Bukan urusan elo!”

Abrar mendengus. “Elo sampai berbuat kayak gini cuma gara-gara kemakan gosip? Daripada elo capek-capek melampiaskan ke orang lain, kenapa nggak tanya langsung sama Dika soal gosip itu?”

Darra kaget saat melihat Dika dan Agung juga ada di sana bersama teman-temannya. Sejak kapan mereka datang? Bagaimana mereka tahu Darra ada di sini?

“Tahu nih, Dika,” sahut Mia. “Kasih kejelasan dong, sebenarmya semalam kamu ngapain nemenin Darra di ruang kesehatan? Emangnya ada hubungan apa kamu sama Darra?”

Semua mata tertuju pada Dika, termasuk Darra. Dadanya berdebar cepat. Apa Dika akhirnya akan mengakui mengenai hubungan mereka? Ataukah dia akan bersikeras menyembunyikannya? Namun, Dika hanya menunduk menatap rumput di bawah kaki mereka tanpa berani melihat ke arah teman-temannya.

“Nggak usah ngeributin soal ini lagi,” kata Dika akhirnya. “Nggak ada apa-apa. Jadi nggak usah diributin lagi.”

Darra tercengang mendengar ucapan Dika. Apa maksudnya dengan “Nggak ada apa-apa”? Apa Dika sungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Tuh, elo udah dengar sendiri,” kata Abrar memecah kesunyian. “Mereka nggak ada apa-apa. Jadi lain kali jangan mukul orang sembarangan.”

Dada Darra terasa nyeri, dan matanya mulai memanas. Ia buru-buru melangkah melewati teman-temannya sebelum airmatanya menetes.

“An...”

Darra mengabaikan Dika yang sempat meraih lengannya. Ia pergi menjauh dari taman dan pergi ke sebuah shelter yang berhadapan dengan petak-petak bunga. Hujan mulai rintik-rintik, jadi Darra yakin teman-temannya takkan ada yang menyusulnya ke sini.

Airmata Darra menetes. Ia sungguh kecewa dengan pernyataan Dika. Padahal kemarin cowok itu yang mengatakan bahwa ia takkan bersikap seperti itu lagi padanya. Kenapa kali ini ucapannya berbeda? Kenapa Dika terlihat lemah di hadapan Vina?

“Nggak usah nangisin cowok.”

Darra buru-buru menghapus airmatanya saat mendengar suara Abrar di belakangnya. Cowok itu menghampiri Darra lalu duduk di sebelahnya.

“Aku nggak tahu hubungan kamu sama Dika yang sebenarnya kayak apa,” kata Abrar. “Tapi setelah kamu lihat sendiri respon dia tadi, mestinya kamu nggak usah terlalu mikirin perasaan kamu ke dia.”

Darra berusaha menahan airmatanya tanpa menjawab. Kata-kata Abrar memang ada benarnya. Namun, tetap saja Darra merasa kecewa pada Dika.

“Adikku nggak boleh cengeng,” kata Abrar sambil menepuk-nepuk dahi Darra dengan lembut. “Kalau ada yang nindas kamu kayak tadi, mestinya kamu balas. Kalau dia narik rambut kamu, kamu balas tarik rambut dia. Bukannya kamu pernah dikenal kayak preman karena berantem sama Vina?”

Darra tertawa mendengarnya. Perasaannya memang sedikit lebih baik setelah Abrar menemaninya di sana hingga hujan reda. Saat mereka kembali ke wisma, teman-temannya tidak ada yang membahas mengenai hal tadi. Saat mereka ditugaskan di halaman wisma untuk sesi Sight-seeing sesuai kelompok, Darra tidak banyak bicara dengan Dika. Ia juga menghindari pandangannya dan memilih menempel dengan anggota kelompok yang lain, karena Darra tahu Dika tidak akan membicarakan hal pribadi jika ada orang lain bersamanya.

~***~

“Ah, kenapa hujannya nggak berhenti juga,” gumam Maya sambil menguap.

“Ra, pipi kamu agak biru,” kata Mia sambil mengusap pipi Darra.

“Iya lah, Mi. Emang kamu nggak lihat tadi Vina mukulnya begini?!” sahut Rin sambil menunjukkan tinjunya.

“Aku nggak apa-apa, kok,” kata Darra menenangkan. Mereka sedang berada di atas tempat tidur Darra. Seluruh murid telah berkemas sejak sore untuk pulang. Namun, karena hujan yang turun cukup deras, Pak Rudi memutuskan untuk menunda kepulangan mereka hingga besok pagi karena khawatir dengan kondisi di jalan.

“Tapi aku nggak nyangka deh kalau Dika nggak ngakuin hubungan kalian,” bisik Maya. “Aku kira dia orangnya lebih jantan.”

“Kalau aku lebih berpendapat Dika sama Vina sebenarnya pacaran,” sahut Rin. “Maaf ya, Ra. Bukannya aku pengen bikin kamu tambah sedih. Tapi kenapa coba, Dika nggak mau ngaku dan nggak mau belain kamu di depan Vina kalau emang dia nganggap kamu pacarnya.”

Darra memilih untuk tidak menjawab. Ia merasa lebih lega karena program mereka hari itu berakhir, dan Darra tidak harus berada di satu kelompok dengan Dika lagi.

Saat mereka pergi ke aula untuk makan malam, Darra melihat Vina dan teman-temannya sedang duduk di salah satu meja. Awalnya Darra berusaha mengabaikannya, tapi ternyata mereka sedang membicarakan Darra yang mereka anggap telah berusaha menarik perhatian Dika dengan berpura-pura sakit dan mengiriminya pesan agar menemaninya. Telinga Darra terasa panas karena Vina membicarakan hal itu di depan beberapa teman sekelas mereka yang lain.

Akhirnya Darra sengaja melewati meja Vina lalu mengambil kaleng minuman Cola di depan Vina dan menyiramkannya ke bagian depan baju Vina. Vina sempat memekik kaget hingga membuat seisi aula menoleh ke arah mereka.

“Sialan!” maki Vina sambil melotot ke arah Darra.

Darra mendengus. “Itu untuk biru di muka gue. Dan ini kalau elo masih ngomongin kebohongan soal gue.” Darra meremas kaleng cola di tangannya hingga remuk lalu meletakkannya kembali di meja.

Teman-temannya sempat tercengang melihat sikap Darra. Namun, setelah itu aula dipenuhi tepukan dan sorakan atas keberanian Darra, terutama Abrar. Cowok itu tersenyum bangga ke arah Darra saat melihat Vina tidak membalas. Bahkan Abrar juga duduk menemani Darra di bus dalam perjalanan pulang. Darra sendiri tidak tahu ia memiliki keberanian dari mana, tapi ia merasa nyaman dan aman karena tahu ia memiliki Abrar di sisinya.