Episode 82 - Aqua Princess



Blup! Blup! Blup!

Saat baru di teleportasi di ruang boss lantai 2, mereka berlima dalam sekejap sudah tenggelam oleh banjir.

“HRGGHHH !!?” Alzen dengan tidak sengaja menghirup air yang tiba-tiba saja muncul setelah dirinya di teleportasi. “Aku tidak bisa bernapas!?” pikir Alzen selagi bernafas menghirup air hingga tenggorokan dan hidungnya sesak.

“BRUHHHH !!” Chandra dengan mulut terbuka lebar dan kondisi setengah pingsan tenggelam sambil menghirup air. “Kok tiba-tiba? Kita ada dimana?” pikir Chandra dengan tangan mencekik lehernya karena sesak.

“HRURURUGHH!” Fhonia menggerakan-gerakan tangannya seperti anak kecil yang sedang ngambek, matanya tertutup dan wajahnya biru karena tidak bisa bernapas. “Agh! Sesak! Sesak! Tolong aku, sesak!”

Luiz yang dengan sigap akan segala situasi sedang dalam posisi kedua tangan menutup mulut dan hidungnya, meski ia tidak menghirup air, tapi mukanya sudah membiru, tak tahan lagi untuk terus menahan nafas. “Cepat lakukan sesuatu aku tak tahan lagi.” pikir Luiz.

Gunin dalam kondisi yang sama, yang telah menghirup air ke dalam hidungnya, berkonsentrasi untuk memegang guandaonya kuat-kuat lalu memutar tubuhnya 360 derajat dengan gerakkan yang lebih lambat karena harus beradu dengan arus air, setelah dirinya beputar tombak guandaonya di angkat tinggi-tinggi ke atas, dan...

“Torrent !!”

BRUSSSHHHTTT !!

“HWAAA !!” 

Mereka berlima teriak kuat-kuat seketika terhempas ke atas oleh semburan air dari sihir Gunin.

Di udara, mereka mengibas-ngibas rambutnya dengan menggeleng-gelengkan kepala, sambil melihat keseluruhan arena ini dari atas. 

Arena ini turun hujan yang cukup deras dengan awan hitam mendung di atas mereka, dari atas mereka melihat sebuah arena persegi yang luas, disana banyak bebatuan putih berbentuk pilar yang memiliki pahatan ukiran-ukiran huruf kuno. Secara keseluruhan tempatnya seperti Altar untuk penyembahan yang tenggelam oleh banjir.

“Woah... tempat ini hebat.” Alzen terkagum-kagum.

Tak ada atap di arena ini, mereka yang terhempas sampai tinggi sekali, melihat ujung tertinggi arena ini. Di ujung atas setiap sisi tembok banyak tanaman basah menghiasi tempat ini. Dengan warna-warna yang berbeda dan indah.

“Bunga-bunganya cantik banget.” kata Fhonia tersenyum selagi melayang di udara.

Chandra dengan posisi tidur melihat ke langit mendung, matanya buka-tutup karena air hujan bisa dengan mudah masuk ke matanya. “Bahkan di tempat ini ada langit membentang luas. Aneh sekali...”

Di salah satu sisi arena persegi ini terdapat sebuah makhluk raksasa berwujud manusia perempuan tanpa pakaian berambut panjang, namun tubuh serta rambutnya terbuat dari air seutuhnya. Meski berwujud manusia, tubuhnya hanya sampai perut saja dan makhluk besar ini tidak bisa berpindah tempat karena tersangkut di sebuah batu Altar yang menguncinya.

“Itukah bossnya?” tanya Luiz sambil menaikkan alis kanannya.

Gunin terus berkonsentrasi mengambil langkah selanjutnya untuk menolong teman-temannya. Ia memutar badannya 360 derajat sekali lagi, tapi kali ini dengan gerakan yang lebih cepat, lalu...

“Water Dragon !!”

BRRRRUUSSSHHHH !!

Gunin meng-cast sihir andalannya, pusaran air yang melempar mereka berlima ke atas diubahnya menjadi naga air raksasa dari banjir di bawahnya.

“Ki-kita jatuh!!” sahut mereka berempat.

Gunin terlihat fokus sekali, ia membuat naga air itu memakan mereka berlima dan sekali mereka harus tenggelam ke dalam perut naga air itu. Naga itu berjalan ke atas lalu memutar arah kembali ke bawah 

“HWAAAAAA !!”

Teriak mereka berempat dengan wajah pucat.

Dan...

BYUUUUURR !!

