Episode 18 - Dukun Itu


Pagi hari aku dan Wijaya berangkat sekolah melewati jalan yang menuju areal persawahan. Kabut dikala pagi ini membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas. Hawa dingin dari suasana pagi ini membuatku malas untuk mandi. Bulu mata dan rambutku basah karena terkena embun pagi dari kabut yang sangat tebal. 30 menit kemudian kami sampai di sekolah. Selisih 15 menit setelah kami sampai di sekolah, bel berbunyi menandakan pelajaran pertama di mulai. Aku, Wijaya dan kakak kelas kami yang sedang ngobrol diparkiran sepeda bergegas menuju kelas kami masing-masing. Sampai dikelasku aku masuk dan duduk di kursiku yang bersebelahan dengan Andik, tak selang lama guru mata pelajaran pertama sudah datang. Setelah selesai berdoa, ada kakak kelas cewek masuk ke dalam kelasku memberitahukan bahwa, aku di panggil oleh guru BK.”Perasaan aku nggak punya salah deh, kenapa dipanggil ya? Apa mungkin karena kejadian kemarin didepan kelas,” gumamku mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Aku berjalan mengikuti cewek tersebut. Kami berdua hanya terdiam tidak ada sepatah katapun yang terucap hingga kami masuk ke dalam ruang BK. Kemudian aku bertanya kepada guru BK mengenai panggilanku ke ruang ini.

“Ada apa ya pak manggil saya ke sini?” tanyaku pada guru BK yang didepannya ada tamu seorang bapak-bapak berpakaian rapi.

“Ini ada yang mau nyari kamu Ed,” ucap guru BK menunjuk seorang bapak-bapak dengan pakaian hitam yang sedang duduk di depannya. Aku lantas duduk di samping bapak berpakaian hitam ini.

“Ada apa pak nyari saya?” tanyaku kepada bapak berpakaian hitam ini. Bukannya aku gak kenal, aku kenal banget dengan orang ini karena auranya yang masih teringat di benakku.

“Tolong Dek, bapak mohon kembalikkan ilmu kanuragan bapak yang adek ambil,” ucap bapak ini sambil memegang lengan kananku dengan memohon.

“Bapak tahu apa yang telah bapak perbuat,” kataku kepada bapak ini.

“Saya tahu Dek, saya mohon maaf Dek,” ucapnya sambil memohon-mohon.

“Oke, akan saya balikkan semua ilmu bapak tapi dengan 2 syarat,”

“Apa Dek syaratnya,”

“Yang pertama bapak bersumpah, bapak tidak akan menggunakan ilmu kanuragan untuk mencelakai orang lain, apa bapak sanggup,”

“Saya sanggup Dek, saya bersumpah tidak akan mencelakai orang lagi, lalu syarat yang kedua apa Dek,”

“Syarat yang kedua, bapak ke sini naik apa,”

“Saya naik motor Dek,”

“Bapak pulang sekarang, ambil bpkb bapak, stnk sama fotocopi ktp bapak,”

“Untuk apa Dek,”

“Udah ambil aja pak, dari pada saya berubah pikiran,”

“Baik Dek,”

Kemudian bapak tersebut keluar dari ruang BK langsung nyalain motor dan pulang mengambil syarat yang aku ajukan. Aku berdiri hendak balik kelas tapi, guru BK bertanya kepadaku perihal laki-laki barusan. 

“Tadi bapak itu kenapa Ed?” tanya guru BK yang penasaran.

“Dia kemaren mencoba nyantet saya pak, apa bapak percaya,” kataku kepada guru BK. “Kalau tadi saya bilang lebih, mungkin dia juga akan nyantet bapak, bapak mau disantet,” ancamku kepada guru BK.

“Engga Ed, yaudah bapak pura-pura gak denger,” kata guru BK dengan wajah ketakutan.

Aku memutuskan kembali lagi ke kelasku, baru aja duduk di bangku sudah di berondong pertanyaan dari Hesti, Mei dan Andik.

“Ed, tadi ngapain ke BK?” tanya Hesti.

“Kamu kena masalah lagi, pellu aku panggilin papaku Ed,” ucap Mei ikutan penasaran.

