Episode 31 - Terobos


Jangan lihat tajamnya pedang dari bagus-tidaknya sarung.

—Pepatah Nagart


Tiga sosok melangkah hati-hati di bawah kemerlap bintang-bintang serta bulan. Meski benderang karena bulan penuh, itu masih tak mampu sepenuhnya menyingkap gelap malam.

“Aku rasa ini rencana yang—maafkan jika terdengar lancang— sangat bodoh. Para bandit biasanya melakukan serangan kejutan pada pedagang. Mata para pengawas sudah terlatih, kelam tak akan cukup membutakan penglihatan mereka, kita akan jatuh meregang nyawa,” kata sebuah suara dengan logat Jaffar yang kental. Kentara sekali perkataan diucap sembari mengertakkan gigi.

“Bahasamu puitis. Dan, lihat siapa yang bicara tentang rencana bodoh,” Hikram membalas, kepuasan tanpa tedeng aling-aling terdengar dalam suaranya. “Seingatku kau tidak sepengecut ini waktu menantangku. Padahal, untuk melawanku dalam lima gebrakan kau masih butuh waktu lima tahun lagi untuk belajar.” Hikram berpaling, mengawasi sosok yang berkeluh kesah itu sebentar, kemudian mengeluarkan semacam dengus menghina, ”atau sepuluh. Sepuluh tahun latihan penuh.”

 “Diam, Fathur,” Thaif berucap, sudah tahu bahwa adiknya berencana membalas perkataan Hikram dengan penuh kebencian. Adiknya itu diam didera pengawasan sang kakak, meski ia tetap mengeratkan pegangan pada busur ditangannya.

Hikram melempar pandang menantang pada wajah pucat milik Fathur, legiun yang pernah dihajarnya di kedai Sanfeilong, sebelum memutuskan untuk melangkah maju lagi. ia sendiri telah memanggil tongkat bambunya, dan kali ini menggunakannya untuk menyisihkan belukar yang menghalangi. Dia melangkah terus menuju pepohonan terakhir, kawasan terluar dari kemah para bandit. Tembok para penjahat pimpinan Bandit Emas yang telah meluluh-lantakkan berbagai desa pun sudah dapat terlihat.

Kali ini, Hikram tengah menjalankan rencana yang ia susun bersama si kapten legiun. Pertama, Legiun Asing akan menyerbu lawan, membuat perhatian para penjahat ini terpusat pada gerbang utama. Kedua, Hikram akan memutar, lantas menyelinap dari sisi belakang kemah, berencana untuk langsung menemukan Bandit Emas dan jika perlu, menghabisinya secepat mungkin sehingga para legiun tak perlu mandi-darah untuk menuntaskan terornya. 

Sebenarnya, penghinaan para penjahat ini pada Apit yang merupakan anak dari mendiang gurunya sendirilah yang menyulut amarahnya. Para bandit memang berbuat kejahatan-kejahatan lain, tapi terutama yang membuat Hikram benar-benar ingin menghukum adalah kelakuan tak pantas mereka pada Apit, tak lebih dan tak kurang, itu sudah cukup sebagai alasan. Mungkin Ambal yang memang berjiwa ksatria marah karena mereka bertindak kriminal, tapi hal yang mendorong Hikram saat ini semata-mata dendam pribadi. Hikram tak akan melepaskan siapapun yang telah berbuat kejahatan pada orang-orang yang dekat dengannya.

“Kita akan ketahuan,” lagi-lagi Fathur bicara, tak bisa menahan diri, “ada cukup cahaya untuk melihat, bulan sedang cukup terang. Ini mustahil, kita harus mundur selagi bisa—”

“Tidak dibawah pengawasanku,” kata Hikram tanpa menoleh. “kalau mau kabur, tunggu saat aku sedang sibuk atau kupukul kepalamu karena telah bertingkah pengecut. Dan pastikan tembakkan anak panahmu ke udara terlebih dahulu, kau bisa bikin semua kacau kalau tak lakukan itu.”

“Kami tak akan kabur,” Thaif berkata tenang, dan ia berpaling mengancam pada adiknya. “kita tak akan melakukan hal memalukan seperti itu, benar bukan?”

Fathur menelan ludah. “Tentu saja tidak.”

“Bagus. Kalau begitu diamlah, berhenti mengoceh.”