Kepala naga air itu menerpa tanah dan kembali menjadi air tanpa wadah. Mereka berlima mendarat dengan selamat di atas sebuah rumput hijau yang basah dan subur. 

Dalam kondisi basah kuyup, mereka menarik nafas dan batuk-batuk.

“Ohog... ohog... aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi.” kata Alzen yang berbaring dengan tangan melebar di atas rumput.

“Hosh... hosh... untung ada Gunin yang menolong kita.” kata Chandra yang ditopang oleh kedua telapak tangan dan dengkulnya.

“Kok muncul-muncul, kita sudah tenggelam sih.” kata Fhonia yang mengepakkan-ngepakkan bajunya. “Duh, jadi basah kuyup begini deh.”

Luiz berjalan ke belakang. “Jadi begitu, hosh...hosh... kita muncul dari sana.” tunjuk Luiz pada sebuah pintu gerbang di bawah mereka. Sebuah kuil yang telah tenggelam oleh air. 

Yang berada 10 meter di depan dan 4 meter di bawah mereka saat ini.

“Syukurlah kalian selamat, aku sudah tidak kuat lagi hosh...hosh,” kata Gunin yang terlihat membungkuk lemas dengan Guandao sebagai topangannya. “Aku barusan menggunakan Aura terlalu banyak, jadi...”

“Aku mengerti, terima kasih Gunin, sisanya biar kami yang urus.” balas Alzen.

“Kau perlu potion Gunin?” Chandra menawarkan. 

“Tidak-tidak,” Gunin menolaknya. “Auraku pulih sekalipun, aku sudah terlalu lelah. Jadi simpan saja buat nanti.” 

“Hei lihat! Lihat!” tunjuk Fhonia ke atas. “Monster besar apa itu?”

Luiz membuka bukunya dengan halaman yang sudah basah. “Cih, robek, lepek dan luntur. Tidak bisa terbaca lagi. Sepertinya itu bos lantai ini? Namanya...” Luiz membaca sebuah tulisan yang sudah luntur. “A-qu-a P-rin-cess. Hah! Buku ini sudah tidak berguna” Luiz melempar buku itu secara sembarang namun masih terjatuh di atas rumput.

“Aqua Princess? Raksasa air itu?” Fhonia tersenyum percaya diri dengan tangan dua-dua di pinggang. “Hehe... kalau lawannya air sebesar itu, sepertinya bakal mudah.” Fhonia mengulurkan kedua tangannya ke depan dan...

“Thunder Bolt !!”

Cyushhh!

Fhonia melemparkan sebuah tembakan listrik ke depan,

Brrzzzttt!

“Awww! Aww!” Fhonia langsung mengepak-ngepakan tangannya secara refelek.

“Ada apa Fhonia?” tanya Alzen.

“Tanganku, ahh lebih tepatnya seluruh tubuhku basah, kalau begini jadinya, listrik yang aku cast bisa kembali melukai diriku sendiri.” 

Sementara Thunderbolt dari Fhonia terpantul oleh sebuah dinding tak terlihat dan tak berhasil menyentuh tubuh besar Aqua Princess.

“Oo...oow sepertinya tidak semudah itu ya.” Fhonia terlihat gugup.

“Grrr... RAAAA !!” teriak Aqua Princess dan dari belakang tubuhnya muncul delapan tentakel air berukuran besar bergerak secara tidak beraturan untuk mencambuk apapun yang ada di depannya.

“Waaa!!? Teriakannya keras banget.” Fhonia menutup telinga sambil jongkok.

Luiz maju ke depan melindungi mereka semua dan memutus tentakel manapun yang bersiap mencambuk mereka. Pedang The Punishernya dialiri listrik berwarna ungu dan...

Clasht!

Clasht!

Mudah sekali memotong tentakel raksasa dari Aqua Princess, tapi setelah dipotong tentakel itu dalam waktu singkat beregenerasi kembali.

“Karena pedangku basah, tenaganya jadi meningkat, tapi aku harus hati-hati, kalau terlalu besar listriknya, malah bakal merambat kemari dan berbalik menyerangku.” pikir Luiz.

Clasht!

Clasht!

“Namun sepertinya...”

Clasht!

Clasht!

“Segini sudah cukup!”

Clasht!

Clasht!

Selagi Luiz susah payah memotong satu persatu tentakel. 

Gunin merasa tidak bisa diam saja sekalipun ia sudah kelelahan. “Sepertinya aku tidak boleh duduk diam saja. Aku harus melakukan sesuatu...”

“Water Dragon !!”

