Episode 30 - Sidya - Mencari


Sedetakan jantung Kaisar Pertama cemas akankah Wangsa Nagart mampu …. 

…. Arcapada serta Burazhong setelah ia mangkat melaksanakan ....

…. kekhawatiran tersebut, diikatnya Lautan Energi yang sebenarnya merupakan sumber tenaga para Pemegang Gelar pada seluruh keturunannya pula ….

…. mengukuhkan diri sebagai kaisar lelaki dan perempuan tak tergoyahkan ….

…. Nagart akan selalu dikuasai oleh Nagart pula, begitu sampai kelak ….

…. Kembali ke dunia.

—Potongan-potongan kitab kuno yang diketemukan dalam gua Naga Putih


Sidya memacu langkahnya sekuat tenaga, tak peduli lapar serta dahaga.

Mentari telah merangkak naik, hampir menjorok ke barat, waktu juga pergi sama cepatnya. Ia telah mencoba untuk mengalirkan hawa murninya pada kaki, telah mendapatkan hasil yang gemilang. Ternyata jika ia tetap berusaha untuk menjaga aliran terus-menerus ada, kecepatannya juga bertambah. Apalagi setelah dia mengikuti petunjuk Pisun bahwa ia harus menirukan bentuk kaki burung walet dengan tangannya, ia jadi makin mudah mengalirkan hawa murni untuk meringankan diri. Rupanya ilmu Walet Penjelajah Awan juga bisa dipakai waktu berlari, bukan hanya melompat atau terbang. 

Meski begitu, Sidya merasa bahwa dia tidak dapat menyusul Pisun, tidak walau ia berlari dua kali lebih cepat dari biasanya. Dia sudah menyaksikan sendiri bagaimana Pisun terbang. Jika sungguh-sungguh mau, Pisun bisa sampai ke kotaraja Sanfeilong dalam waktu tempuh tiga hari, hanya seekor kuda pacu terbaik dari kandang-kandang istana yang mampu menyainginya. Meski begitu, Sidya tetap berusaha mengejarnya. Pisun tetap butuh istirahat, makan, berak, dan lain sebagainya. Bukan mustahil Sidya akan dapat menemukannya saat melakukan hal-hal tersebut.

Sidya tak bertemu siapa-siapa dalam perjalanannya. Pepohonan yang semula disangkanya akan menipis malah makin rapat. Sepertinya hutan ini bersambungan dengan hutan lebat tempatnya bertemu dengan Hikram pertama kali, mengingat di peta yang pernah dilihatnya sekilas di istana memang ada garis-garis hijau besar yang menandakan rimba berada tepat setelah kotaraja Sanfeilong.

Sidya berhenti sejenak. Bukan karena rasa lelah, melainkan karena halangan didepannya, yang berwujud beluntas yang saling-silang, jumlahnya tak terhitung tumbuh menggelayut di batang pohon. Mengedar pandang, Sidya bisa lihat beluntas ini merambat ke berbagai pohon di sisi kiri kanan, semua menjuntai ke bawah, membuat pandangannya ke depan ditutupi oleh dinding belukar. Ini bukan hanya sulit dilewati, ini tidak mungkin ditembus, menerobos tanpa bermodalkan golok atau sabit hanya akan menyiksa diri berhubung beluntas ini memiliki duri. Dengan nelangsa Sidya menyadari bahwa ia harus memutar. Ini sulit, dia bisa saja kehilangan arah kalau tak hati-hati. Dengan langkah lesu Sidya berjalan ke arah utara, berharap agar dinding ini menipis.

Selagi ia melangkah terus sembari mengutuk dinding belukar panjang ini, ia merasakan bulu kuduknya meremang. Sidya menggerayangi lehernya, yang kali ini berkeringat dingin. Ada sesuatu yang tak beres, tapi dia tak tahu persisnya apa. Sidya merasa ada sedikit gerak seperti bayangan di sisi kirinya, firasatnya tambah tak enak, bayangan itu sudah hilang sebelum Sidya bisa melihat baik-baik. Sidya mengedar pandang sekali lagi dengan kewaspadaan yang baru, tapi tak ada orang sejauh matanya mampu memandang, hanya beluntas tebal serta pepohonan yang menjadi temannya. Sidya menggigil. Meski hawa memang dingin karena telah dekat dengan musimnya, ini lebih menusuk daripada biasanya. Hawa yang beku ini meningkat, terus meningkat.