“Tadi ada laki-laki yang pakai baju warna hitam ya Ed,” sergah Andik.

“Ehh...? siapa itu Ndik?” tanya Hesti pada Andik.

“Gak tahu tanya gih sama Edi, iya gak Ed, eh ni anak malah diem mulu,” sambung Andik padaku.

“Iya nih Ed, jawab dong jangan diem mulu,” kata Hesti penasaran.

“Eh, kalian ya nanya satu-satu kek, baru aja duduk udah di berondong pertanyaan banyak, biarin aku nafas dulu lah,” sergahku bingung meladeni mereka bertiga.

“Ya udah nafas aja dulu Ed, nanti mati gak bisa nafas, ups,” kata Andik sambil menutup mulutnya.

Ini anak minta ditempeleng deh. Setelah beristirahat sebentar aku menjawab satu persatu pertanyaan mereka, dan mereka mengerti kecuali Mei, perlu tenaga ekstra untuk menjelaskan kejadian ini pada Mei. Kegiatan belajar mengajar pun dimulai, karena sekarang pelajaran IPS yang menjelaskan tentang sejarah aku hanya lihat buku sambil menggambar sesuatu, ya aku belajar menulis sebuah rajah, Andik tanpa sadar melihat ke arah tulisanku.

“Eh itu apaan Ed?” tanya Andik kepadaku.

“Ini,” kataku sambil memperlihatkan penaku, “Ini namanya pena,”

“Bukan itu bego, itu yang kamu tulis,”

“Oh ini, ini namanya tulisan,”

“Aku juga tau itu tulisan peak, jenis apaan bolot,” ucap Andik mulai dongkol.

“Hehe, mau tau, apa mau tau banget,”

“Bodo ah, kayanya menarik itu Ed, pasti rajah ya,”

“Nah itu tau pake tanya segala,” jawabku sambil melanjutkan menulis rajah.

“Entah kenapa aku pengen mukul dirimu Ed,”

“Hahaha...”

Tanpa disadari sebuah penghapus melayang ke arahku, sebelum aku kena penghapus, aku tarik baju Andik mendekatiku dan “Pluuukkk…” penghapus tersebut kena wajahnya Andik dan bisa ditebak wajah Andik hitam karena bekas spidol.

“Kalian berdua, udah ngobrolnya?” tanya guru IPS.

“Sudah bu, nih Andik ngajakin ngobrol bu,” sambil nunjuk Andik.

“Eh kok malah aku,” sanggah Andik tak mau kalah.

“Sudah-sudah jangan berantem, kalian berdua keluar, berdiri di depan pintu sampai pelajaran ibu selesai mengerti!” perintah guru IPS yang terkenal killer karena ulah kami berdua.

“Mengerti bu,” ucap kami bersamaan.

Dengan langkah gontai kami berdua berjalan keluar kelas dan berdiri disamping pintu kelas. 5 menit berdiri di depan kelas bosen juga, akhirnya aku punya ide.

“Eh Ndik main yuk keliling sekolahan,” kataku mengajak Andik sekali-kali jadi anak bandel.

“Gila kamu ya, udah dihukum gini masih asja main, mana gurunya killer lagi,” ucap Andik sambil membersihkan wajahnya yang hitam terkena penghapus tadi.

“Sudah, kamu panggil penjagamu untuk berubah wujud sepertimu, aku akan menyuruh penjagaku untuk berubah wujud sepertiku,” perintahku kepada Andik.

“Okelah,” jawab andik pasrah dengan kemauanku.

Kami pun memanggil penjaga masing–masing, aku menyuruh mbah Kosim berubah menjadi diriku, dan penjaganya Andik berubah menjadi Andik.

“Mbah, mbah disini aja jangan kemana-mana, nanti mbah pakai saja auraku ya mbah,” perintahku kepada mbah Kosim agar menyerupai diriku.

“Baik bos Edi,”

“Sama satu lagi mbah, yang akur ya dengan penjaganya Andik,” kataku melihat khodam Andik yang gak bersahabat.