Mereka masih bertukar percakapan lagi setelahnya, tapi Hikram tak begitu mendengarkan. Ia merundukkan badan, mengawasi langit untuk menunggu awan menutupi bulan. Ketika waktunya tepat, ia mengangkat jari dan menunjuk ke depan, memastikan bahwa kakak-beradik legiun muda itu bisa melihat petunjuk yang diberikannya, kemudian merangkak disusul oleh keduanya tepat ketika rerimbunan telah habis dan kelihatan bekas-bekas pohon gundul yang telah ditebang untuk memudahkan para anak buah Bandit Emas mengawasi kegelapan.

Terlihat sebuah pintu gerbang dari kayu, dan ini gerbang kedua milik Bandit Emas, bukan gerbang utama. Ukurannya lebih kecil, pintu utama memang berada di sisi yang lain. Jalan keluar-masuk itu bahan pembentuknya berbeda dari tembok yang memanjang di sisi kanan-kirinya. Alih-alih kayu, keseluruhan tembok terbuat dari lapisan tanah padat serupa lempung yang dibentuk menyerupai bukit yang terlampau curam, obor-obor menyala di sisi luar dan dalamnya. Dahi Hikram berkerut saat mengawasi betapa mulus serta seragamnya rancangan tembok itu. tak mungkin dalam waktu sesingkat ini mereka bisa membentuk semuanya serapi itu, tidak bahkan jika dibantu oleh ahli rancang-bangun kelas kakap yang sering dipekerjakan oleh istana. Kecuali ….

“Sial sekali,” Hikram menggumam sendiri ketika sebuah kesimpulan datang, kemudian mengutuk Erutuhu karena tak memberitahunya bahwa ada Pemegang Gelar lain selain tiga jenis bandit dalam gerombolan lawan, seorang Pemegang Gelar yang ahli dalam membentuk elemen pembentuk tanah, yang berhasil mendirikan tembok dalam waktu sesingkat ini.

Pikiran Hikram terganggu saat ia berpaling. Sebuah kelebatan terlihat di sudut matanya, tepat sejarak satu lemparan tombak dari arah kiri. Hampir lolos, beruntung dia belum meneguk banyak minuman hingga cukup awas. Ukurannya besar, bentuknya seperti manusia bongkok dan hilang secepat datangnya. Tapi, tak mungkin manusia biasa bisa terbang tinggi seperti itu, terbangnya pun tanpa suara.

Hikram menunggu-nunggu serangan, kalau memang bayangan itu milik seorang musuh. Setelah jeda menegangkan yang hanya diisi oleh kesunyian, tak ada apapun. Tak ada jarum beracun yang ditiupkan, tak ada entakan hawa murni yang dimaksudkan untuk menyerang. Siapapun itu, ia tidak memiliki niat buruk.

Maka, tanpa tunggu lama Hikram mengangkat tangannya ke udara, kelima jarinya kemudian menutup membentuk kepalan.

Fathur langsung mengerti. Kali ini tanpa banyak cakap ia berlutut, menarik anak panahnya dari kantung di punggung, lalu mengincar. Bukan ke tembok atau gerbang musuh, melainkan lurus ke atas kepalanya. Tak lama anak panahnya meluncur cepat ke udara. Saat benda itu mencapai puncak tertingginya, denyar hawa murni yang disalurkan oleh Fathur ke anak panah tersebut melebar dari ujungnya, menyulut si anak panah hingga yang tersisa hanya abu, sementara denyut hawa murni besar yang tersalur melebar, terus melebar. Hikram mampu merasakannya, begitu juga mereka semua yang telah melatih hawa murninya dalam jarak ratusan langkah. Fathur terengah-engah setelah itu, pengerahan hawa murni ini telah menguras tenaganya sampai lebih dari setengahnya.

Pertama tak ada jawaban, tapi tak lama kemudian terompet terdengar bersahut-sahutan. Pertama-tama terdengar jauh, tapi kian lama kian dekat saja, kemudian disusul oleh para anak buah Bandit Emas yang membalas dengan terompet yang mengeluarkan bunyi melengking yang cukup nyaring, mirip sebuah peluit.

Tarian kematian telah dimulai oleh para legiun.

“Lalu apa yang kita tunggu, Pemegang Gelar?” Thaif sang kakak bertanya, tapi Hikram tak menjawabnya. Gemuruh langkah kaki lamat-lamat terdengar, dan setelah itu, lesatan anak panah yang sangat samar, hanya bisa didengar oleh mereka yang menajamkan pendengaran dengan hawa murni. Para penjaga Bandit Emas yang berada di sisi yang Hikram amati langsung berkurang jumlahnya, tak diragukan lagi pergi untuk menguatkan barisan di gerbang utama.