Sidya tak lama bertanya-tanya mengapa hawa bisa berubah secepat ini. Dia hanya butuh satu hal sekarang: kehangatan. Dia menggosok-gosokkan kedua tangannya, kemudian menangkupkan keduanya ke mulut. Bernapas ke telapak tangan, ia bisa melihat napasnya membentuk titik-titik embun. Udara kian lama kian menusuk tulang. Rerumputan yang mengenai sisi kakinya yang tak terlindung celana ataupun sepatu kini terasa basah, dinginnya seperti rumput yang mencoba bertahan di ujung utara negeri. Sidya menggigil, tapi bersikeras untuk tetap melangkah sembari mendekapkan tangan ke badan untuk mempertahankan hangat tubuh.

Ia baru ingat kalau dia juga bisa mengalirkan hawa murni untuk menghangatkan badan. Kontan Sidya berhenti dan memejamkan mata untuk memaksa diri berkonsentrasi, mengingat-ingat apa yang dulu pernah dilakukannya. Memang dulu ia tidak berniat untuk menghangatkan diri, tapi Sidya berharap bahwa garis besarnya sama sehingga ini akan cepat berhasil.

Kala matanya terpejam, sedikit reaksi hangat mulai terasa di ujung-ujung jarinya. Bernapas perlahan agar tetap tenang, Sidya semakin larut dalam diamnya diri. Sidya tak tahu bahwa sekarang ia tengah melakoni semadi sembari berdiri, yang pendekar hawa murni tingkat menengah pun perlu waktu lama untuk menguasainya. Tapi, setidaknya si putri kaisar sudah tahu bahwa ia tengah melakukan hal yang benar. Lebih dalam, merasuk lebih dalam lagi, matanya yang terpejam terbayang sesuatu yang putih, sangat berbeda dengan kegelapan yang biasa ia dapati saat menutup mata. Lebar, sangat lebar, luasnya hampir-hampir menjangkau cakrawala. Nyaris bisa dibandingkan dengan tembok raksasa walau selubung ini mulus tanpa hiasan apa-apa. Hanya putih, lebar namun tipis mendekati transparan. Ia hanya menembus hal itu tanpa berpikir untuk masuk lebih dalam lagi, kehangatan tubuhlah yang ia cari.

Tepat ketika selubung putih itu telah ditembusnya, Sidya bisa mendengar sayup-sayup suara. Tidak persis ia dengar dari telinga, tapi ini lebih terdengar seperti keluar dari dalam dirinya sendiri. Mirip sekali dengan suara ombak yang menghantam karang. Sidya tetap berkonsentrasi, jiwanya mendekat ke sumber suara pasang surut laut itu.

Sidya seolah bisa melihat pantai yang kosong di depannya. Tak ada karang, hanya pasir dan air berwarna putih yang ada. Tanpa sadar Sidya menggapaikan tangannya untuk menyambut ombak yang naik mendekatinya.

Saat tangannya bersentuhan, hawa murni luar biasa besar keluar dari seluruh jengkal badannya, membuat Sidya tersadar kaget, semadinya buyar. Hawa murni datang dari mata, dari bibir, dari kaki, dari perut, seluruh kulitnya mengeluarkan hawa murni yang datang seperti air bah tanpa bendungan.

Sidya membuka kelopak matanya. Keadaan tubuhnya yang semula diserang dingin kini jauh lebih baik, tapi apa yang menyambutnya begitu membuka mata malahan lebih mengagetkan. Ia bisa melihat rerumputan yang berada di kakinya layu seperti kena api yang terlalu dekat. Semua yang dilihatnya pun bergetar, seperti ia tengah melihat sesuatu yang berseberangan dengannya dari api unggun.