“Siap bos Edi,”

“Baik mbah, saya tinggal dulu,”

“Baik bos Edi,”

Aku dan Andik pergi main keliling sekolah, entah kenapa kami ingin masuk ke perpustakaan karena sudah di dekat perpustakaan ya sekalian saja masuk. Sesampainya di depan perpustakaan, aku mau coba masuk ke dalam. Aku ajak Andik masuk ke dalam perpustakaan sambil melihat-lihat buku, lalu aku ambil sebuah buku novel lalu aku baca di meja dekat dengan pojokan jendela, sambil membaca buku ini, aku lihat Andik berdiri dipojok sambil membaca sebuah buku juga, pandanganku kembali ke buku yang aku pegang, dan tiba-tiba..

“Anjirrrr… kok bisa ada buku di sebelahku, terbuka pula. Wah jangan-jangan…” Aku membuka mata ketigaku dan ternyata, benar ada cewek dengan pakaian SMP di sini, membaca sebuah buku, saat pandanganku bertemu dengannya ia mengatakan.

“Mas-mas, bukunya bagus ya,” kata siswi itu kepadaku dengan memperlihatkan bola matanya yang menggantung sebelah.

“Eh, iya bagus kok,” ucapku mencoba melihat ke arah lain.

“Mas kok bisa lihat aku,” tanya setan cewek ini padaku.

“Eh, bisa emang kenapa,” jawabku agak gugup.

“Aku sudah mati loh,” katanya dengan ringan.

“Iya Mas tahu kamu sudah mati, kamu mati di mana?” tanyaku sok berani.

“Di depan Mas, ditabrak sama bus,”

“Oh, pantes badanmu yang bawah gak ada,” kataku sambil melihat isi perutnya cewe ini keluar. Terlihat ususnya yang menggelantung dengan tetesan darah yang keluar.

“Iya Mas, Mas mau bantuin saya mencari kaki saya,” katanya kepadaku.

“Maaf ya, Mas gak bisa. Oh itu Mas yang di sana,” sambil nunjuk Andik yang ada dipojokan sedang fokus membaca. “Dia bisa bantu kamu. Kan dia gak ada kerjaan,” kataku mengumpankan Andik. Sekali-kali ngerjai Andik boleh juga.

“Ohh gitu ya Mas, coba aku tanya ke dia,” ucap cewek tersebut melayang ke arah Andik, aku cuma bisa senyum-senyum saja karena sedang menahan untuk tidak tertawa.

“Mas-mas, minta tolong gak,” ucap cewek ini dengan melayang di samping Andik, bisa di tebak isi perutnya terlihat dari dekat posisinya Andik berdiri.

“Hem, minta tolong apa Dek,” ucap Andik masih asyik membaca sebuah buku, dan belum tahu bahwa yang minta tolong itu adalah setan.

“Minta tolong carikan kakiku Mas?” kata cewek ini dengan serius.

“Eh, kaki..!” Sontak saja ekspresi Andik kaget setengah mati dengan buku yang dipegangnya jatuh.

“Eh sialan setan,” ekpresi kaget Andik dengan yang di lihatnya adalah setan wanita yang isi perutnya menggantung keluar.

“Kata Mas yang disana, Mas bisa bantu saya,” seru cewek ini sambil nunjuk ke arahku.

“Ed, kamu sengaja ya ngerjain aku,” kata Andik melotot ke arahku.

“Sekali-kali Ndik,” ucapku sambil menahan tawa.

“Oke akan aku bantu doa Dek, Ed bantuin ya,” kata Andik ternyata menyanggupi permintaan setan wanita ini.

“Siap,” aku memberikan gestur jempol kepada Andik.

“Oh iya nama kamu dan nama ayahmu siapa,” kata Andik bertanya pada setan wanita ini.

“Nama saya Binti dan nama ayah saya Rozak,”

“Baiklah.”

Kami pun berdoa dengan tulus ditujukan kepada wanita yang bernama Binti, semoga qorinnya di sempurnakan dan arwahnya di tempatkan di sisi-Nya. Begitulah doa yang kami panjatkan, setelah mengirim doa cewek tersebut datang dengan penampilan yang berubah 180 derajat. Berbeda dari yang tadi, sekarang yang ada dihadapanku ini cantik, badannya utuh dan ekspresinya bahagia.

“Terima kasih Mas, sudah bantu saya dan menyempurnakan wujud saya,” kata Binti kepada kami berdua.