“Itu yang kita tunggu, orang Jaffar. Kuharap arwah Ariffin Denari berada di sini juga untuk melihat kalian beraksi.”

Hikram yakin perkataannya membangkitkan api di dalam raga dua orang Jaffar itu. Hikram berdiri dan masih agak menundukkan badan untuk maju menuju tembok, sementara kedua orang Jaffar mempersiapkan anak panah untuk menjaga agar pergerakan Hikram tak terganggu. Salah satu pengawas bergerak kalut, sepertinya siap berteriak begitu melihat sosok Hikram.

Itu yang kedua kakak-beradik nantikan. Mereka membidik, lalu menembakkan panah mereka bersamaan. Satu meleset, tapi satunya lagi dengan gemilang menancap tepat di leher si bandit bahkan sebelum ia sempat memperingatkan teman-temannya, napasnya tersendat, badannya jatuh ke sisi dalam tembok.

Sebuah desau halus terdengar dari atas tembok, dan secara naluriah Hikram berkelit. Benar saja, lebih lama sedetak jantung ia berdiam di tempat sebelumnya maka sebuah anak panah akan bersarang dibadannya. Anak buah Si Bandit Emas yang menembak itu langsung diincar dengan anak panah oleh dua pendamping Hikram yang masih bersembunyi dalam kegelapan. Hikram mengertakkan gigi ketika dia semakin dekat dengan tembok. Dia mengentakkan napas, mempercepat langkah dan melompat dengan ilmu peringan tubuhnya yang tak seberapa.

Tidak. Kurang sedikit lagi, lompatannya kurang tinggi, dia tak akan sampai ….

Hikram menguatkan diri dan menusukkan tongkatnya pada tembok tanah. Berbeda dengan pertahanan yang berbahankan kayu, susunan serupa lempung ini rupanya cukup lembek, tongkatnya melesak sampai sepertiganya. Tancapan membantu untuk mendukung badan Hikram, dan tak lama ia telah sampai pada tempat yang dirasanya cukup baik pijakannya, lalu naik pelan, tongkatnya sebagai semacam alat bantu yang ditancapkannya berulang kali sembari mendaki.

Begitu menemukan pijakan yang landai, dia langsung disambut oleh dua orang bandit yang baru naik dari sisi dalam, tak diragukan lagi keduanya Pemegang Gelar Bandit Perunggu melihat dari mustika golok di tangan mereka. Hikram menyeringai, lalu menyingkap Gelarnya sebagai Pagar Betis Satu Orang.

Kedua calon lawan bergerak berbarengan. Satu mengincar leher, ingin langsung menggorok lelaki kumal yang nekat menerobos tembok ini, satunya lagi berencana untuk membabat kakinya, tapi Hikram hanya membuang udara lewat hidung dalam tawa cemooh karena pasalnya, gerakan mereka sangat lambat dimatanya.

Dulu, waktu Front Barat masih menjadi kejayaan Hikram Sathar, dialah yang menahan gerbang seorang diri, seorang diri melawan ratusan! Mana mungkin dua orang, walaupun Pemegang Gelar sekalipun mampu merobohkannya sementara para prajurit Jaffar yang banyak saja dibuatnya terpaku di tempat dan tak bisa memutuskan untuk melanjutkan menerobos atau minggat?

Hikram mengangkat kaki dan menginjak golok yang akan membacok kakinya, menahan benda itu di telapak sepatu, sementara kedua tangannya yang menggenggam tongkat menggebuk sisi badan bandit satunya yang sama sekali tak terjaga, yang roboh dengan lolongan memilukan karena bagian dada tepat pada jantungnya kini berhias lebam. Setelah itu, tanpa ampun dia menggebuk bandit satunya yang masih berupaya menarik goloknya yang ditahan. Si bandit langsung tertelungkup tak sadarkan diri akibat pukulan tongkat yang kerasnya bukan main.

Hikram meluruskan diri. Setelah merobohkan dua orang itu, bisa dilihatnya lima orang bandit datang dari satu arah, sedangkan tiga lainnya datang dari arah lain. Huh, rupanya mereka ingin mengepungnya dari dua sisi!

Hikram memutar tongkatnya dalam satu tangan, lalu bersiap dengan pembukaan jurus Paku Baja Penembus Kayu warisan mendiang gurunya yang kedua, yang berjuluk Tombak Utama Nagart. Kini, tongkatnya siap menusuk tanpa berniat membunuh dan ia yakin akan mampu bertahan malam ini meski dikepung belasan Bandit Perunggu sekalipun. Tanpa menunggu, Hikram melesat, tongkatnya lurus menohok perut lawan yang dilemparkannya jauh.