Sebelum ia bisa mengamati lebih jauh, seseorang melayang turun dari rimbun beluntas. Dikiranya Pisun, karena siapa pula yang memiliki ilmu peringan tubuh sehebat itu selain dia?

Namun, yang turun dengan ilmu peringan tubuh tingkat atas itu bukanlah Pisun, melainkan seorang tua renta yang berambut panjang keperakan, pakaiannya serba abu-abu praktis, seperti pakaian yang sering digunakan oleh para pengelana. Ia memegang semacam pena ditangannya, yang sering digunakan para cendekiawan untuk menulis sebuah karya.

Setelah menapak lantai hutan tanpa suara, ia mendekati Sidya yang tengah terkaget-kaget. Sidya mau lari, tapi belum juga ia mengangkat kaki ketika si tua telah sampai didekatnya. Sidya menelan ludah, karena bola mata lelaki itu sebiru langit, kulitnya yang terlalu pucat tak mungkin dimiliki oleh seseorang yang berasal dari Nagart.

“Siapa kau sebenarnya, anak kecil?”

Itu membuat Sidya makin takut. Tak lain karena suaranya mirip dengan rengkahnya es yang tengah retak saking dinginnya. Hawa menusuk yang tak ramah menekan Sidya lagi dari berbagai sisi, kali ini dengan daya yang jauh lebih kuat. Tanpa berpikir, hawa murni Sidya yang masih membanjir berperan mengatur udara, merespon hawa dingin. Melawan, mengusir, memanaskan semua.

Si pak tua mengernyit seperti tengah dipecut punggungnya. Kernyit di dahinya makin dalam.

“Jawab pertanyaanku. Apa kau menantangku, bocah?”

“Guru, sudah!” suara seorang pemuda membelah udara, dan Sidya langsung bersyukur pada Kahyangan, karena ia mengenali suara itu. Pisun! Si pemuda membawa semacam ransel dipunggungnya. Pisun turun di antara mereka berdua, kedua lengannya terangkat seperti ingin memisah Sidya dan si kakek tua.

“Sidya seorang temanku, Guru,” Pisun berkata, dan nadanya memohon. Ia menggengam tinju kirinya dengan telapak tangan kanan, kemudian membungkukkan badan serendah mungkin pada si tua yang masih bermuka masam.

Hawa dingin yang semula melingkupi semua mendadak hilang secepat datangnya. Udara yang sebelumnya terasa ditekan kembali seperti semula, bahkan alam sepertinya tengah lega sebab cuaca yang tak normal ini pergi.

Hawa murni yang semula membanjir dari badan Sidya masih bergolak. Sidya yang sebelumnya senang karena kebekuan yang menjalar telah lenyap kali ini malah jadi bingung. Karena tak lagi punya lawan, hawa murni yang besar ini bergerak ke segala arah tanpa bisa dikendalikan. Si bocah menggigit bibir, memaksa hawa murni yang jadi liar untuk kembali padanya. Sulit, ia malah merasa hawa murni ini tak mematuhinya, seperti seekor anjing yang tak suka tali lehernya ditarik-tarik. Tangan dan kakinya tanpa disadari merapat. Ia tak bisa membiarkan golakan ini terus mengalir, tapi dia juga tak tahu cara menghentikannya.

Si pak tua menggeleng, kemudian lekas mendekati Sidya. Pisun mau memintanya untuk berhenti, tapi sebelum ia sempat melakukan hal itu, si pak tua sudah sampai sampai terlebih dahulu. 

Sebelum Sidya sempat bertanya apa maunya, si pak tua keburu menyentil dahinya.

Hanya begitu, tapi hawa murninya yang menggeliat garang menjadi tenang. Stabil, tak lagi bergolak. Hawa besar yang melindunginya itu perlahan-lahan menyelusup ke badan lagi, sementara Sidya terengah-engah, berbagai emosi membuncah di dadanya. Marah, kecewa, tapi yang utama, takut. Bagaimana jika tak ada pak tua ini? Akankah ia dihimpit hawa murninya sendiri sampai hancur?