Gunin meng-cast sihir andalannya lagi dan membentuk naga air dari banjir di belakangnya, namun kurang dari dua detik, wujudnya naganya tak bisa ia pertahankan melainkan membuat Gunin malah tersungkur jatuh, lepas keseimbangan dari Guandaonya.

“Uhug...uhug... uhug!” Gunin terbatuk-batuk dan berbaring lemas di atas rumput basah ini.

“Gunin,” Alzen menoleh ke belakang. “Kau tak perlu memaksakan diri.”

“Maaf, aku berniat menelannya langsung dengan Water Dragon, tapi...” balas Gunin yang tengkurap di atas rumput dibasahi hujan arena ini.

“Sudah, biar kami saja yang melawan, kamu sudah menyelamatkan kami semua barusan.”

“Cih! Tentakelnya terpotong lalu tumbuh lagi.” Luiz kesal ia sudah memotong sampai 16 tentakel tapi Aqua Princess masih tetap mengganggu menggunakan 8 tentakel. “Percuma sekali aku terus memotongnya.”

Luiz hanya bisa meladeni dua tentakel dalam waktu bersamaan yang segera dipotongnya.

Keenam tentakel yang lain secara membabi-buta mencabuki Alzen dan Fhonia.

Alzen terus bergerak dengan lincah menghindari setiap cambukan tentakel itu dengan bergerak menggunakan sihir apinya. Yang ia gunakan seperti tenaga dorong roket.

Fhonia menghindarinya seolah ia adalah anak kecil yang sedang bermain,

“Eits! Gak kena! Eits gak kena lagi...Eitss !! Awww!”

Setelah satu kali pukulan mengenainya pukulan-pukulan lain menghujani Fhonia terus menerus. “Awww! AWWW! Aduduh! Sudah dong, sudah! Sakit tahu!”

Alzen terus menghindar tapi tentakel itu terus bergerak tak beraturan dan badannya juga sudah mulai lelah, Alzen menpuk dadanya dengan tangan kiri, lalu...

“Water Removal !!”

Seluruh air yang membasahi dirinya dihempas keluar bersamaan dengan tangan kirinya dan membuatnya kering seketika, lalu di tangan kanan Listrik mulai dipancarkan dan tangan Alzen masuk ke dalam tentakel air itu, kemudian...

“Elec Stream !!”

Alzen dengan tangan tersangkut di salah satu tentakel Aqua Princess mengaliri listrik yang menjalajar besar menuju tubuh utama boss monster itu dengan resiko ia ikut terkena sengatan listriknya sendiri.

“Hwaaaa !!” teriak Alzen menahan dirinya yang ikut tersetrum sihirnya sendiri.

“Dasar bodoh!” bentak Luiz. “Buat apa mengorbankan di-“

“GROOOO !!” teriak Aqua Princess yang bergetar tersetrum bersama Alzen.

“Huh? Ternyata bisa ya...” Luiz tak habis pikir, cara yang dilakukan Alzen ternyata bekerja. Kemudian Luiz mengangkat pedangnya tinggi-tinggi lalu menebasnya secara vertikal dan membiarkan The Punisher tertancap di perut Aqua Princess. 

Luiz menggenggam gagang The Punisher dengan dua tangan kuat-kuat, mengaliri listrik sebanyak mungkin dalam waktu singkat pada pedangnya lalu melepas dengan segera hingga tersungkur di atas rumput.

Dan listrik itu menjalar dari perut Aqua Princess menuju bawah hingga ke ujung kepala. 

“GRROOO !!” Aqua Princess merintih kesakitan. Di tubuhnya yang transparan terlihat sekali sebuah petir biru dan petir ungu saling bersinggungan menjalar di dalam tubuh Aqua Princess.

“Berhasilkah?” Luiz yang duduk di atas rumput basah ini melihat ke atas, melihat reaksi yang terjadi dari serangannya. Listrik milik Alzen dan Luiz perlahan-perlahan hilang. “Belum juga ya...”

“Kalian mundur!” sahut Fhonia dengan pipi kanan yang bengkak dan topi yang turun setengah ke samping. “Kini giliran aku.” Fhonia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. “Dan... YUPI!”

“Summon! Yupiter!”

Hamparan Listrik berkumpul di belakang Fhonia dan menggumpal hingga membentuk sebuah monster bola listrik raksasa berwarna biru terang, yang terus memercikan petir dari tubuhnya. Dengan sepasang mata putih nan besar. Ya, itu adalah summon dari Fhonia. Sebagai seorang penyihir dengan tipe Aura Magic dan Summon.