--

Bayangan yang sekilas dilihat Hikram tadi menurunkan beban yang sejak siang hinggap dipunggungnya.

“Gurumu pemberani juga, Adik Plontos.” Pisun si Walet Dari Timur menggumam setelah meluruskan diri, matanya mengawasi Hikram yang mendorong seseorang dengan ujung tongkat hingga terjatuh dari tembok, tepat dari kegelapan tempat ia dan Sidya menyembunyikan diri. Tak lama si tua yang suka minum itu sudah dikeroyok beberapa orang, tapi dia sepertinya bisa bertahan tanpa kesulitan yang berarti.

Kebanggaan menggelora dalam dada Sidya. “Salah satu Gelar beliau Pagar Betis Satu Orang, Kakak Walet. Teman guru pernah cerita.”

“Hoo, begitu. Pagar Betis … Satu Orang? Dari Gelarnya, kurasa kita tak usah bantu dia, nanti malah melemah kekuatannya.” Pisun mengangguk-angguk sendiri, puas karena tak perlu ikut-ikutan bertempur. “Kita nonton dari sini saja, deh.”

Dalam hati Sidya menggerutu. Kalau begini terus, Pisun tak akan mau turun tangan. Sidya tinggal menggiring Pisun untuk ke dalam sarang lawan, tapi bagaimana caranya?

“Tunggu sebentar Kakak. Bukannya lebih baik kalau lihat dari dekat? Susah sekali melihat dari sini! Gelap, jauh lagi.”

Pisun memutar matanya. “Bahaya, tahu.” Ia melihat sesemakan yang berada cukup dekat dengan tembok, kemudian menimbang-nimbang sebentar. “Ya sudah, sedikit lebih dekat lagi.” Lalu Pisun berjongkok, mengizinkan Sidya untuk lagi-lagi numpang di punggungnya.

“Berhenti di situ!” suara setegas baja terdengar, dan bahkan Sang Walet Dari Timur pun membeku dalam gerakannya. Jantung Sidya serasa berhenti. Dia kenal suara itu.

Sidya menoleh, dan kurang dari setengah tombak jaraknya Paman Ambal telah mendekat, palunya terangkat siaga. Bahkan dalam remangnya malam Sidya masih bisa lihat wajah Ambal memerah seperti orang yang sedang naik pitam.

“Kita lari, Kakak Walet!” Sidya mengingatkan, dan melihat Pisun masih bergeming membuatnya kesal hingga dia memukul bahu pemuda itu.

“Heh, aduh, ‘gak usah mukul juga kali! Lari kemana? Siapa itu?”

Sidya tak perlu berlama-lama memutar otak untuk menemukan jawaban.

“Aku tak tahu siapa dia, tapi dia kelihatannya berbahaya. Kita lari ke perkemahan Bandit Emas, Kakak!”

“Apa?! Kau gila?! Kita kan hanya menonton saja?”

“Sudahlah, turuti saja perintah—” Sidya berhenti di tengah-tengah ucapannya. Dia sempat mau menggunakan Ilmu Titah, tapi itu tak akan mendatangkan hasil yang baik mengingat Pisun merupakan seorang yang bebas seperti gurunya yang berambut keperakan itu. Maka Sidya cepat menjawab sementara Ambal kian lama kian dekat.

“Menonton makin dekat makin baik. Lagipula Kakak mau kena pukul palu besar itu?”

Pisun memegang kepalanya, mungkin sedang bingung. Tapi, begitu melihat sosok Ambal yang tinggi besar dan memegang palu raksasa dengan cepat memotong jarak, ia tak bisa berpikir lebih jauh. Lagipula, dia juga malas berpikir keras-keras. Maka dari itu, dia melompat tinggi, memperagakan Ilmu Walet Menjelajah Awan untuk membelah udara, melayang anggun dengan Sidya dipunggungnya untuk melewati tembok.

Ambal menghentikan pergerakannya, bibir menyumpah-nyumpah berang. Ia sudah bersusah-payah melacak si pemabuk nekat ke sini, lalu menemukan bahwa ia memang sangat-sangat teledor hingga muridnya dibiarkan keluyuran sendirian tanpa dijaga. Lebih parahnya lagi, dia kali ini masuk ke dalam sarang para bandit. Itu akan membahayakan nyawanya.

Sembari bersumpah bahwa ia akan menghukum Hikram nanti, Si Abdi Katili menyusul keduanya untuk masuk ke perkemahan si Bandit Emas!

--