“Besar tenaga tapi tanpa keahlian. Kukira kau putri seorang pendekar sakti, tapi ini bukan hawa murni biasa. Ini Lautan Energi, bukan? Tak mungkin Lautan patuh pada orang lain kecuali orang lingkar dalam istana.” Ia menjauh dari Sidya. “Jadi, mengapa Putri Ayusidya Hanseira bisa berada di tengah hutan, sendirian?”

“Aku bukan dia!”

Si pak tua mengeluarkan senyum menghina. “Begitukah? Hm, mengapa seorang putri mau menutupi kesejatian dirinya dihadapanku?” Si pak tua menyisiri jenggotnya dengan jari, kemudian berpaling pada Si Walet dari Timur. “Pisun, jawab. Kapankah kiranya seorang putra atau putri kaisar berpura-pura menjadi rakyat jelata?”

“Saat dia mengambil nama Apashu. Seorang keturunan Nagart yang mengambil jalan luar jelas tak ingin diketahui orang, ” Pisun menjawab setelah menggaruk-garuk kepalanya. Sepertinya, dia masih belum sepenuhnya paham apa yang sebenarnya tengah terjadi.

“Tepat sekali,” kata si tua, wajah berpuas dirinya luar biasa menjengkelkan. Ia berpaling pada Sidya, mata birunya lebih menusuk daripada sekedar hawa yang membekukan tulang. “Jadi, kali ini aku bertanya benar-benar padamu, apakah kau Putri Ayusidya Hanseira Apashu Siauliong Nagarta Nagart?”

Lidah Sidya bergulir dengan sendirinya, hendak menjawab diluar kendali. Ia menggigit lidah, mau membantah, tapi tak bisa. Jika ditanya seperti itu, ia harus mengaku, bisa celaka kalau tidak, terutama karena nama ketiganya telah mengikat kodratnya sebagai seorang Apashu. Jika ditanya soal nama, ia bisa mengelak, tapi tidak jika ditanya dengan nama lengkap seperti ini. Tapi tidak, tidak boleh. Identitasnya tak boleh ketahuan.

Namun, betapapun ia mau melawan, mulutnya tetap bergerak.

“Ya.”

“Apa?” Pisun bertanya sangsi, wajahnya mendadak pucat, yang tak ada hubungannya dengan hawa dingin yang telah pergi. Terang saja ia kaget, Sidya bisa mengerti. Tidak setiap hari seorang sepertinya bertemu dengan putri sang kaisar sendiri.

“Pisun, kepalamu yang lambat itu selalu lama mencerna sesuatu yang baru. Ya, dia itu Putri Sidya. Penguasa Siauliong, Pewaris Tahta Giok, Asuhan Para Kasim.” Si pak tua menggeleng. “Dia seorang teman, katamu?”

Pisun memandangi Sidya dari atas ke bawah, kemudian ke atas lagi seolah-olah baru saja menemukan hewan langka yang tak pernah dilihatnya. Mungkin juga bertanya-tanya apakah bocah ini benar-benar seorang perempuan dan bukannya anak laki-laki.

“Aku musti tetap bertanya mengapa engkau berada di sini,” Si Pak tua bertanya lagi, tapi Sidya yang sudah terlanjur berang karena dipaksa mengaku nama menegakkan diri. Nada si pak tua tak menyenangkan, mentang-mentang dia hanya seorang anak kecil bukan berarti orang tua bau tanah ini boleh memperlakukannya seenak perutnya sendiri. Dia belum tahu kalau Sidya masih punya ilmu lain yang tak terbantahkan, dimilikinya sejak dalam kandungan, dan tidak dapat ditemukan dalam diri siapapun kecuali keturunan Kaisar Pertama atau yang telah diberi restu untuk menggunakannya oleh ayahnya.

“Begitukah cara memperlakukan seorang Putri? Berlutut, Pak Tua tanpa nama. Hormati calon pemimpinmu, menyembahlah. Sekarang.” Sidya mempergunakan Ilmu Titahnya tanpa menahan diri sama sekali.