“Gawat!? Fhonia serius.” Luiz segera naik secara tergesa-gesa. Lalu berlari menjauh dari tempat itu dan menuju ke tempat Gunin berada, sambil berlari ia merangkul Alzen. “Ayo pergi dari sini, Fhonia benar-benar serius.”

Mereka bertiga, Alzen, Chandra dan Luiz berlindung bersama dengan Gunin. Kemudian Luiz meng-cast...

“Thunder Barrier !!”

Dan membuat listrik di depannya sebagai perisai.

“Alzen, kau jaga sisi satunya, bukan belakang tapi sampingku... ledakan dari Fhonia akan benar-benar dashyat!”

Alzen mengangguk, “Oke!”

“Thunder Barrier !!”

“Maaf teman-teman, aku tidak bisa membantu kalian.” kata Gunin.

“Bicara apa kamu ini...” Luiz mengejeknya.

“Gunin, kau penyelamat kami...” balas Alzen.

“Cih... aku benar-benar tidak berguna.” Pikir Chandra yang berdiri di depan Gunin yang terbaring lemah, sekaligus di belakang Alzen dan Luiz yang memasang Barrier untuk menahan listrik.

“Hahaha...” Fhonia tertawa jeras, selagi mensummon Yupi yang pelan-pelan baru akan muncul ke ukuran yang sejatinya. “Biarin deh aku lumpuh 72 jam sehabis ini, tapi yang pasti...”

“YUPIIII... SERAAAANG !!”

BRRRRRZZZZSSSSTTT !!

Tatapan mata Yupi berubah menjadi tajam dan serius.

"Yupi Boom-Boom Attack !!" 

BRRRRRZZZZSSSSTTT !! BOOOOOM !!

Yupi meledak, ledakannya seperti sebuah bola petir berukuran dua kali orang dewasa, memancarkan listrik ke segala arah. Baik ke depan, yaitu mengenai Aqua Princess itu sendiri atau ke belakang yang menjalar ke seluruh kolam luas di sana.

BRRRRRZZZZSSSSTTT !!

“Tahan terus! Tahan terus!” kata Luiz yang sudah berkeringat mensuplai Aura pada Barriernya agar jangan sampai pecah.

“Luar biasa sekali, ledakannya terlalu besar.” balas Alzen. “Aku tidak pernah tahu Fhonia bisa melakukkan summon.”

“Kau tidak menonton dia pada waktu turnamen ya?” kata Luiz.

Alzen geleng-geleng kepala, lalu membalas. “Tidak, aku baru kali ini melihat Fhonia seperti ini.”

“Tapi biar ledakkannya sedashyat ini, ia akan lumpuh selama 72 jam sehabis ini. Dia tidak berguna di lantai berikutnya. Gawat juga.”

“Benarkah!?” Alzen terkejut dan sedikit lepas konsentrasi.

“Fokus Alzen! Fokus! Tahan terus! Tahan terus!” 

“GROOO !!” teriak Aqua Princess merintih kesakitan.

“Rasakan itu Rasakan! Hahaha!” Fhonia tertawa keras sekali.

Krincing, krincing...

“Huh? Suara apa itu?” kata Fhonia dalam hati setelah mendengar sesuatu.

Krincing, krincing...

“Alzen? Kau dengar sesuatu?” tanya Luiz.

“Apa? Aku hanya dengar brzzzsst daritadi.”

“Bukan-bukan, suaranya seperti...”

Krincing, krincing...

CRASSSHHHTTT !!

Perut Fhonia di tikam oleh sebuah trident hingga menembus tubuhnya, seketika suplai aura penggunanya terhenti, Yupi menghilang dalam sekejap.

“ARGGGHHH !!” teriak Fhonia.

Fhonia dengan pupil mata mengecil, melihat sebuah monster manusia ikan mengenakan mahkhota dan berparas tampan, dengan senjata trident menikam perutnya, kemudian diangkat pelan-pelan ke atas hingga kaki Fhonia tak lagi berpijak di rumput.

“Kok... bisa?” pandangan Fhonia memudar, dunia seolah kabur dan berputar-putar. Darah terus menetes dari perutnya, perlahan wajahnya semakin pucat dan lemas.

Di buku panduan yang dibuang oleh Luiz karena basah dan tidak bisa terbaca, di balik halaman Aqua Princess, terdapat satu nama boss lagi, dengan tulisan yang luntur dan halaman yang basah, lembaran itu menuliskan satu boss lagi, bernama...

Aqua Prince.

***