“Iya sama-sama Dek Binti, semoga engkau dalam lindungan-Nya,” ucap Andik kepadanya.

“Baik Mas, saya permisi dulu,”

“Oke..”

Cewek tadi pun pergi ke alam yang seharusnya ia tempati, setelah ia pergi kami berdua saling pandang. Dan tak terasa bel pun berbunyi tanda pelajaran selesai, saatnya jam istirahat. Setelah aku melangkah keluar perpustakaan, aku mendapatkan pesan dari mbah Kosim, lalu aku bergegas masuk ke toilet di ujung kelas dekat dengan kelasnya Wijaya.

“Bos Edi, tadi ada yang nyariin bos Edi suruh ke ruang BK,” kata mbah Kosim yang hendak ku suruh menemuiku di dekat toilet.

“Baik mbah, mbah sekarang jalan ke toilet ujung ya mbah, ikuti aura saya,” kataku memandu mbah Kosim.

“Baik bos Edi,” aku menyuruh mbah Kosim berjalan ke toilet ujung dekat dengan kelasnya Wijaya, supaya tidak heboh masa aku bisa ilang gitu aja di depan orang banyak, kan gak lucu.

“Oke mbah, mbah pulang saja. Tugas mbah selesai sampai disini,” ucapku pada mbah kosim.

“Naik bos Edi, saya pamit pulang,”

Mbah Kosim ngilang pergi ke rumah, aku keluar toilet bergegas ke ruang BK. Setelah sampai di depan ruang BK, aku langsung masuk ke dalam ruang BK dan disana sudah ada bapak yang tadi pagi datang dan ada beberapa anak OSIS, di antaranya aku kenal dengan wajah-wajahnya, serta ada pula Bagus yang dulu pernah duel denganku. Aku duduk di kursi sebelah bapak tadi.

“Ini saya sudah bawa syarat keduanya Dek,” kata bapak tadi menyerahkan BPKB kendaraan bermotor serta STNKnya.

“Baiklah pak, syarat keduanya ini. Bapak jual sepeda motor bapak di kota Madiun, lalu bapak pulang jalan kaki dari kota Madiun sampai rumah bapak dengan sedekahkan tiap Masjid dan Musholla yang bapak lewati sebanyak 100 ribu, pasti bapak sanggup,” kataku memberikan syarat keduaku kepada bapak tersebut.

“Apa Dek, saya disuruh berjalan kaki ke rumah Dek, rumah saya 30 km Dek dari kota Madiun,” kata bapak ini keberatan dengan syarat keduaku.

“Ooh jadi bapak gak sanggup dengan syarat keduaku, baiklah saya tidak akan mengembalikan ilmu kanuragan bapak,” ucapku berdiri dari kursi hendak pergi meninggalkan ruangan BK.

“Tunggu Dek, baik saya sanggup,” kata bapak ini sambil menahan tangan saya.

“Nah gitu, saya akan mengutus salah satu khadam saya untuk mengikuti bapak,” gertakku kepada dukun ini. 

Padahal khadamku cuma ada 2, karena nyai sedang bertapa. Hanya mbah Kosim saja yang aku minta tolong jaga rumah, gak mungkin aku suruh mbah Kosim ngikutin kerjaan gak bermanfaat ini toh keilmuannya sudah hilang, ia tidak akan merasakan kehadiran khodamku.

“Ilmu kanuragan bapak akan saya kembalikan setelah 2 hari bapak selesai menyelesaikan syarat kedua,” kataku kepada dukun ini agar ia tidak datang lagi ke sekolahan.

“Baik Dek, makassih Dek, makasih,” kata bapak dukun sambil memegang lengan kananku dengan ucapan terima kasih.

“Saya masih punya hati nurani pak, jika santet bapak berhasil mengenai anggota keluarga saya, saya pastikan bapak tidak akan ada di dunia ini lagi,” ancamku dengan mengeluarkan aura intimidasi di dalam ruangan ini.

“Ya sudah, aku balik ke kelas dulu pak,” kataku berjalan meninggalkan mereka semua yang ada di dalam ruang BK.

Aku berjalan ke arah kelasku, baru sampai tikungan ruang komputer sudah di berhentikan oleh seseorang.