Tak ada reaksi. Sidya sudah berharap si pak tua ini menyembah sampai celananya basah oleh air kencing, memohon-mohon penangguhan hukuman yang akan berat. Tapi, tetap tak ada balasan. Yang membuatnya makin tak senang, senyum menghinanya itu masih ada.

“Hapus senyummu itu!” Sidya memerintah. Tetap tak ada reaksi, malahan senyumnya makin lebar, wajahnya makin berkerut. Bukan karena kesombongan Sidya, tapi karena si putri tak tahu menahu batasan dari ilmunya.

“Masih banyak hal di dunia ini yang tak kau ketahui, Yang Mulia,” si pak tua membungkuk sedikit, menekankan kata-katanya bukan untuk menghormati, melainkan untuk menghina. “Salah satunya adalah kebiasaan Kembara Pencatat Diogenesus yang tak pernah berlutut, baik pada putri, pangeran, raja atau kaisar dari manapun. Aku tak patuh pada Hukum-Hukummu, maka untuk apa pula aku menyembah padamu? Sepertinya sedikit pelajaran dariku akan membuatmu sadar bahwa—”

Pak tua yang baru namanya Sidya ketahui bernama asing itu mau mengangkat tangannya, tapi Pisun menyelanya, “Guru, rombongan kita sedang berada di desa, mereka merindukan kehadiran guru. Lebih baik bicara dengan mereka sekarang.” Ia berpaling pada Sidya, “Biar aku yang urus dia.”

Diogenesus memandang Sidya sejenak, mata birunya yang mencekam membuat Sidya tak nyaman. Tangannya yang mau terangkat diturunkan, sembari ia bicara, “Baik. Lagipula, dia adalah temanmu, bukan? Seorang kembara berteman dengan putri kaisar! Kau masih ingat pengajaranku tentang para darah biru, Pisun?”

Pisun menegang. “Ingat, Guru.”

“Katakan.”

“Berhati-hati pada pisau mereka yang senantiasa mengarah pada punggung.”

Si pak tua menatap Sidya lama, sebelum akhirnya mengangguk. Dia berbalik untuk melompat pergi, bahkan tanpa beruluk salam atau semacamnya. Ia meringankan diri untuk melintasi pagar beluntas yang menghadang jalan, bahkan lebih luwes daripada Pisun, tak nampak pengaruh usia tua pada pergerakannya. Saat ia benar-benar tak kelihatan, Pisun berpaling pada Sidya dengan tampang galak.

“Duh, ngapain sih kamu selalu cari masalah sama orang yang lebih kuat?”

“Dia yang cari masalah denganku! aku mau menyusulmu tapi bertemu dengannya, kemudian hawa dingin sekarat menyerangku! Mana kutahu kalau dia itu gurumu?”

“Guru bilang hawa murnimu besar, mungkin itu yang membuatnya heran.”

“Lalu memutuskan untuk mencobaku dengan cara mengamati apa aku akan mati kedinginan atau tidak, begitu?!”

“Iya, iya, sudah, jangan marah,” Pisun mengangkat tangan, menenangkan Sidya yang menggebu-gebu. “Ada urusan apa, kalau begitu? Untuk apa menyusulku?”

Sidya tanpa tedeng aling-aling langsung menjawab, “Aku butuh bantuan kakak untuk melawan para bandit.”

Pisun menggaruk kepalanya. “Kenapa? Gurumu sudah hebat, pasti dia mampu mengalahkan mereka.”

“Bagaimana kalau mereka berjumlah ratusan? Bandit-bandit itu tak mungkin ditebas sendirian.”

Pisun menggeleng. “Tak bisa. perjalanan kami masih jauh, kami musti ke utara, banyak bukit-bukit yang harus dilewati sampai capek, belum lagi menyeberangi sungai Kama buat menuju stepa. Guru ingin tiba di sana sebelum musim dingin. Hawa beku dengan mudah diatasinya, tapi rombongan kami juga ada mereka yang tanpa Gelar. Akan sulit meneruskan perjalanan saat cuaca tak menyenangkan mengganggu perjalanan, sementara tujuan masih jauh.”

Sidya tak tahu lagi musti bicara apa. Ia mau saja bohong, berkata bahwa gurunya tengah ditawan, tapi kebohongan seperti itu bisa saja berbuntut panjang dan membuat Pisun tak lagi mempercayainya.

“Ratusan bandit? Hebat sekali gurumu bisa menemukan mereka.” Pisun berkata sambil lalu. Ia mengatakan hal itu seolah menganggap Hikram buang-buang waktu buat mengurus mereka, sedangkan dia sama sekali tak peduli. Kakinya menekuk, sudah siap untuk melompat terbang.

“DI bukit Sin Gong, Kakak. Mereka berkumpul di dekat makam Panglima Perkutut, Legiun Asing sedang melakukan pengepungan dan memerlukan bantuan.”

“Apa?” Pisun bertanya tajam, lantas meluruskan diri, tak jadi melompat. “Para bandit itu berada di sana?”

“Ya. Kenapa memangnya?”

Pisun menggaruk kepalanya. “Wah, susah nih. Aku ini seorang Walet. Kalau mereka membongkar makam, sedangkan para Pemegang Gelar Walet atau burung-burung lain tahu aku berada di dekat sini tanpa berusaha mengusir mereka, aku bisa kena marah besar, Adik Plontos,” Pisun berucap, kemudian terbatuk sembari melirik Sidya. “Maaf. Maksudku Tuan Putri.”

“Panggil Adik Plontos saja sudah cukup,” Sidya berkata kasar sembari memukul pinggang Pisun, area yang paling mampu dicapai oleh ukurannya.

“Aduh! Iya deh, terserah. Aku harus ke sana, walau sebenarnya malas juga. Lebih baik menonton saja supaya tahu keadaan, tak perlu ikut berkelahi segala kalau memang legiun dan gurumu bisa mengatasi.”

Sidya tersenyum. Setidaknya ia berhasil melaksanakan perintah dari Guru Hikram untuk mendatangkannya. Untuk mengajaknya ikut urun tenaga, itu bisa diurus nanti.

“Sebentar, aku perlu minta ijin dari guruku untuk pergi. Kalau dia tak memperbolehkan, aku tak bisa berangkat.” Tanpa tunggu jawaban, Pisun melompat, meringankan diri dan nangkring di beluntas paling tinggi. Ia bahkan sudah melompat sebelum Sidya memanggilnya.

Sidya sebenarnya ragu apakah Pisun akan kembali atau tidak, karena sepertinya ia benar-benar enggan. Keraguannya kandas saat Pisun turun dari beluntas setelah waktu yang agak lama, tas punggungnya kini tak ada.

“Kakak mendapat ijin semudah itu?”

“Rombongan kami kelelahan. Guru memerintahkan istirahat panjang di desa, jadi waktu luangku jadi agak lama,” Pisun berucap kesal. Bukan mustahil ia berharap bahwa gurunya akan melarang sehingga dia tak perlu pergi.

“Bagus! Kita berangkat sekarang juga, ya?”

Sidya bahkan sudah berjalan sebelum mendapat jawaban, langkah-langkahnya ringan karena berhasil menjalankan tugas dari gurunya. Berpaling karena tak kedengaran apapun, Sidya melihat Pisun masih diam di tempat. Si pemuda menghela napas, kemudian duduk jongkok.

“Ayo,” Pisun berkata, tangannya berada di punggung.

“Ayo apanya?” Sidya bertanya tak mengerti.

“Sini kugendong biar lebih cepat. Memaksa jalan bisa bikin kita sampai di sana saat musim semi.” Pisun berpikir-pikir sebentar sebelum nyengir, “Jalanmu lambat sekali sih.”

Sidya agak sebal, tapi setidaknya dia dapat tumpangan gratis, jadi dia dan kakinya yang pegal tak perlu mengeluh.

Maka, tanpa berkata-kata lagi, ia digendong oleh si pemuda yang tanpa tunggu waktu segera melompat menuju angkasa, jeritan Sidya yang kaget sama sekali tak diindahkannya.

--